Transgenik dan permasalahannya Login dengan akun Jejaringsosial.com anda Daftar sebuah akun Jejaringsosial.com
 
Go Back   Home > Flora, Pertanian & Perkebunan
Lupa Password?

Gambar Umum Video Umum





 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #1   Report Post  

Produk transgenik sebabkan petani tidak mandiri

Produk transgenik sebabkan petani tidak mandiri


Pertanian dengan menggunakan produk rekayasa genetika atau transgenik dapat mengakibatkan ketergantungan petani pada pihak lain termasuk perusahaan penghasil produk transgenik. Petani hanya akan mendapatkan benih transgenik dari perusahaan. Begitu pun teknik penanaman dan perawatannya. Petani tidak akan mandiri mengembangkan kreativitasnya sendiri dalam pemanfaatan plasma nutfah di sekitarnya.

Hal itu akan mengakibatkan hilangnya plasma nutfah dan varietas lokal. Selain itu, perusahaan atau pihak swasta yang biasanya merupakan perusahaan multinasional akan lebih menguasai atau memonopoli sistem pertanian daerah setempat melalui produk transgeniknya.

Demikian terungkap dalam acara diskusi "Semiloka Potensi dan Risiko Tanaman Rekayasa Genetika terhadap Pertanian Berkelanjutan" di Universitas Bengkulu, Bengkulu, Kamis (7/12).

Produk transgenik juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan dampaknya pada kesehatan dan lingkungan. Jaminan tentang keamanan produk transgenik tidak ada. Menurut Dr Dwi Andreas Santosa sebagai Staf Pengajar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), selama ini uji produk yang dihasilkan dari proses laboratorium itu hanya dilakukan pada hewan. Sedangkan pada manusia belum pernah dilakukan. Perusahaan juga tidak transparan dalam menyampaikan hasil ujinya.

Menurut Suprapto, salah satu peserta semiloka yang pernah bekerja untuk salah satu perusahaan besar penghasil benih transgenik, pihak perusahaan tidak bersedia menunjukkan hasil uji tersebut. Padahal Suprapto merupakan salah satu tenaga yang ikut dalam pengumpulan bahan-bahan uji dari lapangan.

Untuk itu peserta semiloka yang tidak ingin mendapat dampak yang membahayakan pada kesehatan dan lingkungannya, menyatakan menolak menggunakan produk transgenik. Meski demikian pilihan menolak ataupun menerima produk transgenik, bagi peserta semiloka diserahkan pada masyarakat itu sendiri dengan risiko masing-masing.

Bagi yang menolak, produk transgenik dinilai merugikan ekologi karena menyebabkan hama serangga lebih resisten, bisa bermutasi dan ditakutkan dapat masuk ke peredaran darah manusia. Semua itu merupakan dampak yang tidak terungkap secara terbuka dibandingkan keuntungan produk transgenik yang selalu disampaikan pada masyarakat.

Sementara bagi yang menerima, produk transgenik dinilai dapat memberi keuntungan. Dari harga benih yang murah, jumlah panen yang lebih besar, mudahnya pemasaran, sampai dapat dijadikan sebagai obat penyakit deabetes. Namun sikap menerima ini menurut Tita, hendaknya dapat mempertimbangkan ada tidaknya residu berbahaya dalam 30 tahun ke depan.

Melihat adanya perbedaan masyarakat untuk menerima atau menolak produk transgenik, pemerintah harus melakukan sosialisasi secara terbuka tentang dampak produk transgenik dan kebijakan yang terkait hal itu. Demikian pula, produk transgenik harus berlabel. Sehingga masyarakat dapat mudah memilih menggunakan atau tidak, menerima atau menolak.

Organik menguntungkan

Dalam kesempatan yang sama, peserta semiloka juga menyatakan bahwa sistem pertanian organik memberi dampak yang menguntungkan. Tanpa menggunakan asupan kimia, pertanian organik memberi dampak lebih baik pada lingkungan dan kesehatan. Sementara nilai ekonominya juga sangat tinggi.

Namun disayangkan, pertanian organik belum tersosialisasikan oleh pemerintah ataupun para stakeholders, butuh modal yang besar, dan belum tersedianya pasar. Padahal di negara besar seperti Amerika Serikat, telah membuka pasar bagi produk organik.

Sehingga untuk mengembangkan pertanian organik ini diperlukan penjelasan yang lengkap mengenai keunggulan dan dampak produk pertanian organik. Baik pada petani, konsumen, maupun pemerintah itu sendiri. Disamping itu, pengembangan pertanian organik harus berawal dari pengetahuan dan sistem pertanian lokal setempat. Pengolahan pertanian organik juga harus bersandar pada kebutuhan petani, lahan, pasar, dan pengetahuan, serta teknologi lokal. Lalu mempersiapkan benih, pupuk, dan bahan alami untuk mengendalikan hama penyakit.

Pertanian organik juga harus didukung oleh banyak pihak melalui program kerja bersama di tingkat petani. Dimana semua itu dapat dilakukan dengan biaya yang murah namun bukan subsidi yang menimbulkan ketergantungan petani. Karena dalam melakukan organik diharapkan dapat mewujudkan petani yang mandiri tanpa ketergantungan pada pihak manapun, termasuk pemerintah, apalagi swasta. Meski demikian, peran serta pemerintah untuk turut mengembangkan dan melindungi pertanian organik sangat diperlukan.

Dukungan dalam pemasaran produk organik juga sangat diperlukan. Tersedianya pasar yang diikuti penjelasan tentang manfaat organik bagi kesehatan dan lingkungan diharapkan akan semakin memperluas pemasaran produk organik.

