Organik : Sistem dan Produk Pertanian

nurcahyo

New member
Kedaulatan pangan dapat tercapai dengan pertanian organik



Kedaulatan pangan dapat tercapai dengan melakukan teknologi pertanian agroekologi seperti pertanian organik. Keberhasilan praktik pertanian organik dalam mewujudkan kedaulatan pangan telah ditunjukkan oleh negara-negara yang mengalami surplus pangan seperti Kuba.

Meski negara kecil, namun ketika ekonominya diblokade oleh Amerika Serikat, Kuba tetap mampu mencapai kedaulatan pangan dengan mengembangkan pertanian organik, tanpa pupuk dan pestisida kimia. Demikian menurut Henry Saragih, Sekjen Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) di Jakarta (25/01).

"Dan kita mempunyai kekayaan atau kemampuan untuk itu pula. Bukan sekedar program-program yang menjebak, seperti memproduksi pupuk, ataupun meningkatkan subsidi pupuk. Kenapa kita tidak meningkatkan dukungan pada petani yang mencoba bertani tidak menggunakan zat-zat kimia yang biasanya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar?" ungkap Henry Saragih.

Pemerintah sendiri menurutnya, belum menunjukkan perhatian dukungan secara konkrit terhadap pertanian organik. Baru sebatas rencana mulai, dukungannya belum bisa dikatakan merata. Seperti pengembangan pusdiklat-pusdiklat di beberapa provinsi. Sedangkan dari petani anggota Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI), sudah banyak mengembangkan pertanian organik.

"Luasnya sekitar 10% dari lahan garapan petani FSPI. Di antaranya di Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Bogor, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Untuk jenis produk padi, sayur-sayuran, tanaman keras dan buah-buahan," jelasnya.

Terjebak

Selama ini dalam melakukan pertanian organik petani masih terjebak oleh harga pasar yang belum memberikan harga yang lebih bagus. Sehingga petani yang mulai beralih ke organik merasa sama saja dengan yang bukan organik. Lalu mereka tidak bersemangat.

Sementara itu pemerintah juga kurang memberi dukungan terhadap pertanian organik petani tersebut, dan tetangga-tetangga di sebelahnya masih melakukan konvensional. Akhirnya petani pun beralih kembali ke praktik pertanian lama atau pindah ke tanaman lain, karena mereka menganggap tanaman organiknya (seperti padi) tidak menguntungkan.

Lalu tidak adanya subsidi dan rasa takut bahwa program pertaniannya dianggap anti pemerintah yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia serta benih padi hibrida, juga turut menghambat pengembangan pertanian organik.

"Pemerintah baru mulai memberikan perhatian kepada pertanian organik akhir-akhir ini dengan proyek-proyek sekolah lapang PHT. Seharusnya perhatian tersebut dilakukan secara serentak melalui pusat-pusat penelitian dan pembenihan Dinas Pertanian," ungkap Saragih.

Lalu pemerintah juga harus melindungi petani yang akan memproduksi benih sendiri dari ancaman tuntutan perusahaan penghasil benih terkait UU hak paten melalui UU perlindungan produksi benih dan cara petani sendiri. Karena memproduksi benih sendiri termasuk salah satu upaya membentuk kemandirian petani.

Di samping itu UU tersebut untuk menyikapi dilema atau kontradiksi antara keinginan pemerintah yang mengajak petani memproduksi benih sendiri dengan ancaman tuduhan pemalsuan benih oleh perusahaan benih kepada petani.

Dimana Menteri Pertanian (Mentan), Anton Apriyantono telah mengajak petani memproduksi benih sendiri sebagai upaya mensinergikan unsur dasar pembentuk pertanian, yaitu: benih, tanah dan tenaga kerja melalui bingkai budaya.

Ekologi budaya

Menurut Anton Apriyantono, faktor budaya menjadi penting karena akan memberi pola dalam interaksi ketiga unsur dasar pertanian tersebut. Paradigma tersebut dapat disebut sebagai paradigma ekologi budaya (seperti pertanian organik). Dimana pendekatan ekologi budaya mengharuskan adanya harmoni antara manusia dengan alam yang menghormati budaya lokal (local wisdom). Pendekatan sinergis ini akan lebih menjamin pembangunan pertanian berkelanjutan bagi masa depan bangsa.

Apriyantono juga menjelaskan, paradigma ekologi budaya itu untuk menjawab berbagai kajian yang menunjukkan bahwa penggunaan sarana produksi, khususnya pupuk dan obat-obatan kimia, tidak lagi memberikan peningkatan produksi secara linear.

"Tampaknya lahan kita telah mengalami kelelahan (land fatigue), gejala yang juga dialami oleh berbagai negara berkembang. Di samping itu, ada persoalan skala usaha yang dihadapi oleh petani kita, yaitu penguasaan lahan mayoritas petani kurang dari 0,5 hektar per rumah tangga.
 
FAO akan selenggarakan Konferensi Pertanian Organik dan Ketahanan Pangan pada aw

FAO akan selenggarakan Konferensi Pertanian Organik dan Ketahanan Pangan pada awal Mei



Pada tanggal 3-5 Mei 2007 FAO akan menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertanian Organik dan Ketahanan Pangan (International Conference on Organic Agriculture and Food Security) di Roma, Italia. Kegiatan yang akan dilanjutkan dengan Sidang ke-33 Komite Keamanan Pangan (33rd Session of the Committee on Food Security) pada tanggal 7-10 Mei 2007 tersebut diselenggarakan bersama International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM), Rural Advancement Foundation International (RAFI), World Wildlife Fund (WWF), dan Third World Network (TWN).

Pesertanya terbuka bagi semua pihak yang berkepentingan, termasuk pemerintah, akademisi, masyarakat sipil dan swasta di bidang pertanian organik dan keamanan pangan.

Konferensi tersebut bertujuan untuk menjelaskan kontribusi pertanian organik pada ketahanan pangan, melalui analisa informasi pada area agroekologi yang berbeda di seluruh dunia. Konferensi ini akan mengidentifikasi potensi pertanian organik dan kemampuannya dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, termasuk upaya untuk keberhasilannya.

Penjelasan tentang kontribusi pertanian organik pada ketahanan pangan sangat diperlukan, sehingga FAO ingin menyediakan informasi secara objektif kepada negara anggotanya, di antaranya melalui konferensi tersebut.

Perkembangan hingga saat ini memperlihatkan pesatnya pertumbuhan penduduk, peningkatan kebutuhan pangan, bertambahnya tekanan pada lingkungan, peningkatan kelaparan dan kemiskinan yang telah menuntut adanya kebutuhan akan pengembangan produksi dan sistem pemasaran pertanian.

Selama ini wilayah yang cukup luas memproduksi pangan, sebagian besar adalah di negara berkembang seperti di Afrika dan terdiri dari petani kecil dan menggantungkan pertaniannya pada curah hujan, dan beberapa diantaranya mengakses kredit dan pasar yang terbatas. Sistem konvensional juga sering berkaitan dengan tingginya biaya lingkungan dan ketergantungan pada suplai masukan bahan tambahan.

Sementara itu ada klaim bahwa pertanian organik memiliki biaya yang rendah, menggunakan material lokal dan teknologi alternatif yang ramah lingkungan serta merupakan solusi bagi masalah keamanan pangan. Studi lain juga mengklaim bahwa pertanian organik dalam skala luas tidak hanya menyuplai pangan dunia, tetapi juga bisa menjadi cara untuk pemberantasan kelaparan, terutama di wilayah miskin, kekeringan dan daerah terpencil. Analisa pertanian organik juga menunjukkan adanya pasar alternatif potensial yang menyediakan pilihan dan kedaulatan pangan.

Namun di pihak lain juga ada klaim bahwa managemen organik tidak efisien, memerlukan metode pertanian yang lebih rumit, terutama bila dipraktikkan di lahan yang miskin hara dan sulit pemasarannya.

Penentang pertanian organik juga menyatakan organik tidak ramah lingkungan seperti merusak hutan alami dan transportasi serta distribusi yang tidak efisien dalam menghasilkan makanan dan emisi karbon.

Bagaimanapun faktanya, pangan organik tumbuh dengan cepat di sektor pangan. Dimana pemasarannya mencapai US$ 30 milyar pada tahun 2005 dan setiap tahun tumbuh 15%. Sektor ini juga terus menarik perhatian pemerintah, pelaku agribisnis, petani, dan konsumen, ketika dampaknya kurang dipahami.

Kurangnya data secara global yang dapat dipercaya, analisa sitematis, perbedaan pendapat tentang kontribusi sistem pangan organik pada ketahanan pangan, menjadi bahan perdebatan di antara komunitas ilmuwan dan di dalam tubuh FAO sendiri.

Sehingga ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami apa dan bagaimana model organik dalam perbedaan sosio-ekonomi dan biofisika yang memaksimalkan pengetahuan petani, tenaga kerja dan modal, terutama di wilayah miskin dan termaljinalkan dimana masyarakatnya bermasalah dalam ketahanan pangan.
 
Produksi singkong di Indonesia dapat meningkat dengan pupuk organik

Produksi singkong di Indonesia dapat meningkat dengan pupuk organik



Produksi singkong di Indonesia dapat meningkat dengan menambahkan bahan organik ke dalam tanah. Bahan organik (kompos) yang ditambahkan ke dalam tanah berfungsi sebagai sumber unsur hara dan memperbaiki sifat fisik, kimia, serta biologi tanah. Demikian disampaikan DR. Ir. Basuki Sumawinata dari Fakultas Pertanian, Departemen Ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam sebuah seminar yang diselenggarakan BPTP di Jakarta beberapa waktu lalu (9/12).

Organisme tanah memanfaatkan bahan organik itu sebagai sumber energi baginya. Lalu melalui asam humiknya, organisme ini dapat mempertahankan struktur tanah, sehingga sifat fisik tanah seperti infiltrasi dan drainase baik untuk pertumbuhan tanaman.

Selain itu asam humik juga memegang peranan penting dalam menonaktifkan senyawa racun seperti Aluminium. Sehingga walaupun tanah (seperti di Bogor), bereaksi masam (pH 4-5) dengan kandungan AL-dd sekitar 2-5 me/100 gr, dengan bahan organik yang cukup tinggi, ternyata tanaman singkong dapat menghasilkan produksi yang tinggi.

Menurut Sumawinata, pada umumnya di kalangan petani berkembang pendapat bahwa singkong merupakan tanaman yang boros mengambil unsur hara. Sehingga sering menyurutkan niat investor untuk berkecimpung di bidang tanaman ini. Pendapat ini sejalan dengan hasil penelitian Kanapathy (1974) yang menunjukkan bahwa unsur hara yang keluar dari siklusnya di tanah sebagai akibat dari proses pemanenan pada tanaman singkong, lebih tinggi dibandingkan tanaman lahan kering lainnya seperti kelapa sawit, karet, dan jagung.

