Kumpulan Artikel Login dengan akun Jejaringsosial.com anda Daftar sebuah akun Jejaringsosial.com
 
Go Back   Home > Fauna, Hewan Peliharaan & Ternak
Lupa Password?

Gambar Umum Video Umum


Kumpulan Artikel




 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #1   Report Post  

Kualitas Terumbu Karang Indonesia turun hingga 50 persen

Kualitas Terumbu Karang Indonesia turun hingga 50 persen


Selama 50 tahun terakhir, kualitas Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia telah turun hingga 50 persen. Penurunan ini meningkat dari sebelumnya yang 10 persen. Antara tahun 1989-2000, Terumbu Karang dengan tutupan Karang hidup sebesar 50 persen telah menurun dari 36 persen menjadi 29 persen. Demikian disampaikan Silvianita Timotius, Direktur Terangi, saat ditemui reporter beritabumi.or.id di kantornya (Jakarta), Senin (13/11).

Menurutnya, Terumbu Karang di bagian barat Indonesia menghadapi ancaman terbesar. Hal ini berhubungan dengan tingkat pembangunan yang tinggi dan populasi penduduk yang padat di daerah tersebut.

Abrasi pantai merupakan salah satu dampak dari kerusakan Terumbu Karang. Selain itu menyebabkan kerusakan Karang dalam luasan yang cukup besar.

Untuk merehabilitasi Terumbu Karang butuh waktu yang cukup lama. Berbagai upaya untuk melakukan rehabilitasi Terumbu Karang telah dilakukan baik oleh pemerintah, masyarakat maupun Organisasi non Pemerintah (Ornop). Seperti teknik transplantasi yang dilakukan 40 KK nelayan Karya Segara di Bali untuk melakukan rehabilitasi Terumbu Karang.

Upaya yang perlu ditekankan guna menekan laju kerusakan Terumbu Karang adalah pengentasan kemiskinan, mata pencaharian alternatif, perbaikan pemerintahan, dan peningkatan kepedulian masyarakat akan nilai Terumbu Karang dan perikanan serta ancaman yang dihadapi keduanya.

"Pendidikan kepada masyarakat berguna untuk mengubah pola pikir akan arti penting Terumbu Karang bagi kehidupan," ujar Silvianita.

Terumbu Karang berfungsi sebagai pelindung pantai dan juga tempat bagi berbagai jenis ikan mencari makan. Selain itu Terumbu Karang juga mendukung pertumbuhan Mangrove dan Lamun, menyediakan habitat tempat berlindung yang sangat penting untuk keanekaragaman jenis biota laut dan mencegah terjadinya erosi pantai.

Dijelaskannya bahwa saat ini kondisi Terumbu Karang banyak mengalami kerusakan. Faktor terjadinya kerusakan Terumbu Karang di Indonesia disebabkan oleh alam maupun aktivitas manusia.

"Di Indonesia kerusakan Terumbu Karang lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia," katanya.

Secara umum ada dua faktor terjadinya kerusakan Terumbu Karang di Indonesia yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Pertama adalah pengambilan ikan secara berlebih dan yang kedua adalah pengambilan ikan dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan.

"Pengambilan ikan dengan menggunakan bom dan sianida masih sering terjadi di Indonesia. Hal ini yang menyebabkan kondisi Terumbu Karang di Indonesia terancam," tegasnya.

Dia menerangkan bahwa persentase ancaman akibat penangkapan ikan secara berlebih dapat mencapai 64 persen dari luas keseluruhan, dan mencapai 53 persen akibat penangkapan ikan dengan metode yang merusak.

Sementara menurut estimasi Proyek Terumbu Karang Yang Terancam di Asia Tenggara (TKTAT), luas Terumbu Karang di Indonesia sekitar 51.000 km2. Angka ini belum mencakup Terumbu Karang di wilayah terpencil yang belum dipetakan atau yang berada di perairan agak dalam.

"Jika estimasi ini akurat, maka 51 persen terumbu karang di Asia Tenggara, dan 18 persen Terumbu Karang di dunia, berada di perairan Indonesia," ujar Silvianita.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13

 

   






Reply With Quote     #2   Report Post     Original Poster (OP)

Pencurian ikan oleh kapal asing rugikan Indonesia sekitar Rp 30 triliun per tahu

Pencurian ikan oleh kapal asing rugikan Indonesia sekitar Rp 30 triliun per tahun



Menteri Kelautan dan Perikanan (DKP), Freddy Numberi, meminta semua pihak mendukung upaya pemberantasan pencurian ikan atau illegal fishing di perairan Indonesia. Pencurian ikan yang dilakukan kapal-kapal asing telah merugikan Indonesia sekitar Rp 30 triliun per tahun. Sedangkan, potensi perikanan tangkap Indonesia sendiri sekitar enam juta ton per tahun.

"Kapal-kapal asing itu dapat leluasa meraup kekayaan perikanan nusantara, karena dilengkapi mesin dan peralatan canggih, termasuk alat pemantauan dan pelacakan pergerakan ikan. Bahkan, bisa mendeteksi kapal petugas kita yang mendekat," kata Freddy Numberi, di Jakarta, Jumat (13/10).

Menurutnya, kapal asing akan terus merajalela, karena kebutuhan pasokan untuk industri pengolahan ikan di negaranya sangat besar. Misalnya, industri perikanan Thailand dan Filipina membutuhkan pasokan ikan yang sangat banyak dan rutin, karena mereka harus mengekspor ke mancanegara.

Walaupun hanya memiliki perairan jauh lebih kecil dari Indonesia, Thailand menjadi salah satu pengekspor ikan tuna kaleng terbesar di dunia. Demikian pula Filipina, banyak memiliki pabrik pengolahan ikan yang hampir semua bahan bakunya dipasok dari Indonesia.

"Padahal, izin usaha penangkapan ikan Filipina di perairan Indonesia sudah dihentikan sejak 15 Desember 2005, namun usaha perikanan mereka tetap berjalan mulus," tegas Freddy Numberi.

Di samping itu, memang memburu ikan di Indonesia sangat mudah, sebab lautannya terbentang luas dengan pengawasan sangat minimal. Kapal pengawas DKP hanya 16 unit dengan ukuran relatif kecil, tak sebanding dengan wilayah lautnya.

Proses hukum

Freddy Numberi menjelaskan, kapal-kapal ikan ilegal milik Filipina dan Thailand yang berhasil ditangkap hanya segelintir, tak sebanding dengan ratusan kapal lainnya, yang seolah berlomba meraup berjuta-juta ton ikan di perairan Indonesia.

