Pre-Marriage Cohabitation (Tinggal bareng sebelum merit)

Kalina

Moderator
ini cerita temen gw.. mungkin, juga ada yang pernah mengalami..

Alamak!!! Langsung ke pokok masalah nih... gue dan partner gue sekarang tinggal bareng. Terus terang sih buat gue itu BUKAN sesuatu yang salah. Gue mau kenal pasangan gue dulu sebelum gue menempuh yang lebih jauh sama dia.

Beberapa tahun yang lalu gue juga sempet tinggal bareng mantan gue, waktu itu sebenernya udah nyaris mau merrit. Walaupun belum ada keputusan apa2, tapi udah ada diskusi ke jenjang pernikahan. Untung waktu itu gue kerasin gue mau tinggal bareng dulu ama dia sebelum semuanya dah lampu ijo. Ternyata, dia orangnya violent banget, dan yang jadi korban bukan cuma gue, tapi keluarganya dia juga, bayangin, gue bareng dia 3 tahun, gue baru tau violent side of him sekitar setelah 2.5 tahun jalan. Gue tinggal tu orang, walaupun proses ninggalin dia pun juga bisa dibilang ngaret. Yang gue gak habis pikir sampai skarang tuh betapa beruntungnya gue waktu itu emang keras kepala buat tinggal bareng dulu, soalnya dia bisa segitu mudahnya menyembunyikan sisi jeleknya dia.

Anyway, balik ke masalah gue sekarang. Pasangan gue tuh beda agama (walaupun masih sama2 warna Kristiani), beda suku bangsa, dan tentu saja beda adat istiadat. Tapi, buat gue justru itu yang bener2 nge-pas ama gue. Ya, adat istiadat orang Timur yang gue selalu diceramahin ortu gue musti diinget2, tapi buat gue tuh gue ambil adat yang "make sense" buat gue, gue ambil yang bagusnya dari adat Timur, dan gue ambil yang bagusnya dari adat Barat. Hanya saja, andaikan ortu gue bisa mengerti!

Pre-marriage cohabitation (tinggal bareng pasangan sebelum menikah) memang secara statistik dibilang meningkatkan resiko perpisahan dan/atau cerai di berbagai pasangan... tapi yang tak diungkap adalah bahwa ketika research itu diambil, orang2 yang tidak berkeinginan/rencana menikah pada awalnya, dan mereka yang menganut cohabitation sebagai alternatif dari pernikahan pun termasuk di statistik tersebut.

Sekarang ini ortu gue bisa dibilang ngambek ama gue gara2 gue tinggal bareng partner gue. Dibilang salah, dibilang buta cinta, kadang gue juga tutup telinga aja deh daripada musti dengerin caci maki. Soalnya jujur aja, keputusan itu pada akhirnya ada di tangan gue, ortu gue telah membesarkan gue untuk jadi anak yang bertanggung jawab dan baik. Tetapi prinsip hidup itu gak bisa dipaksakan ke seseorang. Gue telah memutuskan (sejak gue masih jauh lebih muda dari sekarang) beginilah prinsip hidup gue. Tapi skarang gue dipaksa untuk beralih ke prinsip hidup mereka. Gue dibilangin kurang ajar dan gak tau diri, mereka kecewa sekali karena gue ambil keputusan ini. Nah, gue umur 26, I'm not naive, dan gue pun juga udah melewati berbagai macam rintangan hidup yang sampai sekarang ini kalau gue liat lagi, gue berterimakasih atas kekuatan yang diberikan, soalnya gue yakin tanpa kepercayaan yang kuat kepada yang di atas, belum tentu gue mampu bertahan sampai sekarang ini. Iya, memang gue pun trauma atas beberapa kejadian masa lalu gue, tapi itu gue jadiin pelajaran, yang tentu saja mebuat gue mengatasi situasi2 tertentu dengan cara berbeda dengan apa yang ortu harapkan. Dan terus terang, walaupun punya prinsip berbeda dengan ortu, gue TIDAK AKAN LUPA untuk merawat ortu nantinya.
 
Dude; what makes you are happy,makes you happy!
Karena aku memang bukan type yang tergila-gila dengan sertifikat pernikahan dari instansi pemerintah; ya biasa-biasa saja.
It's your decision and all risk at yours! Soal perasaan sayang dan cinta kita sama keluarga itu lain perkara. saya belum pernah punya masalah dealing dengan hal-hal seperti ini. Kalaupun ada beberapa anggota yang kurang menyukai pilihan yang kita ambil; easy saja. Paling tidak mereka care sama kita. act normal, keep relationship with your parents/family. Keep maintains your relationship with the one your love. jangan khawatir, you're not alone!
 
