ACY - Analisa Market

NASDAQ 100 Melesat Ke Level Tinggi, Menjelang Legislasi Pajak

Pasar-pasar saham AS melesat ke rekor tertinggi pada hari Jumat, karena pasar merasa optimis kalau Rancangan Undang-Undang Pajak akan disahkan pada pekan ini, dengan voting Senat diadakan secepat-cepatnya pada Selasa dan Presiden Donald Trump berniat menandatangi perundangan tersebut sebelum akhir pekan.

Indeks Nasdaq 100 berhasil reli sejak tanggal 5 Desember dan terus meningkat sebesar sekitar 3.46 persen dalam dua minggu terakhir. Secara khusus, indeks naik 1.47 persen, atau 93.7 poin, ke harga penutupan pada rekor level tinggi historis baru 6481.3 di hari Jumat.

Dalam NASDAQ 100 di hari Jumat, kenaikan terbesar dialami dalam satu sesi perdagangan dialami Biomarin Pharmaceutical Inc (NASDAQ: BMRN), yang meroket 5.07 persen, atau 4.49 poin, ke harga penutupan 93.02. Express Scripts Holding Co (NASDAQ: ESRX) menanjak 3.67 persen, atau 2.53 poin, ke harga penutupan 71.55; sedangkan Costco Wholesale Corporation (NASDAQ: COST) naik 3.32 persen, atau 6.20 poin ke 192.73 di akhir perdagangan.

Di sisi lain, ACY mencatat penurunan terparah diderita oleh CSX Corporation (NASDAQ: CSX), yang merosot 7.64 persen, atau 4.38 poin ke harga penutupan pada 52.93, sementara Sirius XM Holding Inc (NYSE: SIRI) menurun 5.12 persen, atau 0.290 poin ke penutupan pada 5.370; dan Starbucks Corporation (NYSE: SBUX) menyusut 2.36 persen, atau 1.41 poin ke 58.29 di akhir perdagangan.

Pertumbuhan pasar saham yang luar biasa ini kemungkinan merefleksikan pandangan investor yang cukup yakin akan disahkannya perundangan mengenai pajak dalam minggu ini, barangkali pada hari Selasa, serta dampak positifnya bagi korporasi AS yang sudah lama diekspektasikan.

Data-data ekonomi yang dirilis baru-baru ini juga menunjukkan performa ekonomi yang tangguh di Amerika, dengan Penjualan Ritel bulan November meningkat 0.8 persen, mengungguli ekspektasi karena musim belanja menjelang liburan dimulai lebih cepat. Hal ini mengarah pada kekuatan ekonomi yang berkelanjutan, dan bisa membuka jalan untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut tahun depan.

Selain itu, data Federal Reserve menunjukkan Produksi Industri AS meningkat dalam laju yang lebih lambat di bulan November. Hal ini terjadi lantaran output pabrikan termoderasi, seusai melesat dengan laju tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun, sehubungan dengan pemulihan ekonomi pasca Badai

Outlook Teknikal Indeks NASDAQ 100

Secara teknikal, Indeks NASDAQ 100 masih terkonsolidasi dalam Ascending Price Channel yang sedang terbentuk untuk outlook lebih luas, sejak awal tahun ini. Sebagaimana bisa dilihat pada chart Daily, Indeks NASDAQ 100 menghadapi sebuah resisten penting yang dapat ditemukan pada garis atas Channel. Garis atas Channel tersebut nampak mencoba menghalangi indeks naik dalam laju lebih tinggi.

Sebenarnya, saat ini, sulit untuk memprediksi pergerakannya dari segi analisis teknikal. Alih-alih analisis teknikal, ACY menilai indeks akan lebih sensitif pada berita-berita ekonomi makro, seperti pengaruh perombakan pajak pada perekonomian secara keseluruhan dalam jangka pendek.

253f59317a8ce4f6ea2a96765fd3be14.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
ACY: USD/JPY Agak Meningkat, Trader Amati Rapat Dua Hari BoJ

USD/JPY diperdagangkan agak meningkat hingga mencapai rekor tinggi harian pada 113.08 di hari Rabu. Namun demikian, dikarenakan sebuah kendala dalam voting Senat mengenai pemangkasan pajak, pasangan mata uang ini beralih haluan dan menutup perdagangan harian dengan kenaikan sebesar 0.003 persen saja pada 112.88, setelah dibuka pada 112.54.

Pada hari Selasa, House of Representative telah menyetujui perombakan pajak AS terbesar dalam 30 tahun terakhir. Ekspektasi positif pada Dolar membangkitkan dukungan bagi Greenback dan menaikkan harganya terhadap sekelompok mata uang lain. Meski begitu, anggota partai Republik di Kongres perlu mengadakan voting lain hari ini karena masalah prosedur, dengan pasangan mata uang USD/JPY perlahan-lahan menghapus kemerosotan minggu lalu pada hari perdagangan ini.

Sementara itu, ACY mencatat, kenaikan Dolar AS terbatas dikarenakan perhatian trader menyoroti rapat kebijakan dua hari Bank of Japan. Pada bulan November, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda dalam pidatonya telah menyebutkan tentang konsep "reversal rate", yang berarti BoJ mensinyalir tingkat suku bunga yang terlalu rendah sudah mulai memberikan lebih banyak efek samping buruk ketimbang manfaat. Para trader meyakini konferensi pers Kuroda boleh jadi akan membahas mengenai ini, setelah rapat diakhiri pada hari Kamis mendatang. Dengan demikian, trader semestinya bisa memperoleh sejumlah petunjuk mengenai niat BoJ setelahnya.

Grafik 1: USD/JPY H1

fc6eab36b0a7ddb1bbfb47ecfafd9970.png

Pada grafik, secara teknikal, indikator-indikator mensinyalkan Buy, baik pada grafik Hourly maupun Daily, dengan sejumlah saran di bawah ini dari ACY.

Level-level Support Penting:

S1: 112.94
S2: 112.87

Level-level Resisten Penting:

R1: 113.08
R2: 113.01

Grafik 2: USD/JPY Daily

2012b996abeea1382504282384ed26c6.png

Secara umum, trader meyakini pemangkasan pajak pada akhirnya akan disahkan dan menjadi kemenangan legislatif pertama di bawah Presiden Donald Trump, sehingga tak ragu lagi bakal mempengaruhi Dolar. Namun sebelum itu, di tengah ketidakpastian mengenai maksud BoJ yang sesungguhnya, maka disarankan agar trader menunggu mengambil keputusan hingga setelah rapat usai.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Prospek Pasar Saham AS Untuk Tahun 2018 Mendatang

Pasar Saham AS merayap turun di hari terakhir tahun 2017, dengan S&P 500 menurun 0.63 persen, atau 16.9 poin ke penutupan pada 1665.8, level terendahnya dalam dua pekan terakhir. Sementara itu, Indeks NASDAQ 100, yang terdiri atas perusahaan-perusahaan teknologi besar, melanjutkan penurunan untuk hari kedelapan berturut-turut; sehingga memunculkan pertanyaan diantara investor mengenai apakah ini akhir reli saham-saham teknologi, atau malah ini merupakan akhir dari siklus naik Pasar Saham.

