Contoh Cerpen-Cerpen
 
Go Back   Home > Sekolah & Pelajaran Sekolah > SMA/SMK/MA Kelas 12 & UN/UNAS

Daftar
Lupa Password?


Anda juga bisa login menggunakan akun Jejaringsosial.com anda
Gambar Umum Video Umum Radio & TV Online





 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #1   Report Post  

[Bahasa Indonesia] Contoh Cerpen-Cerpen

Contoh Cerpen-Cerpen

UNTUK REDI PANUJU

Contoh Cerpen 1 : Ketika Jebule lahir, alam tidak menunjukkan gejala-gejala aneh: tidak ada angin ribut, tidak ada gempa, tidak ada tanah longsor, semua tidak ada, semua biasa-biasa saja. Meskipun demikian, ketika dia lahir, ada sebuah keajaiban: leher Jebule miring. Dan dukun bayi buta huruf tahu apa sebabnya: pinggul ibu Jebule terlalu sempit, tapi, berkat kecerdasan pemberian Tuhan kepada dukun bayi buta huruf ini, dukun buta huruf bersumpah, bahwa dia akan sanggup meluruskan leher Jebule. Dan karena semua penduduk melarat, upah bagi dukun bayi buta huruf cukup sederhana bagi orang-orang lain pada umumnya, tetapi sangat berat bagi penduduk desa terpencil itu: lima potong gula jawa. Manfaat gula jawa: menahan kelaparan, dan memang semua penduduk desa terpencil itu mulai lahir sampai nyawanya melayang perutnya selamanya tidak pernah kenyang.

Demikianlah, setiap hari dukun bayi buta huruf ini datang ke gubuk ibu Jebule, memijat-mijat Jebule, menelusuri syaraf, otot, dan jalan darah Jebule, untuk mencari rahasia bagaimana cara membetulkan lehernya. Dia juga memijat-mijat tubuh ibu Jebule, terutama pinggulnya.

Setelah beberapa hari datang ke gubuk ibu Jebule, berkatalah dukun bayi buta huruf:

”Saya tahu Jebule bukan anak suamimu.”

Suami ibu Jebule buta sejak lahir, lebih banyak menganggur daripada bekerja, dan kesenangannya adalah mengelus-elus pipa rokoknya, sampai halus dan licin. Untuk membeli rokok dia tidak punya uang, maka, kecuali menggosok-gosok pipanya kadang-kadang lebih dari delapan belas jam sehari, dia hanya mampu menyedot-nyedot pipanya seolah-olah menyedot-nyedot tembakau menyala.

CONTOH ARTIKEL PENDIDIKAN

MENJELANG bergulirnya tahun ajaran baru 2016/2017, dunia pendidikan mendapat angin segar dengan terbitnya regulasi baru mengenai masa orientasi siswa (MOS). Jika sejak dulu MOS identik dengan perpeloncoan yang mengandung muatan bullying, kekerasan fisik, ancaman, hukuman (punishment), dan hal tak nyaman lainnya, kini pengenalan terhadap sekolah baru harus dilaksanakan secara humanis. Kabar baik ini memberikan kelegaan bagi siswa, guru, dan para orangtua. Sebab, orientasi siswa yang mengeliminasi rasa takut siswa akan memberikan rasa aman. Bahkan, kebijakan ini dapat menutup buku catatan merah atas sederetan siswa baru yang menjadi korban dari `keganasan’ MOS yang dilakukan senior atau orang lain di sekolah.

Harus diakui bahwa banyak siswa merasa keberatan dengan MOS konvensional yang padat dengan sejumlah tugas berat. Siswa baru yang semestinya beradaptasi dengan lingkungan belajar baru dan menemukan motivasi untuk melejitkan prestasi justru mendapat kesibukan yang pelik. Di antara penugasan klasik MOS yang (sejak dulu) penting untuk dihapus, misalnya, mengumpulkan ratusan merica dan mencari bahan-bahan yang `langka’. Jika siswa tak berhasil menemukannya, hukuman pun siap menanti. Di sisi lain, para senior juga seolah menjadi sosok otoriter.

