The Life of Sariputta

singthung

New member
SARIPUTTA

Oleh: Yang Mulia Nyanaponika Thera

SARIPUTTA - Riwayat Hidup Sang Dhamma Senapati


Prolog


Di hampir di semua vihara-vihara yang ada di Sri Lanka, Anda akan menjumpai dua patung bhikkhu di kedua sisi rupang Sang Buddha. Jubahnya terjurai pada salah satu bahu mereka dan berdiri dalam sikap menghormat dengan kedua tangan ber-anjali. Sering pula terdapat sedikit bunga-bunga di kaki kedua patung itu -- yang ditabur oleh beberapa umat yang saleh.

Jika Anda bertanya patung siapakah mereka, Anda akan diberitahu bahwa mereka adalah dua Siswa Utama Sang Buddha, yaitu Arahat Sariputta dan Arahat Maha Moggallana. Patung tersebut berdiri dalam posisi sama sebagaimana dahulu ketika mereka melayani Sang Buddha. Sariputta di sebelah kanan, sedangkan Maha Moggallana di sebelah kiriNya.

Ketika stupa besar Sanchi dibuka pada pertengahan abad ke-20, sebuah ruang relik ditemukan beserta dengan dua kotak batu didalamnya. Kotak yang berada di sebelah utara berisi relik Arahat Maha Moggallana, sedangkan kotak lainnya yang berada di sisi selatan berisi relik Arahat Sariputta.

Demikianlah relik-relik itu berada disana: ketika abad-abad terus bergulir dan sejarah selama dua ribuan tahun lebih sudah mementaskan drama tentang ketidakpermanenan dalam kehidupan manusia ... Kekaisaran Romawi bangkit dan runtuh, kejayaan Yunani Kuno kini tinggal kenangan masa lampau, agama-agama baru muncul dan menorehkan namanya - acapkali dengan darah dan api - pada muka bumi yang terus berubah, untuk kemudian akhirnya cuma bersisa campur dengan legenda-legenda Thebes dan Babylon. Dan, secara bertahap gelombang dunia perniagaan telah menggeser pusat-pusat peradaban dari belahan bumi Timur ke Barat, sementara generasi-generasi yang tidak pernah mendengar Ajaran Buddha pun lahir dan kemudian meninggal.

Walau selama itu pula relik kedua orang suci tersebut berbaring tak terusik, terlupakan justru di tanah tempat mereka dilahirkan, namun kenangan tentang mereka tetap erat diingat dimanapun ajaran Sang Buddha menyebar. Kisah kehidupan mereka pun diwariskan dari generasi ke generasi. Mulanya dengan kata-kata dari mulut ke mulut, dan belakangan kemudian dituliskan pada lembar-lembar Kitab Tripitaka Buddhis - kitab paling tebal dan sekaligus paling detail dari semua kitab agama-agama yang ada di dunia.

Selain Sang Buddha sendiri, kedua Siswa Utama inilah yang menerima penghormatan tertinggi dari umat Buddha di negeri-negeri Theravada. Nama mereka tak dapat dipisahkan dari sejarah Buddhisme, sama halnya seperti Sang Buddha sendiri. Walau mungkin saja selama kurun waktu yang panjang ini terdapat kisah-kisah yang telah disisipkan dalam kehidupan suci mereka, ini merupakan suatu hal yang wajar sebagai konsekuensi dari bakti serta penghormatan yang ditujukan kepada mereka.

Dan penghormatan tinggi itu dapat dibenarkan sepenuhnya. Karena tidak banyak guru-guru agama yang telah dilayani dengan sangat erat oleh murid-langsungnya sebagaimana yang dilakukan oleh kedua siswa tersebut kepada Sang Buddha. Dalam buku ini Anda akan membaca kisah salah satu dari dua Siswa Utama Sang Buddha, yaitu Arahat Sariputta; yang berada pada urutan kedua setelah Sang Buddha dalam hal kedalaman dan jangkauan pemahamannya dan dalam hal keahliannya mengajarkan Ajaran Pembebasan.

Dalam Kitab Suci Tripitaka tidak terdapat uraian tersendiri tentang riwayat hidup Sariputta, akan tetapi alur kehidupannya dapat ditemukan dalam penggalan-penggalan dari berbagai macam peristiwa, yang terpencar dalam kitab-kitab suci Buddhis serta ulasan-ulasannya. Beberapa naskah menguraikan secara panjang lebar tak hanya sekedar sebagai hal yang kebetulan, karena kisah hidup Sariputta memang terkait begitu erat dengan kehidupan suci Sang Buddha dimana Sariputta memainkan peranan penting; dan bahkan dalam beberapa kesempatan Sariputta sendirilah yang mengambil alih peran kepemimpinan - entah itu sebagai pembimbing dan tauladan yang terlatih, sebagai teman yang baik dan penuh perhatian, sebagai pelindung kesejahteraan para bhikkhu binaannya, maupun sebagai penjaga Ajaran Sang Buddha yang setia.

Peranan inilah yang membuatnya dijuluki sebagai Dhamma-Senapati - Sang Panglima Dhamma - dan sebagaimana dia yang biasanya, yakni seorang manusia unggul dalam hal kesabaran dan kesetiaan, kesederhanaan dan kelurusan pikiran, ucapan dan perbuatan jasmani, seorang manusia yang memperlakukan kebaikan sebagai hal yang penting untuk diingat dengan penghargaan sepanjang kehidupan berlangsung. Bahkan di antara para Arahat(1), Sariputta bersinar bagai bulan purnama di tengah langit malam yang penuh bintang.

Dialah manusia - yang dalam tingkat intelektualitas dan keluhuran budinya, seorang siswa sejati Sang Buddha yang kisahnya telah diwariskan - demi memberi manfaat sepenuhnya bagi potensi pencapaian kita, dikisahkan dalam lembar-lembar berikut.

Bila para pembaca yang terhormat dapat menemukan kualitas-kualitas manusia sempurna dari tulisan yang tidak sempurna ini, kualitas dimana seseorang mampu terbebas sepenuhnya dan mendaki ke tingkatan tertinggi yang dapat dicapai manusia; tentang bagaimana beliau bertindak, berucap dan membawakan dirinya kepada pengikutnya.

Apabila kiranya bacaan ini bisa memberikan Anda: suatu kekuatan dan keyakinan tentang sejauh mana kualitas yang dapat dicapai seorang manusia, maka barulah karya ini dapat dikatakan sebagai bermanfaat, - sepadanlah sudah.

 
Bagian I

Semenjak Kelahiran Hingga Pencapaian Ke-Arahat-an


Kisah ini berawal dari dua desa penganut brahmanisme di India dua ribu limaratusan tahun yang lalu, yaitu Desa Upatissa dan Desa Kolita yang berada tak jauh dari kota Rajagaha.

Sebelum Sang Buddha muncul di dunia, seorang wanita brahmana bernama Sari di desa Upatissa(2) sedang mengandung, dan pada hari yang sama di desa Kolita seorang wanita brahmana lainnya yang bernama Moggalli juga mengandung. Dua keluarga ini bersahabat erat selama 7 generasi. Sejak hari pertama masa kehamilan mereka, seluruh anggota keluarga telah mencurahkan perhatian lebih kepada si calon ibu, dan setelah 10 bulan mengandung kedua wanita tersebut melahirkan anak laki-laki pada hari yang sama pula. Si bayi, putra wanita brahmana Sari diberi nama Upatissa karena dia merupakan seorang putra terpandang di desa itu; dan dengan alasan yang sama pula putra Moggalli diberi nama Kolita.

Ketika kedua bocah laki-laki itu beranjak dewasa, mereka dididik dan akhirnya menguasai semua ilmu sains. Masing-masing dari mereka kemudian memiliki pengikut sebanyak 500 brahmana pemula. Ketika mereka pergi ke sungai atau taman untuk berolahraga dan rekreasi, Upatissa sering kali pergi dengan iringan 500 tandu, sedangkan Kolita dengan 500 kereta kuda.

Pada suatu ketika di Rajagaha sedang berlangsung perayaan tahunan yang disebut Festival Puncak Bukit. Tempat duduk disediakan untuk kedua pemuda itu dan mereka pun duduk bersama-sama menikmati suasana perayaan. Ketika ada yang lucu, mereka tertawa tergelak; ketika tontonannya memikat, mereka pun ikut tegang dan bergairah. Mereka lalu membayar lagi untuk pertunjukan ekstra. Dengan cara yang sama mereka menikmati festival hari kedua ...

Pada hari ketiga timbul suatu insight pada batin mereka: mereka tiada lagi tertawa, tiada lagi terpesona dengan pertunjukan festival tersebut, tidak juga mereka merasa berminat untuk membayar lagi pertunjukan ekstra seperti yang telah mereka lakukan pada hari-hari sebelumnya. Timbul pemikiran yang sama pada masing-masing diri mereka:

"Apa lagi yang perlu dilihat disini? Sebelum orang-orang ini mencapai usia seratus tahun, mereka semua toh bakal mati. Mestinya apa yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari Ajaran Pembebasan."

Inilah pemikiran yang muncul dalam benak mereka ketika sedang duduk menyaksikan jalannya festival. Kolita kemudian berkata kepada Upatissa:

"Bagaimana menurutmu, sahabatku Upatissa? Kamu nampak tidak segembira seperti kemarin. Kamu kelihatan dalam suasana hati yang tidak puas. Apa yang ada dalam pikiranmu?"

"Sahabatku Kolita, saya melihat apa yang terjadi disini sungguh tidak membawa manfaat. Sia-sia! Saya berpikir untuk mulai mencari sebuah Ajaran tentang Pembebasan Diri. Itulah, sahabatku Kolita, apa yang sedang kupikirkan sembari duduk disini. Tapi kamu, Kolita, juga terlihat tidak puas."

Dan Kolita menjawab:

"Sama seperti yang telah kamu ucapkan, saya juga merasakannya."

Ketika Upatissa tahu bahwa temannya juga berkehendak sama dengannya, maka Upatissa berkata:

"Itu merupakan pemikiran yang baik dari kita. Hanya terdapat satu hal yang harus dilakukan oleh mereka yang bertekad untuk mencari Ajaran Pembebasan yaitu pergi meninggalkan rumah dan menjadi pertapa. Tetapi dibawah bimbingan siapa kita akan menjalankan kehidupan pertapaan?"

Pada waktu itu, hiduplah seorang pertapa dari aliran Pengelana (Paribbajaka) di Rajagaha. Namanya Sanjaya dan dia memiliki jumlah pengikut yang lumayan besar. Mereka memutuskan untuk mendapat penahbisan dibawah Sanjaya. Upatissa dan Kolita pergi ke Rajagaha, masing-masing dengan membawa 500 brahmana pemula pengikut mereka dan kesemuanya mendapat penahbisan. Dan semenjak penahbisan mereka itulah reputasi dan dukungan terhadap Sanjaya meningkat tajam.

Dalam waktu singkat kedua sahabat tersebut telah mempelajari semua ajaran Sanjaya dan mereka pun bertanya kepada dia:

" Guru, apakah ajaranmu hanya sebatas ini, atau masih adakah ajaran yang lebih tinggi?"

Sanjaya menjawab: "Hanya sebatas inilah. Kalian telah menguasai semuanya."

Mendengar hal ini, mereka berpikir dalam diri mereka sendiri:

"Bila memang demikian, maka sia-sialah berusaha meneruskan Kehidupan Suci dibawah bimbingan dia. Kami meninggalkan rumah untuk mencari sebuah ajaran tentang pembebasan. Di bawah bimbingannya kami tidak akan menemukannya. Tapi India sangatlah luas. Bila kami pergi mengembara dari desa ke desa dan dari kota ke kota, kami pasti akhirnya akan menemukan seorang guru yang dapat menunjukkan ajaran tentang pembebasan."

Setelah bertekad demikian, dimanapun mereka mendengar bahwa di suatu tempat terdapat pertapa-pertapa suci atau mungkin brahmana-brahmana bijaksana, mereka pergi mengunjungi para pertapa dan brahmana tersebut untuk kemudian berdiskusi dengan mereka. Namun sayangnya tidak ada seorang pertapa ataupun brahmana yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kedua sahabat itu, padahal mereka mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada mereka.

Setelah mengembara ke seluruh daratan India, mereka kembali dan sampai di tempat dulu. Kemudian mereka saling sepakat bahwa siapapun diantara mereka yang terlebih dahulu mencapai Keadaan Tanpa Kematian haruslah memberitahukan kepada yang lain jalan menuju keadaan tersebut. Ini merupakan perjanjian persaudaraan yang lahir dari persahabatan mendalam antara kedua pemuda itu.

Beberapa waktu setelah mereka membuat perjanjian itu, Yang Tercerahkan - Sang Buddha, datang berkunjung ke Rajagaha. Saat Beliau membabarkan Khotbah Api di Puncak Gaya, Beliau teringat dengan apa yang telah dijanjikanNya sebelum mencapai Penerangan Sempurna kepada Raja Bimbisara: bahwa Beliau akan datang mengunjungi Rajagaha setelah berhasil mencapai cita-citaNya. Dengan demikian Sang Buddha pergi dari Gaya menuju Rajagaha dan sesampainya disana Beliau menerima persembahan Raja Bimbisara berupa Vihāra Hutan Bambu (Veluvana) tempat Beliau kemudian berdiam selama berada di Rajagaha.

Diantara 61 Arahat yang telah diutus oleh Sang Buddha untuk menyebarluaskan kemuliaan Tiga Mustika kepada dunia, terdapat Āyasmā(3) Assaji - salah satu dari lima pertapa yang dulunya menemani Sang Buddha sebelum mencapai Penerangan Sempurna dan sekaligus merupakan kelompok murid Sang Buddha yang pertama. Āyasmā Assaji kembali ke Rajagaha dari pengembaraannya dan pada suatu pagi ketika beliau pergi berpindapatta(4) di kota, Upatissa yang sedang menuju kuil pertapa kelana melihatnya. Terpukau pada keagungan dan ketenangan Y.A. Assaji, Upatissa berpikir:

"Belum pernah sebelumnya saya melihat seorang bhikkhu seperti dia. Dia pastilah salah satu dari mereka yang telah menjadi Arahat, atau setidaknya berada dalam jalan menuju ke-Arahat-an. Haruskah aku menemuinya dan bertanya: "Di bawah bimbingan siapa Anda ditahbiskan? Siapakah Guru Anda dan Ajaran siapakah yang Anda ikuti?"

Tapi kemudian Upatissa berpikir: "Ini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya kepada bhikkhu mulia tersebut, saat dia sedang berpindapatta sepanjang jalan. Lebih baik saya mengikutinya dari belakang, bersikap sopan sebagai pemohon" Dan ia pun bertindak demikian.

Setelah Āyasmā Assaji selesai berpindapatta dan Upatissa melihat beliau melangkah hendak mencari tempat buat duduk dan bersantap, dia menyediakan tempat duduk yang dibawanya dan mempersembahkannya kepada Āyasmā Assaji. Āyasmā Assaji mulai menyantap makanannya. Kemudian Upatissa menyediakan air dari kantong air miliknya sendiri. Dan begitulah ia melayani Āyasmā Assaji sebagaimana tugas seorang murid kepada gurunya.

Sesudah mereka saling mengucapkan salam dengan sopan, Upatissa berkata: "Tuan, pembawaan Anda luar biasa. Wajah Anda bersih dan terang sekali. Di bawah bimbingan siapakah Anda menjalankan kehidupan suci sebagai seorang pertapa? Siapakah guru Anda dan Ajaran apakah yang Anda ikuti?"

Āyasmā Assaji menjawab: "Saudara, dengan menjalankan kehidupan suci ini saya mengabdi kepada seorang pertapa agung dari suku Sakya, yang telah pergi meninggalkan kaumnya untuk menjadi bhikkhu. Di bawah bimbinganNyalah saya berlindung. Pertapa Agung itu guruku dan AjaranNyalah yang saya ikuti."

"Apakah yang diajarkan oleh Guru Anda, apa yang beliau nyatakan?"

Mendapat pertanyaan seperti itu, Āyasmā Assaji berpikir dalam hati: "Pertapa kelana ini sedang menguji Jalan Sang Buddha. Aku akan menunjukan padanya betapa mulia jalan ini." Jadi beliau berkata:

"Saya seorang pendatang baru, Saudara. Belum lama saya ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu sehingga saya tidak dapat menjelaskan Ajaran mulia ini secara terperinci kepadamu."

Sang Pengelana itu pun membalas: "Saya bernama Upatissa, Saudara. Tolong beritahukan Ajaran itu pada saya semampu Anda, baik itu banyak ataupun sedikit. Biarlah menjadi tugas saya untuk memahami makna yang terkandung didalamnya, dengan ratusan atau bahkan ribuan cara."

Dan dia menambahkan:

"Entah itu banyak ataupun sedikit yang dapat Anda beritahukan,

Walau hanya garis besarnya, katakanlah padaku!

