Semua Tentang Hutan Login dengan akun Jejaringsosial.com anda Daftar sebuah akun Jejaringsosial.com
 
Go Back   Home > Flora, Pertanian & Perkebunan
Lupa Password?

Gambar Umum Video Umum





 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #11   Report Post     Original Poster (OP)

Banyak Pilihan Kayu Bangsawan

Banyak Pilihan Kayu Bangsawan
Oleh trubus


Hingga saat ini 10.000 jati genjah telah dikebunkan Parasman Pasaribu. Namun, rencana penanaman belum surut. Pekebun di Bakauheni, Lampung Selatan, itu berencana memperluasnya. Pada umur 5-7 tahun bisa dijarangkan dan panen berikutnya 3 tahun kemudian, ujar Parasman.

Panen cepat dengan mutu kayu prima memang menjadi alasan pekebun membudidayakan jati genjah. Bandingkan dengan jati konvensional yang dipanen pada umur 60-80 tahun. Walau begitu, warna dan kekuatan kayu jati genjah dan konvensional tidak jauh berbeda.

Hasil jati genjah rata-rata kayu kelas 2, Kata Yana Sumarna, periset Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor. Harganya hampir tak berbeda dengan kayu jati konvensional berumur sama. Sebab, kayunya tetap keras dan tidak getas. Berikut beberapa varietas jati genjah.
Jati emas plus

Sumber induk jati emas plus dari pohon jati genjah tertua di Indonesia. Saat diambil, batang itu baru berumur 5 tahun tetapi tingginya 10-15 m dan berdiameter 25 cm. Pucuknya dikulturjaringankan oleh PT Katama Surya Bumi (KSB), di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bibit hasil kultur jaringan itu tumbuh pesat. Terhitung setelah 6 bulan pertama penanaman, diameter meningkat 0,7 cm dan tinggi 12 cm/bulan. Pada penjarangan pertama pada umur 7 tahun, tinggi jati emas plus mencapai 15 meter dan diameter 27,5 cm. Setelah 15 tahun, jati emas plus siap dipanen dengan diameter 34 cm dan tinggi 17 meter.

Teksturnya kuat dan kokoh, mirip jati konvensional. Itu didapat jika dirawat secara teratur seperti pemupukan pada awal tanam, pembersihan gulma di sekeliling tanaman, dan pemetikan daun-daun tua. Salah satu pekebun yang menanam intensif adalah Noer Soetrisno, sekretaris Menteri Perumahan Rakyat. Ia memberikan pupuk kandang dan zeolit saat awal tanam hingga berumur setahun.

Saat daun bawah menguning, satu per satu dibersihkan agar nutrisi tidak terserap daun itu. Hasilnya, 7.200 jati emasnya di 4 kota menghasilkan keuntungan lebih dari Rp30-juta setelah 4 tahun penanaman. Jati emas tumbuh baik di daerah dengan 3-5 bulan musim kering. Suhu lingkungan 27-36oC dan curah hujan 2000 mm per tahun. Agar jati tumbuh optimal, pH 4,5-6. Menurut Sri Wahyuni dari KSB, hindari penanaman jati emas di lahan bekas singkong, pisang, dan sawah.

Lahan singkong mengandung sianida tinggi, bersifat racun, sehingga tanaman tumbuh kerdil. Sedangkan lahan bekas pisang dan sawah mengandung banyak air, sulit bagi jati membuat perakaran kuat. Walau begitu, jati emas berdaya adaptasi luas, tak hanya ditanam pada dataran rendah, tetapi juga dataran tinggi.
Jati jumbo

Jati jumbo lebih dikenal dengan nama jati solomon lantaran dikembangkan di Kepulauan Solomon, negara di sebelah timur Papua Nugini. Ciri khasnya daun tak terlalu lebar, tetapi tebal dan kuat. Tumbuhnya lurus ke atas. Pasangan daun serasi, berwarna hijau kebiruan. Batang tegak lurus, bulat besar, tahan penyakit, tumbuh sangat cepat, relatif sedikit percabangan, pucuk batang kuat, jarang patah karena badai atau hama, sehingga tanaman dapat tumbuh sempurna.

Tanaman jati jenis lain sering patah di pucuk, maka sosoknya bercabang-cabang. Penanaman cocok di daerah tropis bercurah hujan sekitar 1.000-2.000 mm/tahun, suhu 24-35oC, tanah berkapur, berketinggian di bawah 700 m dpl. Jati jumbo menyukai penyinaran matahari penuh. Oleh karena itu, idealnya jarak tanam 3-3,5 m, sehingga total populasinya 1.000-1.200 pohon/ha. Saat 6 tahun dilakukan penjarangan 500 batang.

