Apakah Klub Liga di Indonesia Dapat Bertahan Tanpa Dana APBD?

Apakah Klub Liga di Indonesia Dapat Bertahan Tanpa Dana APBD?


  • Total voters
    6
  • Poll closed .
Status
Not open for further replies.

Dipi76

New member
Karena ada masalah teknis (yang nggak tau sebabnya apa), thread dengan topik "Apakah Klub Liga di Indonesia Dapat Bertahan Tanpa Dana APBD?" dibuka dengan thread baru kembali...

Klub Bola di Liga kita bakal berhenti dapet asupan dana APBD. Padahal dana yang diperoleh dari APBD itu buat sebagian besar klub sangatlah vital untuk keberlangsungan Klub.....
Apakah secara ekonomi, klub2 tersebut nantinya bakal bisa, setidaknya, menghidupi dirinya sendiri atau jika mungkin menghasilkan keuntungan karena dikelola secara profesional murni??


-dipi-
 
Bisa tapi dengan tertatih-tatih.
Setahuku yang selama ini daku baca, uang yang ada di klub liga itu hanya numpang lewat dan bukan sebuah bentuk investasi. Jadi digelontor dana sekian milyar untuk keperluan ini itu tanpa memikirkan bahwa pengelolaan klub harus dilakukan dengan seprofesional mungkin sehingga bisa mendapatkan keuntungan.

Jadi nanti kalau APBD distop, klub-klub ini bakalan kaget dan bakal terguncang.
 
sepertinya kurang mampu untuk mengelola dan merencanakan dana APBD, jadi mungkin tidak bisa jika management di setiap klub belum bisa berubah dan berkembang
 
kurang yakin...
m080.gif
 
bisa sekarang PSSI uda kaya uang nya uda banyak donatur nya aja aripin panigoro dan jos toisuta alias upin dan ipin
 
bisa lah wong PSSI itu kaya uang dari BUMN mengalir tiap tahun nya

belum kantong dari aripin panigoro dan cs mengelontorkan miliaran rupiah
 
Sumber pendapatan klub itu ada 4 sumber utama, ini kalau gw ngelihat dari klub-klub liga Inggris yang juga pasti sama aja dimanapun liga, yaitu dari hak siar, penjualan pemain, penjualan merchandise dan tiket. Itu semua yang bisa jadi sumber pemasukan bagi tim. Lalu pertanyaannya, ke empat sumber itu bisa nggak digali dari klub-klub di Indonesia? Kok rasa-rasanya enggak.
 
Sumber pendapatan klub itu ada 4 sumber utama, ini kalau gw ngelihat dari klub-klub liga Inggris yang juga pasti sama aja dimanapun liga, yaitu dari hak siar, penjualan pemain, penjualan merchandise dan tiket. Itu semua yang bisa jadi sumber pemasukan bagi tim. Lalu pertanyaannya, ke empat sumber itu bisa nggak digali dari klub-klub di Indonesia? Kok rasa-rasanya enggak.
Kalau rujukannya liga Inggris sih itu namanya wang sinawang.
Dalam artian begini, dari ke empat sumber itu, bisa kita singkirkan dulu soal penjualan merchandise dan pemain. Keduanya baru bisa berjalan dengan baik ketika manajemen yang dijalankan sudah benar-benar profesional. Sambil menunggu ke arah sana, dari tiket dan hak siar, daku rasa masih bisa mengcover. Itu yang daku maksudkan wang sinawang. Pengeluaran klub di sini toh nggak sebesar pengeluaran klub di Inggris, dan itu berarti penerimaannya juga nggak perlu dipaksakan harus besar. Untuk tiket daku pernah baca dalam satu kali pertandingan Liga Indonesia, satu klub bisa menghasilkan lebih dari 100 jeti. Itu aja yang digenjot terlebih dahulu keprofesionalannya.

Dan jangan bandingkan dengan Liga Inggris yang dari tiket pun udah mencapai 9 digit. West Ham-mu yang ecek-ecek itupun sekali bertanding kandang penghasilan untuk tiketnyapun bisa sampai hitungan Milyar kan? Tapi jangan lupa juga, bahwa pengeluaran mereka juga besar. Untuk gaji pemain dari divisi 3 (opo sebutannya?) pun seorang pemain per pekannya bisa dapet puluhan juta rupiah.
 
Kalau rujukannya liga Inggris sih itu namanya wang sinawang.
Dalam artian begini, dari ke empat sumber itu, bisa kita singkirkan dulu soal penjualan merchandise dan pemain. Keduanya baru bisa berjalan dengan baik ketika manajemen yang dijalankan sudah benar-benar profesional. Sambil menunggu ke arah sana, dari tiket dan hak siar, daku rasa masih bisa mengcover. Itu yang daku maksudkan wang sinawang. Pengeluaran klub di sini toh nggak sebesar pengeluaran klub di Inggris, dan itu berarti penerimaannya juga nggak perlu dipaksakan harus besar. Untuk tiket daku pernah baca dalam satu kali pertandingan Liga Indonesia, satu klub bisa menghasilkan lebih dari 100 jeti. Itu aja yang digenjot terlebih dahulu keprofesionalannya.

Dan jangan bandingkan dengan Liga Inggris yang dari tiket pun udah mencapai 9 digit. West Ham-mu yang ecek-ecek itupun sekali bertanding kandang penghasilan untuk tiketnyapun bisa sampai hitungan Milyar kan? Tapi jangan lupa juga, bahwa pengeluaran mereka juga besar. Untuk gaji pemain dari divisi 3 (opo sebutannya?) pun seorang pemain per pekannya bisa dapet puluhan juta rupiah.

berarti klub indonesia bisa mandiri tanpa APBD kalau semua sektor yang di jelaskan mbak dipe bisa di jalankan olehh klub klub di indonesia

wah mbak dipe emang konsultan ekonomi,mbak dipe cocok nih kalau jadi jajaran di reksi managemen di sebuah klub di indonesia
 
Status
Not open for further replies.
Back
Top