Mengupas masalah pelepasan produk transgenik

Kegiatan yang berlangsung sehari itu diselenggarakan Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (Konphalindo) bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Alam (P3SDA) Universitas Bengkulu.

Sebelumnya di Makasar, Bali, dan Yogyakarta juga telah diselenggarakan kegiatan yang sama. Kegiatan semiloka itu bertujuan untuk menjawab berbagai pertanyaan dan memberi gambaran yang lebih jelas tentang perkembangnan bioteknologi modern. Semiloka ini juga berupaya mengupas permasalahan yang terkait dengan pelepasan produk rekayasa genetika di Indonesia.

Sebagai narasumber adalah Dr. Dwi Andreas Santosa (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor), Dr. Usman Krisjoko, M.Sc. (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu) dan Rasida dari Kementrian Lingkungan Hidup. Turut hadir pula Purwandono (Direktur Eksekutif Konphalindo), Dr. Ir. Fahrurrozi, M. Sc. (Pembantu Rektor I Universita Bengkulu), dan Dr. Aceng Ruyani (Kepala P3SDA Universitas Bengkulu).
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13

 






Reply With Quote     #2   Report Post     Original Poster (OP)

Padi transgenik tidak diijinkan di Cina sekarang

Padi transgenik tidak diijinkan di Cina sekarang



Cina tidak mengijinkan komersialisasi padi (Oryza sativa) transgenik (rekayasa genetika) tahun ini. Menurut ilmuwan komite keamanan hayati pada pemerintah, yang menguji keamanan tanaman transgenik, belum ada ijin komersialisasi padi transgenik dalam dua kali pertemuan komite bulan lalu. Komite keamanan hayati telah meminta data yang lebih lengkap untuk memutuskan bahwa padi transgenik aman bagi konsumsi manusia dan lingkungan. Demikian informasi dari Biosafety Information Service, 25 Juli lalu.

Menurut komite keamanan hayati, perlu satu atau dua tahun untuk mengumpulkan data yang dapat mendukung keputusan bahwa padi transgenik Bt aman bagi konsumsi manusia dan lingkungan.

Awal tahun lalu Cina nampak mempersiapkan untuk mengijinkan produksi komersial padi transgenik tahan penyakit yang dikenal dengan padi Xa21, sebagai bahan penanaman tanaman transgenik skala luas pertama dunia yang langsung dikonsumsi manusia. Namun, Beijing terkejut dengan adanya laporan penjualan ilegal padi transgenik di Cina (seperti yang ditemukan Greenpeace, awal 2005 lalu) dan ketidakjelasan diantara pelaku bisnis Cina yang berhati-hati dalam menerima tanaman bioteknologi.

"Saat ini masih jauh dari komersialisasi," kata Dayuan Xue, profesor dari Ilmu Lingkungan Institut Nanjing. "Tidak mungkin tahun ini. Mungkin mereka bisa mempertimbangkannya tahun depan."

Para ilmuwan tersebut juga mengatakan bahwa satu yang menjadi perhatian komite keamanan hayati adalah kemungkinan mutasi serangga membentuk pertahanan terhadap racun Bt yang dihasilkan dari bakteri.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #3   Report Post     Original Poster (OP)

Transgenik dan permasalahannya

Kegagalan pepaya transgenik Hawai jangan terulang lagi


Kegagalan pepaya transgenik (rekayasa genetika) di Hawai patut untuk diperhatikan. Jangan sampai hal serupa terulang kembali. Apalagi di negara penghasil pepaya seperti wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Philipina dan Thailand. Berbagai promosi yang menjanjikan di wilayah negara-negara ASEAN mestinya ditanggapi dengan kehati-hatian.

"Kami berharap perhatian semua pihak pada laporan Greenpeace yang menyimpulkan bahwa pepaya transgenik yang didikembangkan di Hawai sejak 1998 telah gagal dan berprospek industri suram. Demikian juga klaim kontradiktif tentang kesuksesan industri transgenik dan promosi lainnya," harap Chee Yoke Heong dari Pusat Informasi Keamanan Hayati, Third World Network, 26 Juni lalu.

Menurutnya, data statistik dari Departemen Pertanian Amerika Serikat menyebutkan bahwa pada dekade 1995, pendapatan kotor hasil panen pepaya segar Hawai lebih dari US$ 22 juta (sekitar Rp 198 milyar). Tapi sekarang menurun lebih dari setengahnya. Di tahun 1997, sebelum pepaya transgenik tahan virus ringspot dijual, petani menerima rata-rata $ 1,23 per kilogram (sekitar Rp 11.070 per kilogram). Di tahun 1998, nilai itu turun sampai $ 0,89 (sekitar Rp 8.010) saat pembeli pepaya tradisional Hawai, seperti Jepang dan Canada menolak buah-buahan transgenik. "Karena harga turun, maka produksi dan area tanamnya berakhir tahun ini," tegas Chee Yoke Heong.

Kegagalan komersial

Seperti termuat dalam laporan Greenpeace, pepaya transgenik tahan virus ringspot yang dikembangkan di Hawai tahun 1998 mengalami kegagalan komersial. Akibatnya mendorong industri pepaya pulau tersebut terganggu saat sekarang.

Pepaya alami di Hawai sekarang lebih sedikit dibandingkan beberapa waktu lalu. Juga lebih sedikit dari beberapa tahun, saat terburuk dimana virus ringspot pepaya menyebar. Begitu juga pendapatan kotor pepaya Hawai segar lebih tinggi di tahun 1997.

