Pengertian benar dalam kehidupan sehari-hari Login dengan akun Jejaringsosial.com anda Daftar sebuah akun Jejaringsosial.com
 
Go Back   Home > Agama > Buddha
Lupa Password?

Gambar Umum Video Umum





 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #1   Report Post  

Pengertian benar dalam kehidupan sehari-hari

Pengertian benar dalam kehidupan sehari-hari


"Utthanena' ppamadena
samyamena damena ca
dipam kayiratha medhavi
yam ogho nabhikirati."

Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri,
hendaklah orang bijaksana,
membuat pulau bagi dirinya sendiri,
yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.


Bagaimana pengaruh Buddha Dhamma terhadap tindakan-tindakan manusia? Bagaimana Buddha Dhamma secara efektif membantu setiap orang agar dapat melakukan perbuatan baik? Apakah kita mungkin berbuat kebaikan dengan hanya mendengar perkataan orang seperti demikian, “jangan melekat terhadap segala sesuatu dan berbuatlah kebaikan!”.

Dari pengalaman kita mengetahui bahwa, suatu teladan/contoh hanya bisa membantu sampai pada tahapan tertentu. Dasar perbuatan-perbuatanbaik itu ada dalam diri kita masing-masing. Mentalitas (akal budi) menentukan tindak tanduk kita.

Apabila seseorang ingin berbuat yang terbaik bagi orang lain, terlebih dahulu ia harus memahami dirinya sendiri. Dia harus memahami sebab-sebab yang mendasari perbuatannya. Dengan memahami sebab-sebab yang mendasari perbuatannya.Dengan memahami sebab-sebab yang membuat kita berbuat seperti ini atau itu, maka kita dapat meningkatkan pengertian benar dalam kehidupan kita sehari-hari. Melalui pengertian benar ini, seseorang dapat lebih banyak melakukan perbuatan yang lebih berguna dengan cara yang lebih efektif.

Mentalitas adalah sumber timbulnya perbuatan-perbuatan. Oleh sebab itu, mustahil meningkatkan kebaikan dari perbuatan-perbuatan yang hanya tampak luarnya saja. Banyak tingkatan perbuatan-perbuatan baik, dan ini tergantung dari motivasi mentalnya. Beberapa orang memberi uang kepada orang-orang yang butuh, akan tetapi ini bukan berarti sifat-sifat sombong dan motif keserakahan dari si pemberi tersebut tidak ada. Kemudian yang lain memberi dengan tanpa kesombongan, namun mereka masih melekat; mereka hanya memberi kepada orang yang disukainya saja.

Yang lain lagi, memberi dengan didasari cinta kasih murni, tanpa kemelekatan. Inilah sesunguhnya cara yang lebih baik dalam berdana.

Suatu saat kita mungkin menjadi bingung dan mempertanyakan tentang perlunya mempelajari secara terinci mengenai perbuatan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat bahwa sangat bermanfaat untuk mengetahui bentuk-bentuk Citta yang berbeda dan mengetahui macam Citta yang memotivasi perbagai perbuatan kita. Bila kita mampu memahami bahwa bentuk-bentuk Citta itu berbeda, saling menyusul satu dengan yang lain melalui proses yang demikian cepat, maka kita akan dapat melihat bahwa bentuk Citta yang tidak baik dapat menggantikan Citta yang baik dengan cepatnya.

Kusala kamma dalam pengertian yang lebih luas berarti perbuatan yang tidak menimbulkan kerugian, baik kepada si pembuat maupun kepada orang lain, pada saat perbuatan itu dilakukan atau pada saat yang akan datang. Dalam Bahitika-Sutta, Majjhima Nikaya II, Raja Vagga, dapat kita baca tentang Kusala kamma, yaitu percakapan baik dan pikiran-pikiran baik. Raja Pasenadi bertanya kepada Ananda tentang maksud dari kebaikan atau kemahiran dalam bertingkah laku, sebagai berikut:

