Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

Kalina

Moderator
cerita ini emang terinspirasi dari idolaku, Radja.. :)
buat yang gak suka ama Radja, jangan menghina -_-a
Radja itu inspirasi terbesar aku saat ini..

cerita awalnya berdasarkan pengalaman saat nonton konser Ungu di kota Jember, waktu SMA :) tapi, ada sedikit manipulasi :D wakakaka iyalah.. kalo gak didandanin ceritanya akan membosankan dan gak enak dibaca..
kalo soal Radja, sampe seterusnya, yang kalian rasa, IMPOSSIBLE.. ya emang karangan :D fiktif.. mana ada aku nikah ama Ian :D gaaakkk mongkeeenn :D

oke.. aku dedikasikan cerita ini untuk My Special Ian is Ian Kasela mwah mwah mwah :D
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

1
Violeto Concerto (Konser Ungu)


Elly menghampiri Rea.
Elly : “Rea..! Ungu.. Ungu.. Pasha cakep banget.”
Rea : “Iya, gue tau.”
Elly : “Gue pingin ketemu, nih..”
Rea : “Iya, deh. Gue doain.”

“Ry, kenapa sih, semua orang suka Ungu? Ungu itu.. kan warna janda. Kayaknya.. kurang cocok buat remaja-remaja seumuran aku. Tapi, kenapa mereka suka banget? Kayak apa sih, Ungu itu? Apa bagusnya mereka?”
Kemudian, Rea menutup buku hariannya yang bersampulkan kertas warna biru. Warna favoritnya.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Sudah satu minggu, sejak Elly ingin bertemu Ungu. Terutama Pasha.
Rea duduk di bangku taman sekolah. Ryan, cowok yang lagi PDKT sama Rea datang.
Ryan : “Hai, Re!”
Rea : “Hai!”
Ryan : “Ng.. Re, malam minggu besok, lo ada acara, ga?”
Rea : “Nggak ada, tuh. Emang kenapa?”
Sebelum Ryan menjawab pertanyaan Rea, tiba-tiba Elly datang.
Elly : “Rea!”
Rea : “Ada apa, El?”
Elly : “Be, besok, malam minggu, lo udah denger kabar, apa belum?”
Rea : “Malam minggu besok kenapa? Ada apa?”
Elly : “Ungu dateng ke kota kita.”
Rea : “Oh ya? Wah, seneng dong, lo?”
Elly : “Iya. Tapi.. bantuin gue ketemu, dong..!”
Rea : “What?!”
Kemudian, Ryan menengahi.
Ryan : “Elly.. Elly.. please, deh! Ketemu Ungu itu, ga gampang. Bodyguard-nya banyak. Gede-gede, lagi.”
Elly : “Aduh, gue pingin banget, nih!”
Rea : “Oke. Gue usahain, deh.”
Elly : “Beneran?”
Rea menganggukkan kepala. Lalu, Elly pergi. Tinggallah Rea dan Ryan berdua kembali.
Rea : “Ng.. Yan, kebetulan nih, kan malam minggu besok, gue sama Elly mau nonton Ungu. Lo ikut, yah. Sekalian.. jagain kami berdua. Kami.. kan cewek..”
Ryan dengan senang hati langsung menerima ajakan itu.

Elly sibuk sekali. Ia mencari poster super gede Ungu, untuk dibawa saat nonton konser itu.

Tibalah hari, di mana Ungu akan datang. Sejak pagi hingga sore, Elly tidak bisa diam. Ia sangat bersemangat. Ia megenakan baju serba ungu. Rea dan Ryan menjemputnya.
Ryan : “Wah, Elly serba ungu, nih.”
Elly : “Harus. Biar nanti Pasha ngelirik gue. Gue bakalan jatuh pingsan, nih.”
Dengan bantuan Ryan, mereka bisa menerobos kerumunan penonton. Mereka rela terjepit dengan penuh sesak. Seakan, seluruh warga kota Bandung tumpah ruah di alun-alun. Tetapi, Ryan, Rea dan Elly terus berusaha mereka pun berhasil sampai di bibir panggung. Alias di depan sendiri.
Elly : “Pasha!!”
Di atas panggung, Ungu sedang beraksi. Membius semua orang dengan lagu-lagu cintanya. Elly jingkrak-jingkrak mengikuti irama yang sedang diaksikan oleh Ungu.
“Ku melayang bagaikan terbang ke awan/ Ku terawang dalam buai bayang-bayang kelam.” (Bayang Semu – Ungu)

Kemudian, mereka jalan lagi. Capek banget. Berdesak-desakan dengan banyak orang. Sampai akhirnya mereka berhenti di ujung pagar pembatas panggung sebelah kanan.
Ryan : “Kalo masuk ke belakang panggung, kan enak.”
Rea : “Belakang panggung?”
Rea memikirkan cara, agar bisa masuk ke belakang panggung.
Rea : “Belakang panggung, kan..”
Elly : “Duh.. gue ngebet banget, nih..”
Rea : “Oke. Gue ada cara.”
Rea bertanya pada salah satu penjaga keamanan.
Rea : “Pak, boleh masuk, ga? Berdua aja.”
Penjaga Keamanan : “Ga boleh, dek. Khusus kru.”
Rea : “Ga boleh, yah? Soalnya, temen saya pingin banget ketemu.”
Lalu, seseorang yang mengenakan kartu identitasnya sebagai kru datang mendekati mereka.
Orang : “Ada apa ini?”
Penjaga Keamanan : “Adik-adik ini pingin masuk.”
Orang itu memperhatikan Rea dan teman-temannya.
Orang : “Kayaknya.. saya pernah liat kamu, deh. Siapa, ya?”
Rea : “Ng.. rasanya.. aku pernah kenal, deh. Kamu.. kan..”
Orang : “Rea, yah?”
Rea : “Stanley?”
Stanley : “Right. Rea, how are you?”
Rea : “Fine-fine aja. Lama ga ketemu, jadi hampir lupa.”
Stanley : “Iya. Sudah.. tiga tahun.”
Rupanya, Stanley akrab dengan Rea. Rea adalah seorang penyanyi lokal. Ia bernyanyi di kafe dan undangan. Sedangkan Stanley, dia teman Rea. Sama-sama entertainer lokal. Tapi, Stanley pemain theater.
Rea : “Ng.. kamu kru juga?”
Stanley : “Iya. Aku management promotornya.”
Rea : “Oh ya? Wah, kebetulan, nih!”
Rea menceritakan keinginan Elly, untuk bertemu Ungu. Sebelumnya, Rea memperkenalkan Elly dan Ryan dulu pada Stanley.
Stanley : “Oh, why not? I’ll help you all to meet with Ungu. Come on, follow me!”
Di antara mereka, Rea lah yang paling bersemangat. Padahal, Elly lah yang seharusnya begitu.
Stanley mengajak Rea dan teman-temanya ke sebuah ruangan.
Stanley : “Sebentar lagi, Ungu turun dari panggung, untuk istirahat. Ruangannya di sini. Kalian tunggu aja.”
Elly : “Hah? Tinggal menunggu? Ga usah berdesak-desakkan sama bodyguard?”
Stanley : “Ga usah.”
Elly : “Wah! Seneng banget gue..!”
Setelah itu, Stanley pergi.
Tak lama kemudian, di luar terdengar suara berisik. Membuat Rea, Elly, dan Ryan ingin tau. Mereka pun keluar. Mereka melihat Ungu baru aja turun dari panggung, dengan digiring oleh para bodyguard. Para penggemar berteriak-teriak, dan berusaha melompati pagar pembatas. Tapi tak berhasil.
Elly : “Ungu?!”
Rea : “Udah, sapa, gih!”
Elly : “Gue malu. Ayo dong, Re. Lo duluan.”
Rea : “Gue?”
Elly : “Please..!”
Rea : “Tapi, El.. Yang bener aja. Masa` gue, sih?”
Elly : “Gue ngebet banget, nih..”
Rea : “Aduh, gimana, yah?”
Pasha sudah hampir tiba di depan mereka. Saat tiba..
Bodyguard : “Ayo, minggir! Ungu mau masuk!”
Tiba-tiba..
Rea : “Pak Bodyguard, kami nge-fans banget sama Pasha. Please, Pak! Kami pingin banget foto bareng Pasha. Please, Pak!”
Bodyguard-bodyguard itu tidak mengizinkan. Sedangkan Pasha diam saja.
Rea : “Pasha! Aku fans sejatimu! Pasha! Udah tiga tahun aku nunggu, agar bisa ketemu sama kamu. Pasha!”
Para personel Ungu sudah di dalam ruangan. Pasha mendengar kata-kata fansnya itu. Kemudian, tanpa pengawalan ketat, Pasha keluar dari ruangan itu.
Pasha : “Sorry. Mungkin, ini bukan kesempatan bagus untuk ngobrol. Ng.. ini nomor handphone aku. Kita telpon-telponan aja, yah.”
Rea : “Apa?”
Rea, Elly dan Ryan tidak menyangka, kalau Pasha akan ngasih nomor handphone-nya segala. Lalu, Pasha masuk lagi.
Elly : “Ini, nomor handphone-nya Pasha?”
Rea : “Hah?”
Ryan : “Asyik, dong..”

Keesokan harinya, di rumah Rea. Elly penasaran ingin telpon Pasha. Makanya datang ke rumah Rea.
Rea : “Ng.. coba deh, gue telpon dulu.”
Rea mencoba menghbungi nomor handphone Pasha Ungu. Nyambung!
Pasha : “Hallo!”
Rea : “Ha, hallo! Ini.. Pasha, kan?”
Pasha : “Iya. Kamu siapa?”
Rea : “Aku.. fans kamu, yang kemarin kamu kasih nomor handphone.”
Pasha : “Oh, terus mau ngapain?”
Rea : “Aku.. mau.. aku pingin ngobrol sama kamu. Boleh, kan?”
Pasha : “Aduh, aku lagi sibuk, nih. Kapan-kapan aja, yah.”
Rea : “Oh, iya, deh.”
Pasha menutup telponnya.
Elly memandang Rea dengan beribu pertanyaan terpendam.
Elly : “Gimana?”
Rea : “Udah. Beres. Ternyata emang Pasha.”
Elly : “Wah.. seneng banget. Ng.. lo dulu ya, yang kenalan. Trus gue. Lo tau kan, gue ini orangnya suka nervouse.”
Rea : “Iya. Gue akan bantu lo. Semamu gue. Oke?”
Elly : “Oke.”

Rea tak pernah punya tokoh idola dari dalam negeri. Idolanya selalu dari luar negeri. Seperti Linkin` Park, Boyzone, Backstreet Boys, N`Sync, dan lain-lain. Tapi, yang paling utama adalah Robbie Williams. Mantan personil Take That itu. selera musik yang cukup tinggi, bukan? Berkelas, pula.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

2
Apaan sih, Radja?

Suasana kelas 3 IPS A sedang tidak terlalu serius. Guru Ekonomi tidak masuk. Jam kosong itu pun digunakan untuk ngobrol, atau pergi ke perpustakaan. Pokoknya, nyantai, deh.
Rea dan Elly pergi ke laboratoium komputer.
Elly : “Re, ada band keren namanya Radja. Lagu-lagunya bagus, deh. Kemarin, gue baru beli kasetnya.”
Rea : “Enak kayak gimana pun, gue tetep ga suka lagu dalam negeri. Kebanyakan plagiator .”
Elly : “Yang ini lain, kali. Lo coba denger dulu, deh.”
Saat lagi browsing, kebetulan, Rea melihat apa yang sedang dibaca oleh Elly. Ada gambar seorang cowok dengan rambut jabrik, berkaca mata hitam. Ganteng banget.
Rea : “Yang ini siapa, El?”
Elly : “Ini namanya Ian Kasela. Dia ini, vokalisnya Radja. Suaranya, T-O-P B-G-T, deh. Top banget!”
Rea : “Ya udah, gue coba denger dulu.”
Elly : “Nah, gitu, dong!”
Elly meminjamkan kaset dan VCD Radja pada Rea.

Malamnya, Rea memutar kaset itu. suara alunan lagu yang merdu pun mulai terdengar.
“Aku hanyalah manusia biasa/ Yang tak pernah lepas dari khilaf/ Ku mencoba merubah segalanya/ Mungkin ada kesempatan../” (Manusia Biasa – Radja)
Rea : “Kok enak?”
Rea mencoba untuk terus mendengarkan lagu-lagu yang ada di kaset itu. lagu selanjutnya..
“Biarlah hitam menjadi putih/ Tetaplah kau jadi milikku/ Jangan merasa dirimu masih sendiri/ Tetaplah engkau di sisiku/” (Tetaplah Kau Jadi Milikku – Radja)
Benar-benar aneh. Rea mulai suka.

Keesokan malamnya, Rea masuk kerja, sebagai penyanyi di kafe elit Bandung.
Rea : “Dosakah aku, bila dicintaimu/ Bila jalinan hati kini menderaku/ Ku kini terjerat karenanya/ Susah lepaskan.. dia/”
Semua pengunjung yang hadir, terbius dengan suara merdu Rea.
Rea : “Jalannya cinta nodai hati../ Aku dicinta jalinan tiada pasti/ Dan aku tak harus terkalahkan/ Dan diriku terabaikan/ Ku ikuti jalannya hati..” (Cahaya – Krisdayanti)
Setelah menyelesaikan lagunya, Rea istirahat dulu. Dan diganti oleh penyanyi lain. Kemudian, ada seseorang mendekati Rea.
“Suara kamu merdu banget.” Seorang cowok berbadan atletis dan cute banget. Plus wajah tampan dan kacamata biru.
Rea : “Terimakasih. Kamu siapa?”
Cowok itu duduk di samping Rea.
“Ternyata, meskipun fansku ada di mana-mana, masih aja ada yang ga kenal aku.” Cowok itu membuka kacamatanya. Rea mengamati, dan..
Rea : “Ka, kamu kan.. yang nyanyi Jujur itu. Ian.. Radja. Ya, kan?”
Ian tersenyum.
Ian : “Bener.”
Rea : “Wah, surprise banget bisa ketemu kamu semudah ini.”
Ian tersenyum lagi.
Ian : “Mau ga, kamu nyanyi sama aku? Aku suka sama suara kamu.”
Rea : “Apa? Nyanyi bareng sama kamu? Yang bener?”
Ian : “Iya.”
Rea mengira, bahwa Ian tidak serius dengan kata-katanya.
Rea : “Sorry, aku ga bisa. Soalnya, aku.. lebih suka nyanyi di kafe.”
Ian : “Ayolah, suara kamu itu bagus banget. Sayang, kalau cuma dipake nyanyi di kafe. Kamu pikirin dulu, deh. Ng.. boleh minta nomer telpon kamu?”
Rea : “Ya, tentu. Ini..”
Rea memberikan kartu namanya. Ian pun memberikan kartu namanya juga.
Ian : “Aku sangat ingin nyanyi bareng kamu.”
Rea hanya tersenyum.
Rea : “Ya udahlah, aku pikir-pikir dulu, deh.”

Rea baru selesai menulis buku harian, dan bersiap-siap akan tidur. Kemudian, handphone berbunyi.
Rea : “Hallo!”
Ternyata Ian.
Ian : “Gimana? Kamu udah memikirkannya?’
Rea : “Ya belum, lah. Kan baru tadi kamu nawarin aku. Sekarang, aku ngantuk banget. Apalagi, besok aku harus sekolah. Ada ulangan. Ga sempet mikirin itu. Tolong deh, Ian. Jangan maksain, lah..”
Ian : “Marah, yah?”
Rea : “Aku tuh, ngasih pengertian. Bukan marah. Oke.”
Ian : “Ya udah. Met bobo, yah!”

Keesokan harinya, Rea cerita pada Elly, soal pertemuannya dengan Ian Kasela, si vokalis Radja.
Elly : “Yang bener, lo? Wah.. gue pingin kayak begitu, tapi sama Pasha aja..”
Rea : “Trus, enaknya.. gimana? Tawaran itu.. diterima, apa ga?”
Elly : “Enaknya sih, diterima. Tapi, kan kita udah deket sama yang namanya UNAS. Ujian Nasional. Okey…”
Rea : “Trus?”
Elly : “Ya, gini aja, lo kasih pengertian ke dia, sekali lagi. Bilang, kalau lo mau konsentrasi sekolah dulu.”
Rea : “Gitu, yah?”
Elly : “Ya iya, lah..”

Lagi-lagi, Ian Kasela telpon, saat Rea mau tidur. Tepat di jam yang sama seperti kemarin.
Rea : “Gini ya, Ian. Aku sih.. mau mau aja. Tapi.. aku mau UNAS. Aku harus konsentrasi sama itu dulu. Gimana?”
Ian : “Ng.. oke. Aku akan tunggu kamu. Tapi, aku mau kita nyanyi duet. Satu lagu aja. Ga pake dipublikasiin, deh. Biar ga ganggu aktivitas kamu. Kamu mau, kan? Shooting video klip-nya ga lama, kok. Cuma tiga hari. Kamu mau, kan?”
Rea : “Oke, aku mau.”
Ian : “Nah, gitu, dong. Oke. Besok, aku akan mulai atur jadwal kerjanya.”
Rea : “Iya, deh.”

Di studio milik Radja, Ian dan kawan-kawannya sibuk merencanakan jadwal kerja mereka yang baru.
Seno : “Lo serius, ngajakin tuh cewek nyanyi bareng?”
Ian : “Yup. Gue serius. Tuh cewek beda banget. Suaranya emas. Orangnya.. cantik. Pokoknya spesial, deh.”
Moldy : “Lo.. jatuh cinta, yah?”
Ian : “Ah, ga, kok.”
Indra : “Ian, lo udah punya Tarin. Jadi.. udah, deh. Ga usah ngebet sama yang lain.”
Ian : “Ndra, gue cuma pingin bantuin tuh cewek ngembangin talentanya.”
Seno : “Talenta..? Hah! Yang ada ngelurusin jalan ke pelaminan.”
Ian : “Udahlah! Gue ini serius mau jadiin Rea penyanyi cewek yang sukses.”

Dalam perjalanan pulang, Ian mulai memikirkan kata-kata Indra, Moldy, dan Seno. Mungkin mereka benar. Ian jatuh cinta pada Rea. Tapi, bagi Ian sendiri, belum pernah terlintas dalam benaknya, bahwa ia jatuh cinta pada Rea. Yang ada hanya kekaguman atas bakat yang dimiliki oleh. Rea. Itu saja.

Sesampainya di rumah, rupanya, Tarin sudah menunggu.
Tarin : “Ian, kamu dari mana? Hari ini, ga ada jadwal manggung, kan? Kamu jangan terlalu capek, yah.”
Ian hanya tersenyum.
Ian : “Aku.. mau tidur. Ngantuk.”
Tarin : “Ng.. kamu kan ngajakin aku dinner malam ini.”
Ian : “Aduh, gimana, yah? Masalahnya, aku capek banget. Besok aja, gimana?”
Tarin : “Oke, deh.”
Ian masuk ke kamarnya. Sedangkan Tarin langsung pulang.
Tidak biasanya Ian begini. Tarin adalah tunangannya sejak setahun yang lalu. Seorang cewek yang ia pilih dari sepuluh cewek yang ditawarkan ayahnya. Bukan berdasarkan cinta. Tapi, Ian tidak pernah bersikap buruk padanya. Malah, Ian pernah mencoba untuk mencintainya. Namun tak pernah bisa. Hari ini, sikap Ian aneh. Tiba-tiba saja membatalkan acara dinner yang sudah disepakati.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

3
Kejujuran dan Ketulusan
Seorang Ian Kasela

Ryan menemui Rea di kelasnya.
Ryan : “Re, gue denger dari Elly, katanya.. lo mau nyanyi bareng Radja. Apa itu bener?”
Rea : “Iya. Ga nyangka, ya? Padahal, gue ga pernah kenal sama Ian. Tiba-tiba ditawarin nyanyi bareng.”
Ryan : “Apa.. lo yakin, dia serius sama ajakannya? Gue khawatir, dia cuma iseng sama lo. Gue ga mau kalau dia mainin lo.”
Rea : “Maksudnya?”
Ryan : “Lo.. kan baru knal sama dia. Jadi.. lo perlu memikirkan sekali lagi. Apalagi, ini udah deket sama UNAS. Lo ngerti kan, maksud gue?”
Rea : “Iya, ya. Kenapa gue ga kepikiran sampai situ? Siapa tau, cuma mainin gue. Trus.. gue harus gimana, dong? Kan ga enak, kalau tiba-tiba gue tolak gitu?”
Ryan : “Ya.. bilang aja, kalau lo sibuk sama sekolah. Banyak tugas dan ulangan. Kan beres. Kalau dia mau nunggu, ga pa-pa. sekalian, penjajakan. Beres, kan?”
Rea : “Iya, bener.”

Rupanya, Ryan cemburu, bila Rea dekat dengan Ian. Maka, ia mengatur, supaya Rea dan Ian tidak jadi nyanyi bareng.

Malamnya, Rea menelpon Ian.
Rea : “Hallo, Ian.. ini aku Rea.”
Ian : “Ada apa, Rea?”
Rea : “Ng.. sebelumnya.. aku minta maaf. Kayaknya.. aku ga bisa nyanyi bareng kamu dalam waktu dekat ini. Soalnya, aku lagi banyak tugas dan ulangan. Kamu.. ga marah, kan?”
Ian : “Oh, ga, kok. Kamu.. selesaiin aja dulu tugasnya. Lagian, aku masih bikin lagunya. Nyantai aja.”
Rea : “Makasih, yah..”