Sejak 1998, penduduk Amerika Serikat melipatgandakan konsumsi pepaya segar. Namun, total area produk pepaya di Hawai kurang dari 600 hektar sekarang, menurun 28% sejak pepaya transgenik berkembang. Rata-rata, sekarang petani menerima 35% lebih rendah untuk buah-buahan daripada sebelum pepaya transgenik dikeluarkan.

Walaupun data statistik Departemen Pertanian Amerika Serikat suram, industri rekayasa genetika dan sekutunya bersikeras bahwa pepaya transgenik telah sukses. The American Farm Bureau mengatakan bahwa hal itu "merupakan kesuksesan dramatis bioteknologi." Sementara Monsanto menyatakan, "percaya dengan keamanan industri pepaya Hawai."

Namun pada kenyataannya, industri rekayasa genetika tidak aman terkait dengan menurunnya pepaya Hawai. Ketika berbagai faktor pasar dicantumkan dalam laporan dengan tepat, pengembangan pepaya transgenik menunjukkan kerugian pasar yang signifikan dan unik yang tentu tidak aman bagi industri di Hawai. Meski industri pepaya transgenik sedikit dan sering mengandalkan petani penyewa yang tidak memiliki lahan sendiri.

Untuk petani organik, pepaya transgenik menjadi sumber masalah. Pada saat serbuk pepaya transgenik dapat mengkontaminasi pepaya organik yang berkelanjutan.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #4   Report Post     Original Poster (OP)

Benih pepaya UH masih terkontaminasi transgenik

Benih pepaya UH masih terkontaminasi transgenik



Kelompok petani di seluruh negara bagian Amerika Serikat dan anggota komunitas yang menentang tanaman rekayasa genetika (transgenik) mengatakan bahwa beberapa benih pepaya transgenik masih tercampur dalam paket benih pepaya yang dijual oleh Universitas Hawai (UH). Menurut perhatian kelompok petani itu bahwa suplai benih tetap terkontaminasi setelah masalah itu menyurut dua tahun lalu dan hal itu menimbulkan masalah utama bagi petani organik. Demikian seperti tercantum dalam The Honolulu Advertiser Mei lalu.

Laporan berjudul "Hawaiian Papaya: GMO (Genetically Modified Organism) Contaminated," yang ditulis oleh Melanie Bondera dan Mark Query, menyebutkan bahwa kelompok petani yang membeli tiga sampel (Solo waimanalo, Solo sunset dan Solo sunrise) dari 10.000 benih pepaya dan mengirimkannya ke laboratorium Genetic ID.

Bondera mengatakan ada satu sampai sepuluh benih transgenik dalam sampel Solo waimanalo dan tidak ada dalam kedua sampel lainnya. Walaupun jumlahnya kecil, menurutnya itu berpotensi untuk memperluas bagiannya. Itu terjadi bila masing-masing tumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan satu sampai dua buah setiap minggu dan masing-masing buah rata-rata sedikitnya 100 benih yang dapat tumbuh menjadi tanaman lainnya.

Professor Richard Manshardt, dari Departemen Tanaman Tropis dan Ilmu Tanah, Universitas Hawai, merupakan salah satu pencetus pepaya rekayasa genetika (transgenik) menjadi resisten (tahan) terhadap virus pepaya ringspot yang tidak dapat diobati dengan bahan kimia. Manshardt mengatakan kalau dia memahami sejumlah benih dapat terkirim ke seberang laut dimana sejumlah pepaya tumbuh liar. Sementara petani organik ingin menjamin konsumen bahwa tidak ada tanaman transgenik yang tercampur dalam tanaman mereka.

Manshardt juga mengatakan, UH berusaha menghindari kontaminasi dengan menanam pepaya di area lahan yang berbeda agar tidak kontak langsung dengan jenis lainnya. Menurutnya, studi benih Hawai dapat menguji benih dari jenis yang sama sebagai studi awal untuk melihat kontaminasi secara luas.

Pepaya Hawai terkontaminasi transgenik

Pada tahun 1998, pepaya transgenik pertama kali dikomersialkan di Hawai. Dr Dennis Gonsalves dan Dr Richard Manshardt menciptakan buah pepaya rekayasa genetika (transgenik) tahan virus ringsport. Muncul dengan serangkaian teknologi yang berkaitan menyebabkan Hawai kehilangan hampir setengah pepaya petani.

Masalah yang tidak terprediksikan lainnya adalah kontaminasi transgenik. Pada tahun 2003, GMO Free Hawai menyelidiki adanya penyebaran gen pepaya transgenik. Pertama kalinya mereka menggunakan uji gen GUS untuk melihat seberapa besar kontaminasi di lahan petani. Hasil uji menemukan 30-50% benih dan daun mengalami kontaminasi benih atau udara secara terus menerus. Untuk mengetahui lebih lanjut, mereka meminta pihak laboratorium independen dari akademisi untuk menguji luasnya kontaminasi pepaya, namun tidak membantu.

Pada tahun 2004, GMO Free Hawai mendesain studi untuk melihat luasnya kontaminasi transgenik di seluruh negeri. Metodologi Pilot Survey meliputi tiga gabungan sampel dari kira-kira 10.000 sampel di seluruh pulau ( Hawai, Oahu, Kauai) yang dikumpulkan dari lokasi penanaman bukan transgenik di lahan konvensional dan organik, pekarangan rumah dan tepi jalan.

Dua sampel masing-masing benih dan daun di lahan organik dikumpulkan dari Hawai dan Kauai. Tiga sampel jenis benih bukan transgenik Universitas Hawai dibeli langsung. Benih dan daun itu kemudian dikirim ke laboratorium indipenden Genetic ID untuk uji standard industri PCR (Polymerase Chain Reaction).

