Semua Tentang Hutan Login dengan akun Jejaringsosial.com anda Daftar sebuah akun Jejaringsosial.com
 
Go Back   Home > Flora, Pertanian & Perkebunan
Lupa Password?

Gambar Umum Video Umum


Semua Tentang Hutan




 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #1   Report Post  

Semua Tentang Hutan

DAS sebagai unit rehabilitasi hutan dan lahan (RHL)

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan unit pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengendalian rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). Sebagai ekosistem alam, DAS merupakan unit hidrologi (tata air) yang berperan sebagai integrator dan indikator terbaik untuk pengelolaan DAS.

Demikian terungkap dalam forum Sosialisasi Kebijakan Departemen Kehutanan Bidang Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial kepada Ornop, Ormas dan Asosiasi Mitra Departemen Kehutanan, di Manggala, Jakarta, 13 Maret 2006.

Sebagai unit hidrologi, pengelolaan DAS dapat memadukan kepentingan antar kelompok masyarakat di daerah hulu dan hilir DAS, antar wilayah administrasi, antar instansi/lembaga terkait, antar disiplin ilmu/profesi dan antar aktivitas di hulu dan hilir DAS.

"Masyarakat dapat terlibat dalam rehabilitasi hutan dan lahan. Mereka dapat mengembangkan penanaman pohon komoditas produktif bernilai ekonomis (karet, buah-buahan). Selain mengurangi illegal logging (pencurian kayu), masyarakat dapat mengambil manfaatnya untuk menjadi penghasilan," ungkap Darori (Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial/RLPS Departemen Kehutanan).

Sudarno dari Peduli Hutan Lestari mendukung bahwa DAS merupakan sistem perencanaan pengelolaan sumber daya alam (SDA) termasuk hutan. DAS dengan air bersama tanah mengandung sumber daya alam. Maka untuk mengelola sumber daya alam penting dilakukan pengelolaan air dan tanah.

"Kita sepakat bahwa DAS merupakan satu kunci sistem untuk memperbaiki pengelolaan air dan tanah," kata Sudarno.

Dalam mengelola sistem DAS perlu memperhatikan bagian-bagiannya yang terdiri dari hulu, tengah dan hilir. Untuk mengelolanya membutuhkan dana atau modal. Terkait dengan pengadaan modal dalam sistem DAS untuk mengelola SDA, maka bagian hulu sebagai lahan yang kritis merupakan tanggungjawab pemerintah dengan petani sebagai pelaku penanaman.

Untuk bagian tengah, pengadaan modal dapat dilakukan kerjasama dengan investor dan petani sebagai pelaku pengelolaan tanah dan air yang utama. Di bagian tengah ini, dalam penanaman dipilih pohon komoditas yang produktif. Pada bagian hilir, modal dapat didapatkan dari investor dengan petani menjadi pihak penting yang memperkuat pengelolaan tanah dan air.

Dalam pengelolaan tersebut, semua pihak terdiri dari pemerintah, petani (warga sekitar DAS dan hutan) bersama investor melakukan kerjasama yang baik. "Bila ini terjadi, harapan ke depan mewujudkan Indonesia sebagai taman firdaus (Red: yang sejahtera) dapat tewujud," jelas Sudarno.

Bio Sartono dari Wetland menambahkan bahwa masalah air menjadi perhatian dunia saat ini. Pada tahun 2015 nanti, diperkirakan 50 persen penduduk dunia sulit mendapat freshwater (air segar). DAS merupakan faktor pengelolaan air utama. Maka, diharapkan RLPS dapat membuka kesempatan bagi organisasi non pemerintah dalam dan luar negeri untuk ikut berperan dalam pengelolaan DAS.

Salah satu pengelolaan DAS yang melibatkan masyarakat dengan pendekatan ekonomi. Masyarakat dapat berperan melalui penanaman pohon komoditas produktif sesuai minat dan kondisi lingkungan. Mereka akan mendapat nilai ekonomi yang menjadi atau menambah penghasilannya.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13

 

   






Reply With Quote     #2   Report Post     Original Poster (OP)

Lichen bisa menunjukkan hutan yang terancam polusi udara

Lichen bisa menunjukkan hutan yang terancam polusi udara


Seperti rokok yang baru akan terasa efeknya setelah 30 tahun, demikian juga dampak dari polusi udara berkelanjutan pada kondisi hutan.

Hal ini diungkapkan Susan Will-Wolf, pakar botani dari Universitas Wisconsin-Madison, dalam siaran pers, 1 Agustus 2004. Dalam proyek nasional yang dilakukan untuk memonitor kesehatan hutan termasuk pohon dan ekosistemnya, para peneliti dari Universitas Wisconsin-Madison dan US Forest Service menggunakan lichen - sejenis tanaman dedaunan - sebagai indikator.

Will-Wolf mengatakan penelitian ini termasuk program pengamatan kesehatan hutan-bagian dari usaha pencegahan untuk melindungi hutan dan alam dari penurunan fungsi dan kerusakan akibat perubahan lingkungan.

Lichens yang biasanya hidup di cabang, ranting pohon dan bebatuan di dasar hutan dikenal karena kesensitifannya terhadap perubahan lingkungan, terutama polusi udara. Will-Wold yang terlibat dalam proyek ini mengatakan lichen merupakan indikator yang memberi peringatan adanya ancaman potensial pada hutan.