Untuk mengetahui inti sari Ajaran adalah satu-satunya hasrat saya;

Kata-kata lain tidak dapat membantu apa-apa."

Menanggapi hal itu, Āyasmā Assaji kemudian mengucapkan syair berikut ini:

"Dari semua hal yang timbul karena suatu "sebab",

"Sebabnya" telah diberitahukan oleh Tathagata;

Dan juga lenyapnya mereka, itu juga yang Dia ajarkan,

Inilah Ajaran Sang Pertapa Agung."(5)

Mendengar dua kalimat pertama, Upatissa seketika memasuki jalan seorang pemasuk arus; dan sampai akhir dua kalimat terakhir dia telah berhasil menjadi seorang Sotapanna- pemenang arus.

Ketika dia menjadi seorang pemenang arus dan sebelum dia mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi, dia berpikir: "Disinilah makna pembebasan dapat ditemukan!" Kemudian dia berkata kepada Āyasmā Assaji: "Tidak perlu lagi Anda memberikan penjelasan yang lebih rinci tentang Dhamma ini, Āyasmā. Ini sudah cukup bagiku. Dimanakah Guru kita berdiam?"

"Di Vihāra Hutan Bambu, pengembara."

"Bila demikian, silakan Anda melanjutkan perjalanan Anda, Āyasmā. Saya mempunyai seorang sahabat yang dengannya kami telah saling berjanji, siapa yang terlebih dahulu berhasil untuk mencapai Keadaan Terbebaskan, harus memberitahukan yang lain. Saya musti memberitahukannya dan bersama-sama kami akan mengikuti jalan yang Anda tapaki dan menemui Sang Guru." Upatissa kemudian bersujud dibawah kaki Āyasmā Assaji, memberi hormat dan mengantar kepergian Sang Sesepuh, sebelum akhirnya pulang menuju taman tempat berkumpulnya para Pertapa Kelana.

Kolita melihat Upatissa datang mendekat dan berpikir: "Hari ini penampilan sahabatku sedikit berubah. Pastilah dia telah menemukan Keadaan Tanpa Kematian."

Dan ketika dia bertanya kepada Upatissa tentang hal itu, Upatissa menjawab: "Benar, Sahabatku, Keadaan Tanpa Kematian telah ditemukan!" Dan dia mengulangi syair yang telah didengarnya kepada Kolita. Di akhir syair, Kolita memperoleh hasil seorang pemasuk arus dan dia bertanya:

"Dimana, Saudaraku, tempat Sang Guru berdiam?"

"Aku diberitahu oleh guru kita, Āyasmā Assaji, bahwa Beliau berdiam di Vihāra Hutan Bambu."

"Bila demikian, mari kita pergi Upatissa, dan menemui Sang Guru," ujar Kolita.

Tetapi Sariputta adalah seseorang yang selalu penuh rasa hormat kepada guru-gurunya, dan dia berkata kepada sahabatnya:

"Yang harus kita lakukan pertama, Saudaraku, adalah pergi ke tempat guru kita, Pertapa Kelana Sanjaya dan mengatakan padanya bahwa kita telah menemukan Keadaan Tanpa Kematian. Bila dia dapat memahami Dhamma ini, dia akan menembus Kebenaran. Dan bahkan bila dia tidak mampu memahaminya, biarlah dia datang bersama dengan kita untuk menemui Sang Bhagava dan mendengar Ajaran Sang Buddha. Dengan demikian dia mungkin akan mencapai Kesucian."

Demikianlah kedua pemuda itu pergi menemui Sanjaya dan berkata:

"Oh, guru kami! Apa yang sedang Anda lakukan! Seorang Buddha telah muncul di dunia! AjaranNya begitu mulia dan dalam tindakan benar hiduplah perkumpulan bhikkhu-bhikkhuNya. Mari kita pergi dan melihat Sang Guru Pemilik Sepuluh Kekuatan!"

"Apa yang sedang kamu katakan, anakku?" Sanjaya berseru. Menolak pergi bersama kedua muridnya dia mencoba berbicara kepada mereka tentang keuntungan serta popularitas yang dapat mereka nikmati bila mereka mau berbagi tempat dengannya, sebagai seorang guru.

Tapi kedua pemuda itu berkata:

"Oh, kami sendiri tidak risau untuk terus menjadi seorang murid! Tapi Anda, O guru, Anda harus memutuskan untuk pergi atau tidak bersama kami!"

Sanjaya kemudian berpikir: "Mereka memang sudah tahu banyak, mereka tidak akan mendengar apa yang aku katakan." Dan menyadari hal tersebut, dia membalas: "Kalian boleh pergi, tapi aku tidak."

"Mengapa tidak, guru?"

"Aku seorang guru dari sekian banyak murid! Jika aku kembali menjadi seorang murid, hal itu bagaikan memaksakan setangki besar penuh air diubah menjadi kendi kecil. Sekarang aku tidak bisa lagi menjalani hidup sebagai seorang murid."

"Jangan berpikiran seperti itu, O guru!" mereka memaksa.

"Biarlah demikian, anakku. Kalian boleh pergi, tapi aku tidak."

"Oh guru! Saat dimana seorang Buddha muncul di dunia, orang berduyun-duyun datang kepadanya dan memberikan penghormatan sambil membawa dupa dan bunga. Kami juga akan pergi menemuiNya. Dan kemudian apa yang akan terjadi padamu?"

Mendengar hal itu, Sanjaya membalas: "Bagaimana menurut kalian, murid-muridku: manakah yang lebih banyak: orang bodoh di dunia ini, atau orang bijaksana?"

"Orang bodoh lebih banyak, guru, sedangkan orang bijaksana hanya sedikit."

"Bila memang demikian, temanku, maka biarlah mereka yang bijaksana pergi ke tempat Sang Pertapa Agung Gotama, dan biarlah mereka yang bodoh datang kepadaku, si dungu ini. Kalian boleh pergi sekarang, tapi aku tidak akan."

Maka kedua pemuda itu pergi sambil berkata: "Anda akan menyadari kesalahan yang Anda perbuat, O guru!" Dan setelah mereka pergi terjadi perpecahan diantara murid-murid Sanjaya menyebabkan kuilnya hampir kosong. Melihat kuilnya menjadi kosong, Sanjaya muntah darah. Lima ratus muridnya pergi bersama Upatissa dan Kolita. -- Belakangan dua ratus lima puluh diantaranya kembali ke tempat Sanjaya. Bersama dengan sisa dua ratus lima puluh pertapa lainnya dan ditambah pengikut mereka sendiri, kedua sahabat itu sampai di Vihāra Hutan Bambu.

Disana Sang Buddha duduk diantara empat penjuru(6) sedang membabarkan Dhamma, dan ketika Yang Terbekahi melihat kedatangan kedua pemuda itu Beliau berkata kepada bhikkhu-bhikkhuNya:

"Inilah dua orang sahabat baik, Upatissa dan Kolita, mereka adalah pendatang baru dan akan menjadi dua siswaku yang cemerlang."

Datang mendekat, teman-teman baru itu memberi hormat kepada Sang Buddha dan duduk di salah satu sisi. Ketika mereka duduk di salah satu sisi, mereka berkata kepada Sang Buddha:

"Bolehkah kami, O Sang Bhagava, bergabung ditahbiskan menjadi bhikkhu di bawah perlindungan Anda Yang Tercerahkan. Bolehkah kami memperoleh penahbisan penuh?!"

Dan Sang Buddha berkata: "Datanglah, O bhikkhu! Ajaran Dhamma begitu mulia. Sekarang jalanilah Kehidupan Suci demi mengakhiri penderitaan!" Demikianlah mereka mendapatkan penahbisan dari Sang Buddha.

Kemudian Sang Bhagava meneruskan khotbahnya sambil mempertimbangkan karakter(7) masing-masing pendengarnya; dan kesemuanya kecuali dua siswa utama Beliau, mencapai tingkat kesucian tertinggi - Arahat. Kedua siswa utama Sang Buddha belum mencapai tiga tingkat kesucian diatasnya. Alasannya adalah mengenai perihal "kebijaksanaan yang tumbuh dari pahala sebagai seorang siswa" (savakaparami-nana) yang masih harus mereka kembangkan.

Upatissa menerima nama penahbisan Sariputta, sedangkan Kolita menerima nama Maha Moggallana.

Pada suatu ketika Y.A. Maha Moggallana berdiam di suatu desa di Magadha bernama Kallavala, desa dimana dia biasa berpindapatta. Pada hari ketujuh sejak penahbisannya, dia sedang bermeditasi. Saat itu kelelahan dan kemalasan menguasai dirinya. Tapi berkat dorongan Sang Buddha(8), dia berhasil melenyapkan kelelahannya dan pada saat mendengarkan Sang Buddha menguraikan topik meditasi tentang elemen-elemen (dhatu-kammatthana), Moggallana akhirnya berhasil menuntaskan tugas memenangkan tiga tingkat kesucian dan mencapai puncak kesempurnaan latihan seorang siswa (savaka-parami).

Y.A. Sariputta tetap tinggal bersama Sang Buddha di sebuah gua yang disebut Gua Naungan Babi Hutan (Sukarakhata-lena) sambil berpindapatta di kota Rajagaha. Setengah bulan setelah masa penahbisan Y.A. Sariputta, Sang Buddha memberikan sebuah wejangan Dhamma tentang pemahaman perasaan(9) kepada kemenakan Y.A. Sariputta, yaitu

Dighanakha si pertapa pengembara. Y.A. Sariputta berdiri di belakang Sang Buddha, mengipasi beliau. Selagi menyimak jalannya khotbah Sang Buddha, tatkala berbagi kudapan yang disiapkan bagi yang lain, pada waktu itulah Y. A. Sariputta berhasil mencapai puncak pengetahuan menguasai kesempurnaan latihan seorang siswa dan mencapai ke-Arahat-an bersamaan dengan dicapai 4 pengetahuan analitis (patisambhida-naana)(10). Sedangkan kemenakannya, di akhir khotbah, berhasil memperoleh hasil seorang Pemasuk Arus.(11)

Sekarang kita dapat mempertanyakan: Apakah Y.A. Sariputta kurang memiliki kebijaksanaan yang cukup untuk memahami Dhamma? Mengapa dia mencapai kesempurnaan seorang siswa lebih lambat daripada Y.A. Maha Moggallana? Jawabannya adalah karena besarnya keagungan persiapan yang dibutuhkan baginya. Ketika seorang miskin hendak pergi ke suatu tempat, mereka bisa langsung berangkat begitu saja. Tetapi bilamana para raja hendak berpergian, butuh lebih banyak persiapan yang diperlukan; misalnya: harus menyiapkan gajah-gajah dan kereta-kereta kuda dan lain sebagainya. Begitulah alasannya.

Pada hari yang sama ketika bayang-bayang senja telah menyelimuti langit, Sang Buddha mengumpulkan murid-muridNya dan memberikan berkat kepada kedua sahabat yaitu Sariputta dan Moggallana sebagai Siswa Utama. Pada saat itu, ada beberapa bhikkhu yang merasa tidak puas dan berbicara diantara mereka sendiri:

"Sang Bhagava seharusnya memberikan posisi Siswa Utama kepada mereka yang tergolong kelompok siswa yang pertama kali menyatakan perlindungan pada Sang Bhagava, yaitu kelompok lima bhikkhu pertama(12). Jika tidak, maka seharusnya diberikan kepada kelompok 250 bhikkhu yang dipimpin oleh Yasa, atau kepada kelompok Bhadavaggiya, atau mungkin kepada tiga Kassapa bersaudara. Namun dengan melewati para Sesepuh, Sang Bhagava memberikan posisi tersebut kepada mereka yang penahbisannya tergolong paling akhir diantara lainnya."

Sang Buddha menanyakan tentang apa yang dibicarakan oleh kelompok bhikkhu tersebut. Ketika Beliau dijawab, Beliau lalu berkata:

"Aku tidak pilih kasih, akan tetapi sekedar memberikan sesuai dengan aspirasi mereka masing-masing. Ketika, sebagai gambaran untuk kalian ketahui, Kondanna - Yang Telah Mengerti - dalam kehidupan sebelumnya memberikan dana makanan sembilan kali selama masa panen. Dia tidak bercita-cita untuk menjadi Siswa Utama, aspirasinya adalah untuk menjadi yang paling pertama kali mencapai tingkat kesucian tertinggi - Arahat. Dan jadilah demikian. Tapi ketika Sariputta dan Moggallana pada suatu masa berabad-abad lalu, pada masa hidup Buddha Anomadassi, terlahir sebagai seorang brahmana muda Sarada dan tuan tanah Sirivaddhaka. Mereka membuat suatu tekad untuk menjadi Siswa Utama. Inilah, O bhikkhu, aspirasi yang dicita-citakan oleh anak-anakKu tersebut di masa lampau. Karena itulah aku memberikan apa yang menjadi aspirasi mereka, dan bukan melakukannya sekedar oleh pilih kasih (preferensi)."

Kisah tentang awal mula perjalanan hidup Y.A. Sariputta ini diambil dari uraian Angutara Nikaya, kelompok Etas-agga, dan dengan beberapa cerita diambil dari dalam versi yang juga paralel di Dhammapada. Dalam uraian tersebut beberapa pembawaan dari karakter Y.A. Sariputta sudah terlihat dengan jelas. Kapasitasnya akan persahabatan yang mendalam dan lestari telah terlihat sejak dia masih menjadi umat awam, sebagai seorang pemuda yang tumbuh dan dibesarkan dalam kemewahan dan kenikmatan, dan tetap bertahan hingga tatkala ia meninggalkan kehidupan duniawi. Saat menerima pengetahuan Dhamma untuk pertama kalinya, dan sebelum melangkah lebih lanjut, pikiran pertamanya ditujukan kepada Kolita sahabat baiknya dan sumpah yang telah mereka ucapkan bersama. Ketajaman intelektualnya terlihat dalam ketangkasannya untuk seketika memahami inti sari Ajaran Buddha sekedar dari beberapa kalimat pendek sederhana. Dan yang lebih unik, dia menggabungkan kemampuan intelektualnya dengan kerendahan hati serta sifat baiknya yang dipancarkan ketika memberikan penghargaan dan penghormatan kepada siapapun, bahkan kepada Sanjaya yang tersesat, yang pernah mengajarkannya beberapa hal yang bermanfaat. Tidaklah mengherankan juga bila kemudian di sepanjang hidupnya Y.A. Sariputta terus menunjukkan penghormatan kepada Y.A. Assaji yang telah memperkenalkannya dengan Ajaran Buddha. Kita dapat menemukannya dalam uraian Nava Sutta (Sutta Nipata) dan juga dalam uraian syair Dhammapada 392; bahwa dimanapun Y.A. Sariputta menetap di vihāra yang sama dengan Y.A Assaji, beliau selalu memberikan penghormatan kepadanya segera setelah menghormat Sang Buddha. Selama melakukan penghormatan ini, dia berpikir:

"Y.A. Assaji adalah guru pertamaku. Oleh dialah aku mengenal Jalan ke-Buddha-an." Dan ketika Ayāsma Assaji tinggal di vihāra lain, Y.A. Sariputta selalu menghormat ke arah dimana
Ayāsma Assaji menetap. Beliau melakukannya dengan cara lima titik menyentuh bumi (kepala, kedua tangan, dan kedua kaki) dan bersikap anjali.

Akan tetapi hal ini menyebabkan salah pengertian. Ketika bhikkhu-bhikkhu lain melihatnya melakukan hal ini mereka berkata:

"Setelah menjadi seorang Siswa Utama, Sariputta tetap menyembah makhluk surgawi! Bahkan hingga hari ini dia tampaknya belum dapat meninggalkan pandangan brahmanismenya!"

Mendengar ucapan-ucapan seperti itu, Sang Buddha berkata:

"Bukan demikian para bhikkhu. Sariputta tidak menyembah makhluk surgawi. Dia menghormati seseorang yang telah mempertemukannya dengan Dhamma. Kepadanyalah dia menghormat, menyembah dan memuja sebagai gurunya. Sariputta adalah seseorang yang memberikan penghormatan tulus kepada gurunya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan Nava Sutta(13) kepada para bhikkhu yang sedang berkumpul, yang diawali dengan syair berikut:

"Seperti para dewa memberikan penghormatan kepada Indra,

Demikian pula hendaknya seseorang memberikan penghormatan kepada dia

Yang telah mempertemukannya dengan Dhamma."