Setiap pohon menghasilkan 0,25 m3 kayu dengan harga Rp 2-juta/m3. Itu berarti penjarangan setelah 6 tahun penanaman menghasilkan Rp250-juta. Volume panen lebih tinggi lagi pada umur 20 tahun, kata Teddy Pohan, staf pemasaran PT Tunas Agro Makmur, produsen bibit jati jumbo. Volume yang dihasilkan sekitar 750 m3 dengan mutu lebih baik sehingga harganya mencapai Rp4-juta/m3.
Jati plus perhutani (JPP)

Pada 1976, Perhutani mulai menyeleksi 600 jati unggul di seluruh Indonesia. Dua belas tahun kemudian, jati plus perhutani lahir dengan berbagai kelebihan seperti tumbuh lebih cepat, tahan penyakit dan adaptif di dataran tinggi maupun rendah. Itu termasuk lahan kritis yang tak bernutrisi, kata Harsono dari Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan, Cepu, Jawa Tengah. Tekstur kayu mirip jati konvensional walau tergolong kelas kekuatan III.

Ketika jati berumur satu tahun, tingginya 4 m dan keliling batang 12 cm. Pada umur tiga tahun, tinggi tanaman mencapai 8 m dan keliling batang rata-rata 26 cm. Saat dipanen pada umur 12 tahun, diameter batang sudah mencapai 23 cm dengan tinggi 14 m.
Jati super gama

Super gama berasal dari jati terbaik di Cepu, Jawa Tengah. Warna daun hijau kemerahan. Cara tumbuh maupun perawatan mirip dengan jati genjah lain. Menurut Ir Franky dari Gama Surya Lestari, produsen bibit super gama, tinggi tanaman setelah 3 bulan persemaian 70 cm. Pertumbuhannya mencapai 20 cm per bulan. Saat berumur 1 tahun tingginya 8 m.

Media tanam berupa pupuk kandang dan tanah berasio 1:1. Tempat yang paling cocok di ketinggian lebih dari 600 m dpl. Dengan jarak tanam 2 m x 2 m, total populasi 2.500 pohon/ha. Waktu panen perdana pada umur 7-8 tahun, diperkirakan produksinya 100 m3/ha. Sebab, penjarangan hanya menebang 25% dari total populasi. Saat itu, diameter mencapai 20-25 cm dan tinggi 15 meter. Sisanya, dipanen setelah berumur 13-14 tahun. Saat itu, tinggi pohon mencapai 21 m dengan diameter 30-33 cm. Artinya, panen yang diperoleh cukup singkat itu menghasilkan 450 m3 jati bangsawan.
Jati utama

Berbeda dengan jati genjah lainnya, jati utama diambil dari klon terbaik asal Muna, Sulawesi Tenggara. Lantaran teruji dengan iklim dan lingkungan di luar Jawa, varietas itu lebih cocok jika ditanam di luar Pulau Jawa. Areal penanaman diutamakan pada ketinggian kurang dari 700 m dpl. Cara tumbuh dan perawatannya mirip dengan jati lain.

Menurut pengujian PT Bhumindo Hasta Jaya Utama, pertumbuhan jati utama pada umur 2 tahun mencapai 2-4 meter dengan diameter batang 13 cm. Dengan jarak tanam 2 m x 2 m, total populasi 2.500 pohon per ha. Penjarangan dilakukan setelah tanaman berumur 4-5 tahun. Saat itu, dari 1.250 pohon dengan diameter 15 cm dan tinggi 6-7 m menghasilkan 131 m3. Sisa 1.250 batang lainnya dipanen setelah berumur 15 tahun.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13

 






Reply With Quote     #12   Report Post     Original Poster (OP)

Pilih Jati Saat Tebang Pilih

Pilih Jati Saat Tebang Pilih
Oleh trubus


Kebun jati itu tampak rapat. Dengan jarak tanam 3 m x 3 m total populasi di lahan 2 ha mencapai 2.200 pohon. Pohon-pohon berumur 5 tahun seperti berlomba menggapai angkasa. Kanopi saling bersinggungan. Pemiliknya, Agustaman, berencana menjarangkan tahun depan. Diperkirakan dari1.100 pohon yang ditebang, pekebun di Cariu, Jonggol, Jawa Barat, itu akan menuai 330 m3 kayu.

Dengan penjarangan, pertumbuhan jati meningkat. Sebab, dengan berkurangnya populasi, terjadi perluasan ruang tumbuh. Kompetisi sesama pohon untuk mendapatkan unsur hara pun berkurang. Dampaknya, menurut Herta Pari, bagian Sumberdaya Hayati Perum Perhutani, penjarangan mempercepat pertumbuhan pohon.

Faedah lain, penjarangan memperbaiki struktur lahan. Intensitas sinar matahari meningkat. Itu mempercepat pelapukan daun-daun kering menjadi nutrisi bagi tanaman. Selain itu rumput tumbuh di sekitar tanaman sehingga struktur tanah lebih kuat dan tak mudah erosi.