“Yang Mulia, apakah yang dimaksud kebaikan atau kemahiran dalam bertingkah laku itu?”
“Segala tindak tanduk yang dilakukan dengan tubuh, yang tidak ternoda”.
“Yang Mulia. Apakah yang dimaksud dengan tidak ternoda?”
“Segala tindak tanduk tubuh yang tidak menyakiti.”
“Yang Mulia, apakah yang dimaksud tindak tanduk tubuh yang tidak menyakiti?”
“Segala tindak tanduk tubuh yang dapat membawa kepada kebahagiaan.”
“Yang Mulia, apakah yang dimaksud dengan tindak tanduk tubuh yang dapat membawa kepada kebahagiaan?”
“Segala yang dilakukan oleh tubuh yang tidak menimbulkan penyiksaan diri dan tidak menimbulkan siksaan bagi orang lain, serta tidak menyiksa kedua-duanya, dimana ketidaktahuan akan berkurang dan kemampuan berbuat baik akan bertambah.”


Begitu pula halnya dengan ucapan dan pikiran yang baik (perbuatan melalui ucapan dan pikiran). Percakapan di atas menunjukkan makna Kusala kamma dalam pengertian yang lebih luas. Banyak intensitas dari Kusala kamma. Ada Kusala kamma yang tingkatnya lebih tinggi daripada sekedar mneghindari perbuatan jahat, dengan tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain. Dengan meningkatkan pengertian benar atau kebijaksanaan, seseorang dapat lebih banyak berbuat kebaikan.

Kebijaksanaan merupakan terjemahan dari Bahasa Pali “Panna”, Panna bukan berarti pengetahuan yang di dapat dengan mempelajari buku-buku, Panna adalah melihat ke dalam dan juga melihat kenyataan-kenyataan yang terjadi sehari-hari sebagaimana adanya. Oleh sebab itu, Panna dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tingkatan kebaikan bergantung pada tingkatan Panna yang mendampingi Citta yang baik. Banyak tingkatan kebijaksanaan, dan tiap tingkatan membuahkan hasil yang sepadan dengan perbuatan yang dilakukan. Inilah ciri khas Buddhis dalam menghadapi kehidupan, yakni dengan menyelidikinya dan sadar akan perbedaan gejala-gejala mental dan fisik yang dialami melalui mata, telinga, hidung, lidah, sentuhan badan, dan pikiran.

Jika seseorang tidak terbiasa dengan hal-hal tersebut di atas, maka orang itu akan merasa bingung pada awalnya. Akan tetapi, setelah orang itu mempelajari lebih banyak tentang gejala-gejala mental dan fisik ini, maka ia akan mengerti bahwa hanya melalui cara demikian, perilaku dirinya dan perilaku orang lain yang berbeda-beda itu dapat di pahami.

Tidak ada artinya membicarakan secara samara-samar tentang istilah-istilah umum mengenai kenyataan, karena pengertian benar dalam kehidupan tidak akan dapat ditingkatkan melalui cara demikian. Seseorang memberitahukan kepada saya, bahwa ada seorang Bhikkhu yang berceramah dengan cara yang khas dan isi ceramahnya tersebut sangat berguna bagi umat dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika saya tanyakan, materi apa yang diceramahkan oleh Bhikkhu itu; jawabnya adalah, bahwa Bhikkhu itu berceramah mengenai “Citcai”. “Citcai” merupakan kata dalam bahasa thai yang sepadan dengan Citta dalam bahasa Pali. Bhikkhu itu mengajarkan cara menghadapi hidup ini dengan tepat.

Seseorang harus mengikuti teladan Sang Buddha. Seseorang jangan bisa menganjurkan orang lain untuk berbuat kebaikan, akan tetapi seharusnya ia juga mengajarkan cara untuk berbuat kebaikan tersebut. Untuk mengetahui cara berbuat kebaikan, kita harus melihat kembali kepada asal mula/sumber-sumber kebaikan itu sendiri, yaitu Citta. Bila kita telah banyak belajar tentang Citta, kita akan dapat memahami bahwa tidak ada Citta yang diam, walaupun hanya untuk sejenak.

