Bumi : Ditinjau dari Keadaan Geologis dan Geografis Login dengan akun Jejaringsosial.com anda Daftar sebuah akun Jejaringsosial.com
 
Go Back   Home > Science & Penemuan
Lupa Password?

Gambar Umum Video Umum





 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #11   Report Post  

Bentuk-bentuk Gunung

BENTUK-BENTUK GUNUNG


‘Gunung’ adalah setiap tonjolan pada permukaan bumi, yang kemudian karena
ketinggian itu mudah dibedakan dan keadaan sekitarnya; baik tonjolan yang muncul tersendiri di atas suatu daerah dataran maupun yang merupakan sebagian dari suatu pegunungan.


Bentuk sebuah gunung tergantung tiklinorium. Suatu geosinklinal ialah suatu daerah luas, di mana dasarnya menurun perlahan-lahan sehingga terbentuk cekungan tempat penumpukan batu endapan.

Suatu lapisan batuan dapat mengalami kepatahan karena harus menahan tegangan tank atau tegangan tekanan. Dalam hal demikian, bagian-bagian pada ke-2 sisi patahan biasanya akan bergeser sepanjang suatu bidang patahan. Kedudukan bidang patahan dapat melintang maupun mendatar.

Tidak setiap patahan harus mengalami pergeseran. Diaklasa, yang terjadi karena tarikan (misalnya pada sisi cembung suatu lipatan), sobekan-penyusutan yang terjadi karena pengeringan (lumpur, basal) dan percelahan karena tekanan (tegak lurus pada arah tekanan) adalah bentuk-hentuk patahan tanpa pergeseran.
Dapat pula terjadi pergeseran tegak lurus pada jarak pendek, sehingga susunan hubungan lapisan tidak mengalami pematahan; lengkungan (fleksur) yang dermkian di kelak kemudian dan biasanya akan menjadi patahan dengan pergeseran.

Pergeseran ke atas, dengan bidang patahan datar, di mana terjadi pemindahan pada jarak besar, disebut perpindahan. Di daerah-daerah lipatan seperti daerah Alpen, banyak terjadi perpindahan
besar-besaran.

lapisan yang paling alas dapat bergeser dan lapisan hawahnya, dengan bidang pergeseran yang tajam dan jelas. Oleh erosi pada lapisan alas juga dapat terbentuk celahan sehingga batu-batuan yang tergeser timbul di permukaan.
Sebaliknya pun dapat terjadi, bahwa seluruh lapisan atas hilang oleh erosi. kecuali sejumlah kecil sisa-sisa batuan yang lalu tampak sebagai janihul di atas lapisan batuan yang lebih muda.

Dalam suatu cekungan endapan, dapat berlangsung endapan pasir, batu kerikil, tanah hat, kapur dan sehagainya secara bergantian.

Isolasi. Bahan kerak bumi yang tetap, mengapung di daham substrata sebagai suatu benda yang hebih ringan.

Menurut kaidah-kaidah kesetimbangan hidrostatik, dan suatu benda yang mengapung ada sebagian daripadanya yang terhetak di daham cairan, yang sebanding dengan perbandingan kepaclalan relatif benda dan cairan.

Jadi di bawah setiap pegunungan selahu terdapat akar yang terdiri alas bahan lebih ringan, yang jauh hehih besar dan pegunungan itu sendiri. Perimbangannya tentu saja tidak selahu ideal; sebab selamanya sehahu terjadi perpindahan bahan-bahan hepa.san dan daerah pegunungan ke dasar latitan. Dengan demikian yang pertama ada kecenderungan naik ke atas, yang terakhir berkecenderungan mehuncur ke bawah.
City Level

Post: 241
 
Reputasi: 2

 






Reply With Quote     #12   Report Post  

Bangun Kerak Bumi

BANGUN KERAK BUMI


Hampir semua lapisan kulit daratan yang tua, terdiri atas lipatan dan susunan kristal batu-batuan dan masa prekambrium Tentang anti teoretik dan batu-batuan itu untuk geologi, belum ada kesepakatan.