Contoh lain dari sikap penghormatan tulus Y.A. Sariputta diceritakan dalam kisah Radha Thera. Uraian syair Dhammapada 76 ini mengisahkan bahwa pada suatu ketika di Savatthi seorang brahmana miskin tinggal di sebuah vihāra. Ia melakukan beberapa pelayanan seperti menyiangi, menyapu, dan semacamnya; sedangkan para bhikkhu membalasnya dengan cara menyediakan makanan. Tidak ada seorang bhikkhu pun yang bersedia menahbiskannya. Suatu hari, ketika Sang Buddha sedang mengamati dunia, Beliau melihat brahmana itu mempunyai kesempatan untuk mencapai tingkat kesucian Arahat. Sang Buddha kemudian menanyakan kepada pesamuan bhikkhu: apakah ada diantara mereka yang mengingat telah menerima kebaikan yang dilakukan brahmana miskin tersebut. Y.A. Sariputta berkata bahwa dia mengingat satu peristiwa, ketika dia pergi berpindapatta di Rajagaha, brahmana miskin ini telah memberikannya sesendok penuh nasi yang dia pinta bagi dirinya sendiri. Sang Bhagava kemudian bertanya apakah Sariputta bersedia menahbiskannya, dan akhirnya dia diberi nama Radha. Y.A. Sariputta kemudian membimbing bhikkhu itu secara terus-menerus sedangkan Radha selalu mengikuti arahan Y.A. Sariputta dengan sungguh-sungguh tanpa kekesalan. Dan dengan hidup berdasarkan nasehat Arahat Sariputta, Radha akhirnya berhasil mencapai tingkat kesucian tertinggi dalam waktu yang singkat.

Kali ini para bhikkhu memuji sikap tahu berterimakasih Y.A. Sariputta yang begitu tulus dan berkata bahwa mereka yang dengan tulus bersedia menjalankan nasehat akan memperoleh murid-murid yang akan pula melakukan hal sama pula. Mengulas kejadian ini, Sang Buddha berkata bahwa tidak hanya itu, tapi juga dahulunya Sariputta telah menunjukkan rasa tahu berterimakasih dan mengingat setiap hal baik yang pernah diberikan kepadanya. Sehubungan dengan hal ini, Sang Buddha menceritakan Alinacitta Jataka, kisah tentang seekor gajah yang tahu rasa terima kasih.(14)

 
Bagian II

Matangnya Kebijaksanaan

Persahabatan​


Bila Sariputta dikenal dengan rasa syukur dan terima kasihnya yang tulus, demikian pula dengan rasa persahabatannya. Bersama Maha Moggallana sahabatnya, beliau memelihara suatu persahabatan yang erat dan banyak perbincangan yang mereka lakukan seputar Dhamma. Salah satunya adalah perhatian khusus yang diberikan oleh Arahat Maha Moggallana dalam proses pencapaian tingkat kesucian Y.A. Sariputta, tertulis dalam Anguttara Nikaya, Catukka-nipata, no. 167. Uraian ini mengulas perbincangan mereka berdua ketika Y.A. Maha Moggallana pergi mengunjungi Y.A. Sariputta dan berkata padanya:

"Terdapat 4 jenis perkembangan, saudaraku Sariputta:

- Perkembangan yang sulit, dengan pengetahuan-langsung yang lamban;
- Perkembangan yang sulit, dengan pengetahuan-langsung yang tangkas;
- Perkembangan yang mudah, dengan pengetahuan-langsung yang lamban;
- Perkembangan yang mudah, dengan pengetahuan-langsung yang tangkas.

Yang mana dari keempat cara perkembangan inilah, Saudaraku, pikiranmu terbebas dari kekotoran tanpa ada bekas-bekas yang melekat?"

Y.A. Sariputta menjawab:

"Dari keempat cara perkembangan itu, Saudaraku, adalah yang mudah dan memiliki pengetahuan langsung yang tangkas."

Penjelasan dari baris-baris tersebut adalah: bahwa apabila penekanan (suppression) terhadap kekotoran-kekotoran batin dalam persiapan menuju jhana atau vipassana berjalan dengantanpa kesulitan, progres ini disebut "mudah" (sukha-patipada). Apabila sebaliknya, maka hal itu disebut "sulit" atau "menyakitkan" (dukkha-patipada).

Bila setelah penekanan terhadap kekotoran-kekotoran batin tersebut manifestasi dari Sang Jalan - tujuan utama dari vipassana, dengan cepat berbuah, maka pengetahuan-langsung (berkaitan dengan Sang Jalan) semacam itu disebut "tangkas" (khippabhinna). Apabila sebaliknya, maka akan "lamban" (dandabhinna). Dalam perbincangan ini, pernyataan Y.A. Sariputta mengacu pada pencapaian ke-Arahat-annya. Pencapaiannya terhadap tiga tingkatan pertama, bagaimanapun, sesuai dengan uraian dari naskah diatas, adalah merupakan "perkembangan mudah dan pengetahuan-langsung yang lamban."

Dengan cara seperti inilah kedua sahabat itu saling menukar informasi perihal pengalaman dan pemahaman terhadap Dhamma. Mereka juga sering berhubungan dalam hal mengelola urusan-urusan Sangha. Seperti pada suatu peristiwa, ketika mereka bersatu untuk mengajak kembali beberapa bhikkhu yang disesatkan oleh Devadatta. Ada suatu kisah yang menarik(15) tentang peristiwa ini yang menunjukkan pujian Y.A. Sariputta terhadap pencapaian-pencapaian Devadatta sebelum akhirnya membawa suatu perpecahan dalam Sangha, merupakan penyebab yang sedikit memalukan. Hal ini adalah ketika Sang Buddha meminta Sariputta menyatakan di Rajagaha bahwa segala perbuatan dan perkataan Devadatta tidak lagi berhubungan dengan Buddha, Dhamma maupun Sangha; Y.A. Sariputta berkata:

"Dahulu saya berbicara di Rajagaha dan memuji kemampuan gaib Devadatta?" "Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha membalas:

"Jadi sekarang kamu akan berkata sejujur-jujurnya pula, Sariputta, ketika kamu mengumumkan pernyataan ini tentang Devadatta."

Dengan demikian setelah menerima restu resmi dari Sangha, Y.A. Sariputta bersama dengan para bhikkhu pergi menuju Rajagaha dan mengumumkan pernyataan tentang Devadatta.

Ketika Devadatta secara resmi memecahbelah Sangha dengan mengumumkan bahwa dia akan memimpin kegiatan-kegiatan Sangha secara terpisah, dia pergi ke Puncak Bukit Burung Hering dengan lima ratus bhikkhu muda yang dengan polosnya telah menjadi pengikut Devadatta. Untuk mengajak mereka kembali, Sang Buddha mengirimkan Sariputta dan Maha Moggallana menuju Puncak Bukit Burung Hering. Ketika Devadatta sedang beristirahat, kedua Siswa Utama tersebut membabarkan Dhamma kepada bhikkhu-bhikkhu muda pengikut Devadatta, yang kemudian semuanya mencapai pemasuk-arus dan kembali kepada Sang Buddha.(16)

Di lain kesempatan, ketika Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Moggallana bekerja sama memulihkan kepimpinan dalam Sangha dimana sekelompok bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji (berbeda dengan Y.A. Assaji yang diceritakan di depan) dan Punnabbassu yang tinggal di Kitagiri telah berperilaku salah. Walaupun telah diberikan nasehat-nasehat, bhikkhu-bhikkhu ini tidak juga memperbaiki perilaku mereka. Jadi kedua Siswa Utama dikirimkan untuk mengumumkan sanksi penalti pabbajaniya-kamma (pengucilan) pada mereka yang tidak menjalankan vinaya para bhikkhu.(17)

Kesetiaan Y.A. Sariputta pada sahabatnya benar-benar terbalas. Kita dapat menemukan dua kejadian ketika Y.A. Sariputta sakit dan Maha Moggallana mengunjunginya sambil membawakan obat-obatan.

Terlebih lagi persahabatan Y.A. Sariputta juga terbuka kepada bhikkhu lainnya, seperti dalam uraian dalam Maha-Gosinga Sutta. Didalamnya dijelaskan bahwa terdapat pertalian persahabatan antara Y.A. Sariputta dengan Y.M. Ananda. Dilihat dari sudut pandang Y.A. Sariputta, dia berpikir:

"Beliau mengurus segala keperluan Sang Bhagava - suatu kewajiban yang seharusnya dipikul olehku"

Sedangkan persahabatan Ananda didasarkan pada kenyataan bahwa Sariputta telah diangkat oleh Sang Buddha sebagai Siswa UtamaNya. Pada saat Y.M. Ananda memberikan penahbisan samanera kepada para calon samanera, dia biasanya membawa mereka kepada Y.A. Sariputta untuk mendapatkan penahbisan penuh dibawah Y.A. Sariputta. Y.A. Sariputta pun melakukan hal yang sama untuk menghargai Ananda. Dan dengan cara demikian mereka memiliki lima ratus murid bersama.

Setiap kali Y.A. Ananda menerima persembahan jubah atau keperluan lain, dia akan menawarkannya kepada Y.A. Sariputta. Dan dengan cara yang sama pula, Sariputta memberikan kepada Ananda persembahan-persembahan spesial yang diberikan kepadanya. Pada suatu kesempatan Y.M. Ananda menerima dari seorang brahmana sebuah jubah yang sangat bernilai dan dengan ijin Sang Buddha dia menyimpannya selama sepuluh hari buat menunggu kedatangan Sariputta. Dalam uraian naskah tersebut dikatakan bahwa kemudian para guru berkomentar terhadap kejadian ini: "Mungkin terdapat beberapa orang yang berkata: Kita dapat memahami kalau Ananda, yang belum mencapai tingkat kesucian Arahat, memiliki begitu banyak rasa cinta (afeksi). Akan tetapi bagaimana mungkin hal yang sama terjadi pada Sariputta, yang merupakan seorang Arahat, yang telah terbebas dari kemelekatan?" Jawaban pertanyaan ini ialah: "Rasa kasih Y.A. Sariputta bukanlah sesuatu yang bersifat duniawi, tapi sebagai rasa cinta atas kebajikan yang dilakukan oleh Ananda (guna-bhatti)."

Sang Buddha pernah suatu ketika bertanya kepada Y.M. Ananda: "Apakah kamu juga, mengakui Sariputta?" Dan Ananda menjawab:

"Siapa, O Sang Bhagava, yang tidak mengakui Sariputta, kecuali dia bersifat kekanak-kanakan, jahat, bodoh atau tersesat pikirannya! Berpengetahuan, O Sang Bhagava, itulah Y.A. Sariputta; Bijaksana, O Sang Bhagava, itulah Y.A. Sariputta; Berwawasan luas, terbuka, tangkas, tajam dan mampu menembus itulah Y.A. Sariputta, O Sang Bhagava; sedikit berkehendak dan merasa puas, cenderung menyepi, tidak gemar dengan pergumulan, bersemangat, mengesankan, bersedia mendengar, seorang pembimbing yang mencela apa yang sepatutnya dicela."(18)

Dalam Theragatha (v. 1034) kita dapat menemukan bagaimana Y.M. Ananda mengekspresikan perasaannya pada saat kematian Sariputta. "Ketika Sahabat Mulia (Sariputta) telah pergi," dia berkata, "dunia runtuh gelap gulita bagiku." Tapi kemudian dia menambahkan bahwa setelah sahabatnya pergi meninggalkannya sendiri, dan begitu pula Sang Buddha telah pergi, tidak ada lagi sahabat lain kecuali praktik perhatian-penuhnya pada tubuh ini (mindfulness directed on the body). Duka cita Ananda dalam menghadapi kematian Y.A. Sariputta juga dijelaskan penuh haru dalam Cunda Sutta.

Sariputta adalah seorang teman sejati dalam setiap makna kata. Beliau benar-benar mengerti cara mendorong keluar setiap aspek terbaik dari dalam diri seseorang, dan dalam melakukannya beliau tidak ragu-ragu untuk mengatakan secara terus terang dan kritis, persis seperti ciri-ciri teman sejati yang dijelaskan oleh Sang Buddha, yaitu bersedia menunjukkan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh temannya. Dengan cara inilah dia membantu Y.A. Anuruddha dalam upaya terakhirnya mencapai tingkat kesucian Arahat, seperti yang tertulis dalam Anguttara Nikaya (Tika-Nipata No. 128):

Pada suatu ketika Y.A. Anuruddha pergi mengunjungi Y.A. Sariputta. Setelah mereka saling mengucapkan salam dengan sopan, dia duduk dan berkata kepada Y.A. Sariputta:

"Sahabatku Sariputta, dengan mata dewa yang dimurnikan, melebihi batas manusiawi, aku dapat melihat beribu dimensi sistem alam ini. Energiku besar, tak kunjung padam, kesadaranku selalu waspada dan tak tergoyahkan; tubuh ini begitu tenang dan tak gelisah; pikiranku terpusat dan terfokus. Tapi mengapa pikiran ini masih tidak terbebas dari kekotoran-kekotoran batin, tidak terbebas dari kemelekatan."

"Sahabatku Anuruddha," kata Y.A. Sariputta, "caramu memandang kekuatan mata dewamulah, merupakan suatu bentuk kecongkakan dirimu. Caramu memandang energi kokohmu, kesadaran waspadamu, tubuh tak gelisahmu dan pikiran terpusatmu, inilah kegelisahanmu. Ketika kamu berpikir pikiranmu tidak terbebas dari kekotoran-kekotoran batin, inilah kekhawatiran dalam dirimu(19). Akan menjadi baik, tentu saja, apabila Y.M. Anuruddha, melepaskan tiga keadaan pikiran ini dan tidak lagi memperhatikan mereka, serta semata-mata hanya mengarahkan pikiran kepada Elemen Tanpa Kematian."

Dan Y.M. Anuruddha akhirnya melepaskan tiga keadaan pikiran ini, tidak mempedulikannya dan mengarahkan pikirannya semata-mata kepada Elemen Tanpa Kematian. Dan Y.M. Anuruddha pergi menyendiri, penuh perhatian, tekun, dan dengan pikiran teguh, tak lama akhirnya berhasil mencapai tingkat kesucian tertinggi dalam kehidupan saat ini juga, memahami dan mengalaminya sendiri, tujuan tertinggi dari Kehidupan Suci yang dijalaninya, tujuan pokok dimana manusia utama pergi meninggalkan keduniawian. Dan dia pun memahami: "Proses tumimbal lahir telah tuntas, yang ada hanya kehidupan suci, tugas kini telah usai, tidak ada lagi pencapaian yang lebih mulia dari ini." Itulah saat Y.A. Anuruddha menjadi salah satu Arahat.

Sariputta pastilah seorang sahabat yang sangat menyenangkan, yang banyak dicari oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain. Apa yang menarik pelbagai macam orang dengan temperamen yang beragam terhadap beliau serta percakapan yang dibuat mereka dapat dimengerti secara jelas dari suatu kejadian yang digambarkan dalam Maha-Gosinga Sutta (Majjhima Nikaya No.32).

Pada suatu petang Y.A. Maha Moggallana, Y.A. Maha Kassapa, Y.A. Anuruddha, Y.A. Revata dan Y.A. Ananda pergi mengunjungi Y.A. Sariputta untuk mendengarkan Dhamma. Y.A. Sariputta menyambut mereka dan berkata: "Hutan Pohon Sala Gosinga ini sungguh menyenangkan; malam diterangi rembulan, semua pohon sala berbunga, dan keharuman surgawi tampaknya memenuhi udara sekitar. Bhikkhu macam apakah, Sahabat Ananda, yang akan dapat lebih mengharumkan Hutan Pohon Sala Gosinga ini?"

Pertanyaan yang sama diajukan kepada yang lain, dan masing-masing dari mereka menjawab sesuai dengan watak mereka masing-masing. Akhirnya, Y.A. Sariputta memberikan jawabannya sendiri, sebagai berikut:

" Adalah seorang bhikkhu yang memiliki penguasaan atas pikirannya, yang tidak akan membiarkan pikirannya berkuasa atas dirinya.(20) Dalam keadaan mental atau pencapaian apapun yang dia mau tinggal tatkala pagi hari, dia bisa tinggal pada waktu itu. Dalam keadaan mental atau pencapaian apapun yang dia mau tinggal tatkala siang hari, dia bisa tinggal pada waktu itu. Dalam keadaan mental atau pencapaian apapun yang dia mau tinggal tatkala sore hari, dia bisa tinggal pada waktu itu. Bagaikan almari pakaian seorang raja atau menteri kerajaan yang penuh dengan pakaian yang berwarna-warni; jadi pasangan pakaian apapun yang ingin mereka kenakan di pagi hari, atau di tengah hari, atau di petang hari, mereka dapat mengenakannya sekehendak pikiran mereka. Begitu pula, seorang bhikkhu yang memiliki penguasaan atas pikirannya, yang tidak dibawah pengaruh pikirannya; dalam keadaan mental atau pencapaian apapun yang dia mau tinggal tatkala pagi, siang, atau sore hari, dia bisa tinggal pada waktu itu sekehendak pikirannya. Bhikkhu seperti itulah, Sahabat Moggallana, yang dapat mengharumkan Hutan Pohon Sala Gosinga ini."

Kemudian mereka bersama-sama pergi mengunjungi Sang Buddha, yang menyetujui semua jawaban yang diutarakan oleh para Thera tersebut serta memberikan jawabanNya sendiri.