Elly : “Katanya.. lo duet sama Radja? Mana? Kapan?”
Rea : “Iya sih, tapi, kan gue harus konsen dulu sama UNAS.”
Elly : “Ya ampun, Rea..! ini masih semester satu. So, it`s oke, lagi. Ntar, kalau udah deket sama hari H-nya, baru istirahat.”
Rea : “Selain itu, gue harus penjajakan dulu. Siapa tau Ian nipu.”
Elly : “Siapa yang bilang begitu?”
Rea : “Ng.. Ryan.”
Elly : “What?!”
Rea : “Dan gue rasa, dia bener.”
Elly pun menjelaskan, kalau Ian adalah orang baik. Penyanyi yang ga sombong. Dia tidak akan menipu fansnya.
Elly mencari Ryan. Ia tidak terima, kalau Ian Radja dibilang nipu.
Elly : “Lo sengaja kan, menghambat cita-citanya Rea?”
Ryan : “Ga, kok. Buat apa? Lagian, gue cuma ngasih saran. Zaman sekarang, orang susah ditebak. Ya kan?”
Elly : “Alah! Lo terus terang aja, deh. Lo cemburu, kan?”
Mendengar kata cemburu, Ryan langsung diam.
Elly : “Kena, lo!”
Ryan tidak tau harus berkata apa, selain..
Ryan : “Sorry. Lo bener. Gue emang cemburu. El, gue ga rela ngeliat mereka deket.”
Elly : “Ryan, mereka bukan pacaran. Tapi kerja. Kalau lo memang cinta sama Rea, sayang sama Rea, lo harus cinta dan sayang juga sama bakatnya, dong..! Dukung dia. Bukannya malah menghambat.”

Ryan tidak bisa tidur. Ia memikirkan kata-kata Elly di sekolah tadi. Memang benar, dirinya cemburu. Tapi, apakah rasa cemburu itu bisa diredam dengan hanya mencintai bakat-bakat Rea? Ryan benar-benar bingung.

Elly mencoba membujuk Rea, supaya menerima tawaran Ian Kasela.
Elly : “Lo ga usah dengerin omongannya Ryan. Dia itu.. kan agak ga waras.”
Rea : “Jadi..”
Tiba-tiba, Ryan datang dan menyahut.
Ryan : “Lo terima aja. Gue minta maaf, kalau udah bikin lo bingung. Gue terlalu khawatir.”
Rea : “Jadi gimana?”
Ryan : “Lo.. bisa duet sama Ian Kasela. UNAS, kan masih lama.”

Ian sangat senang, saat mendengar, bahwa Rea sudah siap untuk duet bersama dirinya.
Judul lagu yang akan dinyanyikan Ian dan Rea adalah “Rela Menunggu”.
Rea : “Ian, kamu memang hebat. Jujur aja, baru kali ini, aku kagum sama penyanyi dalam negeri.”
Ian : “Oh ya? Wah, kalau gitu, aku jadi tersanjung, nih.”
Rea : “Bener, loh. Selama ini, kalau dengerin lagu Indonesia, kayaknya.. plagiatan semua. Cuma lagu-lagu tertentu aja yang nggak. Ternyata, ga semua lagu Indonesia yang plagiatan. Contohnya Radja. Boleh kan, aku jadi fans berat kamu?”
Ian tersenyum.
Ian : “Kita kan temen. Sahabat, malah. Kalau nge-fans.. ga pa-pa, sih.. Tapi.. kan ntar beda sama sahabat.”
Rea tersenyum.

Hub Ian dan Rea main dekat. Malah, mereka berencana, jika Rea sudah lulus SMA, akan membuat album khusus untuk duet mereka. Ian mulai sering ke Bandung. Sampai-sampai, ia kerap kali membatalkan janji pada sejumlah orang. Termasuk teman-teman band dan juga.. Tarin.

Suatu hari, Ian bersiap-siap pergi ke Bandung. Ia akan mengajak Rea nonton konser Ungu di Bogor. Kebetulan, Rea sudah liburan semester.

Elly : “Jadi, lo bakalan pergi ke Bogor bareng Ian Kasela?”
Rea : “Iya. Dia itu.. baik banget, deh.”
Elly : “Nonton konsernya Ungu?”
Rea : “Iya. Mau ikut?”
Elly : “Boleh. Tapi.. ngajak Ryan, yah? Biar.. gue ga jadi nyamuk.”
Rea : “Iya, deh. Ntar, gue bilangin ke Ian.”

Di Jakarta..
Tarin : “Ian, kamu mau ke mana?”
Ian : “Ke Bandung. Ada urusan.”
Tarin : “Akhir-akhir ini.. kamu sering ke Bandung. Urusan apa, sih?”
Ian : “Biasa, lah. Aku kan pingin cari inspirasi untuk bikin lagu. Mumpung sekarang lagi ga ada jadwal manggung.”
Tarin : “Oh.. ya udah. Kalau gitu, kamu.. hati-hati di jalan. Jakarta – Bandung ga deket.”
Ian tersenyum. Dalam hati, sebenarnya Ian tidak ingin berbohong. Tapi, harus bagimana? Tak bertemu Rea sehari saja, rasanya rindu itu semakin membara. Mungkinkah.. Ian memang jatuh cinta?

Ian sampai di Bandung malam hari.
Rea : “Kamu.. nginep di rumah aku aja. Dari pada di hotel, masih bayar.”
Ian : “Ga pa-pa, nih?”
Rea : “Ya ga pa-pa, lah. Lagian, di rumah aku itu, cuma ada aku sama pembantu aku.”
Ian : “Orang tua kamu ke mana?”
Rea : “Lagi di London. Udahlah, kamu nginep di rumah aku aja. Oke?”
Ian : “Oke.”

Paginya, seperti biasa Rea bangun tidur lalu mandi. Kemudian, ia pergi ke dapur untuk bikin sarapan.
Bibi : “Non, mau sarapan sama apa?”
Rea : “Shandwich tomat sama susu segar. Soalnya, temen aku nginep di sini, Bi.”
Bibi : “Oh, yang tidur di kamar tamu lantai dua itu bener temennya Non Rea? Kirain orang kesasar. Soalnya..”
Bibi menceritakan suatu kejadian lucu.
Malam-malam, bibi mendengar ada seseorang masuk dapur, membuka lemari es, sambil nyanyi. Suaranya laki-laki. Bibi melihat siapa orang itu. orang asing. Saat Bibi siap-siap untuk memukulnya pakai stick kasti, orang itu menoleh, lalu berteriak..
Ian : “Jangan pukul! Saya bukan maling.”
Bibi : “Trus, ngapain kamu di sini?”
Ian : “Saya temennya Rea.”
Bibi : “Oh..”
Ian pun kembali ke kamarnya.
Rea tertawa mendengar cerita itu.
Rea : “Kok bisa, sih? Lucu banget.”
Bibi pun ikut tertawa.
Sarapan sudah jadi. Empat shandwich tomat. Masing-masing dua lapis. Berisi keju, susu, daging, dan tentunya tomat. Juga selada. Kemudian, dua gelas susu segar yang masih panas. Rea dibantu Bibi menata di meja.
Rea membangunkan Ian di kamarnya.
Rea : “Ian Kasela! Udah pagi! Bangun, dong!”
Ian masih belum juga bangun. Pelan-pelan Rea masuk ke kamar Ian. Dilihatnya, Ian masih tidur. Rea membuka selambu jendela. Supaya matahari saja yang membangunkan Ian. Berhasil. Ian pun bangun.
Rea : “Up! Up! Up! Moring has comed.”
Ian tersenyum. Rasanya.. seperti suami istri saja.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

4
Ada Apa Di Balik
Kebaikan Hati?

Ian hanya tersenyum melihat Rea membangunkan dirinya.
Rea “Sekarang, kamu cepet cuci muka. Trus, kita sarapan bareng-bareng.”
Ian “Oke. Kamu tunggu aku di meja makan aja. Lima menit lagi, aku turun.”
Rea “Iya. Jangan tidur lagi, loh!”
Ian tersenyum lagi.
Senyuman Ian yang menawan, menyisakan kesan manis di hati Rea.

Ian : “Kamu pinter masak, yah?”
Rea : “Ga, kok. Cuma.. pernah belajar sama mama dulu.”
Wajah Rea jadi merah, saat dipuji.
Ian : “Bakat kamu.. banyak. Nyanyi, masak, kepribadian, dan.. pergaulan.”
Rea hanya tersenyum.
Kemudian, mereka mengganti topik pembicaraan.
Ian : “Ntar, kita berangkat siang aja. Kan, konsernya masih besok malem. Jadi, kita bisa.. jalan-jalan dulu. Gimana?”
Rea : “Asyik juga. Ng.. Ian, temen aku ada yang mau ikut. Dia nih, nge-fans banget sama Ungu. Boleh, kan?”
Ian : “Berapa orang?”
Rea : “Dua.”
Ian : “Boleh.”
Rea : “Makasih, yah..”

Elly sangat senang, saat diberitau, kalau dirinya boleh ikut. Ia pun memberitau Ryan untuk siap-siap. Awalnya, Ryan tidak mau.
Ryan : “Ga, ah. Gue ga ikut. Lo aja.”
Suara Ryan terdengar aneh. Elly bisa langsung menebaknya.
Elly : “Kenapa? Lo cemburu ngeliat Rea sama Ian makin deket?”
Ryan : “Terus terang, iya. Gue ga bisa liat itu. ga rela, El.”
Elly : “Gue ngerti. Tapi, lo harus terbiasa liat itu. Karena gue yakin, mereka tuh, saling suka. Udah, deh.”
Akhirya, Ryan mau juga.

Berangkatlah Ian, Rea, Elly, dan Ryan, ke Bogor, untuk nonton konser Ungu. Dalam perjalanan, di mobil mereka mendengarkan lagu-lagunya Ungu.
“Maafkan aku../ Menduakan cintamu/ Berat rasa hatiku/ Tinggalkan dirinya/ Dan demi waktu yang bergulir di sampingmu/ Maafkanlah diriku/ Sepenuh hatimu../ Seandainya bila../ Ku bisa memilih..” (Demi Waktu – Ungu)
Itu adalah salah satu lagu yang mereka dengarkan, dan juga dinyanyikan bersama.
Elly : “Seandainya.. ada konser penuh warna dari seluruh penjuru dunia, gue yakin, Ungu bakal ikutan. Wah.. Blue, Pink, trus.. Rainbow, trus.. apa lagi, yah?”
Ryan : “Trus, lo bikin sendiri penyanyinya, yah. Udah ga ada lagi.”
Elly lagi kumat menghkhayalnya. Membuat Rea dan Ryan jadi risih. Karena Ian baru tau kali ini, ia malah tertawa.
Rea : “El, lo bawa obat, ga?”
Elly : “Obat apa?”
Ryan : “Obat syaraf, kale..”
Elly : “Yee.. emangnya.. gue gila, apa?”
Elly ngambek, deh. Ian pun langsung menghibur.
Ian : “Orang mengkhayal itu.. wajar, kok. Malah, kalau orang yang ga pernah ngucapin kata “andai”, itu perlu periksa ke ahli jiwa.”
Rea tertawa juga.
Rea : “I think so. But, Elly nih, kelewat, tau ga.”
Ryan : “Setiap ada Ungu, Nicholas Saputra, trus.. siapa lagi, tuh?”
Elly : “Ng.. Linkin` Park.”
Ryan : “Ah, iya. Pasti deh, bintang pun pingin digapai.”
Tiba-tiba.. Ian nyanyi.
Ian : “Ingin ku gapai bintang/ Yang hiasi sang malam/ Adakah satu harapan/ Yang mungkin ku dapatkan..” (Angin – Radja)
Rea : “Kok malah nyanyi sih, Ian…”
Ian : “Refreshing, Rea..”
Rea : “Ih, kamu, tuh..”
Rea mencubit pipi Ian, gemes. Ryan yang menyaksikannya, jadi.. tambah deh, jeleouse-nya. Elly dapat menangkap gelagat itu dari sinar mata Ryan.

Sampailah mereka di Bogor. Mereka akan menginap di villa milik keluarga Rea.
Rea : “Dari pada nginep di hotel atau penginapan lain, mending di villa ini. Gratis, kok.”
Ian : “Rea, kamu tuh baik banget, deh.”
Rea : “Ya.. sebagai manusia, kita memang harus selalu baik. Walau pun yang namanya khilaf itu pasti ada.”
Ian tersenyum. Dalam hati, Ian jadi sangat mengagumi kepribadian Rea.
Di villa itu, ada empat kamar. Pas untuk mereka berempat. Juga ada dua orang pembantu dan satpam. Villa itu dekat dengan pemandangan alam yang indah. Bila duduk di teras belakang, atau sambil renang, bisa sambil lihat pegunungan menjulang tinggi dengan air terjun yang deras. Dari balkon samping lantai dua, bisa lihat sawah-sawah hijau terbentang bak permadani hijau. Dari balkon depan, kelihatan jelas yang namanya pemandangan indah. Ada taman bunga, taman mainan, dan.. kelihatan danau.
Rea : “Villa ini udah lama ga ditempatin. Soalnya, gue juga jarang liburan ke Bogor. Cuma.. kalau ada nyokap sama bokap doang. Jauh, sih.”
Elly : “Re, gimana, kalau sekarang, kita telpon Pasha? Bilang, kita pingin ketemu besok, abis dia manggung.”
Ian : “Kalian punya nomor-nya?”
Elly tertawa bangga.
Elly : “Punya, dong..!”
Ian : “Yang ngasih?”
Rea : “Pasha sendiri.”
Ian : “Kok bisa?”
Dengan semangat `45, Elly menceritakannya.
Tengah Elly dan Ian ngobrol, Rea merasa, Ryan ga sama mereka. Rupanya, Ryan lagi berdiri di balkon depan. Ryan merasakan kehadiran Rea.
Ryan : “Pemandangannya indah, ya, Re..”
Rea tidak menghiraukan ucapan itu. Malah..
Rea : “Ryan! Lo.. kok menyendiri, sih?”
Ryan menoleh pada Rea, dan tersenyum. Senyuman itu agaknya dipaksakan.
Rea : “Ng.. akhir-akhir ini.. mendadak lo jadi pendiem. Biasanya.. lo kan rame. Ada apa? Lo ada masalah, yah?”
Ryan tersenyum lagi dengan senyuman yang sama.
Ryan : “Ga. Gue ga pa-pa, kok. Biasa aja, lagi.”
Rea : “Ya udah, kalau lo ga pa-pa.”
Kemudian, Rea kembali bersama Ian dan Elly. Keduanya masih tertawa.
Ian : “Eh, Rea! Sini, deh.”
Rea : “Apa?”
Ian : “Boleh ga, aku ngomong sesuatu?”
Rea tersenyum tanda memberi izin.
Ian : “Kamu tuh.. baik banget, ramah, murah hati, berbakat dalam banyak hal, dan yang pasti.. cantik.”
Rea hanya tersenyum. Tapi wajahnya jadi merah.
Elly yang menyaksikan itu, merasa, seakan kedua temannya ini sedang terjangkit virus cinta.
Sedangkan Ryan, menyaksikan itu, sama halnya merasakan cabikan benda tajam di seluruh tubuhnya. Cemburu dan tak rela itu yang menyebabkannya.
Canda tawa Ian dan Rea berlanjut sampai berkejar-kejaran di taman bunga. Sembunyi di balik pohon, trus, lari-lari lagi. Sehingga keduanya jatuh ke rerumputan. Kedua mata mereka saling menatap.
Rea : “Ian, kenapa kamu baik banget sama aku?”
Ian : “Aku ga tau kenapa.”
Mereka tertawa lagi, dan berkejar-kejaran sampai ke teras belakang. Ian tiba-tiba terpeleset dan tercebur ke kolam renang. Dengan sigap, dia juga menarik tangan Rea. Rea juga tercebur. Keduanya kembali bertatapan.
Ian : “Sedangkan kamu, kenapa kamu juga baik banget sama aku?”
Rea : “Aku juga ga tau.”
Ian tersenyum.
Rea : “Biar aja terus begini. Sampai kita tau kenapa.”

Keesokan malamnya, Ian, Rea, Elly, dan Ryan nonton konser Ungu. Beruntung keempatnya pilih tiket VIP. Jadi, tidak perlu berdesak-desakkan.
Rea dan Elly sudah janji mau ketemuan sama Ungu. Terutama Pasha.
Alunan lagu Demi Waktu menjadi lagu penutup konser Ungu malam itu di Bogor.
Elly : “Ayo, Re.. buruan ke belakang panggung.”
Mereka keluar dari ruangan VIP dan langsung menuju ke belakang panggung. Tetap sayang. Security tidak mengizinkan.
Rea : “Pak.. tolong, deh. Sekali ini aja.”
Security : “Tetap ga bisa.”
Ian punya ide agar bisa masuk. Rupanya, ada yang Ian kenal dari salah satu kru promotornya. Ia pun menelpon orang itu.
Rupanaya, yang Ian kenal adalah manajemen promotornya konser tersebut. Dan, hebatnya lagi, orang itu adalah..
Rea : “Stanley?!”
Stanley : “Hey, Baby!”
Ian : “Jadi.. kalian udah kenal?”
Stanley : “Rea ini.. temen gue.”
Kemudian, Ian mengutarakan maksudnya untuk membantu Elly agar bisa bertemu Pasha. Stanley pun memberi izin.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

5
Cinta Harus Diakui

Stanley membawa Ian, Rea, Elly, dan Ryan ke sebuah ruangan.
Stanley : “Bentar lagi, Ungu istirahat. Ntar, gue ajak Pasha ke sini, deh.”
Rea : “I feel thankful to you, Man!”
Stanley tersenyum.

Tak lama kemudian..
Ada seseorang datang, masuk ke ruangan itu. dia adalah..
Elly : “Pasha!”
Rupanya, Pasha sudah datang. Dia mengenakan kaus oblong warna putih bertuliskan Ungu. Pasha tersenyum melihat Ian dan kawan-kawan.
Rea : “Pasha, akhirnya, kita bisa ketemu. Ga nyangka.”
Pasha : “Gue salut sama usaha lo, untuk bisa ketemu gue.”
Rea tersenyum.
Kemudian, pandangan Pasha tertuju pada Ian.
Pasha : “Eh, lo.. kan Ian Kasela. Pa kabar?”
Ian : “Baik.”
Pasha : “Mana.. Tarin?”
Ian : “Ga ikut. Kan.. ini.. acara gue. Jadi.. ga perlu ikutan. Dia.. kan ga begitu suka yang rame.”
Ian terlihat agak canggung menjawab, saat ditanya soal Tarin.
Rea : “Ian, kamu kenal sama.. Pasha?”
Ian : “Tentu.”
Rea : “Kok ga bilang, sih?”
Ian : “Kejutan buat kamu.”
Rea : “Ih.. kamu, nih. Selalu, deh.”
Malam itu memang benar-benar menyenangkan. Elly jadi ada kesempatan untuk foto bareng, minta tanda tangan, dan.. ngobrol sama Pasha.
Sedangkan bagi Ryan, dia.. makin jelouse aja. Karena, ia melihat Ian, semakin memanjakan Rea. Itu adalah hal yang paling menyebalkan baginya.

Saat kembali ke villa..
Ryan langsung masuk kamar dengan alasan, capek banget. Elly masih nonton tv. Katanya ada acara tv yang bagus. Sedangkan Rea.. setelah menaruh tas, dia duduk di teras belakang. Kemudian, Ian menyusul ke teras belakang.
Ian : “Kok sendirian?”
Rea tersenyum.
Rea : “Mau nemenin?”
Ian : “Oke. Sekalian, aku mau renang.”
Sementara Ian ganti baju, Rea membuatkan dua gelas air jeruk dingin.
Ian : “Kamu ga renang juga?”
Rea menggelengkan kepala.
Rea : “Udah malem. Ntar masuk angina, lagi”
Ian tertawa.
Rea : “Ng.. Ian, boleh aku tanya.. sesuatu, ga?”
Ian : “Apa aja.”
Rea : “Tarin itu.. siapa, sih?”
Pertanyaan itu.. akhirnya muncul juga. Apakah Ian harus jujur? Ian jadi diam.
Rea : “Apa.. dia.. pacar kamu?”
Ian : “Ng..”
Ian masih diam. Dari sikap diam itu, Rea menangkap sebuah jawaban. Bahwa Tarin memang pacar Ian. Tapi.. kenapa Ian tak mau cerita?

Liburan berakhir.
Sekolah kembali aktif. Kali ini, Rea mulai lebih serius belajar. Karena UNAS hampir tiba.
Suatu hari, Rea dan Elly sedang di laboratoium computer.
Rea : “Ng.. El, Ian Kasela itu.. udah punya pacar ga, sih?”
Elly : “Pacar?”
Rea : “Yup.”
Elly tertawa.
Elly : “Lo suka sama Ian, yah?”
Rea : “Ah, ngga, kok. Gue kan cuma tanya.”
Elly tertawa lagi, melihat tingkah Rea yang tidak mau mengakui perasaannya.
Elly : “Pacar.. kayaknya.. ga ada, deh.”
Rea tidak yakin dengan jawaban Elly.