Akan tetapi menurutnya, data penelitian tersebut sangat sulit diambil sebagai kesimpulan. Mengingat total unsur hara yang terangkut saat pemanenan sangat tergantung pada kesuburan tanah dan jumlah singkong yang diproduksi. Lalu Howler (1981), mengumpulkan informasi tentang kandungan unsur hara yang diangkut per ton singkong yang dihasilkan.

Informasi itu menunjukkan bahwa jumlah unsur hara yang terangkut, erat hubungannya dengan produktivitas. Jika data tersebut dirata-rata, maka jumlah unsur hara yang terangkut per ton umbi yang dihasilkan berturut-turut: N, P, K, Ca, dan Mg adalah 2,33; 0,52; 4,11; 0,61 dan 0,34 kg unsur/ton umbi yang dihasilkan. Sehingga jika bagian tanaman lainnya selain umbi dikembalikan lagi ke tanah, maka unsur hara yang hilang sebenarnya jauh lebih kecil daripada tanaman seperti padi dan jagung. Apabila ampas dari proses pembuatan tepung juga dikembalikan, maka unsur hara yang hilang akibat proses produksi singkong ini sangat kecil.

Hasil penelitian Nijholt (1933) juga menunjukkan bahwa produksi singkong mencapai 52-64,6 ton umbi. Jumlah ini sangat berbeda dengan produksi singkong di sekitar Bogor saat ini yang hanya berkisar 15-20 ton/ha. Mengingat usaha budidaya singkong selalu menambahkan pupuk buatan dalam bentuk urea, TSP/SP 36, dan kadang-kadang KCL, maka tentunya penurunan unsur hara tanah tidak terlalu nyata.

Satu-satunya kemungkinan yang dapat menjadi dasar perbedaan produktivitas singkong yang sangat nyata di Bogor menurut Sumawinata adalah penurunan kandungan bahan organik (% C organik).

Sementara itu dijelaskannya lagi, produktivitas lahan rata-rata di Thailand meningkat 15 ton/ha pada tahun 1995 menjadi 20,3 ton/ha pada tahun 2005. Hal ini juga memastikan peranan pemberian bahan organik ke dalam lahan budidaya singkong sangat nyata meningkatkan produktivitas. Dimana pengusaha tepung singkong di Khorat dan daerah lainnya mengkombinasikan usaha tepung singkong dengan usaha biogas dan pengembalian bahan organik hasil dekomposisi dari sistem biogas.

Strategis hasilkan zat tepung

Peningkatan produksi singkong merupakan tindakan yang sangat strategis. Kebutuhan zat tepung untuk konsumsi masih kekurangan, sementara itu kebutuhan zat tepung sebagai bahan baku untuk biofuel juga sangat besar. Sebagai salah satu tanaman penghasil zat tepung utama selain beras, singkong merupakan tanaman yang sangat besar menghasilkan tepung per ha/tahun. Selain itu dapat tumbuh di lahan yang kurang subur.

Walaupun singkong merupakan tanaman yang relatif dapat tumbuh dan berproduksi pada lahan-lahan yang marginal dan telah dikenal luas di Indonesia, namun data produksi singkong di Indonesia lebih rendah daripada Thailand. Sebagai contoh, produksi singkong di Indonesia sebesar 19,42 juta ton yang didapat dari 1,25 juta hektar arcal penanaman, sehingga produktivitas per hektar adalah 15,5 ton/ha. Sedangkan produksi singkong di Thailand sebesar 21,44 juta ton yang didapat dari 1,06 juta hektar, sehingga produktivitas per hektar adalah 20,28 ton/ha.

Hasil ini menjadi lebih nyata bila dibandingkan dengan data rendemen zat tepung terhadap singkong. Di Indonesia, rendemen zat tepung pada singkong berkisar 16-17%, sedangkan di Thailand dapat mencapai rata-rata 19%. Padahal varietas singkong yang ditanam umumnya sama yaitu Kasesat 4 dan UJ 4 dan 5.

Iklim dan tanah bervariasi

Singkong dapat tumbuh pada berbagai kondisi iklim dan tanah yang cukup bervariasi. Umumnya, para peneliti yakin dengan suhu tanah rata-rata di atas 18 derajat Celcius. Sedangkan kebutuhan curah hujan minimum harus di atas 1000 mm. Meski demikian ada juga yang berpendapat bahwa singkong dapat tumbuh dengan baik pada lahan bercurah hujan lebih rendah dari 1000 mm asalkan dua bulan pertama dari penanaman tidak mengalami kekurangan air.

Sebagai tanaman umbi-umbian, singkong membutuhkan drainase tanah yang baik seperti tanah bertekstur lempung berpasir sampai lempung berliat. Akan tetapi beberapa data menunjukkan bahwa tanaman singkong masih dapat berkembang baik pada tanah dengan kandungan liat yang tinggi (>50%).

Singkong juga jauh lebih toleran terhadap kemasaman tanah dan keracunan Aluminium daripada tanaman lahan kering lainnya seperti jagung, kedelai, dan lain-lain. Akan tetapi kondisi yang paling optimum adalah bila singkong berkembang pada tanah ber-pH 6-7. Hasil penelitian CIAT 1976 menunjukkan bahwa pada tanah masam, umumnya singkong mengalami hambatan pertumbuhan. Itu disebabkan keracunan aluminium atau mangan, kekurangan fosfor dan kalsium.

Kurangnya pemberian bahan organik, dan tidak dikembalikannya sisa-sisa tanaman juga menyebabkan menurunnya aktivitas organisme tanah, dan menurunkan kemantapan struktur tanah sehingga tanah menjadi padat. Sebagai akibatnya, akar tanaman menjadi kurang berkembang. Terlebih lagi Al-dd menjadi sangat beracun dan menurunkan produktivitas.
 
Icip-icip, promosi produk olahan Jamur Organik

Icip-icip, promosi produk olahan Jamur Organik



Saat ini, daya serap pasar untuk produk Jamur Organik belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti belum memasyarakatnya budaya makan Jamur sebagai santapan harian yang sehat dan bergizi, dan minimnya pengetahuan masyarakat akan khasiat, manfaat dan cara membuat olahan Jamur.

Padahal di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Eropa, Jamur merupakan bahan makanan yang istimewa. Masyarakat di sana umumnya sudah mengetahui khasiat dan manfaat Jamur. Oleh karena itu, BionicFarm berupaya memasyarakatkan Jamur, terutama dalam memperkenalkan ragam jenis Jamur, khasiat dan cara pengolahannya.

"Memperkenalkan produk kami ini tidak gampang loh. Pertama-tama kami harus memasyarakatkan jamur yang notabene orang Indonesia belum terbiasa untuk mengkonsumsinya, dan yang kedua memasyarakatkan produk organik. Untuk organik, orang kan masih berpikir kalau organik itu pasti mahal," kata Olivia Staf Pemasaran BionicFarm.

"Padahal kalau masyarakat menyadari manfaat dan khasiatnya, Jamur Organik ini sangat penting bagi kesehatan, antara lain dapat menghambat pertumbuhan sel kanker dan tumor, bebas kolesterol dan masih banyak lagi," lanjutnya.

Selain itu, BionicFarm juga melakukan kegiatan promosi dengan cara unik yaitu icip-icip, promosi melalui produk olahan (masakan). "Ternyata enak juga loh?, dan gampang diolah. Ada juga yang rasanya mirip daging. Daripada banyak mengkonsumsi makanan berlemak, lebih baik mulai hidup sehat dengan makanan organik kan ?" tambah Via, sapaan akrab Olivia.

Kegiatan icip-icip ini diadakan di outlet-outlet yang biasa disuplai oleh BionicFarm seperti: Hypermart, Matahari Supermarket, SOGO dan hanya dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu. Melalui kegiatan seperti itu, BionicFarm ingin memperkenalkan kepada masyarakat ragam Jamur Organik yang diproduksinya beserta cara penyajiannya.

"Jamur yang kami sajikan ada yang sudah dalam bentuk olahan, atau langsung kami adakan demo masak di tempat," papar Via.

BionicFarm juga menyebarkan flyer yang berisi manfaat singkat jamur organik dan dilengkapi resep makanan yang selalu diganti secara periodik. "Masakan berupa olahan Jamurnya juga berbeda setiap minggunya, menunya all about mushroom tapi dijamin rasanya enak," tambah Via berpromosi.

Sertifikasi

Tiga bulan yang lalu BionicFarm telah mendapatkan sertifikasi organik dari BIOCert, sebuah lembaga sertifikasi pangan organik yang berkantor di Bogor.

"Kami tertarik untuk disertifikasi guna meyakinkan konsumen bahwa kami benar-benar membudidayakannya secara organik. Dengan sertifikasi ini konsumen kami jadi percaya dan merasa aman mengkonsumsi jamur kami," tutur Imelda, yang merupakan Direktur BionicFarm.

Sejak tahun 1990 Imelda dengan usaha BionicFarm-nya bekerja keras mengembangkan budidaya pertanian organik. Dari tiga hektar (ha) tanah yang dibelinya di Jolok, sebuah desa yang terletak di dataran tinggi Cipanas, Jawa Barat, setengah hektar diantaranya efektif dipergunakan untuk usaha budidaya Jamur Organik.

Beragam jenis Jamur Organik dibudidayakan di kebun yang letaknya di atas ketinggian 1.000 dpl tersebut. Ada Shiitake, Shimeji dengan berbagai warna (kuning, merah muda, putih dan coklat), Kuping, dan Abalon.

Jamur-jamur tersebut dibudidayakan secara organik di 17 buah kumbung (rumah atau tempat jamur dibudidayakan). Terdiri dari 12 kumbung berisi Jamur Shiitake dan 5 kumbung Jamur Shimeji, Abalon dan Kuping. Setiap hari ratusan kilogram Jamur Organik tersebut dipanen dan dipasarkan ke Jakarta, Bogor, dan sekitarnya.
 
Petani kembangkan pupuk cair organik untuk hindari kelangkaan pupuk kimia

Petani kembangkan pupuk cair organik untuk hindari kelangkaan pupuk kimia


Dewan Tani Indonesia (DTI) melalui Serikat Petani Organik yang berbasis di Banjar, Tasik, Ciamis, dan Garut (Jawa Barat atau Jabar) sedang mengembangkan pupuk cair organik. Langkah ini sebagai upaya agar petani tidak terpengaruh oleh kelangkaan pupuk kimia yang sering terjadi di musim tanam akhir November sampai Januari.

Demikian ungkap Fery Juliantoro, Ketua Dewan Tani Indonesia (DTI), saat dihubungi beritabumi.or.id di Jakarta, Senin (20/11). "Saat ini kita baru minta rekomendasi ke Departemen Pertanian agar petani dapat menggunakan pupuk cair organik," kata Juliantoro.