Sejak Presiden Donald Trump menjabat di awal tahun 2017, Pasar Saham AS melesat, dengan S&P 500 naik nyaris 20 persen, NASDAQ meningkat sekitar 28 persen, dan Dow Jones Industrial Average naik 25 persen.

Terkait prospek Pasar Saham AS tahun 2018, ACY melihat nyaris semua bank investasi berpendapat positif, terutama karena dua sebab: perombakan pajak yang akan menstimulasi ekonomi, serta siklus kenaikan suku bunga yang mendorong saham-saham finansial. Namun, walau Wall Street merasa positif, tetapi ada perbedaan pendapat mengenai tingkat seberapa bagus Pasar Saham di tahun 2018 mendatang.

Goldman Sachs Target S&P 500 Capai 2850

Goldman Sachs adalah yang paling optimis, dengan mematok target S&P 500 pada 2850 di tahun 2018. Posisi bullish tersebut menurutnya akan dipicu oleh empat faktor: pengesahan perombakan pajak, pertumbuhan pesat ekonomi AS, dan berlanjutnya kenaikan harga Minyak Mentah.

Disebutkan juga bahwa pemangkasan pajak akan mendorong Pasar Saham AS lebih tinggi lagi, meroketkan EPS S4P 500 sebanyak 5 persen. Tahun 2018 mendatang akan menjadi tahun dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada siklus ekonomi saat ini, kemungkinan hingga mencapai 10.5 persen, kemudian diikuti dengan pertumbuhan perlahan hingga menggapai rekor tinggi di tahun 2020.

Sebagaimana Goldman Sachs, Merrill Lynch dan UBS juga menilai reformasi pajak sebagai faktor besar yang menggerakkan Pasar Saham AS naik lebih tinggi di tahun 2018. Dalam forecast UBS, S&P 500 akan naik ke 2900 poin, atau bahkan hingga 3300 poin, jika Gedung Putih mampu memberikan hasil lebih besar dalam perombakan pajak.

4d07d11da53c9077f4fec01ce067c6d9.png

Di samping pemangkasan pajak, ACY mencatat, faktor makroekonomi juga berperan penting. Goldman Sachs berpendapat, pertumbuhan ekonomi AS bisa mencapai 2.5 persen pada tahun 2018, dan situasi ketenagakerjaan akan terus membaik. Kedua hal itu akan membantu inflasi dan tingkat pengangguran mencapai target Federal Reserve.

Morgan Stanley Lebih Konservatif

Di sisi lain, Morgan Stanley lebih konservatif dibandingkan bank-bank investasi lainnya. Katanya, penurunan S&P 500 pada tahun 2017 adalah yang terkecil dalam 38 tahun terkahir, sednagkan volatilitas rendah boleh jadi berubah tahun ini. Morgan Stanley bersikeras bahwa Pasar Saham dan ekonomi AS telah berada pada tahap terakhir periode ekspansi saat ini, dan akan menyentuh level tertingginya pada semester pertama tahun ini.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Crude Meninggi Meski Gejolak Melanda Iran

West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bukan Februari naik sekitar 0.29% ke $60.283 per barel. Pada sesi trading sebelumnya, kontrak berjangka ini menyentuh $60.684, level intraday tertinggi sejak Juni 2015. Harga Minyak ditutup mendekati level tertinggi 30-bulan, setelah gejolak sipil berhari-hari di Iran gagal mengganggu suplai dari produsen minyak mentah terbesar ketiga OPEC itu.

Kemunduran harga Minyak dari level tertinggi satu sesi, menunjukkan pelonggaran setelah jalur-jalur pipa minyak penting di Libya dan Inggris kembali berfungsi normal, dan produksi Amerika Serikat melesat ke level tertinggi dalam lebih dari empat dekade. Namun, ACY mencatat ini merupakan pertama kalinya sejak Januari 2014, dua harga Minyak acuan mengawali Tahun Baru dengan harga di atas $60 per barel. Faktor penggeraknya merupakan reli anti-pemerintah di Iran dan berlangsungnya pemangkasan suplai yang dipimpin OPEC dan Rusia.

Risiko Geopolitik Kembali Ke Agenda Pasar Minyak

Meski gejolak yang ditimbulkan reli anti-pemerintah Iran yang dimulai pada hari Kamis di kota Masshad, awalnya menyasar penanganan pemerintah di bidang ekonomi, tetapi fokusnya meluas dalam sehari ke lokasi-lokasi keagamaan dan pasukan keamanan negara.

"Saya takkan terkejut jika hasil apapun dari krisis saat ini pada akhirnya akan negatif bagi harga Minyak," kata Eugen Weinberg, pimpinan Riset Komoditas di Commerzbank AG di Frankfurt. "Apabila protes ini menghantarkan pada perubahan rezim, maka bisa menarik investasi baru masif dan membuahkan output lebih besar."

Sumber-sumber dari industri minyak Iran dan pengapalan mengatakan bahwa sejauh ini protes tersebut tak berdampak banyak pada produksi maupun ekspor minyak. Namun demikian, risiko geopolitik jelas kembali ke agenda pasar minyak mentah, setelah absen sejak pasar minyak mengalami surplus di paruh kedua tahun 2014.

Outlook Teknikal WTI

Meski mengalami kelemahan di perdagangan harian, WTI tetap berada dalam tren bullish jangka panjang yang solid, didukung oleh pemangkasan produksi yang dipimpin oleh OPEC dan Rusia. Pemangkasan produksi tersebut telah dimulai pada Januari 2017 dan dijadwalkan berlangsung selama tahun 2018. Lebih dari itu, pertumbuhan permintaan yang kuat, khususnya dari China, juga menunjang harga minyak mentah.

Namun demikian, peningkatan produksi minyak AS, yang mendekati ambang 10 juta barel per hari (bph), menjadi ancaman bagi outlook bullish tersebut. Outlook WTI yang lebih luas, sebagaimana ditunjukkan di chart Weekly yang disajikan ACY di bawah, tetap condong ke sisi atas, sembari mendekati sebuah resisten penting yang ditemukan dari session high terakhir pada Mei 2015. Hasil dari penembusan resisten tersebut akan menunjukkan sejauh mana harga minyak akan meningkat.

Grafik 1: WTICOUSD Weekly

b1e246d648a4d8d7c693ecac3775f9bf.png

Indikator teknikal Bulls Power di chart Daily mensinyalkan risiko penurunan pada harga, seiring Oscillator berbalik ke bawah dari puncak dalam beberapa hari ini.


Grafik 2: WTICOUSD Daily

e4dcf6bd736c41cfa3a2db5478eef969.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
EUR/USD Jatuh Setelah Rilis Notulen Rapat FOMC

Dolar AS berhenti menurun dan berbalik menguat terhadap mata uang-mata uang utama pada hari Rabu, setelah rilis Notulen Rapat Federal Reserve bulan lalu, dimana para pengambil kebijakan memutuskan untuk menaikkan suku bunga jangka pendek untuk ketigakalinya di tahun 2017.