Hingga panen terakhir, pekebun melakukan penjarangan hingga 4 kali yaitu ketika jati berumur 4, 7, 10, dan 12 tahun. Dengan penjarangan, jarak tanam yang semula 2 m x 2 m menjadi 8 m x 8 m ketika dipanen pada umur 15 tahun, kata Drs Yana Sumarna MSi, peneliti jati di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Menurut master Konservasi Hutan alumnus Institut Pertanian Bogor itu terdapat 4 jenis penjarangan: rendah, tajuk, mekanis, dan seleksi.
Empat kali

Dalam penjarangan rendah, tajuk terjelek dibuang. Yang dimaksud tajuk terjelek adalah cabang pohon yang sakit, mati, atau patah. Pekebun melakukan penjarangan rendah ketika tanaman berumur 4 tahun. Tajuk yang dipotong, acapkali muncul lagi. Oleh karena itu pekebun mesti menjarangkan lagi.

Penjarangan tajuk hanya memotong ranting atau cabang, pohon sama sekali tak ditebang. Kecuali bila tinggi pohon melebihi pohon lain. Penjarangan tajuk dilakukan ketika tanaman berumur 7 tahun. Penjarangan ini menghasilkan kayu yang bisa dijual menjadi tambahan pendapatan pekebun. Dari luasan 1 ha, penjarangan tajuk minimal menghasilkan 500 m3 kayu. Berbeda dengan penjarangan tajuk, penjarangan mekanis dimaksudkan untuk memperlebar jarak antarpohon. Pohon ditebang selang-seling atau yang berada pada jalur sempit. Sedangkan penjarangan seleksi, dilakukan terhadap pohon-pohon yang sesuai kriteria: berdiameter lebih besar, tajuknya rimbun, tanpa menghiraukan posisi maupun umur tajuk.
Wolf von Wulfing

Sebelum menebang, ada perhitungan khusus agar pertumbuhan pohon jati tersisa tetap subur, kata Herta. Tabel Wolf von Wulfing memegang peranan penting dalam perhitungan penjarangan pohon jati. Tabel itu berisi nilai bonita, yaitu kesuburan tanah berkaitan dengan jumlah, tinggi dan umur pohon.

Sistem tebang pilih sudah diterapkan Agus Michael Jocku, pekebun di Manokwari, Papua Barat, pada 1996. Sebelum penjarangan Agus menentukan jumlah pohon yang harus ditebang didua kebun. Kebun Agus masing-masing seluas 1 ha pertama dihuni 1.650 pohon dengan jarak 3 m x 2 m. Kebun lain berisi 3.333 pohon dengan jarak tanam 3 m x 1 m.

Menurut Agus jumlah pohon yang ditebang tidak boleh terlalu banyak, sebab mengakibatkan suhu tanah meningkat 2-3oC. Kenaikan suhu mendadak menyebabkan pengap sehingga pembentukan hidrat arang hasil fotosintesis berkurang dan menghambat pertumbuhan. Saat penebangan diusahakan tidak menimpa pohon sisa yang menyebabkan cabang patah atau luka. Jika terdapat luka, inger-inger, ulat pembusuk kayu jati akan menyerang. Dan sebaiknya dilakukan penjarangan sebelum pancaroba, atau peralihan musim kemarau ke musim hujan.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #13   Report Post     Original Poster (OP)

Kiat Cepat Panen Gaharu

Kiat Cepat Panen Gaharu
Oleh trubus


Batang gaharu Aquilaria malaccensis berumur minimal 5 tahun dibor secara spiral. Artinya, setiap ujung bidang gergaji pertama akan bersambungan dengan bidang gergaji kedua. Begitu selanjutnya. Bidang gergajian itulah yang diberi cendawan.

Setahun pasca penyuntikkan gubal sudah dapat dituai. Teknik sebelumnya, antar bidang gergaji tidak saling berhubungan. Interval antar bidang sekitar 10 cm dan perlu 2-3 tahun menuai gubal.

Modifikasi teknologi pemberian cendawan itu dikembangkan oleh Drs Yana Sumarna MSi, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor. Ia memberikan cendawan Fusarium spp pada setiap batang gaharu. Setahun berselang, ia bisa memanen 10 kg gubal gaharu dari pohon umur 6 tahun. Cara ini lebih efektif dibandingkan teknik lama lantaran teknik spiral mampu menahan pohon tetap berdiri kokoh walau ditiup angin kencang. Siapkan alat yang diperlukan: bor kayu dengan mata bor berdiameter 13 mm untuk melubangi batang, gergaji, spidol sebagai penanda tempat pelubangan, alat ukur, kapas, spatula, pinset, alkohol 70%, lilin lunak dan bibit gubal berupa cendawan. Proses pengerjaannya sederhana.