Serikat Petani Organik, selain bertanam juga membantu menyediakan pupuk-pupuk organik. Sedikit demi sedikit Serikat Petani organik mengajarkan dan menanamkan kepada petani supaya mereka bisa mengolah hasil-hasil yang bisa digunakan untuk pembuatan pupuk organik.

"Cepat atau lambat petani kita harus terbiasa dengan pupuk organik," tegasnya.

Dia menambahkan, petani bisa lebih hemat secara ekonomi dengan menggunakan pupuk organik. Selain itu hasil tanamannya jauh lebih bagus meski volume hasil yang dicapai masih sedikit.

"Saat ini pemerintah melalui Deptan juga mendorong para petani untuk menggunakan pupuk organik. Ini yang memang diperlukan, pemerintah harus terus mensosialisasikan pentingnya penggunaan pupuk organik," ujarnya.

KPPP lemah

Menanggapi kelangkaan pupuk tersebut, Juliantoro mengatakan bahwa itu terjadi karena Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KPPP) di provinsi lemah dalam melakukan pengawasan distribusi pupuk bersubsidi. KPPP merupakan penanggungjawab operasional pengawasan pupuk bersubsidi menurut Peraturan Menteri Perdagangan No. 03 tahun 2006.

"Tidak meratanya pasokan dari produsen pupuk serta ulah spekulan memperlihatkan bahwa KPPP di daerah tidak bekerja secara maksimal," katanya.

Menurutnya, KPPP sering tidak menindaklanjuti hasil temuan penyimpangan distribusi pupuk. Komisi tersebut tidak melakukan upaya penegakan hukum terhadap temuan tersebut.

"Tidak mengherankan bila distributor serta pengecer bebas dan nakal," ujar Juliantoro.

Dijelaskannya bahwa dari lapangan saat ini banyak ditemukan kios-kios tidak resmi yang menjual pupuk bersubsidi. Para pengecer pupuk ini mengambil dari distributor dengan harga Rp. 1.180 per kilogram.

Petani juga membeli pupuk itu dengan harga Rp 1.400 per kilogram dari para pengecer. Padahal seharusnya mereka membelinya dengan harga Rp 1.220 per kilogram.

Menurut Juliantoro, sebenarnya tidak ada masalah dalam pendistribusian pupuk bersubsidi ke gudang lini I (produsen) hingga ke lini III. Yang perlu dilakukan menurutnya adalah Departemen Perdagangan harus mendesak produsen pupuk untuk segera mengirimkan pupuknya ke distributor lini III (Kabupaten atau Kota).

Distributor harus ditekan agar menjual pupuknya ke pengecer untuk langsung didistribusikan ke petani. Terlebih lagi Departemen Perdagangan belum bisa membatasi secara tegas sasaran dari pupuk bersubsidi.

"Hingga saat ini banyak pupuk bersubsidi yang diselewengkan ke perkebunan milik swasta," katanya.
 
Lestari: Pemasar organik dari Kota Bogor

Lestari: Pemasar organik dari Kota Bogor



Sudah lima tahun terakhir ini "Lestari," sebuah gerakan konsumen-produsen hijau di kota Bogor , bersama para petani sayur organik di tiga Desa yaitu: Cijulang, Pangkalan dan Palasari, Kecamatan Cijeruk, Bogor berusaha melayani kebutuhan sayuran organik warga kota hujan ini.

Dua kali dalam seminggu yaitu Selasa dan Kamis, Teh Emun dan Mang Aji (keduanya mewakili Lestari) selalu datang ke Regina Pacis, sebuah sekolah terkemuka di Bogor untuk menyambangi para pelanggan sayur organik. Mereka menjual beragam sayuran seperti kangkung, bayam, caysim, cabe, jagung, lembayung, wortel, terong ungu hingga pepaya dan beragam pisang dari kebun yang dikelola secara organik di desanya.

Produk organik itu selalu habis dibeli para penggemar organik yang datang ke sekolah tersebut. Mereka berada di sekolah tersebut dari pukul 09.00-15.00 WIB. Sedangkan setiap kali berjualan, transaksi yang terjadi berkisar Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu.

Harga yang cenderung stabil itu membuat para petani di ketiga desa berhawa sejuk tersebut tertarik untuk bertani organik. Selain itu ada kebanggaan tersendiri sebagai petani organik, sebagaimana yang diungkapkan oleh Teh Emun ketika dijumpai di sela-sela pameran yang diikuti Lestari di kawasan Cimahpar, Bogor, "Kalau petani biasa mah udah banyak, kalau yang organik masih sedikit, jadi ada kebanggaan lah bisa bertani organik. Lagipula harganya tetap," ungkapnya.

Penghargaan masih rendah

Untuk memasarkan produk organik memang tidak seperti memasarkan produk pada umumnya, diperlukan jalur khusus, dan biasanya para pemasar melakukan berbagai cara pemasaran alternatif seperti pemasaran langsung dengan membidik komunitas tertentu. Namun jika sudah terbentuk jalur pemasaran, satu tugas lagi yang harus dijaga yaitu kontinuitas dan kualitas produk. Itu karena pemasaran tidak lepas dari masalah produksi.

"Memang sering tidak nyambung antara kebutuhan kuantitas dengan kontinuitas atau keberlanjutan suatu produk. Kalau kualitas minimal bertahan atau setara dengan yang diproduksi. Sedangkan kontinuitas akan sangat tergantung pada musim. Lahan di kebun kami masih tadah hujan, kalaupun ada air masih harus berebutan dengan lainnya," ungkap Gandi Bayu, Koordinator Pemasaran Elsppat yang setia mendampingi para petani di ketiga desa tersebut.

Bayu merasa sudah cukup dengan cara pemasaran yang mempertemukan langsung antara produsen dan konsumen, karena keterbatasan pasokan dari kebun. Namun jika kontinuitas dan kualitas serta manajemen Lestari sudah bagus, tidak mustahil Lestari memperluas sayap pemasarannya. "Kalau nanti bentuknya besar harus dipikirkan cara lain. Strategi pemasaran tergantung produknya, tidak bisa hanya memakai satu strategi pemasaran saja tetapi harus dikombinasikan dengan strategi pemasaran lainnya. Harus diperhitungkan bentuk produk, kapasitas, ketahanan produk, dll," kata Gandi.

Parameter keberhasilan Pertanian Organik bukan hanya pada faktor ekonomi saja, tetapi bagaimana membangun kesadaraan pada tingkatan produsen dan konsumen. Pertanian Organik harus dilihat secara keseluruhan, baik ekonomi, sosial, budaya. Tidak boleh dilihat dari sudut pandang bisnis (ekonomi) saja. Sehingga dari sudut ekonomi menguntungkan bila meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan petani, dari sudut konservasi melindungi alam, dan dari sudut sosial dapat menguatkan solidaritas diantara masyarakat.
 
Ekstrak strawberry organik lebih efektif mencegah kanker

Ekstrak strawberry organik lebih efektif mencegah kanker



Studi terbaru menunjukkan bahwa ekstrak strawberry organik dapat lebih efektif mencegah perkembangbiakan sel kanker dibandingkan ekstrak strawberry konvensional.

Para peneliti Ilmu Pertanian, Universitas Swedia dan Universitas Lund membandingkan lima ekstrak strawberry organik dengan ekstrak strawberry konvensional untuk mengetahui kemampuannya menahan perkembangbiakan sel kanker usus dan payudara manusia. Hasilnya, mereka menemukan ekstrak strawberry organik lebih efektif dalam mencegah perkembangbiakan dua jenis sel kanker itu daripada strawberry konvensional.

Ekstrak strawberry organik mengurangi perkembangbiakan sel pada dosis antara 0,025 hingga 0,5 persen dari berat kering ekstrak volume pembiakan sel. Pada konsentrat tertinggi, ekstrak organik dapat mencegah perkembangbiakan sel kanker usus (HT29) hingga 60 persen dan sel kanker payudara (MCF-7) hingga 53,1 persen. Nilai itu setara dengan ekstrak strawberry konvensional 49,7 persen untuk sel kanker usus dan 37,9 persen untuk sel kanker payudara. Perbedaan yang signifikan dalam statistik.

Ekstrak yang paling efektif untuk mencegah perkembangbiakan sel mengandung 48 persen lebih askorbat dan lima kali lebih dehydroaskorbat. Vitamin C adalah askorbat ditambah dehydroaskorbat. Strawberry organik juga mengandung zat antioksidan dan askorbat yang relatif lebih tinggi dibandingkan dehydroaskorbat.

Kompos sebagai suplemen tanah juga dapat menambah jumlah bahan antioksidan dalam strawberry. Ekstrak strawberry yang kaya vitamin C dan antioksidan, tercampur dengan mitogen aktif protein kinase (MAPK) menandakan aliran pembelahan sel, transformasi dan perkembangbiakan sel kanker.

Manfaat strawberry organik juga ditemukan pada buah lainnya. Buah plums kuning organik ditemukan kaya asam phenol ketika tumbuh secara alami di lahan rumput atau sekitar clover (tanaman genus Trifolium) dibandingkan buah plums yang tumbuh secara konvensional. Plums dan ekstrak clover menyebabkan apoptosis (kematian sel) dan mengurangi kemungkinan hidup sel kanker pada hati manusia.

Mengurangi bahaya pestisida

Para peneliti Sekolah Kesehatan Masyarakat Rollins, Universitas Emory, Atlanta dan Lembaga Lingkungan dan Ilmu Kesehatan, Universitas Washington, Seattle, Washington di Amerika Serikat mengkaji pola makan bayi dan anak-anak melalui urin, sebelum dan sesudah perubahan pola makan mereka, dari konsumsi konvensional ke produk organik dan kemudian kembali ke konvensionl.

Hasilnya menunjukkan bahwa metabolisme organofosfat malathion dan chlorpyrifos mereka menurun pada tingkatan yang tidak terdeteksi setelah pola makannya berubah organik dan tetap tidak terdeteksi hingga mereka mengubah kembali pola makannya ke konvensional. Ini memperkuat kesimpulan awal bahwa anak-anak lebih terpapar organofosfat pestisida melalui pola makan mereka.

Anak-anak bukan satu-satunya yang terpapar pestisida. Di Denmark, pada tahun 1999, studi tentang kualitas sperma dan air mani manusia dikaitkan dengan pola makan organik atau konvensional menemukan bahwa kelompok laki-laki yang mengkonsumsi produk organik dapat mengurangi paparan pestisida.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pestisida pada makanan tidak menimbulkan lemahnya kualitas air mani, namun kelompok laki-laki yang tidak mengkonsumsi makanan organik memiliki jumlah sperma bermorfologi normal lebih rendah, dimana secara umum dapat mempengaruhi hasil kehamilan. Sperma yang tidak normal juga mengindikasikan kerusakan DNA.
 