Perubahan pada komunitas lichen di hutan menunjukkan kemungkinan adanya perubahan dalam ekosistem, seperti siklus nutrisi yang tidak efesien atau lambatnya pertumbuhan hutan. “Selain menghasilkan kayu, hutan juga penting sebagai daerah resapan dan penyimpanan air tanah serta perlindungan terhadap keanekaragaman,” tambah Will-Wolf. “Semua fungsi ini dapat terganggu dalam kondisi tertentu.”

Karena fungsi potensial lichen sebagai indikator perubahan lingkungan, para botanis dari Universitas Wisconsin mengembangkan sebuah model yang dapat menunjukkan kualitas udara untuk memperkirakan dampak dari tingkat polusi udara di hutan. Model ini dapat menunjukkan derah yang memilki udara leboh kotor memilliki lebih sedikit spesies lichen. Sebaliknya, jika lichen tumbuh dengan subur menandakan daerah tersebut udaranya cukup bersih.

Dengan mengikuti perkembangan komposisi komunitas lichen dan angka kualitas udara, para peneliti ini dapat memetakan area hutan mana yang terancam olah polusi udara. Model ini telah diterapkan di New England dan daerah selatan menggunakan data dari US Forest Service untuk memonitor komunitas lichen yang ada di daerah tersebut.

Dari penelitian mereka terlihat bahwa polusi udara di daerah selatan seperti Georgia dan Alabama terkonsentrasi pada area tertentu. Sementara di New England, termasuk Maine dan New York, udara yang lebih kotor tersebar di area yang lebih luas. Hasil ini menunjukkan hampir seperdelapan dari area New England memilki kualitas udara yang lebih kotor dibandingkan daerah lain di bagian selatan. Hal ini juga terlihat dari lebih ketatnya distribusi komunitas lichen yang ada di New England dibandingkan di selatan.

“Dampak polusi udara di selatan menyebar, dengan 20 sampai 50 lusin kantong udara dengan kualitas rendah. Sedangkan di New England terkonsentrasi dalam beberapa area yang lebih luas termasuk pantai timur mulai dari Boston sampai New York, terentang sejauh 50 sampai 100 mil,” jelas Will-Wolf.

Dari sini, ia menyimpulkan bahwa hutan di New England terancam polusi udara yang lebih besar dibandingkan hutan di daerah selatan. Karena semakin luas daerah yang terkena dampak polusi udara, semakin banyak habitat yang terpengaruh kondisi tersebut.

Menurutnya, menggunakan komunitas lichen sebagai indikator polusi udara tidak hanya menandai area hutan yang memerlukan pencegahan dan pengelolaan lebih lanjut, tapi juga sebagai sarana untuk menilai keefektifan regulasi yang dikeluarkan mengenai jumlah bahan kimia toksik yang dilepas ke udara.

Seperti efek rokok yang lama terlihat dampaknya. “Kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk mengurangi kemungkinan tersebut sebelum terlambat dan terasa akibatnya,“ kata Will-Wolf.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #3   Report Post     Original Poster (OP)

Tanpa gangguan alamiah, hutan tidak dapat beregenerasi

Tanpa gangguan alamiah, hutan tidak dapat beregenerasi


Hutan alamiah dunia tidak dapat beregenerasi tanpa adanya gangguan alamiah yang terjadi secara meluas, seperti: kebakaran hutan, penumpukan es, atau aktivitas vulkanik. Demikian pendapat para ilmuwan, seperti dilaporkan mereka dalam Jurnal Science, 21 Juni 2004.

Ketidakmampuan regenerasi tersebut berkaitan dengan kurangnya kadar fosfor yang secara alamiah berperan penting untuk regenerasi ekosistem hutan tersebut.

Para ilmuwan tersebut adalah David Wardle dari Departemen Ekologi Vegetasi Hutan, Universitas Ilmu-ilmu Pertanian Swedia (SLU), Richard Bardgett dari Universitas Lancaster, Inggris, dan Lawrence Walker dari Universitas Nevada, Amerika.

Para ilmuwan ini meneliti hutan di enam lokasi yang berbeda-beda di seluruh dunia.

Usia lapisan tanah yang diteliti tersebut bervariasi dari yang masih sangat muda hingga beberapa ratus tahun.

Para ilmuwan menemukan, di enam lokasi tersebut, pertumbuhan hutan di lapisan tanah yang berusia lebih tua ternyata kurang baik, dalam arti kurang dapat beregenerasi.

Hal ini disebabkan oleh sangat terbatasnya akses terhadap fosfor, dibandingkan dengan akses terhadap nitrogen, yang dapat diserap oleh tumbuhan tersebut.

Ketika lapisan tanah menua, fosfor yang tersedia menjadi semakin sedikit bagi tumbuhan hutan. Hal ini terutama disebabkan karena fosfor tidak dapat terbentuk secara alamiah pada lapisan tanah, dan tidak dapat diserap oleh tumbuhan hutan dengan cara lainnya.

Kebalikannya, nitrogen pada lapisan tanah dapat diperbaharui secara alamiah, dengan bantuan fungi berukuran mikroskopis dan bakteria tanah lainnya, yang dapat mengubah nitrogen yang ada di udara sehingga menjadi dapat diserap oleh tumbuhan.