"Kapal dan awaknya yang ditangkap kerap tak jelas kelanjutannya, karena proses hukum dan peradilan di Indonesia belum berjalan dengan baik," kata dia.

Sebenarnya, menurut Numberi, kapal-kapal pengawas milik DKP dan TNI AL telah menangkap ratusan kapal ikan asing ilegal. Namun, diakuinya, masih banyak kapal yang tidak bisa ditangkap dan ratusan ribu ton ikan hasil tangkapan ilegal dibawa ke luar negeri, tanpa sepengetahuan pemerintah Indonesia. Sehingga sulit didata berapa pastinya ikan yang dicuri.

"Mereka harus tunduk kepada hukum Indonesia. Jika melanggar, harus ditangkap dan diadili dan kapal-kapal disita, lalu dilelang. Masalahnya pengadilan berjalan lamban dan kapal-kapal itu tidak segera dilelang," ujar Freddy.

Untuk itu, dia berencana, salah satu upaya untuk mempercepat proses peradilan adalah membentuk peradilan khusus yang menangani perkara pelanggaran di sektor perikanan, yakni dengan menetapkan hakim khusus dan ad hoc. Dia berharap, para hakim itu nantinya bisa memberikan hukuman yang maksimal kepada para pelaku illegal fishing, termasuk bekingnya.

"Selain itu, sedang diupayakan pemberian insentif, kepada mereka yang terlibat dalam pemberantasan illegal fishing. Besarnya insentif, direncanakan 50 persen dari nilai kapal yang disita setelah dilelang," tuturnya.

Kebijakan pemerintah

Untuk mendorong perkembangan industri perikanan di Indonesia, DKP mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan No.17/2006 tentang Usaha Perikanan Tangkap yang berlaku mulai 27 Juli 2006.

Dalam Permen disebutkan, perusahaan asing yang akan melakukan usaha penangkapan ikan di perairan Indonesia, wajib mengembangkan investasi usaha pengolahan ikan dengan membangun industrinya di Indonesia.

Peraturan itu sekaligus sebagai pelaksanaan kebijakan DKP yang menghentikan kerja sama usaha penangkapan ikan dengan pihak asing di perairan Indonesia. Kerja sama usaha penangkapan dengan Filipina, telah dihentikan Desember 2005. Menyusul September 2006 dengan Thailand dan direncanakan Juli 2007 dengan Cina.

"Selama ini, kapal ikan milik asing yang diberi izin sekitar 700 unit dan umumnya berbobot 100 GT ke atas, tetapi yang ilegal diperkirakan mencapai 2.000 unit," jelas Freddy.

Alasan lahirnya kebijakan itu, antara lain untuk memperketat pengawasan dan pengambilan ikan, agar tidak terjadi over fishing dan berkurangnya sumber daya perikanan yang diperkirakan akan melanda dunia pada 2030.

Freddy Numberi mengemukakan, melalui pengembangan industri pengolahan di dalam negeri akan terjadi peningkatan nilai tambah produk perikanan Indonesia dengan target investasi asing sekitar UU$ 300 juta. Kegiatan ini akan membuka banyak lapangan pekerjaan.

Dia optimis, pada tahun 2009, lebih dari 10 juta tenaga kerja bisa tertampung di sektor perikanan. Menurutnya, jika satu orang tenaga kerja menghidupi lima orang anggota keluarga, maka sektor perikanan dapat menghidupi sekitar 50 juta warga Indonesia.

"Target penyerapan tenaga kerja sebesar itu, akan terpenuhi bila industri perikanan bisa berjalan dengan baik. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan semua pihak," minta dia.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #3   Report Post     Original Poster (OP)

Ada 1.200 jenis ikan dan 600 jenis karang hidup di Kepala Burung Papua

Ada 1.200 jenis ikan dan 600 jenis karang hidup di Kepala Burung Papua



Penelitian tim penilai potensi konservasi keanekaragaman hayati yang dibentuk Departemen Kehutanan bersama beberapa lembaga, mencatat sedikitnya ada 1.200 jenis ikan dan 600 jenis karang hidup di Teluk Cendrawasih, Fak-Fak, Kaimana (perairan Kepala Burung Papua).

Hasil penelitian yang dilakukan pada Februari dan dilanjutkan pada April hingga Mei ini menunjukkan bahwa ada sekitar 75 persen spesies karang yang telah dikenal di dunia, ditemukan di bentang laut yang luasnya sekitar 18 juta hektar ini.

Dari jumlah temuan tersebut, lebih dari 50 jenis diantaranya belum teridentifikasi dan masih baru bagi dunia ilmu pengetahuan. Beberapa hidupan laut yang baru bagi dunia ilmu pengetahuan itu terdiri dari ikan, udang mantis (stomatopoda) dan karang. Wilayah ini juga merupakan lokasi bertelur penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang terbesar di laut Pasifik, tempat perpindahan berbagai jenis paus (Sperm whale atau Physeter macrocephalus, Bryde whale atau Balaenoptera bryde dan Orca atau Orcanus orca), serta beberapa spesies lumba-lumba.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa perairan Teluk Cendrawasih dan Fak-Fak, Kaimana, mempunyai potensi keanekaragaman hayati yang unik dan khas yang harus dilindungi. Selain itu merupakan wilayah pemasok utama sumber hidupan laut, seperti larva ikan dan karang, bagi wilayah Indonesia bagian timur dan kawasan Indo-Pasifik secara umum.

"Dan tidak lupa bahwa terumbu karang di Papua juga membutuhkan perhatian khusus untuk dilindungi dari berbagai bentuk usaha perikanan yang tidak berkelanjutan dan ancaman lainnya sehingga dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal," kata Ahmad Fauzi sebagai Kepala Pusat Informasi Kehutanan, saat memaparkan hasil penelitian tim, di Jakarta, 20 September 2006.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa perairan Kepala Burung Papua, mulai dari Teluk Cendrawasih di timur, Raja Ampat di barat dan Fak-Fak, Kaimana di selatan, merupakan wilayah yang perlu dikelola secara berkelanjutan.

Menurut Fauzi, wilayah bentang laut yang telah dikonservasi dalam berbagai bentuk perlindungan alam kurang lebih 11 persen. Yang terbesar adalah Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Untuk itu, Departemen Kehutanan dan pihak-pihak terkait lainnya harus segera mengambil tindakan mempertahankan integritas DAS di sekitar taman nasional.