Sayangnya, kultur negatif saat MOS seolah dimafhumi. Terkecuali siswa baru, banyak pihak abai terhadap MOS yang `menyiksa’. Konsekuensi logisnya, suburlah budaya MOS yang sarat dengan kekerasan, baik verbal, fisik, ataupun mental. Padahal, dampak MOS yang penuh nuansa kecemasan sangat signifikan. Dalam jangka pendek, siswa baru akan mendapat hambatan penyesuaian diri dan mengalami perasaan bersalah.

Hal ini wajar sebab filosofi MOS yang banyak dianut sekolah ialah `menempa mental’. Sayangnya, penempaan mental dimaknai dengan sangat sempit, yakni dengan tindakan memarahi, menghukum, dan menyalahkan.

pengertian-pendidikan Dalam perspektif psikologi, sikap memarahi, menghukum, dan menyalahkan dapat menjadi sumber petaka bagi orang lain. Seseorang yang dihukum, dimarahi, dan disalahkan akan rentan memiliki perasaan bersalah yang luar biasa. Bahkan, kemarahan yang secara repetitif dapat menurunkan kepercayaan diri dan motivasi. Kemarahan akan menimbulkan luka. Kenyataan ini semakin menegaskan bahwa energi negatif pada MOS yang konvensional harus diubah menjadi energi positif. Alih-alih memberikan rasa sakit kepada siswa baru, MOS idealnya dapat menjadi penyembuh. Penyembuh bagi siswa atas derita emosi, mental, dan perilaku.

Poin pentingnya ialah tidak semua siswa masuk ke sekolah baru dalam keadaan baik-baik saja. Bisa saja, mereka anak yang lahir dari keluarga bermasalah dan tak memiliki gairah menuntut ilmu, kecuali demi formalitas belaka. Jika guru dan pengambil kebijakan di sekolah abai terhadap kondisi awal siswa baru, jangan heran jika di kemudian hari mereka menjadi sumber masalah di sekolah. Sebab, anak-anak dengan permasalahan intrapersonal yang tak selesai cenderung mela hirkan hubungan interpersonal yang buruk dengan orang lain. Pada titik inilah, MOS semestinya diselenggarakan dalam kerangka pengenalan dalam arti yang sebenarnya.

Dalam kegiatan orientasi siswa, pendekatan dari hati ke hati sangat diperlukan. Guru diharapkan memiliki kepekaan dan mampu menjalin kedekatan dengan siswa baru sehingga ketika dalam masa orientasi siswa ada beberapa anak didik yang belum bisa mengikuti peraturan dan ritme kegiatan, guru mesti lebih awas.

Di masa orientasi, guru perlu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan pendekatan terhadap siswa, memperkenalkan kultur belajar, dan yang paling penting menyuntikkan semangat baru. Sekolah baru semestinya dapat menghadirkan iklim belajar yang lebih positif. MOS harus diubah, dari gaya konvensional menuju profesional. Sejak awal, guru perlu membangun nuansa kenyamanan. Dengan demikian, hambatan psikologis siswa dalam beradaptasi dengan orang-orang baru, lingkungan baru, dan budaya belajar dapat berjalan dengan optimal.

Ibarat membuka lembaran baru, para guru mesti mempersiapkan diri untuk menyambut siswa. Terlebih dahulu, guru perlu membangun kesiapan mental. Mereka harus meyakini akan kemampuan dalam mengajar dan mendidik siswa dengan baik. Di sisi lain, siswa juga perlu membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru tanpa dihantui rasa takut. Dalam mengenali siswa, ada baiknya guru juga memetakan potensi siswa.

Tantangan selanjutnya ialah mampukah guru bersikap apresiatif atas prestasi siswa? Di sisi lain, bukan hal yang mudah mendeteksi potensi siswa dengan prestasi yang belum tampak. Upaya ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sepanjang rentang waktu belajar, guru perlu cermat memperhatikan siswa. Meski demikian, satu hal yang harus diingat ialah setiap anak memiliki perbedaan individual yang unik sehingga guru tidak perlu membandingkan siswa satu dengan siswa lainnya. Kepercayaan dari pendidik bahwa semua siswa memiliki potensi dan dapat berprestasi dengan cara masing-masing merupakan starting point yang ideal untuk memulai tahun ajaran baru.