Kita dapat melihat dari cerita ini bahwa dengan segala kemampuan intelektual dan posisinya di dalam Sangha, Y.A. Sariputta ternyata sikapnya jauh dari seseorang yang ingin mendominasi atau memaksakan pandangannya kepada yang lain. Betapa beliau memahami cara mendorong ungkapan pribadi sahabat-sahabatnya dengan cara alami dan mengesankan, menyampaikan pada mereka perenungan yang dipicu dari pemandangan yang indah! Sifat alami sensitifnya merespon hal tersebut, dan memicu respon serupa dari sahabat-sahabatnya.

Terdapat percakapan-percakapan serupa antara Y.A. Sariputta dengan bhikkhu-bhikkhu lainnya, tidak hanya dengan Y.A. Maha Moggallana, Ananda maupun Anuruddha; tetapi juga dengan Maha Kotthita, Upavana, Samiddhi, Savittha, Bhumija dan lainnya. Kelihatannya Sang Buddha sendiri pun senang bercakap-cakap dengan Y.A. Sariputta. Sebegitu seringnya sehingga banyak dari khotbah-khotbah Sang Buddha yang ditujukan kepada "Jenderal DhammaNya".

Pernah suatu ketika, Y.A. Sariputta mengulangi beberapa wejangan yang telah disampaikan Sang Bhagava kepada Y.M. Ananda dalam kesempatan lain. "Inilah keseluruhan dari Kehidupan Suci (brahmacariya); yaitu: pertemanan mulia, persahabatan mulia, perkumpulan mulia."(21)

Tidak ada tauladan yang lebih baik dari ajaran diatas selain kehidupan sang Siswa Utama - Y.A. Sariputta sendiri.

Sang Penolong​

Diantara para bhikkhu, Y.A. Sariputta terkemuka pula dalam hal membantu bhikkhu lain. Kita dapat menemukan rujukan tentang hal ini dalam Devadaha Sutta(22). Beberapa bhikkhu yang datang berkunjung hendak pulang kembali ke tempatnya masing-masing. Mereka memohon pamit kepada Sang Buddha. Beliau kemudian menganjurkan mereka untuk pergi menemui Y.A. Sariputa dan memohon pamit pula padanya: "Sariputta, O bhikkhu, bijaksana dan penolong bagi para bhikkhu bimbingannya."

Uraian di bawah menjelaskan sabda di atas lebih lanjut. Sang Buddha mengatakan: "Sariputta merupakan seorang penolong dalam dua cara. Pertama dengan memberikan pertolongan materi (amisanuggaha) dan kedua dengan memberikan pertolongan Dhamma (dhammanuggaha)."

Y.A. Sariputta, seperti yang dikisahkan, tidak pergi berpindapatta pada pagi hari sementara para bhikkhu lain pergi berpindapatta. Bahkan ketika para bhikkhu telah pergi, beliau berjalan mengitari setiap jengkal vihāra dan dimanapun dia melihat bagian yang tidak tersapu, dia menyapunya; dimanapun terlihat sampah berserakan, dia membuangnya; dimanapun terlihat peralatan seperti alas tidur, kursi-kursi, dll., atau tembikar yang belum disusun dengan rapi, dia meletakkannya pada tempatnya. Beliau melakukannya agar para pertapa non-buddhis lainnya yang datang berkunjung ke vihāra tidak melihat keadaan vihāra yang kacau berantakan sehingga dapat mencela para bhikkhu.

Kemudian beliau biasanya pergi ke aula tempat pesakit dan memberikan kata-kata penghiburan. Beliau juga akan bertanya apa yang mereka butuhkan. Untuk memperoleh permintaan mereka, dia mengajak serta para samanera dan pergi mencari obat; entah di sepanjang jalan yang biasa digunakannya untuk berpindapatta atau pergi ke tempat-tempat tertentu. Ketika obat sudah didapatkan, beliau akan memberikannya kepada murid-murid yang menyertainya dan berkata:

"Merawat mereka yang sakit merupakan tindakan yang dipuji oleh Sang Bhagava! Ayo, siswa-siswa budiman, jadilah peduli!"

Setelah mengirim mereka kembali ke ruang kesehatan vihāra, beliau akan pergi berpindapatta atau menyantap sarapannya di rumah seorang pendana. Inilah rutinitas yang biasa dilakukannya ketika menetap selama beberapa waktu di sebuah vihāra.

Namun ketika jalan mengembara bersama Sang Buddha, Y.A. Sariputta tidaklah pergi bersama para bhikkhu dalam rombongan yang pertama, dengan memakai sandal di kaki serta memegang payung di tangan, selayaknya seseorang yang berpikir: "Aku adalah Siswa Utama." Tapi beliau membiarkan para samanera mengambil mangkuk (patta) dan jubahnya serta berjalan dengan yang lain. Sementara beliau sendiri pertama-tama akan mengunjungi mereka yang sudah lanjut usia, mereka yang masih sangat muda, atau yang kurang sehat dan membantu mengoleskan salep pada luka-luka yang ada di tubuh mereka. Kemudian baru setelah menjelang senja atau pada keesokan harinya, dia akan pergi bersama mereka.

Pernah suatu ketika, oleh sebab hal tersebut di atas, Y.A. Sariputta terlambat tiba di tempat para bhikkhu lain sedang beristirahat. Beliau tidak mendapatkan tempat yang layak baginya untuk bermalam, sehingga beliau hanya duduk dibawah tenda yang terbuat dari jalinan jubah. Sang Buddha melihat hal ini. Pada keesokan harinya Beliau mengumpulkan para bhikkhu dan menceritakan kepada mereka sebuah kisah tentang seekor gajah, monyet dan ayam hutan yang setelah memutuskan siapa diantara mereka yang paling tua, akhirnya hidup bersama dengan menghormati mereka yang lebih senior(23). Sang Buddha kemudian menetapkan peraturan bahwa "pondokan harus disediakan sesuai dengan senioritas(24)."

Dengan cara inilah Y.A. Sariputta menjadi seorang penolong yakni dengan memberikan pertolongan materi.

Terkadang beliau memberikan pertolongan materi dan Dhamma sekaligus. Seperti ketika dia mengunjungi Samitigutta yang menderita penyakit kusta dan sedang dalam perawatan. Uraian dalam Theragatha mengatakan pada kita bahwa Y.A. Sariputta berkata pada Samitigutta:

"Sahabat, selama kelompok-kelompok kehidupan(25) (khandha) masih berlanjut, semua perasaan adalah cuma penderitaan. Hanya ketika kelompok-kelompok kehidupan tidak lagi ada, maka tidak ada pula penderitaan."

Setelah memberikan kontemplasi terhadap perasaan kepada Samitigutta sebagai subyek meditasi, Y.A. Sariputta kemudian pergi meninggalkannya. Samitigutta melaksanakan petunjuk Ayāsma Sariputta, akhirnya berhasil mengembangkan insight dan merealisasi enam kemampuan batin luar biasa (chalabhinna) sebagai seorang Arahat(26).

Hal yang sama juga dilakukan Y.A. Sariputta ketika Anathapindika sedang terbaring menanti akhir hidupnya. Y.A. Sariputta mengunjunginya ditemani oleh Ananda. Y.A. Sariputta kemudian mengajarkan kepada Anathapindika tentang ketidakmelekatan, dan Anathapindika benar-benar tergerak oleh wejangan Dhamma yang mendalam itu(27).

Khotbah lain yang diberikan oleh Sariputta kepada Anathapindika yang sedang sakit tertulis dalam Sotapatti-Samyutta (Vagga 3, Sutta 6). Dalam uraian Dhamma ini, Anathapindika diingatkan kembali bahwa hal-hal yang membuat terlahir kembali dalam penderitaan sudah tidak ada lagi dalam dirinya. Hal ini dikarenakan Anathapindika telah memiliki empat kualitas dasar sebagai seorang pemasuk arus (sotapattiyanga) dan faktor-faktor Jalan Berunsur delapan. Dengan merenungkan wejangan ini, sakit yang dideritanya akan mereda. Kemudian rasa sakitnya pun memang mereda dan lenyap.

Suatu ketika Ayāsma Channa terbaring sakit dan sangat menderita. Y.A. Sariputta mengunjunginya ditemani oleh Ayāsma Maha Cunda. Melihat penderitaan yang dipikul oleh Ayāsma Channa, Y.A. Sariputta menawarkan diri untuk mencari obat-obatan dan makanan yang mungkin dibutuhkan. Akan tetapi Channa mengatakan pada mereka bahwa beliau akan mengakhiri hidupnya, dan setelah kedua Ayāsma pergi, beliau pun melakukannya. Lalu Sang Buddha menjelaskan bahwa tindakan Channa bukanlah sesuatu yang tercela dan tidaklah dapat disalahkan. Hal ini dikarenakan Channa telah mencapai tingkat kesucian Arahat ketika menjelang ajal. Cerita ini dapat ditemukan dalam Channovada Sutta (Majjh. 144).

Dikatakan bahwa dimanapun Y.A. Sariputta memberikan nasehat, beliau menunjukan kesabaran tiada batas. Ia akan mengingatkan dan mengarahkan bahkan sampai

ratusan atau ribuan kali hingga muridnya berhasil memasuki Hasil Pemasuk Arus. Hanya setelah murid-muridnya berhasil mencapai tingkat kesucian pertama, beliau baru akan berhenti membimbing muridnya itu dan mulai memberikan nasehat kepada murid lain. Sangat banyak jumlah murid yang setelah menerima dan mengikuti arahannya dengan sungguh-sungguh berhasil mencapai Arahat. Dalam Sacca-vibhanga Sutta (Majjh. 141) Sang Buddha bersabda:

"Sariputta bagaikan seorang ibu yang melahirkan putra-putranya, sedangkan Moggallana bagaikan seorang perawat yang merawat mereka bayi yang telah dilahirkan. Sariputta melatih pemula hingga mencicipi hasil pemasuk arus, dan Moggallana melatih mereka hingga mencapai tingkat kesucian tertinggi."

Lebih jauh dalam teks ini, uraian tersebut mengatakan bahwa:

"Ketika Y.A. Sariputta menerima murid-murid untuk dibimbing, entah mereka ditahbiskan oleh dia sendiri ataupun oleh bhikkhu lain, Sariputta akan membantu mereka dengan memberikan pertolongan materi dan spiritual, merawat mereka ketika sakit, memberikan mereka objek meditasi dan ketika dia mengetahui bahwa murid-muridnya telah menjadi seorang pemasuk arus dan telah jauh dari bahaya duniawi, dia akan melepaskan mereka dengan pengertian bahwa: Sekarang mereka, dengan kemampuan mereka sendiri, dapat mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi. Tanpa mengkhawatirkan tentang apa yang terjadi ke depan pada murid-muridnya itu, dia mulai membimbing kelompok murid baru lainnya. Berbeda dengan Sariputta, Maha Moggallana ketika membimbing murid-muridnya tidak akan melepaskan mereka sebelum para muridnya berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Ini karena Moggallana berpikir, seperti yang dikatakan oleh Sang Bhagava: "Bagai tahi yang sekecil apapun baunya begitu busuk, aku tidak akan memuja bahkan sekecil apapun segala bentuk keberadaan, walaupun sekejab tak lebih daripada sejentikan jari."

Namun walaupun dalam Majjhima Nikaya dikatakan bahwa Y.A. Sariputta biasanya membimbing murid-murid binaannya hanya sampai tahap pemasuk arus, dalam kasus-kasus tertentu beliau membantu para bhikkhu untuk mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi. Dalam Udana Nikaya contohnya, dikatakan bahwa "pada waktu itu para bhikkhu yang sedang berlatih untuk mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi (sekha) sering mengunjungi Y.A. Sariputta untuk mendapatkan objek meditasi yang dapat membantu mereka mencapai tiga tingkat kesucian yang lebih tinggi tersebut." Sebagai contoh, setelah mendapat arahan dari Y.A. Sariputta, Ayāsma Lakuntika Bhaddiya ("Si Kerdil") berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat(28), padahal sebelumnya dia merupakan seorang pemasuk arus. Demikian juga pada kasus Y.A. Anuruddha.

Seperti cara inilah Y.A. Sariputta memberikan pertolongan Dhamma. Beliau adalah seorang pemimpin besar dan sekaligus pembimbing spiritual yang luar biasa. Sebagai pembimbing spiritual, beliau tidak hanya seorang yang tekun dan memahami perspektif pikiran manusia, tapi juga seseorang yang ramah - sifat manusia yang pastilah membantunya bergaul dengan mereka-mereka yang berada dibawah bimbingan spiritualnya. Kita telah melihat betapa sungguh-sungguh beliau memuji seseorang apabila memang pujian itu tepat diberikan; beliau juga rajin setiap waktu mengunjungi bhikkhu-bhikkhu mulia, khususnya yang dipuji oleh Sang Buddha. Salah satunya adalah Y.A. Punna Mantaniputta. Ketika Y.A. Sariputta mengetahui kedatangannya, beliau pergi menemuinya. Tanpa memberitahu siapa dia sebenarnya, Y.A. Sariputta mendengarkan khotbah Dhamma Y.A. Punna, yakni kiasan Kereta-Kereta Estafet (Majjh. No. 24), dan setelah khotbah tersebut berakhir beliau memberikan pujian yang tinggi.

Mengurusi kebutuhan-kebutuhan fisik maupun spiritual para bhikkhu binaannya, mengendalikan mereka dengan nasehat-nasehat baik dan mendorong mereka dengan pujian yang membangkitkan semangat mereka, membimbing mereka dengan cara membawa keluar aspek terbaik dari dalam diri mereka; Sariputta menggabungkan kualitas seorang guru sejati dengan kualitas seorang teman sejati. Dia selalu siap untuk membantu dengan segala cara, baik itu perkara kecil ataupun besar. Dipenuhi dengan nilai-nilai luhur dari kehidupan suci yang dijalaninya, beliau dengan cepat melihat nilai-nilai luhur dari dalam diri orang lain, lihai dalam membangkitkan nilai-nilai luhur orang lain yang terpendam, dan menjadi yang pertama memuji mereka ketika mereka berhasil mencapai tingkat kesucian. Beliau tidaklah dingin, murni penyendiri, tapi merupakan kombinasi paling kaya dari spiritualitas yang agung dengan kualitas-kulitas yang terbaik dan paling dicintai dalam manusia.

Pencapaian​

Dua syair dalam Theragatha (995,996) menjelaskan bagaimana Y.A. Sariputta mencapai tingkat kesucian tertinggi - Arahat. Syair tersebut berbunyi:

"Ketika Sang Bhagava sedang membabarkan Dhamma; Aku mendengarkan pembabaran Dhamma demi kebaikanku sendiri. Dan itu bukanlah hal yang sia-sia, demi terbebas dari semua kekotoran-kekotoran batin, aku mencapai pembebasan."

Dalam dua versi selanjutnya (996-7) Sariputta menyatakan bahwa dia tidak lagi mempunyai kehendak apapun untuk mengembangkan lima kemampuan batin luar biasa (abhinna). Walaupun demikian, Patisambhida Magga dalam Idhividdha-Katha menghargai Y.A. Sariputta memiliki gelar tetap dia yang berkemampuan konsentrasi meditatif yang disebut "kemampuan mengintervensi dengan konsentrasi" (samadhi-vipphara-iddhi). Dengan kemampuan ini beliau mampu mengintervensi dalam menghalangi proses-proses fisiologis biasa atau peristiwa-peristiwa alami lainnya. Hal ini diilustrasikan dengan anekdot dalam Visuddhimagga, Ch. XII, yang menuliskan bahwa pada suatu ketika Y.A. Sariputta sedang berdiam bersama Y.A. Maha Moggallana di Kapotakandara. Beliau sedang duduk bermeditasi di udara terbuka dengan kepala yang baru saja dicukur. Saat itu kepalanya dipukul oleh roh jahat. Pukulan itu cukup keras, tapi pada waktu itu diceritakan bahwa "Y.A. Sariputta sedang tercerap dalam meditasi pencapaiannya; akibatnya dia tidak terluka sama sekali." Sumber cerita ini terdapat dalam Udana (IV.4) yang berlanjut kisahnya sebagai berikut:

Y.A. Maha Moggallana melihat kejadian ini dan mendekati Y.A. Sariputta dengan maksud menanyakan bagaimana dia mengatasinya. Y.A. Maha Moggallana bertanya: "Apakah kamu baik-baik saja, Saudaraku? Apakah kamu dapat bertahan? Apakah kamu merasakan sakit?"

"Aku baik-baik saja, Saudaraku Moggallana," kata Y.A. Sariputta. "Aku dapat bertahan, Saudaraku Moggallana. Hanya saja kepalaku memang agak sakit sedikit."

