|
![]() |
![]() |
|
Bls: Bumi Baru
Karena peredupan ini dapat terjadi akibat fenomena lain, seperti denyutan cahaya bintang variabel (bintang yang kecerahan cahayanya berubah-ubah) atau akibat adanya bintik-matahari nan besar yang bergerak di permukaan bintang, para ilmuwan Kepler baru mengumumkan kehadiran sebuah planet setelah mereka melihat sekurangnya terjadi tiga kali transit—penantian yang mungkin hanya berlangsung beberapa hari atau minggu bagi planet yang mengorbit cepat di dekat bintangnya, tetapi bertahun-tahun untuk eksoplanet yang mirip bumi. Dengan memadukan hasil Kepler dan pengamatan Doppler, para astronom dapat menghitung diameter dan massa planet yang transit itu. Jika mereka berhasil menemukan planet berbatu seukuran Bumi yang mengorbit di zona layak huni—tidak terlalu dekat bintang sehingga semua airnya menguap, atau terlalu jauh sehingga airnya beku—berarti mereka menemukan tempat yang dianggap para ahli biologi cocok untuk kehidupan.
Tempat berburu planet yang paling baik adalah bintang katai yang lebih kecil daripada Matahari. Bintang seperti itu banyak jumlahnya (tujuh dari 10 bintang terdekat ke bumi adalah bintang katai kelas M), hidupnya panjang dan stabil, memancarkan cahaya yang konstan ke planet yang menampung kehidupan di zona layak huninya, jika ada. Yang terpenting bagi kaum pemburu planet, semakin redup bintang itu, semakin dekat zona layak huninya—bintang katai redup mirip api unggun kecil yang harus didekati pekemah yang ingin mendapat kehangatan—sehingga pengamatan terhadap peristiwa transit dapat dituntaskan lebih cepat. Planet yang sangat dekat bintang juga menyebabkan tarikan gravitasi yang lebih kuat pada bintangnya, membuat kehadirannya lebih mudah dipastikan dengan metode Doppler. Dan memang, planet paling menjanjikan yang ditemukan sejauh ini—“bumi super” Gliese 581 d, massanya tujuh kali Bumi—mengorbit di zona layak huni sebuah bintang katai merah yang massanya hanya sepertiga Matahari. Jika ditemukan planet seperti Bumi dalam zona layak huni bintang lain, teleskop angkasa khusus yang dirancang untuk mencari tanda kehidupan di sana mungkin kelak dapat memperoleh spektrum cahaya dari tiap planet itu dan menelaahnya untuk mencari tanda-tanda kehidupan yang mungkin ada seperti metana, ozon, dan oksigen di atmosfer, atau mencari efek “tepi merah” yang terjadi ketika tanaman berklorofil memantulkan cahaya merah saat berfotosintesis. Pendeteksian dan analisis cahaya planet itu sendiri secara langsung, yang kecerahannya mungkin sepermiliar bintangnya, sangatlah sulit dilakukan. Namun, saat planet melakukan transit, cahaya bintang yang melewati atmosfernya dapat memberi petunjuk tentang komposisi planet itu yang mungkin dapat dideteksi teleskop. Di saat menghadapi tantangan besar teknologi dalam soal analisis kimia dari planet yang bahkan tak dapat dilihat, para ilmuwan yang mencari kehidupan ekstraterestrial harus mengingat bahwa mungkin saja bentuk kehidupan itu sangat berbeda dari yang ada di bumi. Ketiadaan tepi merah, misalnya, tidak berarti bahwa suatu eksoplanet yang terestrial (terdiri dari atau memiliki daratan) tak punya kehidupan: kehidupan berkembang di Bumi selama miliaran tahun sebelum tumbuhan darat muncul dan memenuhi daratan. Evolusi biologis sangat tak terduga, sehingga sekalipun kehidupan ada di planet yang sama persis dengan Bumi pada saat bersamaan, kehidupan di sana sekarang ini hampir dapat dipastikan sangat berbeda dengan yang ada di daratan Bumi. Bersambung... -dipi-
|
|
Bls: Bumi Baru
Hal itu seperti yang pernah dinyatakan ahli biologi Jacques Monod, kehidupan berkembang bukan hanya karena kebutuhan—proses hukum alam yang universal—tetapi juga karena kebetulan, akibat berbagai macam kejadian yang tak terduga. Kebetulan telah terjadi beberapa kali dalam sejarah planet kita, dan muncul secara dramatis dalam berbagai kepunahan massal yang menyapu jutaan spesies sehingga menciptakan ruang evolusi bagi bentuk kehidupan baru. Beberapa musibah tersebut tampaknya disebabkan oleh komet atau asteroid yang menabrak Bumi—yang terbaru adalah tabrakan pada 65 juta tahun lalu yang memunahkan dinosaurus dan membuka kesempatan bagi leluhur jauh manusia. Karena itu, para ilmuwan bukan hanya mencari eksoplanet yang mirip dengan Bumi modern, tetapi juga planet yang mirip Bumi di masa lalu atau mungkin pernah seperti Bumi di masa lalu. “Bumi modern mungkin model terburuk yang dapat digunakan untuk mencari kehidupan di luar angkasa,” kata Caleb Scharf, kepala Astrobiology Center Columbia University.
Tidaklah mudah bagi penjelajah terdahulu untuk mengeksplorasi dasar samudra, memetakan sisi belakang Bulan, atau menemukan bukti adanya lautan di bawah permukaan beku bulan-bulan Jupiter, dan pasti tak akan mudah menemukan kehidupan pada planet di tata surya lain. Namun, kini kita punya landasan untuk meyakini bahwa miliaran planet seperti itu pasti ada dan planet itu bukan hanya menjanjikan akan memperluas pengetahuan manusia, tetapi juga kekayaan imajinasinya. Selama ribuan tahun, pengetahuan umat manusia tentang alam semesta sangat terbatas, sehingga kita mudah mengagungkan imajinasi dan meremehkan kenyataan. (Sebagaimana ditulis seorang filsuf Spanyol Miguel de Unamuno, mistisisme para visioner agama di masa lampau muncul akibat “perbedaan tak tertanggungkan antara besarnya hasrat mereka dengan kecilnya kenyataan.”) Kini, berkat kemajuan ilmu pengetahuan, semakin nyata bahwa kreativitas alam melampaui imajinasi manusia. Maka, akan tersibaklah tirai penutup dunia baru yang tak terhingga jumlahnya dengan ceritanya masing-masing. Sumber: National Geographic edisi Desember 2009 Oleh Timothy Ferris -dipi-
|
|
| Thread Tools | Search this Thread |
|
|
| Similar Threads | ||||
| Thread | Original Poster | Forum | Replies | |
| Terraforming Mars : Gagasan Merubah Mars Menjadi Bumi Baru | Megha | Science & Penemuan | 4 | |
| Tikus Gajah Raksasa (Spesies Baru Di Bumi) | Megha | Fauna, Hewan Peliharaan & Ternak | 4 | |
| Bumi Ktt | Kiyoko | Sejarah & Budaya | 1 | |
Pengumuman Penting |
- Fitur SMS Bintang & Solve answer akan ditiadakan, Fitur Reputasi dikembangkan |