Sebuah Catatan dari Jono

Status
Not open for further replies.

Kalina

Moderator
Sungguh, belum pernah rakyat Indonesia mengalami histeria seperti ini. Euforia yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Euforia ini sukses menyelimuti seluruh napas kehidupan rakyat Indonesia meskipun sudah hampir setahun berlalu dari momen itu. Momen yang begitu indah, dramatis, dan mengharukan. Mungkin inilah momen selain Proklamasi 17 Agustus 1945 yang mampu membuat rakyat Indonesia hanyut dalam kebanggaan dengan tanah airnya.

Rio de Janeiro, 9 Juli 2014.
Back sound lagu lawas We are The Champion milik Queen membahana di seluruh penjuru Pele International Stadium. Seorang pemuda berumur 19 tahun mengangkat tinggi-tinggi sebuah trofi. Pemuda itu bernama Ian Soedjono. Arek asli Suroboyo itu berhasil merebut trofi paling prestisius di dunia,. FIFA Golden Trophy.

Trofi pengganti Julies Rimet itu berhasil direbut oleh Tim Merah Putih setelah di partai puncak berhasil mengandaskan asa Brazil dengan skor akhir 1-0. Gol semata wayang itulah yang berhasil dilesakkan oleh Ian Soedjono. Dramatisnya, gol itu dicetak sewaktu injury time, hanya lima menit setelah Ian masuk menggantikan striker gaek andalan Indonesia, Aulia Ardli.

Satu jam telah berlalu setelah Tim Merah Putih melakukan victory lap di stadion anyar itu. Kegembiraan dan haru biru pemain Timnas berlanjut hingga ke ruang ganti permain. Ian menjadi sasaran pemberian ucapan selamat dari para pemain lain dan official Timnas Indonesia.

Sekali lagi, para punggawa Timnas Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semua menangis haru dan bangga. Linangan air mata tak kuasa ditahan oleh para pahlawan negara. "Hiduplah Indonesia Raya." Bait terakhir dari lagu Indonesia Raya menggema di ruang ganti pemain. Pelatih Indonesia, Pak Abdul Hamid dengan bangga memeluk setiap anak asuhnya.

Sesampainya di pelukan terakhir, dia berpesan khusus kepada Ian Soedjono, "Ian, kau telah mengawali karir dengan cemerlang. Maafkan aku yang selama ini tak pernah memberi kesempatanmu untuk berkembang."

"Pak, apa pun yang telah anda lakukan selama ini memang benar. Saya belum pantas untuk masuk line up utama tim ini. Namun, berkat Anda juga saya bisa menjadi seperti ini. Saya belajar banyak dari Anda. Terima kasih, Pak." Bisikan Ian ini membuat Pak Pelatih tersenyum. Sebuah senyum yang sangat manis dari seorang yang jarang sekali tersenyum.

"Ian, cepat pakai jaketmu. Kau telah ditunggu para wartawan di ruang media untuk press conference," ucap Pak pelatih.

Singa muda itu telah menunjukkan taringnya. Ian bukan lagi seorang yang pemalas seperti saat pertama kali masuk Timnas Indonesia. Dengan gagahnya, dia memasuki ruang media. Kilatan blitz dari kamera para wartawan menyambutnya. Sebuah pertanyaan diajukan oleh wartawan dari Associated Press kepada Ian Soedjono.

"Untuk siapa kau persembahkan trofi Piala Dunia ini?"
"Ini bukan hanya kerja kerasku. tapi kerja keras seluruh tim. Jadi, trofi ini kami persembahkan kepada bangsa, negara, dan rakyat Indonesia." Dia menjawab pertanyaan itu dengan sangat mantap. Sekali lagi, dia mampu membuat seluruh rakyat Indonesia yang menyaksikannya lewat layar kaca terharu dan menangis.

Jakarta, 13 Juli 2014

Hari ini seluruh punggawa Timnas Indonesia akan melakukan gala dinner di Istana Negara Jakarta. Di acara ini pula Presiden Indonesia yang kebetulan seorang gibol akan menyematkan penghargaan tertinggi dari negara kepada rakyatnya yang dianggap mampu mengharumkan nama bangsa. Mungkin, kalau di Inggris, penghargaan ini mirip dengan gelar kebangsawanan Member of British Empire yang juga pernah diterima oleh legenda sepak bola Inggris seperti Bobby Charlton dan idola Ian Soedjono sendiri, Steven Gerrard.

Arloji baru Ian Soedjono tepat menunjuk jam delapan malam. Acara utama akan segera digelar. "Arloji baru nih ye?" canda Jainul Arifin. Arifin adalah kapten Timnas Indonesia yang juga berjasa mengantar Indonesia merebut trofi Piala Dunia. Dialah yang dengan susah payah mampu menjaga kekompakan tim dan dia juga yang memberi assist matang kepada Ian dalam kerja sama mencetak gol semata wayang Indonesia.

"Ah isok ae pean iku. Arloji ini kan dari sponsor." jawab Ian dengan logat Suroboyo yang khas.

Acara telah memasuki puncaknya. Seluruh pahlawan negara telah berbaris rapi di depan para pejabat negara termasuk Pak Presiden. Hanya Ian Soedjono yang tidak tampak di barisan itu.

Lagu Indonesia Raya berkumandang di ruang Soekamo itu. Sebuah ruang di Istana Negara yang dikhususkan untuk acara penyematan bintang tanda jasa. Setelah Indonesia Raya berkumandang, Pak Presiden maju untuk menyematkan penghargaan itu. Hanya satu orang yang absen. Para undangan penasaran mengapa Ian Soedjono absen dalam penyematan bintang tanda jasa itu.

"Inilah yang kita nantikan." Suara pembawa acara memecah rasa penasaran para undangan. "Pemuda 19 tahun yang lahir di Surabaya tanggal 10 Desember 1995. Sempat mendapatkan julukan lazy boy dari media massa tanah air karena perilakunya yang khas. Sekarang, dia membuktikan bahwa julukan itu tak pantas untuknya. Hadirin sekalian mari kita sambut, from zero to hero, dialah?"

"Joonooo !!" suara murka seorang ibu memecah keheningan pagi. "Bangun gebleeeg. Udah siang. Mau telat lagi kamu? Ayo bangun, jangan sampai kamu mempermalukan keluarga besar Soedjono lagi. Ingat kamu sudah dua kali ngga naik kelas." Omelan seorang ibu merupakan sarapan pagi Ian Soedjono.

"Aaah Ibu, bisanya cuma nganggu mimpi Jono. Padahal Jono udah ngrebut trofi Piala Dunia, terus Pak Presiden juga mau ngasih penghargaan." Rupanya pemuda pemalas itu sangat menikmati mimpinya. Mimpi seorang Jono yang mencoba bangkit dari kelamnya hidup. Mimpi seorang pemuda yang juga diimpikan oleh jutaaan pemuda lain di dunia. Mimpi memang anugerah Tuhan dan semua kenyataan hidup saat ini bagi Jono berasal dari mimpi. Jadi, apa impianmu?
Sometimes a Dreamer is a Winner. (Unknown)
 
Status
Not open for further replies.
Back
Top