Para ilmuwan menemukan kekurangan fosfor pada lapisan tanah juga mengakibatkan menurunnya jumlah, aktifitas dan kemampuan organisme mikroskopis untuk menguraikan unsur-unsur hara dari tanah.

Mereka kemudian menyimpulkan, gangguan alamiah berskala luas sebenarnya secara alamiah diperlukan dalam rangka regenerasi ekosistem hutan.

Jika gangguan alamiah berskala luas tersebut tidak terjadi, tanah lama-kelamaan akan menjadi tidak subur.

Tanah kemudian akan menjadi tidak dapat menyediakan unsur-unsur yang diperlukan oleh ekosistem hutan.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #4   Report Post     Original Poster (OP)

Hutan Uganda bernilai US$350 juta per tahun

Hutan Uganda bernilai US$350 juta per tahun

Organisasi konvservasi Amerika Serikat Wildlife Conservation Society (WCS) dan National Forest Authority Uganda melaporkan hutan Uganda bernimai kurang lebih US$350 juta per tahun. Sebagian nilai itu, sebesar 36 persen, berupa pemasukan masyarakat pedesaan dari hasil hutan yang bisa diperbaharui. Laporan diterbitkan awal November 2004.

Para penyusun laporan mempelajari hasil hutan seperti arang dan kayu bakar memberikan kontribusi antara 8-36 persen dari pendapatan tahunan masyarakat yang tinggal dekat hutan. Hasil hutan seperti itu penting ketika ketersediaan pangan terbatas di ladang dan mereka tidak memiliki uang.

Laporan itu juga menghitung nilai hutan yang tidak bisa dijual seperti fungsi sebagai resapan air, nilai konservasi tanah dan keanekaragaman hayati, sehingga nilai total hutan Uganda mencapai US$353 juta per tahun. Nilai itu lebih besar lima persen dari pendapatan bruto nasional Uganda.

“Laporan ini menunjukkan pentingnya hutan di Uganda untuk mendukung kehidupan kelompok masyarakat miskin di Afrika dan menolong mereke keluar dari kemiskinan,” kata Dr Andrew Plumptre, ahli konservasi WCS yang juga adalah salah satu penyusun laporan itu.

“Bagaimanapun, saat ini hanya US$7,5 juta – sebagian besar dana dari donor -- yang digunakan untuk mengkonservasi hutan di Uganda. Ada tekanan besar dari pemerintah untuk mengkonversi hutan menjadi lahan pertanian tanpa mempertimbangkan nilai hutan yang sesungguhnya,” ungkap Plumptre.

Ironisnya, laporan itu juga mendapati hutan-hutan dengan cadangan kayu jenis penting seperti mahoni, nilainya lebih kecil bagi petani lokal dibandingkan dengan hutan-hutan lainnya, karena kebanyakan manfaat ekonomi dari kayu-kayu itu tidak dirasakan oleh masyarakat lokal tetapi oleh pengusaha di luar kawasan hutan.

Para penyusun laporan mengingatkan, pemanfaatan hutan seperti sekarang ini tidak berkelanjutan meskipun pengelolaan hutan di Uganda relatif baik dibandingkan di negara-negara lain di Afrika.

Hutan memiliki peran penting dalam mengatasi kemiskinan di benua itu dan sumber daya itu harus harus dimanfaatkan secara bijaksana.

Laporan itu menyimpulkan mendukung konservasi dan pengelolaan hutan yang baik adalah salah satu alat yang bisa digunakan untuk mengatasi kemiskinan.

“Banyak proyek pembangunan terkait dengan konservasi yang diasumsikan bisa membuat orang lebih kaya, dengan memberikan kepada mereka jalan alternatif menghasilkan pemasukan, akan mengurangi dampak pada lingkungan. Ada bukti nyata asumsi itu tidak benar di Uganda,” kata Plumptre menegaskan.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #5   Report Post     Original Poster (OP)

Dengan bar code coba hentikan illegal logging di Indonesia

Dengan bar code coba hentikan illegal logging di Indonesia


Kayu-kayu yang berada di toko bahan bangunan, tak lama lagi dapat dilacak asal-usulnya, apakah kayu itu diperoleh secara legal atau ilegal. Kayu-kayu tersebut akan diberi tanda yang disebut “bar code.”

"Namun agak berbeda dengan barang-barang yang biasa dijual di toko swalayan," jelas Yudi Iskandarsyah, Deputy Program Manager The Nature Conservancy “Alliance to promote forest certification and combat illegal logging” yang dijumpai beritabui.or.id pertengahan Agustus di Jakarta.

"Bar codes akan menjelaskan kepada konsumen bahwa kayu tersebut telah ditelusur asal-usulnya, berasal dari petak tebangan mana, apakah dengan peralatan yang memenuhi standard keamanan, dan apakah menggunakan sistem pengangkutan yang memenuhi persyaratan," lanjut Yudi. Sehingga konsumen mendapat kepastian kalau kayu yang dibeli bukan berasal dari praktek illegal logging.

The Nature Conservancy (TNC), salah satu organisasi non pemerintah (ornop) internasional yang beroperasi di Indonesia, pertengahan Juli 2004 lalu di Jakarta meluncurkan proyek komputerisasi bar codes untuk melacak kayu-kayu dari hutan alam Indonesia. Tujuan proyek tersebut adalah menghentikan mewabahnya penebangan ilegal di hutan-hutan Indonesia.