Hasilnya mengindikasikan kontaminasi massive benih pepaya transgenik di pulau Hawai kurang lebih 50%, kontaminasi transgenik di Oahu kurang dari 5% (<5%) dari keseluruhan dan hanya sedikit kontaminasi di Kauai (0%). Kedua uji lahan organik tidak ada tanaman transgenik yang sengaja ditanam, tetapi menyedihkan, ditemukan kontaminasi benih melalui udara dalam buah-buahnya (<5% di pulau Hawai dan 0,01% di Kauai). Sangat mengejutkan bahwa kontaminasi pepaya transgenik Universitas Hawai pada suplai benih pepaya bukan transgenik (jenis Solo waimanalo) lebih besar dari 0,01 meski lebih kecil dari 0,1%.

Di tahun 2006, hasil uji yang diulang kembali menemukan jenis Solo waimanalo tetap pada persentase kontaminasi transgenik yang sama. Seperti yang ditegaskan Universitas Hawai untuk tidak menanam benih itu di dekat tanaman pepaya transgenik, maka benih itu pasti tanaman transgenik yang belum diuji tumbuh di kebun bukan transgenik atau tidak menyimpan bunga dengan rapi untuk menghindari penyerbukan transgenik yang tidak diinginkan.

Departemen Pertanian Hawai seharusnya melakukan studi independen untuk menguji luas keseluruhan kontaminasi pepaya transgenik di Hawai. Selain itu juga harus melakukan studi independen untuk menguji kemungkinan efek kesehatan manusia bila mengkonsumsi pepaya transgenik.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #5   Report Post     Original Poster (OP)

Petani Amerika bersaksi di depan pengadilan kasus transgenk di Thailand

Petani Amerika bersaksi di depan pengadilan kasus transgenk di Thailand


Kesaksian petani Hawai (Amerika) di depan Pengadilan Kriminal Bangkok merupakan peradilan bersejarah Thailand atas kasus Organisme Hasil Rekayasa Genetika (OHRG) atau transgenik yang berakhir pada akhir Mei lalu. Sedangkan putusannya dilanjutkan akhir tahun nanti.

Melanie Bondera yang datang dari Big Island, Hawai mengatakan di depan pengadilan tentang pengalaman kontaminasi pepaya transgenik dan dampaknya yang tak terkendali di daerahnya. Dia juga mengatakan bahwa dampaknya terhadap penurunan pendapatan, sebagai ancaman terhadap lingkungan hidup dan ekonomi Hawai yang terus terjadi.

Hawai ditengarai sebagai pusat kontaminasi dengan lahan percobaan pepaya transgenik terbesar per meter persegi di dunia dan sebagai tempat dimana pepaya transgenik dikomersialkan. Ekspor Hawai maju sebelum pengenalan pepaya transgenik tahun 1998. Sebagian besar negara pengimpor pepaya dari Hawai termasuk Uni Eropa, Jepang dan Cina memiliki keengganan pada tanaman dan makanan transgenik. Pintu mereka akhirnya tertutup bagi ekspor pepaya Hawai.

"Bagi kami petani, pepaya transgenik lebih membawa dampak negatif daripada positif. Petani-petani tidak dapat menjual pepaya non transgenik jika terkontaminasi transgenik. Kemudian mereka kehilangan pasar dan mungkin sumber penghidupannya. Petani-petani di Hawai tidak dapat mengekspor pepaya transgenik atau pepaya terkontaminasi transgenik," kata Melanie.

Melanie sebagai petani Hawai tersebut bersaksi di depan persidangan dua aktivis Greenpeace yang menghadapi tiga tuduhan (pencuruan, penyalahgunaan dan pengrusakan lahan) dan ancaman lima tahun penjara. Pejabat Departemen Pertanian Thailand (Department of Agriculture atau DOA) menuntut mereka karena mengungkap adanya peran departemen itu dalam penyebaran dan penjualan pepaya transgenik secara illegal. Dua aktifis itu adalah Patwajee Srisuwan, Bagian Kampanye Greenpeace dan Dr. Jiragorn Gajaseni, mantan Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara.

Sementara itu dalam kesaksian 23 Mei 2006, Banthoon Setsirote, pejabat dari Komisi Hak Asasi Manusia Nasional (National Human Rigths Commission atau NHRC) mengatakan bahwa setelah proses penemuan fakta di Khon Kaen Agustus 2004, NHRC merekomendasikan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra agar tidak melanjutkan semua lahan percobaan pepaya transgenik dan menghancurkan pohon pepaya pada plot lahan percobaan. Lalu September 2004, Menteri Pertanian mengeluarkan perintah penghancuran pepaya transgenik pada plot lahan percobaan di pusat penelitian DOA. Namun kontaminasi transgenik tidak berhenti di sana.

NHRC sebuah lembaga independen yang dibentuk Konstitusi Thailand untuk melakukan investigasi dan monitoring pelanggaran hak asasi manusia, menerima banyak protes dan laporan bahwa pepaya transgenik ditemukan di lahan beberapa propinsi lain. Hal itu mendorong proses penemuan fakta pada bulan Juli 2005. Sampel pohon pepaya dari Rayong, Mahasarakham, Chaiyapum dan Kalasin menunjukkan kontaminasi transgenik.