Rea masih kepikiran. Apakah Ian sudah punya pacar atau belum. Karena penasaran, tapi tidak berani tanya pada Ian, Rea pun mengobok-obok dunia internet. Membuka semua situs yang membahas tentang Radja. Dan, ia temukan jawabannya.
“Sejak setahun lalu, Ian Kasela sudah tidak jomblo lagi. Katarina Novianti, model sekaligus bintang iklan terkenal. Beruntung banget, dia bisa jadi tunangan Ian Kasela. Rencananya.. bulan depan mereka akan melangsungkan pernikahan.”
Itulah berita yang dibaca Rea di internet sekolah. Entah kenapa, perasaannya jadi kacau. Ia berlari keluar dari laboratoium komputer. Melintasi halaman sekolah sambil menangis, menuju ke kelasnya. Dan.. ia menabrak seorang siswa. Ryan, siswa itu.
Ryan : “Rea, lo kenapa?”
Rea tidak dapat bicara, karena menangis.
Ryan mengajak Rea duduk di taman sekolah, untuk menenangkan pikiran.
Rea masih menangis. Aneh. Kenapa harus menangis? Bukankah.. ia dan Ian tidak ada hubungan apa-apa, kecuali teman? Tapi.. ia tetap merasa sangat sedih.
Ryan : “Rea, lo kenapa, sih?”
Rea masih belum mau menjawab.

Sudah dua hari Rea murung dan melamun. Tidak biasanya. Sampai seminggu kemudian, Rea tetap begitu.
Bibi kasihan melihati Rea sedih tanpa sebab yang pasti. Maka, diam-diam Bibi mencari nomer telpon Ian, dan memberi tau cowok itu, tentang keadaan Rea.
Ian langsung membatalkan semua jadwal shooting, dan segera ke Bandung.

Rea duduk di tepi kolam renang. Melamun.. lagi.
Dalam hati, Rea sebenarnya bingung. “Gue ini kenapa, sih? Ian.. dia bukan cowok gue. Kenapa gue harus sedih?”
Tiba-tiba, lamunannya buyar.
Ian : “Rea!”
Rea menoleh dengan lemah.
Ian mendekati Rea. Tapi..
Rea : “Kamu pulang aja, deh.”
Ian tidak mengerti maksud Rea.
Rea : “Kamu.. ga usah ke sini lagi.”
Ian : “Rea, kamu kenapa, sih?”
Rea tetap diam. Tegakah ia, tiba-tiba mengusir Ian? Ian tidak salah. Lalu, Rea berdiri berjalan mendekati Ian. Kemudian tersenyum.
Rea : “Ian, ke dalem aja, yuk.”
Ian jadi bingung dengan sikap Rea.
Ian : “Rea, kamu.. baik-baik aja, kan?”
Rea tersenyum.
Rea : “Emang aku kenapa?”
Ian : “Aku seneng, kalau kamu baik-baik aja.”
Rea berusaha menutupi rasa sedihnya.

Ian makin ingin dekat dengan Rea. Ia mulai sering merindukan gadis itu. Setiap malam, Ian suka menelpon Rea, sekedar melepas rindu. Setiap akhir minggu, Ian selalu menyempatkan diri menjenguk Rea di Bandung. Kalau tidak begitu, Ian jadi tidak bersemangat kalau sedang manggung. Sampai-sampai, ia sering kali membatalkan janji dengan teman, atau pun Tarin, bila sedang ingin bertemu dengan Rea.

Suatu hari..
Ayah Ian, mulai meminta Ian supaya segera menikahi Tarin. Ian bingung. Bila menikah dengan Tarin, dirinya tak akan leluasa lagi pergi ke Bandung, apalagi menelpon Rea tiap malam.

Rea : “Hanya dengan sedikit malu/ Akhirnya aku harus akui/ Keberadaan cintamu/ Dalam hatiku yang kau renangi/ Rasa resah singgah/ Bila terjadi perang/ Emosi kau dan aku..”
Rea sedang menyanyi di kafe tempatnya kerja.
Rea : “Ku inginkan cerita cinta/ Terindah bagaikan dalam dongeng/ Percintaan berhujankan rindu/ Asmara kita.. akankah lama..” (Hanya – Melly Goeslaw)
Malam ini, Rea menyanyikan apa yang ia rasakan. Sesuai isi hatinya.
Ian tidak bisa tidur. Lagu Boulevard milik Dan Byrd yang sendu itu menambah kesan bimbang di hatinya.
Ian : “Rea.. kenapa aku selalu inget kamu terus? Apa.. aku suka kamu?”
Ian mulai sadar, bahwa ia jatuh cinta pada Rea.

Rea turun dari panggung untuk istirahat. Kemudian, Rea merasa ada seseorang berdiri di sampingnya. Ia kira, Ian datang. Tapi.. bukan. Parfumnya beda.
“Suara kamu.. merdu banget.” Suara itu.. familiar banget. Tapi bukan Ian.
Rea menoleh, dan..
Rea : “Pa, Pasha..?”
Pasha, si vokalisnya Ungu itu, tiba-tiba ada di kafe tempat Rea biasa manggung.
Pasha : “Suara kamu.. bagus banget. Nyanyi bareng, yuk!”
Rea tersenyum. Seketika itu juga, kesedihannya luluh.
Rea : “Boleh.”
Pasha mengambil mic. Intro lagu dimainkan. Rea naik ke pentas. Para pengunjung kafe bertepuk tangan. Pasha dan Rea mulai bernyanyi.
Rea : “Tale as old as time/ True as it can be/ Barely even friends/ Than somebody bends/ Unexpectedly..”
Pasha : “Just a little change/ Small to say the least/ Both a little scared/ Neither one prepared/ Beauty and the beast..” (Bauty and The Beast – Celine Dion feat. Peabo Bryson)
Lantunan lagu ini menambah suasana romantis bagi yang dimabuk cinta. Diam-diam, Pasha menyukai warna vokal yang dimiliki Rea. Ia jadi bebalik nge-fans, nih.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

6
Betapa Sulitnya Menyadari
Sebuah Perasaan Cinta

Ian datang ke rumah Rea. Entah kenapa, ia jadi sangat rindu. Tapi, Rea tidak ada. Masih belum pulang dari kafe. Ian makin kacau perasaannya.

Kehadiran Pasha malam ini, agaknya tepat sekali. Vokalis Ungu itu sangat menghibur hati Rea. Apalagi, ternyata Pasha sangat ramah.
Rea : “Pasha, kamu ramah, ya? Kirain kamu.. dingin gitu. Soalnya, pas pertama kali ketemu kamu.. kayaknya cuek banget.”
Pasha tersenyum.
Pasha : “Ya.. maklum, lah. Kan ga kenal. Kalau sekarang.. kita temen, deh. Oke?”
Rea tertawa senang. Andaikan Elly tau.. wah.. dia bakal seneng banget.
Tengah ngobrol..
“Rea!” Seorang cowok memanggil nama Rea.
Rea menoleh, dan..
Rea : “Ian?”
Pasha juga terkejut.
Pasha : “Eh, lo, Ian?”
Ian tidak peduli dengan keberadaan Pasha. Ia malah menatap mata Rea lekat-lekat.
Ian : “Rea, aku.. pingin ngomong sama kamu.”
Setelah pamit pada Pasha, Rea ikut Ian keluar dari kafe.
Ian : “Rea, aku tau jawabannya. Kenapa aku begitu baik sama kamu.”
Rea menatap Ian.
Ian : “Itu karena.. karena.. aku.. mencintai kamu.”
Rea tidak tahan lagi. Ia menundukkan kepala. Matanya berkaca-kaca ingin menangis.
Ian : “Jujur aja, aku baru sadar akan hal ini. Padahal, aku sudah merasakannya sejak kita pertama kali kenal.”
Air mata tumpah membasahi wajah Rea.
Rea : “Kenapa harus aku? Kenapa kamu harus mencintai aku? Padahal, kamu jelas-jelas tau, kalau kita ga mungkin bersama. Parahnya lagi, kenapa aku juga baru sadar, kalau aku, juga cinta sama kamu? Aku bingung, Ian..”
Ian : “Siapa bilang kita ga mungkin bersama? Aku akan selalu ada di sisi kamu.”
Sebenarnya, Rea berat mengucapkan ini. Tapi ia harus. Ia mengangkat wajahnya.
Rea : “Bagaimana sama Tarin? Katarina Novianti, tunangan kamu.”
Ian terkejut. Dari mn Rea tau tentang Tarin?
Ian : “Maaf, kalau selama ini, aku menutupi sebagian hidup aku, dari kamu. Memang, aku bertunangan sama Tarin. Tapi aku ga mencintai dia. Dia adalah gadis pilihan ayahku.”
Rea : “Lalu, apa kamu akan ninggalin dia?”
Ian menundukkan kepala.
Ian : “Aku ga tau. Tapi yang pasti, aku ga ingin nyakitin hatinya, walaupun aku ga mencintai dia.”
Rea jadi merasa iba pada Ian. Kemudian, ia memeluk Ian dengan erat.

Rea curhat pada Elly dan Ryan.
Elly : “What? Lo, sama Ian.. saling mencintai? Wah.. senengnya..”
Alangkah terkejutnya Elly dan Ryan akan hal itu. tetapi berbeda dengan Elly yang sangat senang, Ryan malah sebaliknya. Jelouse.
Rea : “Trus, gue harus gimana?”
Ryan tidak memberi komentar.
Elly : “Susah juga, sih. Tapi.. setahu gue, Katarina Novianti itu.. cakepan lo, kok. Pasti, Ian bakal berjuang, supaya bisa sama lo.”
Ryan buka mulut.
Ryan : “Lebih baik, sekarang, lo ga usah mikirin itu dulu, deh. Belajar aja. Sebentar lagi, kan UNAS.”
Elly : “Tapi Yan, itu ga akan nyelesaiin masalah.”
Rea merasa tidak dapat solusi dari kedua sahabatnya ini. Rea pun mencoba untuk curhat lewat lagu, saat bernyanyi di kafe.
Rea : “Memang aku mencintaimu/ Tapi aku juga menyadari/ Tak kan mungkin ku miliki dirimu/ Sedangkan dia pun mencintaimu/ Setiap wanita pasti ingin dimengerti/ Tak ingin terluka/ Ketika kekasihnya pergi/ Aku pun menyadari/ Aku juga wanita/ Ku tau bagimana perasaannya/ Bila kau tinggalkan dia/ Hanya demi aku..” (Jalan Hidup – Nada Egan)
Pada saat Rea istirahat turun dari panggung, ternyata Pasha datang lagi.
Pasha : “Lagunya.. kok sendu banget?”
Rea hanya tersenyum.
Pasha : “Tapi.. enak, kok.”
Rea : “Makasih..”
Pasha merasa ada yang aneh di wajah Rea. Seperti kurang bersemangat, dan sedang banyak pikiran.
Pasha : “Rea, kamu.. ada masalah, ya?”
Rea : “Ng.. ga, kok. Aku.. ga ada masalah. Semua baik-baik aja.”
Pasha : “Rea, kamu ga bisa bohong. Karena, kelihatan jelas di wajah kamu.”
Rea terdiam. Lalu..
Rea : “Ya. Aku memang lagi ada masalah.”
Pasha : “Kamu bisa cerita sama aku. Kapan pun kamu mau. Mungkin, itu bisa bikin kamu merasa lebih baik.”
Rea : “Makasih, yah..”

Orang tua Ian dan orang tua Tarin sudah menentukan tanggal pernikahan.
Ian makin bingung. Apalagi, Tarin mulai sering mengajaknya keluar untuk memilih gaun pengantin. Beberapa media cetak dan media massa sudah meliput rencana pernikahan itu.
Berita itu sampai ke Bandung, dan Rea mengetahuinya. Hatinya benar-benar sedih.
Rea : “Ian.. kenapa harus kayak gini?”

Ian sedang melamun di studio musik milik Radja. Tangan kirinya memangku wajah. Tangan kanannya memainkan stik drum dengan lemah. Sebenarnya, ia ingin marah pada dirinya. Kenapa ia tidak berusah menolak pernikahan itu, dan berterus terang pada semua orang, bahwa dirinya mencintai Rea?
“Ian!”
Ian menoleh. Rupanya.. Moldy.
Moldy : “Lo ngapain?”
Ian : “Ng.. Dy, kayaknya.. omongan lo waktu itu bener, deh.”
Moldy : “Omongan gue yang mana?”
Ian : “Gue.. jatuh cinta sama Rea.”
Moldy merasa, adiknya ini sedang dirundung masalah. Masalah asmara.
Moldy : “Jadi.. lo?”
Ian : “Iya. Gue mencintai Rea. Dan Rea, juga mencintai gue.”
Moldy : “Tarin?”
Ian : “Ini yang gue bingung. Gue ga cinta sama dia. Tapi, gue ga mau nyakitin dia.”
Moldy : “Sebenarnya.. lo pingin ninggalin Tarin, kan?”
Ian : “Yup.”
Moldy : “Susah juga, yah..”

Ian pergi ke Bandung, menemui Rea. Awalnya, Rea tidak mau menemui.
Rea : “Udahlah, Ian.. kamu pulang aja.”
Ian : “Ga, Rea. Aku ga bisa pulang gitu aja. Aku pingin di sini nemenin kamu.”
Rea : “Makasih, Ian. Tapi, aku pingin sendiri, dan ngelupain kamu. Tolong, Ian..”
Ian : “Rea, apa kamu udah ga mencintai aku?”
Rea : “Aku.. masih mencintai kamu. Tapi, aku lagi usaha untuk ngelupain kamu. Berusaha untuk ga mencintai kamu lagi. Walau pun aku tau itu sulit.”
Ian sedih mendengarnya. Ian memahami perasaan Rea.

Pasha datang ke rumah Rea. Ia sudah tau masalah Rea dengan Ian. Ia merasa kasihan pada gadis itu.
Pasha melihat kondisi Rea semakin tidak baik saja.
Pasha : “Rea, aku ngerti perasaan kamu. Tapi, jangan terlalu larut dalam kesedihan kayak gini. Ga baik.”
Rea terdiam. Lalu..
Rea : “Kamu bener. Buat apa aku sedih? Kalau Ian mau nikah sama tunangannya itu, aku bisa apa? Ga mungkin aku berantakin, apa lagi ngalangin. Ya, kan?”
Pasha : “Bener. Nah, mulai sekarang, kamu harus kembali bangkit. Semangat!”
Rea tersenyum.

Rea menyadari, bahwa jodoh itu ada di tangan Tuhan. Bila dirinya tidak bersama dengan orang yang dicintai, berarti itu bukan jodoh. Dan, Rea tidak akan mampu seandainya ingin menentangnya.
Maka, Rea memutuskan untuk bangkit meraih masa depan yang baru akan di mulai. Dirinya tidak akan sedih lagi, kalau Ian harus menikah dengan wanita lain.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

7
Akankah Ian Bisa Bahagia?

Ian pun menikah dengan Tarin. Mengundang banyak sekali tamu dari kalangan artis, teman Tarin, juga teman Ian. Ian juga mengundang Pasha, Rea, dan teman-teman di Bandung.
Rea : “Ian, selamat.. menempuh hidup baru. Aku doain, semoga kamu bahagia.”
Ian sedih mendengar itu.

Selesai acara resepsi pernikahan, Ian dan Tarin akan menginap di hotel, untuk malam pertama.
Tarin : “Ian, kita.. sekarang adalah suami-istri. Aku, sebagai istri kamu, akan berusaha membahagiakan kamu.”
Tiba-tiba..
Ian : “Ga perlu. Karena aku ga mungkin bisa bahagia.”
Tarin merasa heran dengan ucapan Ian.
Tarin : “Kamu ngomong apa, Ian?”
Ian menatap mata Tarin.
Ian : “Tarin, aku ga mencintai kamu.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ian keluar dari kamar, dan pergi. Tarin sedih sekali. Ia bingung, ada apa dengan Ian?
Ian mengemudikan mobilnya menuju studio Radja. Dia akan bermalam di situ. Aneh juga. Kenapa baru sekarang dirinya bisa mengatakan hal itu?

Rupanya, di studio ada Seno, si drummernya Radja. Seno terkejut, saat melihat kedatangan Ian.
Seno : “Ian, lo ngapain di sini?”
Ian : “Gue mau nginep, lah!”
Ian nyantai banget jawabnya. Seno makin bingung.
Seno : “Bukannya.. lo harus tidur berdua sama binik lo?
Ian diam. Malah meemejamkan mata dan tidur.

Keesokan harinya, Moldy, Seno, dan Indra mulai menginterogasi Ian.
Indra : “Kalau lo ga mau sama Tarin, kenapa baru sekarang ngomongnya? Setelah kalian nikah, pula!”
Moldy : “Iya, nih! Kasihan Tarin yang ga tau kalau lo cinta sama Rea.”
Ian : “Gue juga bingung. Kenapa baru sekarang. Kalau seumpama dipaksain hidup sama Tarin, gue jamin, dia bakalan sering terluka.”
Seno : “Tapi, lo harus ngomong baik-baik sama Tarin. Jelasin gimana perasaan lo sekarang ini, ke dia.”
Ian pikir solusi dari Seno ada benarnya. Tapi, kalau Tarin marah, dan ingin mencelakakan Rea, gimana?

Rea mulai ujian akhir nasional. Ujian yang menentukan lulus atau tidaknya ia dari SMA.
Rea : “Gila! Matematikanya susah banget.”
Elly : “Lo, sih! Belajar cuma separoh-paroh.”
Rea : “Iya, sih. Tapi, gue kan yang penting belajar. Walau pun setengah-setengah.”

Suatu hari, Ian berniat menemui Rea, untuk mempertaruhkan cintanya. Ia masih tak rela bila harus jauh dari Rea.
Di rumahnya, Rea sedang kumpul bersama teman-temannya. Juga ada Pasha, Elly, Ryan dan beberapa teman sekolah. Pasha sudah tau, bahwa Elly lah, yang nge-fans dirinya. Bukan Rea. Elly juga menceritakan, bahwa Rea begitu baik, mau membantunya untuk bertemu Pasha. Pasha jadi kagum pada Rea.
Pasha : “Rea, kamu.. abis ini nerusin ke mana?”
Rea : “Kayaknya.. aku mau ke London, deh. Bareng keluarga.”
Kemudian, Elly ikut jawab.
Elly : “Pasha, aku.. mau.. jadi salah satu personil Ungu, boleh?”
Pasha tersenyum. Tapi Rea dan yang lain malah menertawakan.
Ryan : “Eh, El, katanya, lo nge-fans sama Ungu? Masa` lo ga kasian, sih?”
Elly : “Kasihan apa?”
Rea : “Kalau lo jadi personil Ungu, bakal cepet turun pamor, deh.”
Ryan : “Lo, nyanyi ga bisa. Maen musik.. ga pernah. Trus, lo mau ngapain? Ngerusak?”
Elly jadi cemberut. Ngambek, deh. Pasha jadi tertawa.
Pasha : “Elly, lo cukup jadi temen gue aja. Jadi orang terkenal tuh, ga enak. Banyak gosip.”
Hubungan antara Pasha, Rea, dan teman-teman Rea memang semakin akrab. Apalagi, Pasha dan Rea sering bertemu dan jalan-jalan berdua. Pasha dan Rea semakin saling mengenal.
Kemudian..
Ian datang.
Ian : “Rea!”
Rea menoleh dan amat terkejut.
Rea : “I, Ian? Ka, kamu.. kok di sini?”
Ian : “Rea, aku cinta kamu.”
Rea tidak menjawab apa-apa.
Semua orang terpana melihat kedatangan Ian. Rea sendiri sebenarnya kaget. Pasha juga sama kagetnya.
Ian : “Aku ga bisa jauh dari kamu.”
Rea bangkit dari duduknya.
Rea : “Ian, sorry, mulai sekarang kamu jangan ke sini lagi. Aku ini, pingin hidup tenang. Ngerti, kan? Lagian, aku udah ga ada perasaan apa-apa lagi sama kamu. Jadi, silahkan kamu pergi.”
Ian : “Kata-kata ini, bukan dari lubuk hati kamu. Kamu ga tulus ngomongnya.”
Rea tersenyum. Lalu..
Rea : “Ian, aku udah punya pacar. Jadi, jangan lagi kamu ganggu aku. Ngerti?!”
Ian terperanjat.
Rea : “Pasha!”
Aneh. Pasha tambah bingung. Akting Rea terkesan terlalu serius. Tapi, Pasha memenuhi panggilan Rea.
Pasha : “Ada apa, Rea?”
Rea : “Bilang sama dia, tentang hubungan kita.”
Pasha : “Ya. Gue sama Rea.. pacaran.”
Semua orang semakin tercengang. Karena, mereka tidak tau yang sebenarnya. Apalagi Ian. Kemudian, ia pergi meninggalkan rumah Rea.
Setelah Ian benar-benar pergi, Rea malah langsung masuk kamar. Menangis. Timbul rasa sesal.
Rea : “Harusnya, ga gini. Ian.. maafin aku..”
Pasha, Elly, dan Ryan menyusul Rea.
Elly mengetuk pintu kamar Rea.
Elly : “Rea!”
Tidak ada sahutan dari dalam.
Elly : “Rea, ini gue Elly. Gue boleh masuk, ga?”
Belum ada respon. Tapi, Elly tetap masuk.
Elly : “Rea..”
Elly menyentuh pundak Rea. Rea menoleh, lalu memeluk Elly sambil menangis.
Rea : “Elly, gue masih cinta sama Ian. Gue ga sanggup ngelupain dia.”
Elly : “Iya, gue ngerti.”
Elly mengelus-elus kepala sahabatnya dengan lembut.
Ryan masuk.
Ryan : “Lagian, ngapain sih, dia ke sini? Ga tau malu banget! Kan dia udah punya istri.”
Pasha : “Namanya juga cinta. Itulah yang terjadi. Konflik hatinya makin parah.”
Rea : “Pasha, sorry, tadi.. aku ga bermaksud..”
Pasha : “Aku tau. Tenang aja.”