Ada teori yang mengelompokkan lapisan kulit dan Amerika Selatan, Afnika Sehatan, Asia dan Australia sebagai bagian dari suatu benua selatan di masa lampau (Daratan Gondwana) yang terpisah-pisah menjadi bagian-bagian bumi yang lebih dalam oleh arus konveksi.

dalam waktu yang relatif singkat. Kuhit-kulit itu memang merupakan sisa-sisa batuan masiftua, yang terpecah oleh erosi menjadi tanah-tanah jazirah dan sejak awal masa Kambrium tidak mengalami pehipatan lagi; hal itu dapat diketahui secara pasti karena pada beberapa bagian diketemukan endapan sedimen kambrium yang tetap terletak di bagian atas tanpa menunjukkan perubahan.

Sepanjang sejarah geologi, di sekitar dan pada dasar benua-benua itu sering tenjadi endapan dan pehepasan; kadang-kadang sampai setebal beberapa km dan di hapisan alas kerak bumi mengalami pehipatan sekali atau beberapa kali karena gaya kekuatan yang besar dan daham bumi.

Kegiatan bumi dalam membentuk pegunungan dan patahan ini selalu berlangsung secara sikhis; masa-masa aktif yang ditandai dengan munculnya daerah-daerah pegunungan baru, selalu berselang dengan masa-masa lebih tenang, di mana pada saat itu daerah-daerah pegunungan dihancurkan erosi dan bahan-bahannya dibawa ke laut yang mengandung cekungan-cekungan geosinklinal; dan sementara dasar lautan menurun, cekungan itu tenisi dengan sedimen serta terhibat lagi dalarn suatu peniode pehipatan.

Setiap pelipatan makan waktu jutaan tahun dan secara geologik, kita dewasa ini berada dalam suatu periode yang sangat aktif.
Sepanjang sejarahnya, bumi telah mengalami 4 peniode hipatan; yakni 420—300 juta tahun yang lain (Kaledonik); 300—200 juta tahun lalu (Hersinik); 200—60 juta tahun yang lalu (Mezosoik) dan 60juta tahun yang laIn.
Periode yang terakhir ini adalah lipatan alpin masih terus berlangsung hingga sekarang.

Dan periode pertama (dinamakan menurut sebuah pegunungan di Skothandia), sisa-sisanya yang masih terdapat di henna Eropa antara lain di hnggeris, Skotlandia dan Norwegia. Periode lipatan ke-2 (dinamakan menurut Pegunungan Herz, Jerman Barat) masih ditemukan sisa-sisanya di Eropa Barat dari tengah. Pegunungan Ural, Asia Tengah, Australia Timur Laut dan bagian tengah Amenika Utara.
kelompokan lipatan mezosoik terdapat di Asia Timur Laut dan Tenggara, Selandia Baru dan daerah pantai barat Amerika Utara dan Selatan. Semua pegunungan itu, kini sudah menjadi rendah dan membulat karena pengaruh erosi.

Sebaliknya gugus-gugus pegunungan yang termasuk lipatan alpin masih tinggi
dan terjal bentuknya masih tajam dan runcing, lapisan batuannya menunjukkan lipatan yang jelas; bahkan ada lapisan yang menindih lapisan batuan lain.
Lipatan ini boleh dikata meliputi seluruh daerah pegunungan
tinggi di dunia; mulai dari Eropa, membentang melalui daerah Apenina ke Pegunungan atLas. kemudian melalui suatu daerah sabuk pegunungan yang lebar di Asia Kecil sampai ke






rangkaian pulau-pulau di Kepulauan Indonesia; di sini wilayah lipatan Eurasia itu bertemu dengan daerah lipatan yang terletak dalam suatu busur lingkaran besar sekitar L. Teduh (daerah lipatan sirkumpasifik).

Ciri khas untuk keseluruhan lipatan alpin adalah ketidaktenangan geologik, yang sering muncul sebagai gejala gunung api dan berbagai gempa bumi.
Untuk menjelaskan proses dahsyat, yang antara lain menyangkut pembentukan pegunungan, telah banyak disusun berbagai teori.

Di antaranya ada 2 kelompok yang berbeda secara prinsip; 1) kelompok yang mencoba menjelaskan pembentukan pegunungan berdasarkan gejala-gejala gaya tekanan tangensial, yang boleh dikata sejajar dan mendatar sepanjang permukaan bumi dan berbagai tegangan pada kerak bumi serta bahwa tekanan dan tegangan itu juga menimbulkan berbagai gejala lain; 2) kelompok yang mencoba mencari penjelasan semata-mata dan gaya-gaya tegak lurus.
Secara sepintas di sini ditunjukkan daerah-daerah patahan besar yang terdapat di bumi.

