Anwar Bersiap Memimpin, Sementara Malaysia Menata Ulang Demokrasinya

Politik

New member
Baru-baru-ini-seorang-politikus-Malaysia-Anwar-Ibrahim-memberikan-isyarat-selama-wawancara-dengan-AFP.jpg

Lift menuju kantor sederhana Anwar Ibrahim mengucapkan “Saya kembali.” Sekarang Anwar sangat eksis, keluar dari penjara, dan memimpin PKR, partai utama dalam Aliansi Pakatan Harapan yang menggulingkan Front Nasional Najib termasuk UMNO. Tetapi apakah mantan tahanan politik itu akan menjadi pemimpin nasional dalam waktu dekat?

Oleh: Donald K. Emmerson (Asia Time)

Dihiasi gedung-gedung pencakar langit, ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, adalah kota metropolitan. Dalam kota nan elit itu, markas besar Partai Keadilan Rakyat (PKR) sangatlah sederhana.

Mereka menempati satu di deretan bangunan bertingkat rendah yang tidak biasa, jauh dari pusat kota. Bahkan nomor dari lantai yang terdapat kantor pemimpin PKR adalah sebuah anomali: 3A.

Seolah-olah “A” berarti Anwar—Anwar Ibrahim, ketua PKR. Seolah-olah, bertahun-tahun yang lalu, pembangun telah dengan saksama menyisipkan lantai “A,” memprediksi dengan benar bahwa persidangan dan penahanan tahanan politik paling terkenal di Malaysia akan berakhir bertahun-tahun kemudian, pada 9 Mei 2018, setelah pelengseran elektoral bersejarah, damai, Perdana Menteri Najib Razak dan Front Nasional antar-komunalnya, atau Barisan Nasional (BN).

Termasuk dalam koalisi yang kalah adalah anggota utamanya, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), yang telah kembali berkuasa di setiap pemilihan umum yang diadakan di Malaya/Malaysia sejak 1959.

Penulis telah mengenal Anwar sejak tahun 1980-an. Pada bulan November 2014 di Universitas Stanford, saya bergabung dengannya dan rekan-rekan saya Larry Diamond dan Frank Fukuyama pada panel untuk membahas Islam dan demokrasi, dengan referensi khusus ke Malaysia. Anwar sedang dalam perjalanan kembali ke Kuala Lumpur.

Dia dan kami tahu dia hampir pasti akan ditahan lagi atas tuduhan sodomi bermotif politik, kejahatan berdasarkan hukum Malaysia. Dia bisa pergi ke pengasingan. Dia tidak melakukannya. Dia pulang ke rumah untuk menghadapi penuduhnya di partai UMNO yang berkuasa.

Dia dipenjara tiga bulan kemudian, pada Februari 2015, dan tidak dibebaskan sampai lebih dari tiga tahun kemudian, pada 16 Mei 2018, tidak secara kebetulan seminggu setelah warga Malaysia memilih “Alliance for Hope” empat-pihak, atau koalisi Pakatan Harapan (PH) yang memenangkan pemilu.

Sumber: Anwar Bersiap Memimpin, Sementara Malaysia Menata Ulang Demokrasinya
 
Back
Top