Mendengar jawaban tersebut Y.A. Maha Mogallana berkata:

"O bagus sekali, saudaraku Sariputta! O hebat sekali, saudaraku Sariputta! Betapa luarbiasa kesaktian Anda, betapa agung kejayaan Y.A. Sariputta! Baru saja, saudara Sariputta, ada satu hantu jahat telah memukul kepala Anda. Dan begitu keras pukulan itu! Dengan pukulan sekeras itu seseorang pastilah dapat menjatuhkan seekor gajah yang tingginya 7 atau 7,5 kubit(29) atau seseorang dapatlah membelah puncak gunung. Tetapi Y.A. Sariputta hanya mengatakan, "Aku baik-baik saja, Saudaraku Moggallana, Aku tidak apa-apa, Saudaraku Moggallana. Hanya saja kepalaku memang agak sakit sedikit."

Kemudian Y.A. Sariputta membalas:

"O Bagus sekali, saudaraku Moggallana! O Hebat sekali, saudaraku Moggallana! Betapa besar kesaktian Anda, betapa agung kejayaan Y.A. Moggallana, sehingga Anda dapat melihat yakkha-yakkha itu! Sedangkan saya tidak melihat apa-apa selain peri lumpur(30)."

Dalam Anupada Sutta (Majjh. III) terdapat sebuah penggambaran dari pencapaian Sariputta yang diakui oleh Sang Buddha sendiri. Sang Buddha menyatakan bahwa Y.A. Sariputta telah menguasai 9 pencapaian-pencapaian meditatif, yang terdiri dari 4 material-halus (fine-material), 4 jhana immaterial, dan 1 penghentian persepsi dan perasaan. Dan dalam Sariputta Samyutta(31), Y.A. Sariputta menyatakan kenyataan-kenyataan itu sendiri dalam percakapannya dengan Ananda. Beliau menambahkan bahwa dalam semua tahapan-tahapan tersebut, dia telah terbebas dari segala acuan diri:

"Aku tidak memiliki pemikiran bahwa "Aku sedang memasuki jhana; aku telah memasukinya; aku sedang keluar darinya."

Dan pada kesempatan lain, beliau menjelaskan pada Ananda bagaimana dia mengembangkan pikiran terpusat penuh. Bahwa sehubungan dengan unsur-unsur bumi, dia tidak memiliki persepsi terhadap unsur-unsur tersebut. Bahwa kelihatannya beliau tidak memiliki persepsi terhadap unsur-unsur tersebut. Juga kelihatannya beliau tidak sepenuhnya tidak memiliki persepsi terhadap hal-hal lain. Satu-satunya persepsi beliau adalah "Nibbana merupakan akhir dari "menjadi" (bhava-nirodha)(32)."

Sikap tidak terikat pada pencapaian-pencapaian jhana mungkin disebabkan oleh meditasi "berdiam dalam sunyata" (sunnata-vihara) yang dilatih oleh Sariputta. Kita dapat membaca dalam Pindapata-parisuddhi Sutta (Majjh. 151) bahwa pernah suatu ketika Sang Buddha memuji pembawaan cemerlang Y.A. Sariputta dan bertanya padanya tentang keadaan pikiran macam apakah yang telah menimbulkan kecermelangan itu(33). Y.A. Sariputta menjawab bahwa dia secara terus-menerus berlatih meditasi kediaman dalam sunyata, yang mana kemudian Sang Buddha mengatakan bahwa itu adalah kediaman bagi manusia-manusia luar biasa. Sang Buddha kemudian membabarkannya dengan jelas. Udana menuliskan bahwa dalam tiga peristiwa, Sang Bhagava melihat Y.A. Sariputta duduk bermeditasi di luar vihāra, dan memanjatkan syair (udana) serta memuji pikiran yang tenang dan damai itu.

 
Kita mungkin membayangkan Y.A. Sariputta duduk bermeditasi dalam sebuah pergola seperti yang disebutkan dalam Devadaha Sutta (Khandha Samyutta, No.2). Dikisahkan bahwa: "Suatu ketika Sang Bhagava berdiam di negeri Sakya, di Devadaha, sebuah kota dagang kaum Sakya. Pada waktu itu Y.A. Sariputta duduk, tidak jauh dari Sang Bhagava, dibawah pohon perdu Elagala." Uraian teks tersebut mengatakan pada kita: "Di Devadaha terdapat sebuah pergola dibawah pohon perdu Elagala. Pohon perdu ini tumbuh ditempat yang terdapat persediaan aliran air yang konstan. Orang-orang membangun sebuah pergola dengan 4 tiang dimana mereka membiarkan pohon perdu itu tumbuh dan membentuk semacam atap. Dibawahnya mereka membuat tempat duduk susunan bata dan melekatkannya dengan pasir. Tempat itu menjadi tempat yang sejuk sepanjang hari, dengan udara dingin yang mengalir dari air." Mungkin pada naungan pedusunan begitulah Sang Buddha melihat Y.A. Sariputta duduk bermeditasi. Pada kesempatan-kesempatan itulah Beliau memuji ketenangan dan pembebasan yang dicapai siswaNya.

Sehubungan dengan pencapaiannya terhadap pengetahuan analitis (patisambhida-nana), Y.A. Sariputta berbicara mengenai hal itu dalam Anguttara Nikaya (Kelompok Empat, No. 172), dimana beliau berkata:

"Waktu itu adalah setengah bulan setelah masa penahbisanku, para sahabat, bahwa aku menyadari dalam segala bagian dan aspek-aspeknya, pengetahuan analitis pemahaman, pengetahuan analitis Dhamma, pengetahuan analitis bahasa, pengetahuan analitis penerapan. Inilah yang aku uraikan dalam banyak cara, kuajarkan dan kukenalkan, kubangkitkan dan kusingkap tabirnya, kujelaskan dan kujernihkan. Jika ada orang yang ragu atau tidak tahu, dia boleh bertanya padaku dan aku akan menjelaskan (hal tersebut). Persembahan bagi Sang Guru yang mengenal baik tahapan-tahapan pencapaian kita."

Dari semuanya ini adalah jelas bahwa Y.A. Sariputta merupakan seseorang yang menguasai semua tahapan tingkat kesucian, termasuk wawasan tertinggi. Apa yang lebih tepat menggambarkannya, selain kata-kata Sang Buddha sendiri:

"Bila seseorang dapat mengatakan dengan kebenaran bahwa dia telah menguasai keahlian dan kesempurnaan sila-sila mulia, konsentrasi mulia, kebijaksanaan mulia dan pembebasan mulia, maka Sariputtalah yang dapat menyatakannya dengan kebenaran."

"Bila seseorang dapat mengatakan bahwa dia anak sejati Tathagata, lahir dari kata-kataNya, lahir dari Dhamma, terbentuk dalam Dhamma, mewarisi Dhamma, tidak mewarisi kesenangan duniawi, Sariputtalah yang dapat menyatakannya."

"Sesudah Aku, O Bhikkhu, Sariputtalah pemutar roda Dhamma yang mulia, walaupun Aku telah memutarnya terlebih dahulu."

Majjh. 111, Anupada Sutta​

Pemutar Roda​

Khotbah Y.A. Sariputta dan teks-teks yang berbicara tentang khotbah yang dibuat beliau membentuk suatu kerangka ajaran yang komprehensif sehingga penjelasan dan berbagai ragam wejangan tersebut dapat disejajarkan dengan Sang Buddha sendiri. Sariputta mengerti dengan cara yang unik bagaimana mengorganisasi dan menyampaikan materi-materi Dhamma dengan jelas, dalam suatu gaya yang cerdas serta membangkitkan semangat buat mempraktekkannya. Kita menemukan contoh hal ini dalam dua khotbah klasik Majjhima Nikaya, yaitu Samma-ditthi Sutta (Khotbah Pandangan Benar) No. 9 dan Mahāhatthipadopama Sutta (Khotbah Besar tentang Perumpamaan Jejak Kaki Gajah) No.28.

Khotbah Panjang tentang Perumpamaan Jejak Kaki Gajah merupakan suatu maha karya dari terapi yang sistematis dan runtut. Khotbah ini diawali dengan pernyataan bahwa Empat Kebenaran Mulia terdiri dari segala hal yang bermanfaat, kemudian fokus pada Kebenaran Mulia tentang dukkha sebagai hal yang dapat diidentifikasi dengan lima unsur-unsur kepribadian. Dari ini, unsur pemenuhan kebutuhan jasmaniah dipilih untuk penyelidikan yang lebih mendetail; ditunjukkan bahwa unsur itu mengandung empat elemen besar yang masing-masing dapat dikatakan bersifat internal atau eksternal. Bagian-bagian dan fungsi tubuh yang menjadi milik elemen internal dijelaskan secara mendetail, dan juga dikatakan bahwa kedua elemen internal dan eksternal itu bukanlah milik pribadi ataupun seorang pribadi. Kebijaksanaan ini menyebabkan kita tidak terpesona serta tak lagi melekat pada elemen-elemen tersebut.

Khotbah itu kemudian berlanjut dengan menunjukkan ketidakkekalan dari elemen-elemen besar tersebut ketika mereka terlibat dalam pergolakan alam, dan ditekankan bahwa tubuh yang lemah ini, hasil dari kemelekatan kita, tidak pernah bisa dikatakan sebagai "Aku" atau "Milikku" ataupun dikatakan sebagai "Aku adalah ... ". Dan ketika seorang bhikkhu yang telah memiliki kebijaksanaan yang kokoh dan mendalam ini menghadapi penghinaan, kecaman, atau dikasari oleh orang lain, dia akan mampu menganalisis situasi tersebut dengan bijaksana dan tetap mengendalikannya. Dia mengenali bahwa rasa sakit yang muncul dalam dirinya dihasilkan oleh kontak telinga, yang mana hal itu sesungguhnya tak lebih hanyalah sekedar fenomena berkondisi. Dan semua unsur pembentuk situasi tersebut tidaklah kekal. Inilah cara dia menyikapi kontak, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk mental dan kesadaran. Sampai sejauh ini kita dapat melihat bahwa empat elemen-elemen lainnya - komponen-komponen mental kepribadian - diperkenalkan dalam konteks organik bersama-sama dengan faktor kontak yang telah dijelaskan terlebih dahulu. Khotbah itu kemudian berlanjut:

"Kemudian pikirannya, hanya melihat elemen-elemen tersebut sebagai apa adanya, menjadi tenang, gembira, kokoh dan tekun; dan walau pun dia dipukul dan terluka, dia akan berpikir: ˜Tubuh ini seperti sifat alaminya, sudah sewajarnya bila terluka. Demikianlah dia menyimpulkan kembali Perumpamaan Gergaji yang diajarkan Sang Buddha dan memutuskan untuk mengikuti anjuran Sang Buddha untuk menerima segala luka dengan sabar, apapun yang mungkin terjadi padanya.

Tapi khotbah tersebut belum berakhir. Bila ketika sedang mengingat Sang Buddha, Dhamma dan Sangha ketenangan hati para bhikkhu tidak bisa berlangsung lama, dia akan dipaksa oleh suatu desakan dan merasa malu akan hal itu, bahwa walaupun mengingat kembali Tiga Mutiara, dia tidak dapat mempertahankan konsentrasinya. Di lain pihak, bila kesabarannya dapat bertahan, maka dia akan mengalami kebahagiaan. "Sampai tahap ini pun, banyak yang telah dicapai oleh bhikkhu itu," demikian menurut sutta.

Disini keempat elemen diperlakukan secara sama. Bagian penyimpulan dimulai dengan membandingkan tubuh dan bagian-bagiannya dengan sebuah rumah yang dibuat dengan komponen-komponen yang berbeda. Diikuti penjelasan tentang kemunculan berkondisi dari enam buah kesadaran perseptual. Dalam menyebutkan lima organ indera dan objek-objek indera sebagai kondisi dasar bagi timbulnya kesadaran lima indera, mendapatkan pemenuhan kebutuhan jasmaniah diperkenalkan dengan makna sebenarnya dari bagian-bagian itu. Dengan demikian akan melengkapi pembabaran unsur jasmani. Dengan keadaan kesadaran yang telah timbul, kelima elemen tersebut diberikan dan dengan cara begitulah hubungan antar elemen dapat dipahami sebaik memahami elemen itu masing-masing. Dan dalam konteks ini Y.A. Sariputta mengutip ujaran Sang Buddha:

"Mereka yang memahami sifat kesalingbergantungan (dependent origination) akan mengerti Dhamma; dan mereka yang memahami Dhamma akan mengerti hukum kesalingbergantungan."

Nafsu, desakan dan kemelekatan pada panca skandha adalah asal mula penderitaan. Terbebas dari nafsu, desakan keinginan dan kemelekatan itu adalah akhir dari penderitaan. Dan bagi para bhikkhu yang telah memahami hal ini dikatakan:

"Hingga di sini pun, telah banyak yang telah dicapai oleh bhikkhu itu,"

Demikian penjelasan ini telah lengkap mengakhiri Empat Kebenaran Mulia. Ajaran Dhamma ini mirip seperti musik yang rumit dan indah yang diakhiri dengan paduan suara yang khidmat dan agung.

Penjelasan lain mengenai Y.A. Sariputta terdapat dalam Samma-ditthi Sutta(34). Sutta ini merupakan maha karya Dhamma yang juga memberikan kerangka dasar untuk penjelasan yang lebih jauh, seperti yang diberikan dalam uraian ekstensif berikut. Uraian tersebut mengatakan:

"Dalam ucapan Sang Buddha sebagaimana yang terkumpul dalam lima nikaya besar, tidak ada ajaran lain selain Ajaran tentang Pandangan Benar, dimana Empat Kebenaran Mulia dinyatakan sebanyak tiga puluh dua kali, dan demikian pula terhadap tingkat kesucian Arahat."

Khotbah yang sama juga memberikan kita penuturan asli dari hukum kesalingbergantungan, dengan sedikit variasi tapi sangat instruktif. Masing-masing faktor kesalingbergantungan digunakan untuk mengilustrasikan pengertian benar di dalam Empat Kebenaran Mulia. Pemahaman tentang hal tersebut ditinggikan, diperluas dan diperdalam. Ajaran ini telah digunakan luas untuk tujuan-tujuan instruksional selama berabad-abad hingga hari ini.

Khotbah Y.A. Sariputta lainnya adalah Sama-citta Sutta(35) yang diperdengarkan bagi para "dewa alam pikiran hening" perihal tiga tingkat kesucian pertama yaitu: pemasuk arus, yang kembali sekali lagi, dan yang tidak lagi kembali. Tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan atas pertanyaan kelahiran kembali mereka yang berulang-ulang dalam alam lima indera atau dalam alam materi halus maupun non materi. Y.A. Sariputta mengatakan bahwa hal itu tergantung pada metode latihan mereka dan pada kotoran batin mereka yang masih tertinggal. Ini merupakan khotbah yang sangat singkat tapi mempunyai dampak yang luar biasa terhadap semua dewa yang berkumpul - sesuai tradisi, para dewa berkumpul untuk mendengarkan pembabaran Dhamma. Dikatakan bahwa banyak dari mereka yang mencapai tingkat kesucian Arahat dan banyak sekali yang mencapai tahap pemasuk arus. Khotbah Y.A. Sariputta ini, sesungguhnya ditujukan pada mereka yang sedikit memiliki hasil pencapaian luar biasa diantara makhluk-makhluk alam surgawi; dan walaupun ini merupakan naskah yang amat ringkas dan kurang jelas karena tanpa penjelasan uraian, naskah ini memiliki reputasi tinggi selama berabad-abad. Ini merupakan khotbah yang diajarkan oleh Arahat Mahinda pada sore hari kedatangannya di Sri Lanka, dan Mahavamsa (XIV,34ff), babad terkenal Sri Lanka. Berkaitan dengan hal tersebut, pada peristiwa ini juga terdapat banyak dewa yang mendengar dan akhirnya berhasil mencapai penembusan Dhamma.

Penghargaan tinggi yang diperoleh khotbah ini dan pengaruh kuatnya, mungkin sesuai dengan kenyataan bahwa khotbah ini membantu mereka yang berada di dalam Jalan untuk memahami posisi mereka sehubungan dengan jenis kelahiran kembali mereka yang masih akan terjadi lagi. Para dewa dengan tingkat perkembangan yang lebih tinggi terkadang cenderung menganggap status kedewaan mereka sebagai tujuan final, dan tidak berharap untuk terlahir kembali ke dalam alam lima indera, yang mana hal ini sebenarnya justru yang sering terjadi. Khotbah Sariputta memberikan mereka sebuah kriteria yang dapat menunjukkan posisi mereka. Bagi para makhluk duniawi yang masih di luar Jalan, juga, mestinya akan memperoleh manfaat dari orientasi berharga ini guna mengarahkan daya upaya praktik mereka.

Sangiti Sutta (Deklamasi/pertunjukan/pengucapan) dan Dasuttara Sutta ("Khotbah Kelompok Sepuluh") merupakan dua khotbah Y.A. Sariputta dan sekaligus merupakan dua naskah terakhir dalam Digha Nikaya - kumpulan khotbah-khotbah panjang. Kedua naskah ini merupakan kompilasi dari istilah-istilah ajaran, yang mana di dalamnya banyak topik dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok berurut dari kelompok satu hingga sepuluh. Alasan membawa kompilasi ini hanya sampai kelompok sepuluh mungkin dikarenakan hanya terdapat sedikit kelompok istilah-istilah doktrinal yang melebihi kelompok sepuluh, dan hanya dengan sepuluh pengelompokkan ini diharapkan dapat lebih mudah diketahui dan diingat. Sangiti Sutta dikhotbahkan di hadapan Sang Buddha dan diakhir khotbah, wejangan ini mendapatkan persetujuan dari Sang Buddha.

