Reproduksi Hewan [Biologi Umum II]

dianapple

New member
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI UMUM II
“REPRODUKSI HEWAN”





Oleh:


Oleh:
Nama : Dian Octarina
NIM : 08081004023
Asisten : Ayu Dian Mardita
Kelompok : III (Tiga)


LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2009
ABSTRAK
Praktikum yang berjudul, “Reproduksi Hewan” bertujuan untuk mempelajari serta mengenal sistem reproduksi pada beberapa hewan. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 27 Maret 2009, pukul 13.30- 15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya. Alat yang digunakan adalah baki bedah, gunting bedah, jarum penusuk dan killing jar dan pinset, sedangkan bahan yang digunakan adalah Cyprinus carpio, Kloroform, Mus musculus, dan Rana cancrivora. Adapun hasil yang didapat yaitu gambar organ generatif pada masing-masing bahan beserta klasifikasinya dan deskripsi. Kesimpulan yang didapat pada praktikum ini yaitu pada umumnya organ generatif jantan berupa testis dan vas deferens sedangkan organ generatif betina yaitu ovarium.














BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dengan memadukan genetika molekuler dengan pendekatan klasik terhadap embriologi, para ahli biologi perkembangan sekarang sedang mulai menjawab banyak pertanyaan mengenai bagaimana sebuah telur yang dibuahi menjadi seekor hewan tertentu. Ahli biologi molekuler Sidney Brenner telah secara sini berkomentar bahwa biologi perkembangan adalah “bagaimana cara membawa seekor mencit,” dan memang, mencit adalah model percobaan yang paling disukai bagi para peneliti yang sedang mempelajari perkembangan vertebrata, khususnya perkembangan mamalia. Katak dan ayam juga merupakan organisme model yang penting untuk memahami perkembangan vertebrata, khususnya perkembangan mamalia (Campbell 2004 : 175)
Reproduksi ada yang seksual dan ada pula yang aseksual. Generatif maupun vegetatif (kawin dan tak kawin). Perkembangbiakan generatif pada hewan meliputi perkembangbiakan dengan konjungsi dan pleburan dua sel gamet. Konjugasi, yaitu perkembangbiakan secar kawin pada organisma yang belum jelas alat kelaminnya, contohnya Spirogyra. Peleburan dua sel gamet, dapat terjadi pada hewan yang telah memiliki alat kelamin tertentu, sebagai contoh pada cacing tanah terjadi perkawinan silang antara dua cacing yang kawin. Cacing A dibuahi oleh sperma dari cacing B, sedangkan cacing B dibuahi oleh sperma dari cacing A. cacing tanah tergolong hewan hermafrodit yang memiliki alat kelamin jantan dan berin pada satu tubuh. Selain cacing tanah yang tergolong hermafrodit antara lain cacing pita, siput darat dan bekicot (Anonim a 2009: 1).
Reproduksi hewan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu secara vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan vegetatif terjadi tanpa peleburan sel kelamin jjantan dan betina. Perkembangbiakan vegetatif biasanya terjadi pada hewan tingkat rendah atau tidak bertulang bekakang (avertebrata). Perkembangbiakan generatif umumnya terjadi pada hewan tingkat tinggi atau hewan betulang belakang (vertebrata). Perkembangbiakan tersebut melibatkan alat kelamin jantan dan alat kelamin betina dan ditandai oleh adanya peristiwa pembuahan (Fertilisasi). Reproduksi vegetatif pada hewan umumnya terjadi pada avertebrata dan tidak melibatkan alat reproduksi. Ada 3 cara perkembangbiakan pada hewan secara vegetatif yaitu pertunasan, pembelahan sel, dan flagmentasi. Kebanyakan organisme mempunyai perbedaan yang nyata antara individu jantan dan individus betina. Alat reproduksi hewan pada dasarnya terdiri atas sel kelamin dan alat kelamin (Anonim b 2009 : 1).
Berdasarkan tempat terjadinya, pembuahan dibedakan atas pembuahan luar dan pembuahan dalam. Pertemaun luar, yakni pertemuan sperma dan ovum terjadi di luar tubuh, misalnya ikan dan katak. Pembuahan dalam, yaitu pertemuan sperma dan ovum terjadi di dalam tubuh, misalnya reptilia, burung dan manusia.
Pada pembuahan eksternal (pembuahan luar), sel telur dan sel sperma dihasilkan dalam jumlah besar karena, kemungkinan terjadinya fertilisasi kecil dan kemungkinan telur yang dihasilkan akan dimakan oleh hewan lain atau mati karena perubahan lingkungan. Burung berkembang biak dengan bertelur. Bagian-bagian telur burung antara lain adalah cangkang yang terbuat dari zat kapur untuk melindungi isi telur, membran luar, membran dalam, putih telur, kuning telur, sel-sel embrio, kalaza dan rongga udara. Albumen (putih telur) melindungi telur dari guncangan dan sebagai cadangan makanan. Kuning telur tempat embrio berada juga sebagai cadangan makanan bagi embrio. Kalaza berfungsi menjaga embrio tetap berada di bagian atas kuning telur, sehingga dekat dengan sumber panas dari induknya apabila dierami. Pertemuan sperma dan ovum (fertilisasi) terjadi pada saluran falopii menghasilkan zigot. Zigot tersebut tumbuh menjadi embrio. Embrio akan berkembang menjadi fetus dan akhirnya lahir sebagai bayi. Embrio memperoleh zat makanan dari induknya melalui plasenta. Penghubung antara plasenta dengan embrio adalah tali pusat. Untuk melindungi embrio dari benturan terdapat cairan yang disebut air ketuban (Anonim a 2009: 1).