Tidak hanya kepada siswa, alangkah baiknya jika masa orientasi juga diikuti dengan pengenalan orangtua terhadap sekolah, guru, dan kultur belajar. Hal ini penting, sebab hubungan yang harmonis antara guru dan orangtua akan berdampak pada pengajaranpengasuhan yang seirama. Keberhasilan guru dalam menjalin kedekatan dengan siswa (sekaligus orangtua) di masa-masa awal tahun ajaran sangatlah penting. Sebab, suatu ketika jika anak mengalami permasalahan perilaku, keluarga menjadi partner bagi sekolah untuk mendukung penyelesaian masalah.

Betapa banyak kasus kenakalan siswa yang tak terpecahkan karena kegagalan komunikasi. Alhasil, siswa yang dinilai nakal pun semakin tidak menyadari kesalahannya, bahkan semakin berada dalam taraf keparahan yang serius. Padahal, penanganan terha dap anak-anak bermasalah hanya akan efektif jika sekolah akrab menjalin kerja sama dengan orangtua.

Sekolah sangat perlu membangun kedekatan dengan siswa, sebagaimana orangtua menjalin kedekatan dengan anak kandungnya. Sebab, transformasi nilai-nilai kebajikan hanya akan efektif apabila dilakukan figur otoritas. Nah, dalam masa orientasi siswa, sekolah harus berhasil membangun diri sebagai figur otoritas bagi para siswa.

Kegagalan sekolah dalam mengenali siswa akan berdampak buruk pada proses belajar dan mengajar. Tidak sedikit guru yang ingin menyampaikan maksud baik justru ditanggapi negatif oleh siswa, demikian pula sebaliknya. Dalam jangka panjang, situasi itu dapat menyuburkan benih kebencian sehingga menyakitkan hubungan guru dengan siswa. Dunia pendidikan tak hanya memerlukan guru yang cerdas saja, tapi juga yang mau dan mampu memahami karakter siswa. Pemahaman yang baik terhadap karakter siswa dapat membimbing guru untuk dapat mengajar dan membimbing setiap siswa dengan metode yang paling tepat.

Pada muaranya, MOS harus menjadi momentum untuk memulai hubungan yang harmonis antara siswa baru, kakak kelas, guru, dan lingkungan sekolah. Sebab, tugas kependidikan yang diemban guru dan siswa tidaklah mudah. Tugas kependidikan untuk mencerdaskan siswa dan membentuk karakter positif hanya akan berhasil jika guru dan siswa mampu mengenal dan menjalin hubungan yang produktif. Untuk menuju hal itu, aktivitas MOS yang tak berkaitan dengan tujuan utama harus ditiadakan, diganti dengan kegiatan positif yang memupuk motivasi belajar, berprestasi, dan bersikap secara positif.

Contoh Puisi Pendek Terbaru dari Sastrawan Indonesia

CONTOH PUISI PENDEK Puisi pendek berikut ini, adalah puisi terbaru dari sastrawan Ibnu Wahyudi dalam buku Pagi Menjadi Ibu.

IBNU WAHYUDI

Ibnu Wahyudi (lahir di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, 24 Juni 1958; umur 58 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Saat ini ia adalah dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia selain menjadi pengajar-tamu di Jakarta International Korean School (sejak tahun 2001), di Prasetiya Mulya Business School (sejak tahun 2005), di Universitas Multimedia Nusantara (sejak tahun 2009), dan di SIM University Singapura.

Pendidikan S1 dalam bidang Sastra Indonesia Modern diselesaikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1984. Antara tahun 1991 sampai dengan 1993 Ibnu Wahyudi mengikuti kuliah di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia dan memperoleh gelar MA, serta menempuh pendidikan doktor (Ilmu Susastra) di Program Pascasarjana UI. Selama 3 tahun (1997-2000) menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.

