Sejarah Samurai & Ninja Login dengan akun Jejaringsosial.com anda Daftar sebuah akun Jejaringsosial.com
 
Go Back   Home > Sejarah & Budaya
Lupa Password?

Gambar Umum Video Umum





 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #31   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

  • Kusunoki Masashige



    Kusunoki Masashige adalah samurai dari akhir zaman Kamakura hingga zaman Nanboku-cho. Masashige ikut membantu Kaisar Go-Daigo dalam menumbangkan Keshogunan Kamakura, dan bertindak sebagai pejabat di pemerintahan Kaisar Go-Daigo. Menurut silsilah, ayahnya bernama Masatoo, namun kebenarannya tidak bisa dipastikan. Ayah Masashige juga disebut-sebut bernama Seigen, Masazumi, Masayasu, atau Toshichika.

    Klan Kusunoki dikabarkan sebagai keturunan Tachibana no Tooyasu asal klan Iyo Tachibana (klan Ochi) dari Provinsi Iyo. Walaupun demikian, silsilah sebelum keluarga Masashige saling tidak cocok satu sama lainnya, dan kemungkinan dikarang oleh orang dari zaman sesudahnya. Selain itu, di Provinsi Kawachi juga tidak ada tempat bernama "Kusunoki" yang mungkin diambil menjadi nama keluarga Kusunoki. Cerita lain mengatakan Provinsi Musashi adalah tempat kelahiran Kusunoki Masashige. Keluarganya adalah hikan dari garis keturunan utama (tokusō) klan Hōjō yang pindah ke Kawachi. Penjelasan lain mengatakan ia berasal dari garis keturunan klan Hata.

    Perjalanan hidup

    Masashige dilahirkan di desa Akasaka, distrik Ishikawa, Provinsi Kawachi (sekarang desa Chiyaasaka, distrik Minami Kawachi, Prefektur Osaka). Tidak ada buku sejarah yang bisa membuktikan tahun kelahirannya. Kisah kehidupan Masashige sebelum menjadi samurai hampir-hampir tidak diketahui orang. Tidak ada tokoh sejarah Jepang dengan masa lalu yang begitu misterius seperti Masashige. Penelitian yang dilakukan sejarawan untuk mengungkap kisah hidupnya tidak pernah berhasil. Kisah hidup Masashiga hanya selama enam tahun yang diketahui orang, mulai dari bertempur untuk Kaisar Go-Daigo pada tahun 1331 (tahun 1 Genkō) hingga tewas bunuh diri dalam Pertempuran Minatogawa tahun 1336.

    Dari pengawal kaisar hingga menjadi pahlawan

    Catatan sejarah tahun 1331 memuat tentang "Kusunoki pemberontak yang menjadi pengawal kaisar". Tokoh yang dimaksudkan adalah Kusunoki Masashige asal wilayah kuil Risen-ji. Namanya tidak termasuk dalam daftar gokenin Keshogunan Kamakura sehingga disebut pemberontak (akutō). Kusunoki diperkirakan sebagai tuan tanah berpengaruh yang memimpin kelompok samurai di Provinsi Kawachi. Ketika namanya pertama kali disebut pada tahun 1331, Masashige kemungkinan sudah bekerja prajurit di istana sebagai pengawal Kaisar Go-Daigo atau tokoh-tokoh penting di sekelilingnya.

    Pada tahun 1331, Kaisar Go-Daigo melarikan diri dari istana, dan memulai perlawanan bersenjata melawan Keshogunan Kamakura. Masashige menyambut ajakan Kaisar Go-Daigo untuk mengangkat senjata. Istana Shimoakasaka dipertahankannya bersama Pangeran Morinaga (putra Kaisar Go-Daigo) dari serbuan pihak keshogunan yang dipimpin Yuasa Jōbutsu (peristiwa yang disebut Pertempuran Istana Shimoakasaka). Biksu Monkan dari sekte Shingon atau Iga Kanemitsu diperkirakan sebagai tokoh yang mempertemukan Kaisar Go-Daigo dengan Masashige. Walaupun Kaisar Go-Daigo sudah tertangkap dan dibuang ke Pulau Oki, Masashige terus memerangi keshogunan ditemani Pangeran Morinaga yang berjuang dari wilayah Yoshino, Provinsi Yamato. Setelah Istana Shimoakasaka direbut pasukan keshogunan, Masashige melarikan diri ke Istana Chihaya di Gunung Kongō. Di Chihaya, ia terus melakukan perlawanan walaupun berada dalam keadaan terkepung dalam istana. Pasukan Kusunoki bertempur dengan gigih melawan kepungan pasukan keshogunan yang berjumlah lebih besar. Pasukan keshogunan akhirnya dapat dikalahkan Masashige dengan taktik yang sekarang disebut gerilya.

    Setelah dipicu perlawanan Masashige dan kawan-kawan, pemberontakan untuk melawan keshogunan semakin marak pada tahun 1333 di berbagai daerah. Pada akhirnya, Keshogunan Kamakura tumbang akibat perlawanan yang dipimpin Ashikaga Takauji, Nitta Yoshisada, dan Akamatsu Enshi (Perang Genkō). Masashige menyambut kembalinya Kaisar Go-Daigo, dan mengawalnya hingga sampai di Kyoto.