Euro jatuh ke terendah satu sesi terhadap Dolar, menghapus kenaikan yang diperoleh di hari sebelumnya, dan ditutup pada $1.20129. ACY menilai, kejatuhan pasangan mata uang ini terutama dikarenakan rilis Notulen dan outlook ekonomi tangguh yang ditunjukkan oleh data manufaktur AS.

Aktivitas Pabrikan AS Meningkat

Aktivitas pabrikan AS meningkat lebih besar dibanding ekspektasi pada bulan Desember, didorong oleh pertumbuhan pesanan baru (new orders); sebuah penanda momentum ekonomi kuat di akhir 2017.

Di samping data new orders, fundamental ekonomi yang tangguh juga digarisbawahi oleh data-data lainnya di hari Rabu, dengan belanja konstruksi naik ke rekor tinggi pada bulan November di tengah kenaikan pengeluaran publik dan swasta secara umum.

Institute for Supply Management (ISM) mengatakan, indeks aktivitas pabrikan nasionalnya naik ke 59.7 pada bulan lalu -tertinggi kedua dalam enam tahun-, dari 58.2 pada bulan November. Pembacaan di atas 50 mengindikasikan pertumbuhan di sektor manufaktur, yang mencakup sekitar 12 persen perekonomian AS. Sementara itu, meski barometer ketenagakerjaan jatuh 2.7 poin bulan lalu, tetapi masih pada level tinggi yang konsisten dengan ekspansi payroll di sektor manufaktur.

Menurut Notulen Rapat Bank Sentral tanggal 12-13 Desember yang dirilis hari Rabu, para pengambil kebijakan di Federal Reserve menunjukkan kekhawatiran mengenai kelanjutan inflasi yang rendah saat ini, dan memandang perubahan pajak baru-baru ini menyediakan pendorong bagi belanja konsumen.

Outlook Teknikal EUR/USD

Secara teknikal, ACY mencatat EUR/USD mengalami pullback dalam menghadapi resisten pada 1.20912, level tinggi yang sebelumnya tercapai pada 8 September 2017; sementara di saat bersamaan menghadapi level support yang ditemukan dari level tinggi tanggal 27 November jika terus bergerak menurun. Pasangan mata uang tersebut boleh jadi akan bergumul diantara kedua level tersebut untuk sementara, dan investor sebaiknya menantikan breakout dari salah satu level tadi.

Dengan melihat indikator MACD, nampak tak ada sinyal penurunan untuk saat ini, tetapi juga tak ada tanda kenaikan berkelanjutan. Oleh karena itu, investor perlu bersabar dan mengamati pergerakannya dalam jangka pendek.

1c8ef38d7997f8bee9e2ed0bf2cec186.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Harga Minyak Mentah Melandai Hadapi Resisten Penting

Harga Minyak Mentah menyentuh atas $62 per barel dalam perdagangan Intraday untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun, setelah persediaan Minyak Mentah AS dilaporkan menurun dalam jumlah terbesar sejak Musim Panas. West Texas Intermediate (WTI) kemudian melandai ke harga penutupan pada $61.856 per barel di hari Kamis, setelah sempat mengalami kenaikan pesat dalam dua pekan terakhir.

Harga Kontrak Berjangka naik 0.6% di New York ke level tertingginya sejak Desember 2014. Kenaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan permintaan, khususnya dari China. Energy Information Administration (EIA) mengatakan, persediaan Minyak Mentah (Crude Inventories) Amerika selip 7.42 juta barel sejak pekan lalu, karena pabrik-pabrik pengilangan menggenjot laju operasional ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade; mensinyalkan kuatnya permintaan.

"Angka inventori Minyak Mentah cukup sehat dibandingkan dengan konsensus," kata Brian Kessens, yang turut mengelola $16 milyar aset sektor energi di Tortoise Capital Advisors LLC melalui telepon, "Orang-orang optimistis akan ada dampak susulan di balik latar belakang harga Minyak Mentah ini."

Di samping kuatnya permintaan, ACY mencatat pengetatan suplai juga memainkan peran penting dalam menggerakkan harga Minyak ke arah atas. Inventori Minyak Mentah menurun, dengan persediaan di Oklahoma merosot ke bawah rerata lima tahunannya. Harga juga naik seiring OPEC dan Rusia bekerjasama menyusutkan inventori global melalui pemangkasan output. Dan ada pula kekhawatiran mengenai stabilitas produsen terbesar ketiga OPEC, Iran.

Outlook Teknikal WTI

Secara teknikal, dari apa yang telah diperlihatkan oleh grafik Weekly, WTI berada di ambang penembusan ke level tinggi 61.555 yang sebelumnya dicapai pada Mei 2015, yang nampak sebagai resisten penting. Apabila WTI gagal menembus ambang harga tersebut dalam jangka pendek, maka pullback kemungkinan akan terjadi, dan trader bisa mencari peluang untuk membuka posisi short karenanya. Apabila terjadi sebaliknya, maka ACY memperkirakan akan ada ruang luas bagi WTI untuk naik lebih lanjut di masa depan.

Grafik 1 WTICOUSD Weekly

32ecde288db8e351aa493ebeeaf18299.png

Pada grafik Daily dengan diaplikasikan indikator teknikal MACD, WTI masih dalam momentum kenaikan, tanpa bukti jelas mengenai pembalikan tren (trend reversal) untuk saat ini.

Grafik 2 WTICOUSD Daily

432f09c3e04b30c02cd99c5a5eded39c.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
S&P Jaga Momentum Hingga Seusai Rilis NFP

S&P500 memperpanjang kenaikannya dalam tahun 2018 pada hari Senin untuk hari kelima berturut-turut, meski kemajuannya melambat karena sektor Kesehatan dan Finansial terbebani, sedangkan investor tengah menunggu permulaan musim pelaporan keuangan kuartalan.

Tiga indeks saham mayor cenderung beragam, dengan S&P 500 melonjak 0.19 persen, atau 5.1 poin, ke 2744.8 pada hari Senin. Dalam catatan ACY, indeks-indeks saham memulai tahun 2018 dengan kenaikan empat hari pertama terkuat sejak tahun 2006.

Jelang Rilis Laporan Kuartalan

Dalam S&P 500 pada hari Senin, kenaikan terbesar satu sesi dicapai oleh Seagate Technology PLC (NASDAQ: STX), yang naik 7.13 persen, atau 3.06 poin ke harga penutupan pada 46.00. Kohl's Corporation (NYSE: KSS) naik 4.67 persen, atau 2.54 poin ke penutupan pada 56.90; dan Albemarle Corporation (NYSE: ALB) naik 4.35 persen, atau 5.73 poin ke 137.45 di akhir perdagangan.

Namun demikian, penurunan terbesar diantaranya dialami oleh Biogen Inc (NASDAQ: BIIB), yang turun 3.75 persen, atau 12.84 poin ke penutupan pada 329.65; sementara L Brands Inc (NYSE: LB) merosot 3.42 persen, atau 1.72 poin ke 48.64; sedangkan Regeneron Pharmaceuticals Inc (NASDAQ: REGN) kehilangan 3.27 persen, atau 12.58 poin ke harga penutupan pada 372.52.

Sektor Kesehatan adalah performer terburuk dalam S&P hari Senin lalu, sedangkan investor tetap berhati-hati dalam menuangkan dananya ke sektor Perbankan sebelum perusahaan-perusahaan mulai merilis pelaporan keuangan kuartal IV dalam pekan ini.