Bila di dalam Sangiti Sutta istilah-istilah doktrinal disusun semata-mata menurut urutan kelompok satu sampai sepuluh; dalam Dasuttara Sutta setiap masing-masing kelompoknya memiliki sepuluh bagian sub divisi yang berfungsi untuk memperkenalkan esensi praktek kelompok-kelompok ini, sebagai contoh:

"Satu hal (1) yang sangat penting, (2) yang harus dikembangkan, (3) yang harus diketahui sepenuhnya, (4) yang harus dilepaskan, (5) yang menunjukkan kemunduran, (6) yang menunjukkan perkembangan, (7) yang sulit ditembus, (8) yang harus dibangkitkan, (9) yang harus diketahui secara langsung, (10) yang harus direalisasi. Apa itu satu hal yang sangat penting? Penuh perhatian terhadap hal-hal yang bermanfaat....."

Naskah ini pastilah dihimpun semasa hidup Sang Buddha dan Y.A. Sariputta hampir berakhir, yaitu ketika telah terdapat ajaran yang banyak dan khotbah-khotbah harus disebarkan secara hati-hati sehingga membutuhkan ajaran yang terorganisir agar dapat langsung digunakan, dan juga petikan aspek-aspek utama dari Dhamma menjadi sebuah pertolongan yang berguna didalam pembelajaran yang komprehensif terhadap Ajaran.

Sangiti Sutta dibabarkan pada waktu kematian Nigantha Nataputta. Dan sebenarnya, peristiwa inilah yang menjadi inspirasi bagi pembabaran sutta; yang membahas tentang perselisihan, perpecahan serta pertentangan Ajaran yang kemudian timbul diantara para umat Jaina segera setelah kematian guru mereka, Nigantha Nataputta. Akibatnya mungkin akan sebaliknya bila menyikapi kejadian yang serupa terjadi terhadap Mahavira. Kejadian ini diambil sebagai contoh peringatan oleh Y.A. Sariputta yang dalam khotbahnya menekankan bahwa naskah ini "harus dilafalkan oleh semua secara bersama-sama, harmonis dan tanpa perselisihan sehingga Kehidupan Suci dapat bertahan lama demi kemakmuran dan kebahagiaan para dewa dan manusia." Beberapa pengulas mengatakan bahwa Sangiti Sutta diajarkan untuk menyampaikan "rasa perdamaian" (samaggi-rasa) di dalam Ajaran, yang diperkuat dengan kecakapan penyampaian Ajaran (desana-kusalata).

Tujuan praktis dari Dasuttara Sutta dinyatakan dalam syair pendahuluan Y.A. Sariputta sebagai berikut:

"(Khotbah) Dasuttara yang akan saya babarkan merupakan sebuah ajaran demi pencapaian Nibbana dan akhir dari penderitaan, demi pembebasan dari segala bentuk keterikatan."

Dasuttaram pavakkhami dhammam nibbanappattiya dukkhas' antakiriyaya sabbaganthapamocanam.

Tampaknya kedua sutta ini diberikan sebagai indeks beberapa ajaran tertentu. Kedua sutta ini juga berguna bagi para bhikkhu yang sulit mengingat naskah-naskah yang sangat banyak. Bagi para bhikkhu tersebut sutta ini akan sangat membantu mereka dalam mempresentasikan urutan aspek dari Ajaran ke dalam bentuk yang dapat dengan mudah diingat dan dipahami. Kedua khotbah ini dengan mengagumkan memberi ilustrasi perhatian Y.A. Sariputta terhadap keberlangsungan Dhamma, dan cara pelestarian sistematisnya disebarkan utuh dengan semua detail-detailnya. Untuk alasan itulah beliau menyediakan "alat bantu pembelajaran" seperti ini dan juga khotbah-khotbah lainnya, bersama dengan karya-karya lainnya seperti Niddesa.

***​

Rangkuman dari khotbah-khotbah lain yang diberikan oleh Y.A. Sariputta terlampir pada akhir dari buku ini. Kita sekarang akan membahas kitab-kitab yang lebih besar yang berkaitan dengan Y.A. Sariputta.

Karya pertama adalah Niddesa yang merupakan bagian dari Khuddaka Nikaya dari Sutta Pitaka. Ini merupakan satu-satunya karya yang khusus berkarakter ulasan yang dimasukkan ke dalam Kitab Suci Tipitaka Pali. Dua bagiannya, yaitu: Maha Niddesa merupakan uraian atas Atthaka-vagga dari Sutta Nipata, sedangkan Cula Niddesa mengulas tentang Parayana-vagga dan Khaggavisana Sutta, juga terdapat dalam Sutta Nipata.

Atthaka-vagga dan Parayana-vagga merupakan dua bab terakhir dari Sutta Nipata dan tidak diragukan lagi merupakan bagian yang tertua tidak hanya dari karya-karya tersebut tapi dari seluruh Sutta Pitaka. Kedua bab ini dinilai tinggi bahkan pada masa-masa awal Sangha, serta bagi umat-awam. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa Udana mencatat sebuah pelantunan Atthaka-vagga oleh Sona Thera dan Anguttara Nikaya pelantunan akan Parayana-vagga oleh seorang upasika bernama Nandamata.

Setidaknya dalam 5 kesempatan Sang Buddha sendiri telah memberikan penjelasan atas syair-syair terkandung didalam dua bab dari Sutta Nipata ini. Terlepas dari penghargaan tinggi yang diberikan dengan jelas, fakta bahwa kedua koleksi syair ini mengandung banyak kata-kata kuno dan ungkapan-ungkapan singkat dan padat membuatnya dapat dipahami bahwa pada masa-masa awal telah disusun sebuah ulasan tentang mereka dan baru belakangan dimasukkan ke dalam kitab-kitab Buddhist tersebut.

Peranan dari Y.A. Sariputta harus dipandang sebagai hal yang sangat masuk akal(36). Sungguh menjadi perhatian Y.A. Sariputta untuk memberikan instruksi-instruksi metodis bagi para bhikkhu sehingga Niddesa tidak hanya berisi penjelasan kata-kata, klarifikasi konteks dan kutipan-kutipan pendukung dari ucapan Sang Buddha, tetapi juga harus mengandung makna material yang tentunya berkaitan dengan instruksi-instruksi bahasa, seperti penambahan sinonim dari kata-kata yang dijelaskan. Atas permasalahan ini, Prof. E.J. Thomas menuliskan: (37) Aspek yang paling unik dari Niddesa adalah bahwa Niddesa terdiri dari sebuah daftar sinonim kata-kata yang diulas. Daftar semacam itu tidak digunakan semata-mata untuk menjelaskan makna kata-kata dalam konteks khusus. Mereka diulangi dalam bentuk yang sama dimana saja kata tersebut muncul. Dengan demikian diharapkan dapat dengan mudah untuk dipelajari; cara yang sama ketika kita mempelajari kosha (kamus).

Banyak metode serupa yang dijumpai dalam naskah-naskah Abhidhamma. Tetapi dalam Niddesa metode ini digunakan dalam wacana-wacana yang tidak dapat secara langsung ditangkap artinya. Hal ini memperlihatkan suatu sistem untuk mempelajari pembendaharaan kosa kata dari kitab-kitab buddhis dan untuk menjelaskan bentuk-bentuk kuno yang tidak lagi lazim digunakan.

Walaupun demikian tidak ada lagi pembelajaran tata bahasa yang muncul dari deskripsi beberapa istilah fungsi kata ini. Dalam Niddesa kita mempunyai bukti langsung dari sistem instruksi yang lazim digunakan untuk menelaah sebuah karya tertentu, yang mengandung interpretasi, ajaran serta penjelasan lisan dari permulaan (pembelajaran) tata bahasa. Kitab-kitab Abhidhamma dan kitab-kitab buddhis lainnya yang berkaitan - seperti Patisambhida Magga, memberikan kaitan-kaitannya terhadap makna kata tersebut. Hal ini muncul menjadi suatu sistem yang jelas mengacu pada Niddesa (1,234) dan bagian-bagian lain seperti 4 macam kemampuan analitis (patisambhida); yaitu: analitis pemahaman (attha), kondisi (dhamma), analisis tata bahasa (nirutti), dan kejernihan wawasan (patibhana). Nirutti dari Niddesa merupakan hal yang seharusnya kita harapkan untuk muncul andaikata bahasa Pali masih merupakan bahasa yang masih hidup. Semua analisa tata bahasa yang diperlukan merupakan suatu pengetahuan tentang kata-kata didalam Kitab Suci tersebut yang telah punah, dan penjelasan bentuk-bentuk tata bahasa yang tidak lazim dengan memakai ungkapan jaman sekarang... Kita dapat melihat dari beragam bentuk serta bacaannya yang terus menerus mengalami perubahan dan penambahan-penambahan, dan dalam kasus dimana suatu karya digunakan secara terus menerus sebagai petunjuk praktik maka hal semacam ini memang tidak dapat dihindari.

Y.A. Sariputta menyatakan bahwa beliau mencapai keempat macam pengetahuan analisis (patisambhida) dua minggu setelah penahbisannya, yaitu dalam mencapai tingkat kesucian Arahat(38). Kenyataan ini dan aplikasinya yang luas dari nirutti-patisambhida, "analisis tata bahasa," dalam Niddesa, menunjukkan bahwa mungkin sekali beliau itu adalah penulis yang sesungguhnya dari Niddesa maupun Patisambhida Magga.

Maha Niddesa sendiri memiliki ulasan mengenai Sariputta Sutta (juga dikenal sebagai "Therapanha Sutta") yang merupakan naskah terakhir dalam Atthaka-vagga. Bagian pertama dari naskah ini berisi syair-syair pujian terhadap Sang Bhagava dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadaNya yang diajukan oleh Sariputta sendiri. Maha Niddesa mencantumkan syair pendahuluan yang menunjukkan saat kembalinya Sang Buddha dari surga Tavatimsa setelah Beliau membabarkan Dhamma disana. Selain bahwa Maha Niddesa berisi hanya pertanyaan-pertanyaan Sariputta, sedangkan bagian terpenting dari naskah adalah jawaban yang diberikan Sang Buddha.

Patisambhida Magga mempunyai penampilan seperti sebuah buku pedoman pembelajaran Buddha Dhamma yang tingkat lanjutan, dan cakupannya luas serta dalam sebagaimana pikiran penuturnya yang terkenal. Pendahuluannya diawali dengan risalah-risalah mengenai 72 jenis pengetahuan (nana) dan jenis-jenis pandangan (ditthi) spekulatif yang salah. Keduanya menunjukkan pikiran Y.A. Sariputta yang metodis dan tajam. Di dalam Risalah mengenai Pengetahuan, seperti juga dalam bab lainnya dari karya ini, ditemukan banyak sekali istilah-istilah ajaran yang muncul pertama kalinya dan hanya terdapat dalam Patisambhida Magga. Itu pun mengandung perluasan istilah-istilah dan ajaran-ajaran yang disebutkan dengan jelas dalam bagian-bagian lain dan tertua dari Sutta Pitaka.

Dalam hal ini, istilah-istilah tersebut akan mengandung bahan mengenai meditasi praktis nilai kebajikan yang mulia, sebagai contoh mengenai kesadaran pernapasan(39), metta-bhavana, dan banyak lagi latihan-latihan vipassana (insight). Juga terdapat sebuah wacana tentang karakter pujian dan keindahan agung mengenai Welas Asih Mulia Sang Tathagata. Mahanama Thera dari Sri Lanka yang menulis Saddhammappakasini - uraian pada karya, dengan yakin menjelaskannya kepada Y.A. Sariputta, dan pada bagian pengantar syair-syair memberikan sanjungan yang mengesankan kepada Sesepuh Agung. Dalam Patisambhida Magga sendiri, nama Y.A. Sariputta disebutkan dua kali. Pertama sebagai seseorang yang memiliki samadhi-vipphara-iddhi (dalam Iddhividha-katha) dan kemudian dalam Maha-panna-katha, solasa-panna-niddesa, dimana dikatakan: "Mereka yang memiliki kebijaksanaan seperti Sariputta, maka mereka termasuk dalam tingkatan pengetahuan yang sama dengan wawasan para Buddha."

Kita sekarang sampai pada kontribusi terpenting yang Y.A. Sariputta berikan terhadap ajaran buddhis. Menurut tradisi (contohnya dalam Atthasalini), Sang Buddha membabarkan Abhidhamma di surga Tavatimsa kepada ibuNya, Ratu Maya, yang terlahir kembali sebagai seorang dewa di alam tersebut. Beliau melakukan pembabaran ini selama tiga bulan dan ketika kembali ke bumi untuk menerima persembahan makanan, Beliau memberikan Y.A. Sariputta sebuah "metode" (naya) dari bagian Abhidhamma yang sedang Beliau babarkan. Dalam Atthasalini dikatakan: "Yang menerima "metode" adalah Siswa Utama, yang diberkahi dengan pengetahuan analitis, seakan-akan Sang Buddha berdiri pada tepi laut dan menunjukkan samudra dengan tangannya yang terbuka. Kepada sang sesepuh, Dhamma telah diajarkan oleh Yang Terberkahi, dalam ratusan dan bahkan ribuan cara sehingga menjadi sangat jelas." Sesudah itu sang Sesepuh meneruskan apa yang dia dapat kepada lima ratus muridnya.

Lebih jauh dikatakan: "Urutan tekstual Abhidhamma berasal dari Y.A. Sariputta; nomor seri yang berurutan dalam Kitab Besar (Patthana) juga ditetapkan olehnya. Dengan cara ini sang Sesepuh tanpa merusak ajaran unik ini, memberikan nomor urut agar membuatnya mudah untuk mempelajari, mengingat, menyelidiki dan mengajarkan Dhamma."

Atthasalini - ulasan mengenai Dhamma-sangani juga dianggap merupakan kontribusi Y.A. Sariputta. Berikut isi dalam kitab Abhidhamma:

(a) 42 untaian (dyads; duka) dari Suttanta Matika, yang mengikuti Abhidhamma Matika, keduanya mendahului 7 kitab Abhidhamma. 42 untaian Suttanta dijelaskan dalam Dhammasangani dan juga dianggap berasal dari sang Sesepuh.

(b) Bagian keempat dan sekaligus merupakan bagian terakhir dari Dhammasangini, adalah Atthuddhara-kanda - "Ikhtisar"

(c) Susunan pelafalan Abhidhamma (vacanamagga)

(d) Bagian berurutan (gananacara) dari Patthana

Dalam Anupada Sutta(40) Sang Buddha sendiri berbicara mengenai analisis kesadaran meditatif Y.A. Sariputta hingga keunggulan mentalnya yang seimbang, yang mana sang Sesepuh memetik dari pengalamannya sendiri, setelah sadar dari setiap pencapaian meditatifnya secara berturut-turut. Analisis ini mungkin merupakan sebuah tanda atau sebuah batasan analisis detail dari kesadaran jhana yang diuraikan dalam Dhammasangani.

Melihat penguasaan Dhamma Y.A. Sariputta dan kemampuannya dalam menjelaskan Dhamma, Sang Buddha mengemukakan hal berikut ini:

"Esensi Dhamma (dhammadhatu) telah begitu dipahami oleh Sariputta, O para bhikkhu, sehingga bila Aku bertanya padanya selama satu hari dalam kata-kata dan frase-frase berbeda, Sariputta akan membalas selama satu hari dalam berbagai kata-kata dan frase-frase. Dan bila Aku bertanya padanya selama satu malam, atau satu hari-satu malam, atau dua hari-dua malam, atau bahkan hingga tujuh hari-tujuh malam, Sariputta akan menguraikan dengan rinci permasalahan selama periode waktu yang sama, dalam berbagai kata-kata dan frase-frase."

Niddana Samyuta, No. 32​

Dan pada kesempatan lain, Sang Bhagava memakai ungkapan ini:

"Bila dia diberkahi dengan lima kualitas, O para bhikkhu, putra tertua dari Raja Penguasa Dunia dengan budi luhur memutar Roda Kedaulatan yang telah diputar oleh Ayahnya. Dan Roda Kedaulatan itu tidak dapat diputar ke arah sebaliknya oleh rasa bermusuhan umat manusia siapapun. Apakah kelima kualitas itu? Putra tertua dari Raja Penguasa Dunia mengetahui apa yang bermanfaat, mengetahui Hukum, mengetahui ukuran kebenaran, mengetahui waktu yang tepat dan mengetahui masyarakat (yang mana dia bergaul, parisa).