    Ketika Kaisar Go-Daigo menjalankan pemerintah Restorasi Kemmu, Masashige menjadi pejabat kepercayaan kaisar di lembaga peninjauan keputusan pemerintah (Kiroku-jo), polisi lembaga peradilan perkara agraria (Zasso Ketsudansho), serta penguasa (shugo) Provinsi Kawachi dan Provinsi Izumi. Menurut Taiheiki, Kusunoki Masashige dan tiga tokoh besar lain, Yūki Chikamitsu, Nawa Nagatoshi yang bergelar Hōki no kami (penguasa Provinsi Hōki), dan Chigusa Tadaaki diperlakukan "secara istimewa oleh istana". Mereka berempat dijuluki Sanboku Issō (Tiga "ki" satu "sō") karena nama ketiganya memiliki aksara kanji yang dibaca sebagai "ki". Nama keluarga "Chigusa" ditulis dengan aksara kanji untuk "sen" (seribu) dan "tane" (biji atau benih), tapi "tane" dibaca sebagai "kusa" (onyomi untuk "kusa" adalah "so"). Sementara Masashige meninggalkan Kyoto untuk menumpas sisa klan Hōjō (musim dingin 1334), Pangeran Morinaga ditangkap akibat difitnah telah memberontak, dan diserahkan kepada Ashikaga Takauji. Setelah kehilangan Pangeran Morinaga yang selama ini menjadi pelindungnya, berbagai jabatan yang dipercayakan kepada Masashige dicopot satu demi satu.

    Akhir hayat

    Pada tahun 1335, Takauji berangkat untuk memadamkan Pemberontakan Nakasendai yang dilakukan sisa-sisa pengikut klan Hōjō. Setelah menguasai Kamakura, Takauji terus mendudukinya dan tidak mau pulang ke Kyoto. Peristiwa ini membuat Takauji berada di pihak yang berseberangan dengan pemerintah. Kaisar Go-Daigo mengutus Nitta Yoshisada dan pasukan untuk menghabisi Takauji, namun Yoshisada dikalahkan Takauji dalam Pertempuran Hakone-Takenoshita. Kyoto bahkan sempat diduduki Takauji, namun berhasil diusir oleh pasukan gabungan Kitabatake Akiie dan kawan-kawan (termasuk di dalamnya Masashige dan Nitta Yoshisada).

    Takauji mengundurkan diri untuk menggalang kekuatan militer di Kyushu. Pada tahun 1336, Takauji kembali menyerang Kyoto. Masashige mengusulkan agar Kaisar Go-Daigo memutuskan hubungan dengan Nitta Yoshisada, dan berdamai dengan Takauji. Kaisar Go-Daigo tidak setuju. Di bawah pimpinan Yoshisada sebagai panglima, Masashige diperintahkan menghabisi Takauji. Namun, Ashikaga Tadayoshi dan pasukannya jauh lebih kuat. Pasukan gabungan Nitta Yoshisada dan Masashige takluk dalam Pertempuran Minatogawa di Provinsi Harima. Masashige dan adiknya, Masasue bunuh diri dengan cara saling menikam.

    Mengikuti jejak sang ayah, ketiga putra Masashige semuanya bertempur untuk pihak Istana Selatan, mulai dari putra sulung yang bernama Masatsura (Shōnankō), Masatoki, hingga putra bungsu Masanori. Setelah suami dan putra sulungnya tewas, istri Masashige meninggalkan Kawachi untuk menjadi biksuni di sebuah biara di Kamagatani, Provinsi Mino.

    Peninggalan Masashige

    Literatur klasik Taiheiki yang ditulis pihak Istana Selatan sangat menyanjung kepahlawanan Masashige. Sebaliknya, buku sejarah klan Ashikaga yang berjudul Baishō Ron juga memuat kisah Masashige yang ditulis dengan nada bersimpati. Ashikaga Takauji juga mengembalikan secara terhormat potongan kepala Masashige kepada keluarga agar dapat dimakamkan secara layak. Pada zaman Edo, akademi militer aliran Kusunoki mengajarkan taktik berperang Masashige yang sekarang dikenal sebagai gerilya. Ahli strategi militer Yui Shōsetsu yang mengajar di akademi militer aliran Kusunoki adalah murid dari keturunan Masashige yang bernama Kusunoki Masatatsu.

    Menurut cerita turun temurun, pedang (tachi) yang disebut Koryūkagemitsu (sekarang disimpan di Museum Nasional Tokyo) adalah bekas milik Masashige. Berkat jasa baik Yamada Asaemon, Koryūkagemitsu dijadikan pedang yang dikenakan di pinggang Kaisar Meiji. Pedang ini kabarnya ikut dibawa Kaisar Meiji sewaktu negara dalam keadaan perang, dan Markas Besar Kekaisaran (Daihon'ei) berada di Hiroshima.

    Pada tahun 1559, keturunan Masashige yang bernama Kusunoki Masatora meminta pihak kekaisaran untuk membatalkan status musuh kaisar yang waktu itu disandang Masashige. Pengampunan diberikan Kaisar Ōgimachi sehingga status Masashige bukan lagi musuh kaisar. Sepanjang zaman Edo, kalangan sejarawan mitogaku pendukung kekuasaan kaisar menjadikan kisah hidup Masashige sebagai lambang kesetiaan terhadap kaisar. Pada akhir zaman Edo, kalangan royalis (pendukung kekuasaan kaisar) sering mengadakan ritual untuk menghormati Masashige. Pada tahun 1872, Kuil Minatogawa dibangun untuk memuliakan Kusunoki Masashige.