Di sektor Perbankan, Wells Fargo (WFC.N) dan Citigroup (C.N) jatuh lebih dari 1 persen, sementara Goldman Sachs (GS.N) menurun 1.5 persen. Kebanyakan bank besar Amerika Serikat telah mengestimasikan setidaknya satu perubahan terhadap pendapatan kuartal IV mereka, dikarenakan pemangkasan pajak AS.

Rilis Data Ketenagakerjaan Hanya Berdampak Terbatas

Rilis data ketenagakerjaan yang lebih buruk dari ekspektasi, nampaknya memiliki dampak yang terbatas di pasar saham pada hari Jumat lalu. Ketiga indeks saham mayor mengalami kenaikan signifikan dalam meresponnya, karena investor menunjukkan sikap positif menghadapi pasar di masa depan yang akan dipengaruhi oleh pemangkasan pajak.

Departemen Ketenagakerjaan AS pada hari Jumat mengatakan bahwa perekonomian menambahkan 148,000 pekerjaan di sektor Non-Farm, lebih rendah daripada ekspektasi. Akan tetapi, ACY mencatat Tingkat Pengangguran tetap pada level rendah 4.1 persen.

Dengan performa pasar saham yang sedemikian tangguh, cukup sulit untuk memprediksi seberapa jauh saham-saham akan terus menjaga momentum pada posisi ini, yaitu di rekor tinggi secara historis. Indeks Saham kemungkinan terutama dipengaruhi oleh dampak pemangkasan pajak di pasar, sedangkan kebijakan moneter yang akan diaplikasikan juga perlu diperhatikan.

Grafik SPX500 Daily

2d324f0ce34f5ac902e16e9c9e335b2a.png


Sumber :https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Harga Minyak Capai Tertinggi Tiga Tahun Karena Pengetatan Suplai

Harga Minyak Mentah melesat ke level tertinggi sejak Desember 2014, karena pengetatan suplai. Hal ini didorong oleh pemangkasan produksi OPEC dan ekspektasi bahwa inventori Minyak Mentah AS telah jatuh untuk pekan kedelapan berturut-turut; mencatat penurunan inventori terpanjang di Musim Dingin sejak 2007-2008.
Minyak Mentah West Texas Intermediate (WTI) naik $1.532, atau 2.48 persen, ke harga penutupan pada $63.394 per barel, setelah menyentuh level tertingginya sejak Desember 2014 pada $63.24.
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi Minyak hingga akhir 2018, guna mengurangi limpahan Minyak di inventori yang telah menjatuhkan harga Minyak.
Harga juga didukung oleh penurunan inventori minyak AS sebesar 11.2 juta barel dalam sepekan yang berakhir tanggal 5 Januari, ke angka total 416.6 juta, menurut American Petroleum Institute. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi analis yang mengharapkan penurunan sebesar 3.9 juta barel saja. Jika data ini dikonfirmasi oleh pemerintah AS pada pukul 15:30 GMT hari Rabu ini, maka penurunan tersebut akan menjadi yang terbesar sejak 2 September 2016 ketika persediaan AS jatuh sebanyak 14.5 juta barel.
"Pemangkasan produksi dan permintaan terus menyeimbangkan pasar," kata Gene McGillian, seorang Manajer Riset Pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut, via telepon.
Meski pengetatan suplai mendorong harga naik, tetapi harga yang lebih tinggi bisa memicu kembali meningginya produksi Minyak Mentah AS dalam tahun 2018, sehingga mengimbangi pemangkasan produksi yang dilakukan pihak lain. Menurut US Energy Information Administration pada hari Selasa, produksi minyak AS diekspektasikan akan melampaui 10 juta barel per hari (bph) bulan depan, menuju rekor tertinggi sepanjang masa, beberapa bulan lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya.
Dalam pandangan ACY, hal ini bisa mengurangi minat OPEC dan Rusia untuk mempertahankan kesepakatan pembatasan suplai mereka hingga akhir tahun, karena khawatir kehilangan pangsa pasar.

Outlook Teknikal WTI

Secara teknikal, tren bullish WTI masih berlanjut, karena harga tetap berada di atas titik Support penting pada 61.555 yang ditemukan pada level tinggi bulan Mei 2015, tepat setelah menemukan Support dalam penurunannya. Jika WTI kembali ke bawah level tinggi tahun 2017 pada $60.48 dan harga pembukaan tahun 2018 pada $60.111, maka outlook teknikal akan berbalik bearish untuk Minyak.
Pada grafik Daily dengan diaplikasikan indikator MACD, pergerakannya masih dalam momentum naik. Menurut ACY, apabila belakangan nanti pembalikan terjadi dalam pembentukan indikator, maka investor perlu sangat berhati-hati akan kemungkinan pembalikan tren.

1b1db030091edcb3cd8bed2b63a4c82e.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Yen Melaju Dengan Dibayangi Pengetatan Kebijakan BoJ

Yen menguat untuk pekan keenam berturut-turut terhadap Dolar AS dan semua mata uang G-10 lainnya, serta menyeret turun saham-saham di Tokyo, karena Bank of Japan (BoJ) mengurangi pembelian obligasi jangka panjang. USD/JPY anjlok sekitar 1.09 persen ke penutupan pada ¥112.647 di hari Rabu; penurunan paling drastis dalam enam pekan terakhir.

BoJ Akan Pertimbangkan Pengetatan Moneter

Reaksi pasar pada pengurangan besaran pembelian obligasi jangka panjang yang dilakukan pada hari Selasa oleh BoJ, menggambarkan perhatian yang meningkat mengenai kapan BoJ akan berbalik pada normalisasi kebijakan. Para Ekonom memperingatkan agar tidak terlalu mempedulikan pembelian obligasi yang dilakukan BoJ, tetapi situasi perekonomian Jepang dalam ekspansi terpanjang sejak pertengahan 1990, sehingga meningkatlah ekspektasi kalau BoJ akan bergabung dengan rekan-rekan bank sentral lainnya dan mulai menormalisasi kebijakan, paling cepat dalam tahun ini.

Menurut Allen Sinai, Presiden Decision Economics Inc., perekonomian Jepang akan melampaui perkiraan pertumbuhannya tahun ini, sehingga memicu bank sentral untuk mempertimbangkan kebijakan moneter ketat di pertengahan tahun. Ia mengekspektasikan perekonomian Jepang akan bertumbuh 2 persen di tahun 2018, dan lebih cepat lagi pada 2019, kemungkinan sebesar 2.5%.

Inflasi tetap berada di bawah target 2 persen yang ditentukan oleh BoJ, tetapi indikator pilihan bank sentral tersebut naik secara konsisten sepanjang tahun lalu, dan mencapai 0.9 persen di bulan November. Sinai mengatakan, ia mengekspektasikan inflasi akan mencapai 2 persen, lebih cepat dibanding waktu yang diproyeksikan BoJ di sekitar April 2019.

ACY mencatat, Haruhiko Kuroda, Gubernur Bank of Japan, telah mengatakan bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga hanya karena perekonomian berjalan baik, karena target utamanya adalah inflasi.

