Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuhan)

realisasi-tauhid.jpg

Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa nabi Ibrahim As ketika masih anak-anak beliau mencari Tuhan, ada juga didalam tafsir yang menyebutkan bahwa beliau pertamanya masih ragu dengan Tuhannya dan melakukan pencarian Tuhan.

Didalam al-quran surat al-an’am ayat 76, firman Allah, yang mengisahkan nabi Ibrahim As yang berbunyi:” Ini adalah Tuhanku” dalam menafsiri ayat ini banyak sekali ulama tafsir yang mengambil kisah atau hadist dari ahli kitab (israiliyat) bahkan adalah hadist palsu (maudhu’), kisah ini, bisa menurunkan eksistensi beliau sebagai bapak tauhid, nabi dan rasul.

Dari hadist dan kisah-kisah tadi seakan menunjukkan bahwa beliau mengalami masa pencarian Tuhan, ini tentu bertentangan dengan aqidah kita, karena beliau adalah rasul yang ma’sum (dijaga) bagaimana mungkin akan mengalami masa transisi ketuhanan dalam keyakinannya.

Seorang nabi bukan di pilih ketika dia berumur anak-2 atau setelah remaja melainkan dari bayi sudah mulai dicetak. Kita mempercayai bahwa setiap bayi yang lahir dalam keadaan muslim, berdasarkan hadist nabi Muhammad Saw:” setiap anak yang lahir dalam keadaan suci (islam) maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia Yahudi, atau Nashrani” Dalam pendapat yang muktamad, bahwa semua orang yang lahir dalam keadaan beragama islam, ini disebabkan karena didalam hadist tadi tidak menyebutkan lafadz ” yusallimaanihi”.

Ada beberapa hadist didalam kitab tafsir yang oleh muhadditsin dan mufassirin di yakini hadist maudhu’ dan israiliyah; misalnya yang telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas didalam kitab tafsir At-Thabary.

Didalam tafsir ini walaupun termasuk tafsir yang ma’tsur (manqul dari al-quran, nabi, sahabat dan tabi,in) akan tetapi banyak sekali kisah Israiliyat (cerita-2 orang-2 Yahudi) dan hadist palsu yang tidak di ta’liq (di komentari atau di sanggah), jika tidak di komentari atau di sanggah, maka nantinya akan membuat pembaca meyakini begitu saja, jika pembaca tidak membaca kitab tafsir yang lainnya bisa saja bagi pembaca menimbulkan salah pengertian terhadap suatu tafsir ayat tertentu, jika pembaca tanpa mengoreksi atau meneliti kisah-2 atau hadist yang menafsir suatu ayat tertentu, yang akhirnya adalah menafikan sifat maksum para utusan Allah.

Mayoritas semua kisah yang palsu atau israiliyah di nisbatkan kepada Ibnu Abbas ini tidak terlepas karena terkadang beliau bertanya kepada orang Yahudi Nasrani yang telah masuk islam akan tetapi pertanyaan beliau bukan sesuatu yang berkaitan dengan aqidah.

Kisah nabi Ibrahim di atas di sanggah oleh Imam Arrozi dalam kitabnya Mafatihul Ghaib (tafsir kabir), dalam pandangan beliau cerita bahwa nabi Ibrahim mencari Tuhan ini tidak benar, beliau berpendapat bahwa nabi Ibrahim tidak sedang mencari Tuhan melainkan mengajak dialog atau debat kaumnya, bahwa apa saja yang mereka jadikan Tuhan selain Allah adalah keyakinan yang sesat.

Ini adalah sebagian cara nabi Ibrahim As untuk menghadapi kaumnya yang berbeda-berbeda keyakinan, dari yang menyembah berhala sampai yang menyembah matahari, ketika kaumnya sedang mengadakn ritual pemujaan, beliau mendatangi mereka yang sedang menyembah Tuhan mereka, mereka di ajak diskusi dialog dan adu argumen, sebenarnya Tuhan siapa yang paling benar. Maka tatkala matahari, bulan dan bintang terbenam beliau berkata” qola” hadza rabbi?” Dalam ayat ini Imam Arrozi mempunyai penafsiranm yang berbeda dengan ulama tafsir lainnya, beliau berpendapat bahwa nabi Ibrahim As berkata kepada kaumnya dengan methode kata tanya (istifahmul inkar) ” Ibrahim Berkata” Inikah Tuhanku dalam keyakinan kalian?” dengan maksud untuk mempertanyakan dan membatalkan pendapat mereka bahwa sesuatu yang terbenam tidak pantas di jadikan Tuhan.