“Illegal logging tengah mengikis hutan-hutan di Indonesia,” ujar Steve McCormik, presiden TNC dalam pernyataan yang disiarkan awal Juli itu. “Illegal logging di Indonesia tidak hanya menciutkan luas hutan, tetapi juga ikut merusak lingkungan global, mengancam keberadaan hewan-hewan langka seperti orangutan dan badak, serta mengancam masyarakat lokal yang hidupnya tergantung pada hutan yang sehat.”

Lebih jauh McCormik menjelaskan, teknologi bar code akan membantu konsumen untuk mendukung perusahaan-perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan benar, dan kemudian membentuk kekuatan pasar yang dapat menekan perusahaan-perusahaan lain untuk segera menghentikan illegal logging.

Mengapa bar codes?

“Indonesia termasuk negara yang aktif dan menjadi pionir dalam program sertifikasi hutan,” lanjut Yudi. “Sebenarnya setelah mengikuti KTT Bumi di Rio 1992, Indonesia sudah mulai mendiskusikan rencana sertifikasi hutan. Namun kegiatan sertifikasi yang telah berjalan lebih dari sepuluh tahun tersebut tidak mudah dilaksanakan dan banyak menemui kendala sehingga berjalan sangat lambat dan hasilnya belum kelihatan.” Kendala tersebut, aku Yudi, antara lain banyaknya kebijakan yang tumpang tindih, lemahnya penegakan hukum, korupsi, apalagi pada era otonomi daerah seperti saat ini. Kebijakan pemerintah pusat seringkali tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah, atau kebijakan di tingkat provinsi bertentangan dengan kebijakan di tingkat kabupaten.

“Padahal kampanye kayu legal di tingkat internasional jalan terus, konsumen mulai sadar pentingnya memperoleh kayu legal, dan di kalangan produsen mulai tumbuh sikap proaktif untuk memperjelas asal-usul kayunya,” tambah Yudi. “Dari keadaan itu, lahirlah gagasan bar codes yang merupakan pemecahan praktis dalam menentukan legalitas kayu.”

Namun ia mengakui, bar codes hanyalah sebuah langkah atau landasan menuju proses sertifikasi kayu.

Uji coba proyek bar codes

Bar code akan disematkan pada kayu-kayu yang dipanen secara legal, yang berarti memberi “sidik jari” pada kayu tersebut. Tanda tersebut berisi nomor unik yang dapat dibaca dengan alat “scanner” yang kemudian menghubungkannya ke database informasi tentang ukuran kayu, jenis (spesies), dan asal kayu. Tanda unik tersebut hampir tidak mungkin tertukar.

Selain itu, bar code juga mengikuti perjalanan sebuah kayu dari lokasi tebangan hingga ke manufaktur, membantu auditor eksternal untuk menyortir ribuan kayu dengan cepat, untuk membandingkan seluruh isi kapal pengangkut kayu atau timbunan kayu dengan database mutakhir.

Namun sebelum bar codes dilaksanakan di lapangan, program ini sekarang sedang diuji coba terlebih dulu. Uji coba atau proyek pilot yang akan berlangsung selama tiga bulan ini menelan biaya $400.000, didanai oleh British Department for International Development, US Agency for International Development (USAID), dan The Home Depot, sebuah perusahaan pengecer kayu terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat dengan 1.500 toko tersebar di AS, Kanada, Puerto Rico, dan Meksiko.

Dengan dukungan dana tersebut, TNC memulai proyek demonstrasi hutan berkelanjutan dan sertifikasi kayu di kawasan seluas 500.000 acre (sekitar 82 hektar) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Jika uji coba tersebut berhasil, TNC akan melaksanakan kegiatan bar codes tersebut di seluruh Kaltim.

“Uji coba proyek bar code kini sedang kami lakukan bersama dua perusahaan kayu, yaitu PT Sumalindo Lestari Jaya (SLJ) dan PT Daisy Timber,” ujar Yudi Iskandarsyah. Kedua perusahan tersebut kebetulan memiliki daerah operasional yang sama dengan TNC, di Kaltim, dan mereka bersedia menerima tawaran untuk menguji coba sistem bar codes tersebut. Dalam waktu tiga bulan, mereka berasumsi akan memperoleh produksi kayu yang cukup sehingga sistem ini dapat diuji berhasil atau tidak.

“Sebenarnya TNC yang mengundang kedua perusahaan kayu tersebut untuk menguji sistem yang kami kembangkan secara suka rela,” imbuh Marius Gunawan, Communication Manager TNC. “Dengan mengikuti uji coba ini, keduanya pun belum dikatakan apakah proses yang mereka jalankan sudah bagus atau tidak. Tetapi mereka bersedia meminjamkan tempat untuk pengujian sistem bar codes tersebut”.

Untuk pengujian di lapangan itu ada dua organisasi yang terlibat, yaitu SGS dan URS. Keduanya pula yang mengembangkan sistem auditnya. Setelah melewati masa diuji coba, kedua organisasi tersebut akan membuat rekomendasi apakah sistem dapat dijalankan, dihentikan, atau diperbaiki sebelum dilanjutkan.