    Pada zaman Meiji, Kaisar Meiji menyatakan Istana Selatan sebagai pewaris kekaisaran yang sah, dan nama Masashige kembali terangkat. Masashige diberi nama kehormatan Dainankō. Dalam seni bercerita Kōdan, Masashige digambarkan sebagai panglima perang dengan kejeniusan yang menandingi ahli strategi Zhuge Liang dari Kisah Tiga Negara. Menurut pandangan sejarah kekaisaran, walaupun kalah perang, kisah kepahlawanan Masashige di medan perang dijadikan "teladan kesetiaan" dan "teladan bagi orang Jepang". Dari zaman Meiji hingga zaman Showa sebelum perang, kisah kepahlawanan Masashige bahkan diajarkan dalam pendidikan moral dan etika di sekolah.

    Akibat perubahan sudut pandang seusai Perang Dunia II dan penelitian historiografi sejarah abad pertengahan, Masashige kembali digambarkan ke sosok sebelumnya sebagai seorang pemberontak. Penggambaran Masashige oleh Eiji Yoshikawa dalam roman sejarah Shihon Taiheiki sangat berbeda dengan kisah-kisah yang ditulis hingga sebelum Perang Dunia II.

    Makam dan kuil
    • Makam Kusunoki Masashige (Dainankō Kubizuka)
      Lokasi makam berada di dalam kompleks Kanshin-ji, kuil milik Kōyasan Shingonshū di Kawachinagano. Ashikaga Takauji memerintahkan potongan kepala Masashige untuk dimakamkan di kampung halaman. Menurut cerita, pembangunan kembali bangunan tatchū Kanshin-ji dilakukan kakek buyut Masashige yang bernama Kusunoki Shigeuji. Secara turun temurun, Kanshin-ji adalah kuil keluarga milik klan Kusunoki.
    • Kuil Nagi (Nagi jinja)
      Kusunoki Masashige dimuliakan sebagai kami di Kuil Nagi yang berdekatan dengan Kuil Takemikumari di Chihayaasaka, Distrik Minamikawachi, Prefektur Osaka. Masashige juga dijadikan ujigami bagi keluarga Kusunoki. Pada tahun 1337, Kaisar Go-Daigo memerintahkan pembuatan patung Masashige untuk dijadikan obyek pemujaan. Di kemudian hari, Kaisar Go-Murakami mendewakan Masashige sebagai Nagi Myōjin.
    • Kuil Minatogawa di Kobe
      Kuil ini memuliakan Kusunoki Masashige (Dainankō) dan Kusunoki Masatsura (Shōnankō). Selain itu, kuil ini merupakan tempat persemayaman Kikuchi Takeyoshi, serta 16 arwah pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Minatogawa. Setelah Perang Dunia II, arwah istri Masashige (Hisako) juga ikut disemayamkan di kuil ini. Sebagai kuil Shinto, Kuil Minatogawa tergolong baru karena selesai dibangun tahun 1872. Sebelum dibangun sebagai kuil, lokasi kuil merupakan sebuah pemakaman. Tokugawa Mitsukuni mendirikan batu nisan untuk Masashige. Lokasi bunuh diri dan makam pasukan pengikut Masashige juga berada di dalam kompleks kuil.


-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117

 






Reply With Quote     #32   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

  • Hasekura Tsunenaga



    Hasekura Tsunenaga (lahir 1571 – meninggal 7 Agustus 1622) adalah samurai pengikut Date Masamune dari Domain Sendai pada awal zaman Edo di Jepang. Ia memimpin misi diplomatik ke Vatikan, dan melakukan perjalanan hingga Spanyol Baru (tiba di Acapulco dan berangkat dari Veracruz), serta singgah di berbagai pelabuhan di Eropa antara tahun 1613 dan 1620.

    Nama lainnya adalah Rokuemon Nagatsune. Dalam buku sejarah Eropa, namanya ditulis sebagai Faxecura Rocuyemon.

    Misi diplomatik ke Vatikan yang dipimpinnya disebut Misi Zaman Keichō yang dikirim sesudah Misi Zaman Tenshō. Sewaktu kembali ke Jepang, Hasekura dan delegasinya mengambil rute pelayaran yang sama seperti sewaktu berangkat menuju Meksiko pada tahun 1613. Kapalnya berlayar dari Acapulco ke Manila, lalu terus ke utara menuju Jepang pada tahun 1620. Ia dianggap sebagai duta besar Jepang pertama untuk Amerika dan Eropa.

    Meskipun misi diplomatik Hasekura diterima dengan ramah di Eropa, misi berlangsung ketika Jepang sedang menuju ke zaman penindasan Kekristenan. Monarki Eropa seperti Raja Spanyol menolak perjanjian perdagangan seperti diusulkan Hasekura. Pada tahun 1620, Hasekura tiba kembali di Jepang, dan meninggal dunia karena sakit setahun kemudian. Misi diplomatiknya hanya sedikit membawa hasil karena pemerintah Jepang makin menerapkan kebijakan negara tertutup.