Jadi perkataan Nabi Ibrahim didalam ayat al-quran itu bukan sebagai penetapan atau keyakinan (la ‘ala sabilil jazmi) bahwa dengan mengatakan “ ini tuhanku?” melainkan dengan lafadz istifaham inkar (pertanyaan menyangkal).

Begitu juga dengan Imam al-Qurtubi, beliau memaparkan bahwa perkataan nabi ibrahim ketika berkata” ini adalah Tuhanku” untuk mengalahkan pendapat kaumnya, ketika matahari terbenam, maka pendapat mereka tentang Tuhan yang mereka sembah batal, salah dan kalah dengan pendapat nabi Ibrahim As bahwa sesuatu yang terbenam tidak pantas untuk di jadikan Tuhan atau mempunyai arti, “masa' seperti ini dijadikan tuhan?”.

Begitu juga Imam Al-Baidhowi didalam kitabnya, Syarhul muwafiq, beliau berpendapat bahwa kejadian ini, dimasa nabi Ibrahim masih anak-anak dan perkataan tadi memang keluar dari lisan beliau akan tetapi bukan sebuah bentuk penetapan keyakinan penyembahan terhadap apa yang disembah oleh kaumnya, dengan demikian nabi ibrahin tidak berdusta didalam perkataanya ” Hadza Rabbi” akan tetapi perkatannya tadi menunjukkan bahwa beliau sedang berdebat dengan kaumnya dan menentang pendapat kaumnya yang salah, yang telah mepertuhankan, matahari, bulan dan bintang.

Diperkuat juga pendapat ini oleh pendapat Imam Ibnu Arabi, didalam kitab karangannya, Ahkamul Quran, beliau berpendapat bahwa apa yang telah Allah berikan kepada nabi Ibrahim As dari ilmu, hujjah dan kuatnya aqidah beliau dan termasuk nabi dan rasul pertama yang diutus untuk membumikan tauhid Allah di muka bumi ini serta penjelasan yang telah Allah berikan kepadanya tentang ketauhidan Allah, dengan demikian Ibrahim As tidak mungkin tidak mengetahui Allah SWT atau bahkan ragu akan keesaan Allah Swt, kejadian tersebut adalah berita atau cerita yang terjadi antara Ibrahim As dengan kaumnya didalam perdebatan atau diskusi saja, bukan suatu bentuk keyakinan dan kometmen dari nabi Ibrahim As.

Ibnu Arabi mengatakan: “Barang siapa yang berprasangka atau yakin bahwa Ibrahim As ragu, mengalami transisi dalam menentukan Tuhannya atau yakin bahwa nabi Ibrahim pernah menyembah matahari, bulan, bintang maka itu adalah pemahaman yang keliru dan salah, disebabkan orang ini kurang dalam memahami dan bodoh terhadap sifat-2 Nabi dan Rasul” Bagaimana mungkin seorang rasul yang Allah telah berikan kepadanya akal, ilmu, anugerah dan kesempurnaan kepintarannya sebelum menjadi nabi, kok malah menyembah selain Allah denagn kata lain kok masih ragu dengan keEsaan Allah SWT, ini tentu tidak masuk akal,

Firman Allah Swt dalam al-quran:” Dan sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum ( Musa dan Harun), dan adalah kami mengetahui (keadaan) nya“. Begitu juga lanjutan dari ayat yang di surah al-an’am ayat 78, Allah berfirman:” Ibrahim berkata, ” Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas dari apa yang kamu sekutukan”.

Dari ayat ini jelas sekali bahwa nabi Ibrahim tidak pernah mengalami transisi ketuhanan dengan artian mencari Tuhan, ayat ini juga mempertegas bahwa beliau tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah Swt.