Daerah itu selanjutnya dalam ancaman kontaminasi pepaya transgenik secara terus menerus. Pada tanggal 8 Desember 2005, pejabat NHRC mengajukan protes di Kantor Kepolisian Nasional Thailand (National Office of Police) terhadap Kepala DOA Chakarn Saengraksawongse dan pejabat pusat penelitian Khon Kaen atas kelalaian mereka dalam tugas melakukan investigasi dan pengrusakan pepaya transgenik, membiarkannya menyebar ke lahan lain dan pelanggaran kegiatan karantina tanaman.

Sedangkan dalam kesaksian 24 Mei 2006, Dr. Jongrak Kittiworakarn dari Universitas Mahidol memperingatkan kemungkinan risiko luar biasa pepaya transgenik yang disebabkan adanya gen tahan antibiotik yang bertentangan dengan standard World Health Organization (WHO) dan UN Food and Agriculture Organization (FAO). Hal itu terjadi setahun sejak tuntutan terhadap dua aktifis Greenpeace 27 September 2004.

Thailand larang transgenik

Seperti diketahui, Thailand telah melarang penanaman dan penjualan tanaman transgenik (rekayasa genetika/Organisme Hasil Rekayasa Genetika atau OHRG, Genetically Modified Organisms atau GMO). Namun tetap mendapat serangan dari industri bioteknologi yang menawarkan keuntungan pasar pertanian Thailand. Ironisnya, Departemen Pertanian (DOA) yang bertugas melakukan karantina tanaman transgenik, melanggar larangan atas transgenik. Greenpeace menemukan kontaminasi berasal dari lahan percobaan pepaya transgenik DOA di Khon Kaen.

Pada tahun 2004, Greenpeace mengungkapkan bahwa pusat penelitian DOA merupakan sumber kontaminasi transgenik dan melakukan distribusi benih terkontaminasi transgenik secara illegal kepada 2.669 petani di 37 propinsi.

"Polusi genetik yang disebabkan transgenik memiliki dampak yang tidak dapat diubah pada lingkungan, untuk itu kita harus menghentikan perluasan kontaminasi pepaya transgenik di negara kita. Konstitusi menguasakan pada setiap warga Thailand hak untuk melindungi lingkungan kita," kata Patwajee di hari persidangan saat kesaksian NHRC.

Laporan terbaru Greenpeace tentang "Kontaminasi Pepaya Rekayasa Genetika di Thailand" ("Contamination by Genetically Engineered Papaya in Thailand") menyebutkan bahwa ketika skandal pepaya transgenik pecah, NHRC menekankan perhatian bahwa kontaminasi oleh pepaya transgenik pada lingkungan dapat menjadi pelanggaran serius atas hak petani, hak konsumen dan hukum terkait lingkungan hidup, masalah ekonomi, sosial dan budaya.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #6   Report Post     Original Poster (OP)

Greenpeace dan petani bersihkan lahan Thailand dari kontaminasi pepaya transgeni

Greenpeace dan petani bersihkan lahan Thailand dari kontaminasi pepaya transgenik


Relawan Greenpeace membantu petani di propinsi Rayong (200 km timur Bangkok) membersihkan dan membebaskan 100 m2 lahan yang terkontaminasi pepaya rekayasa genetika (transgenik atau GMO) beberapa minggu lalu. Demikian informasi dari situs Greenpeace 19 Mei lalu.

Greenpeace juga menyampaikan laporan baru "Contamination by Genetically Engineered Papaya in Thailand." Laporan itu menggambarkan dengan jelas bagaimana Departemen Pertanian Thailand (Department of Agriculture atau DOA) melakukan karantina pepaya transgenik. Namun ternyata lahan pepaya Thailand terkontaminasi transgenik dan terganggunya setiap upaya yang membatasi kerusakan akibat kontaminasi transgenik. Laporan itu juga menunjukkan risiko pepaya transgenik pada kesehatan dan lingkungan.

"Para petani masih menderita karena kontaminasi pepaya transgenik. Pemerintah Thailand harus memberi bantuan kepada petani untuk membebaskan lahan mereka dari zat-zat berbahaya dan memberinya kompensasi," kata Patwajee Srisuwan, bagian Kampanye Teknologi Genetik Greenpeace Asia Tenggara.

Pada Juli 2004, Greenpeace menyatakan bahwa pusat penelitian Khon Kaen DOA yang mengadakan percobaan lahan pepaya transgenik, menyebarkan bibit dan benih pepaya terkontaminasi transgenik pada masyarakat umum. Sedangkan investigasi secara terpisah Greenpeace, National Human Rights Commission dan kelompok petani menemukan lahan yang terkontaminasi di propinsi Rayong, Kamphaeng Phet, Kalasin, Chaiyaphum, Mahasarakham dan Ubonratchathani.

Namun, untuk mengalihkan kasus kontaminasi transgenik, pihak DOA menuntut aktivis Greenpeace. Itu terjadi hanya setelah permintaan bersama National Human Rights Commission, Greenpeace dan kelompok petani yang memaksa DOA mempublikasikan dokumen yang mengindikasikan bahwa stasiun Khon Kaen telah mendistribusikan benih terkontaminasi transgenik pada 2.669 petani di 37 propinsi.

Permintaan itu mendesak Menteri Pertanian agar DOA menghancurkan lahan percobaan pepaya yang terkontaminasi dan mengganti kerugian petani. Sedangkan penemuan baru Greenpeace mengindikasikan bahwa petani di Rayong, Kalasin dan Chaiyaphum tidak mendapat bantuan dari DOA untuk membebaskan lahannya dari zat berbahaya dan tidak juga mendapat kompensasi. Malahan, DOA melobi untuk membatalkan larangan transgenik di negara itu.