Dalam perjalanan pulang, Ian marah pada dirinya sendiri. Kenapa dirinya begitu bodoh dan tidak tau malu, meminta seorang gadis perawan yang masih lajang pula, untuk menerima cinta dari suami orang lain. Tapi, harus bagimana lagi? Dirinya begitu mencintai Rea. Dan tak pernah menyangka, akhirnya akan seperti ini. Rea sudah jadi milik Pasha.

Rea berangkat ke London. Meninggalkan semua duka dan laranya yang amat dalam. Meninggalkan kenangannya bersama Ian Kasela yang teramat pedih.
Pasha mengantar ke bandara.
Pasha : “Hati-hati di London! Jangan lupa kasih kabar kalau udah sampe.”
Rea : “Iya.”
Rupanya, pesawat terlambat. Maka, Pasha pun masih menemani Rea.
Pasha : “Rea, boleh aku.. tanya sesuatu? Sebelumnya, aku minta maaf.”
Rea : “Tanya apa, sih?”
Pasha : “Apa.. kamu ga berat ninggalin Ian? Apa kamu setega ini bikin dia merana?”
Rea diam.
Pasha : “Lalu, apa.. yang akan kamu lakukan, kalau kamu kembali ke Indonesia, trus Ian masih mencintai kamu?”
Rea akhirnya menjawab..
Rea : “Ga tau.”
Pasha memahami arti dari jawaban itu.

Ian makin kalut. Ia bingung. Apalagi, sekarang ia harus tinggal seatap dengan Tarin. Sekamar, pula. Hari pertama di rumah mereka, Ian mulai bikin ulah. Ian tidak mau tidur satu kamar, apalagi satu ranjang dengan Tarin.
Tarin : “Kamu tuh kenapa sih, Ian?”
Ian : “Tarin, kayaknya kita perlu bicara serius.”
Tarin jadi tidak mengerti. Sikap Ian berubah.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

8
Masa Lalu itu Datang Lagi

Tarin : “Bicara.. serius apa?”
Ian mengajak Tarin duduk di sofa. Berhadapan.
Ian : “Tarin, sebelumnya, aku minta maaf, kalau kata-kataku ada yang membuat kamu.. sakit hati. Tapi, cepat atau lambat, kamu pasti akan tau.”
Tarin masih bingung.
Ian : “Aku.. ga pernah mencintai kamu.”
Tarin : “Apa?”
Ian : “Tarin, sejak pertama kali kita kenal sampai detik ini, aku ga pernah mencintai kamu. Untuk sampai ke depan, aku berharap, ga akan pernah atau lebih tepatnya, jangan sampai jatuh cinta sama kamu.”
Ian akhirnya mengatakan hal ini. Tetapi, Tarin masih tidak mengerti.
Tarin : “Ian, kamu ngomong apa, sih? Aku bingung, deh.”
Ian : “Tarin, aku nikah sama kamu, hanya untuk membahagiakan ayah aku. Ga lebih.”
Tarin tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Ian.
Ian : “Aku.. sudah mencintai orang lain.”
Tarin : “Kenapa baru sekarang kamu ngomong kayak gini? Ga dari dulu-dulu aja.”
Ian : “Karena aku ga pingin nyakitin hati kamu. Itu aja.”
Tarin : “Trus, sekarang gimana? Terus terang aja, aku juga ga pernah mencintai kamu. Tapi, papaku. Kamu tau sendiri, kan? Keras.”
Ian tersenyum lega.
Ian : “Aku lega dengar respon kamu. Seperti yang aku harapin. Lebih, malah.”
Ian menghela nafas, lalu bicara lagi.
Ian : “Sekarang, kita kan ga mungkin langsung cerai. Dan aku, ga mau bikin kamu ga perawan lagi. Maka, kita harus pura-pura di depan banyak orang. Gimana?”
Tarin : “Aku setuju. Tapi, kalau seumpama orang tua kita minta cucu?”
Ian : “Itu bisa diatur. Kan masih banyak bayi-bayi yang butuh uluran tangan kita.”
Ian benar-benar bahagia hari itu. Maka, dirinya dan Tarin sepakat untuk tidur pisah kamar, dan hidup sendiri-sendiri. Namun, bila ada orang tua atau saudara mereka, barulah sandiwara di mulai.
Saking senangnya, Ian pun berniat untuk memberi tau Rea. Tapi, niat itu diurungkan. Mengingat, sekarang Rea adalah pacar Pasha.

Suatu hari, Radja diundang untuk tampil di sebuah acara di Malaysia. Tidak hanya Radja. Tapi juga Slank, Peterpan, dan Dewa. Tapi, Radja adalah tamu special. Ian menikmati acara itu. dan itu membuat Radja bisa tampil sempurna. Maka, sejak saat itu, banyak orang dari mancanegara yang menyukai Radja. Berangkat dari situ, Radja pun go international.
Ian makin sibuk, sampai jarang pulang ke Indonesia.

Di London..
Rea sekolah mengambil bidang pembuatan film. Ia mendalami di bagian penyutradaraan. Tapi, ia juga tak meninggalkan dunia tarik suara.
Suatu hari..
Katty, teman kuliyah Rea datang menemui Rea.
Katty : “Do you want come with me to take part in meet and great program with my idol?”
Rea : “Mm.. how is it?”
Katty : “Please.. If I don’t come with my friend, my mom will never allow me.”
Katty terlihat memelas.
Rea : “Oke. I’ll follow you.”
Perilaku Katty mengingatkan Rea pada Elly, sahabatnya yang sangat menyukai Ungu. Gimana kabar Elly, Pasha, dan Ryan, yah? Ian.. ternyata, Rea masih ingat.

Katty dan Rea berangkat ke tempat acara pakai mobil Katty.
Rea : “May I know what`s your idol`s name?”
Katty : “They called them self is The King.”
The King? Artinya adalah.. raja.
Rea : “Where are they come from?”
Katty : “You don`t know?”
Rea : “Nope. So?”
Katty : “They are from your country. Indonesia. Unfortunately, Ian Kasela, vocalist of this group band has not single. He was married.”
Rea tercengang. Kenapa Radja bisa sampai ke Inggris? Ngapain? Apa Ian tau ada dirinya di London ini? Tau dari mana? Pasha? Ga mungkin. Elly, Ryan? Ga mungkin teman-teman mengkhianati dirinya.
Rea : “Are you seriouse, they are Radja from Indonesia?”
Katty : “Yes, that`s it. Their true name. why? You know them?”
Rea : “Oh, no.. I don`t know them.”
Rea harus bisa melupakan Ian. Harus bisa. Tidak boleh tidak bisa. Tapi, bagimana caranya? Sekarang saja, dirinya akan bertemu dengan Ian.

Sampailah di tempat acara. Sudah ramai.
Rea : “Katty, I’ll wait you in the car better.”
Katty : “No. You have to come with me.”
Aneh. Rea tak sanggup menolak. Katty membawa poster jumbo Radja dan beberapa foto. Rea membantu membawakan. Dilihatnya, Ian yang masih seperti dulu. Tidak berubah.
Katty dan Rea sampai di meja Seno. Seno memandang wajah Rea.
Seno : “You`re looking so familiar, Girl!”
Rea : “Oh ya?”
Seno tersenyum. Rea berharap, mereka tidak akan ingat dirinya. Tapi, Moldy dan Indra juga merasa kenal dengan Rea. Tibalah di meja Ian. Ian sibuk menandatangani poster-poster milik fansnya. Jantung Rea berdetak amat kencang. Hingga tak sanggup lagi menahan diri. Maka..
Rea : “I, Ian..”
Ian menoleh, dan melihat siapa yang memanggil. Alangkah terkejut dirinya saat tau Rea ada di hadapannya.
Ian : “Rea..”
Rea : “Ian..”
Ian berdiri, dan langsung memeluk Rea di depan para fans.
Ian : “Rea..”
Rea tidak dapat menahan air mata.
Ian berbisik..
Ian : “Aku masih cinta sama kamu.”
Tapi, Rea lekas menyadari, bahwa Ian sudah menikah. Buru-buru, ia melepaskan diri dari pelukan Ian.
Rea : “Sorry, you get wrong girl.”
Rea buru-buru pergi.

Di mobil, Rea mulai bisa menangis dengan lega.
Katty : “Hey, Rea! You said, you don’t know them. But, Ian know you.”
Rea : “Sorry.”
Katty : “So, you know them?”
Rea : “Ian.. Ian.. I love him still like before. I can't forget him, Katty. I can't forget him. Katty, I’m still love him. Ian..”
Katty tidak paham maksud Rea. Tapi, ia tidak banyak tanya.

Para personel Radja kembali ke hotel. Mereka bersiap-siap akan segera berangkat ke China.
Moldy, Seno, dan Indra merasa antusias, karena akan singgah ke China.
Indra : “Gue suka banget sama bintang film Hongkong. Kungfunya itu, loh.”
Moldy : “Lagu-lagu mandarin juga asyik, kan?”
Seno : “Gue punya albumnya Andy Lau sama Jacky Chan. Trus, DVD film mereka juga ada.”
Lain dengan Ian. Ia malah ingat pada Rea. Gadis itu ada di London.
Ian : “Rea.. akhirnya aku menemukannya.”

Rea menelpon Elly.
Rea : “El, gue mau tanya sama lo.”
Elly : “Apa?”
Rea : “Apa bener, Radja go international?”
Elly : “Lo masih inget sama Radja?”
Rea : “Jawab dulu pertanyaan gue!”
Elly : “Iya, bener. Mereka lagi sukses-suksesnya go international saat ini. Kenapa memangnya?’
Rea : “Gue ketemu Ian, El.”
Elly terlonjak dari duduknya.
Elly : “Apa?! Kok bisa?! Kapan? Di mana?”
Rea : “Kemarin, di kota ini. London.”
Terdengar suara tawa bahagia Elly di telpon.
Rea : “El, pasti lo yang bilang sama Ian, kalau gue ada di London. Ya, kan?”
Elly : “Sejak Radja, atau Ian nikah, lo berangkat ke London, gue ga pernah ketemu mereka. Ya.. lo pasti tau kan, definisinya ‘kebetulan’?”
Rea masih tidak percaya dengan penjelasan Elly. Rea makin kesal.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

9
Yakin Akan Cinta

Radja bersiap-siap berangkat ke China untuk konser selanjutnya. Semua sudah siap, kecuali Ian. Ia belum membereskan barang-barangnya untuk segera berangkat. Seno menyusul Ian di kamar hotel. Karena, setelah ditunggu hampir dua jam, Ian tidak juga keluar dari kamar.
Seno : “Lo gila, ya?! Buruan!”
Emosi Seno mulai lepas kontrol.
Ian : “Gue.. ga ikut.”
Seno merasa heran dengan sukap Ian.
Seno : “Lo ngomong apaan?”
Ian : “Gue mau cari Rea. Dia anda di sini.”
Seno : “Udahlah, Ian. Rea itu adanya di Jakarta.”
Ian : “Pokoknya, gue ga akan ikut.”
Seno : “Lo emang udah gila. Ian, lo tuh vokalis. Kalau ga ada lo, siapa yang nyanyi?”
Ian : “Gue tetap pada keputusan. Kalau perlu, sekarang juga, gue keluar dari Radja. Biar gue bisa leluasa nyari Rea.”
Masalah ini diketahui oleh manager Radja.
Manager Radja: “Gini ya, Ian. Lo tuh udah terikat kontrak, jadi ga bisa asal keluar gitu aja.”
Ian : “Tapi, gue ini memang bener-bener gue bisa ikut ke China. Gue ada urusan penting. Bisa?”
Manager Radja: “Ng.. gini aja. Lo boleh nyelesaiin urusan lo. Tapi.. gue cuma bisa ngasih lo waktu seminggu. Gimana?”
Ian : “Oke.”
Maka, tiga personel Radja beserta rombongan berangkat duluan ke China.

Ian menelpon Elly yang ada di Bandung.
Ian : “Ini.. masih nomernya Elly, kan?”
Elly : “Iya. Lo.. Ian, yah?”
Ian : “El, gue mau tanya sama lo, nih. Rea.. di London, tinggal di jalan apa? Nomer telponnya berapa?”
Elly : “Emang mau diapain?”
Ian : “Ya.. gue boleh kan, tanya.”
Sebenarnya, Elly kasihan pada Ian. Tapi, ia tidak mau mengkhianati amanat Rea. Maka..
Elly : “Sorry, gue ga punya nomer telpon dia yang di London. Apalagi, alamatnya.”
Ian : “Masa`, lo ga tau?”
Elly : “Bener. Swear, deh!”

Di tempat lain, Pasha baru selesai ceck sound di sebuah studio bersama personil Ungu yang lain.
Pasha merasa sedikit lelah. Ia pun duduk di dekat Enda, salah satu personil Ungu.
Enda : “Sha, kalau ga salah, lo punya teman cewek yang namanya Rea. Iya, kan?”
Pasha : “Bener. Kenapa?”
Enda : “Kok, sekarang ga pernah kelihatan lagi? Dan.. lo udah jarang pergi ke Bandung. Kenapa?”
Pasha : “Dia lagi kuliyah di London.”
Enda : “Oh..”
Ngomongin soal Rea, Pasha jadi ingat. Betapa sangat berbakatnya gadis itu. Bagimana kabarnya gadis itu sekarang?
Pasha : “Gue jadi kangen sama Rea.”

Saat akan tidur, Pasha iseng mencoba menelpon Rea.

Di London, masih siang. Jadi, Rea sedang sibuk kuliyah. Pada jam kuliyahnya dosen killer ini, tiba-tiba, ponsel bernada dering lagu Ungu-Seperti yang Dulu. Berdering dengan lembut tapi volumenya maksimum. Rupanya, Rea lupa mematikan ponselnya. Buru-buru Rea menerimanya.
Rea : “Hallo!”
Suara Pasha yang merdu, bernyanyi di telinga Rea.
Pasha : “Semuanya telah berakhir/ Antara hatiku dan hatimu/ Tak kan ada cinta/ Seperti yang dulu../ Semuanya telah berakhir/ Antara diriku dan dirimu/ Tak kan ada rindu../ Seperti yang dulu..” (Seperti Yang Dulu – Ungu)
Rea : “Pasha?”
Seisi kelas menoleh pada Rea. Termasuk si dosen killer.
Pasha : “Masih inget, nih?”
Rea : “Ya iya, lah.”
Pasha : “Rea, aku.. kangen kamu.”
Rea : “Sama.”
Tiba-tiba, suara gebrakan membuat ponsel Rea terjatuh, karena Rea terkejut.
Dosen : “What are you doing?”
Rea : “No, Nothing.”
Dosen : “Lie!”
Gara-gara ponsel Rea jatuh, otomatis, sambungan dari Pasha mati.
Pasha yang tidak tau apa-apa langsung telpon balik.
Dosen killer itu yang menerima.
Pasha : “Hallo, Rea! Kamu ga pa-pa, kan? Kok telponnya tiba-tiba mati?”
Lalu..
Dosen : “Don’t distrube my time with your nonsense language!”
Dosen killer itu menyita ponsel Rea.
Rea jadi tidak enak pada Pasha. Pasha, kan ga tau apa-apa.

Pulang kuliyah, dengan pinjam ponsel Katty, Rea mencoba telpon Elly, menanyakan nomer Pasha. Karena, Rea tidak hafal.
Katty : “Who`s called you just now? Is he.. Ian Kasela? Vocalist of The King?”
Rea : “He isn’t. someone whom called me just now is Pasha. Ungu`s Vocalist. My friend.”
Setelah dapat nomernya Pasha, Rea langsung telpon.
Pasha sudah tidur lelap. Ia tidak mengangkat telpon, karena terlalu terbuai mimpi indah.
Tetapi, hal itu membuat Rea merasa, Pasha sedang marah. Rea jadi tidak enak. Apalagi, berkali-kali Rea mencoba menelpon Pasha, tapi, nomernya selalu tidak aktif. Kalau pun aktif, tidak pernah diangkat.

Ian harus keliling London untuk mencari Rea. Padahal, London adalah kota besar, yang sangat padat penduduknya. Ian terus putus asa. Ia mencari ke setiap universitas, atau sekolah-sekolah yang setingkat dengan mahasiswa. Tapi nihil.
Ian begitu letih. Setelah sampai di universitas terakhir yang ia singgahi, dan ia tidak menemukan Rea. Benar-benar letih. Karena letih itu, Ian duduk di trotoar depan gerbang universitas tersebut. Ia mulai berpikir keras. Waktu yang diberi oleh manager tinggal dua hari lagi. Tengah melamun, tiba-tiba, dibalik kacamata hitamnya, ia menyoroti seorang gadis yang baru keluar dari gedung universitas. Tanpa terasa, Ian dibawa melangkah, mendekati gadis itu, dan..
Ian: “Rea..”
Gadis yang memang adalah Rea itu, begitu terkejut.
Rea: “I, Ian..?”
Ian menatap wajah Rea, yang makin cantik saja.
Ian: “Boleh, aku bicara sama kamu?”
Rea: “Bicara apa?”
Ian: “Sesuatu yang perlu kamu tau. Please..”
Rea: “Oke.”
Mereka berdua singgah di sebuah kafe.”

Sebelum bicara, sekali lagi Ian menatap wajah Rea.
Ian : “Rea, sebelumnya, aku pingin bilang sama kamu, kalau aku.. kangen banget sama kamu.”
Rea : “To the point aja!”
Ian : “Oke. Rea, tentunya, kamu tau, kalau aku udah menikah sama Tarin. Perlu kamu tau, aku bahagia.”
Rea : “Oh, jadi, kamu ngajakin aku ngomong berdua, untuk pamer kebahagiaan? Aku kasih tau, yah. Aku, sekarang udah ga mikirin kamu lagi.”
Ian : “Dengerin dulu! Aku bahagia, karena ternyata, Tarin juga ga mencintai aku. Kami sepakat, untuk pura-pura mesrah. Dia, juga dukung aku untuk mencintai kamu. Itu yang buat aku bahagia.”
Rea terdiam.
Ian : “Kamu boleh ga percaya. Karena aku paham. Bagimana perasaan kamu saat ini. Tapi, satu hal yang perlu kamu tau, aku selalu mencintai kamu. Jika Tuhan mengizinkan, walau pun sampai akhir hari, aku akan tetap mencintai kamu.”
Rea masih diam. Kemudian, Ian naik ke pentas kafe, meminjam gitar, lalu bernyanyi.
Ian : “Bukalah hatimu/ Untuk diriku/ Sebelum cinta hilang/ Jangan memaksakan ingin yang lain/ Tunggulah cinta memanggil/ Yakinkan cintamu kepadaku/ Agar aku bisa memiliki/ Setulus hatiku mencintai dirimu/ Lupakanlah semua mimpi-mimpi/ Walau pun bayangan menghantui/ Yang kadang ingin selalu memilih cinta..” (Yakin – Radja)
Lagu berikutnya.. Rea tampil membalas lagu Ian.
Rea : “Ku yakinkan diri.. demi rinduku../ Penawar hanya dari wajah kekasih/ Walau pun rintangan datang menduga/ Ku penuhinya, karena cinta membara/ Oh.. mimpi yang terindah/ Jelmalah dalam nyata/ Wajah-wajah kekasih..” (Wajah-Wajah Kekasih – Siti Nurhalizah)
Rupanya, Rea mulai membuka hatinya kembali untuk Ian. Ian memeluk Rea dengan erat.
Ian : “Aku cinta kamu, Rea..”
Rea : “Aku juga, Ian..”
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

10
Inlah Kebersamaan yang Dinantikan

Hubungan Ian dan Rea makin baik saja.
Ian : “Ng.. Rea, aku harus ke China besok. Kamu.. ikut, yah?”
Rea : “Ngapain ke China? Jauh banget. Lagian, kan aku harus kuliyah.”
Ian : “Radja konser di sana.”
Rea : “Wah! Hebat bener! Oh ya, gimana caranya, Radja bisa go international secepat ini? Kan susah.”
Ian tersenyum. Lalu menceritakan apa, yang ingin Rea tau. Rea makin bangga dengan kehebatan Radja.
Ian : “Ya udah, sekarang, kita putuskan, apa kamu mau ikut aku ke China?”
Rea : “Aku sih.. mau-mau aja. Tapi, aku harus kuliyah. Apalagi, mamaku ga bakal ngasih izin.”
Ian tersenyum.
Ian : “Biar aku yang minta izin sama mama kamu.”
Rea : “Boleh dicoba.”
Hari itu juga, Ian ikut ke rumah Rea, dan bertemu dengan mama Rea.
Rea : “Mama, ini Ian, temen Rea di Indonesia dulu.”
Rea memperkenalkan.
Ian : “Selamat sore, Tante.”
Mama Rea tersenyum keibuan.
Mama Rea : “Ng.. sepertinya, saya pernah liat kamu. Tapi.. di mana, yah?”
Ian terseyum.
Rea : “Di tv kali, Ma.”
Mama Rea : “Kok bisa di tv, sih?”
Rea : “Iya, Ma. Ian.. kan seleb.”
Ian merasa masih malu-malu.
Ian : “Ng.. begini, Tante. Saya pingin ngajak Rea ke China, untuk nonton konser band saya.”
Mama Rea menoleh pada Rea.
Mama Rea : “China? It’s so far, dear.”
Rea : “Yes, I know, Mom.”
Mama Rea : “Dan, kuliyah kamu belum libur, kan sayang?”
Rea : “Nah, Ian, aku bilang apa tadi?”
Ian punya ribuan akal rupanya.
Ian : “Ng.. Tante, saya ngajak Rea, juga untuk promosi lagu yang pernah saya nyanyikan sama Rea, waku di Indonesia dulu.”
Mama Rea tersenyum.
Mama Rea : “Mm.. oke. No problem.”
Rea : “Thank you, Momy.. I love you.”
Rea memeluk mamanya.
Ian : “Terimakasih, Tante.”