Outlook USD/JPY

Outlook yang lebih luas bagi USD/JPY tetap bearish, karena pasangan mata uang ini masih dalam tren menurun sejak Mei 2017, dan kemungkinan masih akan bergerak di dalam "terowongan" yang serupa. Sedangkan untuk periode jangka pendek, bisa dilihat sebagai pasar bearish juga karena pullback yang signifikan kemarin mengantarkan pada breakout turun dari level sebelumnya yang digambarkan dalam Channel merah, dan kemudian penurunan lebih lanjut bisa terjadi.

Saat ini, investor mengamati titik support penting yang ditemukan pada level rendah yang pernah tercapai pada 27 November. Dalam pandangan ACY, jika pasangan mata uang ini terus menurun ke level support ini dan berlanjut menembus lebih rendah lagi, maka investor bisa menyaksikan sejumlah penurunan di masa depan.

Sedangkan pada grafik Daily dengan diaplikasikan indikator RVI (10) dan MACD, keduanya berada pada momentum menurun. Hal ini menunjukkan bahwa momentum ke depan bisa berlanjut.

Grafik USD/JPY Daily

736ed8ebb29a243e43a2a933cdef9263.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
US30 Melaju Meski Ada Kekhawatiran Soal Pemangkasan Pajak

Ketiga pasar saham mayor Amerika Serikat melaju untuk mencapai rekor level tinggi pada hari Kamis, dengan Dow Jones Industrial Average meroket 201.9 poin, atau 0.80 persen, ke harga penutupan pada 25,532.2. Dengan demikian, indeks telah naik delapan hari berturut-turut.

Saham-Saham Di US30

Dalam US30 di hari Senin, kenaikan terbesar satu sesi dialami oleh Chevron Corporation (NYSE: CVX), yang naik 3.04 persen, atau 3.91 poin ke penutupan pada 132.57. Boeing Co (NYSE: BA) naik 2.45 persen, atau 7.86 poin ke penutupan pada 328.12; sedangkan Intel Corporation (NASDAQ: INTC) naik 2.14 persen, atau 0.91 poin ke 43.41 di akhir perdagangan.

Namun demikian, ACY mencatat penurunan terbesar diantaranya dialami oleh American Express Company (NYSE: AXP), yang kehilangan 0.48 persen, atau 0.49 poin ke penutupan pada 100.73. Sementara Procter & Gamble Company (NYSE: PG) menurun 0.35 persen, atau 0.32 poin ke 90.15; dan Coca-Cola Company (NYSE: KO) berkurang 0.07 persen, atau 0.03 poin ke penutupan pada 46.04.

Kontroversi Pemangkasan Pajak AS

Performa ekonomi yang tetap tangguh setelah legislasi pemangkasan pajak ditandangani pada bulan lalu, dipandang sebagai pencapaian signifikan Trump sebagai Presiden. Legislasi tersebut memangkas pajak atas pendapatan korporasi sebanyak 14 persen, dan mengurangi pajak individual yang kebanyakan berlaku bagi rumah tangga berpendapatan tinggi. Pemerintah berpendapat bahwa pemangkasan pajak tersebut akan meningkatkan belanja bisnis maupun belanja konsumen.

Namun demikian, Presiden Fed New York, William Dudley, yang juga merupakan salah satu anggota Federal Reserve paling berpengaruh, menawarkan kritik terperinci atas pemangkasan pajak yang dilakukan Trump. Katanya, pemangkasan pajak baru atas korporasi dan individual tersebut akan menyediakan dorongan dalam jangka pendek, tetapi membuat perekonomian jadi rapuh di tahun-tahun mendatang. Bukan hanya perundangan tersebut akan melukai peringkat kredit Amerika Serikat, kemungkinannya pun rendah untuk meningkatkan belanja korporasi dan rumah tangga, karena golongan kaya mendapatkan keuntungan terbesar; demikian menurut Dudley.

Komentar Dudley mengindikasikan bahwa para pejabat bank sentral tidak ragu untuk mengkritik pemilihan waktu rencana pajak dan asumsi ekonomi partai Republik, meskipun ia tetap mempertahankan pandangan bahwa Fed bisa menaikkan suku bunga secara bertahap. Para pejabat Fed lainnya juga telah memperingkatkan soal biaya jangka panjang bagi perundangan tersebut, meski wawancara dengan beberapa orang diantara mereka baru-baru ini menunjukkan sedikitnya minat untuk mengadopsi kenaikan suku bunga yang lebih atau kurang agresif dibanding rencana awal.

Menurut ACY, keberlanjutan pasar saham bergantung pada bagaimana pemangkasan pajak berdampak pada perekonomian.

Grafik US30 Daily

0a3dcd5aa00a16f45adb5216dda6f8af.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Aussie Terus Menguat Karena Lemahnya Dolar AS

olar Aussie telah reli secara signifikan dari level terendah pada $0.75008 ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan, sebesar lebih dari 5.5 persen, dan kemudian ditutup pada $0.79130 terhadap Dolar AS. Menghadapi resisten penting yang bisa ditemukan dari level tinggi 13 Oktober pada 0.78964, mata uang ini masih bergumul di kisarannya saat ini berada. Breakout dari ambang ini bisa memperkuat kenaikannya lebih lanjut.

Namun demikian, posisi chart memperingatkan kemungkinan pembalikan arah ke bawah, dengan divergen RSI bearish mengindikasikan momentum kenaikan boleh jadi memudar, dan bisa mengawali formasi Top (puncak) di bawah angka 0.79.

Dari sini, harga penutupan harian terbaru berada tepat di bawah Fibonacci Retracement 23.6% (0.79354), yang bisa dilihat sebagai resisten penting yang mencegahnya terus menerus meningkat. Alternatifnya, ACY memperkirakan tekanan di atas Fibo 23.6% akan membuka jalan untuk pergerakan menantang resisten tinggi pada 0.81245.


Grafik AUDUSD Daily

2760a5f20e9b4ebf87b3625952e3fba2.png

Dolar AS belum menunjukkan bukti terhentinya penurunan saat ini; sedangkan pertumbuhan Penjualan Ritel yang kuat pada 0.4% menampakkan optimisme dalam perekonomian, meskipun lebih rendah dari perkiraan pada 0.5%. ACY menilai, kemungkinan karena dipengaruhi oleh musim liburan bulan lalu, Dolar tidak bereaksi besar.

Outlook Ekonomi Australia

Outlook perekonomian Australia tidak nampak kuat secara berkelanjutan. Westpac Banking Corp mengestimasikan pertumbuhan pekerjaan secara tahunan saat ini pada 3.2 persen, setara dengan payroll AS yang menambahkan 4.6 juta pekerjaan dalam periode yang sama; dan karenanya tidak nampak sustainable.