Terlebih lagi, perambahan hutan yang sangat marak dan kegiatan pertambangan yang menyebabkan erosi dan sedimentasi, dapat merusak terumbu karang (Coral) dan perikanan di sekitar wilayah ini.

Kegiatan penelitian ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2001 di Raja Ampat, Irian Jaya Barat, tahun 2001. Pihak-pihak yang membentuk tim penilai atau peneliti tersebut berharap, hasil penelitian ini dapat melengkapi data yang terkumpul pada kegiatan sebelumnya.

Tim yang dibentuk untuk melakukan penilaian potensi konservasi keaneragaman hayati itu terdiri dari para ahli di berbagai bidang. Mereka antara lain adalah pakar ikan, karang, udang mantis, terumbu karang, konektivitas genetis, populasi laut, penyu, pariwisata bahari, perikanan, dan sosial. Tim ini diketuai oleh Dr. Mark Erdmann (Senior Advisor Program Kelautan CI Indonesia).

Sedangkan yang membentuk tim sejak Februari 2006 silam adalah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan bekerja sama dengan Conservastion International (CI) Indonesia, Universitas Negeri Papua (UNIPA), Balai TN Cendrawasih, BKSDA Papua II dan WWF Indonesia.

Diakui dunia

Kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia sudah diakui oleh dunia internasional. Setidaknya 16 persen flora dan fauna dunia ada di Indonesia. Selain itu, menurut World Conservation Institute, alam Indonesia dihuni setidaknya oleh 2.904 spesies mamalia, 1.519 spesies burung, 270 spesies amfibi, 600 spesies reptilia dan 600 spesies terumbu karang.

Jumlah tersebut akan bertambah, mengingat masih banyak yang belum teridentifikasi. Dengan kawasan hutan yang luas dan tersebar di seluruh nusantara dari pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, maka tentunya masih banyak kekayaan alam Indonesia yang belum tercatat dan diketahui baik oleh Indonesia sendiri maupun oleh dunia internasional.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #4   Report Post     Original Poster (OP)

Laut sebagai penampung ataukah sumber karbon

Laut sebagai penampung ataukah sumber karbon



Pantauan laut NASA

Proyek NASA’s SeaWiFS (Sea-viewing Wide Field-of View Sensor) (SeaWiFS) telah memantau lautan selama 24 jam setiap hari sejak September 1997. Hasilnya, data kuantitatif status biologi laut secara global melalui penginderaan warna jarak jauh.

Warna di sebagian besar lautan bermacam-macam dengan konsentrasi klorofil dan pigmen tanaman lain bagian dari fitoplankton, pigmen tanaman terbesar, penyebab warna hijau air. Dengan sensor orbit per kilometer persegi lautan tak berawan setiap 48 jam, data warna lautan yang ditangkap satelit dapat untuk menentukan kelimpahan hidupan laut dan memperkirakan peran lautan dalam perubahan iklim.

Satu pertanyaan penting proyek SeaWiFS yang ingin dijawab adalah apakah lautan merupakan sumber karbon yang menambah karbondioksida ke atmosfer atau sebagai penampung pencucian karbon yang dipindahkan dari atmosfer. Hal ini penting untuk memantau perubahan iklim dan pengambilan langkah yang tepat.

Pertukaran karbon aktif dan pasif

Karbondioksida di atmosfer dapat terlarut di air. Terlebih kawasan lautan yang lebih dingin dan bergolak yang cenderung menyerap karbondioksida. Sebaliknya, kawasan yang lebih hangat dan kurang bergolak melepaskannya, karena karbondioksida kurang dapat larut di air hangat daripada di air dingin. Di awal 1990, lautan diperkirakan menjadi jaringan penampung karbon. Di lautan Atlantik Utara 60 persen karbondioksida terserap oleh lautan, dimana berjumlah sekitar 2 Gt setiap tahun.

Pelepasan karbondioksida dalam keadaan pasif tidak penting. Tetapi karbondioksida dalam keadaan aktif oleh fotosintesis fitoplankton dan pelepasan aktif pernafasan semua komunitas organisme laut, berjumlah sekitar 100 Gt setiap tahun.

Fitoplankton berisi algae hijau mikroskopik yang tumbuh dalam jumlah sangat besar di lapisan permukaan lautan, sebagai penyedia makanan terbesar dalam rantai makanan laut. Populasi fitoplankton yang sedang berkembang akan cenderung lebih menggerakkan karbondioksida melalui fotosintesis daripada yang dihasilkan melalui pernafasan oleh semua komunitas (fitoplankton dengan zooplankton dan organisme hidup lain di lapisan permukaan). Dalam hal ini semua lautan bekerja sebagai penampung karbon yang efektif.

Sebaliknya, jika pernafasan komunitas melebihi fotosintesis, karbon yang dihasilkan lebih banyak daripada yang diikat. Dalam hal ini lautan menjadi sumber karbon.

Pantauan bagaimana plankton di lautan bekerja, menjadi sangat penting untuk memperkirakan iklim dan perubahan iklim.

Atlantik Timur Laut sebagai sumber karbon

Ilmuwan di beberapa universitas Spanyol menggunakan data penjelajahan antara 1991-2000 di subtropikal Atlantik Timur Laut untuk menghitung produksi primer kotor fotosintesis dan pernafasan. Mereka menemukan 2 sampai tiga dari 33 stasiun penyelidikan menunjukkan perbandingan pernafasan lebih besar daripada fotosintesis. Artinya fitoplankton tidak cukup cepat mengikat karbondioksida, dan lautan atau pada akhirnya lautan Atlantik Timur Laut dapat menjadi sumber karbon daripada penampung karbon.

Dalam fotosintesis, karbondioksida dan air bergabung membentuk gula (karbohidrat) dengan evolusi oksigen. Sebaliknya, oksigen diperlukan untuk mengoksidasi gula kembali menjadi karbondioksida dan air dalam pernafasan. Jadi cara yang baik untuk memperkirakan perbandingan fotosintesis dan pernafasan adalah mengukur produksi oksigen (di tempat terang) dan yang dikonsumsi (di tempat gelap).

Para peneliti menemukan bahwa masing-masing fotosintesis di semua stasiun lautan Atlantik Timur Laut adalah 2.600 + 271 mg O2/m2/day, dengan masing-masing pernafasan komunitas 3.821 + 276 mg O2/m2/day. Jelasnya, rasio pernafasan jauh lebih besar dari fotosintesis. Fakta tambahan menunjukkan bahwa pada periode setahun, pernafasan tetap melebihi produksi kotor.