    Misi diplomatik Jepang berikutnya ke Eropa dikirim 200 tahun kemudian setelah membuka diri dari isolasi selama dua abad. Jepang mengirim Misi Diplomatik Jepang Pertama ke Eropa pada tahun 1862.

    Karier

    Ia dilahirkan pada tahun 1571 dari ayah bernama Yamaguchi Tsunenari. Pamannya yang bernama Hasekura Tokimasa belum memiliki anak laki-laki, dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah lahir putra Tokimasa (Hasekura Hisanari), Date Masamune memerintahkan harta keluarga sebesar 1.200 koku dibagi rata antara Tsunenaga dan Hisanari, masing-masing mendapat 600 koku.

    Sewaktu Toyotomi Hideyoshi melakukan invasi ke Korea, ia ikut sebagai komandan senapan dan ashigaru. Namanya juga dicatat buku sejarah ketika diturunkan untuk menumpas Pemberontakan klan Kasai-klan Ōsaki.

    Pada tahun 1612, ayahnya, Yamaguchi Tsunenari ditangkap dan dihukum mati pada tahun 1613. Tsunenari terbukti melakukan korupsi, tanah kekuasaannya disita, dan anak laki-lakinya harus dihukum mati. Namun Date Masamune memberi kesempatan Tsunenaga untuk menebus kesalahan. Ia diberinya tugas memimpin misi diplomatik ke Eropa, dan tanah milik keluarganya dikembalikan.

    Kontak pertama Jepang dan Spanyol

    Spanyol memulai perjalanan trans-Pasifik antara Spanyol Baru (Meksiko) dan Filipina pada tahun 1565. Galiung Manila mengangkut perak dari tambang-tambang di Meksiko ke entrepot Manila di Filipina koloni Spanyol. Di Manila, perak digunakan untuk membeli rempah dan barang dagangan yang dikumpulkan dari seluruh Asia, termasuk barang-barang dari Jepang (hingga tahun 1638). Rute perjalanan pulang galiung Manila yang dipetakan navigator Basque, Andrés de Urdaneta membawa kapal ke timur laut mengikuti Arus Kuroshio di lepas pantai Jepang, dan kemudian menyeberangi Pasifik melalui pantai barat Amerika Utara sebelum sampai di Acapulco.

    Kapal-kapal Spanyol secara berkala terdampar di pantai-pantai Jepang akibat cuaca buruk, dan awak kapalnya memulai kontak dengan orang Jepang. Spanyol berkeinginan untuk menyebarluaskan Kekristenan di Jepang. Usaha memperluas pengaruh Spanyol di Jepang menemui perlawanan keras dari Serikat Yesuit yang sudah memulai pengabaran injil di Jepang sejak tahun 1549, serta Portugis dan Belanda yang tidak ingin persaingan dagang dengan Spanyol. Namun, beberapa orang Jepang, seperti Christopher dan Cosmas, diketahui lebih dulu menyeberangi Pasifik sebagai penumpang kapal galiung Spanyol paling tidak pada tahun 1587. Kabar tersebut diketahui dari pertukaran hadiah antara gubernur Filipina dan Toyotomi Hideyoshi. Dalam surat yang ditulisnya pada tahun 1597, Hideyoshi mengucapkan terima kasih untuk, "gajah hitam itu, terutama, menurut aku paling tidak biasa."

    Pada tahun 1609, galiung Manila milik Spanyol, San Francisco dilanda cuaca buruk dalam pelayaran dari Manila ke Acapulco, dan kandas di pantai Jepang, di Chiba. Para pelaut diselamatkan dan disambut. Kapten kapal Rodrigo de Vivero, mantan gubernur interim Filipina bertemu dengan pensiunan Shogun Tokugawa Ieyasu. Rodrigo de Vivero menyusun perjanjian yang ditandatangani 29 November 1609. Isi perjanjian antara lain Spanyol diizinkan membangun sebuah pabrik di bagian timur Jepang, ahli pertambangan akan didatangkan dari Spanyol Baru, kapal-kapal Spanyol akan diizinkan singgah di Jepang dalam keadaan darurat, dan misi diplomatik Jepang akan dikirim ke istana di Spanyol.

    Ekspedisi Jepang pertama ke benua Amerika

    San Buena Ventura (1610)

    Dalam rangka memenuhi perjanjian dengan Spanyol, biarawan Fransiskan, Luis Sotelo yang mengabarkan injil di Edo, mengusulkan kepada Tokugawa Ieyasu dan putranya, Tokugawa Hidetada, agar dirinya dikirim sebagai wakil ke Spanyol Baru (Meksiko) dengan menumpang kapal Spanyol. Namun Rodrigo de Vivero bersikeras agar keshogunan mengirim biarawan Fransiskan yang lain, Alonso Muños. Ia juga mengusulkan agar pelayaran ke Spanyol Baru memakai kapal Jepang supaya mereka diterima dengan ramah. Pada tahun 1610, Rodrigo de Vivero kembali ke Jepang. Ia mengajak beberapa pelaut Spanyol, pastor Fransiskan, dan 22 wakil Jepang yang dipimpin pedagang Tanaka Shosuke untuk berlayar memakai San Buena Ventura menuju Spanyol Baru. Kapal tersebut dibangun untuk keshogunan oleh petualang Inggris William Adams. Setiba mereka di Spanyol Baru, Alonso Muños bertemu dengan Viceroy Luis de Velasco yang setuju untuk mengutus penjelajah terkenal, Sebastian Vizcaino sebagai duta besar untuk Jepang. Misi tambahan ditugaskan kepada Vizcaino untuk menjelajahi "pulau perak dan emas" (Isla de Plata) yang waktu itu diperkirakan terletak di timur kepulauan Jepang.