Di sisi lain, dengan lowongan di Australia menanjak ke rekor tinggi menjelang akhir tahun lalu, niat perusahaan-perusahaan untuk merekrut karyawan baru nampaknya tetap besar. Selain itu, rekor tinggi jumlah karyawan belum dikonversikan ke pertumbuhan gaji, sehingga bisa berpengaruh negatif bagi Belanja Konsumen dalam jangka panjang.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Nasdaq Capai Rekor Baru Di Tengah Kuatnya Penjualan Ritel

Saham-saham AS naik ke rekor tinggi, dengan NASDAQ 100 maju signifikan sebesar 0.73% ke harga penutupan pada 6755.9 poin pada hari Jumat, karena data Penjualan Ritel memicu optimisme bagi perekonomian dan harapan pemangkasan pajak akan mendorong keuntungan perusahaan-perusahaan.

Dalam NASDAQ 100 di hari Jumat, kenaikan terbesar satu sesi dialami oleh Seagate Technology PLC (NASDAQ: STX), yang meningkat 4.60 persen, atau 2.26 points ke penutupan pada 51.26. American Airlines Group (NASDAQ: AAL) naik 3.63 persen, atau 2.05 poin ke penutupan pada 58.47; sedangkan Adobe Systems Incorporated (NASDAQ: ADBE) naik 3.24 persen, atau 6.13 poin ke 195.05 di akhir perdagangan.

Namun demikian, ACY mencatat penurunan terbesar dialami oleh Facebook Inc (NASDAQ: FB), yang merosot 4.47 persen, atau 8.40 poin ke penutupan pada 179.37; sementara Workday Inc (NASDAQ: WDAY) menurun 1.17 persen, atau 1.34 poin ke 112.90; dan Cintas Corporation (NASDAQ: CTAS) berkurang 0.98 persen, atau 1.59 poinke penutupan pada 160.46.

Laju inflasi Amerika Serikat secara mengejutkan terakselerasi pada bulan Desember karena meningkatnya biaya perumahan, sehingga memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga sebanyak beberapa kali di tahun 2018. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Inti, yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi, meningkat sebanyak 1.8 persen, mengungguli forecast yang dipatok pada 1.7 persen. Baik kuatnya angka CPI maupun Penjualan Ritel, sama-sama mendukung optimisme bagi perekonomian AS, yang kemungkinan dipengaruhi oleh musim liburan di bulan Desember. Apabila data ekonomi beralik menurun, seperti Penjualan Ritel dan Belanja Konsumen, maka saham-saham AS kemungkinan akan mundur untuk mengalami beberapa revisi.

Outlook Teknikal NASDAQ 100

Seiring dengan naiknya NASDAQ 100 ke rekor tinggi, ACY menilai tidak mudah untuk memperkirakan kemana akhirnya nanti. Indikator Bollinger Bands dan MACD yang diaplikasikan di atas grafik Daily nampak masih dalam momentum naik, belum menunjukkan tanda-tanda pullback. Apabila kelak indeks mengalami kemunduran disertai beberapa pullback pada indikator, maka investor perlu sangat berhati-hati dan mencari peluang untuk menempatkan posisi short.

Grafik NAS100 Daily


663770d0d23cfb7e310635fa276b50d8.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
GBP/USD Naik Beruntun, Trader Amati Data CPI Hari Ini

Sterling bergerak menuju kenaikan beruntun empat sesi pada perdagangan hari ini, melesat sebanyak 2.2 persen sejak awal peningkatannya pada Kamis lalu dari harga pembukaan $1.3503 hingga diperdagangkan pada $1.3795 saat ini (hari Selasa pukul 11:30 waktu Sydney). Sementara itu, Pounds telah meningkat ke lebih dari $1.38 sejak referendum Brexit.

Selain karena diuntungkan oleh data-data ekonomi yang lebih baik dibanding ekspektasi, performa terbaik Sterling dalam satu dekade setelah lesu di tahun 2016, tak ragu lagi, juga didukung oleh kemajuan yang dicapai Inggris dalam negosiasi mengenai keluarnya negeri itu dari Uni Eropa.

Namun demikian, ACY mencatat, kenaikan terbesar di hari Senin diperoleh lantaran pelemahan Dolar, serta harapan pasar akan negara-negara anggota Uni Eropa lain untuk menemukan Brexit yang relatif lebih lunak.

Media melaporkan bahwa Belanda dan Spanyol membuka diri untuk membuat kesepakatan dimana Inggris tetap sedekat mungkin dengan blok perdagangan tersebut. Meskipun laporan tersebut kemudian ditepis oleh negara-negara yang bersangkutan, tetapi masih membantu meningkatkan harapan trader dan mendorong harga naik lebih tinggi di hari Jumat.

Di sisi lain, diskusi Kanselir Jerman Angela Merkel pada pekan lalu untuk membentu pemerintahan koalisi besar, telah sangat mendukung Pound, karena para trader memandang ini sebagai "breakthrough". Merkel dipandang sebagai sekutu Inggris, juga sebagai seseorang yang akan mencari kesepakatan dagang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kesepakatan dagang semacam itu akan mewujudkan lingkungan investasi sehat bagi para trader, khususnya mereka yang tertarik pada posisi long.


Grafik GBP/USD Daily

ad7be97c47e52dac9efc7a1456890e1a.png

Pada grafik Daily, secara teknikal, indikator-indikator mensinyalkan strong buy. Namun, bagi trader posisi short, grafik Hourly mengindikasikan arah yang berbeda untuk aksi jual.

Perhatikan sejumlah saran berikut dari ACY:

Level-level support penting:

S1: 1.3742
S2: 1.3652

Level-level resisten penting:

R1: 1.3922
R2: 1.3832

Grafik GBPUSD H1

2adb4301c5356da2c0946390afc41a89.png

Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) akan dirilis pada hari Selasa, dengan para trader mengekspektasikan kenaikan 3.0 persen pada harga-harga di bulan Desember. Data ini akan memberikan outlook yang lebih jelas bagi Sterling, tetapi para trader perlu berhati-hati karena apabila meleset lebih rendah, maka bisa menyebabkan aksi jual.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Ekspektasi Kebijakan Lebih Ketat, Euro Capai Level Tinggi Tiga Tahun

Euro melaju empat hari berturut-turut ke level tertinggi tiga tahun pada hari Senin, di tengah meningkatnya optimisme seputar pertumbuhan yang membubungkan ekspektasi pasar mengenai kebijakan moneter ketat dari European Central Bank (ECB). Sementara itu, peluang kesepakatan untuk pembentukan pemerintahan koalisi di Jerman juga meningkatkan keyakinan pasar di benua tersebut.

EUR/USD meroket dalam beberapa hari ini, dengan menanjak sekitar 0.57 persen ke penutupan di $1.22612, sebuah level harga yang terakhir dicapai pada awal 2015, tepat sebelum ECB mengumumkan program pembelian obligasi pemerintahnya. Pada grafik Daily dengan diaplikasikan MACD, EUR/USD mendapatkan momentum naik dan level tinggi pada indikator bergerak meninggi, selaras dengan kenaikan harga pasangan mata uang ini. Hal ini menunjukkan bahwa harga akan terus melanjutkan momentum ini, hingga ada reversal pada MACD.

Sedangkan terkait Relative Strength Index (RSI) yang juga dipasang pada grafik oleh ACY, kenaikan harga pada pasangan mata uang ini diikuti oleh uptrend pada RSI, meski saat ini menunjukkan overbought. Apabila RSI mundur ke 70 atau lebih rendah dari itu, maka investor perlu mewaspadai sejumlah posisi short. Selain itu, level tinggi yang sebelumnya tercapai pada 8 September 2017, bisa dipandang sebagai level support untuk pullback tersebut.