Allhu A’lam Bisshowab

Oleh; Miskari Ahmad. Mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo Mesir,

Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir

diedit dari: http://raudlatululum1.com/?p=234
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

Terlepas dari pendapat2 yang sampeyan sampaikan, menurut sampeyan, dari alur cerita yang ada di Qur'an, apakah Ibrahim as pernah berada pada kondisi pencarian kebenaran, seperti halnya pernah dialami dan diakui Al Ghazali dalam karyanya munqidz minaddlolal, atau dalam istilah pecinta Filsafat, Skeptisisme, sampai akhirnya kemudian menemukan kebenaran, baik lewat wahyu (dalam kasus Ibrahim) atau ilham (al Ghazali) ??
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

Terlepas dari pendapat2 yang sampeyan sampaikan, menurut sampeyan, dari alur cerita yang ada di Qur'an, apakah Ibrahim as pernah berada pada kondisi pencarian kebenaran, seperti halnya pernah dialami dan diakui Al Ghazali dalam karyanya munqidz minaddlolal, atau dalam istilah pecinta Filsafat, Skeptisisme, sampai akhirnya kemudian menemukan kebenaran, baik lewat wahyu (dalam kasus Ibrahim) atau ilham (al Ghazali) ??

memang jika dibaca dari surat al-an'am ayat 76-78, diceritakan seperti itu, nabi Ibrahim mencari Tuhan sampai beliau mendapatkan hidayah Allah,

menurutku, nabi Ibrahim pada awalnya sudah mendapatkan hidayah Allah, beliau mencari kebenaran bukan dalam posisi keimanan 0%, tetapi 99%, untuk menyempurnakannya beliau melihat sesembahan kaumnya, dan akhirnya keimanannya menjadi sempurna (setelah "proses pencarian kebenaran" tersebut)

sebagaimana yang di katakan nabi Ibrahim dalam ayat selanjutnya:
"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan/musyrik."

mengapa berkata begitu? karena nabi Ibrahim khawatir dalam "proses pencarian kebenaran" ini beliau dikira telah meragukan Allah atau bahkan belum mengenal Allah sebelumnya.

nampaknya hal ini sama dengan kejadian lain dalam kisah nabi Ibrahim selanjutnya, yaitu pada albaqoroh:260:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

wallahu a'lam :D
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

sebagaimana yang di katakan nabi Ibrahim dalam ayat selanjutnya:
"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan/musyrik."

mengapa berkata begitu? karena nabi Ibrahim khawatir dalam "proses pencarian kebenaran" ini beliau dikira telah meragukan Allah atau bahkan belum mengenal Allah sebelumnya.

Jika sampeyan analisa kisahnya dengan teliti, tentu saja ada selisih waktu antara pencarian kebenaran (seperti itu yang saya bilang) dengan perkataan Ibrahim selanjutnya yang sampeyan kutip. Setidaknya satu hari.
Nah darimana sampeyan simpulkan pernyataan Ibrahim selanjutnya dikarenakan khawatir dalam "proses pencarian kebenaran" ini beliau dikira telah meragukan Allah atau bahkan belum mengenal Allah sebelumnya?
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

Jika sampeyan analisa kisahnya dengan teliti, tentu saja ada selisih waktu antara pencarian kebenaran (seperti itu yang saya bilang) dengan perkataan Ibrahim selanjutnya yang sampeyan kutip. Setidaknya satu hari.
aku gak tahu pasti berapa selisih waktunya, memang dari bintang-bulan-matahari itu setidaknya satu hari (ayat 76-78),
namun pada ayat 79nya, Nabi Ibrahim berkata: "Inni wajahtu wajhiya...." menggunakan kata kerja lampau "وَجَّهْتُ" yg berarti "saya telah menghadapkan wajahku...".

begitu pula dengan kata "inni" yaitu sesungguhnya saya, "inna" dalam ilmu nahwu berfungsi sebagai taukid (penegasan), sebagai penegasan bahwa kalimat setelahnya benar2 hal yg penting (wajahtu....)

jika nabi ibrahim mengalami proses pencarian kebenaran (dari tidak percaya- menjadi percaya) maka pada ayat 79nya akan berbunyi : "maka sekarang saya akan menghadapkan wajahku kepada Rabb yang....." dalam arabnya menggunakan "ُأُوَجِّه"

itu menandakan, beliau sudah beriman kepada Allah sebelumnya, dan "pelajaran" pencarian tuhan itu sebagai cara pendekatan dakwah beliau kepada kaumnya yg masih menyembah bintang-bulan-matahari.