Produk pangan organik dapat kurangi risiko terkena kanker

Produk pangan organik dapat kurangi risiko terkena kanker



Produk pangan organik dapat mengurangi risiko terserang penyakit termasuk kanker. Itu disebabkan, produk organik memiliki keunggulan kadar nitrat lebih rendah. Kadar nitrat tinggi dapat mengurangi transpor oksigen dalam aliran darah, serta membentuk nitrosamin yang bersifat karsinogen.

Produk pangan organik juga mengandung serat yang sangat penting. "Masyarakat awam sudah banyak mengetahui, mereka perlu mengkonsumsi serat untuk menjaga kesehatan pencernaan karena mampu mengikat zat racun, kolesterol dan kelebihan lemak, sehingga dapat mencegah berkembangnya sumber penyakit," ungkap Made Astawan, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam seminar bertema ?Gaya Hidup Organik Bebas Toksin? diselenggarakan pada tanggal 4 September 2006 di Jakarta.

"Pangan organik juga meningkatkan perolehan vitamin, mineral dan serat bagi tubuh. Bahkan buah organik dapat dimakan bersama kulitnya," lanjut Astawan.

Lebih lanjut Astawan menuturkan, saat ini berbagai produk organik telah beredar di pasar. Bukan hanya sayuran organik dan buah organik, tetapi juga daging, ayam, telur dan susu organik. Bahkan ada restoran-restoran yang menyediakan menu khusus sayuran dan daging ayam yang diproduksi secara organik.

Sementara itu dr Samuel Oetoro yang juga menjadi pembicara dalam seminar tersebut menyatakan bahwa kunci gaya hidup yang sehat dan bugar adalah makan sehat, berpikir sehat dan beraktivitas sehat. Makan yang sehat ialah makan sesuai kebutuhan dan gizi yang seimbang, yang terdiri atas 60-70% karbohidrat, 10-15% protein, 20-25% lemak dan tinggi serat. Serat yang tinggi sangat baik bagi kesehatan saluran pencernaan yang memiliki fungsi mencerna makanan, penyerapan, pembuangan dan sistem imunitas.

Ia menyarankan untuk mengkonsumsi serat sekurang-kurangnya 25-30 gram per hari. Serat sebanyak itu bisa didapatkan dari lima porsi buah (lima buah yang berbeda) dan tiga porsi sayur setiap harinya. "Atau bisa juga dengan mengkonsumsi sereal tiap hari, kacang-kacangan dan dengan menambah dua gelas air setiap hari," tambahnya.

Seminar tersebut juga menghadirkan Direktur Operasional toko yang selama ini menjual produk organik, Healthy Choice, yakni Stevan Lie. Pada seminar tersebut Lie menyebutkan bahwa belum semua kalangan bisa menikmati produk organik yang menyehatkan, karena harganya tergolong mahal. Sayur kangkung, bayam, kol, atau sawi hasil kebun organik lokal harganya bisa tiga kali lebih mahal dari yang biasa.

Sementara itu untuk membeli produk impor, seperti selai, jus, susu, roti gandum dan lain sebagainya harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Selai strawberry yang biasanya paling mahal Rp 20 ribu bisa menjadi Rp 60 ribu arau Rp 80 ribu, jika diproduksi secara organik. Begitu juga dengan roti gandum organik, harganya mencapai Rp 90 ribu per potongnya.

Beberapa kalangan memang mempertanyakan mahalnya harga yang ditetapkan. "Menurut mereka, bukankah pertanian organik memerlukan biaya produksi lebih rendah, karena tidak perlu menggunakan pestisida atau hormon pertumbuhan yang harganya semakin mahal," tuturnya.

Stevan lie mengatakan, harga produk organik mahal karena beberapa alasan. Pertama, pertanian organik membutuhkan tenaga kerja lebih banyak. Pemusnahan hama menjadi semakin sulit dan rumit, karena dilakukan secara manual ataupun dengan predator alami. Kedua, masa tanam produk organik tanpa hormon pertumbuhan atau pertambahan pemupukan, sehingga menjadikan masa panennya jauh lebih lama daripada produk biasa.

Tanah yang digunakan untuk pertanian organik pun memiliki standar khusus, agar bisa dikatakan organik. Misalnya harus bebas kimia selama 10 tahun, memiliki jarak tertentu dari lahan pertanian lain yang menggunakan pestisida, jarak minimum dari jalan raya dan sebagainya.

"Sayangnya saat ini belum ada standardisasi atau sertifikasi mengenai produk organik ini di Indonesia. Begitu pula pengetahuan petani organik di Indonesia yang kurang," papar Stevan.

Selebriti konsumsi organik

Saat ini sebagian besar kalangan selebriti telah mengkonsumsi produk-produk organik. Seperti penyanyi Lucy Rahmawati, seorang mantan personel AB Three yang kini bersolo karir, sekarang menjalani gaya hidup organik.

Dari beberapa catatan, Sophie Novita, artis yang cukup populer, juga mengkonsumsi produk organik sejak ia hamil sampai saat ini. Tak ketinggalan musisi jazz kawakan, Ireng Maulana, yang selama ini vegetarian juga menjadi penggemar produk-produk organik. Bahkan Melly Manuhutu, seorang penyanyi pop terkenal, tidak hanya menjalani pola hidup organik, tetapi malah terjun ke bisnis pertanian organik. Ia memiliki lahan pertanian organik di sekitar Cisarua, Jawa Barat.

Selebihnya, mereka umumnya para selebriti berusia 40-an yang sudah mapan secara finansial, merasa harus menjaga pola makannya, atau orang-orang yang sudah mentok dan terpaksa mengkonsumsi produk organik karena penyakit yang diderita, seperti kanker kolon.

Seminar bertema ?Gaya Hidup Organik Bebas Toksin? ini diselenggarakan oleh PT CNI (Citra Nusa Insan Cemerlang). Yang hadir dalam acara tersebut adalah para pakar pangan, khususnya pangan organik. Seminar tersebut konon memberi respon atas semakin membudayanya gaya hidup organik di masyarakat. Gaya hidup organik ini tersosialisasi karena menjamurnya perusahaan produsen, jaringan distribusi dan toko penyedia bahan pangan organik di kota-kota besar di Indonesia.
 
Dalam Pertanian Organik, Petani tentukan harga

Dalam Pertanian Organik, Petani tentukan harga


Di kebun organik berhawa sejuk di kawasan Sukabumi, Jawa Barat, Royce L. Budiman dan keluarganya memantapkan diri berbisnis organik. Dari 25 hektar lahan kebunnya tersebut, yang efektif dikelola secara organik baru 13 hektar. Sedangkan tanamannya terdiri dari berbagai jenis sayuran dataran tinggi seperti selada, spinach, caysim, brokoli, wortel, buncis perancis, kacang merah, bit, kubis, timun jepang, petsay, kapri dan lain-lain.

Lelaki kelahiran tahun 1972 ini memilih pertanian organik karena menurutnya pertanian organik fair. "Kalau di pertanian organik petani yang pegang harga. Sedangkan di konvensional petani nggak punya (kendali harga) karena pasokan dan permintaan nggak seimbang. Memang ke depannya belum tahu? kalau makin banyak petani organik pastinya produk organik makin banyak," katanya awal Juni lalu saat ditemui di kebun.

Tetapi Roy berkeyakinan bahwa pertanian organik adalah bisnis yang menjanjikan meskipun tidak mudah melakukannya.

"Selain fair, pertanian organik juga berprospek bagus. Harga untuk produk-produk organik pun cenderung stabil," ungkapnya. Harga lebih stabil, menurutnya karena hasil pertanian organik adalah produk baru. Bahkan hingga kini masih stabil karena pasokannya relatif sedikit sehingga petani masih bisa menentukan harga.

Ketika disinggung mengenai harga di supermarket yang cenderung jauh lebih tinggi daripada harga di tingkat petani, Roy tidak menampik itu dan menurutnya sah-sah saja asalkan pembelian dilakukan dengan cara beli putus. "Kalau beli putus, wajar saja jika supermarket menaikkan (harga) beberapa persen karena kan ada overhead (sewa freezer, tempat, biaya listrik, dll.). Dan kalau nggak laku kan harus dibuang," katanya.

Namun jika pembelian dengan sistem konsinyasi (titip) Roy tidak menyetujui. Menurutnya ini tidak fair. Karena jika sayuran tidak habis terjual maka sayuran tersebut dikembalikan ke petani.

Walaupun banyak masyarakat yang menyatakan bahwa sayur organik lebih mahal, namun prospek sayur organik lebih menjanjikan. Hal itu karena banyak konsumen yang mulai menyadari akan arti hidup sehat. Meskipun konsumen organik relatif lebih sedikit ketimbang non-organik. "Walau sedikit tapi jika makan setiap hari kan jadi banyak," kata Roy.

Ini terbukti dari permintaan pasokan sayuran organiknya yang cenderung naik. Dari yang semula hanya menyuplai wortel ke Agatho Farm di Cisarua, Jawa Barat, sayuran organiknya kini telah menghiasi gerai-gerai Healthy Choice di bilangan Jakarta.

Menurut Roy, masih banyak orang yang belum memahami arti organik sesungguhnya. "Mereka minta yang organik tetapi kualitasnya yang konvensional. Ya nggak kloplah. Organik pasti ada yang bolong sedikit, ukurannya nggak rata dan musim-musim tertentu ada produk yang memang tidak ada," tutur Roy.

Sayuran organik Roy yang memiliki nama dagang "Real" kini telah mendapat sertifikasi BIOCert, sebuah lembaga sertifikasi pertanian organik, Bogor. Menurutnya agar fair ke pelanggan. Dan walaupun sudah disertifikasi organik, untuk lebih meyakinkan para konsumennya, Roy lebih suka jika para konsumennya tersebut datang langsung ke kebunnya yang berhawa sejuk tersebut. "Kebun kami terbuka untuk siapa pun dan kapan pun boleh datang. Konsumen dapat melihat sendiri proses produksi di kebun kami," kata Roy.
 
Beras Organik Laos untuk orang miskin dan pasar dunia

Beras Organik Laos untuk orang miskin dan pasar dunia


Orang membutuhkan beras bukan hanya dari segi kuantitas tetapi juga kualitas. Demikian pula di Laos, sebuah negara sedang berkembang di kawasan Delta Mekong yang kini infrastruktur dan ekonominya berkembang pesat. Negara dengan populasi penduduk kurang lebih lima juta orang ini memberikan perhatian serius pula pada pengembangan beras organik.