"Pemerintah harus mengakhiri semua lahan percobaan di negara itu karena menyebabkan kontaminasi transgenik di lahan kami. Tidak mungkin transgenik hidup bersama tanaman alami. Lembaga netral juga harus dibentuk untuk memformulasikan dan menjalankan hukum keamanan hayati nasional, berdasarkan prinsip kehati-hatian dan dengan perhatian masyarakat serta lingkungan Thailand sebagai prioritas," kata Patwajee.

Greenpeace merupakan organisasi bebas, berkampanye tanpa kekerasan, menyingkap masalah lingkungan global dan memberikan solusi penting bagi penghijauan dan kedamaian masa depan. Misinya termasuk melindungi lahan Thailand dan konsumen dari serangan gencar transgenik yang tidak mempunyai kajian tepat bagi keamanan pangan manusia atau risiko lingkungan.

Sementara itu, Ms Patwajee Srisuwan, bagian Kampanye Greenpeace dan Dr Jiragom Gajaseni, mantan Direktur Ekekutif Greenpeace Asia Tenggara, sedang menghadapi tuntutan kriminal karena menyingkap kontaminasi transgenik lahan pepaya Thailand.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #7   Report Post     Original Poster (OP)

MOP-3 tidak tetapkan pelabelan produk transgenik sampai 2012

MOP-3 tidak tetapkan pelabelan produk transgenik sampai 2012



Pertemuan ketiga Konferensi Para Pihak Protokol Kartagena atas Keamanan Hayati (Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Cartagena Protocol on Biosafety /MOP-3), tidak menetapkan identifikasi benih rekayasa genetika (transgenik) impor dan ekspor bagi negara penandatangan Protokol Kartagena atas Keamanan Hayati sampai 2012. Namun, negara-negara tersebut akan membuat identifikasi tersebut menurut kapasitas tehnik masing-masing.

Para pihak menandatangani kesepakatan itu pada malam terakhir (17 Maret) MOP-3. "Putusan akhir ini merefleksikan skenario dimana bentuk forum internasional yang memutuskannya tumbuh dengan dominasi perusahaan transnasional yang memegang kekuasaan di setiap negara," ungkap Maria Rita Reis, penasehat hukum Terra de Diroitos, organisasi non pemerintah (ornop) yang turut hadir dalam pertemuan.

Delegasi dari Meksiko dan Paraguay merupaka satu negara diantara 96 negara penandatangan protokol yang menolak putusan label produk transgenik dengan "contains" atau "may contain". Meksiko membeli sekitar 3 juta ton tepung rekayasa genetika setiap tahun dari Amerika Serikat.

Maria Rita menyampaikan bahwa diantara negara penandatangan protokol yang siap memisahkan transgenik dari produk non transgenik dalam rantai produksinya akan mengadopsi istilah "contains" untuk label pengiriman internasional. Dalam perundiangan diantara negara penandatanngan dan bukan penandatangan, istilah "may contain" akan digunakan.

"Putusan akhir yang mengadopsi pernyataan "contains" akan ditetapkan pada pertemuan MOP 6 yang diadakan pada tahun 2012," Maria Rita Reis menyimpulkan.

Tetap berlabel "contains"

Organisasi masyarakat sipil yang berpartisipasi dalam forum ornop Brasil dan pergerakan sosial untuk isu lingkungan dan pembangunan bertahan menggunakan pernyataan "contains" untuk identifikasi produk yang berisi organisme rakayasa genetika, pada 18 Maret.

Forum itu berlangsung di Curtiba seiring dengan MOP-3. Menurut peserta, keamanan hayati menjadi inti perdebatan untuk memperbaiki Protokol Kartagena.

Kebijakan Presiden Lula (Presiden Brasil) untuk label "contains" merupakan kemajuan besar dari pertahanan Brasil setahun lalu di MOP -2 di Montreal. Saat itu, Brasil setuju menggunakan pernyataan "may contain" untuk label produk transgenik.

Perubahan menjadi "contains" diumumkan minggu lalu (13 Maret) setelah pertemuan Presiden Lula, Roberto Rodrigues (Menteri Pertanian), Marina Silva (Menteri Lingkungan Hidup) dan Dilma Rousseff (Kepala Kementrian).

Direktur Kebijakan Pemeintah Greenpeace, Sergio Leitao, menyatakan bahwa pengumuman itu menunjukkan bahwa Brasil berpendirian tetap pada kepentingan hidup, keanekaragaman hayati dan keamanan pangan. "Ini menandai hari ketika negara memutuskan mengutamakan kepentingan nasional lebih dari kuatnya kepentingan perusahaan bioteknologi yang membatasi hak konsumen Brasil untuk memilih tidak mengkonsumsi makanan transgenik," tegas Leitao.

Koordinator Land of Rights movement, Maria Rita Reis, berkata bahwa dia membebaskan sikap pemerintah Brasil. Menurutnya diskusi dalam pertemuan pejabat itu mengutamakan aspek komersial semata-mata. "Dengan pemerintah mengambil sikap ini, keamanan hayati akhirnya terjadi pada perdebatan terdepan atas pelaksanaan Protokol Kartagena," yakin aktivis itu.

Nevertheless, ornop yang tetap kritis selama empat tahun masa usulan yang mengadopsi peraturan baru. Dalam catatannya, perundingan telah berlangsung lima tahun. Ini seharusnya merupakan usulan yang jelas "bahwa dengan masa transisi itu eksportir transgenik siap menerimanya (peraturan baru)."
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #8   Report Post     Original Poster (OP)

Brasil dukung istilah "it contains" dalam ekspor produk transgenik

Brasil dukung istilah "it contains" dalam ekspor produk transgenik



Brasil mendukung istilah label “it contains” (“produk berisi”) dalam pengiriman ekspor produk transgenik, termasuk informasi proses produksi, transportasi dan penyimpanan. Pernyataan ini dikeluarkan saat pertemuan 14 Maret dalam MOP-3, di Kurtiba, Brasil (13-17 Maret 2006).