1. Inokulan berupa cendawan untuk membantu proses terbentuknya gubal. Beberapa contoh cendawan padat adalah Diplodia sp, Phytium sp, Fusarium sp, Aspergillus sp, Lasiodiplodia sp, Libertela sp, Trichoderma sp, Scytalidium sp, dan Thielaviopsis sp. Cendawan itu diperbanyak dengan mencampur satu sendok cendawan dan 100 gram limbah serbuk kayu gaharu. Simpan satu bulan di botol tertutup rapat.

2. Buat tanda di lapisan kulit pohon berdiameter 10 cm dengan spidol untuk menentukan bidang pengeboran. Titik pengeboran terbawah, 20 cm dari permukaan tanah. Buat lagi titik pengeboran di atasnya dengan menggeser ke arah horizontal sejau 10 cm dan ke vertikal 10 cm. Dengan cara sama buatlah beberapa titik berikutnya hingga setelah dihubungkan membentuk garis spiral.

3. Gunakan genset untuk menggerakkan mata bor. Buat lubang sedalam 1/3 diameter batang mengikuti garis spiral bidang pengeboran.

4. Bersihkan lubang bor dengan kapas yang dibasuh alkohol 70% untuk mencegah infeksi mikroba lain.

5. Masukkan cendawan ke dalam lubang dengan menggunakan sudip. Pengisian dilakukan hingga memenuhi lubang sampai permukaan kulit.

6. Tutup lubang yang telah diisi penuh cendawan dengan lilin agar tak ada kontaminan. Untuk mencegah air merembes, permukaan lilin juga ditutup plester plastik.

7. Cek keberhasilan penyuntikan setelah satubulan. Bukaplesterdanlilin. Inokulasi cendawan sukses jika batang berwarna hitam. Setelah itu buat sayatan ke atas agar kulit bawah terkelupas. Ini memudahkan untuk membuka dan menutup saat pengecekan selanjutnya.

8 . Satu tahun kemudian gaharu dipanen. Untuk meningkatkan keberhasilan, pekebun menambahkan senyawa pemicu stres. Dengan begitu daya tahan gaharu melemah, cendawan mudah berkembang biak, dan gubal pun lebih cepat terbentuk.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #14   Report Post     Original Poster (OP)

Menjenguk Adrianii ke Gunung Slamet

Menjenguk Adrianii ke Gunung Slamet
Oleh trubus



Sabtu pagi, 29 April 2006, di kawasan wisata Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah. Langit cerah berwarna biru seolah mendukung kegiatan Trubus hari itu. Berkendaraan mobil pick up Carry berwarna biru, Trubus dengan semangat meluncur menuju habitat alami nepenthes di Gunung Slamet. Perjalanan kali ini makin menyenangkan karena Endang Tri Hartati, SP, kepala Kebun Bibit Hortikultura Baturaden, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Riyono, Diran, Zodik, dan Supri, penggemar nepenthes, ikut menemani.

Niat untuk menjenguk habitat alami periuk monyet di Gunung Slamet sebetulnya sudah terpendam sejak pertengahan September 2005. Waktu itu seorang penjaga stan Jawa Tengah di pameran IFS di Jakarta Convention Center bercerita, ada nepenthes istimewa di gunung berapi tertinggi ke-2 di Indonesia itu. Konon, kantong periuk monyet itu berukuran besar dan berwarna merah. Rasa penasaran pun membawa Trubus menjelajahi gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah itu.

Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 07.50 WIB ketika Trubus keluar dari hotel menuju lokasi penjelajahan. Setelah 10 menit perjalanan berkendaraan mobil, Trubus tiba di kaki gunung berketinggian 3.432 m dpl itu. Itu bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan.

Pendakian dimulai dengan berjalan kaki menyusuri jalan tanah becek yang kedua tepinya ditumbuhi ilalang. Hampir setiap sore kawasan itu diguyur hujan. Sepatu kets putih yang Trubus pakai berangsur menjadi cokelat kehitaman. Berulang kali rombongan berhenti sejenak karena harus menyingkirkan pacet yang menempel di kaki. Tak jarang darah keluar dari bekas gigitan hewan kecil hitam itu.

Lepas dari ilalang dan semak belukar, tampak hutan damar. Setelah itu jalan menanjak dengan sajian hutan hujan tropis yang rimbun dan asri. Sewaktu akan menyeberangi sungai Trubus dikagetkan oleh teriakan Diran. Di sana ada kantong semar, ujarnya sambil menunjuk ke salah satu pohon yang terletak di seberang sungai. Tampak kantong berwarna merah pekat bergelantung di pohon. Itulah nepenthes pertama yang ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB.
N. adrianii

Nepenthes itu memiliki kantong berukuran sedang, tinggi 15 cm, dan peristom lebar. Itulah Nepenthes adrianii, endemik Pulau Jawa. Ketakung-sebutan lain nepenthes-itu tumbuh epifit di pohon-pohon. Sekitar 2 km dari lokasi pertama, rombongan kembali menemukan N. adrianii. Namun, kali ini ukuran kantong 2 kali lebih besar daripada kantong semar sebelumnya dan berwarna merah marun.