Tiap Citta timbul, segera disusul oleh Citta yang lain dengan cepatnya. Citta menentukan kehidupan seseorang dan kehidupan orang lain. Citta juga mempengaruhi tindak tanduk dan penampilan seseorang dalam hidupnya.

Banyak orang yang tidak terbiasa dengan cara pendekatan seperti ini. Mereka terbiasa melihat penampakan luar saja. Para ilmuwan sudah sangat maju dalam mempelajari ruang angkasa, namun mereka sangat sedikit mengetahui tentang hal-hal yang berkenaan dengan bathin manusia. Banyak orang terbiasa memperhatikan segala sesuatu yang dilihat dan didengar, tetapi mereka tidak terbiasa memperhatikan kesadaran melihat dan kesadaran mendengar. Mereka tidak pernah berpikir tentang fungsi Citta dalam hal melihat dan mendengar.

Kesadaran melihat dan mendengar merupakan kenyataan yang sangat penting untuk diketahui dan diperhatikan. Mengenai pentingnya hal ini, dapat dibaca dalam naskah-naskah Buddhis yang menganalisa dan menerangkan gejala-gejala fisik dan mental secara terinci dalam Abhidhamma. Abhidhamma berhubungan dengan segala sesuatu yang nyata, dan dapat merubah pandangan hidup seseorang.

Orang-orang Thai banyak mendengarkan kuliah-kuliah tentang Abhidhamma, bukan hanya terbatas pada mereka yang telah duduk di perguruan tinggi, tetapi juga mereka yang belum pernah duduk di perguruan tinggi. Umumnya mereka menyadari, bahwa dengan mempelajari bentuk-bentuk Citta yang berbeda, dapat membantu seseorang untuk menjalankan kehidupannya secara lebih baik. Pada awalnya, mungkin seseorang cenderung mempunyai perasaan balas dendam kepada orang lain, namun melalui pemahaman terhadap makna perasaan yang sesungguh-sungguhnya, maka secara bertahap seseorang dapat mengatasi perasaan tersebut. Banyak orang Thai mengetahui tentang kenyataan-kenyataan yang diajarkan dalam Abhidhamma, dan mereka juga mengerti cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang-orang asing biasanya belum pernah mendengar mengenai hal ini, sebab mereka (orang Thai) tidak pernah membicarakannya dengan orang-orang asing.

Akusala Citta dan Kusala Citta merupakan kenyataan hidup sehari-hari. Agar kita dapat memahami tentang kenyataan-kenyataan ini, terlebih dahulu kita seharusnya mencoba memahami diri sendiri. Apabila kita belum dapat memahami diri sendiri, maka kita akan sulit untuk dapat menolong orang lain. Hal ini bukan berarti, bahwa kita harus menunggu seumur hidup untuk mengerti diri sendiri, sebelum mulai menolong orang lain; akan tetapi, mereka yang baru mulai mengerti pun tentang segala sesuatu sebagaimana adanya., telah dapat menolong orang lain untuk memperoleh pengertian benar.

Panna adalah lawan dari kebodohan (Moha), dan kebodohan (Moha) ini adalah akar dari segala kekotoran dan penderitaan bathin (Dukkha). Panna sangat penting untuk pembentukan Kusala Citta. Kita dapat berbuat kebaikan tanpa didasari dengan Panna, namun jika kita ingin memperoleh kemajuan dalam melakukan perbuatan baik, Panna harus kita kembangkan. Melalui pengertian yang sebenarnya tentang Kusala dan Akusala dan hasil dari Kusala dan Akusala tersebut, seseorang akan dapat menjalani kehidupannya dengan lebih baik.

Terdapat berbagai tingkatan Panna. Apabila seorang guru menerangkan kepada para muridnya, bahwa Kusala Citta yang dilandasi oleh perasaan berterima kasih atau ketulusan akan menghasilkan Kusala Vipaka, dan sebaliknya, Akusala Citta yang dilandasi oleh keserakahan dan angkara murka akan menghasilkan Akusala Vipaka, maka penjelasan guru tersebut akan memberikan kondisi bagi para muridnya untuk meningkatkan Pannanya.