Saat ini ada kurang lebih 6000 keluarga petani yang menanam padi secara organik di atas lahan seluas 22.740 ha termasuk 3.587 ha di dalam dan sekitar ibu kota Vientiane. Sisanya tersebar di beberapa propinsi seperti Xien Khuang, Borikhamxay, Khammuan, Savannakhet, Saravan and Champassak. Setiap hektar sawah diharapkan akan menghasilkan 3,5 ton padi setiap musim tanam

Sebuah perusahaan pengekspor beras, Brotherhood Company akan mengeluarkan anggaran lebih dari 3 juta dolar AS untuk memperbaiki struktur dan metode sistem pertanian padi sawah tahun ini. Usaha ini untuk memenuhi kebutuhan ekspor yang terus meningkat dan meningkatkan kualitas beras untuk ekspor. Ekspor beras Laos ditujukan ke beberapa negara seperti Cina, Jepang, Amerika Serikat dan Kanada.

Untuk itu perusahaan yang khusus mengimpor jenis padi dari Jepang ini akan mendampingi 10 petani di negara ini dengan fasilitas untuk memperbanyak benih padi tersebut. Jenis padi tersebut memiliki kualitas yang sangat tinggi untuk pasar dunia. Perusahaan ini memfokuskan pada beras dengan kualitas terbaik sehingga tidak akan membeli beras dengan jenis campuran berkualitas jelek dari petani. Petani akan diajarkan untuk tidak menggunakan pestisida dan pupuk anorganik. Jika tidak akan ditolak oleh pasar dunia.

Perusahaan akan mengundang pembeli untuk memeriksa dan menguji beras ini sebelum dijual. Saat ini perusahaan juga sudah menjual beras kepada lembaga bantuan internasional yang bekerja di Laos untuk dibagikan kepada masyarakat miskin di daerah terpencil di Laos. Ini juga merupakan salah satu bentuk kampanye kepada dunia bahwa Laos juga memproduksi beras organik.

Perusahaan ini juga memasok 5 ton beras organik kepada 20 mini markets di Vientiane untuk menguji kebutuhan pasar lokal. Sejauh ini cukup berhasil uji coba ini dan permintaan terus meningkat.

Perusahaan ini mulanya adalah sebuah joint venture antara Laos dan Jepang bernama Lao-Arrowny Corporation. Pada April tahun ini nama perusahaan berubah menjadi Brotherhood Corporation setelah mengganti mitranya karena beras yang dipasok mempunyai kualitas jelek. Pembeli mengeluh karena beras organik ternyata dicampur dengan beras bermutu rendah.

Kini Brotherhood Corporation adalah sebuah joint venture antara investor lokal dengan sebuah kelompok bisnis luar negeri kerjasama AS dan Laos, US-Laos Economic Cooperation Delegation dari Amerika Serikat. Delegasi ini sedang mencari dana 4 juta dolar As untuk membangun pabrik penggilingan padi modern di Laos dan hasilnya direncanakan akan diekspor ke Amerika Serikat dalam waktu dekat. Mesin penggiling ini akan mempunyai standar mutu internasional dan mampu memisahkan padi dalam beberapa jenis kualitas sekaligus mengeringkan dan mengepak beras organik untuk diekspor.

Sumber: Vientiane Times, Business News 6 Juni 2006.
 
Masakan Organik dengan Cita Rasa yang Lebih Enak

Masakan Organik dengan Cita Rasa yang Lebih Enak
- 13 Jun 2006 11:58

Thomas Kaerst dari Deutsche Presse-Agentur menulis di Bangkok Post (11 Juni 2006) mengenai perubahan cara masak dan cita rasa makanan dari bahan organik. Dulu makanan organik sangat terbatas karena orang menghindari menggunakan kimia dalam bumbu masak. Dulu makanan organik adalah roti tawar, tahu yang elastis seperti karet dan makanan vegetarian yang tidak enak dan hambar. Tampilannya juga kurang menarik. Kini semuanya telah berubah di mana kita bisa dapatkan es krim dan hot dog yang organik. Hampir semua masakan saat ini bisa bersifat organik.

Peter Roehrig dari German Association for Ecological Food di Berlin Jerman mengatakan bahwa kini orang bisa dapatkan sparkling wine dan pizza yang dibuat dari bahan organik. Kini orang mau membayar lebih mahal untuk makanan organik seperti kenyataan saat ini bahwa penjualan makanan organik mencapai 4 milyar Euro di Jerman dan 1.2 mlyar pound sterling di Inggeris.

Perusahaan pembuat roti di Jerman kini menjual berbagai kue, kukis dan kue tart seperti black forest dari bahan organic. Permintaan masyarakat Jerman akan makanan ini terus meningkat. Bahan makanan (ingredients) tidak lagi dari tanaman yang menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Produk akhir juga tidak menggunakan bahan pengawet atau pewarna kimia.

Sebuah perusahaan pembuat es krim di Berlin juga menggunakan ethos yang serupa dan sudah dijual di gerai atau tempat penjualan es krim di sana. Bahan es krim adalah buah segar dan produk susu dari ternak yang dipelihara tanpa menggunakan bahan kimia. Namn masih sering terdapat kesulitan karena produk bahan baku yang betul-betul organik. Yang paling laris adalah yang dibuat dari strawberry yang tumbuh liar di alam. Masyarakat makin kritis akan sumber bahan baku dan es krim dari strawberry ini banyak disukai.

Bahan baku es krim lain yang potensial lainnya adalah pisang yang biasanya jarang dipupuk dengan bahan kimia. Permintaan yang terus meningkat ini bukan hanya karena adanya kesadaran akan lingkungan tetapi juga makanan organik menjawab tantangan bagi mereka yang tidak tahan terhadap bahan-bahan kimia. Ada makanan yang dibuat dari susu kambing dan makanan yang bebas dari gula sama sekali. Pelanggan tidak keberatan kalau harus membayar lebih mahal yang penting adalah mereka lebih sehat.

Selain itu di Jerman berkembang pesat makanan tradisional yang diproduksi secara organik seperti sosis, bakso, hotdog, mayonnaise dan kecap. Kini sedang berkembang pabrik bir organic.

Sumber: Bangkok Post, 11 Juni 2006.
 
Pertanian Organik Dunia: Lebih dari 31 juta hektar di seluruh dunia

Pertanian Organik Dunia: Lebih dari 31 juta hektar di seluruh dunia

- 2 Jun 2006 10:36

Lahan pertanian yang dikelola secara organik lebih dari 31 juta hektar seluruh dunia saat ini berdasarkan survei yang disampaikan melalui siaran pers Februari lalu. Dalam satu tahun bertambah sekitar lima juta hektar. Penambahan lahan organik terutama terjadi di Cina, dimana sekitar tiga juta hektar lahan pedesaan mendapat sertifikasi beberapa waktu lalu.

Herta Krausmann, Direktur Managemen Numberg Global Fairs saat menyoroti pentingnya sejumlah perkembangan di Cina menyatakan, "Dalam rangka menghargai pertumbuhan produksi organik di Cina, proyek BioFach Cina, selama dua tahun bekerjasama dengan Numberg Global Fairs dan German Development and Investment Society (DEG), akan mengadakan acara yang pertama kalinya di akhir November 2006 di Shanghai. Acara tersebut juga untuk memacu pertumbuhan dan pengembangan produksi organik di Cina lebih lanjut."

Berkaitan dengan luas lahan organik liar (alami), Australia memimpin dengan luas 12,1 juta hektar, diikuti Cina (3,5 juta hektar) dan Argentina (2,8 juta hektar). Lahan organik terbesar di dunia adalah Australia/Oceania (39%) diikuti Eropa (21%), Amerika Latin (20%), Asia (13%), Amerika Utara (4%) dan Afrika (3%). Sedangkan bila luas lahan pertanian organik dibandingkan dengan total area pertanian di wilayahnya, negara Austria, Switzerland dan Scandinavian memimpin. Misalnya Switzerland, lebih dari 10% lahan pertaniannya dikelola secara organik.

Editor dari studi ini, Minou Yussefi dari Foundation Ecology & Agriculture (SOEL) dan Helga Willer dari Research Institute of Organic Agriculture (FiBL) mencatat bahwa penambahan terus menerus area pertanian organik beberapa tahun lalu bukan hanya karena besarnya ketertarikan pada pertanian organik, tetapi juga sebagai hasil meningkatnya akses informasi dan koleksi data studi yang up todate setiap saat.

Sementara itu pada tahun 2004, nilai pasar produk organik seluruh dunia mencapai US $ 27,8 milyar (23,5 milyar EUR atau 243.200 milyar rupiah). Dengan pemasaran produk organik terbesar ada di Eropa dan Amerika Utara.

Pertumbuhan pasar dan area lahan organik yang terus-menerus diharapkan terjadi di masa depan dengan meningkatnya dukungan pemerintah dan organisasi pengembangnya. Angela B. Caudle, Direktur Eksekutif IFOAM menekankan, "Dengan terus berkembangnya pasar produk organik di dunia, termasuk pasar di seputar Eropa dan Amerika Utara, seperti Brazil dan Timur Tengah, manfaat sistem pertanian organik pada skala luas akan menjadi lebih jelas."

Studi global tentang pertanian organik akan dipresentasikan saat delapan tahun BioFach. Untuk pertama kalinya ?Pertanian Organik Dunia? tidak hanya menyangkut informasi total area organik tetapi juga tentang fungsi lahan dan tanaman utama, serta gambaran terbaru situasi pasar dan trend yang muncul di seluruh benua, didukung oleh ahli terkenal di sektor organik.
 
organik lebih untung dari konvensional

Sariadi: organik lebih untung dari konvensional



Sebagai petani konvensional, akhirnya Sariadi merasakan adanya kerugian dari pertaniannya. Pengalamannya dalam pengendalian hama terpadu (PHT) menggugahnya untuk berfikir, apa saja untung rugi dari pertaniannya selama ini. Ternyata kerugian yang terjadi dari pertaniannya lebih kecil bila menggunakan teknik organik, tanpa pestisida dan pupuk kimia dengan hasil lebih untung.

Bapak dua orang anak itupun mencoba bertani organik. Meski perlahan namun pasti, tekadnya untuk berorganik telah bulat. Langkah awal ditempuhnya dengan tidak menggunakan pestisida tetapi masih menggunakan pupuk kimia. Lalu dia pun tidak menggunakan pupuk.

"Keuntungannya lebih besar dari yang memakai pupuk (konvensional), meskipun capek. Dengan pupuk kimia, satu hari lahan sudah bisa ditanami sedangkan tanpa pupuk kimia tapi dengan kompos atau bokasi, dua hari lahan baru bisa ditanami," ungkap Sariadi.