    Vizcaino tiba di Jepang pada 1611, dan melakukan berbagai pertemuan dengan shogun dan para daimyo. Pertemuan tersebut dinodai tingkah laku Vizcaino yang kurang menghargai adat istiadat Jepang, serta meningkatnya perlawanan terhadap penyebaran agama Katolik dan intrik-intrik orang Belanda untuk menghalangi ambisi Spanyol. Vizcaino akhirnya berangkat meninggalkan Jepang untuk mencari "Pulau Perak". Di tengah perjalanan, kapalnya dilanda badai, dan ia terpaksa kembali ke Jepang dengan kapal rusak berat.

    San Sebastian (1612)

    Sebuah kapal lainnya dibangun di Izu oleh Keshogunan Tokugawa di bawah pimpinan Menteri Angkatan Laut Mukai Shogen. Setelah selesai, kapal diberi nama San Sebastian, dan berangkat menuju Meksiko pada 9 September 1612. Ekspedisi bertujuan memajukan perjanjian dagang dengan Spanyol Baru, membawa Luis Sotelo serta dua orang wakil dari Date Masamune. Kapal karam beberapa mil dari Uraga, dan ekspedisi dibatalkan.

    Proyek misi diplomatik 1613

    Shogun kembali memutuskan untuk membangun galiung baru di Jepang untuk mengirim pulang Vizcaino ke Spanyol Baru bersama misi diplomatik Jepang yang didampingi Luis Sotelo. Kapal galiung tersebut diberi nama Date Maru oleh orang Jepang, atau San Juan Bautista oleh orang Spanyol. Pembangunan kapal berlangsung selama 45 hari, dikerjakan oleh ahli pembuatan kapal dari keshogunan. Menteri Angkatan Laut Mukai Shogen mengutus kepala tukang kayu (Shogen bersama rekannya, William Adams telah berpengalaman membangun beberapa kapal). Keshogunan mengerahkan 800 tukang kapal, 700 pandai besi, dan 3.000 tukang kayu. Shogun menunjuk Daimyo Sendai, Date Masamune sebagai pimpinan proyek. Masamune kemudian menunjuk Hasekura Tsunenaga untuk memimpin misi diplomatik ke Eropa.

    "Kapal besar ini berangkat dari Toshima-Tsukinoura menuju Nanban pada bulan 9 tanggal 15 [kalender Jepang], dipimpin Hasekura Rokuemon Tsunenaga, dan bawahannya yang bernama Imaizumi Sakan, Matsuki Shusaku, Nishi Kyusuke, Tanaka Taroemon, Naito Hanjuro, Sonohoka Kyuemon, Kuranojo, Tonomo, Kitsunai, Kyuji, berikut beberapa pengikut Rokuemon, juga 40 orang Nanban, 10 orang wakil Mukai Shogen, beserta para pedagang, semuanya ada 180 orang." (Catatan klan Date, Keichō-Genna, Gonoi p. 56).

    Misi diplomatik Jepang dikirim untuk membahas perjanjian dagang dengan tahta Spanyol di Madrid, sekaligus bertemu Paus di Roma. Date Masamune memperlihatkan itikad baik terhadap agama Katolik di domain yang dipimpinnya. Ia mengundang Luis Sotelo, dan mengizinkan penyebaran agama Kristen pada tahun 1611. Dalam surat Masamune yang ditujukan kepada Paus, dan disampaikan oleh Hasekura, ia menulis: "Saya menawarkan wilayah kekuasaan saya sebagai markas tugas misionaris Anda. Mohon kirimkan padri sebanyak mungkin."

    Sotelo, dalam catatan perjalanan pribadinya, menekankan dimensi religius dari misinya, dan menulis bahwa tujuan utama dari misi tersebut adalah menyebarkan agama Kristen di utara Jepang:

    "Saya dulu diutus sebagai duta besar oleh penguasa Kerajaan Oxu [Ōshū] (di bagian timur Jepang) Idate Masamune—walaupun belum dilahirkan kembali dengan cara dibaptis, ia telah menerima katekisasi, dan mengingini iman Kristen disebarkan di kerajaannya—beserta seorang bangsawan lainnya dari istana, Philippus Franciscus Faxecura Rocuyemon, diutus pergi ke Senat Roma, yang waktu itu dipimpin oleh Tahta Apostolik, Bapa Suci Paus Paulus V." (Luis Sotelo De Ecclesiae Iaponicae Statu Relatio, 1634).

    Pelayaran trans-Pasifik

    Kapal San Juan Bautista yang ditumpangi Hasekura berangkat pada 28 Oktober 1613 menuju Acapulco dengan membawa penumpang 180 orang, termasuk 10 samurai wakil shogun (diutus oleh Menteri Angkatan Laut Mukai Shogen Tadakatsu), 12 samurai dari Sendai, 120 pedagang Jepang, pelaut, pelayan, dan sekitar 40 orang Spanyol dan Portugis, termasuk Sebastian Vizcaino yang menurutnya, "tidak lebih dari seorang penumpang."

