ACY - Analisa Market


Implikasi Besar Untuk Minyak Seiring Game Of Thrones Di Arab Saudi


Pada hari Jumat, harga minyak memperpanjang reli. Harga mencapai level tertingginya dalam lebih dari dua tahun pada hari Senin ini, seiring dengan pengetatan pasar. ACY mencatat minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 0.31% ke $55.81 per barel, sementara minyak mentah Brent naik 0.30% ke $62.26 per barel; masing-masing mencapai level tertinggi sejak Juli 2015.

Pemberantasan Korupsi Di Arab Saudi
Pada berita akhir pekan, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdel Aziz, mengumumkan pembentukan komite luar biasa yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, serta Ketua Komisi Investigasi dan Monitoring, Ketua Otoritas Anti-Korupsi Nasional, Ketua Biro Audit Umum, Jaksa Agung, serta Pimpinan Keamanan Negara.

Putra Mahkota Arab Saudi memperkuat posisinya dengan melakukan pemberantasan korupsi yang melibatkan penangkapan tokoh-tokoh terkemuka, termasuk keluarga kerajaan, menteri, dan investor, termasuk miliuner Alwaleed bin Talal serta pimpinan National Guard, Miteb bin Abdullah.

Langkah-langkah ini mewakili perkembangan politik yang mengejutkan di Arab Saudi, dan karenanya maka pasar mengekspektasikan tak ada perubahan cepat di negeri eksportir minyak mentah terbesar ini. Dengan kata lain, ACY menilai Arab Saudi akan terus memperpanjang pemangkasan produksi minyak, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.

Ekstensi Kesepakatan OPEC
Harga minyak memperpanjang reli yang telah dimulai sejak awal Oktober, terutama digerakkan oleh harapan negara-negara produsen minyak akan menyepakati ekstensi pemangkasan output pada pertemuan yang digelar akhir bulan ini.

Berdasarkan kesepakatan awalnya, OPEC dan 10 negara non-OPEC lain yang dipimpin Rusia, setuju mengurangi produksi sebesar 1.8 juta barel per hari (bph) selama enam bulan. Kesepakatan tersebut diperpanjang pada Mei 2017 untuk periode sembilan bulan lagi hingga Maret 2018 dalam upaya untuk menyusutkan inventori minyak global serta mendongkrak harga minyak.

Para trader mengatakan, ada tanda-tanda pengetatan pasar dalam fundamental minyak. Perusahaan-perusahaan Energi AS memangkas jumlah sumur minyak sebanyak 729 pekan lalu, penurunan terbesarnya sejak Mei 2016.

Penurunan aktivitas pengeboran di AS terjadi seiring Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Grup Non-OPEC yang dipimpin Rusia menjanjikan pemangkasan produksi minyak sebesar 1.8 juta barel per hari (bph), dalam rangka mengetatkan pasar.

Perjanjian untuk mengurangi produksi ini dijadwalkan berlangsung hingga Maret 2018, tetapi ada konsensus berkembang untuk memperpanjang kesepakatan ini. Dalam pandangan ACY, diskusi akan terus berlangsung menjelang rapat 30 November, yang akan dihadiri para menteri perminyakan dari negara-negara OPEC dan non-OPEC yang berpartisipasi.
ace19f8f43964a924d1d3393112fd2d3.png
 
ACY: Pounds Jatuh Karena Kepemimpinan PM May Dalam Bahaya


Sterling bergerak naik pada hari Jumat lalu, menanjak 0.35% dan ditutup pada 1.3191. Kenaikan Pound tersebut didorong oleh data Output Manufaktur Inggris yang lebih baik dibanding perkiraan.
Selain itu, Pound juga diuntungkan berkat pelemahan Dolar akibat Reformasi Pajak yang mengecewakan. Reformasi tersebut merupakan bagian dari paket lebih besar yang akan memangkas tingkat Pajak Korporasi dari 35 persen menjadi 20 persen, dan memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk secepatnya mengurangkan biaya investasi baru berupa peralatan dalam periode lima tahun, serta diharapkan akan menarik lebih banyak perusahaan memindah kantornya ke Amerika Serikat. Namun, nampaknya hal itu tak memungkinkan lagi.
ACY mencatat, Dolar bergerak menurun ke level terendah satu pekan terhadap mata uang-mata uang mayor lainnya, di tengah bertumbuhnya keraguan mengenai kemampuan partai Republik untuk menggolkan perombakan pajak mereka tahun ini.
Namun demikian, pada hari perdagangan ini, Pound Inggris berada dalam tekanan baru dengan selip 0.5% ke $1.3120, setelah Times of London melaporkan pada hari Minggu bahwa 40 anggota Parlemen dari Partai Konservatif telah setuju menandatangani mosi tidak percaya pada PM Theresa May.

May tertekan karena jumlah anggota Parlemen yang tak mempercayainya terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, sejak konferensi partai Konservatif di mana ia dihantam sejumlah krisis. Jika delapan orang wakil rakyat lagi menempatkan tanda tangan mereka dalam surat tersebut, maka akan memicu pergantian kepemimpinan di tubuh partai Konservatif.

Kabinet PM Theresa May digerogoti oleh beberapa skandal dan kekeliruan yang melibatkan menteri-menteri top-nya. Ia bahkan kehilangan dua menteri dalam sepekan. Dan, dengan tidak adanya kemajuan dalam negosiasi perpisahan dengan Uni Eropa, perusahaan-perusahaan dari berbagai sektor telah memprediksi bahwa jika mereka meninggalkan Uni Eropa maka profit akan berkurang dan bisa mengarah pada PHK. Sejumlah perusahaan juga menyiapkan Emergency Plan untuk menghadapi kemungkinan dampak dari Brexit.

Pertemuan Uni Eropa berikutnya yang bertempat di Brussels pada 14-15 Desember akan menjadi deadline sesungguhnya bagi perundingan Brexit, dan Inggris berharap UE akan meluncurkan fase diskusi berikutnya. Di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi, ACY melihat para trader waspada mengenai perkembangan di masa depan.

Chart GBP/USD Daily
1fd6f6a43cf30e951ded09dc0e867486.png

Secara teknikal, GBP/USD telah diperdagangkan di atas Moving Average 200-Day. Ini mensinyalkan Buy dalam sudut pandang jangka panjang. Namun demikian, GBP/USD sudah diperdagangkan di bawah Moving Average 30-Day selama beberapa hari, sehingga untuk trader jangka pendek, Sell bisa menjadi opsi yang lebih baik.
Level Support Penting:
• Support 1: 1.3111.
• Support 2: 1.3026.
Level Resisten Penting:
• R1: 1.3441.
• R2: 1.3320.
Pekan ini, Inflasi akan menjadi yang paling diperhatikan oleh pasar finansial global; dengan AS, Inggris, Zona Euro, dan Kanada sama-sama bersiap merilis data CPI. Para Investor juga akan berfokus pada Central Bank Communications Conference yang digelar oleh ECB; dengan diskusi panel antara pimpinan bank sentral Eropa, AS, Inggris, dan Jepang, menjadi sorotan.
 
ACY: Euro Terangkat Jelang Pertemuan Bank-Bank Sentral


Para Investor berfokus pada Central Bank Communications Conference yang digelar ECB hari ini; kalender ekonomi Eropa yang dipadati oleh rilis data GDP Jerman kuartal III (preliminer); update angka GDP Italia, Polandia, Hungaria, Republik Ceko, dan Belanda; sembari menantikan rilis berbagai data inflasi beberapa hari kemudian.

Pertumbuhan Ekonomi Jerman kuartal III diperkirakan akan tetap teguh pada 0.6 persen Quarter-on-Quarter (QoQ). Analis juga memperkirakan angka aktual GDP Italia naik ke 0.5% dari 0.4% QoQ di periode sebelumnya. Trader memandang positif perekonomian Uni Eropa, sebagaimana direfleksikan dalam survey ekspektasi ZEW bulan November. ZEW bulan November diekspektasikan mencapai 19.5, jauh di atas angka sebelumnya.

Sebagaimana diketahui publik, Yellen berencana menaikkan suku bunga pada bulan Desember. Fed Amerika Serikat telah menaikkan suku bunga sebanyak empat kali sejak tahun 2015, dan nampaknya cukup yakin akan menaikkannya lagi pada bulan Desember. Namun demikian, para trader lebih tertarik untuk mengetahui kebijakan-kebijakan mendatang, terutama ketika pasar berada di tengah ketidakpastian lantaran Reformasi Pajak AS. Selain itu, ketua Fed tersebut akan digantikan pada bulan Februari tahun depan; karena kebiasaannya untuk berhati-hati, maka trader tak mengharapkan banyak informasi dari Yellen dalam pertemuan ini.