Menurut Marina Silva, Menteri Lingkungan Hidup Brasil, pernyataan itu menunjukkan kemenangan seluruh masyarakat Brasil. Silva juga berpendapat bahwa dalam hal keamanan hayati, organisme rekayasa genetika adalah ancaman bagi setiap negara di dunia, khususnya negara yang berkeanekaragaman tinggi seperti Brasil.

Brasil merupakan salah satu diantara 17 negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Antara 15 hingga 20 persen keanekaragaman hayati planet bumi ditemukan di Brasil.

Silva menjelaskan bahwa dengan kurun waktu empat tahun periode transisi, dapat menghasilkan sistem pelaksanaan yang mengidentifikasi adanya organisme rekayasa genetika dalam produk dan benih yang akan diekspor. Kurun waktu itu penting bagi pelabuhan dan sistem transportasi dalam pengaturan menurut peraturan yang baru.

"Bila keadaan ini terealisasi dengan cepat, pemisahan identifikasi akan dihasilkan," katanya. "Ini hanya masalah prosedur. Kita bicara tentang model hidup berdampingan, memberi kita kesempatan untuk menghasilkan ukuran pemisahan yang dilakukan dalam identifikasi produk," lanjutnya.

Menurutnya, kepentingan negara produsen benih seperti Brasil tidak akan dirugikan, karena negara yang menandatangani protokol juga akan menginginkan produser benih lain mengidentifikasi produknya. Selain itu, salah satu permintaan terbesar usulan Brasil adalah akan mewajibkan negara-negara seperti Amerika Serikat, yang tidak mendukung protokol, untuk mengidentifikasi isi (contain) dari pengiriman ekspor produknya ke negara yang menandatangani dokumen protokol.

Sementara itu menurut National Confederation of Agriculture (CNA), usulan tentang identifikasi produk transgenik yang akan dijual ke luar negeri akan menyebabkan Brasil kehilangan daya saing internasional. Presiden hubungan internasional CNA, Gilman Viana Rodrigues mengkalkulasi bahwa biaya produksi akan meningkat 10 persen. Akibatnya, seperti dalam ekspor kedelai, produser dapat menghabiskan sekitar satu juta dollar AS.

Rodrigues menyampaikan bahwa usulan sebelumnya yang diakui oleh National Technical Commission on Biosecurity (CTNBio) dan diterima oleh pihak di bidang barang dagangan menghasilkan istilah "it may contain" atau "produk mungkin mengandung".

Rodrigues membantah bahwa keuntungan istilah itu adalah produk transgenik itu dapat diangkut bersama dengan produk non transgenik, yang banyak dilakukan oleh sebagian besar eksportir. Istilah itu juga menghindarkan masing-masing pengiriman mengalami analisa secara terpisah.

Menurut Rodrigues, pernyataan label "it contains" akan menambah biaya produksi, menyebabkan Brasil tidak untung dalam pasar internasional. Dia menyatakan bahwa hanya Brasil yang mendukung protokol, padahal sebagai salah satu ekportir komoditas pertanian, disamping Amerika serikat, Canada dan Argentina.

"Amerika Serikat, Canada dan Argentina akan melihat tindakan Brasil itu," katanya. "Sementara Brasil akan membayar biaya penetapan peraturan yang sedang diusulkan dan akan membuat perdagangan lebih mahal. Pembeli dapat berhati-hati dan melanjutkan membeli produk transgenik dari Argentina dan Amerika Serikat."
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #9   Report Post     Original Poster (OP)

Produk makanan 15-20% Positif Kandung Transgenik

Produk makanan 15-20% Positif Kandung Transgenik



Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menemukan sekitar 15-20 % produk makanan positif mengandung transgenik. Produk makanan yang mengandung transgenik itu ada dan dapat berkembang di Indonesia. Demikian Huzna Gustiana Zahir sebagai Ketua Pengurus Harian Baru periode 2006-2009 YLKI mengungkapkan pada beritabumi.or.id seusai acara Pelantikan Kepengurusan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 14 Pebruari 2006 di Kantor YLKI, Pancoran Barat, Jakarta.

Menurutnya perkembangan produk makanan yang mengandung transgenik tidak dapat dihindari karena adanya upaya mengembangkan teknologinya yang terus-menerus. "Yang menjadi kekhawatiran kita adalah keamanannya. Sehingga yang terpenting adalah prinsip kehati-hatian, bagaimana produk itu tidak akan merugikan masyarakat," jelasnya.

Maka Zahir menyatakan bahwa informasi yang benar tentang segala hal produk transgenik harus disampaikan kepada masyarakat. Bukan hanya kegunaannya tetapi juga bahaya-bahaya yang bisa ditimbulkannya. Sehingga masyarakat memiliki pilihan untuk tidak mengkonsumsi produk transgenik tersebut.

Indah Suksmaningsih sebagai ketua Pengurus Harian Lama saat yang sama juga menjelaskan bahwa YLKI telah melakukan penelitian dan kampanye serta advokasi terhadap produk-produk pangan yang diduga menggunakan transgenik. Lembaga yang menyuarakan hak-hak konsumen Indonesia itu juga berupaya menyebarluaskan informasi tentang produk transgenik terlebih bahayanya.