Keesokan harinya, Rea ikut Ian ke China.

Di Indonesia..
Elly dan Ryan lagi diskusi soal mata pelajaran, sambil nonton tv.
Elly : “Ng.. ngomong-ngomong.. kok, sekarang, lo ga pernah tanya-tanya tentang Rea?”
Ryan terdiam.
Tiba-tiba..
Ryan : “Eh, El! Itu.. Rea, kan? Sama.. siapa, tuh?”
Elly melihat ke tv. Memang ada sahabatnya di situ.
Elly : “Rea.. sama.. Ian? Wow! Spektakuler! Gila!’
Raut wajah Ryan berubah.
Elly : “Akhirnya!”
Rupanya, konser Radja di China diliput oleh sebuah acara infotainment. Begitu meriah. Apalagi, ditambah dengan kehadiran Rea, yang kemudian tampil bersama Ian, plus Radja.
Buru-buru, Elly menelpon Rea.
Elly : “Re, lo udah baikan sama Ian, yah?”
Rea : “Ya.. gitu, deh.”
Elly : “Tapi, kan, Ian udah punya.. istri.”
Rea : “Damai aja, boleh, kan?”
Diam-diam, Rea sebenarnya juga menyadari, bahwa Ian masih suami orang.

Rea mencari Ian di kamarnya, untuk menawarkan makan siang. Tapi, Ian tidak ada. Rea bertemu dengan Seno.
Rea : “Ng.. Seno! Lo.. liat Ian, ga?”
Seno : “Ian?”
Mengingat Ian sangat mencintai Rea, sampai mengundur jadwal konser, serta tidak memikirkan istrinya, Seno jadi agak tidak suka pada Rea. Dengan ketus, Seno menjawab pertanyaan Rea.
Seno : “Lo.. kan ceweknya. Masa` ga tau di mana Ian?”
Kemudian pergi.
Rea merasakan rasa tidak suka itu. tapi, Rea diam saja.
Berbeda dengan Moldy dan Indra. Keduanya malah ikut senang, dengan usaha Ian, untuk bisa bersama lagi dengan Rea.
Indra : “Emang, cowok itu, kalau udah cinta, harus berani berkorban.”
Moldy : “Kalau diliat-liat.. kalian serasi, kok.”
Ian : “Thanks, friends!”
Lalu, Rea datang.
Rea : “Kamu di sini, ternyata, Ian?”
Ian tersenyum pada Rea.
Ian : “Kamu.. nyari aku?”
Rea : “Iya. Aku baru beli makan siang. Jadi, sekalian mau nawarin kamu.”
Moldy & Indra: “Buat kita mana?”
Rea : “Kalau mau, silahkan!”
Ian : “Ayo, bareng-bareng!”
Setelah makan siang itu, Moldy dan Indra pamit, kembali ke kamar mereka. Maka, tinggallah Ian dan Rea berdua.
Ian : “Aku.. seneng banget, karena sekarang, kita udah baikan. Aku sayang kamu, Rea.”
Rea : “Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi.. gimana sama Tarin? Walau pun kalian pura-pura, semua orang tetap taunya, kalian suami-istri.”
Rea : “Ian, aku ga pingin dang a mau dianggap merusak rumah tangga orang. Apalagi, dijuluki perebut suami orang. Aku ga mau.”
Ian : “Itu, ga akan pernah terjadi. Aku janji. Semua orang di seluruh dunia akan segera tau, kalau aku hanya mencintai kamu.”
Tekad Ian besar sekali. Namun, Rea juga merasa bersalah. Karena, tidak seharusnya dirinya ikut Ian, yang.. sudah punya istri.

Setelah konser di China selesai, Rea kembali ke London. Ian sendiri yang mengantar, sampai ke rumah.
Rea : “Abis ini, Radja konser di mana?”
Ian : “Untuk sementara waktu, kami pulang ke Jakarta. Istirahat. Trus, nyiapin konser ke Amerika. Doain, yah!”
Rea : “Aku doain, semoga, kalian sukses.”

Ian kembali ke Indonesia. Tarin menyambutnya.
Tarin : “Kamu.. pasti capek. Aku udah siapin air hangat buat kamu mandi. Trus, untuk makan malam, ada sup wortel kesukaan kamu.”
Ian : “Rin, ada yang mau aku omongin sama kamu.”
Tarin : “Nanti aja. Kamu cepet mandi, trus makan malam.”

Setelah makan malam, Ian ingin bicara dengan Tarin. Tapi, ternyata, Tarin sudah tidur. Maka, Ian putuskan, untuk bicara besok saja.

Di London terjadi masalah serius di keluarga Rea. Perusahaan papanya di kota itu bangkrut. Maka, mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia, dan papa Rea memutuskan, akan konsentrasi pada perusahaan yang di Bandung saja.
Rea kuliyah satu kampus dengan Elly dan Ryan.
Elly : “Akhirnya, kita kumpul lagi.”
Ryan : “Rea, lo makin cantik aja.”
Rea : “Bisa aja lo, Yan.”
Kemudian, Rea ingat Pasha. Rasa bersalah itu masih ada.
Rea : “Oh ya, kabar Pasha gimana? Gue jadi kangen, nih.”
Elly : “Pasha, lagi konser promo album di beberapa kota besar di Jawa. Sekarang, udah sampe di Jogja.”
Rea : “Wah, asyik, dong!”

Keesokan paginya, Rea libur kuliyah. Tapi, ia tidak bisa tidur, dan membuatnya jadi bangun pagi.
Ia menyapa papa yang lagi baca Koran, sambil lihat berita di tv.
Rea : “Selamat pagi, Papa!”
Papa Rea : “Pagi, Sayang! Kamu mau jogging?”
Rea : “Iya. Mm.. nonton apa, Pa?”
Papa Rea : “Ini, loh, di Jogja terjadi gempa bumi, barusan, sekitar jam setengah enam. Banyak yang tewas.”
Rea : “Gempa? Di Jogja?”
Rea ingat Pasha. Rea langsung menghubunginya lewat handphone-nya. Tapi, handphone Pasha tidak aktif. Rea jadi khawatir.
Setelah acara bertia itu habis, kemudian, ada acara infotainment. Berita buruk muncul sebagai berita utama. Yaitu, hotel tempat Ungu menginap diguncang gempa bumi, tapi untungnya tidak roboh. Karena gempa itu, personel Ungu bergegas meninggalkan hotel. Termasuk Pasha. Rupanya, mereka terpisah, dan Pasha pun tersesat. Itulah beritanya. Membuat Rea semakin khawatir.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

11
Cinta Terusik Gempa

Rea langsung terbang ke Solo, dengan pesawat paling pagi. Ia hanya ditemani Elly dan Ryan. Mereka melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan bus.
Di sepanjang jalan, terlihat kerusakan di mana-mana. Juga di trotoar jalan, banyak orang yang terluka. Bangunan-bangunan seperti rumah, hotel, sekolah, kantor, dan restaurant roboh. Walau pun ada yang tidak roboh, tapi mengalami kerusakan yang cukup parah.
Rea : “Pasha..”
Elly : “Kasihan Pasha.. Aduh.. gimana, dong?”
Ryan : “Kita doain, semoga Pasha baik-baik aja.”
Rea menangis.
Rea : “Gue belum minta maaf sama dia. Gue ga bakal bisa hidup tenang, kalo belum nemuin dia.”

Di Jakarta..
Ian membeli banyak sekali bunga, dan membawanya ke Bandung untuk Rea. Tapi, ketika sampai di Bandung, Ian hanya bertemu dengan Mama Rea.
Mama Rea : “Oh, Nak Ian.. Rea sedang tidak ada.”
Ian : “Ke mana, Tante?”
Mama Rea : “Pergi ke Yogyakarta. Temennya ada yang jadi korban gempa.”
Ian : “Temen?”
Mama Rea : “Iya. Kalo ga salah, namanya.. Pa.. Pasha. Iya.”
Ian baru menyadari. Bukankah Rea masih pacar Pasha?
Dalam perjalanan pulang, Ian mencoba untuk menghubungi Rea. Tapi gagal. Handphone Rea tidak aktif.

Di Yogyakarta..
Rea mencari Pasha ke sejumlah rumah sakit, dan tempat-tempat pengungsian. Tapi tidak ketemu juga.
Rea menghampiri seorang perawat.
Rea : “Ng.. Mbak, pernah liat orang ini, ga?”
Perawat itu melihat gambar wajah di foto. Lalu ia tersenyum.
Perawat : “Di.. TV, saya sering lihat. Kalau di sini.. ga ada.”
Mungkin perawat itu mengira Rea sudah gila.

Rea hamper putus asa. Sudah tiga hari, ia dan dua sahabatnya mencari Pasha tidak ketemu juga.
Ryan : “Gini aja, deh. Kita sebarin foto-fotonya ke semua rumah sakit, kantor polisi, dan tempat-tempat pengungsian. Dengan begitu, yang namanya Pasha ini, pasti gampang nyarinya.”
Rea : “Lo bener, Yan.”
Elly : “Aduh..! Pasha cakep..! Cepet pulang, dong..! Gue khawatir banget sama lo, nih..”
Mereka bertiga segera melaksanakan ide Ryan.
Percuma. Usaha ini tidak berhasil. Rea putus asa, sampai jatuh sakit. Ryan dan Elly membawanya pulang ke Jakarta.

Seorang gadis sedang mendirikan posko bantuan untuk gempa Yogyakarta. Ia dibantu oleh beberapa temannya.
Rissa : “Tolong, terpalnya agak tinggi lagi!”
Beni : “Ris, pakunya kurang.”
Rissa : “Kalo gitu, gue cari dulu, deh.”
Rissa buru-buru pergi ke dekat reruntuhan rumah yang sudah hancur. Karena tidak ada took yang jualan paku, maka ia mencari di situ. Kemudian..
“Tolong..”
Terdengar suara aneh dari reruntuhan bangunan itu.
Rissa mencoba mengangkat beberapa kayu fondasi rumah, dan ada seseorang yang tertimbun, tapi masih hidup.
“Tolong..”
Suara itu makin jelas, saat Rissa melihat sebuah tangan melambai-lambai. Rissa segera memanggil temannya untuk menolong orang itu. Berhasil. Orang itu terluka, dan segera dibawa ke rumah sakit. Badannya penuh luka. Untung saja, wajahnya dapat dikenali. Tetapi, rupanya tidak ada yang kenal identitasnya. Apalagi, pria ini tidak bawa satu identitas pun.
Setelah dua jam, akhirnya kesadaran pria itu pulih.
Pria : “Di mana saya..?”
Rissa : “Kamu ada di rumah sakit.”
Pria : “Kamu siapa?”
Rissa : “Saya Rissa. Aktivis social dari Jakarta. Kamu?”
Pria : “Saya.. nama saya..”
Pria itu merasa pusing karena mencoba mengingat siapa namanya.
Pria : “Sa, saya.. tidak ingat.”
Rissa begitu terkejut. Segera ia memanggil dokter.
Dokter : “Kepalanya terbentur begitu keras. Hingga menyerang otak dan syarafnya. Itu menyebabkan daya ingatnya berkurang. Dan banyak memori yang hilang.”
Rissa : “Apa.. dia bisa pulih?”
Dokter : “Kita doakan saja.”
Rissa jadi kasihan.

Infotainment pagi ini begitu mengejutkan. “Berita duka, datang dari salah seorang personel Ungu, yaitu Pasha. Sampai hari ini, ia juga tidak segera ditemukan. Dan baru saja, kami menerima kabar, bahwa Tim SAR menemukan jasad pemuda, yang cirri-cirinya mirip Pasha. Tapi, wajahnya rusak. Maka, dinyatakanlah, bahwa Pasha Ungu tewas. Ia turut jadi korban tewas akibat gempa di Yogyakarta.”
Rea pingsan karena kabar buruk itu. Saat sadar, ia malah menangis.
Rea : “Pasha..”
Elly, si fans berat Ungu, terutama Pasha, juga ikut histeris.

Satu minggu kemudian..
Ian baru dengar kabar buruk itu, dan langsung ke Bandung, untuk menghibur Rea, yang pasti sedang sedih.

Di posko bantuan milik Rissa, makin ramai saja. Di tambah teman baru mereka, Rizky. Nama baru pria asing yang hilang ingatan itu.
Rissa : “Rizky, apa.. kamu beneran ga inget sama satu aja masa lalu kamu?”
Rizky : “Ga tau. Kayaknya sih, ga ada. Tapi, setiap saya tidur, selalu ada seorang cewek yang muncul dan nangis. Dia bilang, namanya Rea.”
Rissa : “Oh.. cuma mimpi?”

Kedatangan Ian, disambut hangat oleh Rea.
Rea : “Ian, rasanya.. baru kemarin aku kenalan sama Pasha. Teriakin nama dia, demi Elly. Nyanyi bareng sama dia. Tapi sekarang.. dia.. ga ada.”
Ian mendekap Rea.
Ian : “Sabar, ya. Kita cuma manusia biasa, yang ga bisa apa-apa, kalau Tuhan sudah nentuin. Aku yakin, Tuhan pasti pny maksud dibalik musibah ini.”
Rea : “Ian, Pasha itu, baik banget. Dia orang yang bisa bikin aku tenang. Kenapa dia ninggalin aku? Ini, terlalu cepat.”
Ian : “Aku doakan semoga kamu bisa mendapatkan pengganti sebaik dia.”
Rea lepas dari dekapan Ian.
Rea : “Pengganti?”
Ian : “Bukannya.. Pasha masih.. pacar kamu?”
Rea terdiam. Ia baru ingat dengan sandiwara konyol itu. Ternyata, Ian juga masih ingat.
Rea : “Sebenernya, aku sama Pasha ga pernah pacaran. Sorry, waktu itu, aku terbawa emosi.”
Terbesit rasa senang di hati Ian. Senang, karena ternyata Rea bukan pacar Pasha.
Ian : “Rea, itu tandanya, masih ada kesempatan buat aku untuk jadi.. kekasih kamu?”
Rea diam. Ian masih suami orang. Kalau dirinya jadi kekasih Ian, berarti, dirinya akan jadi seorang pacar gelap. Sesuatu yang tidak mungkin. Tadi ada orang yang ingin jadi pacar gelap. Walau pun Rea begitu mencintai Ian.
Rea : “Ian, mungkin kita memang ga ditakdirin untuk bersama. Lebih baik, lupain soal cinta yang ada di antara kita. Kita.. temenan biasa aja, kayak dulu.”
Ian : “Apa.. karena aku udah menikah?”
Rea tidak menjawab.

Rea sedang kalut. Ia meluapkan kekalutannya pada minuman keras di sebuah kafe. Mabuk, sudah pasti. Rea jadi tidak bisa bangun.
Rea : “Pelayan..!”
Seorang pelayan berjalan menghampiri Rea.
Rea : “Brandy, satu botol gede lagi!”
Pelayan : “Tapi, anda sudah mabuk berat.”
Rea : “Eh! Ini bukan urusan lo! Gue tamu di sini. Masih kuat bayar sepuluh botol lagi.”
Pelayan itu pun menuruti permintaan Rea.

Kafe mau tutup. Tapi, Rea tidak mampu berdiri. Seorang pelayan menarik Rea, keluar dari kafe, dan mendorongnya ke trotoar.
Rea : “Gue masih mau minum!”
Kemudian, seorang laki-laki datang membantunya berdiri. Rea tertidur. Laki-laki itu membawa Rea ke hotel.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

12
Pasha Kembali

Rea terbangun. Perlahan, ia membuka mata, dan melihat sebuah ruangan asing. Kamar hotel.
Rea : “Gu, gue di mana?”
Kemudian..
“Udah bangun, Non?”
Suara ini.. familiar banget. Rea menoleh, dan.. seseorang yang amat ia kenal. Pernah dekat. Bukan Ian. Dia adalah..
Rea : “Pasha?”
Laki-laki itu tersenyum. “Aku bukan Pasha. Nama aku.. Rizky.”
Rea : “Ga. Pasha.. kamu jangan bercanda! Pasha..!”
Rea mendekati laki-laki yang wajah dan penampilannya mirip banget sama Pasha. Tapi, laki-laki itu mengaku bernama Rizky. Rea tidak peduli. Dipeluknya laki-laki itu, dengan penuh rasa rindu bercampur haru.
Rea : “Mereka bilang, kamu udah mati.”
Rizky : “Aduh, Non!”
Rizky melepaskan pelukan Rea.
Rizky : “Aku bukan Pasha. Tapi Rizky.”
Rea menatap wajah Rizky.
Rea : “Ga. Kamu Pasha. Kamu lupa sama aku? Ini aku Rea. Pasha!”
Rizky menganggap Rea masih mabuk.
Rizky : “Ya udahlah, terserah kamu. Sekarang, aku harus pergi.”
Rea : “Tapi, Pasha, jangan pergi! Pasha..!”
Tiba-tiba..
Rupanya itu semua hanya mimpi. Rea terbangun, dan hari sudah pagi. Menyadari, itu hanyalah mimpi, Rea malah menangis.
Rea : “Pasha..!”

Rea masuk ke kelas. Ia bertemu Elly yang juga masih sedih dengan kepergian Pasha.
Rea : “El, semalem, gue.. mimpi ketemu Pasha.
Elly : “Apa?!”
Rea : “Tapi, dia ga inget gue. Trus, dia ngakunya bernama Rizky. Mimpi itu, rasanya nyata banget.”
Elly jadi menangis.
Elly : “Pasha..! Gue kangen banget sama lo. Ungu ga panter kalo tanpa Pasha.”

Rissa dan beberapa teman aktivis sosialnya harus kmbli ke Jakarta. Ada satu masalah yang membuat mereka bingung. Rizky.
Rissa : “Gue ga mungkin ngajak cowok tinggal di rumah gue. Bokap gue orangnya keras.”
Beni : “Ng.. kalo gitu, Rizky ikut gue aja, deh.”

Rizky ikut Beni ke Jakarta.
Beni : “Ng.. kayaknya nih, ya, gue pernah liat lo, deh.”
Rizky : “Andaikan ingatan gue cepet balik.”
Beni menyetel radio. Lagunya..
“Demi waktu..
Yang bergulir di sampingmu..”
Rizky : “Maafkanlah diriku.. sepenuh hatimu.. Seandainya bila..” (Demi Waktu – Ungu)
Rizky ikut bernyanyi.
Mendengar suara Rizky yang mirip banget sama yang nyanyi di radio, Beni jadi ingat.
Beni : “Oh iya, gue tau sekarang siapa lo sebenernya.”
Rizky : “Siapa?”
Beni : “Lo tuh, Pasha, vokalisnya Ungu. Wah..! Keren. Gue nge-fans banget sama lo. Wah..”
Beni benar-benar ingat, kalau Rizky ini, adalah Pasha, vokalis band Indonesia, yang lagi asyik naik daun.
Beni : “Tapi, kok lo bisa amnesia, sih? Gimana ceritanya?”
Rizky diam, tanpa ada jawaban. Ia masih bingung. Kalau pun benar, dirinya adalah vokalis Ungu itu, lantas mau apa? Dirinya saja tidak ingat lagu-lagu, yang pernah dinyanyikan saat masih jadi vokalis Ungu.

Rupanya, Ryan masih menyimpan perasaan cinta pada Rea. Ryan ingin sekali, supaya Rea tau, betapa besar rasa sayangnyautk cewek, yang selalu satu sekolah sejak SMP, sampai perguruan tinggi ini. Maka, dengan modal pede, Ryan ngajakin Rea ng-date.
Rea : “Nge-date? Sama lo? Ryan, lo ga lagi mabuk, kan?”
Ryan : “Gue dalam keadaan dalam keadaan sadar, Rea. Gue.. sayang sama lo.”
Rea : “Yan. Gue juga sangat sayang sama lo. Lo adalah sahabat. Malah, udah kayak abang gue sendiri.”
Ryan : “Sebagai sahabat dan kakak doang?”
Rea : “Gue, sejak kecil berharap punya kakak laki-laki yang bisa ngelindungin gue. Juga sayang sama gue. Jadi, arti seorang kakak buat gue itu, lebih dari arti seorang pacar. Gue, ga bakal rela kehilangan lo. Walau pun lo bukan kakak kandung gue.”
Ryan terharu dengan kata-kata Rea. Rea benar. Lebih baik, dirinya menjadi kakak saja. Dari pada selalu merasa tak rela, jika Rea mulai dimiliki oleh Ian. Satu-satunya pria di dunia ini, yang sangat Rea cintai.

Rizky tinggal di rumah pribadi milik Beni.
Rizky : “Lo.. bisa ga, bantu gue cari kerja? Kan, ga selamanya gue harus tinggal di rumah lo ini.”
Beni tertawa.
Beni : “Lo ga perlu gue cariin, juga udah punya pekerjaan. Besok, gue anterin lo ke studio band lo, Ungu. Gue yakin, banyak fans lo yang udah kangen.”
Rizky tersenyum.
Rizky : “Lo yakin banget. Kalo salah, gimana?”
Beni : “Ga bakal salah, deh. Kita coba aja besok.”
Rizky : “Terserah lo, deh.”