Carney baru saja menaikkan suku bunga pada bulan November, tetapi alih-alih mendorong GBP naik, langkah tersebut justru mengakibatkannya melemah. Namun demikian, hal itu terutama karena peristiwa tak terduga berupa peningkatan mosi tidak percaya atas PM Theresa May, yang boleh jadi tidak akan berkurang dalam jangka pendek. Para trader masih terus memantau pergerakan selanjutnya.
ACY mencatat Bank of Japan tak memiliki rencana untuk merubah kebijakan dalam waktu dekat karena fakta-fakta masih jauh dari target inflasi dua persen.

Di sisi lain, meski Draghi dari ECB tidak berencana mengetatkan suku bunga hingga akhir tahun depan, tetapi perlu dicatat bahwa perekonomian Zona Euro bertumbuh dengan laju paling pesat dalam nyaris satu dekade. Para Analis memprediksi European Central Bank (ECB) akan bergerak secara bertahap ke posisi hawkish di tahun 2018.

Chart EUR/USD Daily
900cc3b520c9fbf639d8b87003054b35.png

Secara teknikal, EUR/USD diperdagangkan di atas Moving Average 200-Day. Dapat dilihat dalam chart yang diambil ACY di atas. Hal ini mensinyalkan Buy dalam perspektif jangka panjang, di mana Euro bersiap untuk bergerak ke 1.1700 atau lebih tinggi lagi.

Level-level Support Penting:
S1: 1.1656
S2: 1.1662
Level-level Resisten Penting:
R1: 1.1668
R2: 1.1674

Walaupun sekarang indikator-indikator mensinyalkan beli, tetapi sulit untuk dikatakan dengan pasti, karena Presiden ECB Draghi bisa dengan mudah menjatuhkan mata uang Euro pada pidatonya hari Selasa, dengan menegaskan berbagai alasan mengapa kebijakan yang sangat akomodatif perlu dipertahankan. Dengan mempertimbangkan hal itu, para trader akan terus mengamati guna mengkonfirmasi bias bank-bank sentral.
 
EUR/USD Melonjak Dengan Tangguhnya Pertumbuhan Kawasan Euro


Euro mengalami kenaikan terbesar dalam lebih dari dua bulan, melesat sekitar 0.79% ke penutupan pada 1.17966 pada hari Selasa, lantaran Statistik Zona Euro menunjukkan performa pertumbuhan ekonomi yang tangguh. Lonjakan tersebut sudah nyaris menghapus semua penurunan yang diderita Euro dalam tiga pekan terakhir.

GDP Euro Meninggi, Dimotori Belanja Konsumen Dan Investasi
Kantor Statistik Uni Eropa mengkonfirmasi bahwa Gross Domestic Product (GDP) bertumbuh 0.6% dari Juli hingga September, dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan dalam basis year-on-year, pertumbuhan mencapai 2.5%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang sebesar 2.3%, meski sebelumnya AS naik lebih cepat dibanding Zona Euro.
Performa tangguh pertumbuhan Zona Euro dimotori oleh negara ekonomi terbesarnya, Jerman, yang melaju lebih cepat di kuartal tiga, berkat melambungnya ekspor dan meningkatnya investasi peralatan perusahaan. Setelah penyesuaian musiman (seasonally adjusted), GDP Jerman naik 0.8% dalam satu kuartal, melampaui forecast konsensus pada 0.6%.
Selain itu, ACY mencatat, peningkatan permintaan domestik di Zona Euro juga memompa pertumbuhan, ditunjukkan oleh kenaikan belanja konsumen dan investasi. Diantara penggerak permintaan domestik, belanja konsumen di Kawasan Euro naik dari EUR1402.33 milyar di kuartal I ke EUR1402.33 milyar di kuartal II/2017; mempertahankan laju yang kencang sejak 2013.

Grafik 1: Belanja Konsumen Kawasan Euro.
f97991765e31c0e13701d2cee72ec18c.png

Hasil survey ZEW (Riset Ekonomi Eropa) untuk sentimen ekonomi, yang mengevaluasi ekspektasi ekonomi masa depan untuk keseluruhan Zona Euro, telah ditetapkan pada 30.9, melampaui angka sebelumnya pada 26.7. Hal ini mengungkapkan bahwa pasar lebih optimis akan pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Para ekonom di Credit Suisse Group dan Oxford Economics Institute memiliki pandangan optimis mengenai perekonomian Zona Euro, yang telah memetik banyak keuntungan dari masa keemasannya, dengan ekspansi yang lebih tinggi dan laju inflasi relatif rendah.

Reformasi Pajak AS Menjadi Risiko Pasar
Outlook Reformasi Pajak di Amerika Serikat menempatkan sejumlah ketidakpastian di pasar, karena House of Representatives dan Senat tidak bisa mencapai konsensus mengenai perbedaan waktu implementasinya. Hasilnya adalah sejumlah penurunan di pasar saham dan nilai tukar Dolar. Apabila perombakan pajak tak bisa diloloskan Kongres dalam waktu dekat, tak pelak pasar akan berguguran.

Outlook Teknikal EUR/USD
Secara teknikal, ACY melihat EUR/USD berkonsolidasi dalam Descending Price Channel, yang dimulai sejak akhir Agustus. Namun demikian, kenaikannya baru-baru ini nampak membalik tren menurun dan menyentuh batas atas dalam Price Channel. Apabila berhasil menembus batas atas, maka trader perlu memantau resisten berikutnya untuk pair ini pada level tinggi tanggal 8 September di 1.20912.

Grafik 2: EUR/USD Daily
145318f5bdfc34e38420e6d11974877d.png
 
ACY: Minyak Merosot Setelah IEA Padamkan Outlook Pasar


Harga minyak WTI merosot pada akhir perdagangan hari Selasa, jatuh secara signifikan dari $56.66 per barel ke $54.72 per barel. Penurunan sebesar 3.4 persen tersebut merupakan yang terburuk dalam dua pekan terakhir, sekaligus menjadi tiga hari berturut-turut harga minyak menurun, sejak Jumat. Minyak Brent juga terjun dari level tinggi harian pada $63.28 per barel ke $61.30 per barel, sebelum pasar ditutup.

Ekspektasi Harga Lebih Tinggi Bisa Jadi Tak Terealisasi
Minyak Mentah melangkah mundur karena IEA yang berbasis di Paris, menebarkan kabut gelap atas outlook pasar 2018. Dalam laporan pasar minyak bulanannya yang rilis di hari Selasa, IEA memangkas forecast permintaan minyaknya sebanyak 100,000 barel per hari (bph) untuk tahun ini dan tahun berikutnya, ke estimasi 1.5 juta bph di tahun 2017 dan 1.3 juta bph pada 2018. Dengan kata lain, ekspektasi industri minyak yang menginginkan harga minyak diperdagangkan lebih tinggi dan lebih stabil diantara $50-60 per barel, boleh jadi takkan terealisasi.

Reli harga minyak dimulai pada akhir Oktober, dengan harga telah beranjak hingga ke atas $60 per barel untuk pertama kalinya sejak tahun 2015. Harga terdorong signifikan, terutama disebabkan oleh gangguan distribusi dan tensi geopolitik sambung menyambung di Timur Tengah, khususnya gejolak di Arab Saudi minggu lalu. Namun demikian, pertumbuhan permintaan minyak kemungkina akan melambat dalam beberapa bulan ke depan, karena menghangatnya cuaca memangkas konsumsi energi.

Di samping perlambatan permintaan, ACY menilai ancaman terbesar bagi keseimbangan pasar adalah pertumbuhan suplai dari negara-negara non-OPEC. "Bahkan setelah pertumbuhannya mengalami pemangkasan moderat, produksi Non-OPEC akan mengikuti laju pertumbuhan tahun ini sebesar 700,000 bph, dengan tambahan 1.4 juta bph produksi di tahun 2018, dan permintaan tahun depan akan berhadapan dengan hal ini," ungkap IEA.

Outlook Minyak WTI
7d0594c9466cb44c5fa66c4b405653c6.png

Pada chart WTICOUSD Daily, secara teknikal, ACY memandang reli jual masih menjadi preferensi. Harga WTI sudah diperdagangkan di atas Moving Average 30-Day selama beberapa hari, memberikan sinyal jual kuat sekarang. Posisi Long masih diperkirakan menarik bagi para buyer di atas $56, tetapi begitu harga menembus ke atas $57 secara agresif, maka aksi jual akan mengambil alih pasar.
Level Support Penting:
S1: 55.33
S2: 55.59
Level Resisten Penting:
R1: 55.85
R2: 55.11
EIA Amerika Serikat akan mempublikasikan data mingguan mengenai persediaan minyak dan gasolin nanti malam, dan laporannya akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai pasar minyak bagi para trader.
 