Studi dipusatkan pada kolom air dari kedalaman dimana satu persen cahaya menembus permukaan lautan dengan cahaya penuh, dan tidak termasuk pernafasan organisme hidup dalam kedalaman lebih besar, dimana fotosintesis tidak berlangsung. Jika dimasukkan, maka defisit produksi kotor akan lebih besar. Ilmuwan memperkirakan 0,5 Gt karbon dilepaskan setiap tahun hanya oleh komunitas plankton yang menutupi 5,26 juta kilometer persegi subtropikal Atlantik Timur Laut.

Fakta lain lebih jelas mengindikasikan bahwa penambahan karbondioksida dalam atmosfer dan pemanasan global mengurangi kondisi pertumbuhan fitoplankton. Hal ini berpotensi memusnahkan biota laut yang paling dasar dan memperburuk pemanasan global.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #5   Report Post     Original Poster (OP)

Selamatkan puspa dan satwa dengan mewujudkan hutan lestari

Selamatkan puspa dan satwa dengan mewujudkan hutan lestari



Tindakan nyata dalam menyelamatkan puspa dan satwa (flora dan fauna) secara tidak langsung adalah dengan mewujudkan hutan lestari sebagai habitatnya. Namun kondisi hutan Indonesia sudah rawan karena tidak mengindahkannya. Demikian ungkap Rachmat Witolear seusai peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (7/11).

"Kalau ada kegentingan seperti endengered species, ya hilang beneran. Tidak akan balik lagi kecuali menunggu evolusi yang lama. Mungkin hingga 1000 tahun," tegasnya.

Hal itu terjadi karena keserakahan manusia yang mementingkan ekonomi dengan mentelantarkan hutan. Seperti kegiatan mengkonversi lahan, illegal logging dan perdagangan ilegal satwa liar. "Padahal satu pohon banyak diversitasnya (keanekaragaman hayatinya). Apalagi seribu pohon," ungkap Witoelar.

Sementara itu dalam sambutan memperingati HCPSN di kantornya itu, Wakil Presiden Yusuf Kalla menyatakan bahwa perlu adanya keseimbangan antara manusia, puspa dan satwa. Menurutnya di atas bumi ini hanya terdiri dari puspa, satwa dan manusia.

"Dapat kita bayangkan bagaimana bila tidak ada keduanya. Kita akan kesepian luar biasa," ungkap Kalla.

Untuk itu dia meminta semua pihak, selain memperingati juga perlu mencintai dan memelihara flora dan fauna seperti pada diri sendiri. Dengan adanya tumbuhan atau flora atau puspa, maka bencana alam seperti banjir dan kekeringan yang sering terjadi bisa dihindari. Itu karena di saat musim hujan tumbuhan itu bisa berfungsi menahan air dan saat kemarau simpanan air dapat mencukupi kebutuhan air sehingga tidak menimbulkan kekeringan.

"Namun kerusakan lingkungan menyebabkan tumbuhan tidak bisa berfungsi dengan baik. Sehingga bencana banjir dan kekeringan pun sering terjadi," tegasnya.

Sedangkan untuk memelihara flora dan fauna perlu partisipasi semua pihak termasuk masyarakat dan pemerintah daerah selain para pecinta dan penggiat lingkungan yang mendapat penghargaan. Para penerima penghargaan berupa Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan berupa Kalpataru karena dalam sepuluh tahun terakhir aktif dalam melestarikan lingkungan hidup dan pemerhati lingkungan berjumlah delapan.

Diantaranya I Wayan Widastra (Ketua Kelompok Deswa Adat Trikayangan) sebagai pelestari hutan adat dari Banjar Dinas Belantibah, Desa Blimbing, Kec. Pupuan, Kab. Tabanan, Provinsi Bali, Ir. H. SH. Miratul Mukminin, MM., (Pimpinan Pondok Pesantren Sabi’lil Muttaqin) sebagai penyuluh lingkungan melalui dakwah serta mengembangkan pertanian organik, perkebunan dan peternakan di Kel. Takeran, kec. Takeran, Kab. Magetan, Provinsi Jawa Timur dan Ismid Hadad, MPA (Direktur Eksekutif Yayasan Kehati) yang aktif memperkenalkan program-program konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia dan Internasional.

Peringatan HCPSN Tahun 2006 yang tepatnya jatuh pada tanggal 5 November, bertema “Selamatkan Puspa dan Satwa sebagai Cermin Budaya Bangsa. Diharapkan tema tersebut dapat menyadarkan semua orang agar bersama-sama meningkatkan upaya penyelamatan kekayaan puspa dan satwa dari ancaman kepunahan sehingga dapat mendukung kesejahteraan masyarakat.

Indonesia yang beriklim tropis dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati puspa dan satwa yang sangat beanekaragam, sehingga dijuluki sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia (mega center biodiversity). Namun sayangnya, kesadaran untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati puspa dan satwa sangatlah rendah. Akibatnya terjadi kemerosotan jumlah dan kualitas puspa dan satwa yang memprihatinkan di Indonesia.
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #6   Report Post     Original Poster (OP)

Burung-burung di kawasan Gunung Merapi kian terancam

Burung-burung di kawasan Gunung Merapi kian terancam



Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Yayasan Kutilang Indonesia (YKI), beberapa jenis burung raptor yang ada di kawasan Gunung Merapi populasinya semakin menurun. Untuk jenis burung elang misalnya, Elang Jawa tinggal 3 ekor (2 betina, 1 jantan) dan Elang Hitam tinggal kurang lebih 9 ekor. Ada juga jenis yang lain seperti Elang Ular Bido dan Elang Brontok.

Swiss Winasis, bagian pengembangan program Yayasan Kutilang Indonesia (YKI), mengatakan hal ini kepada beritabumi, Rabu sore (8/11) melalui sambungan telepon seluler.

Pihaknya juga telah beberapa kali memantau keberadaan burung-burung ini paska letusan gunung Merapi. "Dari pantauan kami, burung-burung tersebut berkumpul di tempat yang tidak terkena letusan. Selain itu, karena kurangnya pakan di alam, burung elang ini memangsa ayam warga sekitar. Ini diketahui karena banyak warga yang mengaku kehilangan ayam-ayamnya karena dimangsa burung elang itu," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa YKI juga melakukan pemantauan terhadap aktivitas migrasi burung yang melewati kawasan Gunung Merapi. Berdasarkan pemantauan tersebut, diketahui beberapa jenis burung berkunjung ke Merapi setiap musim migrasi. Jenis burung itu antara lain Elang-alap Cina (Accipiter soloensi), Elang-alap Nipon ( Agularis), dan Sikep-madu Asia (Pernis ptylorhincus).