Terjadinya patahan-patahan itu serta munculnya gerakan-gerakan yang relatif tegak lurus, secara agak pasti menunjukkan tentang adanya tekanan-tekanan yang bekerja pada arah tegak lurus.
Sepanjang masa geologik, bumi telah menunjukkan berbagai bentuk. Terutama dan segi pembagian masa daratan dan lautan, bentuk bumi banyak mengalami perubahan. Bermula dan suatu benua tua, pembagian atas gugus benua dan lautan yang kita kenal dewasa ini berlangsung melalui herbagai proses pengapungan dan pergeseran.

Mekanisma pengambangan itu diperkirakan berasal dan penyebaran dasar lautan. Suatu contoh jelas tentang teori pengapungan itu tampak pada gambar daerah Teluk Aden yang diambil pesawat Gemini II, Sep 1966 dan ruang angkasa.

Pada gambar tampak Teluk Aden dengan celah terbuka lebar ke arah Samudra Indonesia (kanan) dan suatu saluran sempit ke 1.. Merah (kin).
Di atas dapat kita kenali Jazirah Arab; di bagian bawah, daerah-daerah yang termasuk Ethiopia dan Somalia.

Oleh pembentukan tanah dangkalan di dalam kerak bumi, kemudian terbentuk L. Merah dan Teluk Aden yang silang-menyilang. Hal itu kemudian menyebabkan Jazirah Arab, yang berdasarkan struktur geologi sebenarnya merupakan bagian benua Afrika, terpisah dan benua induk dan digeser ke arah timur laut.
Dan bentuk daerah-daerah pantainya terlihat bahwa ke-2 bagian daratan itu dulu memang menjadi satu.

Pada pinggiran daratan Afrika, yang sejak masaPrekambrium tidak mengalami lipatan lagi, kemudian han mendapat imbuhan daerah lipatan yang juga sudah mengalami erosi permukaan.

Gambar berikut (gambar ruang angkasa dan pesawat Gemini 5, Ags 1965)
menunjukkan wilayah pertemuan antara daerah tersebut di atas, di Walvis Bay, Namibia.

Belahan atas pada gambar itu menunjukkan sebagian dan lapisan masa prekambnium, di mana ikatan batu-batuan yang lebih keras dan tahan erosi tampak sebagai garis-garis berkelok-kelok.

Di sebelah kin, lapisan mi tenggelam ke bawah lapisan yang lebih muda;
sedang lapisan muda itu sendiri tertutup massa pasir dan Gurun Namib. Pada massa pasir ini kemudian terbentuk pola-pola gelombang angin; sehingga tidak meleset jika sering disebut sebagai lautan pasir.
City Level

Post: 241
 
Reputasi: 2






Reply With Quote     #13   Report Post  

Pembentukan Pegunungan

PEMBENTUKAN PEGUNUNGAN


Suatu hipotesa dan vUlkanolog Belanda, Vening Meinesz, mengatakan bahwa dalam sementara waktu di dalam substratum terjadi arus-arus melingkar, sebagai akibat dan kenaikan suhu setempat (karena radioaktivitas). Arus-arus ini mengangkut bahan-bahan kerak bumi yang padat; di atas tempat .enaikan arus tenjadi kekuatan tegangan; di mana arus menurun, terjadi daerah dengan gerakan ke bawah, di mana pelepasan batuan mengalami lipatan karena tekanan dan samping dan kemudian terjadi pemindahan.
Jika arus berhenti dan keadaan seimbang lagi, terbentuklah suatu pegunungan lipatan.
Anggapan lain mengatakan bahwa oleh arus-arus konveksi seperti itu dapat terangkut daratan dan benua; sebagian anggapan itu berpendapat bahwa pembentukan pegunungan merupakan gesekan bagian depan seekor ikan yang mengapung (seperti suatu gelombang haluan); untuk sebagian lagi





dianggap merupakan akibat desakan daerah-daerah geosinklinal antara dua benua yang mengambang dan saling mendekati.
Segala hiporesa yang hingga kini dibicarakan, beranggapan hahwa energi yang diperlukan pada pembentukan pegunungan berasal dari proses-proses termodinamika; baik berupa pendinginan bumisecara keseluruhan. maupun proses pemanasan setempat.

