Selamat Jalan Gusdur

spirit

Mod
091231bakt-jenazah_gusdur.jpg

Selamat Jalan, Gus Dur......

MANTAN Presiden RI Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, meninggal Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB di RSCM Jakarta. Gus Dur meninggal sesaat setelah mendapat jengukan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, dan masih disaksikan Menko Kesra Agung Laksono yang kebetulan sedang menjenguk.

Tokoh nasional kelahiran Jombang, 4 Agustus 1940, ini meninggal setelah digerogoti berbagai penyakit, terutama gula darahnya yang melonjak akhir-akhir ini. "Beliau masuk rumah sakit sejak 25 Desember karena kadar gula darahnya tinggi. Juga sempat dilakukan operasi gigi. sejak itu kondisi Gus Dur turun drastis," ujar Solahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur yang akrab dipanggil Gus Solah.

Kepergian tokoh bangsa sekaligus tokoh agama ini membuat sontak berbagai tokoh yang langsung datang melayat ke rumah sakit. Di rumah sakit juga kebetulan sedang ramai dipenuhi puluhan wartawan yang akan mengikuti konferensi pers tentang kondisi Gus Dur sendiri.

Gus Dur menjabat Presiden RI ke-4 mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Gus Dur pun mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak orang.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang.

Tokoh nasional yang juga sering disebut Bapak Demokrasi ini kini telah pergi. Meninggalkan nama yang sarat amalan dan monumental. Selamat jalan, Gus....
 
Bls: Selamat Jalan Gusdur

Slamat jalan wahai pembela minoritas tapi melupakan mayoritas. Smoga kau kekal di sana. Amien....
 
Back
Top