Ketika ditanyakan ancaman terhadap keberadaan burung-burung di Merapi, Swiss mengatakan ancaman tersebut antara lain kekurangan pakan karena banyak hutan yang rusak akibat letusan gunung Merapi sehingga kompetisi semakin ketat. Juga akibat perkawinan inbreeding (perkawinan antara keluarga-keluarga dekat atau sedarah, sehingga mengakibatkan kualitas peranakannya menurun, red).

Di samping itu, praktik perburuan liar terutama untuk jenis Elang Hitam menjadi ancaman serius terhadap kelangsungan hidup burung ini. Perburuan dimungkinkan karena di pasaran burung jenis ini harganya cukup mahal, mencapai kisaran ratusan ribu rupiah.

Dalam melakukan pengamatan, monitoring, dan penyelamatan, YKI melibatkan berbagai instansi seperti mahasiswa, pengamat burung, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), masyarakat lokal, dan masyarakat umum. "Bahkan ketika Merapi berstatus siaga, kita terus melakukan monitoring," ujarnya.

Selain itu, untuk memperlancar kegiatannya, sejak dua tahun lalu YKI telah membentuk “pasukan khusus” yang diberi nama Jogja Bird Rescue (JBR). JBR ini sengaja dibentuk untuk menyelamatkan burung elang dari pencurian para pemburu. JBR hingga kini masih terus berjalan dan menjalankan tugasnya sebagai penyelamat burung di kawasan Gunung Merapi.

Flora dan Fauna Merapi

Berdasarkan data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta, kawasan Gunung Merapi memiliki keanekaragaman hayati yang cukup banyak. Untuk jenis flora, di kawasan tersebut setidaknya terdapat kurang lebih 72 jenis. Pada hutan primernya didominasi oleh jenis Serangan (Castanopsis argentia), dan pada hutan sekunder dan hutan tanaman didominasi oleh jenis Puspa (Schima walicii) dan Pinus (Pinus merkusi). Disamping itu, pada kawasan hutan ini dijumpai jenis Anggrek endemik dan langka, yaitu Vanda tricolor.

Jenis anggrek yang ada di kawasan ini tidak kurang dari 47 jenis, antara lain Dendrobium saggitatum, D. crumenatum, Eria retusa, Oboronia similis, dan Spathoglottis plicata. Jenis-jenis lainnya, antara lain Acacia decurens, Bambusa spp, Albizia spp, Euphatorium inufolium, Lithocarpus elegans, Leucena galuca, L. leucoocephla, Hibiscus tiliaceus, Arthocarpus integra, Casuarina sp, Syzygium aromaticum, Melia azadirachta, Erytrina variegata, dan Ficus alba.

Disamping itu terdapat jenis tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan mereka, yaitu jenis Rumput, Imperata cylindrica, Panicum reptans, Antraxon typicus dan Pogonatherum paniceum.

Sedangkan dari jenis fauna mencakup mamalia, reptil dan burung. Untuk jenis mamalia diantaranya adalah Macan Tutul (Panthera pardus), Kucing Besar (Felis sp), Musang (Paradoxurus hermaprodus), Bajing (Laricus insignis), Bajing Kelapa (Colosciurus notatusi), Kera Ekor Panjang (Macaca fascilcularis), Lutung Kelabu (Presbytis fredericae), Babi Hutan (Sus scrofa vittatus), Kijang (Muntiacus muntjak), dan Rusa (Cervus timorensis).

Berdasarkan hasil inventarisasi tahun 2001 diketahui ada 99 jenis burung. Beberapa diantaranya memiliki status endemik, yaitu jenis burung yang memiliki sebaran terbatas, antara lain Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides), Burung Madu Jawa (Aethopyga mystacalis), Burung Madu Gunung (A. Eximia), Cabai Gunung (Dicaeum sanguinolenium), Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Gemak (Turnix silvatica) dan Serindit Jawa (Loriculus pusilus).

Dan beberapa jenis lainnya, seperti Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Jalak Suren (Strurnus contra), Betet (Psittacula alexandri), Alap-Alap Macan (Falco severus) , Elang Bido (Spilornis cheela), dan Walet Gunung (Collocalia volcanorum). Adapun untuk jenis reptil antara lain Ular Sowo (Dytas coros), Ular Gadung (Trimeresurus albobabris) dan Bunglon (Goneocephalus sp).
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #7   Report Post     Original Poster (OP)

Peningkatan emisi karbondioksida mengancam kehidupan di laut

Peningkatan emisi karbondioksida mengancam kehidupan di laut


Pengeluaran (emisi) karbondioksida dari pembakaran energi fosil telah mengubah secara dramatis kandungan kimia lautan dan mengancam organisme laut, termasuk karang yang menghasilkan bangunan kerangka dan mendukung kehidupan keanekaragaman hayati lautan.

Laporan yang dikeluarkan 5 Juli lalu melalui situs National Science Foundation (NSF) ini, menunjukkan adanya peningkatan efek karbondioksida atmosfer pada organisme yang berperan dalam proses pengerasan oleh kapur di laut dan merekomendasikan penelitian selanjutnya untuk menentukan luasnya efek tersebut.

"Ini jelas bahwa kandungan air laut akan berubah di masa yang akan datang dan akan mengubah kehidupan laut," kata Joan Kleypas, sebagai ketua penulis laporan ini dan ilmuwan di Pusat Nasional Penelitian Atmosfer (National Center for Atmospheric Research) di Boulder, Colo.

"Kami hanya mulai memahami interaksi komplek antara perubahan kandungan kimia skala luas dan ekologi laut," kata Kleypas. "Ini penting untuk membentuk penelitian strategis yang lebih baik guna mengetahui kerentanan organisme laut yang rentan terhadap perubahan itu dalam jangka panjang."

Laporan berjudul Impacs of Ocean Acidification on Coral Reefs and Other Marine Calcifers tersebut, didanai oleh Lembaga Dana Ilmu Pengetahuan Nasional (National Science Foundation atau NSF) dan Lembaga Administrasi Lautan dan Atmosfer (Natinal Oceanic and Atmosferic Administration) dengan workshop diadakan oleh Pusat Ilmu Pengetahuan Kesatuan Survei Geologi AS (U.S. Geological Survey’s Integrated Science Center) di St. Petersburg, Fla.

