Takut ditegur KPI, industri media buramkan bagian vital di tayangan

hendrasyahptr

New member
attachment.php

Ilustrasi menonton televisi. ©2014 Merdeka.com/shutterstock.com/Dmitriy Karelin


Merdeka.com - Proses pemburaman bagian vital tertentu dari karakter yang ditayangkan media televisi menjadi polemik tersendiri. Sempat muncul tayangan Putri Indonesia yang diburamkan atau diblur bagian tertentu di Indosiar dan menuai komentar di media sosial.

"Blur ini yang rame di media, artinya kita tidak saling menyalahkan karena berpedoman pada P3SPS. Kita blur karena takut ditegur KPI. Memang ke depan harusnya ada pemahaman konkret terkait blur itu seperti apa?" kata Direktur Utama PT Indosiar Visual Mandiri Imam Sudjarwo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/3).

Sedangkan Direktur MNC Group yang juga Wakil Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Syafril Nasution, menjelaskan pihaknya ketakutan atas peraturan KPI. Maka dari itu sampai sempat melakukan blur terhadap bagian tertentu dari tokoh kartun film Doraemon yaitu Sizuka.

"Kalau kita bicara pengalaman, kami pernah dapat teguran, ada satu animasi, mohon maaf sebelumnya, berciuman, memakai bikini, sehingga saking takutnya bagian program kami begitu kerasnya teguran-teguran ini. Doraemon pun yang pakai bikini terpaksa diblur, jadi memang kami di sini mohon bantuan dari KPI mungkin lebih jelas saja mana-mana yang perlu diblur," ungkapnya.

Sementara itu Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengakui bahwa ada tayangan putri Indonesia yang telah diblur Indosiar. Namun yang beredar di media sosial justru telah diedit, bukan bagian tertentu tapi hampir seluruh tubuh putri Indonesia diblur.

"Tadi ada penjelasan dari Dirut Indosiar terkait putri Indonesia. Blur yang beredar di sosial media itu sudah hasil photoshop. Aslinya gak seperti itu," ujarnya.

Menurut Politisi PKS ini, KPI sudah memiliki peraturan terkait pemburaman. Namun belum ada sinkronisasi pemahaman antara industri televisi dengan KPI.

"Tinggal implementasinya saja yang orang masih belum jelas betul bagian mana, dalam konteks apa diblur. Tolak ukur Blur di KPI. Cuma mungkin dalam penerapannya Tv-Tv merasa belum jelas. Kalau itu kan bisa didiskusikan antara KPI dengan industrinya," pungkasnya.

SUMBER: http://www.merdeka.com/jakarta/taku...-media-buramkan-bagian-vital-di-tayangan.html
 

Attachments

  • takut-ditegur-kpi-industri-media-buramkan-bagian-vital-di-tayangan.jpg
    takut-ditegur-kpi-industri-media-buramkan-bagian-vital-di-tayangan.jpg
    34.1 KB · Views: 311
tapi setidak nya jangan di blur semua

masak belahan dada saja harus di sensor

trus kalau uda malam ngak perlu di sensor lagi karena anak kecil uda pada tidur
 
tapi setidak nya jangan di blur semua

masak belahan dada saja harus di sensor

trus kalau uda malam ngak perlu di sensor lagi karena anak kecil uda pada tidur
iya bener ya lebay,..
justru dengan blur belahan itu orang malah jadi fokus ngeliat blur dadanya
 
mending nonton tv luar tv indonesia tidak bersahabat apalagi kalau acara sepakbola di acak parah sensor nya sungguh terlalu
 
kalau menurut saya, dari pada keseringan di sensor sensor, malah mengundang pertanyaan anak kecil , mending kostum nya saja yang disesuaikan , jadi nggak perlu pake kostum kostum yang mengumbar aurat, sehingga malah jadi harus di sensor sensor,

kalau anak kecil sering nanya', malah dia bisa semakin pensaran, terutama acara acara yang menggunakan panggung dan konser konser dangdut atau kecantikan, cantik dan menarik itu kan nggak harus terbuka, jadi nggak perlu sensor lagi,
 
nonton televisi nasional indonesia sekarang kurang nyaman

karena terlalu banyak adegan sensor nya

hoho bener juga ya den
seharusnya gaperlu disensor, melainkan kan sudah ada kategori usia penonton
jadi sekiranya untuk dewasa, para orangtua harus paham untuk menjauhkan anak" dari tanyangan tersebut.
Atau paling tidak kan sekarang sudah banyak TV berlangganan, bagi orangtua yang khawatir untuk tayangan dewasa kan bisa di kasih kode/password yang anak" bahkan remaja nanggung tidak bisa melihatnya .
kurang lebih seperti itu den mennurut saya
 
Back
Top