Itu sih hak asasi manusia mau ngelakuin apa aja yg menurut dia benar. Lgian saudari yg cerita kan sudah cukup dewasa, tp kita hrs bertanggung jawab.....termasuk sama ortu.
 
Itu sih hak asasi manusia mau ngelakuin apa aja yg menurut dia benar. Lgian saudari yg cerita kan sudah cukup dewasa, tp kita hrs bertanggung jawab.....termasuk sama ortu.

agree; every act has its own consequences. For better or worst!
 
kalo cuma tinggal bareng.. serumah.. or somewhere together.. sih, gw gk begitu mempermasalahkan, kok.. tetapi, kalo sudah mengarah untuk melakukan sesuatu yang sama sekali akan sulit dipertanggungjawabkan.. sebaiknya.. itu dijauhi.. karena merugikan kaum perempuan..
 
kalo cuma tinggal bareng.. serumah.. or somewhere together.. sih, gw gk begitu mempermasalahkan, kok.. tetapi, kalo sudah mengarah untuk melakukan sesuatu yang sama sekali akan sulit dipertanggungjawabkan.. sebaiknya.. itu dijauhi.. karena merugikan kaum perempuan..

Umur mereka saya rasa di atas 25 atau menjelang pertengahan 20-an ya? kalau mikir untung rugi apapun ada konsekuensi nya? kenapa cewek harus merasa paling di rugikan dan si cowok paling di untungkan? semestinya tinggal bersama ini kan atas persetujuan kedua belah pihak. Kalau si cewek takut di rugikan, ya jangan mau dong! Apalagi atas nama cinta; bodoh itu namanya!kalaupun kemudian tidak bisa sejalan in the end, ya intropeksi saja, emangnya kalau yang menikah juga tidak ada untung ruginya?
 
Last edited:
meski itu berdasarkan suka sama suka.. ya mending ditahanlah.. menikah kan bisa.. kalo emang pengen gituan.. uda gak tahan..
 
meski itu berdasarkan suka sama suka.. ya mending ditahanlah.. menikah kan bisa.. kalo emang pengen gituan.. uda gak tahan..

Kalina; every human kind has its own right! Ini kan apa yang mereka mau; bukan yang kita suka. Suit buat kita belum tentu suit buat mereka. Konsekuensi kan mengikuti semua pilihan kita sebagai manusia.
Jadi ya sebagai teman; lihat saja. Toh kita, tidak berada di tempat yang membenarkan kita untuk menyampuri kehidupan orang lain.
Apalagi di akhir cerita yang Kalina tulis, dia sudah 26 tahun, telah melalui banyak hal di hidupnya. Yang salah keluarganya dong, kok tidak bisa mempercayai pilihan anaknya.
 
Last edited:
Umur mereka saya rasa di atas 25 atau menjelang pertengahan 20-an ya? kalau mikir untung rugi apapun ada konsekuensi nya? kenapa cewek harus merasa paling di rugikan dan si cowok paling di untungkan? semestinya tinggal bersama ini kan atas persetujuan kedua belah pihak. Kalau si cewek takut di rugikan, ya jangan mau dong! Apalagi atas nama cinta; bodoh itu namanya!kalaupun kemudian tidak bisa sejalan in the end, ya intropeksi saja, emangnya kalau yang menikah juga tidak ada untung ruginya?

setubuhhh.... eh setujuuuu....
emang cowok gak rugi???

wakaakkakakak....
yg namanya perjanjian kan atas dasar kesepakatan dua belah pihak, kalo kedua belah pihak bersepakat..... why not???
 
Kalina; every human kind has its own right! Ini kan apa yang mereka mau; bukan yang kita suka. Suit buat kita belum tentu suit buat mereka. Konsekuensi kan mengikuti semua pilihan kita sebagai manusia.
Jadi ya sebagai teman; lihat saja. Toh kita, tidak berada di tempat yang membenarkan kita untuk menyampuri kehidupan orang lain.
Apalagi di akhir cerita yang Kalina tulis, dia sudah 26 tahun, telah melalui banyak hal di hidupnya. Yang salah keluarganya dong, kok tidak bisa mempercayai pilihan anaknya.

kalo jadi keluarga akan bakalan susah nerima keputusan anaknya yg kayak gini, jadi wajar kalo keluarga gak bakalan stuju....
keluarga punya kewajiban mendidik anaknya, sedangkan anaknya melakukan hal yg "mendekati" dengan zina yg notabene dilarang agama manapun juga.
(anggap aja gak ada hal tersebut di kondisi itu cuma sekedar mendekati zina aja).
 