    Spanyol Baru (Acapulco)

    San Juan Bautista tiba di Tanjung Mendocino di tempat yang sekarang disebut California. Sesudah itu kapal berlayar menyusuri pesisir benua Amerika, dan tiba di Acapulco pada 25 Januari 1614. Pelayaran dari Jepang menuju Acapulco memakan waktu tiga bulan. Mereka menunggu di Acapulco hingga ada perintah cara mengatur perjalanan mereka berikutnya.

    Perkelahian terjadi antara orang Jepang dan orang Spanyol, terutama Vizcaino, tampaknya karena beberapa perselisihan mengenai cara penanganan hadiah dari penguasa Jepang. Dalam sebuah jurnal kontemporer, sejarawan Aztek kelahiran Amecameca bernama Chimalpahin Quauhtlehuanitzin—nama resmi Domingo Francisco de San Anton Muñon—menulis bahwa Vizcaino terluka parah akibat perkelahian,

    "Señor Vizcaino perlahan-lahan mulai sembuh, terluka ketika datang; orang Jepang melukai mereka ketika dia dipukuli dan ditusuk di Acapulco, seperti diketahui orang di Meksiko, karena semua hal yang berkaitan dengan apa yang telah menjadi tanggung jawabnya di Jepang."

    Setelah perkelahian terjadi, perintah dikeluarkan pada 4 Maret dan 5 Maret untuk mendamaikan mereka. Perintah mengumumkan bahwa,

    "Jepang tidak boleh memiliki kemampuan untuk menyerang di tanah ini, senjata mereka harus diserahkan hingga saat keberangkatan, kecuali Hasekura Tsunenaga dan delapan dari para pengikutnya ... Orang Jepang bebas pergi ke tempat yang mereka inginkan, dan harus diperlakukan dengan baik. Mereka tidak boleh diserang dalam bentuk kata-kata atau tindakan. Mereka bebas menjual barang-barang mereka. Perintah ini telah diumumkan ke orang Spanyol, orang Indian, orang mulato, orang mestizo, dan orang kulit hitam, dan mereka yang tidak menaati peraturan akan dihukum."

    Spanyol Baru (Meksiko)

    Misi Hasekura berada dua bulan di Acapulco sebelum memasuki Mexico City pada 24 Maret, dan diterima dengan upacara besar. Tujuan utama misi Hasekura adalah pergi ke Eropa. Hasekura dan rombongan tinggal beberapa lama di Meksiko sebelum berangkat ke Veracruz menaiki armada Don Antonio Oquendo.

    Chimalpahin menulis tentang kunjungan Hasekura,

    "Ini untuk kedua kalinya orang Jepang telah mendaratkan salah satu dari kapal-kapal mereka di pantai Acapulco. Mereka membawa ke sini segala sesuatu dari besi, dan meja tulis, dan sejumlah kain yang mereka jual di sini." (Chimalpahin, "Annals of His Time")
    "Di Meksiko sini semua orang tahu dan katanya alasan penguasa mereka, Kaisar Jepang mengirim utusan bangsawan dan duta besar ke sini, adalah untuk pergi ke Roma untuk menemui Bapa Suci Paulus V, dan untuk menyerahkan kepatuhan mereka kepada gereja suci, supaya semua orang Jepang mau menjadi pemeluk Kristen." (Chimalpahin," Annals of His Time ").

    Tempat menginap Hasekura adalah sebuah rumah di dekat Gereja San Francisco. Hasekura bertemu dengan Viceroy (wakil raja), dan menjelaskan bahwa dirinya juga memiliki rencana bertemu Raja Philip III di Spanyol. Misinya adalah menawarkan perdamaian dan meminta izin agar Jepang diizinkan datang ke Meksiko untuk berdagang. Pada hari Rabu 9 April, 20 orang Jepang dibaptis, 22 orang lainnya menyusul dibaptis pada 20 April oleh Uskup Agung Meksiko, don Juan Pérez de la Serna di Gereja San Francisco. Semuanya ada 63 orang yang menerima sakramen penguatan pada 25 April. Hasekura menunggu hingga sampai di Eropa agar bisa dibaptis di sana.

    "Tapi utusan agung, duta besar, tidak mau dibaptis di sini, dikatakannya bahwa dirinya akan dibaptis kemudian di Spanyol." (Chimalpahin, "Annals of His Time")

    Meninggal dunia

    Keadaan Hasekura setelah kembali dari misi diplomatik tidak banyak diketahui orang. Sejarawan Kristen kontemporer hanya dapat mengandalkan kabar burung, termasuk beberapa rumor, mulai dari berita ia meninggalkan agama Kristen, menjadi martir, hingga mempraktikkan Kristen secara rahasia. Nasib keturunan dan para pengikutnya yang kemudian dihukum mati karena menganut Kristen, menunjukkan bahwa Hasekura pribadi tetap seorang penganut Kristen yang taat, dan meneruskan imannya kepada para anggota keluarga.