Di studio Ungu..
Enda dan Oncy baru sampai.
Oncy : “Kalo ngeliat ruangan studio ini, gue jadi inget sama Pasha.”
Enda : “Trus, nasib band kita gimana?”
Oncy : “Gue juga bingung, Nda..”

Ian masih di Bandung. Tepat di samping Rea. Gadis itu perlu dihibur.
Rea : “Ian, aku mimpi ketemu Pasha. Tapi.. dia ngaku punya nama Rizky. Aneh, ya?”
Ian tersenyum.
Ian : “Aku berharap, semoga Pasha belum mati. Soalnya, aku ngerasa ada yang aneh sama penemuan jenazah yang mukanya rusak itu. Di dunia ini, banyak orang yang ciri-cirinya mirip.”

Beni benar-benar mengantar Rizky ke studio Ungu.
Beni : “Ini, adalah studio-nya Ungu. Lo liat poster gede itu. Itu, elo!”
Rizky melihat poster besar bergambar lima orang cowok. Ada dirinya juga. Namun, Rizky belum ingat apa-apa. Malah, kepalanya jadi pusing, saat mencoba ingat dengan paksa.
Rizky : “Lo.. tau nama mereka semua?”
Beni : “Ya iya, lah. Gue nih, nge-fans kalian, sejak denger lagunya Bayang Semu itu lo masih gondrong, dan.. tergolong artis baru, gitu.”
Kemudian, mereka masuk.
Beni : “Ng.. lo pake kaca mata item dulu. Kalo ga, para fans dan wartawan bisa nyerbu lo. Bisa bonyok, kita.”
Rizky menurut saja.
Di studio Ungu, hanya ada Enda dan Oncy.
Oncy : “Kenapa, waktu kita lari keluar dari hotel kita lupa ngajak Pasha? Gue benar-benar ga habis pikir.”
Enda : “Iya. Gue juga mikir sama kayak lo. Dan, gue jadi nyesel. Ngerasa bersalah sama dia.”
Tengah mereka sedang bicara, tiba-tiba..
“Permisi..”
Enda : “Ya?”
Rupanya Beni dan Rizky.
Beni : “Ng.. kalian.. Oncy sama Enda, ya?”
Enda : “Iya. Kenapa emangnya?”
Beni : “Ada.. yang mau gue tunjukin sama lo berdua.”
Enda : “Apa?”
Beni : “Ini.”
Beni menunjuk Rizky yang berdiri di sampingnya. Enda dan Oncy memperhatikan Rizky dengan cermat. Sebelum menyebutkan nama, Beni menjelaskan keadaan Rizky.
Beni : “Ini.. temen gue, namanya.. Rizky. Bukan nama asli. Karena gue dan temen-temen, nemuin dia, dalam keadaan terluka, dan amnesia. Kami ketemu di Yogyakarta, saat gempa. Gue baru sadar, kalau ternyata, dia temen lo juga. Dia adalah..”
Beni membuka kaca mata Rizky, dan..
Oncy : “Pasha?”
Enda : “Ya ampun, Pasha?!”
Beni : “Gue baru nyadar, kalau dia Pasha, waktu dia nyanyiin lagu Demi Waktu.”
Oncy dan Enda memeluk Rizky. Rizky sendiri, sebenarnya agak risih.
Rizky : “Lo berdua siapa?”
Oncy : “Gue Oncy. Ini Enda. Lo udah inget, kan?”
Rizky menggelengkan kepala.
Enda : “Ga pa-pa lah. Yang penting, lo masih hidup. Soal ingatan, bisa pelan-pelan.”
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

13
Akhrnya Kau Kembali

Rizky kembali jadi Pasha. Ia akan jadi Pasha untuk selamanya. Walau pun ingatannya belum kembali. Oncy dan Enda sepakat merahasiakan ini dari orang lain, termasuk Maki, Rowman, dan manager mereka. Terutama wartawan.
Enda : “Kami berdua, akan Bantu lo inget sama masa lalu lo. Tapi, pelan-pelan, ya..”
Pasha : “Makasih, kalian semua..”
Oncy : “Oh ya, dulu, lo sering liat tayangan ulang konser kita, yang udah direkam ke video, untuk evaluasi diri. Sekarang, lo liat lagi, untuk membantu ingatan lo balik.”
Pasha : “Thanks, yah..”

Suatu malam..
Ian baru pulang dari Bandung. Tarin menyambutnya.
Tarin : “Gimana keadaan.. siapa nama cewek kamu itu?”
Ian : “Rea? Dia baik-baik aja. Dia belajar menerima kenyataan. Dan.. berhasil.”
Tarin membantu Ian bertukar pakaian.
Tarin : “Walau pun kita sepakat untuk hidup sendiri-sendiri, status kita, masih suami istri. Jadi.. kamu jangan terlalu dekat sama Rea. Nanti, apa kata orang?”
Ian : “Kita cerai aja, yah..”
Kata-kata itu keluar dengan fasih dan tanpa paksaan dari lubuk hati Ian yang paling dalam.
Tarin : “Cerai? Kalau.. orang tua kita marah?”
Ian : “Rin, ini pernikahan kita. Bukan mereka. Kita yang jalanin. Jadi, kita mau cerai atau ga, ga akan berpengaruh apa-apa sama mereka. Iya, kan? Lagian, aku ga pingin jauh dari Rea. Aku mencintai dia, Rin.”
Tarin : “Iya. Aku ngerti perasaan kamu. Tapi, kamu harus bisa jaga jarak sama Rea. Untuk sementara. Kan, orang taunya, kamu suami aku, dan aku istri kamu. Apa kata orang, kalau liat kamu jalan bareng terus sama cewek lain, dan jarang di rumah sama istri? Udah, deh. Kamu pikirin aja nama baik Radja. Ntar, kamu dicap sebagai vokalis ga setia sama istri. Ngerti, kan?”
Ian diam saja. Bukan berarti setuju dengan apa yang dikatakan Tarin. Malah, masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Karena, bagi Ian, berada di samping Rea, adalah tempat yang pas, dan tak tergantikan. Baginya pula, Rea lebih dari segalanya.

Beni memberitau Rissa tentang Rizky.
Rissa : “Wah, yang bener, lo?! Jadi, Rizky itu, Pasha Ungu? Yang nyanyi Bayang semu, kan?”
Beni : “Iya. Tapi, usahain, lo jangan cerita ke siapa-siapa dulu. Oke?!”
Rissa : “Iya. Gue ngerti.”

Suatu hari..
Mama Rea : “Dear..!”
Rea : “Yes, Mom..?!”
Mama Rea : “Sebentar lagi, your aunty will come here with her daughter.”
Rea : “Tante Vina sama Rissa, ya, Mom?”
Mama Rea : “Iya. Tante Vina, mau mama ajak belanja. Trus, si Rissa, katanya kangen sama kamu. Kan.. udah lama ga ketemu.”
Rea : “Wah.. sekarang Rissa kayak apa, ya? Pasti tambah cantik.”
Ketika jam makan siang, Tante Vina dan Rissa datang.
Mama Rea : “Vina! I miss you so.. Oh, ini Rissa, your sweaty daughter, right?”
Tante Vina : “Iya, Bren. Aku juga kangen sama kamu.”
Rissa : “Tante, mana Rea?”
Mama Rea : “Sebentar. Dear..!”
Rea menyahut.
Rea : “Yes, Mom!”
Mama Rea : “Rissa has comed!”
Rea segera menyambut.
Rea : “Rissa..!”
Rissa : “Rea! Gimana kabarnya?”
Rea : “Baik.”
Tante Vina : “Ya udah, Brenda, kita berangkat sekarang?”
Mama Rea : “Sure. Rissa, temenin Rea aja di sini.”
Rissa : “Iya, Tante.”
Maka, setelah Mama Rea dan Tante Vina pergi, tinggallah Rissa menemani Rea.
Rissa : “Kok, lo agak kurusan, yah? Apa mungkin gue kurang perhatian sama lo?”
Rea : “Apa iya, kurusan?”
Rissa : “Ya udah, sekarang, apa aja kegiatan lo? Kuliyah, ya?”
Rea : “Iya. Tapi, tetep nyanyi di kafe. Seperti biasa. Kalo lo?”
Rissa : “Gue diutus untuk nanganin posko bantuan di Yogyakarta gitu, deh. Sama Beni. Lo inget Beni, kan?”
Rea terdiam. Mendengar nama Yogyakarta, jadi ingat pada Pasha.
Rea : “Ris, ceritain yang di Yogyakarta, dong!”
Rissa : “Wah, pokoknya mengharukan banget, deh.”
Kemudian, dengan semangatnya, Rissa menceritakan semua kegiatanya, sewaktu di Yogyakarta.
Rissa : “Trus, ada nih, pengalaman hebat.”
Rea : “Gimana ceritanya?”
Rissa : “Waktu gue lagi nyari paku di reruntuhan rumah, gue denger ada orang yang minta tolong gitu. Trus, gue sama Beni langsung bawa dia ke rumah sakit. Pas sadar, dia.. ga inget apa-apa. Ya udah, gue kasih dia nama Rizky.”
Rea : “Rizky?”
Rissa : “Iya. Uniknya, dia bilang, sering mimpiin cewek, namanya sama kayak lo. Rea.”
Rea : “Apa?”
Rea kembali ingat dengan mimpinya saat bertemu Pasha, tapi ngaku punya nama Rizky.
Rissa melanjutkan cerita tentang Rizky.
Rissa : “Hebatnya lagi, kemarin Beni telpon gue, dan bilang, kalo Rizky udah nemuin jati dirinya.”
Rea : “Trus, sebenernya, Rizky itu siapa?”
Rissa : “Rizky itu, vokalisnya Ungu, yang diberitain tewas karena gempa di Yogyakarta.”
Rea : “Be.. berarti.. dia..”
Kemudian.. “Rea..”
Rea menoleh. Ian datang.
Rea : “Ian?!”
Buru-buru, Rea memeluk Ian penuh rasa haru.
Rissa : “Lo kenapa, Re?”
Rea tidak menjawab.
Rea : “Ian, Pasha masih hidup.”
Ian : “Kata siapa?”
Rea : “Rissa, sepupu aku, yang nyelametin.”
Ian masih bingung.
Rissa : “Lo kenal sama Pasha?”
Rea : “Iya. Ris, anterin gue ketemu Pasha.”
Sebenernya, Rissa keceplosan ngomong.
Ian : “Ng.. Mbak, tolong, anterin kami.”
Rissa : “O, oke.”
Rissa membawa Ian dan Rea ke tempat di mana Pasha ada saat ini.
Rissa : “Pasha ada di studio Ungu.”
Ian segera tancap gas ke Jakarta, ke studio Ungu.

Di studio Ungu, Pasha sedang mencoba belajar lagu-lagu Ungu. Dibantu Oncy dan Enda saja.
Pasha : “Lagu yang ini enak, yah.”
Pasha menunjuk lagu yang berjudul Seperti yang Dulu.
Enda : “Itu lagu kesukaan lo.”
Oncy : “Ng.. ngomong-ngomong.. lo juga ga inget sama.. Rea?”
Pasha : “Rea?”
Pasha jadi ingat, waktu masih di Yogyakarta, ia sering bermimpi tentang seorang cewek, namanya Rea.
Pasha : “Siapa Rea?”
Enda : “Dia, cewek, temen lo yang kuliyah di London.”
Pasha : “Gue ga inget.”
Oncy : “Ya udah, lah. Pelan-pelan aja.”
Pasha : “Emangnya.. Rea itu deket banget sama gue?”
Enda : “Kalian sahabat dekat. Tapi belum terlalu lama. Dia juga pernah curhat sama lo.”
Pasha terdiam. Ia merasa, yang namanya Rea ini begitu dekat. Dan Pasha seperti sudah lama merindukannya.

Aneh. Rea jadi gugup mau bertemu Pasha. Padahal, nge-fans aja, ga.
Rea : “Ris, Pasha.. ga terluka, kan? Dia.. baik-baik aja, kan?”
Rissa : “Lukanya, Cuma luka lecet. Tapi udah pada sembuh. Dia baik-baik aja.”
Ian : “Rea, kamu tenang. Pasha pasti baik-baik aja.”

Sampailah Ian, Rea, dan Rissa di studio Ungu.
Mulai terdengar sebuah lagu yang dinyanyikan Pasha.
“Melayang, bagaikan terbang ke awan / Ku terawang dalam buai bayang-bayang gelap/” (Bayang Semu – Ungu)
Rea : “I, itu kaset, atau Pasha beneran?”
Ian : “Kita liat aja, deh.”

Ketika memasuki ruangan studio Ungu, alangkah kagetnya Rea, melihat Pasha. Seorang sahabat yang lama tak jumpa dan makin menghilang.
Pasha pun sama kagetnya. Karena, gadis di depannya ini sama persis dengan Rea yang pernah muncul dalam mimpi.
Mata mereka pun saling bertatapan. Suasana jadi hening.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

14
Lupakanlah Aku

Rea : “Pa.. Pasha..”
Mata Rea mulai basah. Karena air mata penuh haru.
Rea : “Pa, Pasha.. Ini kamu, kan?”
Pasha diam saja. Tapi ia menganggukkan kepala.
Rea : “Aku.. ga mimpi, kan?”
Tanpa banyak bicara lagi, Rea memeluk Pasha.
Rea : “Jangan pergi lagi, ya..”
Ian menyaksikan itu semua. Ada rasa cemburu di hatinya. Ia merasa, Rea akan lebih nyaman di samping Pasha, dari pada dengan suami orang. Diam-diam Ian pergi meninggalkan tempat itu.

Rea melepaskan pelukannya.
Rea : “Pasha, aku kangen banget sama kamu.”
Pasha tersenyum saja.

Rissa, Oncy, dan Enda meninggalkan Pasha dan Rea berdua.
Rissa : “Emanganya.. Pasha sama Rea udah lama kenal?”
Enda : “Ya.. belum sampai dua tahun.”
Oncy : “Oh ya, makasih, udah nyelametin Pasha.”
Rissa : “Kalian tau dari mana, kalau gue..”
Oncy : “Dari Beni.”
Rissa : “Sebenernya.. gue keceplosan cerita ke Rea.”
Oncy : “Ga pa-pa. Keceplosan kamu Bantu kami, kok.”

Pasha terus menatap mata Rea. Lebih dalam dan semakin dalam. Ia berharap, dapat menemukan masa lalunya.
Rea : “Waktu kamu ga ada, aku sering mimpiin kamu. Tapi, kamu ngakunya bernama Rizky. Mimpi itu terasa begitu nyata. Dan membuataku percaya, kalau kamu masih hidup.”
Pasha : “Aku juga sering mimpiin kamu. Tapi aku ga bisa mengenali kamu.”
Rea : “Ya udah, mulai sekarang, kita mulai lagi menata masa depan kamu. Aku yakin, suatu hari nanti, kamu pasti inget dengan masa lalu kamu. Aku yakin itu.”
Pasha : “Kamu baik banget, yah..”

Rissa : “Eh, ngomong-ngomong.. tadi gue sama Rea ke sini bareng Ian Kasela. Trus, sekarang, kok dia ga ada?”
Enda : “Iya, ya. Tadi gue juga liat Ian. Ke mana dia?”
Oncy : “Mungkin pulang duluan.”
Rissa : “Tapi.. kok ga pamit?”

Dalam perjalanan..
Ian mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Dalam pikirannya ada sebuah rasa takut kehilangan. Ya. Ian memang tidak bisa kehilangan Rea. Timbul banyak kata ‘andai’ yang membuat Ian jadi merasa demikian. Bagimana kalau seandainya Pasha pun mencintai Rea? Otomatis, Ian pasti akan kehilangan Rea untuk kedua kalinya.
Ian : “Ga. Ini ga boleh terjadi. Gue ga bisa kehilangan Rea lagi.”

Sampai di rumah..
Ian : “Tarin!”
Tarin keluar dari kamarnya.
Ian : “Kita percepat proses perceraian kita. Aku udah ga tahan lagi. Biarin or mau ngomong apa aja. Aku ga peduli.”
Tarin : “Tapi, Ian..”
Ian : “Ga ada tapi-tapian. Pokoknya, besok, aku akan urus semua.”
Tarin : “Tapi.. ini terlalu buru-buru. Kamu kira, cerai itu gampang?”
Ian : “Kalau kita ga cepet cerai, aku akan kehilangan Rea untuk selamanya. Aku ga mau itu terjadi.”
Tarin : “Huh! Rea lagi, Rea lagi! Kenapa sih, setiap kali kamu minta cerai, alasannya selalu Rea.”
Ian : “Karena, aku begitu mencintai Rea. Aku ga bisa hidup tanpa dia.”
Suatu hari, Rea sedang nonton acara infotainment di tv.
“Satu lagi, pasangan selebriti yang rumah tangganya akan berakhir dengan perceraian.”
Rea : “Lagi-lagi cerai. Buat apa nikah, kalau akhirnya cerai?”
“Hanya dikarenakan ketidakcocokan, Masalah sepele, memang. Namun, bagi vokalis Radja, Ian Kasela dan istrinya, Katarina Novianty, sepasang pengantin baru ini, kemarin pagi mengurus proses perceraiannya di pengadilan agama Jakarta Selatan.”
Rea benar-benar terkejut dengan berita itu.
Rea : “Ian..”
Dalam wawancara di infotainment itu, Ian mengatakan alasannya bercerai.
Ian : “Karena, di antara kami udah ga ada lagi kecocokan. Kalau terus bersama, akan terajadi perang dalam rumah tangga. Jadi.. lebih baik berpisah, kan?”

Rea buru-buru telpon Ian. Tapi, handphone Ian begitu susah dihubungi.
Siang hari, Elly datang ke rumah Rea.
Elly : “Lo udah denger kabar, belum?”
Rea : “Tentang?”
Elly : “Ian sama Tarin..”
Rea : “Iya. Gue udah tau. Dari TV.”
Elly : “Trus, lo ga tanya langsung sama Ian?”
Sebelum Rea menjawab, tiba-tiba seorang wanita penuh amarah datang. Dia adalah Tarin.
Tarin : “Ga perlu tanya lagi, itu sudah pasti terjadi. Heh! Kamu, Rea. Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu kan, yang mendesak Ian, supaya segera mengurus perceraiannya dengan saya?”
Rea : “Apa? Aku ga pernah ngelakuin itu.”
Tarin : Ga usah mungkir, deh! Saya tau, Ian sangat mencintai kamu. Bukannya saya ingin menghalangi kalian. Tapi, saya tidak ingin karirnya hancur, hanya karena perceraian. Karena, kebanyakan artis yang bercerai, karirnya akan menurun dan mulai redup.”
Apa yang dikatakan Tarin ada benarnya. Rea jadi sedih. Kenapa Ian makin lama makin aneh dan makin tidak menyenangkan saja?

Akhirnya Rea berhasil menguhubungi Ian. Mereka bertemu.
Rea : “Ian, kamu tuh kenapa, sih? Kenapa mendadak kamu cerai sama Tarin?”
Ian tak sanggup menjawabnya. Ian pun memeluk Rea dengan erat.
Ian : “Karena aku begitu mencintai kamu. Karena aku ga pingin kehilangan kamu. Aku ga sanggup jauh dari kamu.”
Rea : “Ian! Aku udah bilang kan, kita ga ditakdirin untuk bersama.”
Ian : “Ya. Kamu bilang begitu, karena status aku udah menikah. Rea, aku pingin selalu ada di samping kamu”
Rea : “Aku juga cinta sama kamu. Aku juga ga pingin kehilangan kamu. Jauh aja aku ga mau. Tapi, ga harus kayak gini. Kamu ga mikirin nasib nama baik band Radja, apa?”
Ian terdiam.
Rea : “Demi kebaikan semua pihak, lebih baik kamu lupain aku. Kamu lupain semua yang pernah ada di antara kita.”
Ian : “Jujur aja, saat ini, aku ga bisa jauh diri kamu. Apalagi harus ngelupain kamu. Sedetik pun aku ga akan mampu.”

Masalah perceraian antara Ian dan Tarin jadi berita terhangat di televise, dan di kalangan para fans. Rea pun merasa terbebani dengan masalah ini. Ia merasa bersalah. Ia tidak ingin, masalah ini membuat karir Ian jadi redup, seperti yang dikatakan Tarin.

Rupanya, masalah ini memicu kemarahan para personel Radja lainnya.
Seno : “Dari awal gue udah ngira, ini bakal terjadi. Apa sih, hebatnya tuh cewek, sampe lo rela ngorbanin segalanya?”
Ian : “Ini semua, karena gue ga bisa jauh dari Rea dan gue begitu mencintai dia.”
Moldy : “Ian, harusnya, lo jangan gitu. Lo boleh mencintai siapa aja. Tapi gimana, kalau pengorbanan yang lo lakukan malah ngancurin semuanya?”
Ian : “Yang ada, kalo gue terus hidup sama Tarin, semuanya akan makin kacau. Dan gue yakin, orang akan mengerti.”
Indra : “Ian.. Ian.. cinta udah bikin lo buta. Buta mikir!”
Ian : “Dari pada gue jadi gila, gara-gara ga bisa hidup sama Rea?”
Ian masih saja keras kepala. Tidak peduli kata orang.