ACY: Trader Amati Rilis Inflasi Kanada Bulan Oktober


Dolar Kanada bergerak lebih rendah terhadap Greenback pada hari Rabu, setelah CPI Inti Amerika Serikat dirilis pada 1.8 persen, lebih baik dibanding berkiraan 1.7 persen. USD/CAD naik 0.24% sepanjang hari, dengan pembukaan pada 1.2731 dan ditutup pada 1.2762, serta menyentuh 1.2789 dalam perdagangan Intraday.

Ketidakpastian NAFTA
Presiden Trump tiba di Amerika Serikat setelah turnya baru-baru ini di negara-negara Asia Pasifik. Ia membanggakan perjalanannya di Asia sebagai "sukses yang luar biasa" dan mengklaim bahwa "Amerika kembali" sebagai pemimpin dunia, sembari menegaskan lagi pesannya tentang "America First". ACY menilai, posisi proteksionisnya bisa mensinyalkan masalah bagi Kanada, karena Trump telah berjanji akan merenegosiasikan perjanjian perdagangan bebas NAFTA, yang mencakup perdagangan senilai lebih dari $1 triliun per tahun.

Pertemuan kelima diadakan di ibukota Meksiko, tetapi ini adalah pertemuan pertama yang tak dihadiri para menteri. Menurut pernyataan yang diterbitkan pada hari Rabu, baik Amerika Serikat, Meksiko, maupun Kanada, mengatakan bahwa menteri mereka takkan datang.

Sementara itu, para negosiator Meksiko mengusulkan agar North American Free Trade Agreement direview dengan ketat setiap lima tahun, berdasarkan pada apa yang terjadi dan efek apa yang timbul, dibanding mengikuti ide kadaluwarsa otomatis dari AS. Ketidakpastian mengenai NAFTA ini akan menjadi ancaman bagi masa depan ekonomi Kanada hingga jangka tertentu.

Inflasi Kanada Jadi Sorotan
Kanada akan merilis data Penjualan Manufaktur hari ini serta data Inflasi Konsumen bulan Oktober pada hari Jumat, sedangkan Amerika Serikat bakal mempublikasikan data Klaim Pengangguran dan Indeks Manufaktur Fed Philly pada Kamis ini. Data Inflasi Konsumen Kanada akan menjadi yang paling penting, dengan laporan diekspektasikan menunjukkan kenaikan 0.1 persen bulan lalu.

ACY mencatat Bank of Canada (BoC) telah membiarkan suku bunga tetap bulan lalu, sesuai ekspektasi, dan memperingatkan bahwa mereka akan terus pasang posisi hati-hati dalam mempertimbangkan langkah-langkah di masa depan, sehubungan dengan risiko-risiko dan ketidakpastian yang dihadapi perekonomian.

Outlook Teknikal USD/CAD
0d97c9a2375fcecc8a898ea66a6bb365.png

Pada grafik, secara teknikal, "buy dips" (membeli saat tren naik harga terkoreksi turun) masih menjadi preferensi pasar, dengan kisaran Daily antara 1.2762-1.2777. Harga pada USD/CAD telah diperdagangkan di bawah Moving Average 200-Day selama beberapa pekan, sehingga sinyal beli kuat saat ini.
Level-level Support Penting:
S1: 1.2765
S2: 1.2768
Level-level Resisten Penting:
R1: 1.2771
R2: 1.2774
 
Last edited:
ACY: Harga Emas Masih Berkabut

Harga Emas beranjak naik pada hari Kamis dengan meningkat 0.03 persen dalam perdagangan Intraday, berada pada 1278.53 per ons setelah dibuka pada 1278.19 per ons. Emas diuntungkan oleh pergerakan sentimen pasar di tengah perdebatan yang terus berlanjut mengenai prospek inflasi AS tahun depan.

Harga Emas jatuh signifikan pada hari Rabu, setelah rilis data CPI. Data yang lebih baik dari ekspektasi itu mensinyalkan pertumbuhan ekonomi AS di kuartal keempat tetap solid, sehingga memantapkan ekspektasi trader bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga untuk ketigakalinya tahun ini pada bulan Desember, sesuai rencana. Karena ketidakpastian di AS, harga Emas bergerak mundur di hari Kamis, naik tipis tetapi masih di bawah banyak tekanan. Apalagi, duet laporan Penjualan Ritel dan Inflasi yang dipublikasikan di hari Kamis, mendongkrak nilai Dolar, sehingga membebani harga Emas.

Berdasarkan kabar terbaru, US House of Representatives meloloskan pemangkasan pajak massal yang direncanakannya. ACY mencatat Greenback bergerak naik terhadap mata yang-mata uang mayor lainnya, segera setelah berita dirilis, menarik diri dari level rendah tiga pekan yang tercapai di sesi perdagangan sebelumnya. Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan Greenback terhadap enam mata uang lainnya, melonjak 0.12 persen ke 93.93 dalam hari yang sama.

Namun, harga Emas pada hari perdagangan ini melawan perkiraan dan terus menanjak lebih tinggi, dengan dibuka pada 1278.72 per ons, serta menyentuh 1284.02 per ons, level tertinggi harian sejauh ini, pada pukul 1:30 waktu Sydney. Kenaikan harga terutama disebabkan trader menelaah hasil voting rencana pajak AS, sedangkan US Senate belum menyelenggarakan voting untuk rencana pajak berbeda yang dibuatnya. Karenanya, masih ada banyak ketidakpastian di Amerika Serikat, dan para trader cenderung pasif dalam memandang masa depan.

Grafik XAU/USD Daily
ed1530c938bf4397a774ddd906d0b77c.png

Pada grafik, secara teknikal, "buy dips" (membeli saat tren naik harga terkoreksi turun) masih menjadi preferensi. Kisaran perdagangan harian akan berada diantara 1278.54-1284.21. Moving Average yang diterapkan ACY, menunjukkan sinyal buy kuat untuk saat ini.
Level-level Support Penting:
S1: 1281.29
S2: 1282.61
Level-level Resisten Penting:
R1: 1283.93
R2: 1285.25
"Outlook untuk Fed semestinya menjaga kemunduran Dolar relatif sementara saja," kata Omer Esiner, Pimpinan Analis Pasar di Commonwealth Foreign Exchange di Washington. Dengan ketidakpastian di Amerika Serikat dan isu laten Korea Utara, para trader perlu berhati-hati di pasar; pergerakan apapun bisa mendorong ataupun menjatuhkan harga Emas.
 
ACY: Euro Hadapi Masalah Setelah Lobi Jerman Gagal


Euro menyentuh level tertinggi tiap pekan pada minggu lalu, karena angka GDP yang lebih tinggi dari ekspektasi. Namun demikian, Euro anjlok terhadap Dolar pada hari Senin, setelah Angela Merkel menyatakan kegagalannya untuk membentuk pemerintahan baru. EUR/USD dibuka pada 1.1784 pada hari Senin, tetapi kemudian merosot secara luas ke 1.1721, level terendah harian sejauh ini (per pukul 3 pm waktu Sydney). Euro jatuh lebih dari 0.5% dalam perdagangan intraday terhadap Greenback, akibat kerisauan mengenai ketidakpastian politik di negara ekonomi terbesar di Zona Euro tersebut.

Setelah 12 tahun memegang posisi sebagai Kanselir Jerman, Merkel telah menjadikan dirinya sebagai tonggak stabilitas Eropa di masa krisis. Ia mengatakan bahwa ia akan terus bertahan dan berkonsultasi dengan Presiden Jerman mengenai apa yang akan terjadi berikutnya, pada hari Senin. "Beritanya negatif bagi Euro, tetapi implikasi jangka panjangnya belum jelas," kata Mansoor Mohi-uddin, Pimpinan Strategi Mata Uang di Natwest Markets di Singapura, sebuah unit di bawah Royal Bank of Scotland Group Plc.

ACY menilai, peristiwa ini menunjukkan bahwa negara-negara Eropa masih terkekang dalam kaitannya dengan panggung global. Hal ini jelas akan mempengaruhi segalanya, mulai dari kebijakan terhadap Uni Eropa, Turki dan Rusia, hingga belanja pemerintah dan pemangkasan emisi karbon. Akibatnya dapat membuat Euro berkabut dalam jangka panjang.
Secara teknikal, pada grafik, reli jual masih menjadi preferendi dalam grafik empat jam berikut ini (grafik 1), sebagaimana diindikasikan oleh RSI dan MACD.