Nah darimana sampeyan simpulkan pernyataan Ibrahim selanjutnya dikarenakan khawatir dalam "proses pencarian kebenaran" ini beliau dikira telah meragukan Allah atau bahkan belum mengenal Allah sebelumnya?
yaitu pada kata "Inilah Tuhanku"

wallahu a'lam :)
 
Last edited:
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

aku gak tahu pasti berapa selisih waktunya, memang dari bintang-bulan-matahari itu setidaknya satu hari (ayat 76-78),
namun pada ayat 79nya, Nabi Ibrahim berkata: "Inni wajahtu wajhiya...." menggunakan kata kerja lampau "وَجَّهْتُ" yg berarti "saya telah menghadapkan wajahku...".



jika nabi ibrahim mengalami proses pencarian kebenaran (dari tidak percaya- menjadi percaya) maka pada ayat 79nya akan berbunyi : "maka sekarang saya akan menghadapkan wajahku kepada Rabb yang....." dalam arabnya menggunakan "ُأُوَجِّه"

Apakah fungsi penggunaan fiil madli selalu menunjukkan hal yang telah lampau?
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

Apakah fungsi penggunaan fiil madli selalu menunjukkan hal yang telah lampau?

gk usah tanya gitu, bang madas tentu lebih pintar nahwu dari pada saya [<:)
aku cuma belajar dasar2nya doang, koreksi aku jika salah >8|

pada umumnya fiil madli bermakna "yang telah lampau",
namun fiil madli bisa bermakna "yg akan datang" jika terdapat petunjuk yg menunjukkannya (qarinah) dalam menyesuaikan makna/tujuan kalimat tersebut.

Dalam alquran, biasanya hal tersebut terjadi jika kalimat itu diawali dzaraf idza (sebagai keterangan waktu yg akan datang) misalnya pada 16:98, 5:6.

wallahu a'lam
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

pada umumnya fiil madli bermakna "yang telah lampau",
namun fiil madli bisa bermakna "yg akan datang" jika terdapat petunjuk yg menunjukkannya (qarinah) dalam menyesuaikan makna/tujuan kalimat tersebut.



wallahu a'lam

Ya itulah kaidah manusia,..belum lagi ada bentuk2 majazi
Jadi saya hanya kurang setuju jika sampeyan ambil poin bahwa pertanyaan2 Ibrahim bukan lahir dari hatinya(atau yang anda ungkapkan dengan
itu menandakan, beliau sudah beriman kepada Allah sebelumnya, dan "pelajaran" pencarian tuhan itu sebagai cara pendekatan dakwah beliau kepada kaumnya yg masih menyembah bintang-bulan-matahari
) hanya dengan dasar yang sampeyan sebutkan. Masih terlalu lemah..
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

Ya itulah kaidah manusia,..belum lagi ada bentuk2 majazi
Jadi saya hanya kurang setuju jika sampeyan ambil poin bahwa pertanyaan2 Ibrahim bukan lahir dari hatinya(atau yang anda ungkapkan dengan ) hanya dengan dasar yang sampeyan sebutkan. Masih terlalu lemah..

ya, itu hanya pendapatku aja kok :D, bisa salah bisa benar.

kalau alasan yg lebih kuat ya yg udah disebutin di posting pertama.

nah sekarang, bagaimana tanggapan bang madas pada postingan pertama? yaitu pendapatnya imam al baidhowi dan ibnu arabi?
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

nah sekarang, bagaimana tanggapan bang madas pada postingan pertama? yaitu pendapatnya imam al baidhowi dan ibnu arabi?

oke tak baca2 dulu

Kisah nabi Ibrahim di atas di sanggah oleh Imam Arrozi dalam kitabnya Mafatihul Ghaib (tafsir kabir), dalam pandangan beliau cerita bahwa nabi Ibrahim mencari Tuhan ini tidak benar, beliau berpendapat bahwa nabi Ibrahim tidak sedang mencari Tuhan melainkan mengajak dialog atau debat kaumnya, bahwa apa saja yang mereka jadikan Tuhan selain Allah adalah keyakinan yang sesat.

Ini adalah sebagian cara nabi Ibrahim As untuk menghadapi kaumnya yang berbeda-berbeda keyakinan, dari yang menyembah berhala sampai yang menyembah matahari, ketika kaumnya sedang mengadakn ritual pemujaan, beliau mendatangi mereka yang sedang menyembah Tuhan mereka, mereka di ajak diskusi dialog dan adu argumen, sebenarnya Tuhan siapa yang paling benar. Maka tatkala matahari, bulan dan bintang terbenam beliau berkata” qola” hadza rabbi?” Dalam ayat ini Imam Arrozi mempunyai penafsiranm yang berbeda dengan ulama tafsir lainnya, beliau berpendapat bahwa nabi Ibrahim As berkata kepada kaumnya dengan methode kata tanya (istifahmul inkar) ” Ibrahim Berkata” Inikah Tuhanku dalam keyakinan kalian?” dengan maksud untuk mempertanyakan dan membatalkan pendapat mereka bahwa sesuatu yang terbenam tidak pantas di jadikan Tuhan.