Tingkatan Panna yang lebih tinggi akan diperoleh jika seseorang dapat menyadari ketidakkekalan dari segala sesuatu yang mereka nikmati dalam kehidupan ini. Bila orang dapat melihat bahwa kehidupan di dunia ini demikian singkatnya, maka mereka akan berusaha untuk tidak terlalu melekat terhadap segala sesuatu yang mneyenangkan dalam hidupnya. Pengertian ini akan mendorong mereka untuk lebih banyak melepas dan senantiasa siap untuk menolong orang lain. Rasa keakuan pada diri mereka secara bertahap akan menipis.

Beberapa orang yang telah mencapai tingkatan Panna, mungkin dapat mengubah cara hidupnya dan merasa puas dengan kehidupan yang sederhana. Yang lainnya mungkin mengambil keputusan utnuk menjadi Bhikkhu. Kita mengerti bahwa kehidupan seorang Bhikkhu bukanlah merupakan kehidupan yang ringan, karena seorang Bhikkhu harus hidup tanpa keluarga dan harus puas dengan sedikit. Dalam Chabbisodana Sutta, Majjhima Nikaya III, Anupada Vagga, kita dapat membaca tentang seorang Bhikkhu yang melepaskan keduniawian :

“Yang Ariya, setelah saya beberapa waktu melepaskan seluruh kekayaan, maka saya memutuskan hubungan kekeluargaan, mencukur rambut dan jenggot, memakai jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan berumah tangga.”

Sang Buddha menjelaskan, bahwa banyak orang yang terikat pada kesan-kesan indria melalui mata, telinga, hidung, lidah dan sentuhan badan. Sang Buddha juga menjelaskan tentang kemelekatan terhadap kelima khandha (Pancakhandha). Dalam Subha Sutta, Majjhima Nikaya II, Brahmana Vagga, Sang Buddha berbicara kepada Subha tentang kemelekatan kelima khandha, sebagai berikut :

“……. Kelima khandha ini, Brahmana muda, adalah kemelekatan terhadap kelima indria. Apakah kelima indria itu? Bentuk materi yang diserap mata; diterima; disenangi; disukai; merangsang; dan yang berhubungan dengan kesenangan indria. Suara-suara diserap melalui telinga, bau-bauan diserap melalui hidung, rasa diserap melalui lidah, sentuhan diserap melalui badan/tubuh; diterima, disenangi, disukai, merangsang, dan yang berhubungan dengan kesenangan indria. Inilah, Brahmana muda, yang disebut dengan kemelekatan kelima khandha (Pancakhandha). Brahmana muda, Brahmana Pokkharasati dari suku Upamanna dari hutan Subhaga, diperbudak dan terikat oleh kelima kegemaran itu, diperbudak dan melekat kepadanya, dan memuaskannya, tanpa melihat bahayanya, tanpa mengetahui cara melepaskannya”.


singthung
National Level

Post: 508
 
Reputasi: 4

__________________
YO DHAMMAM DESESI ADIKALYANAM MAJJHEKALYANAM PARIYOSANAKALYANAM TI

Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya

 






Reply With Quote     #2   Report Post     Original Poster (OP)

Bls: Pengertian benar dalam kehidupan sehari-hari

Setiap orang menyukai kesenangan-kesenangan indria seperti ini, dan cemerlang terikat kepadanya serta menganggap hal demikian penting. Setiap orang terlalu terpukau pada sesuatu yang dilihat dan didengar, sehingga ia lupa bahwa kesan-kesan indria itu bukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dalam Magandiya Sutta, Majjhima Nikaya II, Paribbajaka Vagga, Sang Buddha berkata bahwa kepada Magandiya, sebagai berikut:

“Saya, Magandiya, ketika dulu masih berumah tangga, juga terikat kepada kelima kesenangan indria, bergelut di dalamnya, terlibat di dalamnya, … Tetapi, beberapa saat setelah mengetahui timbul tenggelamnya kesenangan-kesenangan idnria, kepuasannya, bahayanya, dan kemudian mengetahui jalan keluar sesungguhnya dari kemelekatan keliam indria, menekan gejolak-gejolak kesenangan, maka saya berdiam tanpa kemelekatan, dalam keadaan bathin yang tenang. Saya melihat makhluk-makhluk lain yang belum terbebas dari kemelekatan. Saya tidak iri kepadanya, saya terlepas daripadanya …”