Grafik 1: EUR/USD 4H
b8e999962bebd55459b232205e24525b.png

Namun demikian, pada grafik Daily (grafik 2), sinyal beli kuat lebih menonjol, dengan sejumlah saran berikut dari ACY.
Level-level Support Penting:
S1: 1.1752
S2: 1.1631
Level-level Resisten Penting:
R1: 1.1856
R2: 1.1781

Grafik 2: EUR/USD Daily
aec397bea8ca3de85f21f8e8fbde4f52.png

Euro boleh jadi berada dalam masalah saat ini. Namun, Dolar telah bergerak menurun baru-baru ini dikarenakan ketidakpastian mengenai reformasi pajak. Para trader berhati-hati mengenai pergerakan lebih lanjut, dan setiap kemungkinan penundaan reformasi pajak bisa mengancam Greenback menuju tren menurun.
Sebagai disebutkan sebelumnya, Euro mendapatkan Support kuat baru-baru ini, terutama dikarenakan bagusnya performa data ekonomi. Selain itu, sebagian juga dikarenakan spekulasi kalau European Central Bank (ECB) akan mulai bersuara lebih hawkish mengenai outlook kebijakan moneternya, sehingga memberi trader lebih banyak keyakinan pada Euro. Malam nanti, Presiden ECB Draghi akan memberikan pidato di Brussels, dimana ia boleh jadi akan memberikan sedikit pencerahan mengenai tren Euro di masa depan.
 
ACY: Kenaikan Dolar Menekan Harga Emas Ke Terendah Dalam Sepekan


Pada hari Senin, harga Emas terpuruk sebanyak 1.24 persen, dengan pembukaan pada $1292.60 per ons dan ditutup pada $1276.61 per ons, bahkan lengser lebih rendah lagi ke $1274 per ons dalam perdagangan intraday.
Dikarenakan besarnya ketidakpastian di Amerika Serikat dan tensi geopolitik yang tak terselesaikan, harga emas tetap berada dalam trading range yang terbatas dalam sebulan terakhir, bergerak antara level rendah $1260.61 per ons hingga level tinggi $1296.93 per ons. Para Buyer langsung beraksi begitu harga jatuh ke bawah $1270, dan kemudian aksi jual berlangsung begitu harga bergerak mendekati $1290, sehingga harga terus berfluktuasi.
Pada hari Senin, kejatuhan harga terutama diakibatkan oleh tekanan dari penguatan Dolar. ACY mencatat Greenback diuntungkan oleh krisis di Jerman, dan menyentuh level tertingginya dalam sepekan terhadap sekelompok mata uang mayor lainnya.
Senin kemarin, Kanselir Angela Merkel mengatakan bahwa ia lebih memilih untuk diadakannya pemilu baru dibanding memimpin pemerintahan minoritas (Minority Government). Keprihatinan mengenai masa depan kepemimpinannya melektakkan perekonomian Jerman -yang notabene merupakan ekonomi terbesar di Zona Euro-- dalam kondisi krisis.
Euro segera jatuh setelah kabar beredar; merosot lebih dari 0.5% terhadap Dolar pada hari yang sama. Dolar kemudian diuntungkan dari penurunan ini. Indeks Dolar naik sebesar 0.31 persen ke 94.01 dalam perdagangan intraday. Di sisi lain, para trader lebih positif terhadap prospek suku bunga AS lebih tinggi di bulan Desember. Kuatnya ekspektasi kalau bank sentral AS akan menaikkan suku bunga, menekan harga Emas ke level rendah baru.

Grafik 1: XAU/USD H1
9f6575bc9e20da9a17b66b3f34ebf56b.png

Pada grafik Hourly, secara teknikal, indikator mensinyalkan Sell. Namun demikian, pada grafik Daily, Buy masih menjadi preferensi. Berikut saran ACY terurai di bawah ini.
Level-level Support Penting:
S1: 1278.23
S2: 1279.45
Level-level Resisten Penting:
R1: 1280.67
R2: 1281.89

Grafik 2: XAU/USD Daily
6b8f199848d1d85a98ff7a9e6877646f.png

Secara keseluruhan, dengan meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember, harga Emas saat ini sensitif pada pergerakan naik, karena Dolar yang lebih kuat membuat Emas menjadi lebih mahal untuk dimiliki trader. Para Trader kini mengamati rapat Federal Reserve pada 12-13 Desember, dengan harapan memperoleh outlook yang lebih jelas mengenai harga Emas.
 
ACY: Euro Rebound Karena Draghi Yakin Inflasi Tinggi


Euro menanjak sedikit terhadap Dolar AS, tepat setelah mengalami anjlok besar-besaran akibat kegagalan Jerman membentuk pemerintahan baru. EUR/USD naik sekitar 0.05 persen dan ditutup pada $1.17374 pada hari Selasa di tengah pidato Presiden ECB Draghi di Brussels. Ia kemungkinan akan terus melanjutkan kebijakan moneternya saat ini untuk menangani rendahnya inflasi saat ini.

Draghi Pertahankan Kebijakan Moneter Longgar
ACY mencatat, kondisi ketenagakerjaan di Kesatuan 19 Negara menyentuh rekor tinggi, sementara pengangguran jatuh ke level terendah sejak 2009. Satu hal yang perlu disebutkan adalah Tingkat Partisipasi, yang mengukur berapa banyak orang yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan, telah naik dua persen di atas level sebelum krisis, didorong oleh keterlibatan wanita dan warga berusia lebih tua di dunia kerja. Hal ini mengindikasikan performa ekonomi yang lebih tangguh.

Namun demikian, Draghi telah lama frustasi menghadapi betapa kecil kenaikan gaji yang didapat oleh para pekerja, kemungkinan karena tuntutan gaji mereka didasarkan pada rendahnya inflasi dalam beberapa tahun terakhir, atau karena mereka mengkhawatirkan keamanan kerja. Ia mengatakan, dengan menurunnya pengangguran, maka inflasi pada akhirnya akan naik di wilayah Euro, meski tak banyak tanda-tanda itu untuk saat ini, dengan absennya bukti yang menunjukkan perbaikan ketenagakerjaan diikuti oleh kenaikan pertumbuhan gaji, sebagaimana bisa dilihat pada chart di bawah ini.

Chart 1: Hubungan Antara Pertumbuhan Gaji Dan Jumlah Orang Bekerja
85ac39b21a9350374050fb77d390af7f.png

Ketimbang mengkhawatirkan tingkat inflasi yang lemah, Draghi mengatakan mereka percaya bahwa basis inflasi kelak akan berubah. Hal ini ditunjukkan dengan rekalibrasi ECB pada program pembelian obligasinya, yang akan dikurangi dari 60 milyar Euro ke 30 milyar Euro per bulan, mulai tahun depan.
Secara keseluruhan, kebijakan moneter longgar di kawasan Euro, termasuk suku bunga rendah, Quantitative Easing, dan kebijakan lainnya, akan tetap dipertahankan dalam waktu lebih lama hingga tingkat inflasi mencapai target dua persen.

Outlook Teknikal EUR/USD
Secara teknikal, situasi mirip dengan apa yang telah disampaikan ACY sebelumnya. EUR/USD masih bergerak dalam Downward Price Channel yang terbentuk sejak bulan Agustus. EUR/USD mundur setelah gagal menembus batas atas channel, tetapi nampaknya pasangan mata uang ini akan mencobanya lagi kelak.

Outlook yang lebih luas untuk EUR/USD didukung dengan analisa menggunakan Fibonacci Retracement, yang mengungkap bahwa harga saat ini diperkuat oleh 1.17304 (Retracement 23.6%). Apabila EUR/USD gagal bertahan di level ini, maka penurunan lebih lanjut bisa terjadi dalam waktu dekat.

Chart 2: EUR/USD Daily
90b348979cea304064b5c7fd16960d45.png
 
ACY: S&P 500 Meningkat Di Tengah Kenaikan New Home Sales


Semua bursa ekuitas Amerika Serikat meningkat pada hari Senin kemarin, dengan S&P 500 naik nyaris 0.05% setelah menyentuh level tertinggi historis pada sekitar pukul 16:30 (GMT+2), seusai Presiden Donald Trump mendorong pengesahan UU Pajak secara menyeluruh.
Dalam S&P 500 pada hari Senin, kenaikan terbesar satu sesi dialami oleh Newell Brands Inc (NYSE: NWL), yang naik 5.01 persen atau 1.42 poin ke harga penutupan pada 29.79. Signet Jewelers Ltd (NYSE: SIG) naik 4.92 persen, atau 2.45 poin, ke penutupan pada 52.25; serta Illumina Inc (NASDAQ: ILMN) naik 4.18 persen, atau 8.98 poin ke 223.84 di akhir perdagangan.

Namun demikian, performa terburuk diantaranya mencakup Western Digital Corporation (NASDAQ: WDC), yang menurun 6.71 persen, atau 6.23 poin ke harga penutupan pada 86.55. Kemudian Marathon Oil Corporation (NASDAQ:MRO) merosot 4.30 persen, atau 0.65 poin ke 14.48; serta Newfield Exploration Company (NYSE: NFX) menurun 3.42 persen atau 1.05 poin ke penutupan di 29.69.

Trump Promosikan Rancangan UU Pajak
Sejak Trump menjabat sebagai Presiden pada bulan Januari, ia dan rekan-rekannya dari partai Republik belum menerbitkan undang-undang besar apapun di Kongres, meski telah mengendalikan Parlemen dan White House. Karenanya, partai Republik bersegera membawa rancangan UU Pajak untuk voting di Senat, kemungkinan pada hari Kamis.