Kumpulan puisinya yang sudah terbit adalah Masih Bersama Musim (KutuBuku, 2005), Haikuku (Artiseni, 2009), dan Ketika Cinta (BukuPop, 2009); sementara kumpulan prosamininya berjudul Nama yang Mendera (Citra Aji Parama, 2010). Buku puisinya Masih Bersama Musim masuk dalam 10 besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2005. Buku-buku yang pernah disusun atau disuntingnya adalah Lembar-lembar Sajak Lama (kumpulan sajak P. Sengodjo), terbitan Balai Pustaka (1982), Pahlawan dan Kucing (kumpulan cerpen Suripman) terbitan Balai Pustaka (1984), Konstelasi Sastra (Hiski, 1990), Erotisme dalam sastra (1994), Menyoal Sastra Marginal (2004), “Toilet Lantai 13” (Aksara 13, 2008), “Ode Kebangkitan” (2008), dan banyak lagi.

CONTOH PUISI IBNU WAHYUDI

contoh puisi pendek

MEMBACA SEPINTAS

membaca sepintas
tak mungkin paham tuntas
menyimak sepotong
baru seperti tong kosong

dikemas semua menjadi pandangan
terkadang diberi nama penafsiran
diungkap secara gagah
sangat sering dilandasi pongah

: realitas kekinian

sementara pemahaman
sungguh ibarat alur selokan
mengarus berbareng ragam wacana
menuju samudera

begitu panjangnya persekutuan
pelbagai warga sungai bersepaham
berdialog sepanjang arus
sabar berproses bertungkus lumus

: mewujud lautan penuh arti

9/10/16

SAJAK KEDUA RATUS DELAPAN PULUH TIGA

sebuah kelengangan
berjalan melenggang
dengan penuh keramahan
dan jauh dari kemarahan

tiba di rumah
senyumnya tetap murah
bahkan seusai lelah
sesuai sebuah petuah

sebab senyum merekah
lebih membahagiakan mereka
dan semuanya mudah
dilakukan oleh kaum muda

maka kirimkan salam
jangan dengan rasa malas
tapi sepenuh hati yang tetap
yakni siapa saja yang tepat

di setiap hari sepenuh cinta
kepada hati yang setia bercita-cita

9/10/16

SAJAK KEDUA RATUS DELAPAN PULUH DUA

arah angin yang risau
meniup jalur rencana jadi kacau
senja pun dicekam gamang
dan tiba-tiba semua jadi remang
sedang kita masih dipusingkan arus
menuju mata angin yang tirus
: teka-teki abadi

tapi kita terlanjur suka misteri
atau sesungguhnya dijebak kalkulasi?

hanya ada entah
yang sering datang tanpa arah
dan ketika arah sendiri nanar
perjalanan kita jadi begitu samar

8/10/16

SAJAK KEDUA RATUS DELAPAN PULUH SATU

kuselimuti pagi biar hangat

aku tak mengharap ia selesma
pun, tak dapat kubayangkan jika esok
hanya siang yang kujumpa
atau tak ada sesiapa

atau bahkan tanpa hari
yang elok

7/10/16

SAJAK KEDUA RATUS DELAPAN PULUH

terjaga dari keterlenaan
selayaknya jadi pelajaran
sebab kita umumnya suka berlena
bercengkerama dengan mimpi
memasuki area maya
dan menistakan diri
dengan ilusi

maka keterjagaan
semestinya menjadi titik pangkal
bagi suatu pintu kesadaran
sebab rasa penuh sesal
selalu tak pernah dapat dibayar
termasuk menjaga ibu
yang mungkin telah jadi masa lalu

6/10/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH SEMBILAN

kerinduan yang menelaga
aku rapikan dengan siasat rasa
biar riaknya tak membadai
agar riciknya tak membantai

sebab kerinduan yang bertimbun
suka menelikung di balik rimbun
yang gelagatnya sulit dicerna
dan sering pula menyulap diri jadi luka

5/10/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH DELAPAN

jangan kau paksa cinta
sebagai kata kerja

kuasamu cuma bertepuk sendirian
tak ada yang bertekuk lutut bahkan
sebab bukan inti rasa pemicunya
tapi sihir sesaat yang kodian
dan gede rasa berlebihan

maka jangan kau minta cinta
untuk berhimpun
ketika sedikit getar pun
nihil adanya

4/10/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH TUJUH

kegandaan telah lama membagi resah
seperti rel, di ujung tetap terpisah
seperti juga hidup, penuh ketaksaan
: kita harus menggariskan pilihan

bahkan saat tak berhasrat memilih
dua kemungkinan terus menunggu
dan tak kurangnya menawarkan perih
seirama berjinjitnya waktu