Kelompok teori ke-2 berusaha menjelaskan terjadinya pegunungan lipatan dan proses fisis dan kimiawi. Dalam kelompok ini termasuk pula teori undasi (teori gerak gelombang) dan van Bemmelen.
teori itu beranggapan bahwa di berbagai permukaan dan tektonosfer terdapat suatu keseimbangan fisis-kimia yang labil.
Jika keseimbangan ini mengalami gangguan setempat (karena perubahan perbandingan tekanan dan suhu), akan terjadi perubahan kimiawi (magmatisasi) disertai pertukaran zat, perubahan penting dalam kerapatan jenis dan ciri-cini fisis lain dan zat-zat itu.

Jika keseimbangan mengalami gangguan setempat, di dalam kerak timbul perpindahan massa yang pada permukaan muncul sebagai gerakan-gerakan vertikal (tektogenese primer); terjadilah suatu relief berbentuk pegunungan. Van Bemmelen beranggapan bahwa perkembangan selanjutnya menjadi pegunungan lipatan (bentuk lipatan dan patahan, pergeseran, limpahan ke atas lapisan lain) diakibatkan oleh peluncuran massa batuan ke samping, karena bekerjanya gaya berat (tektogencse sekunder); suatu gejala yang dapat muncul di setiap kedalaman pada kerak bumi.

Gempa bumi, baik yang normal, menengah atau dalam, selalu akan tenjadi. Perubahan di suatu daerah juga akan mengganggu keseimbangan daerah-daerah sekitarnya. Di situ akan berulang proses yang sama; pembentukan pegunungan terus berlanjut ke luar sebagai suatu gelombang (geoundasi).
Sementara pada teori-teori lain, gempa bumi dan gejala gunung api dianggap sebagai basil sampingan dan proses tektogenese, pada hipotesa ini, terutama proses magmatisme sangat esensial dan
memegang peranan penting. Dengan demikian teori ini memiliki sifat yang universal dan abadi.
Miyuki
City Level

Post: 427
 
Reputasi: 0






Reply With Quote     #14   Report Post  

Gejala Gunung Api

GEJALA GUNUNG API




Jika suatu lapisan magma (cairan batuan panas) mengalami tekanan di kedalaman kerak bumi yang keras, atau terbentuk di kedalaman karena proses kimia-fisis (migma), di mana cairan itu tidak dapat mencapai permukaan bumi sebelum menggumpal, terbentuklah lapisan batuan kentaL Tenjadinya bentuk-bentuk paling dalam (batolit) yang berukuran besar dan tidak adanya susunan bahan lain yang berbeda dengan bahan dasarnya, masih belum dapat diungkapkan secara jelas; untuk sebagian hal itu kemungkinan diduga berasal dan inti-inti magma dan pegunungan tua yang mengental. Jika lapisan magma dapat mencapai atau cukup dekat dengan permukaan bumi (kemudian dinamakan lava), tampak berbagai gejala yang secara keseluruhan disebut sebagai gejala gunung api (vulkanisme).

Bentuk yang paling dikenal adalah di mana magma dimuntahkan dan kedalaman melalui suatu saluran kawah dan membentuk gunung api. Oleh terjadinya celah-celah lubang kawah sekunder, dapat terbentuk kawah adventif. Magma terdiri atas bahan-bahan silikat cain dan zat-zat gas (uap air, CO2. I-12S, HCL dan gas-gas lain), yang untuk sebagian besar melepaskan diri dari cairan sebelum mengental.

Ada magma yang berkadar silikum, natnium dan kalium tinggi: magma asam. Magma ini bahkan masih bersifat liat pada suhu tinggi, terutama setelah hilangnya gas-gas yang terlebur dalam cairan oleh tekanan yang tinggi dan lepas dan cairan disertai gejala-gejala ledakan hebat; di mana kemudian terbentuk abu (bagian lava yang sangat hams), lapili (bagian lava sebesan kenikil) dan bom-bom (gumpalan besar Lava yang mengental di udara). Magma dengan kadar silikum sedikit dan lebih banyak mengandung kalsium, magnesium dan besi disebut magma basa; magma jenis ini tipis serta cair,dan gas-gas yang terkandung di dalamnya lebih mudah ke luar.