Perombakan kodifikasi pajak dipandang oleh para anggota partai Republik sebagai kesempatan terakhir mereka untuk mencatatkan pencapaian legislatif pada tahun 2017, yang bisa memenangkan dukungan kembali untuk pemilu tahun depan.
Trump bercuit, "UU Pemotongan Pajak terbentuk dengan sangat baik, dukungan besar. Hanya dengan sedikit perubahan, sejumlah hitungan matematis, kelas menengah dan penyedia lapangan kerja, bisa mendapatkan lebih banyak dolar dan simpanan secara aktual dan melewati provisi menjadi lebih mudah dan berfungsi sangat baik!"

Terlepas dari outlooknya yang cerah, sejumlah ekonom masih mengkhawatirkan Undang-Undang tersebut dan dampaknya pada utang dan defisit AS, yang mengancam perekonomian dalam jangka panjang. Di samping itu, tekanan lebih besar pada utang pemerintah, kemungkinan akan membuat perawatan kesehatan menjadi tak terjangkau bagi masyarakat.
Departemen Perdagangan AS melaporkan New Home Sales naik 6.2 persen ke tingkat 685,000 unit secara tahunan (seasonally adjusted) pada bulan Oktober, level tertingginya sejak Oktober 2007. Laju penjualan bulan September direvisi turun ke 645,000 unit dari 667,000 unit pada laporan sebelumnya.
New Home Sales dipandang sebagai indikator leading dan mensinyalkan outlook yang positif bagi perekonomian nasional. Dalam pandangan ACY, laju pertumbuhannya yang tercepat dalam satu dekade, memberikan sinyal yang bagus bagi konstruksi perumahan.

Outlook Teknikal S&P 500
Outlook jangka panjang bagi S&P 500 untuk saat ini bergerak dalam Ascending Price Channel yang sedang terbentuk, bermula sejak awal tahun ini. Posisinya dekat dengan batas atas Price Channel, dan nampak berkonsolidasi dari penyempitan antara batas atas dan Moving Average 20-day.
Sementara itu, ACY mencatat, outlook jangka pendek dalam chart 30 menit nampak menurun untuk saat ini. Apabila indeks menembus ke bawah level rendah 27 November pada 2596.8, maka loss lebih jauh bisa jadi akan dilihat oleh investor.

Chart 1: SPX500 Daily
294331a1617a3d0ff57fb742d3526d3f.png

Chart 2: SPX500 M30
322a78b76cdcbfbeb994a53a27e2117a.png
 
US30 Melesat Ke Rekor Tinggi Di Tengah Kemajuan Reformasi Pajak


Pasar saham AS melesat ke rekor tinggi pada hari Selasa, dengan US30 membubung lebih dari 1.08 persen, di tengah besarnya kemajuan reformasi pajak di Senat. Kemajuan tersebut menghapus sebagian pengaruh peluncuran misil Korea Utara dini hari ini.

Dalam US30 di hari Selasa, kenaikan terbesar dialami oleh JPMorgan Chase & Co (NYSE: JPM), yang menanjak 3.50 persen, atau 3.43 poin ke harga penutupan di 101.36. Verizon Communications Inc (NYSE: VZ) naik 2.43 persen, atau 1.16 poin ke penutupan pada 48.82; sedangkan Cisco Systems Inc (NASDAQ: CSCO) naik 2.33 persen, atau 0.86 poin ke 37.73 di akhir perdagangan.

Namun demikian, penurunan terbesar diantaranya diderita Apple Inc (NASDAQ: AAPL), yang merosot 0.59 persen, atau 1.02 poin ke harga penutupan pada 173.07. ACY mencatat Coca-Cola Company (NYSE: KO) menurun 0.15 persen, atau 0.07 poin ke 45.83; sedangkan Nike Inc (NYSE: NKE) merosot 0.08 persen, atau 0.05 points to close at 59.58.

Percepat Proses Jelang Voting
Komite Anggaran Senat, tanpa diskusi apapun, dengan cepat menyetujui legislasi dalam Party-Line Vote yang menyisihkan partai Demokrat. Atas kesuksesan aksi komite tersebut, White House menyebutnya, "sebuah langkah penting untuk meloloskan reformasi dan pembebasan pajak historis."

Presiden Trump dan rekan-rekannya dari partai Republikan bergerak cepat untuk memajukan legislasi pajak mereka yang kompleks ke voting Senat yang diharapkan terjadi pada hari Kamis. Ini dianggap sebagai satu-satunya legislasi besar yang potensial di Kongres untuk membantu mereka memenangkan dukungan kembali dalam pemilu tahun depan.

Korea Utara mengakhiri periode tenang selama dua bulan, dengan meluncurkan misil balistik antar benua dekat Jepang. ACY menilai, hal ini menyajikan ancaman bagi pasar saham AS, tetapi terhapus oleh rencana reformasi pajak.

Indeks Keyakinan Konsumen Melesat
Indeks Keyakinan Konsumen AS meningkat 3.3 poin ke angka 129 bulan ini, mendekati level tinggi 17 tahun, digerakkan oleh pasar tenaga kerja yang tangguh, sementara harga perumahan meningkat tajam di bulan September, sehingga semestinya menopang belanja konsumen dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun demikian, outlook pertumbuhan jangka pendek dinodai oleh data lain pada hari Selasa yang menunjukkan peningkatan defisit perdagangan di bulan Oktober dan penurunan akumulasi inventori. Kesenjangan perdagangan yang lebih besar dan lemahnya investasi inventori, memicu para ekonom untuk memangkas estimasi GDP kuartal IV mereka.

Outlook Teknikal Indeks US30
Secara teknikal, outlook jangka pendek Indeks US30 pada chart 30 Menit masih menantikan pemilihan arah yang baru setelah lonjakan ke level tinggi. Apabila Indeks ini bergerak lebih tinggi ke rekor 23832.2, maka kenaikan lebih lanjut dimungkinkan terjadi. Jika tidak, maka apabila bergerak ke level yang lebih rendah, investor bisa mencari support berikutnya pada level tinggi 28 November pada 23753.9.

Grafik US30 Dalam Timeframe 30 Menit
0557c0de724f0efe7e6de314289bbaa9.png
 
Minyak Melonjak Lantaran OPEC Perpanjang Pemangkasan Suplai


Pada hari Jumat, harga Minyak Mentah melonjak dan mengalami kenaikan terbesar dalam sepekan, sebanyak 1.69% ke penutupan pada $58.131 per barel, sehingga menghapus sebagian penurunan di pekan sebelumnya.
Kini, sehari setelah OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, memperpanjang pembatasan suplai hingga akhir tahun depan. Hal yang disukai investor adalah, kesepakatan pembatasan suplai ini kemungkinan akan menentukan arah pergerakan harga minyak hingga tahun depan.
Sejumlah produsen minyak penting, misalnya Libya dan Nigeria, bergabung dengan kesepakatan ini untuk pertama kalinya. Arab Saudi dan Rusia setuju untuk memimpin para partisipan lainnya mengkonfirmasi kuota yang ditentukan masing-masing.

Pada hari Kamis di Wina, Khalid Al Falih, Menteri Energi Arab Saudi, mengatakan negaranya bermaksud untuk menjalankan disiplin produksi minyak di 2018 dalam level yang sama dengan tahun ini. Sedangkan ACY mencatat, Menteri Energi Rusia, Alexander Novak, mengatakan mereka akan berjumpa setiap dua-tiga bulan untuk menganalisa dampak pemangkasan ini pada suplai global.

"OPEC telah melaksanakan dengan baik tugas mereka menyampaikan aksi-aksi yang akan dilakukan. Ada lebih sedikit ketidakpastian mengenai arah kemana mereka menuju," kata Mark Watkins, seorang Manajer Investasi Regional di US Bank Wealth Mangement yang berbasis di Utah, "Lebih dari apapun, ini membantu memberikan landasan yang lebih kuat bagi harga minyak."

Sebaliknya, sebuah ketidakpastian besar berpotensi mengancam hasil pemangkasan suplai. Yaitu, produksi minyak AS kemungkinan menanjak sejuta barel per hari lagi sebelum akhir tahun 2018, sebagai akibat dari ekstensi kesepakatan OPEC. Demikian menurut Barclays Plc. Hal ini akan menjadi risiko di batas bagi suplai minyak mentah, jika harga terus meningkat.

UBS Group AG juga mengatakan bahwa kenaikan harga minyak lebih lanjut "kemungkinan akan memicu produksi minyak Shale AS lebih lanjut, karena lead time yang lebih singkat."