1.2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mempelajari serta mengenal sistem reproduksi pada beberapa hewan.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Terdapat dua modus utama reproduksi hewan. Reproduksi aseksual (bahasa Yunani, “tanpa seks”) adalah penciptaan individu baru yang semua gennya berasal dari satu induk tanpa peleburan telur dan sperma. Reproduksi aseksual secara keseluruhan mengandalkan pembelahan sel secara mitosis. Reproduksi aseksual adalah penciptaan keturunan melalui gamet haploid untuk membentuk zigot (telur yang dibuahi), yang diploid. Gamet betina, ovum (telur yang belum dibuahi), umumnya adalah sel yang relatif besar dan tidak motil. Gamet jantan, spermatozoon, umumnya adalah sel yang kecil namun motil. Reproduksi seksual meningkatkan keragaman genetik di antara keturunan dengan cara membangkitkan kombinasi unik gen yang diwariskan dari dua induk. Dengan menghasilkan keturunan yang mempunyai fenotip beraneka ragam, reproduksi seksual bisa meningkatkan keberhasilan reproduksi induk ketika patogen atau faktor lingkungan lain berubah relatif cepat. Jenis reproduksi aseksual lain yang dapat ditemukan adalah fragmentasi, yaitu pematahan tubuh menjadi beberapa bagian dan beberapa atau semuanya berkembang menjadi individu dewasa yang lengkap. Bagi hewan untuk dapat bereproduksi dengan cara ini, fragmentasi harus disertai dengan cara regenerasi, yaitu pertumbuhan kembali bagian tubuh yang hilang. Reproduksi melalui fragmentasi dan regenerasi terjadi pada banyak hewan spons, cnidaria, annelida, polikaeta, dan tunikata. Banyak hewan lain juga dapat menggantikan anggota tubuh yang hilang dengan cara regenerasi, misalnya sebagian besar bintang laut dapat menumbuhkan lengan baru ketika terluka atau patah, tetapi hal tersebut bukan merupakan reproduksi karena tidak menghasilkan individu baru. Pada bintang laut dari genus Linekia, individu baru bisa tumbuh dan berkembang dari sepotong lengan, jika diputuskan semuanya, secara aseksual dapat menghasilkan lima keturunan (Campbell 2004 : 150).
Reproduksi hewan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu secara vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan vegetatif terjadi tanpa peleburan sel kelamin jjantan dan betina. Perkembangbiakan vegetatif biasanya terjadi pada hewan tingkat rendah atau tidak bertulang bekakang (avertebrata). Perkembangbiakan generatif umumnya terjadi pada hewan tingkat tinggi atau hewan betulang belakang (vertebrata). Perkembangbiakan tersebut melibatkan alat kelamin jantan dan alat kelamin betina dan ditandai oleh adanya peristiwa pembuahan (Fertilisasi). Reproduksi vegetatif pada hewan umumnya terjadi pada avertebrata dan tidak melibatkan alat reproduksi. Ada 3 cara perkembangbiakan pada hewan secara vegetatif yaitu pertunasan, pembelahan sel, dan flagmentasi. Kebanyakan organisme mempunyai perbedaan yang nyata antara individu jantan dan individus betina. Alat reproduksi hewan pada dasarnya terdiri atas sel kelamin dan alat kelamin (Anonim b 2009 : 1).
Perkembangbiakan generatif pada hewan meliputi perkembangbiakan dengan konjungsi dan peleburan dua sel gamet.
1. Konjugasi, yaitu perkembangbiakan secara kawin pada organisme yang belum jelas alat kelaminnya, contohnya Spirogyra.
2. Peleburan dua sel gamet, dapat terjadi pada hewan yang telah memiliki alat kelamin tertentu, sebagai contoh pada cacing tanah terjadi perkawinan silang antara dua cacing yang kawin. Cacing A dibuahi oleh sperma dari cacing B, sedangkan cacing B dibuahi oleh sperma dari cacing A. cacing tanah tergolong hewan hermafrodit yang memiliki alat kelamin jantan dan berin pada satu tubuh. Selain cacing tanah yang tergolong hermafrodit antara lain cacing pita, siput darat dan bekicot.
Berdasarkan tempat terjadinya, pembuahan dibedakan atas:
1. Pembuahan luar, pertemuan sperma dan ovum terjadi di luar tubuh, misalnya ikan dan katak.
2. Pembuahan dalam, pertemuan sperma dan ovum terjadi di dalam tubuh, misalnya reptilia, burung dan manusia. Pada pembuahan eksternal (pembuahan luar), sel telur dan sel sperma dihasilkan dalam jumlah besar karena, kemungkinan terjadinya fertilisasi kecil dan kemungkinan telur yang dihasilkan akan dimakan oleh hewan lain atau mati karena perubahan lingkungan. (Anonim a 2009: 1)
Burung berkembang biak dengan bertelur. Bagian-bagian telur burung antara lain adalah: cangkang terbuat dari zat kapur untuk melindungi isi telur, membran luar, membran dalam, putih telur, kuning telur, sel-sel embrio, kalaza dan rongga udara. Albumen (putih telur) melindungi telur dari guncangan dan sebagai cadangan makanan. Kuning telur tempat embrio berada juga sebagai cadangan makanan bagi embrio. Kalaza berfungsi menjaga embrio tetap berada di bagian atas kuning telur, sehingga dekat dengan sumber panas dari induknya apabila dierami (Anonim ª 2009 : 1)
Mamalia tergolong hewan vivipar (melahirkan anak), mempunyai alat kelamin jantan dan betina. Alat kelamin jantan (pria) terdiri dari sepasang testes, yaitu penghasil sperma, saluran sperma (vas deferen), dan penis yaitu alat kelamin luar. Alat kelamin betina (wanita) berupa ovarium (indung telur) yaitu penghasil ovum, tuba falopii (saluran ovum atau oviduk), rahim atau uterus, yaitu tempat pertumbuhan dan perkembangan embrio. Pada hewan mamalia yang dapat menghasilkan banyak anak, juga memiliki uterus yang banyak pula, misalnya tikus. Vagina (lubang peranakan) adalah saluran terluar dari alat alat kelamin betina. Pertemuan sperma dan ovum (fertilisasi) terjadi pada saluran falopii menghasilkan zigot. Zigot tersebut tumbuh menjadi embrio. Embrio akan berkembang menjadi fetus dan akhirnya lahir sebagai bayi. Embrio memperoleh zat makanan dari induknya melalui plasenta. Penghubung antara plasenta dengan embrio adalah tali pusat. Untuk melindungi embrio dari benturan terdapat cairan yang disebut air ketuban (Anonim a 2009 : 2).
Pada hewan yang melakukan fertilisasi secara internal organ reproduksinya dilengkapi dengan adanya organ kopulatori, yaitu suatu organ yang berfungsi menyalurkan sperma dari organisme jantan ke betina. Peranan hewan jantan dalam hal reproduksi terutama adalah memproduksi sperma dan sejumlah kecil cairan untuk memungkinkan sel sperma meluncur menuju rahim. Sperma dihasilkan ditubulus seminiferus. Tubulus-tubulus tersebut sangat berliku-liku pada jantan yang lebih tua. Spermatogonia tumbuh menjadi spermatosit primer, yang setelah pembelahan meiosis pertama tumbuh menjadi spermatosit sekunder haploid selanjutnya spermatosit sekunder haploid tumbuh menjadi spermatid yang setelah mengalami sederetan transpormasi disebut spermiogenesis, kemudian tumbuh menjadi sel sperma yang terdiri atas sebuah kepala, sebuah bagian tangah (tubuh) serta bagian ekor. Fungsi testis lainnya yang penting adalah sekresi hormon seks jantan. Bukti-bukti yang ada dan yang terbaik menunjukan bahwa hanya sel leydig yang terdapat pada jaringan interestisial mensekresi hormone androgen (Anonim b 2009 : 1).
Gonade jantan atau testis terdiri atas banyak saluran yang melilit-lilit. Saluran tersebut adalah tubulus seminiferus, dimana pada tempat tersebut sperma terbentuk. Sel-sel leydig yang tersebar diantara tubulus semeniferus menghasilkan testosterone dan androgen yang merupakan hormon seks jantan. Produksi sperma yang normal tidak akan dapat terjadi pada suhu tubuh sebagian besar mamalia, sehingga testis manusia dan mamalia lain dipertahankan berada diluar ronnga abdomen tepatnya didalam skrotum, yang merupakan pelipatan dinding tubuh. Suhu dalam sakrotum adalah sekitar 2°C dibawah suhu rongga abdomen (Anonim c 2009: 1)













BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 27 Maret 2009, pukul 13.30-15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah baki bedah, gunting bedah, jarum penusuk dan killing jar dan pinset. Dan bahan yang digunakan adalah Cyprinus carpio, Kloroform, Mus musculus, dan Rana cancrivora.
3.3. Cara Kerja
Bahan yang ada dipingsankan/dimatikan terlebih dahulu, seperti katak dimasukkan kedalam killing jar yang diberi kloroform. Mencit dengan cara dislokasi leher. Diletakkan bahan di atas baki bedah, ditusuk dengan jarum penusuk. Gunakan gunting dan pinset untuk membedah bahan. Lakukan hingga organ dalam bahan yang terbawa terlihat jelas. Diperhatikan dan digambarkan sistem reproduksi dari tiap-tiap bahan (jantan dan betina), diberi keterangan gambar yang sudah dibuat.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapat hasil sebagai berikut:
a. Cyprinus carpio
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Clasiss : Ostheichtyes
Ordo : Osthariophysi
Family : Cyrinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio
Nm Umum : Ikan mas

Keterangan
1. Ovarium
2. Oviduk
3. Saluran uregenital
4. Testis
5. Vas deferens (saluran sperma)



b. Mus musculus
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Clasiss : Mamalia
Ordo : Rodentia
Family : Muridae
Genus : Mus
Spesies : Mus musculus
Nm Umum : Mencit

Keterangan
1. Lemak
2. Ovarium
3. Embrio
4. Plasenta
5. Uterus
6. Vagina (mencit betina)
7. Testis
8. Vas deferens
9. Penis (mencit jantan)




c. Rana cancrivora

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Clasiss : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Rana
Spesies : Rana cancrivora
Nm Umum : Katak

Keterangan
1. Testis
2. Vas deferens
3. Kloaka
4. Saluran kencing (katak jantan)
5. Ovarium
6. Oviduk
7. Uterus
8. Kloaka (katak betina)