Jadi perkataan Nabi Ibrahim didalam ayat al-quran itu bukan sebagai penetapan atau keyakinan (la ‘ala sabilil jazmi) bahwa dengan mengatakan “ ini tuhanku?” melainkan dengan lafadz istifaham inkar (pertanyaan menyangkal).

Begitu juga dengan Imam al-Qurtubi, beliau memaparkan bahwa perkataan nabi ibrahim ketika berkata” ini adalah Tuhanku” untuk mengalahkan pendapat kaumnya, ketika matahari terbenam, maka pendapat mereka tentang Tuhan yang mereka sembah batal, salah dan kalah dengan pendapat nabi Ibrahim As bahwa sesuatu yang terbenam tidak pantas untuk di jadikan Tuhan atau mempunyai arti, “masa' seperti ini dijadikan tuhan?”.

Begitu juga Imam Al-Baidhowi didalam kitabnya, Syarhul muwafiq, beliau berpendapat bahwa kejadian ini, dimasa nabi Ibrahim masih anak-anak dan perkataan tadi memang keluar dari lisan beliau akan tetapi bukan sebuah bentuk penetapan keyakinan penyembahan terhadap apa yang disembah oleh kaumnya, dengan demikian nabi ibrahin tidak berdusta didalam perkataanya ” Hadza Rabbi” akan tetapi perkatannya tadi menunjukkan bahwa beliau sedang berdebat dengan kaumnya dan menentang pendapat kaumnya yang salah, yang telah mepertuhankan, matahari, bulan dan bintang.

Diperkuat juga pendapat ini oleh pendapat Imam Ibnu Arabi, didalam kitab karangannya, Ahkamul Quran, beliau berpendapat bahwa apa yang telah Allah berikan kepada nabi Ibrahim As dari ilmu, hujjah dan kuatnya aqidah beliau dan termasuk nabi dan rasul pertama yang diutus untuk membumikan tauhid Allah di muka bumi ini serta penjelasan yang telah Allah berikan kepadanya tentang ketauhidan Allah, dengan demikian Ibrahim As tidak mungkin tidak mengetahui Allah SWT atau bahkan ragu akan keesaan Allah Swt, kejadian tersebut adalah berita atau cerita yang terjadi antara Ibrahim As dengan kaumnya didalam perdebatan atau diskusi saja, bukan suatu bentuk keyakinan dan kometmen dari nabi Ibrahim As.

Ibnu Arabi mengatakan: “Barang siapa yang berprasangka atau yakin bahwa Ibrahim As ragu, mengalami transisi dalam menentukan Tuhannya atau yakin bahwa nabi Ibrahim pernah menyembah matahari, bulan, bintang maka itu adalah pemahaman yang keliru dan salah, disebabkan orang ini kurang dalam memahami dan bodoh terhadap sifat-2 Nabi dan Rasul” Bagaimana mungkin seorang rasul yang Allah telah berikan kepadanya akal, ilmu, anugerah dan kesempurnaan kepintarannya sebelum menjadi nabi, kok malah menyembah selain Allah denagn kata lain kok masih ragu dengan keEsaan Allah SWT, ini tentu tidak masuk akal

Untuk pendapat ar Razi, saya memiliki sedikit keberatan jika perkataan Ibrahim disimpulkan sebagai bentuk istifham inkari, sebab secara lahir, kalimat tsb sama sekali bukan bentuk pertanyaan, kecuali dengan mengandaikan ada pembuangan alat istifham. Memang di Qur'an banyak juga pembuangan semacam ini, tapi harus diingat, harus ada qorinah yang menunjukkan pembuangan itu sendiri, dan disini saya koq kurang bisa melihatnya yah...