N. adrianii tumbuh epifit hanya di pohon tertentu. Biasanya kantong semar menempel di pohon pari, cirep, woro, sarangan, dan panggang ayam. Namun, paling banyak di pohon panggang ayam, ujar Diran. Tumbuhnya pun berkelompok. Maksudnya bila ditemukan satu periuk monyet di pohon tertentu, maka di lokasi itu pasti terdapat minimal 10 nepenthes yang tumbuh di pohon lain. Biasanya nepenthes yang namanya diambil dari nama seorang hobiis di Jawa Timur itu ditemukan di lokasi dekat sungai.

Pukul 12.00 WIB kabut tebal berwarna putih mulai menyelimuti kawasan Gunung Slamet. Jarak pandang hanya 5 m. Namun, itu tak menyurutkan langkah Trubus beserta rombongan untuk terus mendaki. Perjalanan pun semakin sulit. Trubus harus merambah hutan lebat dan menebas tumbuhan-tumbuhan untuk membuka jalan. Jalan licin berkelok sepanjang 20 m dengan lebar hanya 40 cm dilewati dengan hati-hati. Maklum kanan-kiri jalan jurang terjal.
N. gymnamphora

Perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi jurang sedalam 5 m. Karena tak ada jembatan penyeberangan, Trubus harus turun-naik jurang itu. Akhirnya pada pukul 13.15 WIB, Trubus menjumpai pemandangan yang sungguh menakjubkan. Kantong-kantong roset N. gymnamphora berwarna merah terhampar laksana karpet di atas tanah humus. Itu sungguh berbeda dengan N. adrianii yang Trubus jumpai sebelumnya, menempel di atas pohon setinggi lebih dari 10 m. N. gymnamphora banyak dijumpai di dekat sungai. Sungai jadi habitat ideal karena lembap.

Selain menjalar di atas tanah, N. gymnamphora tumbuh merambat di pohon. Namun, warna kantong tak seindah yang tumbuh di atas tanah lantaran didominasi hijau. Tinggi kantong periuk monyet itu antara 10-15 cm. Selama perburuan kali itu, hanya N. adrianii dan N. gymnamphora yang ditemukan. Jenis kantong semar di Gunung Slamet memang tidak terlalu beragam. Pun warna kantongnya. Kebanyakan berwarna merah. Namun, ukuran kantong relatif besar. Tinggi kantong N. adrianii yang Trubus temukan ada yang mencapai 30 cm.

Menurut kabar, para penjelajah hutan biasa meminum air di dalam kantong semar untuk menghilangkan dahaga. Trubus pun tak ingin melewatkan kesempatan meminum air di dalam kantong N. gymnamphora yang masih tertutup. Air di dalam kantong itu masih bersih. Rasanya? Segar sekali, seperti air dari kulkas, dingin dan menyegarkan. Umumnya pada kantong yang masih tertutup berisi cairan sebanyak volume kantong.

Menurut Diran, saat ini sangat sulit menjumpai nepenthes di Gunung Slamet. Itu karena penjarahan kantong semar di alam untuk diperjualbelikan. Maklum belum banyak yang membudidayakan ketakung. Berbeda halnya dengan di luar negeri, contohnya di Malaysia. Di sana periuk monyet diperbanyak melalui teknik kultur jaringan.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #15   Report Post     Original Poster (OP)

Semarak Hutan di Tengah Mal

Trubus WTCM2 Agro Expo 2006
Semarak Hutan di Tengah Mal
Oleh trubus



Begitulah suasana hari pertama pameran Trubus WTCM2 Agro Expo 2006 yang digelar pada 18 Mei-4 Juni 2006. Decak kagum kerap terdengar dari bibir para pengunjung yang keheranan sejak masuk pintu mal WTC Manggadua. Sebuah rekaman video dari layar TV 21 inci menunjukkan pemandangan langka. Empat tanaman penangkap serangga-nepenthes, dionaea, drosera, dan sarracenia-beraksi menangkap lalat, semut, dan kepik. Lihat, ini benar-benar nyata. Saya kira hanya cerita dalam dongeng, kata Liliana Surya pada suaminya.