Bentuk-bentuk letusan suatu gunung api (dahsyat atau tenang),
bahan-bahan yang dimuntahkannya (padat, cair, gas) dan bentuk luarnya sangat bergantung pada daya letusan magma. Pada pengentalan lava yang berlangsung cepat, terjadi gumpaLan-gumpaLan lava; jika pengentalan berLangsung Lambat, dijumpai bentuk bergelombang.

Bentuk letusan gunung api terpenting dibedakan atas: Tipe Hawaii :
sangat tipis, magma basa mengalir tenang ke suatu danau lava di kawah.
Pada waktu letusan, lava mengalir sepanjang lereng dan membentuk kulit datar atau gunung api lava yang terdiri atas lapisan lava. Tipe Stromboli :
lavanya tidak begitu tipis dan cair, jadi tekanan gasnya agak lebih tinggi.
Aliran lava silih berganti dengan saatsaat di mana bom-bom dan lapili melejit ke udara; di sini akan terbentuk gunung api strato atau gunung api pendek. Tipe Vulkano : magmanya sudah sedemikian hat sehingga mulut saluran kawah jadi tersumbat gumpalan lava kental; oleh tekanan gas yang sewaktu-waktu meningkat, lava itu disemburkan secara eksplosif dan ditaburkan ke luar.

Ahiran lava sangat jarang; di sini terjadi gunung api abu, berupa kerucut runcing, terdiri atas bahan-bahan lepas yang disemburkan dan dalam saluran kawah. Tipe Pelée dan awan panas lain : magmanya terlalu hat sehingga tidak dapat mengalir dan didorong ke luar dan saluran kawah sebagai gumpalan padat.

Kalau zat gasnya kemudian keluar dengan tekanan yang tinggi, tersemburlah massa gas putih bercampur abu dan pasir melalui lereng gunung, menghancurkan segala yang ada.

Tipe Plinian mewakili jenis gunung api yang paling dahsyat. Dalam waktu singkat serentetan letusan menyemburkan seluruh pusat magma dan sebagian dan puncak gunung yang lama, sehingga terbentuk kaldera.

Pada tipe Piinian, gempa bumi dan gelombang-gelombang banjir (tsunami)
dapat membahayakan manusia. Letusan tipe Plinian yang terkenal ialah:
Vesuvius pada tahun 79 Masehi (di mana kota Pompeii dan Herculaneum sampai hilang tertimbun letusan; diuraikan oleh Plinius) dan letusan Krakatau dalam tahun 1883.
Sepanjang sejarahnya, sebuah gunung api dapat menunjukkan satu tipe letusan mama atau lebih.
Di samping tipe letusan pusat, dikenal puLa letusan celah.
Hampir sebagian besar dan zat-zat vulkanik (kadang-kadang lebih dan I juta km3) melimpah ke permukaan bumi melalui celah-celah panjang di mana kemudian terbentuk sistem kerucut-kerucut gunung api.

Gejala itu membentuk apa yang dinamakan basal dataran tinggi.
Ada berbagai gejala yang secara langsung maupun tak langsung berkaitan dengan gejaLa gunung api. Sumber-sumber gas (solfatar, di pusat daerah gunung api, di mana banyak terjadi pelepasan H2S dan HCL; fumarol, biasanya lebib di pinggir daerah gunung api, di mana sering terjadi pelepasan uap air dan C02) dan sumbersarnber air panas (air hangat sampai mendidih, yang mengandung berbagai mineral seperti: belerang, b-arium dan lain-lain), dapat dijumpai terus sampai lama setelah gunung apinya tidak menunjukkan keiatan lagi. Ada kalanya sumber-sumber semacam itu sangat berlumpur; jika di dalam lumpur itu kemudian timbul gelembung-gelembung gas, akan dapat terbentuk gunung api lumpur. Gaisir (pan-

Miyuki
City Level

Post: 427
 
Reputasi: 0






Reply With Quote     #15   Report Post  

Struktur Kerak Bumi Ii

Mau ikut nambahin nih tentang STRUKTUR KERAK BUMI II





Hampir sebagian besar dari batu-batuan endapan yang tertinggal di daratan atau di bawah air, tertumpuk dalam lapisan mendatar yang sejajar. Tetapi sepanjang sejarah bumi, sebagian dari lapisan mendatar itu kemudian terangkat, terlipat-lipat, terpatahkan atau mengalami perubahan bentuk karena gerakan bumi.