Orang-orang yang memahami adanya kebahagiaan yang lebih luhur dari hanya sekedar kelima kesenangan indria, menerapkan meditasi ketenangan (Samatha Bhavana) dalam kehidupannya. Dalam Samatha Bhavana, seseorang mengkonsentrasikan dirinya pada obyek tunggal tertentu, misalnya: pernapasan, cinta-kasih (Metta), dan lain-lainnya.

Hal ini tergantung pada watak seseorang untuk memilih obyek meditasi yang cocok. Selama latihan, seseorang akan mendapatkan kemampuan konsentrasi yang bertambah terhadap obyek meditasinya. Pada saat ia sudah sangat mahir, ia dapat tercerap secara total pada obyeknya tersebut.

Terdapat berbagai tingkatan pencerapan (Jhana). Selama dalam keadaan Jhana, seseorang terbebas dari rangsangan panca indria, sehingga pada saat itu ia tidak diperbudak olehnya. Ia menikmati ketenangan yang luhur. Dalam tingkatan Jhana yang lebih tinggi, ia mencapai ketenangan yang lebih luhur, sehingga ia tidak lagi tergiur pada ketenangan itu, dan mengalami lebih dari sekedar perasaan-perasaan bahagia biasa.

Dalam keadaan demikian, ia hanya mengalami keseimbangan bathin (Upekkha). Namun, meditasi ketenangan (Samatha) inipun dipengaruhi oleh Citta. Apabila Cittanya bukan Jhanacitta, maka kesan-kesan indrianya dapat timbul kembali.

Samatha (meditasi ketenangan) adalah suatu cara untuk mengembangkan Kusala Kamma. Samatha Bhavana membutuhkan semangat dan keuletan yang tinggi. Orang yang melatih dirinya dengan Samatha Bhavana, menjadi amat tenang dan lemah lembut. Hal demikian akan sangat bermanfaat bagi mereka yang selalu resah. Namun, dalam Samatha Bhavana, kilesa (kekotoran bathin) tidak dapat dikikis seluruhnya.

Walaupun seseorang tidak lagi diperbudak oleh rangsangan pancaindera selama dalam keadaan Jhana, akan tetapi ia masih tergantung pada semua hal itu, dan bila cittanya bukan Jhanacitta, maka keadaan Jhana yang dialaminya tidak akan berlangsung terus, karena Jhana itu tidak kekal. Lebih lagi jika adanya ketergantungan yang sangat halus sekali, yaitu ketergantungan pada kesenangan dalam Jhana. Ia mungkin berpikir, jika ia tidak terikat lagi pada kesenangan indria, keadaan Jhana yang dialaminya itu tanpa kemelekatan. Akan tetapi, sebenarnya ia amsih terikat pada kesenangan Jhana yang tidak ada sangkut pautnya dengan kesenangan indria, perasaan senang, atau pengalaman keseimbangan yang dialami dalam Jhana.

Kebijaksanaan (Panna) yang dihasilkan dalam Samatha Bhavana tidak dapat menghilangkan seluruh kekotoran bathin (kilesa).

Ada Panna (kebijaksanaan) yang lebih luhur, yang dapat menghapuskan seluruh kekotoran-kekotoran bathin, bahkan bentuk-bentuk kemelekatan yang paling halus sekalipun. Kebijaksanaan (Panna) yang demikian itu dapat diperoleh melalui meditasi ‘Pandangan Terang’ atau ‘Vipassana’. Dalam Vipassana, kebijaksanaan secara bertahap akan melenyapkan kebodohan (Moha), yakni akar dari segala macam kekotoran bathin. Melalui Vipassana, orang akan mengetahui lebih banyak kenyataan-kenyataan yang dicerapnya melalui mata, telinga, lidah dan sentuhan badan pada setiap saat.