Tak puas memandang dari layar kaca, para pengunjung mengalihkan mata pada akuarium berukuran 70 cm x 35 cm x 35 cm di sebelah monitor TV. Di balik kaca bening terlihat 4 tanaman asli: nepenthes, dionaea, drosera, dan sarracenia, berlomba menangkap lalat di dalam akuarium. Bagian atas akuarium ditutup kain kasa sehingga lalat tak bisa keluar dari habitat alam buatan itu. Dua pengunjung yang sabar, terlihat puas menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seekor lalat terperosok ke dalam kantong sarracenia.

Atraksi yang luar biasa itu membuat para pengunjung penasaran. Dua stan yang memajang tanaman penangkap serangga terlihat ramai. Menurut Afriza Suska, pemilik stan Komunitas Tanaman, 15 tanaman perangkap serangga berpindah ke tangan hobiis hanya dalam hitungan 2 jam. Carnivorous plant itu dibandrol Rp50-ribu-Rp100-ribu. Padahal, target awal bukanlah menjual tanaman, tapi merekrut hobiis baru sebagai anggota komunitas pencinta tanaman pemangsa serangga.
Tanaman langka

Pemandangan yang tak kalah menarik ditemukan di lantai dasar mal. Pameran aneka flora dan fauna unik digelar di bagian barat lantai dasar. Sebut saja aksi katak berkuping dan bertanduk yang bertengger di atas daun kantong semar. Pun, kecoak terbesar di dunia. Belum lagi kehadiran belalang daun. Warnanya hijau, mirip daun. Namun, jika hinggap di daun jambu biji yang kemerahan, tubuhnya pun berubah kemerahan. Kemampuan itu mengingatkan kita pada bunglon.

Tak jauh dari tempat fauna unik itu, berjejer ragam buah yang sedang diburu hobiis. Sebuah tabulampot tin bertengger di atas kaki beton dengan gagah. Dari ketiak daun muncul buah berwarna hijau seukuran bola pingpong. Tin diburu karena terbukti dapat berbuah di Indonesia. Buah yang tercatat di 3 kitab suci-Injil, Al-Qur'an, dan Weda-itu cocok dijadikan tanaman kebanggaan keluarga. Di sebelahnya, tabulampot marasi-buah pengubah rasa asam dan tawar menjadi manis-memamerkan bunga dan buah. Kehadiran tabulampot itu mematahkan pendapat orang yang mengatakan marasi tak cocok dijadikan tanaman buah penghias ruangan.

Di sudut lain, kaktus berdaun dan sikas mutasi memamerkan keindahannya. Mereka seolah tak mau kalah dengan tanaman hias yang tengah populer seperti aglaonema, adenium, dan euphorbia. Dari pengamatan Trubus, pameran kali ini diramaikan juga oleh beragam ramuan herbal pendatang baru. Sebut saja sarang semut, gamat, dan keben. Ketiganya melengkapi kehadiran 2 obat tradisional yang lebih dulu populer, buah merah dan VCO.

Tertarik menikmati keindahan hutan dari segala penjuru dunia di tengah mal di Batavia? Jangan sampai ketinggalan. Datanglah ke pameran Trubus WTCM2 Agro Expo 2006 yang digelar hingga 4 Juni 2006.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #16   Report Post     Original Poster (OP)

Dari Gunung Slamet hingga Negeri Jiran

Nepenthes Baru
Dari Gunung Slamet hingga Negeri Jiran
Oleh admin



Suatu pagi di awal Februari 2005. Dengan menggebu-gebu Sofjan Moeis meluncur dari tempat tinggalnya di Pondokindah, Jakarta Selatan, menuju kantor pos Ciputat, Tangerang, dengan mengendarai mobil carry. Manajer operasional salah satu restoran jepang di Jakarta itu bukan hendak mengeposkan surat. Ia hendak mengambil paket yang dipesan pada Desember 2004. Itulah kiriman berisi kantong semar dambaan asal Malaysia.

Alumnus salah satu akademi perhotelan di Munich, Jerman, itu telah menunggu paket itu selama 2 bulan. Dada Sofjan berdebar, khawatir periuk monyet yang dinanti rusak di perjalanan. Untung saja sang pitcher plant utuh dan selamat tiba di tangan. Ayah 4 anak itu jatuh cinta pada kantong semar sejak 1980. Lantaran masih pemula, waktu itu koleksinya banyak terbakar. Maklum jenis yang dikoleksi adalah nepenthes dataran tinggi. Pantas mogok hidup di Jakarta. Namun, itu tak menghentikan kegilaan Sofjan untuk tetap mengoleksi pitcher plant. Habis sudah telanjur jatuh cinta, ujar pria kelahiran 53 tahun silam itu.

Untuk melengkapi koleksi, Sofjan tak hanya berburu di dalam negeri, tapi juga luar negeri. Hasilnya, 6 nepenthes baru asal negeri jiran Malaysia menghiasi teras rumah. Kolektor lain, Endang Tri Hartati mengoleksi nepenthes asal Gunung Slamet, Jawa Tengah. Sementara M Apriza Suska di Bogor, memburu kantong semar dari Filipina dan Florida. Berikut kantong semar-kantong semar unik itu.