"Peningkatan karbondioksida di atmosfer telah menimbulkan efek pada lautan dan menyebabkan peningkatan keasaman," kata Phil Taylor, Directur Program Biologi Laut NSF yang mendanai laporan ini. "Peningkatan keasaman ini berpotensi mengganggu proses pengerasan kapur yang membentuk terumbu karang, salah satunya mengganggu proses serupa pada plankton mikroskopis yang membentuk pusat rantai makanan laut."

Lautan secara alami bersifat alkali dan diharapkan tetap demikian, namun interaksi dengan karbondioksida telah membuatnya lebih asam. Peningkatan keasaman dapat menurunkan kandungan karbonat di air laut, pembentuk kalsium karbonat yang digunakan organisme laut untuk membangun kerangka dan menciptakan terumbu karang. Ini berarti organisme akan tumbuh lebih lambat atau kerangka mereka akan menjadi kurang padat, seperti osteoporosis pada manusia. Sebagai hasilnya terumbu terancam karena mungkin karang tidak dapat membangunnya secepat erosi yang mengenainya.

"Ancaman ini menyerang terumbu karang di waktu yang sama dimana mereka terserang oleh pemanasan yang menyebabkan pemutihan (bleaching) secara besar-besaran," kata Chris Langdon dari University of Miami, sebagai salah satu penulis laporan. Pemutihan karang besar-besaran terjadi ketika temperatur panas tidak biasa menyebabkan karang mengeluarkan algae mikroskopis yang menyediakan makanan bagi polip karang.

"Hal inilah yang telah menimbulkan perubahan yang dramatis besar pada kandungan kimia laut 650.000 tahun lalu," kata Richard Feely, salah satu penulis dan ahli Oseanografi di Laboratorium Lingkungan Hidup Lautan Pasifik NOAA's (NOAA’s Pacific Marine Environmental Laboratory atau PMEL) di Seattle.

Beberapa organisme kapur termasuk plankton laut seperti pteropods, siput laut planktonik terpengaruh perubahan kandungan kimia. Kulit pteropods penting sebagai sumber makanan ikan salmon, mackerel, herring dan cod. Jika organisme kapur seperti pteropods tidak dapat melanjutkan populasinya, beberapa spesies lain akan terpengaruhi.

"Pengurangan kapur pada algae dan binatang laut mungkin berdampak pada rantai makanan laut yang substansial mengubah keanekaragaman hayati dan produktivitas laut," kata Victoria Fabry dari California State University di San Marcos, salah satu penulis laporan ini.

Beberapa ekosistem utama didukung oleh organisme yang mengeluarkan kalsium karbonat kulit yang mungkin terancam oleh proses keasaman laut. Ini termasuk terumbu air dingin, yang secara penuh menyediakan kebutuhan bagi sejumlah spesies ikan penting, khususnya di air laut Alaska.

Laporan ini menekankan penelitian yang akan datang untuk mengetahui konsekuensi dari perubahan iklim. Ketika ilmuwan tidak dapat memperkirakan secara lengkap berapa rasio pengerasan kapur di laut akan berubah di masa datang, laporan ini memperingatkan bahwa pertanyaan yang lebih kritis dijawab adalah: "Apa artinya bagi ketahanan organisme dan ekosistem yang akan datang?"
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #8   Report Post     Original Poster (OP)

Taman kupu-kupu: hadirkan kupu-kupu di laboratorium alamiah

Taman kupu-kupu: hadirkan kupu-kupu di laboratorium alamiah



Berawal dari hobby dan kecintaan pada kupu-kupu, Herawati ingin menghadirkan kembali binatang berwarna warni itu di seputar lingkungannya. Keinginan itu mendorongnya melakukan upaya yang bermanfaat bagi konservasi kupu-kupu khususnya di Lampung, Sumatera.

"Saya merasa selama ini banyak yang tidak peduli dengan kupu-kupu," ungkap Herawaty di Jakarta, Mei lalu.

Menurutnya kupu-kupu terancam punah, antara lain akibat alih fungsi lahan hutan. Peningkatan kegiatan tersebut mengakibatkan keanekaragaman spesies pakan larva kupu-kupu yang sebagian besar tumbuhan liar baik berupa pohon, semak maupun rumput menjadi berkurang, langka ataupun punah.

"Mengingat pentingnya keberadaan kupu-kupu di dalam kehidupan kita maka diperlukan upaya konservasi kupu-kupu dan menghadirkan kembali kupu-kupu disekitar kita," ungkapnya lagi.

Bersama Yayasan Sahabat Alam (YSA) Lampung, Herawati memulai kegiatan konservasi lingkungan dan keanekaragaman hayati sejak awal 1997. Salah satu kegiatan YSA adalah membuat Taman Kupu-kupu Gita Persada dengan tujuan melakukan konservasi kupu-kupu Sumatera. Upaya konservasi kupu-kupu dilakukan dengan cara penangkaran dan pelepaskan sebagian hasilnya ke alam bebas.

Upaya konservasi kupu-kupu oleh Yayasan Sahabat Alam Lampung diawali dengan mengidentifikasi spesies kupu-kupu yang terdapat di daerah Sumatera khususnya Lampung. Selain itu juga melakukan survei-survei untuk mencari tumbuhan inang bagi pakan larvanya.

Survei keanekaragaman kupu-kupu dilakukan di berbagai lokasi di Lampung, antara lain Tahura G. Betung Lampung, Way kanan, Lampung Barat, Pulau-pulau kecil di Teluk Lampung dan Taman Nasional Way Kambas.

Selanjutnya dilakukan pembuatan Taman Kupu-kupu Terbuka di atas lahan seluas lima hektar. Lokasinya di desa Tanjung Alo, Gunung Betung, Bandarlampung. Tujuannya untuk memperoleh mikro habitat yang sesuai bagi kehidupan kupu-kupu.

Hal tersebut dapat dilakukan antara lain dengan menanam beranekaragam tumbuhan berbunga penghasil nektar seperti: Soka, Lantana, Pagoda, Jarong, Kaliandra. Juga menanam beranekaragam tumbuhan inang bagi pakan larvanya seperti: Aristolochia tagala, Sirsak, Alpukat, Jeruk nipis, Clausena excavata, Ruku-ruku.

Ternyata dalam perkembangannya, masyarakat lampung makin mengenal Taman Kupu-Kupu Gita Persada tersebut. Bahkan masyarakat memanfaatkannya sebagai tempat pendidikan lingkungan. Jumlah pengunjung sekitar 1500 sampai 3000 orang per tahun. Diantara mereka adalah para pelajar dari TK sampai mahasiswa dan masyarakat umum. "Saya jadi berpikir, wah taman ini menjadi laboratorium alamiah," kata Herawati.