Dengan dunia secara umum dan Eropa secara khusus menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan berkelanjutan, ECB mulai mempertimbangkan penarikan stimulus yang dilancarkannya saat ini, dan Euro tengah berada pada laju pertumbuhan cepat. Karenanya, para investor kini memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga di kawasan Eropa.

Sementara itu, ACY mencatat Euro juga digerakkan oleh optimisme bahwa pemerintah Jerman bergerak menuju sebuah kesepakatan untuk membentuk pemerintahan koalisi. Partai CDU-nya Kanselir Jerman Angela Merkel dan partai Social Demokrat (SDP) akan melakukan diskusi koalisi secara formal, sehingga meredam kekhawatiran di negara ekonomi terbesar Eropa tersebut.

Grafik EURUSD Daily

e4bf46b18a9d340373af0631a17d1d74.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Outlook Jangka Pendek Euro Bisa Hadapi Resisten

Euro berada di jajaran penampil terbaik pekan lalu dengan menambah kenaikan 1.42% versus Dolar AS, dan menyentuh level tinggi tiga tahun pada pekan ini. Pemicu reli Euro muncul di pertengahan pekan lalu, ketika rilis notulen rapat European Central Bank (ECB) bulan Desember mengungkapkan nada lebih hawkish dibanding perkiraan pasar.

Berdasarkan apa yang kami lihat di grafik teknikal Daily, jika ada beberapa hal yang tembus pada awal tahun 2018, ECB telah memposisikan diri untuk siap menarik stimulus lebih cepat dibanding jadwal yang telah dibuat.

Dengan melihat grafik 30-Minutes, EUR/USD berjuang di level yang digambarkan oleh serangkaian level tinggi dan level rendah terkini. Breakout ke level yang lebih tinggi atau lebih rendah akan menghantarkan pada tren lain dalam jangka pendek. Sementara itu, indikator MACD menunjukkan level tinggi yang lebih rendah meski harga mengalami kenaikan; sesuatu yang bisa disebut sebagai "Divergen Bearish". ACY melihat Divergen Bearish juga dihadirkan oleh Relative Strength Index (RSI), yang kemungkinan akan mengantarkan pada pullback.

Grafik EUR/USD M30

30d6b3e82bed04af69e1125257e9cc45.png

Dalam sepekan ke depan, ACY menilai perhatian pasar akan tertuju pada angka CPI Zona Euro untuk bulan Desember, yang bisa disimpulkan sebagai catatan inflasi tahun 2017 secara keseluruhan. Revisi terakhir ini bisa menjadi faktor yang menahan trader dari langkah mereka mendorong Euro lebih tinggi, meskipun hanya sejenak. Dengan perkiraan +1.4% y/y dari +1.5% y/y, atau +0.4% m/m dari +0.1% m/m, laporan inflasi ini nampaknya tak diposisikan untuk mendorong harga naik lebih tinggi.

Akan tetapi, meskipun data inflasi menahan Euro di pertengahan pekan, itu akan bersifat temporer. Pengukuran pasar mengenai inflasi terus menunjukkan tren meningkat; dan 5-year/5-year inflation swap forwards yang menjadi salah satu pengukur inflasi pilihan Presiden ECB Draghi, pekan lalu ditutup pada 1.739%, level tertingginya sejak 21 Februari 2017. Dengan demikian, ECB kemungkinan merasa yakin pada jalur normalisasi kebijakannya saat ini.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Sterling Perpanjang Kenaikan Dengan Rilis CPI

Sterling sedikit memperpanjang kenaikannya setelah meningkat tiga hari beruntun di tengah kuatnya CPI yang menggarisbawahi fakta bahwa perekonomian Inggris tetap tangguh dengan laju pertumbuhan sehat. Sementara itu, kuatnya performa GBP/USD juga ditunjang oleh pelemahan Greenback.

Pergerakan teknikal untuk Pound ditutup sebagai "cross line" yang kemungkinan menunjukkan potensi reversal dari pergerakan saat ini akan terjadi karena resisten signifikan yang ada di depan. Namun, keputusan investasi apa yang harus dibuat oleh investor, tergantung pada bagaimana pergerakan berikutnya.

CPI Sesuai Ekspektasi

Consumer Price Index (YoY) di Inggris selaras dengan forecast 3.0 persen, menurun di bulan Desember dari level tinggi enam bulan yang dicapai periode sebelumnya pada 3.1 persen. Inflasi Inti berada pada 2.5 persen, mengalahkan ekspektasi (2.6 persen). Data Harga Perumahan Pemerintah mengindikasikan bawha kenaikan harga-harga secara nasional dalam beberapa bulan terakhir ini diperpanjang (+5.1% y/y, turun sedikit dari data periode sebelumnya yang direvisi naik ke +5.4%), sementara Harga Perumahan di London tetap lemah (+2.3%).

Laju Inflasi yang lebih lambat dari forecast, akan membebani jalan Bank of England untuk menaikkan suku bunga, sehingga bisa jadi membuat kenaikan GBP tidak berkelanjutan.

Outlook Teknikal GBP/USD

Outlook yang lebih luas untuk GBP/USD dilihat dari grafik Daily cukup positif untuk saat ini, karena bergerak bersama dengan Ascending Channel yang sedang terbentuk sejak tahun lalu. Khususnya, dalam pandangan ACY, breakout batas Fibonacci penting (61.8%) bisa mengantarkan pada peningkatan lebih lanjut dalam jangka panjang, yang bisa menjadi support untuk kemungkinan pullback berikutnya.

Dengan diaplikasikan MACD, indikator juga berada dalam momentum naik, mensinyalkan bahwa pasangan ini akan menjaga momentum, dan ini adalah entry yang bagus bagi investor.

Grafik GBP/USD Daily

49705170b2037e20ae0744c157c57b1b.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
GBP Hadapi Resisten Di Grafik 30 Menit

Berdasarkan grafik Daily GBP/USD, Pound berada diantara Top Performer dalam beberapa hari terakhir, dengan meningkat sekitar 2.73% versus Dolar AS dari level rendah pekan lalu. Walaupun pasangan mata uang ini melandai di hari Selasa, dipicu oleh data CPI Inggris yang selaras dengan ekspektasi (3.0%).

Outlook jangka panjang untuk pasangan ini, jika kita lihat pada grafik 30 Menit misalnya, melanjutkan penumpukan net-long yang telah berkontribusi dalam pembentukan Ascending Price Channel sejak pertengahan Januari. Sementara itu, harga menghadapi batas 1.38194 yang ditemukan dari level tinggi 15 Januari, dimana harga masih berkisar per 12:13 pm waktu Sydney. ACY berpendapat, breakout dari level resisten horizontal ini akan mengantarkan pada kenaikan berkelanjutan.

Dengan Commodity Channel Index (CCI) diaplikasikan pada grafik 30 Menit, nilai indikator berada pada posisi overbought, yakni lebih dari 100. Apabila CCI mundur ke bawah 100 di kemudian hari, investor perlu berhati-hati dalam melanjutkan keputusan net-long-nya dan menunggu apa yang akan terjadi setelah itu.