Nepenthes hirsuta

Sekilas Nepenthes hirsuta tidak menarik lantaran kantong bawah dominan berwarna hijau. Namun, coba perhatikan lebih seksama. Bintik-bintik merah menghiasi kantong bawah bagian dalam, tepatnya di bawah bibir. Kantong atas berwarna kekuning-kuningan dan jarang terdapat bintik merah. Penampilan kantong semar ini tambah istimewa dengan kehadiran bulu halus berwarna cokelat yang menyelimuti daun dan kantong. Panjang daun sekitar 20 cm dan lebar 4 cm. N. hirsuta dapat ditemui di lahan berpasir dan hutan kerangas dengan ketinggian 200-900 m dpl.

Nepenthes hookeriana

Nepenthes dataran rendah ini hasil persilangan alami antara N. ampullaria dengan N. rafflesiana. Tak heran jika penampilan kantong bawah mewakili bentuk kedua induknya: pendek, gemuk, dan besar. Bibir kantong dan tutup lebar. Sayap tumbuh pada kantong bawah. Kantong atas berbentuk seperti terompet, semakin ke bawah semakin runcing. Kehadiran sayap pada kantong atas semakin berkurang. Mulut kantong atas dan tutupnya besar dengan lebar sekitar 5 cm. N. hookeriana diambil dari nama salah satu ahli botani Inggris terkenal, Joseph Hooker.

Nepenthes truncata

Pitcher plant ini tampil dengan bentuk daun yang cukup unik. Daun Nepenthes truncata tebal dan bentuknya seperti hati, ujar Sofjan. Lazimnya daun kantong semar berbentuk lanset. Tak hanya daun, kantong pun menarik. Warna kantong bagian luar terkesan monoton, dominan hijau. Bagian dalam lebih berwarna, berbercak merah, merah muda, dan ungu. Penampilan N. truncata semakin mewah dengan bibir berwarna jingga keemasan.

Kantong bawah berbentuk silinder, gemuk, dan bersayap. Sayap muncul dari bagian atas sampai bawah kantong. Panjang kantong dapat mencapai 20 cm. Mulut kantong besar dengan diameter mencapai 5 cm. Tutup N. truncata menyerupai kubah. Ketakung itu Sofjan peroleh dari Malaysia. Sebenarnya ia asli Filipina, hanya saja dibudidayakan di Malaysia.

Nepenthes mira

Kantong bawah berwarna merah pekat atau krem dengan bintik-bintik merah. Warna bibir merah tua. Kantong atas, hijau-kuning terang. Nepenthes mira asli Pulau Palawan, Filipina. Namun, Sofjan memperolehnya dari Malaysia pada Agustus 2005. Kantong semar ini tumbuh di tempat berlumut dengan ketinggian sekitar 1.800 m dpl.

Nepenthes ventricosa

Jenis ini termasuk nepenthes dataran tinggi, hidup pada ketinggian di atas 1.000 m dari permukaan laut. Meski termasuk jenis dataran tinggi, tapi ia juga dapat tumbuh di dataran sedang dan rendah. Hanya saja kantong tidak muncul. Kantong berbentuk pendek, gemuk, dan bundar. Pinggang kantong mengerut dan tidak ada sayap. Kantong berwarna merah tua, krem, atau ungu kehitaman. Mulut N. ventricosa berbentuk oval. Bibir berwarna merah dengan bagian pinggir berlekuk-lekuk. Sama seperti 2 saudaranya di atas, ia berasal dari Filipina, tapi dibudidayakan di Malaysia.

Nepenthes bellii

Penampilan nepenthes ini lebih mempesona jika diletakkan pada pot gantung. N. bellii memiliki sulur yang panjang, mencapai 15 cm. Pitcher plant ini dapat dikategorikan sebagai nepenthes mini lantaran kantong kecil, tinggi kurang dari 5 cm. Berwarna merah kekuningan dan bibir kuning kehijauan. Si kerdil yang didapat dari Malaysia ini asli Pantai Timur Laut Mindanao, Filipina.

Nepenthes gymnamphora

Inilah nepenthes baru yang tak kalah cantik. N. gynamphora merupakan koleksi Endang Tri Hartati, kepala Kebun Bibit Hortikultura Baturaden, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah. Kantong semar ini hanya ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera. Ia tumbuh di hutan primer atau sekunder di hutan vulkanik .

Ketakung ini termasuk nepenthes dataran tinggi karena hidup pada ketinggian 900 m sampi 2.750 m dpl. Ia hidup epifit, menempel pada pohon lain, seperti paku resam Gleichenia linearis. Bentuk kantong atas seperti pinggang berwarna hijau, merah, atau hijau ke merah-merahan. Panjang kantong mencapai 20 cm, dan tahan 1-2 bulan. N. gynmphora diperoleh Endang dari hasil perburuan ke Gunung Slamet, Jawa Tengah.