Serupa dengan hal itu, O para bhikkhu, Sariputta diberkahi dengan lima kualitas dan dengan benar memutar Roda Dhamma yang mulia, bahkan saat Aku telah memutarnya. Apakah kelima kualitas itu? Sariputta, O para bhikkhu, mengetahui apa yang bermanfaat, mengetahui Ajaran, mengetahui ukuran kebenaran, mengetahui waktu yang tepat dan mengetahui persaudaraan (dimana dia berada)."

Anguttara Nikaya, V.132​

Para Thera lainnya tidak menyembunyikan apresiasi mereka. Sesepuh Vangisa, dengan pernyataannya dalam Theragatha (vv. 1231-3) memuji Sariputta yang "mengajar dengan ringkas dan juga berbicara dengan detail," dimana dalam himpunan yang sama para sesepuh agung lainnya, seperti Maha Kassapa (vv. 1082-5) dan Maha Moggallana (vv. 1158; 1176-7; 1182) juga memberikan pujian mereka. Dan Y.A. Maha Moggallana pada akhir Khotbah Sariputta mengenai Ketidaksalahan(41), memberikan kata-kata pujian berikut atas khotbah sahabatnya:

"Kepada (mereka yang berbudi luhur dan tulus) para bhikkhu yang telah mendengar penjelasan rinci Y.A. Sariputta, akan seperti memberikan makanan dan minuman kepada telinga dan pikiran mereka. Bagaimana dia membimbing para bhikkhu binaannya dari hal yang tidak baik, dan menunjukkan pada mereka apa yang baik!"

Hubungan kedua Siswa Utama sejajar dalam hal ajaran seperti yang dijelaskan oleh Sang Buddha ketika Beliau bersabda:

"Persahabatan, O para bhikkhu, terjalin antara Sariputta dan Moggallana, dan selalu terjalin diantara mereka! Mereka adalah bhikkhu yang bijaksana dan penolong bagi para bhikkhu binaan mereka. Sariputta bagaikan seorang ibu yang melahirkan, sedangkan Moggallana bagaikan seorang perawat yang merawat anak-anak yang dilahirkan. Sariputta melatih murid-muridnya hingga mencicipi hasil pemasuk arus, dan Moggallana melatih mereka hingga mencapai tingkat kesucian tertinggi."

"Sariputta mampu menjelaskan dengan rinci Empat Kebenaran Mulia, mengajarkannya dan membuatnya dapat dimengerti, menyatakan, mengungkapkan dan menjelaskan keempat kebenaran mulia tersebut, dia membuatnya menjadi jelas."

Majjh. 141, Sacca-vibhanga Sutta​

Dan di dalam Anguttara Nikaya (11, 131):

"Seorang bhikkhu yang penuh keyakinan, O para bhikkhu, harus menghargai aspirasi benar ini: "Oh, semoga aku menjadi seperti Sariputta dan Moggallana!" Sariputta dan Moggallana adalah figur dan standar bagi para bhikkhuKu."

Reputasi besar Y.A. Sariputta sebagai seorang pengajar Dhamma lama melekat pada dirinya sehingga menjadi semacam tradisi diantara umat buddha generasi berikutnya. Hal ini ditunjukkan dalam bagian penutupan dari Milinda-panha yang ditulis sekitar tiga ratus tahun kemudian. Didalamnya, Raja Milinda membandingkan Y.M. Nagasena Thera dengan Y.A. Sariputta, berkata sebagai berikut:

"Dalam Jalan Buddha ini, tidak ada orang lain seperti diri Anda yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini, kecuali Sesepuh Sariputta - Sang Jenderal Dhamma."

Reputasi tinggi itu tetap bertahan hingga saat ini, dikuatkan dengan ajaran-ajaran mulia yang bersumber dari Siswa Utama, yang dipertahankan dan disimpan dalam beberapa kitab-kitab tertua buddhis, berdampingan dengan sabda-sabda Gurunya sendiri.

 
Sanak Saudara Sariputta



Seperti yang sudah kita ketahui, Y.A. Sariputta terlahir dalam sebuah keluarga kasta brahmana di desa Upatissa (atau Nalaka), dekat kota Rajagaha. Ayahnya bernama Vaganta dan ibunya bernama Sari. Dia memiliki 3 saudara laki-laki yang masing-masing bernama Cunda, Upasena dan Revata; serta 3 saudara perempuan yaitu Cala, Upacala dan Sisupacala. Mereka berenam juga ditahbiskan secara Buddhis dan berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat.

Cunda dikenal dengan nama Samanuddesa yang artinya "Pemula" dalam Sangha, bahkan setelah menjadi seorang bhikkhu. Hal ini bertujuan untuk membedakannya dengan Āyasmā Maha Cunda. Pada saat kematian Y.A. Sariputta, Cundalah yang mengurusi prosesinya dan memberitahukan kepada Sang Buddha tentang kepergian Sariputta sambil membawa relik Siswa Utama itu. Kisah ini diceritakan dalam Cunda Sutta, sebuah uraian yang akan dibahas dalam bagian lain dari buku ini.

Upasena yang kemudian dikenal dengan nama Vagantaputta atau "Anak Vaganta, sama seperti Sariputta yang berarti "Anak Sari", dikatakan oleh Sang Buddha sebagai siswa yang terkemuka diantara mereka yang berkepribadian menyenangkan (samantappasadika). Beliau meninggal akibat patukan ular, sebagaimana yang tercantum dalam Salayatana Samyutta, Vagga 7, Sutta 7.

Revata merupakan saudara laki-laki yang paling bungsu, sehingga ibunya berharap mencegahnya memasuki persaudaraan mulia dengan menikahkannya ketika dia berumur sangat belia. Tapi pada hari pernikahannya dia melihat nenek dari calon istrinya, seorang wanita tua berumur 120 tahun dan menderita segala tanda penuaan. Saat itulah dia merasa jijik dengan kehidupan duniawi. Kabur dari prosesi pernikahan dengan sedikit muslihat, dia pergi menuju sebuah vihara dan ditahbiskan. Tahun-tahun berikutnya, dia sedang dalam upaya menemui Sang Buddha sampai akhirnya dia berhenti di sebuah hutan akasia (khadira-vana), dan ketika menghabiskan masa vassa disana dia berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Semenjak itu dia dikenal dengan nama Revata Khadiravaniya - "Revata dari Hutan Akasia." Sang Buddha menunjuknya sebagai siswa yang terkemuka diantara para penghuni hutan.

Ketiga saudara perempuannya, Cala, Upacala dan Sisupacala, bertekad untuk mengikuti saudara lelaki mereka dan menjadi bhikkhuni setelah menikah. Dari pernikahan mereka, masing-masing yang dinamakan seperti nama ibunya: Cala (atau Cali) dan begitu pula yang lainnya. Ketiga anak mereka pun juga ditahbiskan dan diangkat murid oleh Revata Khadtravaniya. Perilaku mereka yang baik dipuji oleh Y.A. Sariputta, yang bertemu mereka ketika dia hendak mengunjungi adik laki-laki bungsunya yang kala itu sedang sakit. Hal ini tertulis dalam Uraian Tentang Theragatha, v. 42.

Cala, Upacala dan Sisupacala diceritakan bahwa ketika menjadi bhikkhuni mereka didekati oleh Mara dan diajukan pertanyaan yang mencela dan menggoda. Tetapi mereka mampu memberikan jawaban yang sangat memuaskan. Hal ini tertulis dalam Theragatha dan Bhikkhuni Samyutta.

Berbeda dengan semua ini, ibunda Sariputta merupakan seorang penganut brahmanisme yang kukuh. Ia membenci Ajaran Sang Buddha serta para pengikutnya. Ulasan dalam Dhammapada (v. 400) diceritakan bahwa pada suatu hari ketika Y.A. Sariputta sedang berada di desa kelahirannya - Nalaka, bersama dengan sejumlah besar rombongan bhikkhu. Beliau berpindapatta dan datang mengunjungi rumah ibunya. Ibunya menyediakan tempat duduk dan makanan tapi sembari mengomel dengan ucapan-ucapan kasar: "Oh, kamu pemakan sisa-sisa orang lain!" katanya. "Ketika kamu gagal mendapatkan sisa-sisa nasi basi kamu pergi dari rumah ke rumah orang yang tidak kamu kenal, memohon sisa-sisa makanan dari para wanita! Dan untuk inilah kamu pergi meninggalkan kekayaan senilai delapan puluh juta dan menjadi seorang bhikkhu! Kamu telah mengecewakanku! Nih, sekarang makanlah!"

Demikian pula ketika dia sedang menyediakan makanan kepada para bhikkhu lainnya, dia akan berkata:

"Jadi, kamu yang telah membuat anakku menjadi pembantumu! Makanlah sekarang!"

Demikian dia terus mencerca para bhikkhu, tapi Y.A. Sariputta tidak mengucapkan sepatah kata pun. Beliau mengambil makanannya, memakannya dan dalam kesunyian kembali ke vihara. Sang Buddha mengetahui peristiwa ini dari Y.A. Rahula, yang memang sudah menjadi bhikkhu saat itu. Semua bhikkhu yang mendengar hal ini takjub atas kesabaran luar biasa yang dimiliki Y.A. Sariputta dan diantara perkumpulan para bhikkhu, Sang Buddha memuji tindakan Sariputta dengan mengucapkan syair berikut ini:

"Dia yang terbebas dari amarah, yang melaksanakan kewajibannya dengan penuh keyakinan.

Dia yang menjaga sila, dan terbebas dari nafsu keinginan,

Dia yang telah menjinakkan dirinya sendiri, dia yang mengenakan tubuh terakhirnya ini -

Orang seperti itulah yang Aku sebut sebagai brahmana sejati."

Baru menjelang kematian Y.A. Sariputta, beliau akhirnya berhasil mengajak ibunya menjadi pengikut Sang Buddha. Kisah ini akan diceritakan dalam bab berikutnya. Tapi peristiwa yang terjadi ini membawa kita pada sebuah penyimpulan tentang karakterisistik yang paling mulia dari Y.A. Sariputta, yaitu: kerendahan hati, ketabahan dan kesabarannya.

Yang Tanpa Pertentangan​

Dikisahkan Sang Buddha sedang berdiam di kota tetangga Jetavana. Beberapa orang dalam rombongan sedang membicarakan tentang sifat-sifat mulia Y.A. Sariputta. "Betapa besar kesabaran yang dimiliki Ayāsma Agung kita," mereka berujar, "bahkan walaupun seseorang memaki dan memukulnya, tidak sedikit pun jejak kemarahan."

"Siapa orang yang tidak pernah merasakan api amarah?" Pertanyaan ini muncul dalam benak seorang brahmana, pemegang pandangan salah. Dan ketika serombongan orang itu memberitahukan padanya, "Dia adalah Sesepuh kami, Sariputta," dia membalas: "Itu pastilah karena tidak ada orang yang pernah berusaha memancingnya marah."

"Bukan demikian brahmana," mereka menjawab.

"Baiklah kalau begitu, saya yang akan menyulut kemarahannya."

"Sulutlah kemarahannya bila kamu bisa!"

"Serahkan padaku," kata si brahmana.

"Aku tahu apa yang akan kulakukan padanya."

Y.A. Sariputta saat itu sedang berpindapatta dan memasuki kota. Mendekatinya dari belakang, brahmana itu memberikan pukulan keras pada punggung Y.A. Sariputta. "Apa itu?" kata Y.A. Sariputta dan hanya melihat sekilas ke belakang. Beliau kemudian melanjutkan perjalanannya.

Api penyesalan yang mendalam muncul dari setiap lekuk tubuh brahmana itu. Bersujud dengan sendirinya di kaki Ayāsma, dia akhirnya memohon maaf.

"Atas apa?" tanya Sariputta dengan lembut.

"Atas ujian kesabaran yang telah saya lakukan padamu," jawab brahmana itu dengan penuh penyesalan.

"Baiklah, saya memaafkanmu."

"Yang Mulia," kata si brahmana, "bila Anda sungguh-sungguh bersedia memaafkan kesalahanku, datanglah berpindapatta hanya di rumahku." Dia mengambil patta Ayāsma Sariputta yang setuju untuk pergi bersamanya dan melayaninya dengan mendanakan makanan.

Akan tetapi mereka yang melihat penyerangan itu menjadi sangat marah. Mereka berkumpul di rumah si brahmana bersenjatakan tongkat dan batu untuk membunuh brahmana itu. Ketika Y.A. Sariputta terlihat berjalan dengan brahmana tersebut sambil membawa mangkuk Y.A. Sariputta, mereka semua menangis:

"Yang Mulia, perintahkan brahmana ini untuk memutar badannya!"

"Untuk apa, wahai perumah tangga?" tanya Sariputta.

Mereka menjawab:

"Laki-laki ini telah memukul Anda. Kami akan memberikan apa yang pantas didapatnya!"

"Namun apa maksudmu? Apa kamu atau saya yang dia pukul?

"Adalah Anda, Yang Mulia."

"Bila demikian, dia telah memukulku dan pula telah menerima maaf dariku. Sekarang pergilah."

Kemudian Y.A. Sariputta memohon pamit kepada brahmana itu untuk pulang dan dengan tenang pulang menuju vihara.

Peristiwa ini tertulis dalam Uraian Dhammapada. Kepada para bhikkhu, Sang Buddha membabarkan syair Dhammapada 389 dan 390 berikut ini:

Janganlah seseorang memukul brahmana;

Jangan pula brahmana yang dipukul itu membalas pukulan tersebut.

Malulah mereka yang memukul brahmana;

Lebih malu lagi adalah brahmana yang membalas pukulan tersebut!

Bagi seorang brahmana, tidak balas membenci adalah kekayaan yang besar,

Apabila sebelumnya ia selalu merasa gembira dengan membenci orang lain.

Ini adalah perubahan yang sangat berarti.

Secepat pikiran yang disertai kebencian menghilang,

Secepat itulah penderitaan juga akan menghilang.

Dhammapada, 389 & 390​

Kerendahan hati Y.A. Sariputta pun sebesar kesabarannya. Beliau mau menerima koreksi dari siapapun tidak hanya dengan kepatuhan, namun juga dengan penghargaan. Seperti yang dikatakan dalam uraian Devaputta Samyutta, Susima Sutta, pada suatu ketika, akibat kelalaian sesaat, ujung bawah jubah Y.A. Sariputta terjuntai. Saat melihat hal itu, seorang samanera berusia tujuh tahun memberitahukan hal itu kepada Y.A. Sariputta. Y.A. Sariputta berhenti dan memperbaiki lipatan jubahnya dalam cara yang benar. Kemudian beliau berdiri sebelum samanera muda yang dengan kedua tangan beranjali mengatakan: "Sekarang sudah benar, Guru!"(42)

Terdapat pula suatu kisah dalam Kitab Pertanyaan-Pertanyaan Raja Milinda, yang menggambarkan tentang karakteristik Y.A. Sariputta:

"Mereka yang dalam kehidupan ini juga, pada usia tujuh tahun telah mencari perlindungan -

Bila dia adalah saya, saya akan menerimanya dengan rendah hati.

Melihatnya, saya memberikannya ketekunan dan perhatian.

Dengan rasa hormat bolehlah saya berulang kali menempatkannya sebagai guru!"

Pada suatu kesempatan Sang Buddha dengan lembut menegur Sariputta karena tidak membabarkan AjaranNya kepada mereka yang sebenarnya patut mendapatkannya. Ketika Brahmana Dhananjani sedang terbaring menjelang kematiannya, dia dikunjungi oleh Sariputta. Sariputta menganggap bahwa para brahmana seharusnya tinggal dalam alam brahma (atau "bersatu dengan Brahma") dan mengajarkan kepada brahmana Dhananjani cara untuk mencapai alam brahma melalui Brahma-vihara. Hasilnya, seperti yang diperkirakan, brahmana tersebut terlahir kembali ke alam Brahma.

Ketika Y.A. Sariputta kembali dari kunjungannya, Sang Bhagava bertanya kepadanya:

"Mengapa Sariputta, ketika masih ada hal yang lebih pantas dilakukan, kamu mengajarkan kepada Brahmana Dhananjani menuju alam Brahma, dan kemudian berdiri dari kursimu dan meninggalkannya?"

Y.A. Sariputta menjawab:

"Saya berpikir: "Brahmana ini pantas terlahir dalam alam Brahma. Tidakkah seharusnya saya menunjukkan kepadanya cara untuk bersatu dengan Brahma?"

"Brahmana Dhananjani telah meninggal, Sariputta," ujar Sang Buddha, "dan telah terlahir kembali dalam alam Brahma."

Kisah ini, yang dapat ditemukan dalam Dhananjani Sutta dari Majjhima Nikaya (97), menarik sebagai sebuah ilustrasi tentang ketidakpuasan kelahiran kembali dalam alam Brahma bagi mereka yang sesungguhnya mampu memutus lingkaran tumimbal lahir. Walau terkadang Sang Buddha sendiri menunjukkan cara menjadi bersatu dengan Brahma, sebagai contoh dalam Tevijja Sutta; Sang Buddha melihat kemungkinan bagi Dhananjani untuk menerima Ajaran yang lebih tinggi, namun Y.A. Sariputta, kurang dalam mengetahui keinginan hati orang lain (lokiya-abhinna), sehingga tidak mampu melihat kebenaran itu.