“Untuk dapat lolos dari uji legalitas, setiap kayu harus memenuhi tujuh prinsip legalitas operasi kehutanan dan prosesnya,” jelas Yudi. Tujuh prinsip itu di antaranya land tenure dan hak pemanfaatan; dampak fisik dan lingkungan sosial; hak-hak masyarakat dan pekerja; peraturan dan hukum pemanenan kayu; pajak-pajak hutan; identifikasi, transfer, dan pengiriman kayu; serta pemrosesan dan pengapalan kayu. “Semua kriteria inilah yang sedang kami uji di lapangan, dan masih terlalu dini untuk merangkum hasil uji coba ini.”

“Setelah uji coba, kami akan melihat apakah program ini dapat terus dijalankan atau tidak, dengan meminta masukan dari para pihak apa yang harus diperbaiki untuk dapat dijalankan,” tambah Marius. “Kalau sistem ini dapat menjawab pertanyaan tentang legalitas kayu yang ditebang, maka program ini akan dilaksanakan di lapangan, bukan tahap uji coba lagi”.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #6   Report Post     Original Poster (OP)

Indonesia kehilangan Rp 70 trilliun nilai ekologi hutan lindung

Indonesia kehilangan Rp 70 trilliun nilai ekologi hutan lindung


Indonesia akan kehilangan tidak kurang dari Rp 70 trilliun per tahun dari divestasi 925.000 ha nilai ekologi hutan lindung. Hal itu dikarenakan praktek tambang terbuka di hutan lindung Indonesia dengan adanya pengesahan Perpu No.1/2004 tentang perubahan UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan.

Nilai divestasi sebesar Rp 70 trilliun masih parsial yang terdiri dari nilai jasa ekosistem hutan, keanekaragaman hayati, biaya lingkungan di sekitar hulu dan pemanfaatan hutan lindung secara berkelanjutan oleh masyarakat sekitar serta akumulasi nilai penurunan PDRB dan PAD di 25 kabupaten/kota tersebut.

Kehilangan nilai modal ekologi Rp 70 trilliun per tahun setara dengan hampir 70 kali lipat dari nilai penerimaan sektor tambang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2003 yang hanya bernilai Rp 1,07 trilliun. Atau lebih besar Rp 25 trilliun dari nilai total secara nasional sumbangan sector pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2002 sekitar Rp 45 trilliun.

Menurut Siti Maimunah dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) yang termasuk dalam Koalisi Penolakan Alih Fungsi Hutan menjadi Pertambangan (WWF Indonesia, WALHI, Pelangi, Yayasan Kehati, Greenomics Indonesia dan lain-lain), praktek tambang di hutan lindung berdampak dalam bidang ekonomi.

Secara ekonomis pendapatan 25 kabupaten/kota tersebut akan menurun karena nilai ekologis yang mendukung perekonomian hancur. Lebih dari tujuh juta penduduk di mana sekitar 30 persen masih hidup di bawah garis kemiskinan yang selama ini menggantungkan hidupnya terhadap peranan-peranan ekologis dari hutan lindung di wilayah tempat mereka tinggal yang tersebar di 10 propinsi akan terancam.

Sekitar Rp 23,05 trillun per tahun nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di 25 kabupaten/kota tersebut akan menyusut, setidaknya ketika modal ekologi terdivestasi pada tingkat yang signifikan selama 14 tahun ke depan. Nilai Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hanya sekitar Rp 93 milyar pada tahun 2003 juga akan terdivestasikan, karena praktek tambang terbuka di hutan lindung akan menciptakan perekonomian local serba mahal.

Hal tersebut merupakan konsekwensi logis dari divestasi peranan ekologis hutan lindung yang dimainkan oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) terhadap berbagai kegiatan perekonomian masyarakat seperti pertanian, perikanan, industri dan sebagainya.

Sedangkan nilai kayu sebagai perekat kekompakan ekosistem hutan lindung yang harus disingkirkan melalui praktek tambang terbuka bernilai tak kurang dari Rp 27,5 trilliun.

Siti Maimunah mengatakan,” Tambang di hutan lindung juga berdampak dalam bidang sosial masyarakat setempat yaitu telah terjadi kriminalisasi rakyat dengan adanya pelanggaran hak karena tidak dikonsultasikan dengan rakyat masalah ganti rugi tidak layak dan dipaksa menyerahkannya." Selanjutnya dikatakannya bahwa limbah dalam jumlah besar dari 100 ton, 98 ton limbah berupa logam berat sehingga timbul masalah gangguan kesehatan atau kehilangan mata pencaharian. Sedangkan penutupan tambang belum ada peraturan sehingga perusahaan pergi begitu saja setelah selesai beroperasi.

Berkaitan dengan pemulihan setelah adanya dampak pertambangan, Siti Maimunah mengatakan bahwa dari kenyataan pertambangan sebelumnya pemerintah tidak mampu memulihkan dampak-dampak di wilayah bekas pertambangan. Hal-hal mendasar dalam proses pemulihan tidak dilakukan konsultasi dengan rakyat seperti mengenai penutupan tambang, perusahaan meninggalkan rakyat secara permanen dalam kerusakan lingkungan dan kehilangan mata pencaharian.