Nepenthes x ventrata

Nun di Bogor juga ada nepenthes yang tak kalah memikat koleksi M Apriza Suska. Salah satunya nepenthes x ventrata. Ketakung ini merupakan hasil persilangan antara N. alata dan N. ventricosa, keduanya asli Filipina. Tanaman cantik ini memproduksi kantong berbentuk botol di ujung sulurnya. Tinggi kantong sekitar 15 cm. Bentuk kantong memikat laksana biola dengan bagian bawah lebih besar dibandingkan atas. Kantong N. x ventrata memiliki variasi warna, merah dan hijau. Perbedaan warna ini tergantung jumlah cahaya yang didapat.

Nepenthes x emmarene

Lainnya, Nepenthes x emmarene. Kantong semar ini diperoleh Apriza dari nurseri di Florida. Ia merupakan hasil persilangan N. khasiana-asli India- dengan N. ventricosa-asli Filipina. Kantong berbentuk silinder berwarna kuning kehijauan dengan tinggi sekitar 15 cm. Bibir berwarna merah kecokelatan dengan bagian pinggir bergelombang. Keunikan N. x emmarene terdapat pada bentuk tutup. Ujung tutup membentuk huruf V, ujar Apriza.

Sang periuk monyet memang selalu tampil memikat dengan beragam keunikannya. Tak heran bila kehadiran jenis baru selalu dinantikan para hobiis. Salah satunya, Sofjan di Pondok Indah, Jakarta.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #17   Report Post  

Hutan kita makin gundul!!

Makin mengenaskan aja nih hutan Indonesia!

pasalnya di Kalimantan ajah udah bisa kita lihat hutan kita yang udah botak karena kebakaran beberapa tahun lalu. Sekarang merayap ke Riau,kali ini kasusnya dibuat oleh manusia dengan pembalakan liar.Saat baca dari media masa,aku agak tecengang dengan laporan yang mengatakan kalau pelakunya adalah 12 pejabat setempat.

YAng udah-udah,bisa kita liat sendiri kalo Menteri atau pejabat bakal lolos seolah kebal hukum. SEBEL!
Megha
World Level

Post: 16.442
 
Reputasi: 546






Reply With Quote     #18   Report Post  

Bangsa Pintar Gak Bakal Nyukur Hutan!

Kondisi hutan kita makin memprihatinkan aja deh,makin tua usianya malah makin botak! udah kayak profesor aja!!

Malah info yang aku dapet dari media, Hilangnya hutan alam kita tergantikan sama Devisa besar buat negara.Bahkan berdirinya Pabrik Pulp malah jadi kebanggaan bangsa.

Gak abis pikir ya,Harusnya kan Bangsa yang Pintar Gak Bakal Nyukur Kelimis Hutannya!
Megha
World Level

Post: 16.442
 
Reputasi: 546






Reply With Quote     #19   Report Post  

Re: Semua Tentang Hutan

Yang nyukur hutan itu orang kota juga malah yang jadi mbooosssnya.... sabtu-minggu weekend kepuncak hari seninnya pulang ke jakarta ....banjir dech, maka nyebuuuuuuuuut ...... ngeluarkan zakat rp.75 ribu/orang/tahun lagi. lebih mahal bayar tol kaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii ?
guest
Guest

Post: n/a
 
Reputasi:






Reply With Quote     #20   Report Post  

Re: Semua Tentang Hutan

Ngak usah jauh mengamati hutan se Indonesia, cukup di jakarta aja, contoh pantai indah kapuk..... mangrove hilang (katanya ngak hilang... malah ditanami pengembang dengan TENDA PESTA (sewa tenda mungkin biayanya kira-kira Rp.50 jt)..... harga tenda pesta+bibit mangrove ngak nyambung @ bibit asumsi aja Rp.25 rb ...... buatlah asumsi sendiri ..... ?(1 TENDE PESTA bisa membiayai reklamasi hutan mangrove) ...... kemana air laut mampir jika lingkungannya mengecil/ meninggi kerena di timbun tanah urug..... tentu ke jalan TOL CENGKARENG........ met berwisata bahari warga jakarta & indonesia...GRATISSSSSSSSSSSSS ?
guest
Guest

Post: n/a
 
Reputasi:

Reply
 


Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search




Similar Threads
Thread Original Poster Forum Replies
Artikel Tentang Semua Jenis Anggrek nurcahyo Flora, Pertanian & Perkebunan 20
Semua tentang Liga Indonesia lelaki Sepakbola 3
Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Kanker andy_baex Kesehatan 0


Pengumuman Penting

Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.