Pendapat Al Qurtubi, saya kurang tertarik mengomentarinya. Saya lebih tertarik dengan pendapat ibnu Arabi, sebab disitu beliau menyinggung soal kema'shuman nabi, yang menurut saya perlu dikritisi dalam bentuk yang selama ini diyakini mayoritas orang. Dalam pendapat beliau diatas, seolah2 semua nabi itu sejak lahir sudah sempurna dalam segala hal, artinya kualitas keimanan beliau tidak mengalami perkembangan. Menurut saya itu agak sedikit menafikan 'kemanusiaan' seorang nabi. Saya ingat dalam asbabunnuzul surat al hajj (kalau tidak salah) ayat sekian, banyak ulama rame2 menolak sebuah hadits(bukan berasal dari israilliyat) yang shahih meskipun hadits ahaad karena bertabrakan dengan bentuk kema'shuman nabi menurut mereka. Padahal sampai sekarang, darimana dasar pendapat itu saya belum menemukannya, kecuali ada ayat yang selintas menunjukkan hal itu tapi agak terlalu jauh jika dihubungankan dengan pendapat kema'shuman nabi yang semacam itu. Terakhir masalah apakah seorang nabi, pernah tidak mengetahui TuhanNya? kalau sama sekali tidak mengetahuinya, mungkin tidak, tapi apakah pengetahuaannya muncul secara instan dan langsung sempurna? Idon't think so, sebab Rasulullahpun dikasih tahu waraqah mengenai pengalaman beliau di gua Hiro.
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

Untuk pendapat ar Razi, saya memiliki sedikit keberatan jika perkataan Ibrahim disimpulkan sebagai bentuk istifham inkari, sebab secara lahir, kalimat tsb sama sekali bukan bentuk pertanyaan, kecuali dengan mengandaikan ada pembuangan alat istifham. Memang di Qur'an banyak juga pembuangan semacam ini, tapi harus diingat, harus ada qorinah yang menunjukkan pembuangan itu sendiri, dan disini saya koq kurang bisa melihatnya yah...

Pendapat Al Qurtubi, saya kurang tertarik mengomentarinya. Saya lebih tertarik dengan pendapat ibnu Arabi, sebab disitu beliau menyinggung soal kema'shuman nabi, yang menurut saya perlu dikritisi dalam bentuk yang selama ini diyakini mayoritas orang. Dalam pendapat beliau diatas, seolah2 semua nabi itu sejak lahir sudah sempurna dalam segala hal, artinya kualitas keimanan beliau tidak mengalami perkembangan. Menurut saya itu agak sedikit menafikan 'kemanusiaan' seorang nabi. Saya ingat dalam asbabunnuzul surat al hajj (kalau tidak salah) ayat sekian, banyak ulama rame2 menolak sebuah hadits(bukan berasal dari israilliyat) yang shahih meskipun hadits ahaad karena bertabrakan dengan bentuk kema'shuman nabi menurut mereka. Padahal sampai sekarang, darimana dasar pendapat itu saya belum menemukannya, kecuali ada ayat yang selintas menunjukkan hal itu tapi agak terlalu jauh jika dihubungankan dengan pendapat kema'shuman nabi yang semacam itu. Terakhir masalah apakah seorang nabi, pernah tidak mengetahui TuhanNya? kalau sama sekali tidak mengetahuinya, mungkin tidak, tapi apakah pengetahuaannya muncul secara instan dan langsung sempurna? Idon't think so, sebab Rasulullahpun dikasih tahu waraqah mengenai pengalaman beliau di gua Hiro.

ok, terimakasih tanggapan dari bang madas, tambahan informasi buat saya dan pembaca lainnya :)
 
Bls: Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuh

ok, terimakasih tanggapan dari bang madas, tambahan informasi buat saya dan pembaca lainnya :)

Ya itu cuma pendapat saya, masih terlalu prematur mugkin. Tapi banyak orang besar yang mengalami hal seperti ini, diantaranya, Socrates yang mempertanyakan keyakinan masyarakatnya yang dipenuhi mitos, al Ghazali yang mempertanyakan keimanannya sendiri, Rasulullah yang bertahannus karena mempertanyakan ketidak beresan masyarakat quraisy, dan ada gus Mus yang mempertanyakan kesilamannya sendiri lewat sebuah puisinya. Mereka semua orang2 yang lahir dan tumbuh pada lingkungannya, kemudian memahami kondisi lingkungannya, apakah sudah benar atau telah menyimpang. Dan mereka menggunakan potensi akal yang telah dianugerahkan Tuhannya, untuk menemukan kebenaran, dan akhirnya mereka dianugerahi merasakan kebenaran yang membuat jiwanya tenteram. Mereka bukanlah malaikat yang turun dari langit, yang bertugas menghapus penyimpangan masyarakat, yang tidak pernah berbaur dengan orang2 disekitartnya.
 
Back
Top