Yaa, kalo gw c terserah yang ngejalanin, toh segalanya bakalan dipertanggungjawabin berdua kan. Tapi kalo gw c ga mau gt, takut ga kuat nahan, hehehe....
----------------------------------------------------------------------------
Find some digital book and web development..
www.digibookgallery.com
www.citywebindo.com
 
kalo jadi keluarga akan bakalan susah nerima keputusan anaknya yg kayak gini, jadi wajar kalo keluarga gak bakalan stuju....
keluarga punya kewajiban mendidik anaknya, sedangkan anaknya melakukan hal yg "mendekati" dengan zina yg notabene dilarang agama manapun juga.
(anggap aja gak ada hal tersebut di kondisi itu cuma sekedar mendekati zina aja).

Agama di buat kan untuk menyejukkan manusia koq banyak larangan sih? untunglah saya bukan orang yang memeluk agama jadi nggak usah memikirkan hal-hal remeh yang nggak penting
 
Saya juga berpikiran seperti anda. Menurut saya manfaat tinggal satu rumah dengan calon pasangan adalah salah satu cara mencari tahu bagaimana kepribadian calon pasangan. Karena calon pasangan sangat mungkin menyembunyikan kepribadian aslinya.

Anda adalah seorang wanita dan anda dapat berpikiran seperti ini, luar biasa moderat sekali pemikiran anda. Orang tua yang lahir beda jaman tentu saja merasa seolah-olah anda melakukan kumpul kebo dan merasa keberatan.

Saya juga akan meminta calom pasangan saya melakukan hal ini suatu saat nanti. Saya akan beri penjelasan bahwa tujuannya agar saling mengenal dan mengetahui kepribadian masing2, tentu saja TANPA hubungan seksual.

Dengan hidup serumah menurut saya, calon pasangan dapat belajar saling tenggang rasa, dan belajar saling berbagi tanggung jawab mengurus rumah. Sangat penting mengetahui seberapa jauh seberapa jauh calon pasangan dapat saling berbagi tugas mengelola rumah terlebih dahulu sebelum datangnya anak (dari hasil pernikahan).
 
hmm....
tinggal serumah sih tia ga pernah... tapi dulu sebelum menikah, suami tia tiap main kerumah selalu menginap dan pulang di pagi harinya.

memang pasti ada gunjingan sana sini yang mengatakan aku dan calon suamiku tidak benar atau melakukan hal yang tidak-tidak selama dia menginap dirumah, tapi mereka kan hanya melihat diluarnya saja... mereka tidak tau apa-apa yang kami lakukan saat didalam rumah, toh orang tua juga mengizinkan Karena, aku juga tidur terpisah, kadang mengalah tidur di sofa kadang tidur di kamar nyokap.

aku selalu cuek apa kata mereka, toh kami tidak melakukan apapun yang salah menurut agama dan keluarga, mereka mau menuduh tanpa bukti? silahkan...

dan hal itu memang cukup membantu sih, aku jadi bisa mengenal lebih dekat calon, karena memang kami juga jarang banget ketemu, dengan dia menginap aku jadi lebih tau dia kalau sehari-hari bagaimana :)
 
kalo cowoknya yang tinggal / nginep di rumah si cewek, dengan catatan, si cewek masih tinggal bersama ortu sih, gk papa.. :D
Tapi kalo pure cuma berdua.. better not!
 
dulu ak sewa apartemen dan pacar pertamaku hampir tiap akhir pekan nginap d tempatku. Ini berlangsung selama 6 tahun. Kadang juga ayah dan ibunya nginap d tempatku.
 
dulu ak sewa apartemen dan pacar pertamaku hampir tiap akhir pekan nginap d tempatku. Ini berlangsung selama 6 tahun. Kadang juga ayah dan ibunya nginap d tempatku.
sama kaya temen tia yg sekarang tuh den moja, dia biasa nginep di kost cwenya tiap weekend, mereka sih rencana emang mau merried tahun ini, emang sih resikonya lebih besar kalau berduaan aja dalam 1 atap seperti apa yg di khawatirkan non kalin... asal keduanya punya prinsip dan memegang teguh prinsip masing-masing juga pasti aman
 
lebih baik jauhi hal yang berkemungkinan lebih besar untuk bisa melakukan yg enak" itu'tuh sebelum menikah,karna ingatlah jika terjadi jinah "menikahinya pun bukanlah cara menghapus dosa" dosanya tetap ada,,,,
 
lebih baik jauhi hal yang berkemungkinan lebih besar untuk bisa melakukan yg enak" itu'tuh sebelum menikah,karna ingatlah jika terjadi jinah "menikahinya pun bukanlah cara menghapus dosa" dosanya tetap ada,,,,
kaya yang tia bilang tadi sat... asal sama-sama pegang teguh prinsip... pasti hal-hal kaya gitu ga bakal terjadi deh... dan dlu tia juga gitu... untuk lebih enak lagi... bikin komitmen bersama hahaha biar sama-sama enak
 
Back
Top