Selama ini informasi yang disediakan tentang produk itu tidak ada. Sehingga masyarakat konsumen sebagian besar tidak mengetahui tentang produk transgenik. Hal itu terjadi karena Pemerintah kurang melakukan upaya penyebaran informasi tersebut. Pemerintah juga kurang dalam mengawasi dan mengontrol perkembangan produk rekayasa genetika itu.

"Saya memprediksi produk transgenik akan semakin banyak, hanya saja sampai sekarang tidak ada yang mengontrol dan mengawasi bertambah banyak atau tidaknya produk itu. Tapi saya menduga semakin lemahnya pengawasan dan pengaturan di Indonesia akan dimanfaatkan sebagai pasar yang baik untuk memasarkan produk-produk tersebut," ungkap Suksmaningsih.

Aktivis konsumen yang masih duduk dalam kepengurusan YLKI itu menghimbau masyarakat konsumen dapat melakukan tekanan kepada Pemerintah dalam menyikapi keadaan tersebut. Mereka harus mempertanyakan dengan jelas soal keamanan produk makanan, apa yang harus dilakukan masyarakat yang mengkonsumsi produk itu dan label produk makanan harus jelas bagi masyarakat konsumennya.

Selain itu organisasi yang konsern terhadap bahaya produk transgenik harus berperan lebih kuat. Salah satunya dengan berkoalisi mendorong masyarakat konsumen untuk mendapat haknya tentang informasi yang pasti tentang produk-produk makanan yang mengandung transgenik. Apalagi selama ini yang terjadi tidak adil karena penelitian yang dilakukan universitas atau lembaga lainnya hanya berkaitan dengan manfaat transgenik, sementara dampaknya kurang dipelajari.

Sementara dalam catatan konsumen YLKI 2005, disebutkan bahwa perlindungan konsumen di Indonesia hingga kini (2005) realisasinya masih memprihatinkan. Salah satu indikator yang menandai fenomena ini, yaitu : persoalan pemenuhan atas hak-hak dasar baik ekonomi, sosial maupun budaya (ECOSOC) yang masih terabaikan. Hal itu ditandai dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang melangit. Akses masyarakat terhadap air bersih, BBM, pelayanan kesehatan tingkat dasar, pendidikan yang semakin sulit. Hal yang juga mencolok adalah hak konsumen atas keselamatan, keamanan dan kenyamanan selama konsumen mengkonsumsi produk, masih jaauh dari harapan konsumen.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #10   Report Post     Original Poster (OP)

Menangani penyakit pepaya bukan dengan rekayasa genetika tetapi dengan organik

Menangani penyakit pepaya bukan dengan rekayasa genetika tetapi dengan organik


Petani Hawaii mengatasi penyakit virus ringspot pepaya bukan dengan rekayasa genetika tetapi dengan cara pertanian tumpang sari organik. Demikian anjuran Greenpeace Asia Tenggara, seperti disampaikan kepada beritabumi.or.id tanggal 27 Agustus 2004.

Jon Biloon yang telah melakukan pertanian berkelanjutan selama 30 tahun di Big Island, Hawaii, berpendapat, “Ada solusi praktis untuk mengatasi virus ringspot yang ramah lingkungan dan lebih baik untuk petani. Solusi ini membuat pepaya rekayasa genetika tidak perlu sama sekali.”

Biloon telah menggunakan cara organik untuk mengatasi virus ringspot. Dia telah melakukan pelatihan dan membantu petani untuk mengenal metode pertanian berkelanjutan secara ekologis untuk menangani penyakit tanaman seperti virus ringspot.

Petani dapat mengisolasi tanaman pepaya yang terinfeksi virus ringspot. Penyebaran penyakit tanaman itu adalah sebagai akibat praktik bertani yang salah, khususnya pada pertanian monokultur.

Serangga kutu adalah penyebab utama penyebaran virus ringspot. Jadi untuk pengendalian kutu menggunakan metode ramah ekologis adalah solusi terbaik.

Petani pepaya organik menanam jenis tanaman lain yang dapat menarik kutu pergi dari pepaya, atau menyemprot pestisida alami non-kimia untuk mengusir dan mengurangi penyebarannya.

Solusi pertanian ini sebaiknya juga mendapat perhatian dan dukungan lebih dari Pemerintahan Thailand. Namun Pemerintah, ilmuan dan perusahaan internasional yang mendesak perkembangan pepaya rekayasa genetika di Thailand dan mengklaim rekayasa genetika pepaya perlu untuk memecahkan masalah virus ringspot.

Pemerintah selalu mengklaim pepaya rekayasa genetika penting dalam ekonomi, karena virus ringspot mempengaruhi ekspor pepaya Thailand. Padahal belum ada fakta bahwa semua pepaya Thailand terinfeksi penyakit itu. Pernyataan Itu hanya upaya Pemerintah untuk memaksakan solusi rekayasa genetika yang salah. Lagi pula konsumen tidak terpengaruhi oleh virus ringspot, karena virus ringspot hanya menimbulkan masalah pada kulit pepaya.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13

Reply
 


Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search




Similar Threads
Thread Original Poster Forum Replies
Serangga Transgenik sebagai Sumber Energi Terbarukan nurcahyo Science & Penemuan 1
Seputar warnet dan permasalahannya al_depple Komputer 16
Ayam Transgenik nurcahyo Fauna, Hewan Peliharaan & Ternak 0
Adakah Informasi soal Pangan Transgenik? andree_erlangga Science & Penemuan 0


Pengumuman Penting

Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.