Outlook Teknikal Minyak WTI
Secara teknikal, WTI (West Texas Intermediate) bergerak dalam Uptrend Price Channel yang terbentuk sejak awal April, dengan menyentuh batas atas Channel yang mewakili resisten kunci pada saat ini. Apabila WTI sukses menembus ke atas, maka kenaikan lebih lanjut bisa terjadi, dan investor perlu berhati-hati menghadapi level tinggi 61.555 yang sebelumnya tercapai pada 6 Mei 2015. Level tersebut akan menjadi penghalang berikutnya bagi kenaikan harga minyak.
Sementara itu, ACY melihat Relative Strength Index (RSI) berada pada level yang cukup tinggi, meski tren dalam beberapa bulan terakhir menampakkan downtrend. Oleh karena itu, prospek jangka pendek bagi harga bisa menghadapi resisten kunci.

Chart WTICOUSD Pada Timeframe Daily
52a36096ce1b49b79e355205fd706331.png
 
Indeks NASDAQ 100 Anjlok, Diseret Saham High-Tech

Indeks Nasdaq 100 berakhir dengan penurunan signifikan sebesar 1.05% dan ditutup pada harga 6259.6, setelah menyentuh level tinggi intraday di awal hari perdagangan. Saham-saham perbankan dan peritel melesat, sedangkan saham-saham perusahaan teknologi merosot, karena investor menyesuaikan portofolio mereka dalam rangka memetik keuntungan dari pemotongan pajak korporasi yang diharapkan akan terealisasi.
Dalam indeks Nasdaq 100 pada hari Senin, kenaikan terbesar dialami oleh Discovery Communications Inc (NASDAQ: DISCA), yang naik 7.14 persen, atau 1.39 poin ke harga penutupan di 20.85. O'Reilly Automotive Inc (NASDAQ: ORLY) naik 6.82 persen, atau 15.99 poin ke penutupan pada 250.39. Sedangkan Discovery Communications C Inc (NASDAQ: DISCK) naik 6.09 persen, atau 1.12 poin ke 19.52 di akhir perdagangan.
Kemerosotan terbesar diderita Align Technology Inc (NASDAQ: ALGN), yang merosot 11.13 persen, atau 28.27 poin ke penutupan pada 225.80. Sedangkan Intuitive Surgical Inc (NYSE: ISRG) menurun 6.73 persen, atau 26.71 poin ke 369.95; dan Adobe Systems Incorporated (NYSE: ADBE) berkurang 6.17 persen, atau 11.08 poin ke penutupan pada 168.44.

Mengapa Pengesahan UU Pajak Berimbas Pada Saham High-Tech?
Alasan terbesar mengapa diloloskannya UU Pajak di Senat berdampak buruk pada saham-saham teknologi adalah karena masih memuat pajak minimal alternatif korporasi, yang terutama pentung bagi industri High-Tech di Kalifornia. Di samping itu, investor membutuhkan dana untuk membeli saham perbankan, department stor, dan lainnya yang dinilai mendapatkan keuntungan dari pajak yang lebih rendah, sehingga memilih menjual saham-saham teknologi yang telah menjadi relatif lebih mahal seusai kenaikannya tahun ini.
Setelah House of Representative dan Senat mengesahkan UU Pajak mereka masing-masing, langkah berikutnya, mereka perlu merekonsiliasi perbedaan-perbedaan mereka. Undang-undang final diharapkan bisa diselesaikan sebelum akhir tahun ini dan dikirim ke meja Presiden Trump.
Undang-undang versi Senat dan House memiliki satu fitur besar yang sama: Keduanya sama-sama memangkas tingkat pajak korporasi dari 35 persen menjadi 20 persen. Ini sebuah langkah historis dalam pengenaan pajak perusahaan, sementara umumnya orang Amerika mendukung kenaikan pajak atas korporasi. Namun, ada beberapa perbedaan besar pula, termasuk mengenai seberapa permanen perombakan pajak ini. UU versi House menetapkan perubahan kodifikasi pajak individual secara permanen; sedangkan UU versi Senat akan mulai mengurangi ekspektasi pasar tahun depan, dan memungkinkan kebanyakan provisi penting untuk kadaluwarsa setelah 2025, sesuai dengan peraturan Senat yang membatasi seberapa besar sebuah undang-undang akan bisa meningkatkan defisit negara.
ACY menilai, outlook jangka pendek dan jangka panjang bagi saham-saham AS akan positif lantaran stimulus ekonomi dari UU Pajak yang baru. Namun dalam jangka pendek, sebuah risiko potensial masih ada, yaitu perbedaan antara UU versi House dan Senat yang belum mencapai konsensus.

Outlook Teknikal NAS100
Secara teknikal, terlepas dari penurunannya kemarin, Indeks Nasdaq 100 masih bergerak dalam Ascending Price Channel yang terbentuk sejak awal tahun ini. Indeks tak nampak akan keluar dari Channel dalam beberapa hari mendatang.
Ketika ACY menganalisa dengan Ichimoku; setelah kemunduran signifikan, indeks bisa menemukan support pada Kijun Sen yang mewakili Moving Average 50-Day. Apabila Indeks dapat menembus lebih rendah lagi, maka penurunan lebih lanjut, dan ini perlu lebih diwaspadai oleh investor.

eb132cf08587412f8974a84e5c4113cf.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Harga Minyak Jatuh Karena Kebutuhan Pengilangan Berkurang

Minyak Mentah mengalami hari terburuknya dalam dua bulan, karena kenaikan persediaan gasolin di tanki-tanki penyimpanan Amerika Serikat mensinyalkan bahwa pabrik-pabrik pengilangan akan membutuhkan lebih sedikit pasokan Minyak Mentah. Harga Minyak Berjangka West Texas Intermediate (WTI) melorot sekitar 2.6 persen dan ditutup pada $55.839, sementara harga gasolin tumbang ke level terendahnya dalam nyaris tujuh pekan.
US Energy Information Administration (EIA) mengatakan bahwa inventori gasolin Amerika naik sebanyak 6.78 juta barel pekan lalu, jumlah terbesarnya sejak bulan Januari; melampaui estimasi dalam survei Bloomberg sebelumnya dan membayangi penurunan pekanan ketiga yang dialami persediaan minyak mentah. Sementara itu, peningkatan laju operasional pabrik-pabrik pengilangan di AS untuk pekan ketujuh berturut-turut, telah berkontribusi pada meluapnya suplai yang dikirim ke tanki-tanki penyimpanan.
Walau persediaan gasolin AS biasanya meningkat pada periode ini, tetapi kenaikan pekan lalu "lebih besar daripada yang diekspektasikan orang-orang," kata Craign Bethune, seorang Manajer Portfolio Senior di Manulife Asset Management, via telepon, "Tak bisa menghindar dari itu."
Bulan lalu, ACY mencatat harga Minyak mencapai level tertinggi $59 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2015, karena pemangkasan produksi oleh OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries) dan produsen-produsen minyak sekutunya, termasuk Rusia, menggerogoti limpahan suplai global. Namun demikian, dalam waktu yang sama, eksplorasi minyak shale AS menjadi duri dalam daging bagi koalisi OPEC dengan menggenjot output nyaris setiap pekan sepanjang tahun ini.
Secara teknikal, penurunan harga minyak telah mematahkan pola yang bergerak di atas Moving Average 20-Day, yang bisa dianggap sebagai level support. Jika gagal untuk reli dalam beberapa hari mendatang, maka investor bisa mencari level support berikutnya pada 54. 715. Indikator lainnya dari Ichimoku yang digunakan ACY dalam ulasan ini, menunjukkan pada kita bahwa harga masih bergerak dalam tren naik untuk jangka panjang. Setelah penurunan signifikan, support harga bisa ditemukan dari Kijun-Sen, apabila tidak merosot lebih lanjut.

aff77043de06b4b96980463bc33f8ddd.png


Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Pound Jatuh Setelah Kenaikan 228,000 Pekerjaan Di AS

Pound Inggris kehilangan nilainya secara signifikan pada hari Jumat, tepatnya sebesar 0.65 persen ke harga penutupan pada $1.33827; nyaris menghapus keseluruhan kenaikan yang dialami sehari sebelumnya. Pasangan mata uang GBP/USD mengalami penurunan sepekan, sehari setelah Presiden AS Donald Trump nyaris mencapai targetnya untuk meloloskan Undang-Undang Pajak yang menguatkan Dolar AS. Pelemahan Pound terutama disebabkan oleh penguatan Dolar AS tersebut.