3/10/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH ENAM

tak perlu kau merasa merana
jalan saja sebagaimana harusnya
jangan pedulikan pendaku karibmu
tapi alpa akan langkah baru
yang tengah kau mulai

jangan hiraukan mereka
yang pandai menyebut diri
yang nyatakan seiman denganmu
tapi lebih suka senyap saja
dan begitu meriah sambut hari
padahal milik engkau punya seteru

memang kelatahan yang berkuasa
sadar diri bagai suatu yang langka

2/10/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH LIMA

aku tersuruk dalam kekalutan
kiri-kanan kemacetan pikiran
depan-belakang kekalutan nalar
atas-bawah kenarsisan mengular
di mana-mana kedok berpesta
mengobral kata

tapi terima kasih
kesemuanya lekas jadi karib
lantas menjagaku dari kekelaman
dan tetap ada yang masih
yaitu latihan mengasah nasib
sebab kita jua yang tentukan jalan

selain Dia

1/10/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH EMPAT

mencintaimu
dengan rintik kata
taruhlah sebagai masa lalu
sebab menjaga
dan menempatkanmu
dalam istana di jiwa
lebih punya mutu

maka tak perlu
kata cinta itu lagi
memang penting buatmu
belajar menimbang hati
dengan neraca kalbu
dan percaya sepenuh diri
akan perhatianku

30/9/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH TIGA

masih dalam kuasa rinai
tangkap saja ia sebagai amsal
atau pereda panas tak tepermanai
yang kau idap lantaran rasa kesal
suka mengada di catatan pagimu
padahal kau ingin betul seperti ilmu
dikejar sampai negeri tirai bambu

agaknya rehat yang kau perlukan
ruang di otakmu telah sesak
jendela hati coba kuakkan
biar kesumpekan tak berdesak
dan sisa harimu berbianglala
penuh hasrat dunia
penuh gairah nirwana

29/9/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH DUA

Cinta tak mensyaratkan kata. Rasa,
jiwa utamanya, mancar bagai turbin
dalam seruas doa dan kuasa. Setia.
Sampai entah dan di alam lain.
Mungkin.

Tapi yang meluas itu cinta; sebagai
kata. Kita tahu, ia cepat menguap
tanpa beban dan amat santai
sehingga jangan terlalu punya harap.
Atasnya.

28/9/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH SATU

kulesatkan anak rinduku agar ia mendewasa
berpinak asmara dan menabur benih cinta
menjadi pohon randu yang ceiba
lantas melintas-lintas tanpa henti
mengimbangi segenap risau hati

tangkaplah anak rinduku itu
niscaya serat kapuk sayang menyelimuti
sehingga bukan dengki yang kau tabung
tapi menghargai sesamamu
dengan rasa yang bermuara dari nurani
bukan dari kalkulasi menuai untung

27/9/16

SAJAK KEDUA RATUS TUJUH PULUH

Mengendarai kelelahan, aku luluh
tanpa keluh. Rasa menyerah
kuganti gairah
yang kuletupkan
sebab pasrah
tak selamanya layak sebagai kawan.

Namun aku sungguh punya batas. Aroma
pereda dan peringan beban
mengepungku, memaksaku
tiarap
supaya aku masih punya harap.

26/9/16

SAJAK KEDUA RATUS ENAM PULUH SEMBILAN

kuhentikan waktu
cakrawala pun terkesima
berkejaran dengan pesona
berdekapan dengan bahagia

ada-ada saja
bahkan matahari hendak kita bawa
bersama salju yang kita rindu
serta setangkup bianglala
bagi hiasan waktu

yang kita alpa
melesatnya sekawanan jemu
sebab dalam kehentian yang tiada
tak akan menggericik
bahkan untuk sebuah titik

kita memang suka mengada-ada
tapi tak mengapa

25/9/16
alfinfafaz1 alfinfafaz1 is offline
Village Level

Post: 64
 
Reputasi: 1

       
Reply
 

Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search





Pengumuman Penting

- Pengumuman selengkapnya di Forum Pengumuman & Saran


Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2017, Jelsoft Enterprises Ltd.