Mengenal kupu-kupu

Salah satu manfaat berkunjung ke Taman Kupu-Kupu Terbuka Gita Persada yang dikelola YSA Lampung adalah mengenal kupu-kupu. Beberapa dari 50 spesies kupu-kupu yang hadir dan berkembang biak di Taman Kupu-kupu Terbuka Gunung Betung yaitu Appias libythea, Doleschallia bisaltidae, Catopsilia Scylla, Precis Orithya, Hypolimnas bolina, Eurema sari, Danaus chrysippus dan Euploea core. Kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna. Meliputi 4 macam perubahan dalam siklus hidupnya yaitu: Telur - Larva - Pupa - Kupu-kupu.

Kupu-kupu meletakkan telur-telurnya di daun muda tumbuhan yang menjadi tumbuhan inangnya. Setiap spesies kupu-kupu memiliki larva yang hanya memakan daun spesies tumbuhan tertentu. Larva mengalami beberapa kali instar kemudian menjadi pupa (kepompong). Kemudian setelah beberapa waktu dari dalam kepompong muncullah seekor kupu-kupu.

Kupu-kupu terbang hilir mudik mencari bunga-bunga untuk menghisap madu. Kupu-kupu menghisap madu agar memperoleh energi untuk terbang dan melakukan reproduksi.

Di samping itu penguasaan teknik pembibitan tumbuhan pakan larva mendorong YSA pula melakukan pembibitan beraneka ragam tumbuhan lokal terutama tumbuhan berkayu atau berbuah. Asuransi tanpa premi untuk masyarakat desa di Lampung. Dengan konsep hutan ulayat untuk kesejahteraan masyarakat Lampung, menanami lahan kritis & batas-batas tanah dengan beraneka ragam tumbuhan berkayu atau berbuah dalam jumlah ekonomis (setiap jenis minimal 1000 batang/areal).
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #9   Report Post     Original Poster (OP)

Keanekaragaman hayati dunia diambang kepunahan

Keanekaragaman hayati dunia diambang kepunahan



Data baru Serikat Konservasi Dunia (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources/IUCN) menunjukkan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati dunia semakin meningkat. Dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah 2006 (Red List of Threatened Species 2006), IUCN mengumumkan bahwa 784 spesies flora dan fauna telah punah sejak tahun 1500, dan kini menyusul 65 spesies yang hanya mampu bertahan dalam keadaan ditangkap atau dipelihara.

Seperempat dari 40.177 spesies ditaksir sebagai terancam punah. Di tahun 2004, diantara spesies yang paling terancam adalah satu diantara delapan burung dan satu diantara empat mamalia. Data Merah yang sudah diperbaharui tersebut juga menambahkan satu diantara tiga amfibi dan seperempat pohon-pohon konnifer dunia.

Akhir-akir ini, ancaman seperti perubahan iklim semakin memperburuk keadaan spesies yang terancam punah. Beruang kutub (Ursus maritimus) misalnya, dapat menjadi salah satu korban terpenting akibat pemanasan global. Para ilmuwan memperkirakan bahwa spesies tersebut hingga tahun 2050 akan mengalami penurunan populasi hingga 30% dan Data Merahnya akan berubah tingkat statusnya menjadi Rentan.

"Dengan pemanasan global yang kini digabung dengan penyebab tradisional seperti merajalelanya hilangnya habitat dan dampak penyerbuan spesies, kami semakin kehilangan kehidupan dimuka bumi ini," tutur Russel A. Mittermeier, Presiden Conservation International (CI) dan Ketua Komisi Kelangsungan hidup Spesies Kelompok Primata IUCN. "Krisis kepunahan ini paling nyata terlihat di Amerika Selatan dan Tengah, dimana terjadi penggabungan dampak perubahan iklim dan penghancuran wabah baru yang telah menyebabkan hilangnya 130 spesies amfibi."

Dampak perubahan iklim juga merambah ke laut dan spesies yang berada di dalamnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Daftar Merah, IUCN menerbitkan hasil penaksiran regional yang komprehensif mengenai kelompok laut terpilih, termasuk hiu dan ikan pari. Dari 547 spesies yang terdaftar, 20% diantaranya terancam punah.

Permintaan yang tinggi akan makanan laut dan produk laut seperti minyak, menguras kandungan isi laut lebih cepat ketimbang reproduksi spesies seperti hiu peri (Squatina squatina) dan ikan pari (Dipturus batis) yang berada diambang kepunahan. Berdasarkan data IUCN tersebut, tumbuhan dan hewan tidak lebih aman di biomasa air tawar. Di Mediterania sendiri, dari 252 spesies ikan endemik air tawar, 56% nya berada dalam kondisi sangat terancam.

Data untuk konservasi

Menurut Mike Hoffman di Pusat Ilmu Keanekaragaman Hayati Terapan CI, Daftar Merah IUCN tersebut dikenal luas sebagai sumber data kepunahan yang dapat dipercaya – "standar emas status ancaman global spesies." Bagaimanapun juga, data tersebut lebih baik ketimbang penemuan sederhana. Dalam prioritas rencana dan upaya perlindungan alam, para ilmuwan dan para pelindung alam di seluruh dunia bergantung pada data Daftar Merah tersebut.

"Segala sesuatu yang CI lakukan sangat tergantung pada Data Merah IUCN," kata Thomas Brooks, Kepala Departemen Sintesa Konservasi CABS. "Data tersebut merupakan dasar bagi kami dalam mengidentifikasi kawasan kunci keanekaragaman hayati, sebagaimana spesies yang membutuhkan tindakan konservasi baik di kawasan laut atau darat melalui koridor konservasi keanekaragaman hayati."

Berdasarkan hal tersebut, maka CI memiliki pegangan atas kualitas, kesesuaian dan kegunaan Daftar Merah tersebut. Sejak 2000, CI telah bekerjasama dengan IUCN, NatureServe dan Bird Life International, berkontribusi dalam bidang keuangan, teknis, dan bantuan sumberdaya manusia untuk menyokong proses penaksiran Daftar Merah. Dengan para mitranya, CI bermaksud meningkatkan lingkup dan ketepatan sumber serta memperlihatkan pola keanekaragaman hayati dan konservasi langsung.