Kita menyadari bahwa kita hanya mengerti sedikit tentang kejadian-kejadian yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri, sampai sejauh mana kemampuan kita untuk menyadari gerakan-gerakan tubuh kita sepanjang hari?! Dan , sampai sejauh mana pula kita dapat menyadari sewaktu kita merentangkan dan menekukkan lengan kita, atau menyadari gerakan bibir pada saat kita berbicara?!

Sesungguhnya, kita tidak mengetahui apakah suara itu, apakah pendengaran itu, atau apakah yang kita namakan ‘Aku’ itu, pada saat kita mendengar sesuatu. Bahkan kita tidak dapat mengamati secara sederhana peristiwa yang sedang terjadi pada saat sekarang. Bila kita mencoba memahami lebih mendalam, apakah yang dimaksud dengan melihat, mendengar atau berpikir, sedangkan pada saat sekarang, hal demikian telah berlalu?!

Selama kita mencerap penampilan-penampilan luar dan memperhatikan hal yang sekecil-kecilnya, maka kita tidak akan mampu mengamati kenyataan-kenyataan pada saat sekarang. Selama kita terpesona pada kesukaan dan ketidaksukaan terhadap sesuatu yang dilihat dan didengar, mustahil kita dapat melihat/mengamati segala sesuatu sebagaimana adanya. Keadaan ini seolah-olah seperti kita tidur, dan belum terbangun untuk menyadari peristiwa yang sebenarnya. Sang Buddha yang sempurna kewaspadaanNya dan yang mempunyai pengetahuan sempurna, dapat mengetahui macam-macam perbedaan gejala-gejala fisik dan mental, sehingga Beliau di sebut sebagai ‘Orang Yang Sadar’. Beliau sadar sepenuhnya akan kebenaran. Seyogyanya kita juga sadar akan kebenaran, seperti halnya Sang Buddha.

Dalam Vipassana, kebijaksanaan akan meningkat secara bertahap dalam upaya mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya. Dalam proses menyadari kenyataan yang tampak pada saat sekarang, kita dihadapkan pada dua macam kenyataan, yaitu:

(1) gejala fisik atau Rupa dan
(2) gejala mental atau nama.

Gejala fisik (Rupa) tidak mengetahui segala sesuatu, sedangkan gejala mental (Nama) mengetahui bentuk-bentuk; misalnya, warna adalah Rupa, dalam hal ini Rupa tersebut tidak mengetahui apa-apa. Proses penglihatan adalah Nama, dan hanya penglihatan itulah yang sesungguhnya melihat. Mendengar dan berpikir merupakan jenis Nama yang lain lagi.

Sebenarnya, banyak terdapat jenis Nama dan Rupa yang berbeda. Dalam Vipassana, kita belajar untuk mengetahui sifat-sifat Nama dan Rupa tersebut. Dengan mengembangkan Vipassana secara bertahap, kita akan mengetahui bahwa Nama dan Rupa itu sesungguhnya tidak kekal.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seharusnya merenungkan akan ketidakkekalan segala sesuatu. Perenungan dan meditasi adalah persiapan-persiapan yang diperlukan untuk mengetahui gejala ketidakkekalan segala sesuatu, namun tentu saja hal demikian tidak sama dengan pengalaman langsung tentang ketidakkekalan dari kenyataan-kenyataan yang terjadi di dalam dan diluar diri kita. Pada mulanya kita tidak dapat menyadari akan timbul tenggelamnya Nama dan Rupa.

Akan tetapi, jika kita dapat memahami sifat yang berbeda dari Nama dan Rupa yang timbul pada saat yang berbeda-beda, dimana setiap Nama dan Rupa yang timbul sekarang, berbeda dengan Nama dan Rupa yang telah timbul sebelumnya, maka kita tidak akan mempunyai kecenderungan untuk berpikir bahwa Nama dan Rupa itu langgeng, dan juga kita tidak cenderung menganggapnya sebagai ‘Aku’.

