Antara Milla dan Fernandez, Indonesia Harus Pertimbangkan dengan Matang

stockinglovers

New member
luis-fernandez-20170108-232612.jpg


PSSI kembali berbenah usai menuai hasil yang cukup lumayan di ajang piala AFF kemarin. Performa tim nasional dinilai masih buruk. Untuk itu, Edy Rahmayadi selaku Ketua Umum PSSI mulai mencarikan nakhoda terbaik untuk kemajuan tim nasional Indonesia. Lantas, ia pun membeberkan dua nama pelatih pelatih yang sudah malang melintang di persepakbolaan Eropa. Luis Fernandez dan Luis Milla keluar sebagai nama calon pelatih tim nasional.

Luis Fernandez adalah mantan pemain tim nasional Perancis dan Paris Saint-Germain. Bersama tim ayam jantan, ia berhasil merengkuh trofi kejuaran Eropa tahun 1984. Setahun berselang, ia juga mampu membawa klubnya Paris Saint-Germain meraih Copa Perancis. Di tahun yang sama, Luis Fernandez pun dianugerahi gelar pemain terbaik Perancis tahun 1985.

Karir manajerialnya pun tak kalah mentereng, usai memutuskan pensiun sebagai pemain tahun 1993. Ia pun melanjutkan karirnya sebagai pelatih di beberapa klun dan negara. Tercatat, Cannes dan PSG adalah tim yang pernah ia tukangi. Bersama Paris Saint-Germain pula ia mampu mempersembahkan banyak gelar.

Setelah itu, karirnya berlanjut ke Spanyol. Athletic Bilbao menjadi pelabuhan selanjutnya. Namun, di Spanyol keberuntungannya kurang kuat. Ia pun hanya mampu membawa Bilbao finish kedua di ajang La Liga musim 1998. Untuk beberapa tahun selanjutnya, ia kerap kali berganti klub hinggan tim nasional. Israel dan Guinea adalah negara yang sebelumnya pernah memperkerjakan Luis Fernandez sebagai pelatih tim nasional. Hingga pada akhrinya, masuk tahun 2017 Luis Fernandez mendapatkan tawaran untuk memperbaiki kualitas permaianan tim nasional Indonesia.

Namun, nampaknya jikalau pun Luis Fernandez setuju, ia masih harus bersaing dengan Luis Milla yang tak kalah hebatnya. Milla adalah seorang mantan pemain gelandang bertahan yang lama berkarir di tanah Matador, Spanyol. Tercatat, klub besar seperti Barcelona, Real Madrid, dan Valencia adalah tempat ia pernah merumput. Bermain di ketiga klub itu, Milla masing-masing pernah merasakan gelar juara mulai dari tingkat domestik hingga kejuaran tingkat benua.

Selanjutnya, ia pun beralih berkarir sebagai manajer tim. Beberapa klub Liga Spanyol pernah mengontraknya sebagai pelatih tim. Tiba pada tahun 2008, ia mendapat tawaran untuk mengasuh bibit tim nasional Spanyol. Milla pun memulainya dengan menjadi pelatih Spanyol U-19. 2 tahun berselang, ia pun sudah membawa tim nasional Spanyol U-21 melaju di ajang Piala Eropa Under 21. Dalam ajang tersebut, tim asuhannya keluar sebagai juara.

Selepas tugasnya mengawal tim nasional, ia pun malang melintang melatih beberapa klub. Real Zaragoza adalah klub terakhir yang ia tangani pada tahun 2016. Sampai, pada tahun 2017 ia diberitakan oleh ibcbet tengah di dekati PSSI untuk mau menjadi pelatih tim nasional.

Diantara kedua nama berprestasi itu, tentu saja mereka memiliki keunggulan serta kekurangannya yang berbeda. Baik Milla atau Fernandez tentu akan memasang tarif yang tidak sedikit. Namun, PSSI harus melihat urgensi antara keduanya. Jikalau pun uang memang tak masalah untuk kebaikan prestasi timnas, kita perlu melihat sepak terjangnya sebagai pelatih dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, pengalaman sebagai pemain aktif dulu juga bisa menjadi bahan pertimbangan.

Melatih tim Eropa dengan tim asia jelas tentu berbeda. Terutama kendala bahasa dan kultur yang menonjol. Kita juga perlu menimbang, tidak hanya berorientasi terhadap kiblat sepakbola mana yang paling cocok untuk Indonesia. Memang, Eropa kini sudah mendunia dengan kemajuan sepakbola modernnya. Tetapi, perlu diingat bahwa yang dibutuhkan tim nasional kita itu adalah semangat bermain untuk membela negara, bukan semata harus bermain seperti tim ini atau negara itu untuk merengkuh kemenangan.
 
Back
Top