Sedangkan Untuk bisa memulihkan kondisi kawasan pertambangan seperti semula dibutuhkan waktu dua kali umur pengoperasian pertambangan.

Untuk jelasnya, berikut potensi hilangnya nilai ekologi akibat praktek tambang terbuka di hutan lindung seluas 925.000 ha.

Dampak tambang terbuka di hutan lindung
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #7   Report Post     Original Poster (OP)

Hutan Burma menjelang punah

Hutan Burma menjelang punah


“Ini adalah kesalahan terbesar yang pernah kami lakukan,” kata Bao Youxiang, Kepala United Wa State Army. “Kita telah menghancurkan lingkungan kita ini,” katanya dalam Buletin World Rainforest Movement, edisi no. 82. newsweek

Bao mengatakan, “Karena kekurangan pendapatan, penguasa lokal menjual kayu-kayu ini ke Cina, sebab sumber daya inilah yang mereka punyai.” Akibatnya, Burma termasuk salah satu negara di dunia yang hutannya tinggal tersisa sedikit.

Padahal pada zaman dahulu, hutan Burma merupakan salah satu hutan yang kaya akan keanekaragamanhayati di dunia. Salah satu pohon yang terdapat di Burma ialah pohon jati. Menurut ,.FAO Hutan Burma merupakan pengekspor kayu jati terbesar di dunia dimana memberikan kontribusi sebesar 80% dari pasokan dunia. Sedangkan Thailand, Indonesia, India, Laos dan Malaysia hanya memiliki nilai pasokan 20 % saja.

Pada tahun 60-an, hutan kayu jati di Burma mulai mengalami penurunan jumlah yang disebabkan penebangan liar dan penyelundupan. Sehingga beberapa hutan di Burma telah di tutup karena penebangan.FAO mengestimasikan bahwa sekitar 1.500.000 acre telah rusak.

Ketika krisis ekonomi melanda Burma tahun 90-an, sebagai akibat dari pola kepemimpinan diktator militer Burma, rezim penguasa memberi kelonggaran terhadap penebangan kayu gelondong. Penguasa militer mengekspor kayu tersebut untuk menyokong pendapatan negara. Akibatnya, kini Burma masuk dalam rating negara perusak hutan tertinggi di dunia.

Pada tahun 2003 lebih dari 9 persen pendapatan luar negeri Burma berasal dari gelondongan kayu. Tetapi data tersebut merupakan data yang tercatat pada pemerintah Burma. Fakta lebih dari dua kali lipat gelondongan kayu yang diekspor secara ilegal ke Cina.

Cina sebagai salah satu negara yang menerima gelondongan kayu secara ilegal yang berasal dari Burma, jelas mendapatkan keuntungan sendiri. Cina sendiri mulai membuka jalur perdagangan kayu gelondongan dengan negara tetangga seperti Burma sejak tahun 1998, saat banjir melanda Cina akibat rusaknya hutan-hutan Cina.

Menteri Kehutanan Burma sendiri justru memberikan kelonggaran terhadap penebangan kayu gelondongan karena ingin mendapatkan keuntungan ganda dari ekspor kayu gelondongan.

Perusakan hutan Burma semakin diperparah dengan maraknya obat-obatan terlarang dan semakin kuatnya dominasi militer. Para bandar obat-obatan menggunakan perusahaan kayu sebagai pencucian uang untuk keuntungan mereka. Sedangkan pada rezim militer menggunakan kayu tersebut sebagai ajang bisnis dan permainan politik untuk mencari dukungan pihak lain.

Artikel terkait "Myanmar mired in a deforestation crisis", Geoffrey York, Globe and Mail, "Myanmar mired in a deforestation crisis"

Global Witness (October 2003),"A Conflict of Interest: The uncertain future of Burma's forests"
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #8   Report Post     Original Poster (OP)

Jangan Beli Kayu Ilegal dari Indonesia

Jangan Beli Kayu Ilegal dari Indonesia


Greenpeace menghimbau negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa supaya tidak membeli kayu ilegal dari Indonesia. Penebangan dan perdagangan ilegal telah merusak hutan di Indonesia.

“Kami saat ini sedang mendokumentasikan semua kegiatan di Pangkalan Bun. Beberapa hari terakhir ini kami menemukan tongkang mengangkut kayu gelondongan. Kami akan menyampaikannya ke tingkat global untuk mengkampanyekan jangan membeli produk dari kayu ilegal,” kata Tim Birch, dalam wawancara bulan Februari 2004, di ruang Hotel Pan Pacific, Kualalumpur, yang disewa Greenpeace.

Ketika itu kapal Rainbow Warrior sedang merapat di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Tidak ada orang di tongkang berisi kayu gelondongan yang ditemukan di Sungai Lamandau, Kalimantan Tengah oleh awak Rainbow Warrior. Selain itu, di sekitar Sungai Lamandau tidak ada HPH aktif. Jadi Greenpeace menyimpulkan kemungkinan kayu-kayu itu hasil curian.

“Kami menyaksikan kejahatan lingkungan yang besar di sana. Kami sayangkan Pemerintah Indonesia tidak mengambil langkah tegas untuk mengatasi illegal logging yang merusak Tanjung Puting. Kami tidak percaya Raja Kayu Abdul Rasyid tidak ditindak dan kegiatannya tidak dihentikan,” kata Birch, dari Greenpeace International, yang sedang mengikuti Konferensi Para Pihak ke-7 Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP VII CBD) di Kualalumpur.