Selain itu, ACY mencatat, MACD terus meningkat setelah pullback yang dipicu oleh kenaikan harga dalam beberapa jam terakhir. Selaras dengan CCI, ketika Anda melihat perlambatan dalam upaya breakout MACD dan CCI di 100, maka peluang reversal dalam jangka pendek membuat investor perlu mempertimbangkan aksi jual guna menghindari kerugian. Namun apabila itu tak terjadi, maka investor tak perlu ragu untuk buy.

Grafik GBP/USD 30 Menit

66142b56892209a0eb93185750188c2f.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
ACY: Loonie Alami Kenaikan, Diskusi NAFTA Berlanjut Minggu Depan

Para trader mengamati keputusan suku bunga yang akan dirilis hari ini oleh Bank of Canada (BoC). Loonie telah menjaga tren kenaikan dan meningkat sekitar 6 persen terhadap Dolar AS dalam 12 bulan terakhir.

USD/CAD Digoyang Isu NAFTA

Mengamati lebih dekat pergerakan harga USD/CAD kemarin, pasangan mata uang ini dibuka pada $1.2427 dan ditutup pada $1.2433 di hari Selasa, atau bisa dikatakan Loonie jatuh sekitar 0.05% terhadap Greenback. Akan tetapi, pada 10 Januari ketika spekulasi NAFTA beredar, USD/CAD dibuka pada $1.2458 dan ditutup pada $1.2546, atau merosot 0.71 persen dan kehilangan sebagian besar kenaikan yang telah diperolehnya.

Biaya untuk melindungi Loonie dari kerugian telah menjadi signifikan, setelah laporan bahwa Ameirka Serikat akan menarik diri dari North American Free Trade Agreement (NAFTA). Hal ini membuat trader berpikir ulang. Utamanya, dalam situasi saat ini yang menurut pejabat Kanada, ada peningkatan kemungkinan Presiden AS Donald Trump menarik diri dari NAFTA.

Secara luas, pasar mengekspektasikan bank sentral akan menaikkan suku bunga acuannya ke 1.25 persen. Namun demikian, trader masih menyimpan kekhawatiran mengenai masa depan Dolar Kanada, karena kenaikan suku bunga diperkirakan takkan banyak membantu Loonie, sehubungan dengan dilanjutkannya diskusi dalam putaran ketiga tanggal 23 Januari. ACY mencatat ada banyak ketidakpastian mengenainya, karena nampaknya Meksiko dan AS telah merencanakan diskusi putaran berikutnya di Mexico City pada bulan Februari.


Outlook Teknikal USD/CAD

Grafik 1: USDCAD H1

4a80e75edd057e1e42bc003c97072f63.png

Secara teknikal, indikator-indikator mensinyalkan strong sell baik pada grafik Hourly maupun Daily. Berikut beberapa saran dari ACY:

Level-level Support Penting:

S1: 1.2370
S2: 1.2398

Level-level Resisten Penting:

R1: 1.2480
R2: 1.2508

Grafik 2: USDCAD Daily

da40ccc73c188b934836a93935bad9c0.png

Analis menilai ini bisa mensinyalkan bahwa kenaikan suku bunga agaknya takkan agresif jika BoC memang menaikkan suku bunga pada Rabu ini. Di sisi lain, beberapa investor berpendapat bahwa jika BoC mengumumkan suku bunga tak berubah, maka itu bisa jadi tetap hawkish, karena mereka menganggap ini bukan kondisi dimana bank sentral akan melonggarkan kebijakan moneternya. Loonie nampaknya "mendapatkan angin" saat ini.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
USD/CAD Jangka Pendek Cenderung Mundur Karena Divergen Bearish

Dolar Kanada menurun sekitar 0.14 persen ke 1.24551 per Dolar AS pada 12:00 pm waktu Sydney, menyusul reli terbesar Dolar AS setelah mengalami loss signifikan dalam sebulan terakhir. ACY mencatat, penurunan Dolar Kanada terjadi meskipun Bank of Canada (BoC) meningkatkan suku bunganya sebesar 0.25% ke 1.25%, level tertinggi sejak tahun 2009.

Bank tersebut mengatakan, walaupun akan ada beberapa kali kenaikan suku bunga tahun ini, tetapi dibutuhkan kebijakan moneter yang berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan inflasi dan perekonomian saat ini dalam laju yang sehat. Kejatuhan Loonie dalam perdagangan Intraday bisa jadi karena pasar sudah memperhitungkan kenaikan suku bunga yang lebih cepat atau lebih besar dibanding pertimbangan BoC.

Dalam pandangan ACY, outlook jangka pendek USD/CAD tetap dalam momentum naik yang telah dimulai sejak pertengahan Januari, setelah mengalami satu periode penurunan ketika kita melihat grafik 15 Menit. Namun, analisa intraday pada grafik ini menunjukkan Divergen Bearish pada Relative Strength Index (7), yang mensinyalkan bahwa kemungkinan penurunan akan meningkat dalam beberapa jam ke depan.

Grafik USD/CAD 15-Menit

ea9f1b5b320c8aa1fc5b92f4d312c2a7.png


Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Euro Ambil Ancang-Ancang Jelang Konferensi Pers ECB

Euro melandai sebesar 0.18% ke 1.22147 terhadap Dolar AS, meskipun muncul optimisme yang menyangga outlook ekonomi dari kabar bahwa Kanselir Jerman Angela Merkel telah mencapai solusi baru menuju pemerintahan periode keempatnya setelah berbulan-bulan jalan buntu. Sementara itu, Dolar pulih dari level rendah sebelumnya, seiring dengan berlanjutnya Government Shutdown.

Masuk ke pekan sebelumnya, ACY mencari momentum dalam Euro untuk terhenti sementara mata uang ini menelaah kenaikan yang telah dicapainya setelah breakout level tinggi tiga tahun. Dalam hari-hari ke depan, hal-hal serupa bisa muncul, tetapi kami melihat price action berada di sisi lemah hingga periode konsolidasi berlalu.

Halangan yang cukup signifikan dalam jangka pendek bisa ditemukan di sekitar swing low yang dahulu tercipta saat aksi jual tahun 2014. Sedikit maju-mundur di kisaran tersebut dipandang positif, karena koreksi lanjutan bisa bermanfaat bagi EUR/USD.

Jika ada peluang untuk pullback di bawah level rendah minggu lalu pada 1.21640, kecuali apabila ada momentum yang kuat, maka itu takkan dianggap patut diwaspadai oleh pemilik posisi long. Namun, segera setelah retest breakout level tinggi tepat di bawah 12100, maka kewaspadaan diperlukan.

Menurut ACY, para investor perlu mengantisipasi Konferensi Pers ECB di Frankfurt dimana Presiden Mario Draghi akan mengumumkan keputusan mengenai kebijakan moneter pada hari Kamis. Pengumuman bernada pengetatan diperkirakan akan diberikan dalam kesempatan tersebut.


Grafik EUR/USD Daily

f353c1b0ee03c6bb82cf4814826acd32.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Back
Top