Ayah Ian sangat shock dengan berita perceraian itu.
Ayah Ian : “Apa mau kamu sebenarnya? Jangan bikin malu keluarga!”
Ian : “Ayah! Jujur saja, selama ini, dari hari pertama menikah, Ian ga pernah tidur sama Tarin, dan ga pernah ngasih nafkah, karena Ian sama Tarin sudah sepakat untuk itu. Ian ga pernah mencintai Tarin. Yang Ian cintai hanya satu, Rea Byrne.”
Ayah Ian saja tidak mengerti jalan pikiran anaknya.

Di tempat lain, yaitu di studio Radja, Seno, Indra, dan Moldy membiarkan tingkah Ian, yang semakin hari semakin tidak terkontrol.
Seno : “Ini ga bisa dibiarin! Makin lama, makin ga bener aja.”
Moldy : “Gue ngerti, kok, perasaan Ian. Tapi, tindakan yang Ian ambil itu salah. Terlalu terburu-buru.”
Indra : “Mungkin, lebih baik, Rea-lah yang harus mulai ngelepasin Ian duluan.”
Seno : “Biar gue yang ngomong ke Rea.”
Indra : “Jangan! Ntar, lo ga bisa control emosi.”
Moldy : “Gue aja.”
Indra : “Satu lagi! Jangan sampe masalah ini kecium sama paparazzy.”

Rea sedang sendirian duduk di tepi kolam renang. Ia baru mentas. Badannya aja masih basah. Entah kenapa, mendadak Rea ingat pada Ian. Memang, sebenarnya, Rea juga tidak ingin kehilangan Ian. Namun.. ia juga tidak ingin menghancurkan Ian dengan cintanya.

Moldy baru sampai di rumah Rea.
Moldy : “Rea-nya ada, Bang?”
Moldy bertanya pada satpam rumah Rea.
Satpam : “Oh, ada, Mas. Anda ini dari mana, ya?”
Moldy : “Saya temennya Rea dari Jakarta. Moldy.”
Satpam : “Oh. Silahkan masuk.”
Kemudian seorang wanita yang tidak terlalu tua membukakan pintu untuk Moldy.
Bibi : “Cari Non Rea, yah?”
Moldy : “Iya.”
Bibi : “Mari..”
Bibi mengantarkan Moldy ke tempat Rea.
Bibi : “Non! Ada tamu.”
Rea menoleh.
Rea : “Eh, Moldy?”
Lalu, Moldy duduk di samping Rea.
Moldy : “Baru selesai renang?”
Rea : “Iya. Ng.. ada apa lo ke sini?”
Moldy : “Ng.. mau ngomongin soal Ian.”
Rea : “Oh. Gue udah ngira. Pasti semua orang akan kemari, dan menuduh gue sebagai biang perceraian mereka.”
Moldy : “Gue bukan mau menuduh lo. Tapi.. minta bantuan lo. Lupain Ian, dan jangan lagi, lo ketemuan sama dia. Kalo bisa.. untuk selamanya.”
Rea menangis.
Rea : “Moldy, gue yakin, lo pun tau, gimana sayangnya gue sama Ian. Gimana cintanya gue sama Ian. Apakah bisa, orang yang udah terlanjur mencintai, tiba-tiba disuruh berpaling gitu aja? Gue udah berkali-kali nyoba. Tapi apa? Gue malah semakin sayang sama Ian. Gue malah makin cinta sama Ian. Gue juga ga pernah berharap dia cerai sama Tarin. Gue udah belajar menerima takdir Tuhan. Gue sama Ian emang ga ditakdirin hidup bersama.”
Moldy jadi kasihan pada Rea. Menurutnya, yang ia lakukan sekarang adalah suatu kesalahan. Apalagi meminta Rea untuk melupakan Ian. Itu akan menjadi sesuatu yang sangat sulit bagi Rea.
Moldy : “Lo.. cinta banget sama Ian?”
Rea : “Ya. Gue mencintai Ian apa adanya. Gue tulus. Tapi, gue gamau liat Ian sedih. Gue pingin dia bahagia.”
Moldy : “Ian bisa bahagia, kalau sama lo.”
Rea terdiam. Perasaannya makin kalut.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

15
Ingin Ku Mulai Lembaran Baru

Moldy menceritakan apa yang ia dengar dari Rea, pada dua temannya.
Moldy : “Gue mulai ngerti dengan hubungan mereka. Kasihan banget.”
Seno makin sewot saja.
Seno : “Ini nih, ya. Satu lagi korbannya si Rea. Abis ini pasti salah satu dari gue sama Indra.”
Moldy : “Lo ngomong apaan, sih?! Rea itu, benar-benar mencintai Ian. Malah, dia ga pingin Ian sedih.”
Indra : “Ian tuh, bisa bahagia, kalau sama Rea.”
Moldy : “Yang gue pikirin sama kayak lo, Ndra.”
Seno : “Iya.. awanya sih, akan bahagia. Tapi akhirnya, Ian akan tau, bagimana seharusnya dia bertindak. Dia akan tau, kalau yang dia pilih itu salah.”
Tiba-tiba..
Ian : “Salah pilih apa?!”
Di tengah Moldy, Seno, dan Indra sedang membahas masalah Ian dan Rea, tiba-tiba Ia datang. Spontan mereka langsung diam.
Ian : “Kok pada diem? Salah pilih apa?”
Moldy : “Ng.. ga, kok. Kita lagi pilih-pilih tawaran manggung. Takutnya slh pilih terima gitu. Zaman sekarang, kan orang susah ditebak. Kalau ketipu gimana?”
Ian : “Oh.. itu.”
Tiba-tiba..
Seno : “Dy! Kenapa ga terus terang aja, sih? Kita, kan lagi ngomongin dia.”
Ian : “Ngomongin gue?”
Seno : “Ya. Jujur aja, kita semua kecewa sama lo.”
Indra : “Udahlah, Sen! Ga usah dibahas!”
Seno : “Kenapa? Lo takut dia marah? Kalau lo takut, biar gue yang ngomong.”
Ian : “Kalian nih, apa-apaan, sih?”
Seno : “Ian, lo harus lupain Rea! Demi Radja!”
Ian : “Ini lagi yang dibahas. Sampai kapan pun, dan apapun yang terjadi, gue akan selalu mencitai Rea.”
Seno : “Heh! Personel Radja bukan cuma lo. Jadi, gue harap, lo jaga nama baik band, yang susah payah kita bangun ini. Jangan hancur hanya gara-gara cewek!”
Ian tidak menjawab apa-apa. Ia malah pergi meninggalkan studio.
Seno : “Heh! Gue belum selesai bicara!”
Ian tidak peduli Seno teriak-teriak.

Rea ke studio Ungu. Hanya Pasha yang bisa menenangkan dirinya. Tapi, Rea tidak lupa, kalau Pasha sedang lupa ingatan. Pasha menyambut Rea dengan hangat.
Rea : “Pasha!”
Pasha : “Hai!”
Rea : “Ng.. Pasha, boleh ga, aku curhat sama kamu?”
Pasha : “Curhat? Masalah apa?”
Rea : “Ng.. dulu, cuma kamu yang bisa bikin aku lepas dari rasa gundah.”
Pasha : “Oke. Certain aja. Mungkin aku bisa bantu.”
Rea : “Sebenarnya, sebelum ingatan kamu hilang, kamu tau masalah ini. Tapi, aku akan ceritain dari awal.”
Pasha pun setuju. Ia mendengarkan semua keluh kesah Rea. Air mata Rea membasahi pipi, saat bercerita tentang mslsh Ian, yang semakin rumit saja.
Rea : “Aku cinta sama Ian. Tapi, aku ga pingin dia cerai dari istrinya. Bukankah mencintai itu, ga harus memiliki? Aku terima kok, kenyataan itu. Sekarang, aku bingung banget. Aku harus gimana? Secara ga langsung, banyak orang yang menuduh aku sebagai biang perceraian mereka.”
Pasha mendekap Rea yang sedang menangis sesenggukan.
Pasha : “Kamu tenang dulu, ya.”
Pasha jadi kasihan pada Rea.
Rea : “Aku capek dengan masalah ini. Aku pingin pergi ke tempat jauh, dan ngelupain ini semua.”
Pasha : “Termasuk Ian?”
Rea menunduk.
Rea : “Kalau perlu.”
Katanya, pelan.
Pasha : “Kenapa ga kamu coba, untuk pergi ke luar kota, dan sejenak ngelupain semua?”
Rea : “Andaikan aku juga lupa ingatan seperti kamu..”
Pasha : “Kamu jangan ngomong gitu.”

Moldy mencoba berbicara pada Ian. Mencoba melunakkan hatinya.
Moldy : “Ian, gue ngerti banget perasaan lo. Tapi, lo ga boleh kayak gini. Oke. Kita bicara sebagai lelaki. Bukan sebagai personel Radja.”
Ian : “Kenapa sih, kalian tuh, ga berhenti ngomong ini. Gue yang denger aja udah bosen. Kalo gue cerai sama Tarin, apa lo juga ikut ngerasa dicerai? Trus, kalo gue nikah sama Rea, lo ngerasa dicampakin?”
Moldy : “Bukan gitu, Ian.”
Ian : “Kayaknya.. lo semua ada pihak Tarin. Oke. Gue hargai itu. Tapi gue tetap pada keputusan gue.”
Moldy : “Ian, lo ngelakuin ini, apa udah mikirin perasaan Rea? Dia sedih banget. Bagi gue, gue lebih baik memihak Rea dari pada lo atau Tarin.”
Ian terdiam. Suasana malam itu memang dingin. Tapi perasaan Ian begitu panas. Sepanas api yang membara dalam sekam.
Moldy :“Rea begitu mencintai lo. Dia rela ga memiliki lo, demi kebahagiaan lo. Tapi apa? Lo malah bikin dia jadi tambah bingung. Lo adalah beban bagi hidup dia.”
Ian : “Tapi Dy, Rea kan tau, kalau gue sama Tarin cuma sandiwara.”
Moldy : “Iya. Tapi, semua orang taunya, lo suami sahnya Tarin. Apa jadinya, kalau lo tiba-tiba cerai sama Tarin, trus nikah sama Rea? Pasti semua orang akan nuduh Rea sebagai pihak ketiga yang telah merusak rumah tangga orang. Lo seneng kali, ya, kalo bikin Rea sedih?”
Ian terdiam lagi.

Kata-kata Moldy terbawa terus dalam ingatan Ian. Saat tidur, saat manggung, saat sedirian. Pokoknya setiap saat.
“Sebelum kau benar-benar pergi/ Ucapkan satu kata yang tulus/ Bahwa kau mencintai diriku sepenuh hatimu/ dan aku merasakan kau selalu di sini/ wahai kau cinta/ sungguh tak ada yang bisa/ mampu berpaling darimu/ bila terlanjur saying/ wahai kau cinta/ yang luluhkan hati ini/ membuat segalanya indah/ semua karena cinta/” (Wahai Kau Cinta – Radja)
Tidak biasanya, Ian menyanyikan lagu ‘Wahai Kau Cinta’ dengan begitu sendu. Fans pun iut terhanyut. Mungkin karena lagu itu pas sekali dengan suasana hati Ian yang sedang kalut.

Pulang dari manggung, Ian langsung ke Bandung menemui Rea.

Saat tiba di rumah Rea, Ian hanya ditemui satpam.
Satpam : “Mau cari siapa?”
Ian menjawab dengan datar.
Ian : “Rea.”
Satpam : “Non Rea tidak ada.”
Ian : “Jangan bohong! Aku tau Rea ada di dalam.”
Ian mengetuk rumah Rea. Bibi yang membukakan.
Bibi : “Eh, Den Ian. Cari Non Rea?”
Ian : “Iya.”
Bibi : “Non Rea pergi sama Den Pasaha.”
Ian : “Pasha? Ke mana?”
Bibi : “Gat au, tuh. Tadi, pagi-pagi sekali, Den Pasha jemput Non Rea. Kayaknya.. pergi jauh. Soalnya, bawas tas koper. Isinya pakaian.”
Ian : “Apa?”

Rupanya, keinginan Rea untuk pergi jauh, dbantu oleh Pasha. Mereka pergi ke Denpasar, Bali.
Pasha : “Aku harap, kamu bisa lebih tenang di Bali. Di sini, suasananya, kan beda banget sama Jakarta dan Bandung.”
Rea : “Pasha, aku sangat berterimakasih sama kamu. Hanya kamu yang bisa diandalin.”
Pasha hanya tersenyum.

Perasaan Ian benar-benar kalut, sedih, dan juga marah. Malah, ia merasa bingung.
Malam hari, Ian tidak bisa tidur. Ia mencoba menghubungi Rea dan Pasha lewat ponsel. Tapi keduanya tidak bisa dihubungi.
Ian : “Rea.. kamu di mana..?”

Rea dan Pasha tidak tinggal serumah. Mereka tidak mau ada masalah baru. Tapi, mereka bersebelahan rumah. Pasha melamar pekerjaan di sebuah restaurant. Pasha merubah jati dirinya menjadi Rizky. Ia sudah tidak peduli, apakah ingatannya akan kembali atau tidak.
Sedangkan Rea, ia bekerja sebagai pemandu wisata. Rea juga mencoba jadi penyanyi di beberapa kafe.
Pikiran Ian semakin tak menentu. Ia sudah putus asa. Kerjanya selalu melamun dan menyendiri. Parahnya, setiap ada tawaran manggung, selalu ditolak, dengan alasan lagi ga enak badan.
Akibatnya, media infotainment mengabarkan bahwa Ian Kasela akan segera hengkang dari Radja, dikarenakan sudah tidak betah dengan pekerjaan sebagai penyanyi. Di lain media, dikabarkan, Ian mengundurkan diri dari dunia hiburan, dan memilih jadi orang biasa. Apakah berita itu benar atau salah, tak satu pun personel Radja yang dapat dimintai keterangan.

“Lihat awan di sana/ berarak mengikutiku/ pasti, dia pun tau/ ingin aku lewati/ lembah hidup yang tak indah/ namun harus ku jalani/ berdua denganmu pasti lebih baik/ aku yakin itu/ bila sendiri/ hati bagai langit/ berselimut kabut/” (Berdua Lebih Baik – Acha Septriasa)
Rea menyanyikan lagu ini penuh semangat. Tidak ada sedih yang menghiasi wajahnya. Yang ada hanyalah sebuah kebahagiaan baru.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

16
Kembalilah Kekasihku

Kehidupan Rea sudah lebih baik, ketika di Bali. Ditambah ada Rizky yang sangat baik. Sangat perhatian. Seperti yang pernah dilakukan Ian padanya dulu.

Di Jakarta..
Ian sibuk mencari keberadaan Rea. Mencari ke seluruh Bandung, Bogor, bahkan London, dan Yogyakarta. Tanpa peduli pengawasan public. Ia sudah tidak peduli perceraiannya jadi atau tidak. Dalam pikiranya hanya ada satu. Mencari Rea sampai dapat. Baru lakukan yang lain.
Di Bandung, Ian menemui Elly dan Ryan, sahabat Rea. Elly begitu terkejut ketika Ian mengatakan, bahwa Rea pergi bersama Pasha, entah ke mana.
Elly : “Apa? Berarti, Pasha udah kembali? Kok, Rea ga cerita ke kita, sih?”
Ryan : “Trus, sekarang gimana? Lo udah tanya bokap atau nyokapnya?”
Ian : “Udah. Tapi mereka juga ga tau Rea ada di mana. Yang mereka tau, Rea pergi untuk liburan bareng Pasha. Sekarang, gue akan cari mereka sampai ketemu.”

Di Bali..
Suatu pagi yang cerah, Rea keluar dari rumah, dan lari pagi. Kebetulan, ia sedang libur kerja. Digunakannya waktu itu untuk refreshing.
Rizky baru bangun, dan cuci muka. Ia ke rumah Rea. Tapi Rea tidak ada.
Rumah terus berlari sampai akhirnya kembali ke rumah.
Rumah mereka ada di kawasan perumahan elit. Jadi, yang tinggal kebanyakan orang-orang kaya.
Rea terus berlari sampai akhirnya kembali ke rumah.
Kemudian, ia melihat Rizky sedang mencuci mobil.
Rea : “Hei! Met pagi, Rizky..”
Rizky : “Hai!”
Rea : “Ng.. Rizky, temenin aku belanja, yuk!”
Rizky : “Kamu ga kerja?”
Rea : “Lagi libur.”
Rizky : “Oke.”

Semalam Ian tidak tidur. Ia hanya memandangi foto Rea.
Tarin terus memperihatikannya.
Tarin : “Kamu.. begitu mencintai Rea, yah?”
Pertanyaan bodoh, pikir Tarin. Tanpa ditanya pun, pasti jawabannya adalah ‘iya’. Namun, Ian diam saja.

Moldy datang ke rumah Ian. Tapi hanya ditemui oleh Tarin.
Tarin : “Dy, sejak semalam, Ian ga tidur. Cuma ngeliatin fotonya Rea. Posisi duduknya pun ga berubah. Gimana, dong? Lama-lama, dia bisa gila.”
Moldy : “Ian begitu mencintai Rea, sampai rela ngorbanin apa aja. Gue rasa, mendingan, lo kabulin aja perceraian itu. Lepasin Ian.”
Tarin : “Tapi.. gimana sama ayahnya Ian dan ayah gue?”
Moldy : “Ini, kan pernikahan kalian. Bukan mereka. Lo tega, liat Ian terus-terusan kayak gini? Mereka tuh, benar-benar saling mencintai.”
Tarin : “Kalau memang itu yang terbaik.”

Di mall tempat Rea dan Rizky belanja, dipadati oleh banyak pengunjung. Ada orang pribumi, ada juga turis.
Rea belanja keperluan sehari-hari.
Rea : “Kamu ga beli apa-apa, Riz?”
Rizky : “Aku mau beli kaset aja.”
Rea : “Kalau gitu, ke took kaset, yuk!”
Toko kaset di mall itu tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung, penjaga, dan kasir. Ada suara lagu yang samar-samar. Lembut banget, sampai tidak kedengaran.
Rea : “Mau beli kaset apa, sih?”
Rizky : “Kasetnya Scorpions.”
Rea : “Emang, Scorpions itu band hebat. Lagunya juga bagus-bagus.”
Kemudian, pandangan mata Rea tertuju pada sebuah kaset band Indonesia. Radja. Ada gambar Ian dan para personel Radja lainnya.
Rizky : “Kamu ngeliatin apa, Re?”
Teguran Rizky membuyarkan lamunan Rea. Rizky pun melihat apa yang dilihat oleh Rea.
Rizky : “Oh.. kamu inget Ian, yah?”
Rea : “Udah, lah.. Pulang, yuk!”
Rizky : “Aku bayar kasetnya dulu, yah.”
Rizky berjalan menuju kasir.
Kasir : “Semuanya seratus dua puluh lima ribu rupiah.”
Rizky mengeluarkan selembar uang seratus ribu, dan selembar lima puluh ribu.
Kasir : “Ng.. Mas, saya sepertinya pernah liat anda. Tapi di mana, yah?”
Rizky : “Wajah saya emang pasaran, Mbak.”
Kasir : “Tapi..”
Rizky : “Ya udah, lah. Duluan, yah..”
Kemudian..
Kasir : “Anda.. Pasha Ungu, kan?”
Rizky menoleh, dan tersenyum.
Kasir : “Iya. Kamu Pasha. Wah..”
Rizky : “Kan, tadi saya udah bilang. Wajah saya emang pasaran.”
Kasir : “Tapi..”
Rea datang.
Rea : “Rizky! Lama banget.. Pulang, yuk!”
Rizky : “Yuk. Duluan, ya, Mbak..”
Di mobil..
Rea : “Kasir tadi kenapa? Ngeliat kamu kok kayak ngeliat hantu?”
Rikzy tersenyum.
Rizky : “Ternyata.. Ungu itu terkenal, yah? Apalagi, yang namanya Pasha. Tadi, dia ngira aku Pasha. Untungnya, aku bisa akting.”
Rea tertawa.
Rea : “Tapi, kan kamu emang Pasha. Vokalis Ungu.”
Rizky tertawa.

Ian jatuh sakit!
Tarin panik. Badan Ian panas tinggi. Ian kehilangan kesadarannya. Sudah tiga hari Ian tidak makan, minum, atau tidur. Sudah tiga hari pula, ia tetap pada posisinya. Duduk, dan menatap foto Rea.
Tarin menghubungi Moldy, setelah membawa Ian ke rumah sakit.
Moldy : “Kok bisa jadi gitu, sih?”
Tarin : “Gue juga gat au. Badannya kaku gitu.”
Moldy : “Trus, kata dokter?”
Tarin : “Dia cuma kekurangan cairan. Untung, ga pa-pa. Ng.. Dy, lo bantuin cari Rea, yah? Gue rasa.. obatnya adalah kehadiran Rea.”
Moldy : “Oke. Gue Bantu.”

Suatu hari, Rea telpon Elly.
Rea : “El, nih gue, Rea.”
Elly : “Rea?! Akhirnya lo telpon juga. Lo di mana? Ian nyari lo ke seluruh dunia. London pun disamperin.”
Rea : “Gue ga peduli, El. Apapun tentang Ian, gue pingin lupain. Gue pingin hidup tenang, El.”
Elly : “Iya. Gue ngerti. Tapi.. sekarang, lo ada di mana?”
Rea : “Gue ada di sebuah tempat. Tempat yang jauh dari Jakarta atau pun Bandung.”
Elly : “Sama Pasha, kan? Kenapa lo ga bilang, kalau Pasha udah ketemu? Lo tau kan, kalau gue nge-fans banget sama dia.”
Rea : “Maafin gue, El.”