Selama masa pemulihan lahan dari konvensional menuju organik mulai tahun 1997, Sariadi mengaku telah mengalami tiga musim tanam padi. Pada musim tanam pertama, hasil padi organik sebesar 220 kg/rante (400 m2), sedangkan konvensional (dengan pupuk dan pestisida kimia) menghasilkan padi 250 kg/rante. Pada musim tanam kedua, hasil padi organik sama dengan konvensional 250 kg/rante. Lalu musim ketiga, hasil padi organik lebih besar dari konvensional, yaitu 275 kg/rante, konvensional 250 kg/rante. "Bahkan untuk sekarang padi organik, kami bisa mencapai 300 kg/rante," tegasnya.

Sedangkan harga gabah basah untuk padi organik mencapai 1800 rupiah dan konvensional 1500 rupiah. Harga tersebut relatif, sesuai permintaan yang berkembang di masyarakat.

Petani yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Pematang Jering itu berharap, langkah sederhananya menuju organik dapat berpengaruh terhadap meluasnya pertanian organik di luar desa Pematang Jering. "Kegiatan sekecil apapun yang menghasilkan produk tanpa residu pestisida, awalnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Lalu kita kembangkan ke tingkat kelompok bersama petani lain. Akhirnya meluaslah jaringan ke luar mengikuti bertani organik," ungkapnya.

Ditambahkannya, langkah-langkah petani yang bertekad menuju organik akan lebih baik hasilnya dengan kemandirian. Dalam hal ini termasuk tidak tergantung pada benih asing. Petani dapat mengembangkan dan menghasilkan benih lokal sendiri.

Kegiatan berorganik Sariadi itu dilakukan dengan petani lain di desa Pematang Jering mulai tahun 1997. Mereka tergabung dalam satu kelompok bertani organik di desa tersebut pada tahun 1999.

Untuk mendukung upaya organik, petani Pematang Jering, Asahan, Sumatera Utara tersebut membuat pupuk bokasi, perangsang pupuk cair dan pestisida alami. Semua serba alami.

Pertanian organik Pematang Jering menghasilkan beras organik jenis menthik. Luas lahan organik Pematang Jering 200 rante (80.000 m2 atau 8 ha). Pengembangan dan pemasarannya dilakukan petani bersama Sintesa yang mendampingi.

Harapan Sariadi sebagai salah satu petani organik desa Pematang Jering itu mungkin bisa sedikit terwujud. Petani desa Tanah Rakyat mengikuti bertani organik pada tahun 2001. Sedangkan desa Bandaksa mulai tahun 2004.
 
Serbuk kayu sebagai substrat organik

Serbuk kayu sebagai substrat organik


Tatal/serbuk kayu hasil penggergajian dapat menghasilkan substrat organik untuk pertumbuhan tanaman dalam wadah secara intensif. Selain itu, substrat ini menguntungkan karena dapat didaur ulang dan lebih ekonomis dibanding substrat lain seperti tanah gembur atau serat kelapa.

Para peneliti Public University of Navvare bekerja sama dengan Perusahaan Aralur di Ziordia (Navvare), menemukan dan mengembangkan substrat serutan kayu sebagai bahan baku tanaman. Hasil produk ini siap dipatenkan dan dipasarkan.

Jenis substrat ini digunakan secara intensif pada pertanian dalam wadah dan sebagai bahan utama untuk tanaman rumah kaca (greenhouse).

Tanaman dapat tumbuh dalam wadah kecil, meskipun dengan oksigen yang terbatas dan mencukupi akar. Ini karena substrat lebih menyerap dibandingkan tanah. Tanah normal dalam ruangan mengandung lebih kurang 50% udara, sedangkan substrat mengandung lebih kurang 90% udara, dan 10% bahan baku padat. Hal itulah yang menyebabkan mengapa substrat mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman dan hasil yang lebih baik.

Produktif, ekonomis dan dapat didaur ulang

Pengembangan produk substrat serbuk kayu secara komersial disebut "FIBRALUR". Substrat serbuk kayu cemara hasil penyeratan proses industri. menghasilkan bahan baku yang terbaik untuk pertumbuhan jamur dan tanaman hidroponik lainnya, pembibitan tanaman dengan media selain tanah serta lahan sempit pembibitan sayuran dan tanaman hutan.

Substrat tersebut dapat bersaing di pasar. Terutama digunakan untuk jamur dan tanaman hidroponik sebagai substrat tunggal, sedangkan untuk pembibitan tanaman, substrat seharusnya dicampur dengan tanah gembur.

Pada umumnya tanah gembur merupakan substrat utama di seluruh dunia dalam teknik terbaik. Substrat tersebut biasanya dihasilkan dari daerah dingin Eropa bagian Utara (Finlandia, Swedia, Norwegia dll). Keuntungan produk yang dikembangkan oleh tim peneliti Public University of Navarre dan Perusahaan Aralur yaitu sebagai produk industri skala rumah tangga yang bernilai lebih ekonomi.

Serat kayu yang dicampur tanah gembur merupakan substrat organik yang dapat didaur ulang. Untuk tanaman pada lahan, substrat yang telah dipergunakan dapat berubah kembali menjadi tanah, jika diberi pupuk kandang.

Penyeratan kayu

Substrat yang dihasilkan berasal dari proses penyeratan kayu untuk kertas, dimana seratnya lebih tebal dan panjang. Penyeratan tersebut melalui dua sampai tiga kali proses sampai menghasilkan substarat FIBRALUR sebagai serat tunggal.

Untuk proses penyeratan pada kulit kayu pinus, selama pencucian menggunakan air dengan temperatur 90 ? 1150C dan menghasilkan sellulosa yang mendekati murni, bebas phytotoxic, dan siap digunakan untuk substrat pertumbuhan tanaman pertanian.
 
Indonesia berpotensi mengekspor madu organik

Indonesia berpotensi mengekspor madu organik


Suatu saat Indonesia akan menjadi eksportir madu organik bila mampu mengelola dengan baik potensi madu hutannya. Indonesia memiliki luas hutan +/- 143 juta hektar dan sedikitnya 115 tanaman yang dapat menjadi sumber nektar.

Namun dari sekitar 208,064 ton madu hutan yang ada saat ini (90% dari Kalimantan dan 10% dari Sulawesi), baru sekitar 27.265 ton atau 13% dari total madu yang berhasil dipasarkan.

Dengan luas daratan selebar 193 juta hektar dan luas hutan +/- 143 juta hektar, ini merupakan lahan yang sangat luas untuk tanaman berbunga penghasil madu. Sedikitnya terdapat 115 tanaman yang dapat menjadi sumber nektar di Indonesia. Keadaan alam Indonesia ini sangat cocok untuk usaha peternakan lebah karena sangat kaya akan ragam tanaman berbunga.

Kenyataan ini memungkinkan produksi madu di Indonesia dapat terjadi sepanjang tahun. Namun hingga saat ini madu hutan Indonesia masih sulit bersaing baik di pasar domestik apalagi di pasar luar negeri.

Menurut Yulia Sri Sukapti, Koordinator Bolsa Nusantara yang merupakan fasilitator jaringan pemasaran produk lokal, yang salah satunya memasarkan produk-produk madu hutan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), dari sekitar 208,064 ton madu hutan yang dihasilkan oleh beberapa dampingan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Luwuk Utara, Alahaa (Kendari), Berau, Pelalawan (Riau), Meratus, Kedang Pahu, Air Hitam, Danau Sentarum, Tumbang Titi (Kalimantan Barat), yang sanggup dipasarkan oleh BOLSA Nusantara baru sekitar 27.265 ton atau 13% dari total madu yang dihasilkan oleh para petani madu hutan (Bolsa Indonesia baru mulai memasarkan madu organis sejak November 2005 - red). Madu-madu tersebut, 90% berasal dari Kalimantan dan sisanya, 10%, berasal dari Sulawesi.

Madu hutan yang bersifat higroskopis (menyerap air) adalah salah satu sebab mengapa madu hutan Indonesia memiliki kadar air tinggi. Ditambah lagi para petani madu yang belum memperhatikan kualitas dan kontinuitas produknya semakin membuat madu hutan sulit bersaing dipasaran.

"Kendala yang dihadapi dalam memasarkan madu hutan untuk industri adalah kualitas madunya. Standar nasional madu ternak, kadar airnya maksimal 22%. Sedangkan standar nasional madu hutan, kadar airnya maksimal 24%, namun jika sudah dituang ke botol, menjadi 27%. Ditambah lagi kontinuitas produk belum lancar," kata Yulia ketika ditemui beritabumi di kantornya di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta.

Hal senada dibenarkan oleh Widhi, Koordinator pemasaran PD Dian Niaga Jakarta, "Kualitas madu hutan tentu tidak bisa sesuai standar mereka (SNI madu ternak kadar air 22% - red), sedang madu hutan jaringan kita 24 -28%,? tutur Widhi.

Kesenjangan informasi mengenai madu hutan yang belum banyak tersebar membuat masyarakat umum belum begitu mengenal madu hutan, harga yang lebih tinggi dari harga madu ternak bagi beberapa kalangan juga menjadi penghambat dalam pemasaran madu. Ditambah lagi kondisi masyarakat yang belum terlalu banyak menggunakan madu untuk keperluan sehari hari, semakin mempersempit ruang gerak para pemasar madu hutan. Keadaan ini membutuhkan waktu untuk mengedukasi konsumen.

"Kita juga ada banyak pertanyaaan mengapa madu hutan kita encer? Apakah dicampur air? hal-hal seperti itu memang perlu waktu dan edukasi untuk menjelaskan proses panen madu hutan yang berbeda dengan madu ternak," kata Widhi.

Saat ini, baik BOLSA Nusantara maupun PD Dian Niaga Jakarta, sedang mencari metode yang tepat, karena madu bukan merupakan bahan makanan utama yang sering dijumpai dan digunakan untuk keperluan sehari hari.

Mereka juga mencoba dengan melewati jaringan antar lembaga yang peduli terhadap lingkungan, penjualan dengan modal konsinyasi dibeberapa tempat yang diperkirakan strategis, juga penjualan baik secara door to door, pameran, koperasi dll.

PD Dian Niaga Jakarta juga berencana untuk membuka semacam tempat untuk pembelian langsung produk madu madu hutan Indonesia. Dan diharapkan bulan Maret 2006 sudah bisa difungsikan.
 
Pertanian organik untuk komoditi padi pada masyarakat Dayak di Kalimantan Barat

Pertanian organik untuk komoditi padi pada masyarakat Dayak di Kalimantan Barat


Pertanian organik selain ramah dengan lingkungan, juga tidak membahayakan manusia itu sendiri bila mengkonsumsi hasil-hasil pertanian organik, seperti padi/beras, sayuran dan buah-buahan. Hal ini tentu saja tidak dapat dilaksanakan apabila kondisi atau ketersediaan lahan tidak mendukung.