4.2. Pembahasan
Reproduksi aseksual adalah reproduksi dengan tidak melalui peleburan gamet kelamin jantan dan betina. Hal ini sesuai dengan pendapat Campbell (2004 : 150) bahwa penciptaan individu baru yang semua gennya berasal dari satu induk tanpa peleburan telur dan sperma. Pada sebagian besar kasus, reproduksi aseksual secara keseluruhan mengandalkan pembelahan secara mitosis. Reproduksi seksual adalah penciptaan keturunan melalui peleburan gamet haploid untuk membentuk zigot (telur yang dibuahi), yang diploid. Gamet dibentuk melalui meiosis. Gamet betina, ovum 9 telur yang belum dibuahi), umumnya adalah sel yang relatif lebih besar dan tidak motil. Gamet jantan, spermatozoon, umumnya adalah sel yang kecil namun motil. Reproduksi seksual meningkatkan keragaman genetik di antara keturunan dengan cara membangkitkan kombinasi unik gen yang diwariskan dari dua induk. Dengan menghasilkan keturunan yang mempunyai fenotipe beraneka ragam, reproduksi seksual bisa meningkatkan keberhasilan reproduksi induk ketika pathogen atau faktor lingkungan lain berubah relatif cepat.
Alat kelamin Cyprinus carpio (ikan mas) jantan terdiri atas sepasang testis yang berwarna putih. Hal ini sesuai dengan pendapat Prawirohartono (2004 : 51) bahwa testis berfungsi menghasilkan spermatozoa. Spermatozoa terdiri dari testi dialirkan ke saluran sperma atas (vas deferens). Dari vas deferens, spermatozoa keluar melalui muara lubang urogenital. Lubang urogenital adalah lubang tempat bermuaranya saluran kelamin dan saluran urine. Pada alat kelamin Cyprinus carpio betina terdiri atas sepasang indung telur atau ovarium. Alat itu berwarna bening kecokelat-cokelatan mirip agar-agar. Ovarium berfungsi menghasilkan sel telur (ovum). Dari ovarium itu sel telur keluar melalui oviduk atau saluran telur. Akhirnya, sel keluar melalui muara lubang urogenital.
Tikus jantan mempunyai alat perkembangbiakan yang terdiri dari sepasang testis sebagai penghasil sperma, saluarn vas deferens sebagai saluran sperma dan penis yang merupakan alat untuk memasukkan sperma ke saluran kelamin tikus betina. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwisang (2008 : 2008) bahwa pada proses pembuahan di dalam saluran sel telur terjadi peleburan spermatogozoid dan sel telur yang menghasilkan zigot. Kemudian zigot bergerak menuju rahim (uterus) dan menempel di dinding rahim. Pda sebagian besar spesies mamalia, termasuk tikus atau mencit, organ reproduksi eksternal jantan adalah skrotum dan penis. Organ reproduksi internal terdiri atas gonad yang menghasilkan gamet (sel-sel sperma) dan hormone, kelenjar aksesoris yang mengsekresikan produk yang esensial bagi pergerakan sperma dan sekumpulan duktus yang membawa sperma dan sekresi glandular. Alat reproduksi mamalia betina terdapat sepasang kelenjar kelamin yaitu ovarium yyang berfungsi menghasilkan ovum. Dalam ovarium terdapat folikel graf yang akan berkembang menjadi sel telur (ovum). Ovarium dihubungkan dengan uterus (rahim) oleh suatu saluran yang disebut tabung fallopi (Tuba Fallopi). Uterus merupakan saluran berongga yang lebih besar dengan bagian ujungnya bersatu membentuk saluran sempit yaitu vagina.
Rana cancrivora atau dalam bahasa Indonesia katak merupakan kelas amphibia. Hal ini sesuai dengan pendapat Syamsuri (2002 : 111) bahwa Rana cancrivora mempunyai sepasang testis yang berfungsi menghasilkan sperma. Sperma yang diasilkan oleh testis dikeluarkan melalui kloaka. Kloaka merupakan muara dari tiga saluran yaitu saluran pencernaan, saluran kelamin dan saluran pengeluaran (ekskresi). Katak betina mempunyai ovarium yang berfungsi menghasilkan sel telur (ovum). Dari ovarium, sel telur menuju ke oviduk dan selanjutnya keluar melalui kloaka.
Ampibia mengeluarkan gamet kelingkungan dan fertilisasi terjadi di luar tubuh betina. Hal ini sesuai dengan pendapat Campbell (2000 : 153) bahwa pada sebagian besar spesies, adaptasi prilaku menjamin bahwa seekor jantan hadir ketika betina mengeluarkan telurnya. Di sini seekor katak betina, didekap oleh seekor katak jantan (di atas), baru saja melepaskan sejumlah telur. Katak jantan melepaskan sperma pada waktu bersamaan dan fertilisasi eksternal terjadi di air sekitarnya


BAB V
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Baik reproduksi aseksual maupun reproduksi seksual terjadi pada lingkungan hewan.
2. Pada setiap hewan siklus dan pola reproduksinya sangat bervariasi
3. Organ generatif jantan pada Mus musculus berupa sepasang testis, vas deferens dan penis. Sedangkan pada betina yaitu vagina dan ovarium
4. Organ generatif jantan pada Cyprinus carpio berupa sepasang testis dan vas defers sedangkan pada betina yaitu sepasang ovarium
5. Organ generatif jantan pada Rana cancrivora berupa sepasang testis sedangkan pada betina berupa ovarium.




maaf byk yg bolong''....
cos banyak yg g bisa di kopi langsung....
untuk selengkapnya silahkan hubungi saia

thX... moga bermanfaat buad semua...
salam Mahasiswa Biologi yang masih cupu

-D'O-








-PooR pRinZa aPpLe- wiV edeLweiss in mY hearT
 
Back
Top