Akibatnya Dhananjani akan menghabiskan suatu masa yang tak terhitung lamanya di alam Brahma dan akan terlahir kembali sebagai seorang manusia sebelum akhirnya dia dapat mencapai cita-cita tertinggi - Nibbana.

Y.A. Sariputta juga menerima teguran lembut ketika beliau bertanya kepada Sang Buddha mengapa Sasana (Ajaran) dari beberapa Buddha di masa lampau tidak bertahan lama dan Sang Buddha menjawab bahwa hal itu dikarenakan Mereka Yang Tercerahkan tidak membabarkan banyak Dhamma, tidak menurunkan disiplin bagi umatnya, tidak pula mengadakan pengulangan Patimokkha. Sariputta kemudian berkata bahwa sudah saatnya bagi Sang Bhagava untuk menurunkan disiplin-disiplin dan Patimokkha, sehingga Kehidupan Suci dapat berlangsung lama. Sang Buddha berkata:

"Biarlah, Sariputta! Sang Tathagata sendiri akan mengetahui waktu yang tepat untuk itu. Sang Tathagata tidak akan menurunkan vinaya maupun pengulangan Patimokkha sebelum tanda-tanda ketidakjujuran telah muncul dalam Sangha.(43)"

Kekhawatiran murid terhadap keberlangsungan Sasana selama mungkin merupakan karakteristik Sariputta; demikian pula karakteristik yang sama dari Sang Buddha sehingga Beliau tidak akan menerapkan vinaya sampai memang sudah waktunya disiplin itu diperlukan. Beliau kemudian menjelaskan kepada Sariputta bahwa pada waktu itu pencapaian tingkat kesucian terendah dalam anggota Sangha adalah Sotapanna (mungkin kenyataan ini tidak disadari oleh Y.A. Sariputta), dan oleh karena itu menetapkan peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan para bhikkhu belum benar-benar diperlukan.

Catuma Sutta(44) menuliskan kejadian lain ketika Sesepuh Agung ditegur oleh Sang Bhagava. Sejumlah besar bhikkhu yang baru saja ditahbiskan, sebagaimana yang dikatakan dari uraian tersebut, oleh Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Moggallana, mendatangi Sang Buddha untuk memberikan penghormatan untuk pertama kalinya. Saat kedatangan mereka dibagi dalam empat kelompok dan mulai bercakap-cakap dengan para bhikkhu yang menetap di Catuma. Mendengar hiruk pikuk yang terjadi, Sang Buddha memanggil para bhikkhu menetap untuk menanyakan kepada mereka tentang keributan itu dan dijawab bahwa hiruk pikuk itu disebabkan oleh para pendatang baru. Dalam naskah ini tidak disebutkan apakah para bhikhu pendatang itu hadir saat itu, tapi mereka pastilah berada disana karena Sang Buddha kemudian menegur mereka dengan ucapan berikut: "Pergilah para bhikkhu, Aku menolakmu. Kamu tidak seharusnya bersamaku."

Bhikkhu-bhikkhu yang baru saja ditahbiskan pergi, tapi beberapa bhikkhu yang tersadarkan diperbolehkan untuk menetap.

Sang Buddha kemudian berkata kepada Y.A. Sariputta:

"Bagaimana menurutmu Sariputta, ketika Aku menolak kelompok bhikkhu-bhikkhu itu?"

Y.A. Sariputta menjawab:

"Saya berpikir: Yang Terberkahi mengharapkan untuk tetap berada dalam ketenangseimbangan dan tetap dalam keadaan kebahagiaan disini-dan saat ini; jadi kami juga akan tetap berada dalam ketenangseimbangan dan tetap dalam keadaan kebahagiaan disini-dan-saat ini."

"Hati-hati, Sariputta! Jangan biarkan pikiran semacam itu timbul/muncul kembali dalam dirimu!" Sang Buddha berkata. Kemudian bertanya kepada Maha Moggallana pertanyaan yang sama.

"Ketika Yang Terberkahi menolak para bhikkhu tersebut," jawab Maha Moggallana, "Saya berpikir: ˜Yang Terberkahi mengharapkan untuk tetap berada dalam ketenangseimbangan dan tetap dalam keadaan kebahagiaan disini-dan saat ini. Sedangkan saya dan Y.A. Sariputta sekarang harus mengurus komunitas para bhikkhu."

"Ucapan yang baik, Moggallana, ucapan yang baik!" kata Sang Guru. "Entah Aku sendiri atau Sariputta atau Moggallana yang harus mengurus komunitas para bhikkhu."

Sutta ini sendiri sebenarnya kurang akan detail-detail yang tentunya akan membuat kisah ini lebih mudah dimengerti semua maksudnya, tapi adalah mungkin mengingat para bhikkhu yang ditolak merupakan murid-murid dari Sariputta dan Maha Moggallana. Sang Buddha menunjukkan ketidakpuasanNya terhadap mereka dan mengindikasikannya dengan keinginannya untuk menyendiri dan bahwa mereka telah bertindak salah.

Suatu ketika Sang Buddha menetap di Jetavana, Y.A. Sariputta menjadi korban sebuah tuduhan keliru. Dikisahkan bahwa di penghujung musim hujan, Sesepuh memohon pamit kepada Sang Bhagava dan pergi bersama rombongan bhikkhunya dalam sebuah perjalanan. Sejumlah besar para bhikkhu juga memohon pamit kepada Sariputta dan ketika melepaskan mereka beliau mengetahui orang dan nama keluarga mereka. Diantara mereka terdapat seorang bhikhu yang tidak dikenali pribadi maupun nama keluarganya, tapi sebuah keinginan besar muncul dalam dirinya kalau Siswa Utama itu harus mengenalinya sebelum kepergiannya.

Di dalam segerombolan bhikkhu, sayangnya, Y.A. Sariputta tidak memberikannya perhatian yang dimaksud, dan bhikkhu itu kemudian bersedih hati. "Dia tidak menyalamiku seperti yang dia lakukan kepada bhikkhu-bhikkhu lain," pikir bhikkhu tersebut dan kemudian menaruh sakit hati kepada Sariputta. Pada saat yang sama kebetulan hem jubah Sesepuh bersentuhan dengannya dan hal ini menambah rasa jengkelnya. Dia kemudian mendekati Sang Buddha dan menyatakan protes:

"Yang Mulia, Y.A. Sariputta tak diragukan lagi berpikir dalam dirinya sendiri bila, Aku adalah Siswa Utama, memukul saya hingga hampir melukai telinga saya. Dan setelah melakukannya tanpa permintaan maaf dari saya, dia pergi melakukan perjalanannya."

Sang Buddha kemudian meminta kehadiran Sariputta. Sementara itu, Y.A. Maha Moggallana dan Y.A. Ananda, mengetahui bahwa sebuah fitnahan telah muncul, memanggil semua bhikkhu dan mengadakan suatu pertemuan.

"Mendekatlah, para bhikkhu!" mereka berseru.

"Ketika Y.A. Sariputta sedang berhadapan mata dengan mata dengan Sang Guru, dia akan meraung auman seekor singa!(45)"

Dan demikianlah. Ketika Sang Bhagava bertanya kepada Sariputta, daripada menyangkal keluhan tersebut Sariputta berkata:

"O Yang Mulia, seseorang yang tidak melakukan perenungan terhadap tubuh (tidak menyadari) dengan penghargaan terhadap tubuhnya, orang seperti itu akan dapat menyakiti seorang bhikkhu lainnya dan pergi tanpa memohon maaf."

Kemudian dilanjutkan raungan singa Y.A. Sariputta. Dia membandingkan kebebasannya dari bibit-bibit amarah dan benih-benih kebencian dengan kesabaran ibu bumi yang rela menerima segalanya, entah itu bersih maupun kotor; ketenangan pikirannya dengan seekor kerbau jantan dengan tanduk yang patah, terhadap pemuda Candala si pengemis, terhadap air, api dan angin, dan terhadap pembersihan atas segala kekotoran; dia membandingkan tindasan yang dia rasakan dari tubuhnya sendiri dengan derita ular-ular dan mayat-mayat, dan pemeliharaan tubuhnya dengan penumpukkan lemak dalam tubuh. Dalam sembilan kiasan tersebut dia mengutarakan nilai-nilai kebajikan dirinya, dan sembilan kali pula bumi ini berguncang menanggapi ungkapan kebenaran ini. Semua bhikkhu yang hadir menyaksikan terpesona oleh kekuatan agung ungkapan itu.

Setelah Sariputta menyatakan nilai-nilai luhurnya, tekanan dan rasa penyesalan memenuhi seluruh tubuh bhikkhu yang tadinya telah menuduhnya dengan tidak adil. Dengan segera dia berlutut di kaki Yang Terberkahi, mengakui fitnahan dan mengakui kesalahannya. Kemudian Sang Buddha berkata:

"Sariputta, maafkanlah penipu ini, bila tidak kepalanya akan terbelah menjadi tujuh bagian."

Jawab Sariputta adalah:

"Yang Mulia, saya dengan tulus hati memaafkan bhikkhu ini."

Dan dengan tangan bersikap anjali, dia menambahkan,

"Semoga bhikkhu ini juga memaafkan saya bila saya dengan cara apapun telah menyakiti dirinya."

Dengan cara beginilah mereka berdamai. Bhikkhu-bhikkhu lainnya kagum dan berkata:

"Lihatlah, saudara-saudaraku, kebaikan tak terhingga dari sang Sesepuh! Dia tidak memberi kesempatan api kemarahan maupun kebencian muncul menghadapi kebohongan ini, bhikkhu penfitnah ini! Bahkan dia memohon maaf sebelum dia (bhikkhu itu), menyatukan tangannya dalam sikap penghormatan, dan memohon maafnya."

Komentar Sang Buddha adalah:

"Para bhikkhu, adalah tidak mungkin bilamana Sariputta dan dari orang sepertinya terbit api kemarahan ataupun kebencian. Pikiran Sariputta seperti bumi pertiwi ini, kokoh bagai benteng kota, bagai sebuah danau dengan air yang tenang."

Tanpa pertentangan bagaikan bumi, kokoh bagaikan benteng kota,

Dengan pikiran seperti air danau yang jernih, merekalah orang-orang yang berkelakuan baik

Baginya tidak ada lagi tumimbal lahir(46).

Peristiwa lain yang serupa dengan ini, terjadi pada masa awal Sangha, tidak berakhir dengan bahagia karena si pemfitnah menolak untuk mengakui kesalahan yang diperbuatnya. Dia adalah seorang bhikkhu yang bernama Kokalika yang mendekati Sang Buddha dengan sebuah fitnahan terhadap kedua Siswa Utama:

"Sariputta dan Moggallana mempunyai niat buruk, O Yang Mulia!" katanya. "Mereka dalam genggaman ambisi setan."

Sang Bhagava membalas:

"Jangan berkata demikian, Kokalika! Jangan berkata demikian! Milikilah rasa persahabatan dan kepercayaan terhadap Sariputta dan Moggallana! Mereka berkelakuan baik dan terpuji!"

Tapi Kokalika yang tersesat tidak menghiraukan nasehat Sang Buddha. Dia tetap memegang teguh fitnahannya dan segera sesudahnya seluruh tubuhnya tertutupi oleh bisul, yang terus timbul sampai akhirnya dia meninggal akibat penyakitnya itu.

Peristiwa ini dikenal dengan luas. Kejadian ini tertulis dalam kitab-kitab berikut dalam Sutta-pitaka: Brahma Samyutta No. 10; Sutta Nipata, Mahavagga No.10; Anguttara Nikaya V. 170, dan Takkariya Jataka (No. 481). Sebuah perbandingan dari kedua kejadian ini mengungkapkan betapa pentingnya rasa penyesalan. Baik Y.A. Sariputta maupun Maha Moggallana tidak menghendaki bhikkhu Kokalika menjadi sakit akibat kebenciannya, dan permintaan maafnya, yang telah dia tawarkan pada mereka, tidak akan membuat perbedaan terhadap sikap kedua Siswa Utama. Sakit yang diderita oleh bhikkhu Kokalika sepenuhnya adalah akibat dari perbuatannya sendiri.

 
Catatan Kaki

1. Orang suci yang terbebaskan dari semua kemelekatan dan kekotoran batin

2. Menurut Cunda Sutta (Satipatthana Samyutta) dan uraiannya, nama tempat kelahiran Sariputta adalah Nalaka, atau Nalagana, yang mungkin merupakan nama lain dari desa Upatissa

3. Sebutan kehormatan untuk bhikkhu senior atau diantara mereka yang hampir setingkat

4. Menerima persembahan makanan dari rumah ke rumah. Hal ini merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh Sang Buddha sendiri dan masih dipertahankan hingga saat ini

5. "Ye dhamma hetuppabhava tesam hetum tathagataha, tesam ca yo nirodho evamvadi mahasamano ." Gatha ini kemudian menjadi salah satu syair yang paling terkenal dan tersebar luas. Dipertahankan selama berabad-abad sebagai pengingat kontak pertama Sariputta terhadap Dhamma dan juga sebagai pengingat terhadap Assaji, arahat gurunya

6. Empat penjuru mengacu pada: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasika

7. Carita-vasena. Ini mengacu pada jenis-jenis karakter seseorang (carita) seperti yang dijelaskan dalam Visuddhimagga, Ch. III)

8. ini mengacu pada sebuah khotbah dalam Anguttara Nikaya, Tujuh, No. 58 (P.T.S. IV. 85)

9. Dighanakha Sutta, Majjhima Nikaya No. 74

10. Kebenaran dari pencapaiannya mengenai pengetahuan analitis, yang disebutkan oleh Sariputta sendiri dalam Anguttara Nikaya, Empat, No.172

11. Y.A. Sariputta menunjukkan caranya mencapai ke-Arahat-an dalam syair 995-96, Theragatha

12. Pancavagiya Bhikkhu: lima pertapa yang mendengarkan khotbah pertama Sang Buddha dan menjadi lima bhikkhu pertama. Terdiri dari Kondañña, Vappa, Mahanama, Assaji dan Bhaddiya. Kesemuanya adalah Arahat

13. Dalam Sutta Nipata. Juga disebut "Dhamma Sutta"

14. Jataka No. 156

15. Culavagga, Sanghabhedaka-khandaka, Sanghabhedaka-katha

16. Culavagga, Sanghabhedaka-khandaka, Sanghabhedaka-katha

17. Culavagga, Kammakkhandaka, Pabbajaniyakamma; Parajika Pali, Sanghadinesa-kanda, Kuladusaka-sikkhapada

18. Devaputta-Samy., Susima Sutta

19. Kesombongan (mana) dan kegelisahan (uddhacca) merupakan dua dari tiga belenggu (samyojana) yang dihancurkan hanya pada tingkat kesucian Arahat

20. Bukanlah subjek dari perilaku pikiran

21. Magga Samyutta, No. 2

22. Khanda Samyutta, No. 2

23. Tittita Jataka, No. 37

24. Vinaya (Cula-vagga, Senasana-khandhaka)

25. Kelompok kehidupan yang terdiri dari: rupa (jasmani), vedana (perasaan), sanna (pencerapan), sankhāra (pikiran), dan vinnana (kesadaran)

26. Theragatha v. 81

27. Majjhima 143

28. Udana VII, 1

29. 1 kubit kira-kira 45-56 cm

30. Pamsupisācakam: setan kecil atau jin yang menghantui rawa-rawa dan tempat buangan/kotoran

31. Samyutta Nikaya, vol. III: Khandha vagga

32. Ang., Kelompok Sepuluh, No.7

33. Sang Buddha yang walau mampu mengetahui jawaban atas pertanyaanNya, menanyakan pertanyaan-pertanyaan untuk memberikan arahan dan pencerahan kepada murid-muridNya atau kepada orang lain

34. Baca "Right Understanding, Discourse and Commentary", diterjemahkan oleh Soma Thera (Lake House Bookshop, Colombo)

35. Angutara Nikaya (PTS), vol. I, 63 (Kelompok Dua, No. IV, 5)

36. Uraian Theragatha, oleh Bhadantacariya Dhammapala

37. Baca "Buddhist Education in Pali and Sanskrit Schools," oleh E.J. Thomas

38. A. II, 160

39. Terdapat dalam "Mindfulness of Breathing" oleh Ñanamoli Thera, Kandy, Buddhist Publication Society, 1964

40. Majjh. No. 111

41. Majjh. No. 5

42. Terdapat sebuah versi yang sedikit berbeda ditemukan dalam uraian Theragatha

43. Parajika Pali, Bagian Pendahuluan

44. Majjh. N0. 67

45. Khotbah "Auman Singa" (siha-nada) merupakan sebuah ungkapan mendalam yang dikumandangkan berdasarkan kebenaran

46. Dhammapada, v. 95

 
Back
Top