Daftar Merah Spesies yang Terancam Punah 2006 dengan jelas memperlihatkan kecenderungan negatif keanekaragaman hayati, namun juga mencatat kesuksesan konservasi dalam memperbaiki beberapa spesies yang terancam punah. Elang ekor putih Eropa (Haliaeetus albicilla) misalnya, selama 1990-an populasinya meningkat dua kali lipat dan kini tingkatannya menjadi Kuatir Terakhir. Sama seperti di Australia, burung laut Abbott (Papasula abbotti) berangsur membaik dari dampak perusakan habitat dan penyerbuan spesies. IUCN menurunkan statusnya dari Terancam Punah dalam kondisi Gawat menjadi Terancam Punah.

"Contoh-contoh ini memperlihatkan bahwa pengukuran yang dilakukan berdasarkan perlindungan alam membuat adanya perubahan. Namun yang kami butuhkan adalah lebih dari itu," kata Achim Steiner, Direktur Jenderal IUCN. "Kesuksesan pembuatan dokumentasi kami adalah tidak hanya berdiri pasif menyingkap tragedi hilangnya keanekaragaman hayati dan punahnya spesies. IUCN bersama berbagai aktor lainnya dalam masyarakat konservasi global akan melanjutkan dukungan investasi yang lebih besar dalam keanekaragaman hayati dan memobilisasi koalisi baru di semua sektor masyarakat."
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13






Reply With Quote     #10   Report Post     Original Poster (OP)

Ekosistem Perairan Kepulauan Seribu Terganggu oleh Pencemaran

Ekosistem Perairan Kepulauan Seribu Terganggu oleh Pencemaran


Perairan Taman Nasional Kepulauan Seribu lagi-lagi tercemar tumpahan minyak pada tanggal 19 Februari yang lalu. Sebelumnya, pencemaran perairan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu yang terletak di ibukota Negara Indonesia, Jakarta, sudah sering terjadi. Setidaknya dalam empat tahun terakhir, tercatat telah tujuh kali terjadi kasus pencemaran tumpahan minyak di wilayah yang sama.

Data Jatam menyebutkan bahwa sejak puluhan tahun yang lalu secara teratur perairan konservasi itu terkena pencemaran minyak. Bahkan sampai 2 (dua) kali setahun, yaitu antara bulan Desember-Januari dan antara bulan April-Mei.

Akumulasi puluhan tahun terjadinya pencemaran minyak di Taman Nasional Kepulauan Seribu, telah dapat dibuktikan dengan petunjuk dari Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) sebagai salah satu Indikator Kunci Lingkungan Hidup Laut. Petunjuk kunci yang menunjukkan rusaknya ekosistem Kepulauan Seribu, terjadi baru pertama kali pada tahun 2004 ini, yaitu bahwa rata-rata telur yang diperoleh dari Pulau Peteloran Timur berjumlah 4.363 butir, tetapi pada tahun 2004 ini hanya diperoleh 2.620 butir yang diantaranya 905 butir telur tidak berembrio, 110 butir telur berembrio mati, dan 4 ekor tukik terlahir cacat yang akhirnya mati.

Secara khusus, pencemaran minyak di Kepulauan Seribu telah berdampak dan berakibat nyata pada :

1. Gangguan ekosistem Kepulauan Seribu dalam jangka panjang secara bertahap, baik terumbu karang, padang lamun, mangrove, penyu, maupun biota laut lainnya, termasuk matinya jutaan Biota Laut Kecil di daerah pasang surut dan plankton-plankton. Secara khusus diinformaskan bahwa padang lamun dan mangrove merupakan komponen sangat penting pada ekosistem laut Kepulauan Seribu tetapi sangat rentan terhadap kerusakan dan sangat sulit dan mahal upaya pemulihannya.

2. Gangguan terhadap pengotoran jaring budidaya kelautan. Hal itu akan menurunkan produktivitas kelautan dan perikanan serta akan menurunkan minat bermatapencaharian budidaya kelautan. Sehingga masyarakat akan kembali pada mata pencaharian sebagai Nelayan Tangkap dan Nelayan Pengebom atau menggunakan potasium atau kalium sianida (KCN) yang akan merusak terumbu karang Kepulauan Seribu secara nyata.

3. Gangguan terhadap wisatawan bahari baik WISMAN maupun WISNU. Hal itu akan menurunkan minat berkunjung ke Kepulauan Seribu dan akan menghilangkan arti promosi-promosi yang telah dilakukan berbagai pihak.

Terkait langsung dengan pencemaran minyak 5 Oktober 2004, pada tanggal 10 Oktober 2004 jam 17.10 WIB, ditemukan biota laut dilindungi yang mati karena terkena tarball (zat yang terakndung dalam minyak). Yaitu seekor Lumba-Lumba Hidung Botol (Tursiops trucatus) dengan panjang 1,6 meter dan seekor Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dengan panjang kerapas 60 cm. Keduanya terdampar di Pulau Pramuka bagian Timur.

Selain itu, terjadi kematian ikan bandeng (Chanos chanos) sebagai ikan permukaan (pelagis) secara bertahap di Jaring Apung Gosong Pramuka. Yaitu mulai tanggal 8 Oktober 2004 jam 15.30 WIB sekitar 3.200 ekor, tanggal 9 Oktober 2004 sekitar 3.900 ekor, dan tanggal 10-12 Oktober rata sekitar 600 ekor, dan sampai sekarang masih terdapat puluhan ekor mati setiap harinya. Diperkirakan total kematian bandeng akan mencapai sepuluh ribuan ekor.

Sementara itu ancaman kerusakan yang serius dari aktivitas industri minyak dan gas (migas) yang beroperasi di sekitar perairan Taman Nasional masih menghantui. Bahkan di tahun 2004 saja Kepulauan Seribu sudah 6 kali tercemar minyak. Ironisnya hingga saat ini tidak jelas pihak mana yang bertanggung jawab. Sayangnya pemerintah tidak mampu menggungkap kasus ini dengan cepat.

(Baca juga Kepulauan Seribu Ekosistem Yang Khas dan Rapuh)
nurcahyo
Continent Level

Post: 3.501
 
Reputasi: 13

Reply
 


Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search




Similar Threads
Thread Original Poster Forum Replies
Artikel Tentang Semua Jenis Anggrek nurcahyo Flora, Pertanian & Perkebunan 20
Artikel ttg Kesehatan fitra Kesehatan 3
List website submit artikel - dapetin linkback dari website2 ini Kijokobodong Internet 14
ada artikel buat project work jurusan teknologi dan jaringan?? meita_rianita Komputer 4
Artikel Jilbab Wanita Muslimah T-Rex Islam 0


Pengumuman Penting

Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.