Dalam Mahapunnama Sutta, Majjhima Nikaya III, Devadaha Vagga, Sang Buddha bertanya kepada seorang Bhikkhu, sebagai berikut:

“…..Apakah benar menghargai sesuatu yang tidak kekal, yang merupakan penderitaan, yang dapat berubah, sebagai: ‘Ini punyaku, ini adalah Aku, dan ini adalah diriku?”.
Dalam Kayagatasati Sutta, Majjhima Nikaya III, Anupada Vagga, Sang Buddha berkata:
“Orang yang waspada….yang mengatasi ketidaksukaan dan kesukaan, maka kesukaan dan ketidaksukaan itu tidak dapat menaklukkannya”.



Kita akan dapat mengurangi kemelekatan, keangkaramurkaan atau niat jahat, bila kita dapat memahami bahwa semua itu hanyalah jenis-jenis Nama yang timbul dan tenggelam terus menerus. Kita seharusnya tidak menunda sampai usia tua atau pensiun dari pekerjaan, untuk mengembangkan Panna, melalui Praktek Vipassana. Ketika kita mulai mengembangkan ‘Pandangan Terang’ ini, maka otomatis Akusala Citta akan berkurang, dan perbuatan-perbuatan baik kita menjadi murni (bersih). Juga keangkuhan kita akan berkurang pada waktu kita berbuat kebaikan, karena kita sadar bahwa tidak ada ‘Aku’ yang berbuat kebaikan; yang ada hanyalah gejala Nama dan Rupa yang timbul pada kondisi-kondisi yang tepat. Kita juga tidak membutuhkan pamrih atas perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan, seperti pujian-pujian atau nama baik.

Panna (kebijaksanaan) yang merupakan hasil dari praktek Vipassana, adalah pengertian/pandangan benar dari Jalan Utama Berunsur Delapan yang dapat membawa kita menembus ‘Pencerahan Agung’ (Nibbana). Setiap orang harus melaksanakan ‘Jalan’ ini sendiri. Ia tidak dapat disucikan oleh orang lain. Orang lain hanya mampu menolong kita untuk menemukan ‘Jalan’ yang benar. Tidak akan ada kedamaian yang abadi di dunia ini selama masih ada kemelekatan, niat jahat/keangkaramurkaan dan kebodohan.

Walaupun hal ini sangat diperlukan bagi organisasi-organisagi dunia yang mengumandangkan perdamaian dan kesejahteraan bangsa-bangsa dan memberi bantuan materi kepada yang memerlukan. Kita masih harus menyadari bahwa hal itu semua tidaklah cukup, karena hal tersebut hanyalah dapat menolong orang pada tingkat tertentu saja. Penyebab yang sesungguhnya dari peperangan adalah Tanha (nafsu keinginan), niat jahat dan kebodohan.

Hanya dengan mengembangkan Panna, maka kita dapat melenyapkan semua itu, dan Jalan Utama Berunsur Delapan yang membawa kita pada penembusan, Nibbana. Nibbana adalah akhir dari kekotoran-kekotoran bathin. Hal itu dapat disadari sekarang, dalam kehidupan ini. Ketika Panna belum dicapai untuk tingkat yang dibutuhkan untuk menyadari, maka Panna tersebut masih bersifat duniawi atau ‘Lokiya Panna’. Pada saat Panna berkembang sampai pada tingkatan tertentu, dimana pada waktu itu kita dapat menyadari Nibbana, maka Panna itu dapat mengatasi duniawi atau ‘Lokuttara Panna’. Pada saat menyadari Nibbana, seseorang dapat memahami makna/arti “sadar akan kesunyataan”.

Sumber : Buku Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari (Buddhism in daily life) ~ Nina Van Gorkom
singthung
National Level

Post: 508
 
Reputasi: 4

__________________
YO DHAMMAM DESESI ADIKALYANAM MAJJHEKALYANAM PARIYOSANAKALYANAM TI

Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya
Reply
 

Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search




Similar Threads
Thread Original Poster Forum Replies
Pelaksanaan Agama Buddha Dalam Kehidupan Sehari Hari singthung Buddha 1
Bukan Perintah Bukan Larangan: Hanya Ada Pengertian Benar singthung Buddha 1
Pengaruh Musik pada aktivitas sehari hari andy_baex Kesehatan 0


Pengumuman Penting

Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.