Lebih lanjut, Birch mengatakan, “Kami ingin mengkomunikasi ke tingkat global bahwa persoalan ini bukan persoalan Indonesia saja tetapi ini persoalan global. Karena pasar global mendorong kerusakan hutan. Banyak produk kayu dari Indonesia dikirim ke Eropa, Jepang, dan Cina.”

“Kami ingin negara-negara konsumen mengambil langkah tegas menghentikan impor. Kampanye Greenpeace lebih efektif untuk pasar global. Kami akan minta konsumen tidak membeli produk dari kayu ilegal dan kayu yang pengambilannya merusak hutan dari wilayah ini,” kata Birch menjelaskan.

Environmental Investigation Agency bertepatan denganCOP VII Convention on Biological Diversity, di Kualalumpur, dalam jumpa persnya mengungkapkan Pemerintah Malaysia dan perusahaan kayu Malaysia “mencuci” kayu ramin ilegal dari Indonesia dijadikan kayu legal produksi Malaysia agar bisa diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat.

Alexander von Bismarck dari EIA mengungkapkan paling sedikit satu pelabuhan di Malaysia menangani 70.000 meter kubik kayu ramin setiap tahunnya. Sebagian besar kayu ramin itu dikirim ke Cina dan Taiwan untuk diproses menjadi tongkat bilyar, gagang sapu/pel, dan bingkai foto/lukisan yang kemudian dikirim ke AS dan negara lainnya tanpa izin dari CITES.

CITES adalah konvensi PBB yang mengatur perdagangan flora dan fauna terancam punah yang dilundungi. Ramin sudah dimasukkan atas permintaan Indonesia ke dalam Appendix III CITES karena itu perdagangan atau perpindahan ramin lintas batas antarnegara harus disertai dengan dokumen yang dikeluarkan oleh CITES. Indonesia telah melarang ekspor ramin.

Pada awal jumpa pers yang bukan hanya dihadiri oleh wartawan media di Malaysia, tapi juga dihadiri oleh organisasi non-pemerintah (ornop) Malaysia, ornop Indonesia, sejumlah pejabat Pemerintah Malaysia, diputar film dokumenter berjudul “Profiting from Plunder: How Malaysia Smuggles Endangered Wood.”

Film itu menggambarkan bagaimana pengusaha pengangkutan kayu ramin selundupan dari Indonesia dengan ringan mengakui semua kayu ramin yang diangkutnya berasal dari Indonesia dan dengan ringan pula mengatakan tidak memerlukan dokumen CITES untuk pengiriman ramin ke berbagai negara.

Berdasarkan hasil penyelidikan EIA dan Telapak, terjadi defisit suplai kayu untuk industri kayu Malaysia sebesar 13,242 juta meter kubik setara kayu gelondongan. Jumlah kayu legal yang diproduksi Malaysia tahun 2001 hanya 20,847 juta meter kubik. Padahal Malaysia mengekspor 24,949 juta meter kubik dan masih ditambah 9,243 juta meter kubik untuk konsumsi domestik.

EIA/Telapak, berdasarkan data konsultan industri independen, 60 persen kayu ramin yang diekspor Malaysia adalah kayu curian dari Indonesia. Paling tidak setahun dibutuhkan 120.000 meter kubik ramin yang diimpor ilegal maupun legal dari Indonesia.

Beberapa kali Bea Cukai Indonesia menangkap kapal pengangkut kayu ramin di perairan Riau. Juni 2001 KM Aiwan Jaya dan KM Iqbal yang membawa 360 ton ramin dari Riau ke Batu Pahat, pesisir barat Semenanjung Malaya, ditahan Bea Cukai.

Mendengar tuduhan itu, pihak Malaysia segera membantahnya langsung saat berlangsung tanya jawab. Asosiasi perkayuan Malaysia, Malaysian Timber Council juga menyebarkan selebaran yang isinya membantah semua tuduhan EIA/Telapak. “Malaysia tidak melakukan perdagangan kayu-kayu ilegal dan telah melakukan berbagai upaya untuk memerangi masuknya kayu ilegal ke Malaysia,” demikian pernyataan Malaysian Timber Council.

Surat ornop

Delapan ornop internasional yang berkegiatan di AS tanggal 5 Februari 2004 mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri AS Colin Powell mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh Malaysia, seperti diungkapkan oleh Allan Thornton, Presiden EIA yang memimpin acara jumpa pers.

Mereka adalah Sierra Club, Orangutan Foundation International, Defenders of Wildlife, Earthjustice, Rainforest Action Network, Greenpeace, Environmental Investigation Agency, dan Natural Resource Defense Council. Surat itu ditembuskan juga ke Dubes Malaysia untuk AS dan Menteri Dalam Negeri AS Gale Norton.

Delapan ornop meminta Pemerintah Malaysia agar menyelidiki dan menghukum orang-orang, perusahaan, dan pejabat pemerintah yang terlibat dalam penyelundupan dan pencucian ramin ilegal. Selain itu Malaysia harus menarik penolakannya memasukkan ramin dalam CITES, menghentikan semua impor, pengangkutan dan mengeksport kayu ramin ilegal dari Indonesia.