Laporan Ketenagakerjaan AS
Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Jumat mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan menambahkan 228,000 lapangan kerja pada bulan November, dan tingkat pengangguran nasional tetap berada pada 4.1%. Sementara itu, ada kenaikan rerata gaji per-jam sebesar 2.5% dibanding setahun sebelumnya, dari $25.91 ke $26.55.
Namun demikian, jika kita menengok pasar tenaga kerja tahun ini, pertumbuhan gaji di AS gagal meningkat, meski performa ekonomi cukup tangguh hingga menekan tingkat pengangguran ke level lebih rendah. Kelesuan terjadi relatif luas di pasar tenaga kerja, termasuk diantara karyawan dengan keahlian rendah, yang boleh jadi dilihat sebagai kandidat untuk menerima kenaikan gaji lebih tinggi, seiring dengan kian langkanya tenaga kerja.
Pekerja di 20 persen terendah dalam rerata gaji per sektor, menerima kenaikan 3.9% kenaikan gaji per-jam di bulan Oktober, dibanding setahun yang lalu; terakselerasi dari kenaikan 3.4% dalam setahun yang berakhir pada bulan Oktober 2016.
ACY menilai, kegagalan kenaikan gaji tahun ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS nampak tak terlalu ketat. Padahal, ini adalah salah satu prasyarat yang diperlukan untuk mendorong laju inflasi, yang saat ini pun tak cukup tinggi.

Brexit Masih Jadi Perkara Utama
Mari alihkan fokus kita ke Inggris Raya. Setelah berhasil mengamankan persetujuan pendahuluan pada hari Jumat untuk memajukan diskusi Brexit ke fase kedua, Perdana Menteri Theresa May gigih untuk memulai diskusi mengenai hubungan dengan Uni Eropa di masa depan, terutama mengenai jenis persetujuan perdagangan guna menawarkan kepastian yang lebih baik bagi korporasi.
"Meski orang-orang Inggris tak menyukai tatanan yang telah kami negosiasikan dengan Uni Eropa, persetujuan ini takkan mengijinkan pemerintahan masa depan untuk mengambil langkah berbeda," tulis Michael Gove, Menteri Masalah Pedesaan, Pangan, dan Lingkungan, dalam sebuah kolom di media Daily Telegraph. Dengan demikian, proses Brexit masih menjadi ancaman bagi prospek ekonomi Inggris di masa depan.

Outlook Teknikal GBP/USD
Secara teknikal, sebagaimana digambarkan ACY dalam grafik Daily di bawah ini, outlook yang lebih luas untuk GBP/USD tetap konstruktif, karena masih berada dalam Upward Trend Channel yang terbentuk sejak awal tahun ini.
Untuk outlook jangka pendek, GBP/USD menurun untuk mendekati Moving Average 20-Day, yang bisa jadi merupakan level support dimana investor perlu mengamati. Apabila pasangan mata uang ini gagal mendarat pada level support ini, maka penurunan lebih lanjut bisa terjadi dalam waktu dekat.

0c671b35260c4d158ae60601b5014141.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
S&P 500 Naik Ke Rekor Tinggi Jelang Rapat Fed

Saham-saham AS ditutup meningkat pada hari Senin, dengan S&P 500 menanjak 0.41 persen atau 10.9 poin dan ditutup pada rekor tinggi (2663.3 points). Kenaikan pasar saham disebabkan karena para investor meletakkan taruhan besar sebelum serangkaian rapat bank sentral pekan ini.
Dalam NASDAQ 100 di hari Senin, kenaikan terbesar dalam satu sesi dalami oleh CenturyLink Inc (NYSE: CTL), yang naik 8.18 persen atau 1.20 poin ke penutupan pada 15.87. TechnipFMC PLC (NYSE: FTI) naik 4.53 persen, atau 1.24 poin ke penutupan pada 28.59; dan Symantec Corporation (NASDAQ: SYMC) naik 4.43 persen, atau 1.24 poin ke 29.22 di akhir perdagangan.
Namun demikian, penurunan terbesar dialami oleh Scana Corporation (NYSE: SCG), yang merosot 6.17 persen, atau 2.79 poin ke penutupan pada 42.38, sementara Ulta Beauty Inc (NYSE: ULTA) menurun 3.74 persen, atau 8.40 poin ke 216.14; dan Macerich Company (NYSE: MAC) menyusut 3.74 persen, atau 2.46 poin ke penutupan pada 63.29.
Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 dibuka flat seusai terjadinya ledakan di hub komuter Port Authority yang ramai di New York, sebuah kejadian yang disebut oleh Walikota New York Bill de Blasio sebagai "upaya serangan teroris".
Saham-saham AS kemudian menanjak lebih tinggi, setelah kekhawatiran mengenai ledakan tersebut memudar, dan yield Obligasi Treasury naik sedikit. Pasar melakukan penilaian dan revaluasi nyaris segera setelah informasi baru diterima. Dengan demikian, ACY menilai indeks-indeks saham merefleksikan bagaimana pasar bereaksi pada event ini.
Fase kenaikan saham bukan hanya digerakkan oleh Undang-Undang Pajak yang baru, yang memangkas pajak korporasi dari 35 persen ke 20 persen dan dianggap sebagai kampanye penting sejak Presiden Trump menjabat. Kenaikan saham juga diakibatkan oleh persiapan investor menjelang kenaikan suku bunga Federal Reserve yang diharapkan terjadi pekan ini.
Kenaikan suku bunga Fed ditujukan untuk mendinginkan perekonomian, yang performanya cukup tangguh, dengan inflasi di level rendah. Dalam situasi ini, pasar relatif optimis menyikapi kenaikan suku bunga Desember, meski akan menaikkan biaya Financing bagi perusahaan-perusahaan.

Outlook Teknikal S&P 500
Secara teknikal, sebagaimana digambarkan pada grafik Daily di bawah ini, S&P 500 melesat pada 28 November dan menembus Ascending Price Channel yang terbentuk sejak awal tahun ini. Setelah itu, S&P 500 terus menerus meningkat, meski ada kemunduran hingga setengah dari Upper Channel Line, dimana indeks ini menemukan support-nya. Dalam pandangan ACY, seiring dengan dihadapinya resisten signifikan pada rekor tinggi 2665.2, indeks S&P 500 bisa jadi melangkah mundur jika gagal menembus level yang lebih tinggi lagi.

dd58cec360dc0d82e2a527eb534362f4.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Harga Minyak Tumbang Seusai Reli Gegara Masalah Pipa

Harga Minyak anjlok pada hari Selasa, setelah trader melakukan aksi jual untuk memanen profit pasca kenaikan harga ke level tertingginya selama dua tahun, akibat penutupan mendadak jalur pipa minyak penyalur minyak mentah North Sea. WTI untuk pengiriman bulan Januari ditutup pada $57.375, seusai penurunan sekitar 0.96%.
Kontrak Berjangka naik tiga hari berturut-turut, setelah American Petroleum Institute (API) mengatakan inventori minyak AS jatuh ke 7.38 juta barel pada pekan lalu; dua kali lipat lebih besar dibanding forecast penurunan 2.89 juta oleh para analis dalam sebuah survey Bloomberg. Jika perhitungan kelompok industri ini dikonfirmasi oleh Energy Information Administration pada hari Rabu, maka ini akan menjadi penurunan inventori terbesar sejak Agustus.
Menurut Phil Flynn, Analis Pasar Senior di Price Futures Group Inc Chicago, dalam sebuah wawancara via telepon, penurunan inventori semestinya mendukung minyak dalam jangka pendek. Katanya juga, "Data menunjukkan permintaan pengilangan untuk minyak (mentah) sangat kuat."
Minyak Brent dan West Texas Intermediate sama-sama anjlok pada hari Selasa, seiring melonggarnya kekhawatiran mengenai dampak ditutupnya sebuah jalur pipa minyak penting di Laut Utara. Semenjak disepakatinya ekstensi pemangkasan suplai hingga akhir tahun depan oleh Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan negara-negara produsen sekutunya seperti Rusia, harga minyak telah dan kemungkinan akan bergerak lebih tinggi selama beberapa bulan ke depan.
Namun demikian, kesepakatan yang digawangi OPEC tersebut menghadapi ancaman dari pengeboran shale Amerika, yang diperkirakan pemerintah akan menggenjot output tahun depan hingga lebih dari 10 juta barel per hari (bph). Dengan demikian, ACY menilai pergerakan harga minyak di masa depan akan dipengaruhi oleh perencanaan para pemasok Amerika.

Outlook Teknikal WTI
Secara teknikal, ACY memantau WTI pada chart Weekly untuk melihat tren jangka panjangnya. Tren terbentuk sejalan dengan Ascending Price Channel yang dimulai sejak April 2016. Walaupun kini menjumpai resisten pada batas garis atas, dan masih berjuang untuk menembusnya dalam beberapa minggu terakhir. Apabila WTI gagal bergerak lebih tinggi dan breakout, maka investor perlu mencari peluang untuk membuka posisi short.