    Sotelo kembali ke Jepang, namun tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1964 dengan cara dibakar. Sebelum dieksekusi, ia memuji Hasekura yang tiba kembali di Jepang sebagai pahlawan penyebar agama Kristen,

    "Kolega saya yang lain, Duta Besar Philippus Faxecura, setelah bertemu raja yang disebutkan sebelumnya (Date Masamune), menerima penghormatan yang luar biasa darinya, dan memulangkannya ke tanah pribadi untuk beristirahat setelah perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Ia menikah, memiliki anak-anak, pelayan, dan banyak pengikut yang menjadi penganut Kristen, serta menganjurkan bangsawan lain yang masih kerabat dan handai-tolan untuk memeluk agama Kristen, dan mereka memang melakukannya. Sambil terlibat dalam kerja kerohanian ini dan itu, setahun penuh setelah kepulangannya, setelah memberi banyak pengarahan dan contoh-contoh yang baik, dengan banyak persiapan, ia meninggal dunia dengan saleh, setelah mewariskan kepada anak-anaknya penyebarluasan agama di tanah miliknya, dan perlindungan terhadap pekerja rohani (yakni "anggota ordo keagamaan") di kerajaan. Raja dan semua bangsawan sangat sedih atas wafatnya, tapi khususnya penganut Kristen dan para pekerja rohani yang tahu betul keutamaan dan semangat keagamaan dari pria ini. [Berita] ini adalah apa yang saya dengar dari surat salah seorang pendeta yang memberikan sakramen untuknya, dan sekaligus hadir pada saat kematiannya, dan juga dari orang-orang lain." (Luis Sotelo, De ecclesiae Iaponicae statu relatio).(Luis Sotelo, De ecclesiae Iaponicae statu relatio).

    Sewaktu kembali ke Jepang, Hasekura juga membawa pulang beberapa benda-benda rohani. Ia tidak memberikannya kepada Masamune sebagai hadiah, melainkan disimpannya sebagai milik pribadi.

    Hasekura Tsunenaga meninggal dunia pada tahun 1622 karena sakit (menurut sumber-sumber Jepang dan Kristen). Lokasi makamnya tidak diketahui dengan jelas. Tiga buah makam dinyatakan sebagai makam Hasekura, salah satunya ada di kuil Buddha, Enpuku-ji (Distrik Shibata, Prefektur Miyagi). Makam lainnya memiliki tanda-tanda yang jelas (bersama batu peringatan untuk Pastor Sotelo) di kuil Buddha, Kōmyō-ji (Sendai).



-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117






Reply With Quote     #33   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

  • Yamamoto Kansuke



    Yamamoto Kensuke (1501-1561) adalah samurai pada zaman Sengoku/perang sipil Jepang yang mengabdi pada daimyo Takeda Shingen dari Provinsi Kai. Dia adalah ahli strategi brilian dan salah satu dari 24 jenderal Takeda. Nama aslinya adalah Haruyuki, Kansuke adalah nama kehormatan yang dianugerahkan Shingen padanya. Yamamoto berasal dari Provinsi Mikawa dan awalnya mengabdi pada klan Imagawa yang menganggapnya tidak berpotensi karena kakinya yang pincang dan matanya yang cuma sebelah sehingga memperlakukannya dengan dingin. Hingga pada suatu ketika dia bertemu dengan salah seorang jenderal Takeda, Itagaki Nobutaka, yang memberinya kesempatan audisi dengan Takeda Shingen. Shingen sangat terkesan padanya dan menganugerahkannya daerah 1.000 koku. Shingen juga sering meminta nasihat darinya.

    Dalam berbagai peperangan Shingen dalam perebutan wilayah Shinano, Yamamoto banyak memberi kontribusi besar. Tercatat dalam sejarah bahwa dialah yang mendesain menara penyerang untuk merobohkan benteng-benteng Shinano. Atas jasanya ini, Shingen menganugerahinya nama kehormatan, Kensuke, dan pendapatannya naik menjadi 4.000 koku. Yamamoto juga berperan dalam penaklukkan klan Murakami di Toishi (1551).

    Perannya yang paling menonjol adalah dalam Pertempuran Kawanakajima melawan klan Uesugi yang berlangsung hingga lima kali. Tahun 1561, Shingen dan Uesugi Kenshin bertempur untuk yang keempat kalinya dalam pertempuran ini. Saat itu, Uesugi mengambil posisi di puncak Gunung Saijo, sementara Shingen berkemah di sekitar Kastil Kaizu hingga ke bagian timur. Yamamoto menyarankan agar Shingen membagi dua pasukannya yang berjumlah 20.000 orang dengan setengah pertama melakukan serangan fajar terhadap Gunung Saijo, sementara setengah lainnya menuju ke Hachimanbara untuk memblokir jalur mundur Uesugi. Siasat ini diterima Shingen, dia mengirim Kosaka Masanobu dan Baba Nobuharu ke Gunung Saijo dan dia sendiri secara pribadi memimpin sisa pasukannya menyebrangi Sungai Chikuma.

    Sayangnya siasat ini terbaca oleh Uesugi yang malam itu juga memimpin 11.000 pasukannya menuruni Gunung Saijo dan menyeberangi sungai. Begitu fajar menyingsing, Uesugi menyerang kemah Shingen secara besar-besaran. Kosaka dan Baba sadar bahwa Gunung Saijo telah ditinggalkan, namun terlambat. Dalam serangan itu adik Shingen, Takeda Nobushige dan pamannya, Morozumi Masakiyo, terbunuh, calon pewaris Shingen, Takeda Yoshinobu juga terluka. Merasa siasatnya adalah penyebab kekalahan tuannya, Yamamoto meraih tombaknya dan terjun dalam pertempuran. Dengan mata satu dan kaki pincang, Yamamoto bertempur dengan gagah berani dan tubuhnya terluka parah. Dia mundur ke daerah terpencil dan bunuh diri. Shingen sendiri lolos dari pertempuran. Dia sangat menyayangkan kematian ahli strateginya yang paling dipercaya itu dan memerintahkan jasadnya dikubur di daerah pertempuran.