Jika Malaysia tidak melaksanakan langkah-langkah itu, “Organisasi kami akan mengajukan petisi kepada Menteri Dalam Negeri berdasarkan Amandemen Pelly agar Malaysia dikenakan sanksi perdagangan jika dalam 60 hari tidak mengambil langkah penghentian perdagangan ilegal itu,” kata Thornton.

Sementara itu, mereka meminta Presiden AS menghentikan impor ramin dari Malaysia.

“Sebenarnya sanksi bukan tujuan kami. Surat itu ditujukan agar muncul upaya bersama-sama dengan Pemerintah Malaysia, masyarakat Malaysia mencari penyelesaian persoalan ini,” kata von Bismarck.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #9   Report Post  

Menjenguk Adrianii ke Gunung Slamet

Sabtu pagi, 29 April 2006, di kawasan wisata Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah. Langit cerah berwarna biru seolah mendukung kegiatan Trubus hari itu. Berkendaraan mobil pick up Carry berwarna biru, Trubus dengan semangat meluncur menuju habitat alami nepenthes di Gunung Slamet. Perjalanan kali ini makin menyenangkan karena Endang Tri Hartati, SP, kepala Kebun Bibit Hortikultura Baturaden, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Riyono, Diran, Zodik, dan Supri, penggemar nepenthes, ikut menemani.

Niat untuk menjenguk habitat alami periuk monyet di Gunung Slamet sebetulnya sudah terpendam sejak pertengahan September 2005. Waktu itu seorang penjaga stan Jawa Tengah di pameran IFS di Jakarta Convention Center bercerita, ada nepenthes istimewa di gunung berapi tertinggi ke-2 di Indonesia itu. Konon, kantong periuk monyet itu berukuran besar dan berwarna merah. Rasa penasaran pun membawa Trubus menjelajahi gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah itu.

Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 07.50 WIB ketika Trubus keluar dari hotel menuju lokasi penjelajahan. Setelah 10 menit perjalanan berkendaraan mobil, Trubus tiba di kaki gunung berketinggian 3.432 m dpl itu. Itu bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan.

Pendakian dimulai dengan berjalan kaki menyusuri jalan tanah becek yang kedua tepinya ditumbuhi ilalang. Hampir setiap sore kawasan itu diguyur hujan. Sepatu kets putih yang Trubus pakai berangsur menjadi cokelat kehitaman. Berulang kali rombongan berhenti sejenak karena harus menyingkirkan pacet yang menempel di kaki. Tak jarang darah keluar dari bekas gigitan hewan kecil hitam itu.

Lepas dari ilalang dan semak belukar, tampak hutan damar. Setelah itu jalan menanjak dengan sajian hutan hujan tropis yang rimbun dan asri. Sewaktu akan menyeberangi sungai Trubus dikagetkan oleh teriakan Diran. Di sana ada kantong semar, ujarnya sambil menunjuk ke salah satu pohon yang terletak di seberang sungai. Tampak kantong berwarna merah pekat bergelantung di pohon. Itulah nepenthes pertama yang ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB.

trubus-online.com
andree_erlangga
National Level

Post: 1.903
 
Reputasi: 4






Reply With Quote     #10   Report Post  

Semarak Hutan di Tengah Mal

Decak kagum kerap terdengar dari bibir para pengunjung yang keheranan sejak masuk pintu mal WTC Manggadua. Sebuah rekaman video dari layar TV 21 inci menunjukkan pemandangan langka. Empat tanaman penangkap serangga-nepenthes, dionaea, drosera, dan sarracenia-beraksi menangkap lalat, semut, dan kepik. Lihat, ini benar-benar nyata. Saya kira hanya cerita dalam dongeng, kata Liliana Surya pada suaminya.

Tak puas memandang dari layar kaca, para pengunjung mengalihkan mata pada akuarium berukuran 70 cm x 35 cm x 35 cm di sebelah monitor TV. Di balik kaca bening terlihat 4 tanaman asli: nepenthes, dionaea, drosera, dan sarracenia, berlomba menangkap lalat di dalam akuarium. Bagian atas akuarium ditutup kain kasa sehingga lalat tak bisa keluar dari habitat alam buatan itu. Dua pengunjung yang sabar, terlihat puas menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seekor lalat terperosok ke dalam kantong sarracenia.

Atraksi yang luar biasa itu membuat para pengunjung penasaran. Dua stan yang memajang tanaman penangkap serangga terlihat ramai. Menurut Afriza Suska, pemilik stan Komunitas Tanaman, 15 tanaman perangkap serangga berpindah ke tangan hobiis hanya dalam hitungan 2 jam. Carnivorous plant itu dibandrol Rp50-ribu-Rp100-ribu. Padahal, target awal bukanlah menjual tanaman, tapi merekrut hobiis baru sebagai anggota komunitas pencinta tanaman pemangsa serangga.

trubus-online.com
andree_erlangga
National Level

Post: 1.903
 
Reputasi: 4

Reply
 


Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search




Similar Threads
Thread Original Poster Forum Replies
Artikel Tentang Semua Jenis Anggrek nurcahyo Flora, Pertanian & Perkebunan 20
Semua tentang Liga Indonesia lelaki Sepakbola 3
Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Kanker andy_baex Kesehatan 0


Pengumuman Penting

Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.