Malu Mengenakan Busana Muslim Di Negara Kafir

nurcahyo

New member
MALU MENGENAKAN BUSANA MUSLIM DI NEGARA KAFIR


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin





Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada sebagian orang yang ketika bertandang ke luar negeri merasa tertekan dan malu bila mengenakan busana yang menunjukkan keislamannya. Apa saran Syaikh?

Jawaban:
Memang benar apa yang dikatakan oleh penanya, dan ini sungguh ironis. Kendati kita memang orang-orang yang tinggi derajatnya, namun kita dapati adanya kelemahan kepribadian, dan realitanya kita merasakan bahwa kita hanyalah pengekor dan pengikut mereka. Ada sebagian orang di antara kita, ketika melihat sesuatu yang bermanfaat tidak mengaitkannya kepada dirinya dan tidak pula kepada kaum muslimin lainnya, akan tetapi mengatakan, 'ini merupakan peradaban barat atau timur, dan ia tidak merasa bangga dengan kepribadiannya di hadapan arus kerusakan mereka, padahal ketika mereka datang ke negera kita dengan pakaian mereka yang memalukan, terbuka dan vulgar, bahkan para wanita mereka ketika berada di negara-negara kaum muslimin berpakaian dengan setengah pahanya terbuka, lehernya terbuka, betisnya terbuka dan berjalan berlenggak-lenggok dengan kedua kakinya, seolah-olah menghentakkan bumi dari bawah dan tidak peduli bahwa dirinya adalah seorang wanita. Lalu, bagaimana dengan kaum laki-laki muslim? Kenapa mesti malu berjalan dengan mengenakan busana muslim yang tertutup di negara mereka? Bukankah ini bukti nyata yang menunjukkan lemahnya kepribadian?

Jawabnya, tentu saja. Jika kita memperlakukan mereka dengan cara serupa berarti kita telah memperlakukan mereka dengan adil. Saat mereka datang ke negara kita dengan pakaian mereka tanpa mempedulikan perasaan kita, kenapa kita tidak bisa datang bertandang ke negara mereka dengan mengenakan busana khas kita dan tidak mempedulikan perasaan mereka.
Ada seseorang yang saya percaya bercerita kepada saya, kini ia telah menghuni kuburan, ia mengatakan, bahwa ketika ia berkunjung ke suatu ibu kota negara barat dengan mengenakan busana Islami khas negaranya, ia mengatakan, 'saya dapati mereka lebih banyak menghormati, bahkan mereka bersegera membukakan pintu mobil saat aku hendak naik.'

Lihat, bagaimana seseorang merasa bangga karena telah dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala, tapi jika kita merendahkan diri di hadapan mereka, tentunya ini bukan sikap seorang muslim. Jika anda melihat ulang sejarah dan perilaku para mujahidin muslimin terhadap musuh-musuh mereka dalam peperangan, tentu akan anda dapatkan, betapa bangganya mereka, kaum muslimin, terhadap para musuhnya. Kemudian, seharusnya seorang muslim memelihara kehormatannya, yaitu dengan tidak menganggap cara hidup mereka yang memalukan itu sebagai peradaban, tapi yang benar adalah kehinaan, bukannya peradaban karena yang demikian itu mengarah kepada kerusakan moral dan kekejian bahkan kekufuran kepada Allah Subhnahu wa Ta'ala. Demi Allah, tidak benar kita menyebutnya sebagai peradaban, bagaimana jadinya. Peradaban yang sesungguhnya adalah kemajuan yang bermanfaat, yaitu dengan berpegang teguh dengan agama Islam dan moralnya. Kenapa kita memberi mereka harga yang murah? Agar kita katakan bahwa kalian adalah penyandang peradaban dan kita adalah penyandang keterbelakangan, padahal seharusnya kita maju dengan keislaman kita, baik secara aqidah, perbuatan, maupun manhaj, agar peradaban kita masuk kepada mereka.

Bukankah "kejujuran" termasuk peradaban? Jawabannya, benar. Itu terdapat dalam Islam, dan Islam telah menganjurkannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. " [At-Taubah: 119].

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan ke surga, dan sungguh seseorang se-nantiasa berlaku jujur hingga dicatat sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menjukkan kepada kejahatan dan kejahatan itu menunjukkan ke neraka, dan sungguh seseorang senantiasa berdusta sehingga dicatat sebagai pendusta."[1]

Namun sayangnya, banyak kaum muslimin yang telah kehilangan kejujuran, sehingga kita belum mencerminkan Islam dengan porsi yang besar dalam segi ini.

Jujur dan terus terang dalam pergaulan telah diajarkan oleh Islam, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Dua orang yang saling berjual beli tetap memiliki hak pilih selama mereka belum berpisah, jika keduanya jujur dan saling berterus terang, maka akan diberkahi bagi mereka pada jual beli mereka, namun jika kedua saling berdusta dan saling menutupi, maka akan dicabut keberhakan dari jual beli mereka."[2]

Apakah kejujuran dan keterusterangan ini telah terealisasi pada setiap muslim? Jawabnya, tidak, bahkan itu telah sirna dari sebagian kaum muslimin, karena ada sebagian kaum muslimin yang tidak jujur dan enggan berterus terang, bahkan ada yang mengatakan, 'barang ini harganya seratus real', padahal sebenarnya hanya lima puluh real. Bukankah ini merupakan kedustaan dan penipuan?! Padahal Islam telah melarang ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.

"Artinya : Barangsiapa yang menipu kami, ia bukan dari golongan kami. "[3]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berlepas diri dari yang demikian, namun demikian, sebagian kaum muslimin melakukan penipuan -na'udzu billah-. Dan bila kita amati sekitar kita-kaum muslimin-, akan kita dapati kondisi yang memalukan, anda akan dapati bahwa ajaran-ajaran Islam yang telah memerintahkan untuk berlaku jujur, terus terang, lembut dan halus, telah sirna dari sebagian kita, bahkan kondisi yang kebalikannya yang banyak terdapat pada sebagian kita. Karena itu bisa kita katakan, bahwa sebagian kaum muslimin telah lari dari Islam dengan perilaku yang bertolak belakang dengan Islam.

[Fatwa Al-'Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 787-789.]


[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]
_________
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab (6094), Muslim dalam Al-Birr wash Shllah (2607).
[2]. HR. Al-Bukhari dalam Al-Buyu (2079), Muslim dalam Al-Buyu (1532).
[3]. HR. Muslim dalam Al-Iman (101).
 
Last edited:
Back
Top