Masyarakat Dayak Kanayatn di Pontianak-Kalimantan Barat, sejak dahulu kala hingga sekarang masih melakukan cara-cara pertanian organik ini, karena alam di Kalimantan Barat masih sangat mendukung proses kegiatan pertanian organik baik cuaca, relief, kesuburan tanah, pengairan dan lain-lain.

Selain potensi wilayah yang sangat mendukung, keterkaitan pertanian organik inipun sangat identik dengan tradisi dan budaya Dayak Kanayatn seperti memelihara/melestarikan Timawakng, Kompokng, Padagi, Paburungan dan lain-lain yang bersahabat dengan alam. Proses pertanian organik ini selalu melibatkan sang pencipta.

Hasil pertanian organik tidak hanya menghasilkan padi, tetapi juga dapat menghasilkan komoditi lain seperti sayuran (bayam, ketimun, ubi talas, ubi jalar, ubi kayu, cabe, terung dan lain-lain), tanaman lainpun selalu ditanam secara organik seperti buah-buahan dan tanaman keras lainnya.

Dalam segi modal atau pembiayaan, usaha pertanian organik relatif kecil dan hampir semua lapisan masyarakat bisa melakukannya. Modal dapat ditekan seminimal mungkin, karena tidak perlu membeli pupuk, obat-obatan dan sarana produksi lainnya.

Persiapan lahan pertanian organik

Persiapan lahan untuk pertanian organik di wilayah Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Pontianak dan sekitarnya lebih khusus yang dilakukan oleh masyarakat suku Dayak Kanayatn, ada beberapa tahapan yaitu :

Baburukng

Kegiatan ini bersifat ritual adat dan dilaksanakan sebelum memulai pembukaan lahan untuk pertanian, dengan tujuan meminta petunjuk kepada Jubata (Tuhan YME) mana tempat/lahan yang cocok untuk pertanian (berladang atau bersawah). Ritual ini juga sebagai petunjuk tentang musim pelaksanaan pertanian (musim penghujan atau musim kemarau) dan sebagai petunjuk untuk antisipasi resiko serangan hama atau penyakit tanaman. Setelah acara ritual selesai dan mendapat restu dari Jubata (melalui suara burung/rasi) baru kemudian pertanian direncanakan.

Ngawah

Kegiatan ini dilakukan khusus untuk pertanian lahan kering (ladang = mototn), dengan tujuan minta ijin pada Jubata untuk memakai lahan tersebut. Lahan cocok dan boleh digarap bisa diketahui lewat rasi dan rasi juga sebagai petunjuk resiko serangan hama.

Menebas

Dilakukan pada pertanian di lahan kering dan lahan basah. Untuk lahan kering penebasan dilakukan hanya sebatas kayu dan rumput-rumput kecil, lalu dibiarkan membusuk selama satu sampai dua minggu. Tujuan pembusukan kayu dan rumput-rumput kecil, berguna sebagai pupuk.

Menebang

Dilakukan khusus untuk lahan kering dengan tujuan; menebang kayu-kayu yang agak besar, mengurangi resiko serangan hama (kera, tupai, burung dan lain-lain). Bila kayu-kayu besar dibiarkan selain menjadi sarang hama juga bisa menjadi bencana kecelakaan (tertimpa kayu) .

Membakar lahan

Khusus pertanian lahan kering dengan tujuan Natas/memberi batas ladang dengan lahan yang ada disekelilingnya, agar tidak terjangkit api pada saat membakar ladang dan supaya api tidak meluas ke wilayah lain. Acara ritual adat Noto Ngalabur (sifatnya sederhana), yaitu minta pertolongan Jubata agar pembakaran tidak menyebar keluar lahan pertanian dan minta maaf kepada Jubata atas segala hewan dan tumbuhan yang ikut terbakar pada saat pembakaran ladang tersebut.

Penanaman dan Pemeliharaan

Tanda selesai pembakaran ladang bila abu dan arang sudah bisa diinjak/sudah dingin, kemudian dilakukan penanaman jagung dan ubi/talas. Kayu atau ranting yang masih tersisa dikumpulkan dan dibakar, kemudian dibekas tempat pembakaran ditanami sayuran usia pendek seperti bayam, ansabi dan ketimun untuk dikonsumsi daunnya.

Untuk perawatan padi, masyarakat Dayak pada umumnya melakukan :

1. Ngamalo Lubakng Tugal

Kegiatan ini merupakan acara ritual adat yang dilakukan setelah padi atau tanaman lain telah tumbuh, dengan tujuan minta pertolongan kepada Jubata untuk ikut menjaga tanaman-tanaman tersebut agar tumbuh sehat dan kuat tidak hanyut oleh air dan tidak rebah oleh angin. Bila terserang hama atau penyakit, petani akan mengambil sedikt sisa atau bekas serangan tersebut untuk disimpan atau diletakkan dipersimpangan jalan pada sebatang kayu. Ritual ini untuk mengatakan kepada Awa Pama (roh halus) padi terserang hama atau penyakit, dan minta supaya menghentikan serangan hama atua penyakit tersebut.

2. Muang Parahu

Kegiantan ini dilakukan oleh masyarakat sekampung bila ada serangan hama atau penyakit yang lebih besar, dengan tujuan untuk meminta pertolongan kepada Jubata agar membawa pergi semua serangan hama atau penyakit tersebut. Untuk lahan basah dilakukan menabur cincangan buah maja ke setiap saluaran air yang mengairi sawah, untuk membasmi serangan anjing tanah (salodok/orong-orong) dan ulat. Memasang ikatan sereh wangi disetiap saluran air, untuk mencegah serangan jamur dan ulat. Bila ditemukan ada serangan tikus, disetiap petak sawah diberi daun nanas yang diolesi kapur sirih dan minyak/lemak ular, agar kelihatan seperti ular pada malam hari dan membuat tikus takut.

3. Penyediaan pupuk

Untuk lahan kering, pupuk hampir tidak dilakukan karena sudah dianggap mencukupi dan disediakan oleh alam dengan melakukan penyiangan dan membiarkan rumput/gulma yang dicabut dan digulung dengan rapi yang kemudian membusuk sendiri. Untuk lahan basah dilakukan penebasan gulma atau rumput, sisa gulma digulung kecil-kecil dan dipendam ke dalam tanah diantara rumpun-rumpun padi yang berguna sebagai pupuk. Selain itu menaburkan pupuk kandang dari kotoran ayam/sapi dilahan pertanian, dan juga menaburkan abu dapur atau abu bekas pembakaran sampah dilahan pertanian.

Panen

Pada musim panen, masyarakat Dayak melakukan kegiatan mengambil buah padi untuk diolah pertama kalinya, dimakan dan dipersembahkan kepada Jubata bahwa pertanian sudah siap panen, ritual ini disebut Matahatn. Kemudian panen selesai dilakukan dan semua padi sudah bersih dan rapi diadakan upacara syukuran yang disebut Naik Dango sebagai ungkapan terima kasih kepada Jubata.

Pasca Panen

Setelah panen selesai padi dijemur atau dikeringkan di dalam Baluh atau Dango Padi, agar padi tersimpan dengan aman dari serangan binatang juga terhindar dari anak-anak. Padi sengaja disimpan terpisah dari penghuni rumah/petani (tidak berada dalam satu tempat/rumah), tujuannya agar bila terjadi suatu hal/musibah padi tetap tersimpan dengan aman.

Penutup

Hal-hal yang perlu diperhatikan petani masyarakat Dayak :

1.Waktu (tanggal, hari dan musim), dengan tujuan agar usaha pertanian tidak gagal, terhindar dari serangan penyakit/hama dan bencana alam lainnya. Maka diperlukan kekompakan dan ketepatan waktu.

2.Jenis bibit, mengingat usia tanaman dan kemampuannya menyesuaikan tempat atau lokasi pertanian. Jenis bibit padi yang dipakai masyarakat Dayak untuk lahan kering; Antamu? selain disimpan tahan lama, tangkainya panjang dan banyak anaknya. Ringka?, Pandan ladang, Padi Amas dan Pulut Mototn, padi ini terkenal lembut dan wangi. Untuk lahan basah Sipur, Sirendah, Siam, Poe? Papuk/pulut sawah. Padi ini selain banyak anaknya, kuat batangnya, panjang tangkainya dan tahan lama disimpan.

3.Lokasi pertanian, perlu dimengerti benar dan disesuaikan dengan jenis bibit yang akan ditanam. Lokasi akan mempengaruhi daya tumbuh tanaman padi tersebut.

Dalam mengelola lokasi pertanian lahan kering, petani masyarakat Dayak pada umumnya melakukan sistem ganti lahan atau gilir balik artinya lokasi yang dikelola tahun ini akan siap diolah kembali sekitar tiga tahun/lebih yang akan datang. Tujuannya untuk menjaga agar lahan tersebut tetap subur tanpa harus menggunakan pupuk buatan, dan keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Untuk mengolah lahan basah/sawah, petani masyarakat Dayak pada umumnya melakukan setahun sekali. Tujuannya agar lahan sawah tersebut tetap subur tanpa harus menggunakan pupuk buatan, yaitu dengan membuka bendungan air supaya lahan/sawah tetap kering dan subur.

Jaesin Suparman, petani masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat.

(Catatan Redaksi: tulisan diambil dari makalah yang disampaikan pada acara ?Workshop Pemetaan Pertanian Organik, di Wisma Realino
 
Pertanian organik berkembang pesat di seluruh dunia

Pertanian organik berkembang pesat di seluruh dunia

Pertanian organik saat ini mengalami booming yang pesat di seluruh dunia. Diperkirakan saat ini ada lebih dari 26 juta ha lahan pertanian yang di kelola dengan sistem pertanian organik. Luas lahan pertanian organik ini menunjukkan adanya pertambahan seluas 2 juta ha di bandingkan tahun 2004.

Peringkat negara dengan lahan pertanian organik yang paling luas adalah Australia dengan total luas 11, 3 juta ha disusul Argentina 3 juta ha dan Italia, 1,2 juta ha. Namun persentase tertinggi luas lahan pertanian organik dibandingkan dengan luas total lahan pertanian seluruhnya diduduki oleh Austria, Swiss dan negara-negara Skandinavia. Di Swiss sendiri lebih dari 10 persen lahan pertaniannya dikelola dengan sistem pertanian organik.

Dari segi produksi dan pemasaran negara-negara Amerika Utara meningkat pesat. Amerika Serikat sendiri menduduki peringkat teratas di sana dan berada pada posisi keempat terbesar di dunia. Produk organik digunakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Antara tahun 1992 ? 1997 saja luas lahan pertanian organik di Negara ini meningkat dua kali lipat sampai lebih dari 1,3 juta acre atau kurang lebih 526.500 ha. Pada tahun 2001 lahan pertanian organik produktif mencapai 2,3 juta acre (931.500 ha) walaupun hanya mewakili 0,3 persen lahan pertanian dan 0,2 persen.