Pada lapisan yang jatuh dengan kemiringan, kita bedakan antara garis limpahan, yakni arah garis potong dan suatu bidang mendatar dengan bidang lapisan batuan; dan kemiringan, yakni sudut antara bidang lapisan dan bidang mendatar, dihitung ke bawah, tegak lurus pada garis limpahan.

Suatu lapisan batuan miring, biasanya merupakan bagian dan dinding lipatan tanah bumi; baik lipatan punggung atau anriklinal, maupun lipatan lembah atau sinklinal. Sekelompok hipatan yang keseluruhannya berbentuk Iembah disebut sinklinorium; yang berbentuk punggung disebut antiklinorium. Suatu geosinklinal ialah suatu daerah luas, di mana dasarnya menurun perlahan-lahan sehingga terbentuk cekungan teripat penumpukan batn endapan.





Suatu lapisan batuan dapat mengalami kepatahan karena harus menahan regangan tarik atau tegangan tekanan. Dalam hal demikian, bagian-bagian pada ke-2 sisi patahan biasanya akan bergeser sepanjang suatu bidang patahan. Kedudukan bidang patahan dapat melintang maupun mendatar. Tidak setiap patahan harus mengalami pergeseran. Diaklasa, yang terjadi karena tarikan (misalnya pada sisi cembung suatu lipatan), sobekan-penyusutan yang terjadi karena pengeringan (lumpur, basal) dan percelahan karena tekanan (tegak lurus pada arah tekanan) adalah bentuk-hentuk patahan tanpa pergeseran. Dapat pula terjadi pergeseran tegak lurus pada jarak pendek, sehingga susunan hubungan lapisan tidak mengalami pematahan; lengkungan (fleksur) yang demikian di kelak kemudian hari biasanya akan menjadi patahan dengan pergeseran.

Pergeseran ke atas, dengan bidang patahan datar, di mana terjadi pemindahan pada jarak besar, disebut perpindahan. Di daerah-daerah lipatan seperti daerah Alpen, banyak terjadi perpindahan besar-besaran, lapisan yang paling atas dapat bergeser dari lapisan hawahnya, dengan bidang pergeseran yang tajam dan jelas.

Oleh erosi pada lapisan atas juga dapat terbentuk celahan sehingga batu-batuan yang tergeser timbul di permukaan.
Sebaliknya pun dapat terjadi, bahwa seluruh lapisan atas hilang oleh erosi. kecuali sejumlah kecil sisa-sisa batuan yang lain tampak sebagai jambul di atas lapisan batuan yang lebih muda. Dalam suatu cekungan endapan, dapat berlangsung endapan pasir. batu kerikil, tanah liat, kapur dan sebagainya secara hergantian.

Isotasi. Bahan kerak bumi yang tetap, mengapung di daham substrata sebagai suatu benda yang lebih ringan. Menurut kaidah-kaidah keseimbangan hidrosratik, dari suatu benda yang mengapung ada sebagian daripadanya yang terletak di dalam cairan, yang sebanding dengan perbandingan kepadatan relatif benda dan cairan. Jadi di bawah setiap pegunungan selalu terdapat akar yang terdiri atas bahan lebih ringan, yang jauh lebih besar dan pegunungan itu sendiri, Penimbangannya tentu saja tidak selalu ideal; sebab selamanya selalu terjadi perpindahan bahan-bahan lepasan dari daerah pegunungan ke dasar lautan. Dengan demikian yang pertama ada kecenderungan naik ke alas, yang terakhir berkecenderungan meluncur ke bawah.
Megha
World Level

Post: 16.442
 
Reputasi: 546

__________________

Reply
 


Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search




Similar Threads
Thread Original Poster Forum Replies
12 Keajaiban Geologis di Dunia shisio Art & Design 10
Afsel ditinjau dari sektor wisata agungsuhada Travel, Transportasi, Penerbangan & Hotel 0
Hukuman Mati Ditinjau Dari Agama Buddha singthung Buddha 2
Masturbasi (Onani) Ditinjau Dari Sisi Agama, Kesehatan dan Psikologis(I) T-Rex Islam 1


Pengumuman Penting

Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.