321d0c9e6c9a575831fae738b2a3fe01.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Indeks Dow Jones Menanjak Ke Puncak Setelah Rapat FOMC

Pasar saham AS telah reli selama berbulan-bulan dan diperdagangkan pada all-time high di tengah antisipasi akan dipangkasnya pajak untuk korporasi. Acuan Dow Jones Industrial Average Index (.DJI) ditutup naik 0.42 persen ke 24624.8, menyentuh rekor tinggi.
Dalam indeks US30 di hari Rabu, kenaikan terbesar satu sesi dialami oleh Caterpillar Inc (NYSE: CAT), yang naik 3.59 persen, atau 5.15 poin ke harga penutupan pada 148.57. Nike Inc (NYSE: NKE) naik 3.43 persen, atau 2.13 poin ke penutupan pada 64.30; dan Coca-Cola Company (NYSE: KO) meningkat 1.35 persen, atau 0.61 poin ke 45.90 di akhir perdagangan.
Namun demikian, penurunan terbesar diderita oleh International Business Machines (NYSE: IBM), yang turun 1.81 persen atau 2.83 poin ke penutupan pada 153.91. Sementara itu, American Express Company (NYSE: AXP) tergelincir 1.60 persen, atau 1.59 poin ke 97.78; dan JPMorgan Chase & Co (NYSE: JPM) berkurang 1.25 persen, atau 1.34 poin ke penutupan pada 105.51.

Legislasi Pajak AS Mendekati Final
Anggota Kongres dari Partai Republik telah mencapai kesepakatan mengenai legislasi pajak final pada hari Rabu, melapangkan jalan bagi voting terakhir pada pekan depan bagi paket pengurangan pajak korporasi dari 35 persen ke 21 persen. Paket pengurangan pajak tersebut lebih tinggi satu persen dari proposal awal, tetapi masih terhitung dalam reduksi besar-besaran yang sudah lama diinginkan perusahaan-perusahaan AS.
Sejalan dengan finalisasi perombakan pajak terbesar dalam 30 tahun ini, para pengambil kebijakan gamang mengenai apakah akan memangkas pajak pendapatan untuk golongan kaya. Pada akhirnya, mereka mencapai konsensus untuk memotongnya dari 39.6 persen menjadi 37 persen, meski ada kritik dari partai Demokrat yang mengatakan rencana partai Republik memihak pada korporasi dan golongan kaya, sementara hanya menawarkan sedikit keringanan bagi kelas menengah.
Berdasarkan draft yang telah disusun, rencana yang disusun oleh partai Republik ini akan meningkatkan utang nasional sebanyak sekitar $1.5 triliun hingga $20 triliun dalam kurun waktu 10 tahun. Atas pertimbangan ini, partai Republik berupaya menyelesaikan rincian paket mereka tanpa meningkatkan estimasi dampak pada defisit dan utang federal.
Dalam sebuah acara yang diadakan oleh partai Demokrat, Pimpinan Ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi, mengatakan bahwa Undang-Undang buatan Partai Republik tersebut, jika diimplementasikan, akan mengakibatkan suku bunga meningkat, sehingga manfaat dari tingkat pajak korporasi yang lebih rendah, akan sepenuhnya "terhapuskan". Karenanya, dampak jangka panjangnya bagi pasar saham masih belum diketahui, meski pasar nampak bagus dalam jangka pendek.

Suku Bunga Naik, Inflasi Masih Lamban
Para pejabat Federal Reserve sungguh-sungguh menaikkan suku bunga 25 basis poin lebih tinggi ke 1.50 persen, sesuai ekspektasi. ACY mencatat, mereka juga menaikkan forecast pertumbuhan ekonomi di tahun 2018, meski tak merubah proyeksi kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali dalam tahun depan.
"Perubahan ini menggarisbawahi ekspektasi komite bahwa pasar tenaga kerja akan tetap kuat, dengan penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan, banyak peluang bagi tenaga kerja dan kenaikan gaji," demikian disampaikan Pimpinan Fed Janet Yellen pada reporter di Washington hari Rabu, setelah pengumuman keputusan kenaikan suku bunga. Dalam konferensi pers terakhirnya, Yellen menekankan bahwa penerusnya, Jerome Powell, telah menjadi bagian dalam konsensus untuk membentuk strategi kenaikan suku bunga Fed secara bertahap.
Inflasi Konsumen AS Inti (2.2 persen) melambat pada bulan November, dikekang oleh lemahnya biaya layanan kesejatan dan jatuhnya harga garmen dengan laju terbesar dalam nyaris dua dekade. Hal ini bisa berdampak pada laju kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun depan.
Lambannya kenaikan Inflasi Konsumen Inti (Core CPI) membuat pertimbangan Fed mengenai laju pengetatan kebijakan moneter tahun depan menjadi lebih kompleks.

Outlook Teknikal US30
Dow Jones Industrial Average Index reli lima hari berturut-turut ke level tertinggi, yang cukup sulit untuk diprediksi kapan akan berbalik secara teknikal. Meski demikian, ACY berupaya menggunakan "Bulls" untuk memprediksi kapan waktunya melakukan Sell. Sebagaimana digambarkan di bawah, ada potensi sinyal reversal saat ini, dengan oscillator berbalik ke bawah dan nilainya pada bar yang dianalisa berada di atas 0.

e69cfc9c95f8e78cb967d5f18ea58a4f.png

 
AUD/USD Melanjutkan Reli Di Tengah Pengetatan Ketenagakerjaan

Dolar Aussie naik empat hari berturut-turut ke level tinggi bulanan terhadap Dolar AS, reli dari level terendahnya dalam setengah tahun terakhir. Mata uang ini menanjak sekitar 0.37 persen dan ditutup pada US$0.76646 di hari Kamis, setelah rilis tingkat pengangguran yang rendah di Australia.
Angka-angka yang dirilis Biro Statistik Australia kemarin menunjukkan bahwa tingkat pengangguran hanya 5.4 persen secara nasional, level terendahnya sejak Februari 2013. Sementara itu, sebanyak 61,600 lapangan kerja baru dibuka, menandai kenaikan bulanan terbesar dalam lebih dari dua tahun, dan lebih tinggi dari estimasi 19,000 yang diharapkan pasar.
Lonjakan ini berarti, angkatan kerja nasional telah meningkat sebanyak 383,000 dalam setahun terakhir; sesuatu yang disetarakan oleh Perdana Menteri Malcolm Turnbull kemarin dengan pembukaan 1000 lowongan setiap hari, atau "...1000 kesempatan baru bagi warga Australia yang ingin maju untuk mencapai cita-cita bagi mereka sendiri dan keluarga mereka."
"Rekor angka ketenagakerjaan hari ini menunjukkan lebih banyak warga Australia mendapatkan pekerjaan, lebih banyak yang memiliki kepercayaan diri untuk mencari pekerjaan, serta lebih banyak pengusaha berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja baru, dan merekrut lebih banyak karyawan," kata Turnbull.
Kenaikan rekrutmen tenaga kerja, sebagian disebabkan karena peningkatan permintaan karyawan di periode libur Natal. Perusahaan-perusahaan berusaha membuat laporan keuangan yang bagus, dengan cara mengosongkan inventori via pemberian diskon. Dalam hal ini, lebih banyak pekerjaan tercipta untuk memenuhi kebutuhan aksi korporasi.
ACY mencatat, Australia telah menjadi perekonomian yang paling bersandar pada China diantara negara-negara maju, dengan sekitar sepertiga ekspor mengalir ke negeri Panda. Komposisi penjualan tersebut mengalami perubahan dari waktu ke waktu: 8 persen impor China dari Australia tahun lalu adalah barang konsumsi, berbanding dengan hanya 2 persen pada tahun 2013; sementara porsi bahan tambang telah menurun ke 56 persen dari 62 persen dalam periode yang sama.
Hubungan ini membuat Dolar Australia menjadi proxy bagi pertumbuhan China, khususnya karena mata uang dengan likuiditas tinggi ini lebih mudah diperdagangkan daripada Yuan. Namun demikian, UBS telah memangkas proyeksinya untuk konsumsi domestik, dengan menggarisbawahi tiga ancaman penting yang akan terus membebani belanja rumah tangga di tahun mendatang, yaitu lemahnya gaji, pertumbuhan harga perumahan, dan rendahnya tabungan rumah tabungan.

Outlook Teknikal AUD/USD
Secara teknikal, jika kita menganalisa dengan Ichimoku, harga mendekati "cloud" yang digunakan sebagai "filter". Apabila harga bergerak melintasi filter sepenuhnya, pasangan AUD/USD diekspektasikan naik lebih lanjut; jika tidak, maka ACY menilai AUD/USD kemungkinan akan terus mengambang pada levelnya saat ini.

0aa9000aee38e9c69d0f849b5ffb3a89.png

Outlook dalam jangka lebih pendek untuk pasangan mata uang ini, jika kita melihat chart M30, tengah menghadapi resisten di atasnya pada level tinggi 14 Desember pada 0.76791. Jika AUD/USD berhasil tembus ke level lebih tinggi dalam beberapa hari ke depan, maka investor bisa menyaksikan kenaikan lebih lanjut.

1508fecc68a207205e050c0a3c7069b7.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Back
Top