Kanada, salah satu negara di Amerika Utara, sendiri terus meningkatkan produk organiknya terutama biji-bijian. Selain itu negara ini juga memusatkan perhatian pada buah-buahan dan sayuran sebagai produk utama pertanian organik. Kebanyakan produk organik diekspor terutama ke AS. Di Mexico sendiri saat ini kuang lebih sudah ada 35.000 lahan pertanian skala kecil yang mengusahakan kopi, pisang, jeruk, kacang tanah, strawberry dan tanaman lain yang dikelola dengan sistem pertanian organik. Kebanyakan dari pertanian organik ini dikerjakan berdasarkan kontrak kerja dengan perusahaan-perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat.

Di Amerika Selatan (Negara-negara Amerika Latin) terus meningkat di mana hasilnya terutama ditujukan untuk pasar ekpor. Salah satu motivasi atau pendorong berkembangnya pertanian organik adalah karena pengalaman buruk dari pengembangan tanaman hasil rekayasa genetika (Genetically Modified Crops) di mada ada ancaman kontaminasi lahan pertanian dan pasokan benih pertanian. Argentina sebagai negara penghasil produk dari tanaman hasil rekayasa genetika (GM) terbesar kedua di dunia juga adalah negara terdepan dalam urusan pengembangan pertanian organik di Amerika Latin.

Argentina sendiri telah mengeluarkan peraturan nasional berdasarkan standar IFOAM (International Federation of Organik Agriculture Movement) atau Federasi Internasional Pergerakan Pertanian Organik dan Standar Eropa. Argentina juga merupakan perintis pengembangan peraturan peternakan organik.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia semakin maju. Namun data luas lahan pertanian organik dan produksi saat ini belum tersedia atau tidak dapat diandalkan. Harapan kita ada badan yang dapat dapat memfasilitasi proses survai untuk sensus luas lahan pertanian organik di Indonesia. Kita juga tidak memiliki data produk dan hasil pemasaran pertanian organik yang akurat.

Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat pada pada tulisan Dr. Mae-Wan Ho yang dimuat dalam Press Release ISIS 13 September 2005 yang menjadi sumber tulisan ini. Tulisan berjudul Organic Boom Around The World ini mengungkapkan secara ringkas perkembangan luas, produksi dan pemasaran pertanian organik di seluruh dunia. Tulisan ini juga mengungkapkan tantangan untuk sertifikasi dan akreditasi serta konsentrasi produksi, pengolahan dan penyebaran pertanian organik dan produknya.
 
Produk organik paling sedikit terkontaminasi mikroba

Produk organik paling sedikit terkontaminasi mikroba

Para peneliti Inggris melakukan tes mikrobiologi dengan mengkontaminasikan mikroba pada sayuran segar organik. Sebanyak 15 sampel atau 0,5 persen dari 3.200 sampel sayuran segar organik positif terkontaminasi dan ditemukan mikroba jenis E. Coli atau Listeria ssp.

Tujuan penelitian ini untuk mempelajari resiko kemungkinan produk organik terkontaminasi.

S.K. Sagoo dan Asosiasi dari Unit Pengawasan Lingkungan di London, bekerja sama melakukan tes pada 3.200 sampel sayuran yang berasal dari outlet, supermarket hingga delivery dengan box.

Cara Hungerford dalam Newfarm , tanggal 29 Juli 2004, mengatakan bahwa buah-buahan dan sayuran di Amerika, relatif mengandung racun-hanya 1,4 - 3 persen.

Sayuran terbagi menjadi dua karakteristik, diantaranya sayuran yang dikonsumsi hanya dengan mencuci dan mencabut langsung dari tanah seperti timun / cucumber, cabai/pepper atau tomat. Karakteristik ini digunakan Inggris untuk menentukan tingkat kontaminasi.

Para peneliti menemukan E. Coli pada 1,5 persen sampel dari 3.200 sampel, dan hanya 0,3 persen yang terkontaminasi, atau 11 sampel. Listeria spp. (tidak termasuk L. Monocytogenes) terditeksi pada enam sampel dan empat dari enam sampel tersebut terkontaminasi Listeria monocytogenes, Salmonella spp., Campylobacter spp., sedangkan E. Coli 0157 tidak terdeteksi pada sampel manapun.
 
Pertanian organik baik bagi hidupan liar

Pertanian organik baik bagi hidupan liar


Laporan terbaru yang ditulis oleh staf dari English Nature dan the Royal Society, dengan meninjau kembali 76 studi pada kawasan burung dan ditemukan lahan organik lebih banyak hidupan liar dibandingkan lahan konvensional.

Laporan pada PRESS RELEASE Soil Association ditujukan pada "intensifikasi dan ekspansi pertanian modern yang merupakan ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Lebih dari seperempat pada abad kedua puluh, secara dramatik sekelompok spesies dan asosiasi petani menolak seperti laporan di Eropa...Selama 50 tahun ke depan, ekspansi pertanian secara global mengancam keanekaragaman hayati seluruh dunia dan diketahui sebelumnya serangga bersisik (scale) dapat melawan perubahan iklim menjadi signifikan."

Dalam laporan ditemukan bahwa :

? Keberadaan burung, kupu-kupu, kumbang, kelelawar dan bunga liar pada lahan organik lebih banyak dibandingkan lahan konvensional.

? Perbedaan penerapan pada spesies, diketahui menolak lahan atau konsekuaensi intensifikasi pertanian, kini data signifikan menjadi subjek aksi konservasi langsung (seperti pada skylark, lapwing, greater dan lesser horseshoe bat, corn buttercup).

? Pengolahan secara organik jelas lebih menguntungkan skema agri-environment, karena secara keseluruhan menjadi subjek untuk standar organik, dibandingkan dengan area terbatas pada skema tersebut.

? Pertanian organik mempunyai aturan permainan yang signifikan dalam meningkatkan hidupan liar dan perrsilangan pada petani lahan sempit di Eropa. Peter Melchett, Direktur Kebijakan Soil Association mengatakan bahwa ?secara ilmiah hidupan liar menguntungkan dan kini pertanian organik dapat menepis keraguan di masa depan. Manusia merasakan bencana dengan kekuatan kecil di permukaan bumi menghilangkan hidupan liar dari pinggiran kota British pada 30 tahun yang lalu. Setiap orang berasumsi bahwa kerusakan itu menyakitkan dan tidak menyenangkan. Setiap orang akan senang dengan kesegaran, rasa makanan organik dari Britain, dan mereka juga membantu British untuk konservasi burung, lebah, kelelawar dan kupu-kupu.

? "Hasil konfirm, para petani organik dapat menemukan lahan mereka untuk dekade: konversi ke organik dengan mengutamakan hidupan liar, mega diversity pada hidupan liar, dan spesies hidupan liar lmenolak lahan non organik pada 50 tahun yang lalu. Hasil keputusan pemerintah menetapkan untuk membayar petani organik duakali lebih dari petani non organik berdasarkan skema baru agri-enviroment dan diperkenalkan tahun depan."

The Soil Association merupakan publikasi tinjauan, dan konfirmasi penemuan Soil Association telah dipubliasikan pada Mei 2000 (The Biodiversity Benefits of Organic Farming). Laporan tinjauan semua studi Soil Association diketahui membandingkan tingkat hidupan liar pada lahan organik dan lahan konvensional dan ditemukan semua lahan organik mendukung substansi tingkat tertinggi hidupan liar pada area lahan sempit, khususnya kelompok hidupan liar pada lahan sempit menolak.

Paper tentang Does Organic Benefit Biodiversity telah dipublikasikan secara elektronik oleh journal Biological Conservation
 
Statemen Pangan Organik

Statemen Pangan Organik


The Advertising Standards Authority (ASA) telah mengakui statemen pangan organik dan perusahaan dapat menggunakannya dalam mempromosikan pertanian organik.

Diketahui bahwa statemen pangan dan pertanian organik menguntungkan bagi kesehatan manusia, keselamatan hewan dan hidupan liar. Demikian dalam Press Release Soil Association.

Statemen ini diterima oleh Committee on Advetising Practice (CAP) ASA untuk dipergunakan dalam periklanan, promosi bentuk leaflet dan penjualan sistem paket seperti kompetisi dengan promosi hadiah atau beli satu, gratis satu.

Diantara 22 statemen yang diakui adalah :

- Tidak ada sistem pertanian dengan standar tingkat tertinggi bagi keselamatan hewan dibanding kegiatan lahan organik pada standar Soil Association

- Tidak ada pangan dengan jumlah menguntungkan tertinggi pada mineral, essential asam amino dan vitamin dibanding pangan organik

- Metode terbaik adalah mengurangi keberadaan pestisida yang potensi berbahaya dan seharusnya mengkonsumsi pangan organik, serta menghindari pemakaian pestisida

- Memakan pangan organik menjadikan orang terhindar dari hidrogenase
ASA menjelaskan statemen ini berdasarkan hasil penelitian Soil Association. Pada beberapa tahun silam, sejumlah komplain telah dibuat ASA tentang klaim yang berkaitan dengan pangan organik, dan beberapa telah ditangani.

Penelitian pangan organik relatif kurang dibandingkan pertanian non organik dan lebih dari 50 tahun yang lalu ada kesenjangan informasi pangan, namun beberapa penelitian kini telah dilakukan.

Klarifikasi dapat dikatakan berkaitan dengan kesehatan dan keuntungan pangan dan pertanian organik secara luas, dan Soil Association mengumpulkan dokumen dengan menyiapkan fakta-fakta yang mendukung klaim dan kemudian diakui ASA.

Martin Cottingham, Direktur Marketing Soil Association mengatakan,"kekuatan fakta-fakta di pangan organik ini baik bagi kesehatan dan lingkungan, serta perusahaan butuh kepercayaan ketika mereka menyampaikan manfaat pangan organik pada pelanggannya, tanpa rasa takut". Soil Association mengharapkan hasil penelitian yang telah mereka lakukan, dapat membuka cara pandang yang lebih positif hubungan antara gerakan organik dan ASA.

"Hasil penelitian berikutnya akan muncul setiap saat: baru-baru ini para ilmuwan menemukan tingkat tertinggi Vitamin E, Vitamin A, anti oxidan dan omega 3 asam essensial fatty pada susu organik. Selanjutnya kami akan mempersiapakan informasi baru untuk ASA. Hampir semua orang yang memakan pangan organik sudah tahu manfaatnya bagi kesehatan dan kami akan melihat refleknya ketika produk organik terjual".

Kutipan ini ada dalam dokumen "The Quality and benefits of organic food ? what we can say"
 
Back
Top