Kesurupan bermula dari Sakit Gigi

Status
Not open for further replies.
Mungkin saat membaca judul Cerita ini anda akan tertawa. Tapi, Cerita ini benar adanya dan bukanlah suatu karangan semata yang 'saya' alami. Pengalaman kesurupan ini 'saya' alami masih dalam kesadaran 'saya' namun entah kenapa 'saya' tak bisa mengontrol emosi dan pergerakan tubuh 'saya'. Oke dari pada banyak cingcong silahkan anda baca.

Pada minggu pagi itu 'aku' baru saja selesai mencuci pakaian, tapi saat sedang santai-santai Nenek 'aku' bilang.
"Antar Nenek sebentar kerumah Pamanmu,ya?". Kata Nenek'ku' tepat disamping kursi yang 'ku' duduki. Namun entah kenapa jantung'ku' berdebar kencang dan perasaan'ku' gak enak tapi 'ku' hiraukan begitu saja, segera 'ku'ambil motor'ku' digaransi rumah kemudian segera memanasinya. Setelah motor siap dipakai 'aku' pun segera memanggil Nenek'ku' keluar namun tiba-tiba saja badan'ku' lemas dan tak bertenaga tapi untuk kesekian kalinya tetap 'ku' hiraukan hingga sampai kerumah Paman'ku' yang berjarak 2 km dari rumah'ku'.
"Dek,ayo masuk!" Suruh Kakak sepupu'ku' anak perempuan dari Paman'ku' dan tanpa pikir panjang segera 'ku' jawab.
"Ngak usah!" Dan saat itu juga 'aku' bingung kenapa nada bicara'ku' judes banget dan itu pula membuat Kakak sepupu'ku' mengernyitkan keningnya kemudian segera masuk kembali kerumahnya meninggalkan'ku' yang masih duduk diatas motor. Dan gak disangka Gigi'ku' sakit!.
"Aduuhh . . Nih gigi sakitnya minta ampun deh" Erang'ku' sambil memegang pipi'ku' yang ternyata bengkak dan kembali membuat'ku' bingung,gak seperti biasanya pipi'ku' bengkaknya cepet. Segera 'aku' masuk kerumah Paman'ku' untuk memanggil Nenek'ku' pulang.
"Nek. Ayo pulang! Gigi'ku' sakit banget nih!" Kata'ku' sambil memegang pipi'ku.
"Iya bentar" Kata Nenek'ku' menghiraukanku dan kembali bercerita sama Bibi'ku',tiba-tiba saja amarah menguasai hati'ku'.
"Nek. Ayo pulang! Gigi'ku' sakit" Bentak'ku' membuat Nenek dan Bibi'ku' kaget.
"Iya-Iya ayo pulang . . Kami pulang dulu Nur(Nama Samaran)" Pamit Nenek dan segera keluar rumah Paman'ku'. Saat diperjalanan menuju kerumah, 'aku' hanya diam hingga sampai dirumah 'aku' langsung duduk dikursi samping tempat Ayah'ku' sedang sarapan.
"Kenapa pipimu bengkak?" Tanya Ayah'ku' sambil mengunyah makanannya.
"Sakit gigi tahu! Mama! Ambilin 'aku' obat sakit gigi" Perintah'ku' seenaknya membuat Ayah'ku' berhenti mengunyah dan menatap'ku' galak.
"Kamu udah besar,ambil saja sendiri. Mamamu capek" Kata Ayah'ku' sedikit membentak dan amarah pun kembali menguasai hati'ku'.
"'Aku' kan minta tolong bukan nyuruh" Bentak'ku' kemudian berdiri sambil membanting kursi plastik yang 'ku'duduki tadi dan segera pindah kesofa.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Ibu'ku' datang dengan sikat pakaian ditangannya dan menatap'ku' aneh.
"'Aku' sakit gigi! Ambilin obat!" Bentak'ku' membuat Ibu'ku' kaget dan segera kekamar untuk mengambil obat berbeda dengan Ayah'ku' yang menatap'ku' tajam. Setelah diberi obat oleh Ibu'ku' segera 'ku'kunyah seperti mengunyah nasi dan itu membuat'ku', Ibu dan Ayah'ku' kaget karna 'aku' termasuk anak yang sangat susah minum obat. Jangankan mengunyah menelannya saja 'aku' tak bisa dan biasanya obat itu dihancurkan dulu baru 'aku' bisa minum.
"Loh! Gak pake air minum obatnya? Apa gak pahit?" Tanya Ibu'ku' sambil memegang gelas.
"Gak perlu!" Bentak'ku' menatap Ibu'ku' penuh amarah.
"Mau kemana,ma?" Tanya'ku' menatap Ibu'ku' penasaran karna memakai baju kebun.
"Mamamu mau pergi" Jawab Ayah'ku' dengan nada bercanda namun hati'ku' kembali dipenuhi amarah dan 'aku' mendengar suara aneh yang terdengar ditelinga'ku'.
'Dasar bodoh! Mau-maunya kau ditinggal orang tuamu!' Kata suara itu membuat'ku' semakin dipenuhi amarah.
"Aku tanya mama mau kemana?" Bentak'ku' marah.
"Dibilang mamamu mau pergi" Sahut Ayah'ku' kembali bercanda dan disertai tawa dari Ayah dan Ibu'ku' semakin membuat pikiran'ku' kosong dan penglihatan'ku' tak fokus,namun otak'ku' masih dapat menerima kejadian yang terjadi.
"Mama mau pergi kemana?" Teriak'ku' mulai tak terkontrol namun Ayah dan Ibu'ku' mengira 'aku' hanya kesal semata.
"Dibilang mamamu mau pe- . ." Perkataan Ayah'ku' terputus karena teriakan'ku'.
"AAARRGHH!!" Teriak'ku' kencang dan melempar bantalan sofa kearah sembarangan membuat Ayah'ku' semakin tertawa terpingkal-pingkal.
"AARGGH! ARRGHH! AARRGGGHH!" Teriak'ku' semakin menjadi-jadi.

Bersambung . . .
 
Status
Not open for further replies.
Back
Top