Rizky lagi asyik nonton TV. Kemudian, ada sebuah berita terbaru tentang Radja. Terutama Ian Kasela.
“Akhirnya, permasalahan yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga Ian Kasela dan Katarina Novianty, terungkap.”
Terungkap sudah semua yang terjadi ke public. Dan, Moldy yang diwawancarai pun memberitau sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Ian. Yaitu kehadiran Rea.
Moldy : “Rea, lo cepet pulang, yah.. Ian cuma bisa mencintai lo, dan kita semua udah mengerti kalian. Ian sangat membutuhkan lo.”
Rizky tau apa yang harus ia lakukan. Membawa Rea, kembali ke Jakarta. Ia pun segera ke rumah Rea.
Rizky : “Rea..!”
Rea tidak menjawab sepatah kata pun. Ia duduk terpaku di depan TV.
Rizky : “Rea..”
Wajah Rea basah karena air mata.
Rizky : “Kamu udah tau?”
Rea mulai menangis.
Rea : “Sekarang.. aku harus gimana?”
Rizky : “Kita pulang ke Jakarta. Kita selesaikan semuanya.”
Rea menganggukkan kepala kuat-kuat.

Keesokan harnya, Rea dan Rizky alias Pasha pulang ke Jakarta. Mereka langsung ke rumah sakit tempat Ian dirawat.
Rea mempercepat langkahnya, menuju kamar tempat Ian dirawat. Air matanya tidak berhenti berlinang.
Rea : “Ian.. aku datang..”

Di depan kamar Ian, ada Moldy. Ia tertunduk lemah. Juga ada beberapa wartawan.
Rea: “Moldy..!”
Moldy menoleh, dan langsung berdiri.
Moldy : “Rea..! Akhirnya..”
Rea : “Gimana keadaan Ian?”
Sebelum Moldy menjawab, para wartawan langsung menyerbu Rea.
Wartawan I : “Permisi, apa benar, anda Rea, yang selama ini ditunggu kehadirannya oleh Ian Kasela?”
Rea tidak menjawab.
Moldy : “Ng.. para wartawan di sini, mohon perhatiannya. Biarkan kami menyelesaikan semuanya dulu. Nanti, kalau semua udah beres, pasti kalian akan dikasih tau.”
Rea masuk ke kamar Ian.

Pasha baru datang. Spontan saja, para wartawan menyerbunya juga. Sebuah keuntungan besar bagi para wartawan. Sekali meliput, dua berita besar di dapat.
Wartawan II : “Pasha! Ternyata kamu masih hidup. Kenapa ga langsung dipublikasikan?”
Pasha tersenyum.
Pasha : “Saya minta maaf untuk itu. Tapi.. asyikkan, jadi kejutan untuk seluruh fans Ungu di seluruh tanah air.
Rea duduk di samping tempat tidur Ian. Ia menyentuh lembut tangan Ian. Lalu mengelus wajah Ian yang pucat.
Rea : “Ian.. bangun. Aku udah di sini. Aku di sini, buat kamu..”
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

17
Saat Kau Hadir Kembali

Rea tak mampu bicara terlalu banyak. Lidahnya terasa kelu. Yang membuat hatinya semakin terenyuh adalah, saat ia melihat selembar foto dirinya yang dipegang erat di tangan Ian.
Foto itu tak mau lepas dari tangan Ian. Seakan-akan, Ian tidak ingin melepas Rea.
Rea : “Ian.. maafin aku..”
Tiba-tiba ..
“Rea.. Rea..”
Suara lembut terdengar dari mulut Ian. Ian sadar.
Rea : “Ian? Ini aku Rea. Aku di sini..”
Ian membuka matanya perlahan-lahan, dan melihat siapa yang ada di sisinya. Rea. Ia tersenyum lemah.
Ian : “Rea.. kamu di sini?”
Rea : “Iya. Aku di sini buat kamu. Ian..”
Ian : “Rea.. jangan pernah kamu tinggalin aku lagi. Aku ga sanggup hidup tanpa kamu.”
Rea menganggukkan kepala berkali-kali.
Rea : “Aku janji. Ga akan pernah lagi ninggalin kamu.”
Mereka berpelukan.
Dokter menyatakan, kalau Ian sudah sehat. Tapi, masih harus istirahat yang cukup, dan tidak boleh stres lagi.

Sejak Ian keluar dari rumah sakit, tak pernah terbesit sedikit pun keinginan untuk meninggalkan Ian dalam pikiran Rea. Maka, jarak paling jauh dari sisi Ian, hanya lima ratus meter. Itu artinya, kini Ian tinggal bersama Rea, di rumah Ian sendiri. Juga bersama Tarin.
Rea sudah berjanji untuk terus ada di samping Ian, dan tidak akan pernah meninggalkannya.
Ian : “Aku seneng.. banget, akhirnya kamu ada di sisi aku. Kamu.. mau kembali ke aku.”
Rea : “Maafin aku, yah..”
Ian memeluk Rea.
Ian : “Aku juga minta maaf.”

Ada kabar baik. Ungu mempublikasikan hadir kembalinya Pasha, ke tengah-tengah blantika musik Indonesia.
Yang lebih heboh lagi, Radja dan Ungu berkolaborasi dalam satu album yang bertajuk “Lepas Masa Lalu, Jika Itu Yang Terbaik”. Tiga buah lagu yang diciptakan oleh Ian, Moldy, Pasha, Oncy, dan Enda dijadikan video klip. Hasilnya, lagu-lagu mereka berhasil menduduki setiap tangga lagu teratas di setiap chart-chart yang ada di TV, radio, majalah, bahkan di internet. Itu tandanya, para fans sangat suka.
Ian : “Gue belum pernah merasakan kerja sama yang begini hebat.”
Di sela-sela konser, Ian masih sempat bersyukur.
Pasha : “Oke. Mulai detik ini, kita lupain masa lalu, dan kembali menata masa depan bersama Radja dan Ungu..”
Kemudian, mereka menyanyikan sebuah lagu baru yang diciptakan oleh Ian dan Pasha. Judulnya, “Kekasih Ku Cinta Kamu (Kekasih, Ku Rindu Kamu)”.
Pasha : “Di tengah gelapnya malam/ Sendiri ku coba berteman sepi/ Ku coba mengakrabi mimpi/ Mimpi untuk bertemu denganmu/”
Ian : “Sekian lama aku mencari/ Kehidupan penuh cinta bersamamu/ Tanpa ada duka atau pun masalah/ aku hanya inginkan.. kau di sisiku../”
Lagu ini adalah salah satu lagu favorite para fans Radja dan Ungu.
Ian : “Kekasih aku cinta kamu/ Setulus hati ku mencinta/”
Pasha : “Kekasih, aku rindu kamu/ Rinduku tak kan terjangkau waktu/”
Ian & Pasha : “Hanya bila sedetik saja tanpamu/ Mampukah aku bertahan untuk hidup../” (Kekasih Ku Cinta Kamu (Kekasih, Ku Rindu Kamu) – Radja & Ungu)

Di tempat penonton VIP, Rea, Tarin, Rissa, Elly, Ryan, dan Beni menonton konser itu.
Elly : “Ga nyangka, kalau Radja sama Ungu bakal kolaborasi.”
Rea : “Gue pingin, suatu saat nanti, bisa bikin album, trus nyanyi duet bareng mereka.”
Ryan : “Ternyata.. lo masih pingin jadi penyanyi? Kirain..”
Rea : “Ya iya, lah. Nyanyi adalah hobi sekaligus pekerjaan buat gue.”

Suatu hari..
Tarin masuk ke kamar Ian. Ian masih belum tidur. Ia membawa sesuatu.
Tarin : “Ian, ini.. surat perceraian kita.”
Ian melihat sebuah map berisi surat perceraian yang ditunjukkan Tarin.
Ian : “Kamu.. udah tanda tangan?”
Tarin : “Udah. Sekarang kamu.”
Ian : “Oke.”
Ian pun langsung menandatangani surat itu.
Maka, setelah diputuskan oleh pengadilan agama, Ian dan Tarin resmi bercerai. Ian bahagia tidak terkira. Buru-buru ia segera ke Bandung, mengabarkan hal ini pada Rea.
Rea : “Apa kamu yakin, bercerai sama Tarin, hanya karena mencintai aku?”
Ian : “Apapun aku lakuin, untuk mempertahankan cinta aku ke kamu.”
Seharusnya, Rea bahagia. Karena tidak ada lagi pengganggu yang akan memisahkan mereka. Namun, ada perasaan bersalah di hatinya. Bagimana dengan Tarin?”
Suatu hari, Rea mencari Tarin.
Rea : “Rin, maafin gue, ya..”
Tarin : “Maaf apa, Re?”
Rea : “Tentang perceraian lo sama Ian. Gue ga enak sama lo.”
Tarin : “Rea, gue ga pa-pa, kok. Malah, lebih baik begini. Dari pada berumah tangga, tanpa ada cinta. Hanya lo yang bisa bahagiain Ian.”
Rea terharu dengan sikap seorang perempuan yang rela melepaskan suaminya untuk perempuan lain.
Rea sedang karaoke-an di rumah. Alias latihan untuk nanti malam di kafe.
Rea : “Mencintaimu/ Hati hampa kini terisi/ Di dekatmu hatiku tenang/ Hanya kau pelipur laraku/ Mencium engkau/ Bisa juga tenangkan jiwa/ Seluruh yang ada di engkau/ Bagiku ini karunia/ Mencium engkau/ Bisa juga tenangkan jiwa/ Tak akan bisa digantikan../ Bagiku.. engkau yang terakhir../” (Kekasih Terakhir – Melly Goeslaw)

Malamnya, seusai tampil di kafe, manager kafe itu memanggil Rea ke ruangannya.
Manager Kafe : “Rea, saya mau tanya. Apa benar, kamu punya hubungan khusus sama personel Radja?”
Rea terdiam. Rupanya, publik benar-benar sudah tau.
Rea : “Iya. Memang kenapa, Pak?”
Manager Kafe : “Ga pa-pa. Ng.. sebenarnya, saya pingin ngomongin cara kerja kamu yang sedikit buruk. Kadang masuk, kadang nggak. Malah, kamu sering ga masuk tanpa izin.”
Rea : “Maafkan saya.”
Manager Kafe : “Kafe ini sedang mengalami kesulitan dalam hal uang. Maka.. setelah saya pertimbangkan, akan ada PHK. Dan.. PHK pertama, saya tujukan buat kamu.”
Rea : “Itu artinya.. saya dipecat?”
Manager Kafe : “Iya. Dan, ini pesangon kamu.”
Rea : “Tapi, Pak..”
Manager Kafe segera menyuruh Rea keluar dari ruangannya.

Malam ini tidak terasa sejuk sama sekali. Malah terasa begitu panas dan menggerahkan. Rea berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir kafe, tempat ia baru saja dipecat. Langkahnya lesu.
Sampai di rumah, Rea merebahkan diri di ranjang, setelah ganti baju tidur. Dibukanya buku harian, dan mulai menulis.
“Ry, hari ini aku dipecat dari kafe. Sedih banget, deh. Walau pun sebenarnya aku sudah punya segalanya dalam hal materi, namun aku hanya ingin menyalurkan bakat dan hobiku dalam bidang musik, yaitu menyanyi.”

Keesokan paginya, Rea dikejutkan dengan tumpukan bunga mawar putih di depan kamarnya. Indah sekali.
Rea : “Bi..! Bibi..!”
Tidak ada sahutan dari Bibi. Kemudian, ada seorang laki-laki pakai topi, yang unjungnya nutupin wajah, dan kaca mata hitam.
Rea : “Siapa kamu?”
“Ga perlu tau. Yang perlu kamu tau adalah, satu, bunga-bunga itu buat kamu.”
Rea mencoba mendekati orang itu.
“Dua!”
Rea kaget.
“Dilarang dekat-dekat, sebelum diminta.”
Rea menghentikan langkahnya.
“Tiga, setelah kamu tutup mata, dan baru dibuka setelah diminta, kamu akan tau siapa aku.”
Rea : “Siapa, sih?”
“Tidak usah tanya-tanya. Sekarang, tutup mata kamu. Jangan dibuka sebelum aku minta.”
Rea menurut. Ia menutup mata, seperti yang disuruh oleh orang itu.
“Sekarang, buka mata kamu.”
Rea mulai membuka matanya. Secara samar, Rea melihat sosok seorang laki-laki dari ujung kaki, terus sampai ke wajah. Dan..
“Surpriese!”
Rea : “Ian?!”
Ian tertawa. Kejutannya lumayan berhasil.
Rea : “Ketawa, lagi!”
Ian : “Marah, yah..?”
Rea : “Ya.. marah sih, ga. Tapi, kan gimana? Kirain siapa berani masuk ke rumah ini, dan bibi ga nyahut dipanggil.”
Ian : “Sorry, deh..”
Rea tersenyum.
Rea : “Bunga-bunga ini.. dari kamu?”
Ian menggelengkan kepala.
Ian : “Ga. Tapi, dari manusia biasa, namanya Ian Kasela.”
Rea : “Nah, mulai lagi, deh!”
Ian : “Iya, deh, sorry. Ng.. Re, aku ke sini.. pingin ngomong sesuatu sama kamu.”
Rea : “Ngerjain lagi, nih?”
Ian : “Aku serius.”
Rea : “Apa?”
Ian : “Aku pingin.. kamu jadi istriku.”
Rea terdiam. Bagai kejatuhan durian runtuh, tapi.. ga sakit sama sekali. Malah, rasanya bahagia banget.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

18
Kebahagiaan itu Akhirnya Datang

Ian : “Kenapa kamu diem aja? Sorry, kalau aku terlalu buru-buru.”
Rea tersenyum. Sebenarnya, Rea terharu. Namun, ia tidak dapat meneteskan air mata. Lalu, ia memeluk Ian.
Rea : “Ian, aku sayang.. banget sama kamu. Aku ga pingin jauh dari kamu lagi. Aku juga ga pingin ada masalah lagi. Aku.. mau jadi istri kamu.”
Ian : “Bener?”
Rea memeluk Ian semakin erat. Tandanya, lamaran Ian diterima.

Pagi yang cerah ini, menjadi pagi yang paling indah bagi Rea dan Ian. Pagi yang akan terus dikenang sampai mati.
Tidak ada lagi penghalang. Tidak ada lagi masalah. Semua terasa lebih mudah setelah sekian lama diperjuangkan. Semua orang telah mengerti, malah mendukung apa yang seharusnya terjadi. Orang tua, saudara, sahabat, teman, dan fans. Tidak ada satu pun yang menentang segala yang seharusnya terwujud sejak dulu. Benci, marah, emosi, patah hati, sedih, serta putus asa, kini berganti menjadi cinta, dan kebahagiaan yang indah. Karena ini semualah, makaakhirnya Rea dan Ian menikah.

Pasha : “Rea, Ian, aku akan selalu merindukan kalian.”
Rea : “Kami juga..”

Setelah menikah, Ian memutuskan untuk mundur dari dunia musik. Dan vokalis Radja, diganti oleh Heri, pemusik asal Banyuwangi, Jawa Timur. Fans tidak akan kecewa, karena Heri sangat mirip dengan Ian Kasela. Suara dan kualitas vokalnya pun setara.
Ian membawa Rea pergi jauh ke luar Indonesia, dan akan memulai hidup yang lama. Serta tak kan mencoba menghapus kenangan masa lalu. Walau pun lepas masa lalu, jika itu yang terbaik. Kini, mereka tinggal di London, UK.
Sedangkan Pasha, wah.. dia mulai tertarik dengan sahabat Rea, Elly. Sebelum disabet orang lain, Pasha menembaknya duluan. Betapa senangnya Elly, dilamar idola sendiri.

Kemudian.. Tarin, dia sudah ada hubungan special dengan teman sesame artis.

Suatu hari, Pasha, Elly, Ryan, Rissa, Beni, dan Tarin, serta personel Radja, Heri, Moldy, Indra, dan Seno, juga personel Ungu, Rowman, Enda, Oncy, dan Makki, lagi rame-rame ngumpul di sebuah taman. Ya.. sebagai tanda, kalau sekarang mereka berteman. Mereka berpesta untuk mempererat tali persahabatan.
Elly : “Eh, gue jadi kangen sama Rea dan Ian.”
Seno : “Gue jadi sadar, kalau mereka berdua itu, saling membutuhkan. Dan ga bisa dipisahin.
Pasha : “Yang paling penting, kita harus ambil hikmahnya. Pertama, kalau ga mau, jangan dipendem. Ngomong! Yang kedua, kalau masih cinta, jangan ngomong udah ga cinta.”
Moldy : “Satu lagi! Kalau udah jodoh, ga akan ke mana, deh..”
Rissa : “Trus, kalau bukan jodoh, gimana?”
Ryan : “Ya udah, biarin aja.”
Pasha : “Mm.. El, aku ke toilet dulu, ya.”
Elly : “Jangan lama-lama!”
Pasha pun pergi ke toilet umum deket taman.
Tiba-tiba ada bola menggelinding ke kaki Pasha. Ada seorang anak kecil mengejar bola itu.
“Bola, tungguin, dong!”
Pasha : “Ini bolanya.”
“Makasih, Om!”
Pasha tersenyum. Anak ini santun sekali.
Pasha : “Nama kamu siapa?”
Kevin : “Kevin.”
Pasha : “Kevin..”
Kemudian, seorang wanita menghampirinya.
“Kevin! Come on, Honey! Don’t play too far!”
Kevin : “Yes, Mom..”
Pasha melihat wanita seseorang yang sangat dikenalnya.
Pasha : “Rea..”
Rea : “Pa, Pasha..”
Pasha memeluk Rea penuh rasa rindu.
Setelah itu, ada yang datang lagi. Dia adalah Ian Kasela.
Ian : “Kevin! Rea!”
Pasha : “Ian!”
Ian : “Pasha!”
Mereka pun berpelukan.
Pasha : “Bagaimana kalian bisa ada di sini? Kalian, kan di London.”
Ian : “Gue sama Rea, juga Kevin, lagi liburan.”
Pasha : “Kebetulan, yang lain juga di sini. Ayo, kita ke sana..”

Elly dan yang lain sedang menikmati makanan dan minuman sambil ngobrol.
Ryan : “Ga nyangka, ya, El. Lo bisa nikah sama Pasha. Padahal, dulu tuh, lo tiap hari ngomongin dia.”
Elly : “Ini namanya jodoh. Siapa tau, ntar lo nikah sama.. Dian Sastro.”
Ryan : “Dari dulu, lo ga berubah. Berkhayal melulu.
Elly tertawa.
Lalu, Pasha datang. Tapi tidak sendiri.
Pasha : “Temen-temen.. liat siapa yang dating.”
Semua melihat siapa yang di samping kanan dan kiri Pasha. Juga seorang anak kecil, memegang bola.
Elly : “Rea?!”
Moldy : “Ian?!”
Semuanya mengkerumuni kedua pasang suami istri itu.
Tarin : “Rea, Ian.. Ini.. anak kalian?”
Rea : “Iya. Kevin, namanya.”

Kebahagiaan itu, akhirnya datang dan tak pernah berakhir. Walau apapun yang terjadi, kebahagiaan itu tidak bisa dibeli. Meski pun meraihnya sangat sulit, tapi hasilnya akan sangat indah.
 
Bls: Cer..apa aja deh: Radja Bilang Cinta Ungu Bilang Rindu

Penutup..

Suatu malam, Rea tengah menyanyikan nina bobo untuk Kevin. Sementara Ian sedang membaca buku. Hobi barunya, setelah tidak aktif di panggung lagi.
Ketika mereka bersiap tidur.. Ian bicara.
Ian: "Rea.. sampai detik ini, kebahagiaan kita sama sekali gak berkurang. Aku berharap, ini bukan hanya mimpi belaka.. Karena aku gak sanggup untuk kehilangan kamu.."
Rea: "Kamu bicara apa sih.. Jelas dong, ini bukan mimpi. Ini kenyataan.. dan kita akan bahagia terus.. sampai akhir hayat.."
Kemudian mereka tidur..

Keesokan paginya..
Tiba-tiba seember air dingin menyiram seluruh tubuh Rea. Ia terkejut dan terbangun.. mendapati Elly tengah ada di kamarnya..!!
Rea: "Loh..?? Kok bisa elu sih, El? Ian..? Kevin..? Mereka ke mana?"
Elly nampak bingung.
Elly: "Ian? Ian Kasela maksud lo? Kevin? Kevin siapa pula??"
Rea: "Iya.. Ian.. Ian Kasela.. Kevin.. Kevin anak gue sama Ian.."
Seketika tawa Elly meledak bagai bom atom.
Elly: "Anak???? Huaaaahahahhahahaha nikah aja belum lo! Kok anak siiihhh..!!"
Rea: "Lo kan nikah sama Pasha.."
Elly: "Amiin.. gue nikah sama Pasha.. Eh, emang lu mimpi apaan???"

MIMPI??
TERNYATA.. SEMUA HANYALAH MIMPI??

Rea memperhatikan seluruh kamarnya.. cd lagu Radja masih ada di dalam player.. tapi sudah kehabisan lagu.. sementara.. covernya.. berserakan di ranjang.. basah kena air.. Ya ampuuuuunnnnnnn!!!!

Rea: "Tidaaaaaaaaaakkkkkkk..........!!!!!"
 
Back
Top