-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117






Reply With Quote     #34   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

Ronin

Ronin atau rōshi adalah sebutan untuk samurai yang kehilangan atau terpisah dari tuannya di zaman feodal Jepang (1185-1868). Samurai menjadi kehilangan tuannya akibat hak atas wilayah kekuasaan sang tuan dicabut oleh pemerintah. Samurai yang tidak lagi memiliki tuan tidak bisa lagi disebut sebagai samurai, karena samurai adalah "pelayan" bagi sang tuan.

Dalam budaya populer, ronin didramatisasi sebagai samurai tak bertuan, hidup tak terikat pada tuan atau daimyo dan mengabdikan hidup dengan mengembara mencari jalan samurai yang sejati.

Di zaman Jepang kuno, ronin berarti orang yang terdaftar (memiliki koseki) sebagai penduduk di suatu tempat, tapi hidup mengembara di wilayah lain sehingga dikenal juga dengan sebutan furō (pengembara).

Zaman Kamakura dan zaman Muromachi

Di zaman Muromachi dan zaman Kamakura, samurai yang kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal menjadi pengembara. Pada waktu itu, ronin sering menjadi sebab timbulnya kerusuhan skala kecil di berbagai daerah. Walaupun para daimyo banyak membutuhkan prajurit untuk berperang, ronin hampir tidak berkesempatan mendapat majikan yang baru. Situasi keamanan yang buruk menyebabkan ronin membentuk komplotan yang saling berebut wilayah dan pengaruh, beroperasi sebagai gerombolan pencoleng hingga menimbulkan huru-hara.

Zaman Sengoku

Di zaman Sengoku, sengoku daimyo yang tersebar di seluruh Jepang memerlukan prajurit dalam jumlah yang sangat besar, sehingga ronin mempunyai kesempatan besar untuk mendapat majikan baru. Tidak seperti di zaman Edo, hubungan antara samurai dan tuannya di zaman Sengoku tidaklah begitu erat. Di zaman Sengoku, samurai banyak yang memilih jadi ronin atas keputusannya sendiri cuma karena situasi kerja yang tidak memuaskan. Ada juga samurai yang memilih jadi ronin agar bisa menemukan tuan yang menjanjikan kondisi pekerjaan dan gaji yang lebih baik. Samurai yang berpindah-pindah tuan juga tidak kurang jumlahnya, bahkan ada juga ronin yang sukses menjadi daimyo. Semasa hidupnya, samurai bernama Tōdō Takatora pernah mengabdi untuk 10 orang majikan. Pada waktu itu, orang masih bisa semaunya berpindah-pindah kelas, seperti samurai berganti profesi menjadi pedagang atau petani menjadi samurai.

Zaman Toyotomi dan zaman Osaka

Setelah Toyotomi Hideyoshi berhasil mempersatukan Jepang, berakhir pula zaman perang saudara yang berkepanjangan sehingga samurai banyak yang menjadi ronin. Sebagian besar daimyo tidak lagi perlu memiliki banyak pengikut. Setelah Pertempuran Sekigahara yang dimenangkan kubu Pasukan Timur, wilayah kekuasaan daimyo Pasukan Barat banyak sekali yang dirampas sehingga para samurai yang kehilangan pekerjaan menjadi ronin. Di zaman Keshogunan Edo, pemerintah Bakufu menghancurkan daimyo yang termasuk golongan tozama daimyo (daimyo yang pernah mendukung klan Toyotomi) sehingga jumlah ronin menjadi semakin banyak.

Pertempuran Osaka

Memasuki zaman Edo, jumlah samurai yang dimiliki para daimyo begitu berlebihan sampai hampir-hampir tidak ada penerimaan samurai baru. Selain itu, hubungan antara majikan dan samurai menjadi semakin teratur karena pengaruh Konfusianisme. Samurai yang desersi meninggalkan tuannya tidak lagi akan diterima sebagai abdi daimyo di tempat lain. Dalam Pertempuran Osaka, klan Toyotomi banyak sekali dibantu para ronin untuk menghadapi pasukan Tokugawa. Jumlah ronin yang membantu klan Toyotomi dalam Pertempuran Osaka dikabarkan mencapai 100.000 orang, walaupun banyak di antaranya yang tewas terbunuh.

Zaman Edo

Di zaman Edo, penghapusan sebagian besar daimyo mengakibatkan jumlah samurai yang menjadi ronin makin bertambah banyak. Di akhir pemerintahan Tokugawa Iemitsu, jumlah ronin melonjak menjadi sekitar 500.000 orang karena peran samurai tidak lagi dibutuhkan di masa damai. Sebagian besar ronin menjadi penduduk kota atau menjadi petani, sebagian ronin bahkan pergi merantau ke luar negeri menjadi prajurit bayaran. Sebagian besar ronin justru hidup menderita dalam kemiskinan di kota-kota dan pemerintah Bakufu menganggapnya sebagai ancaman keamanan. Ronin banyak yang diusir dari kota dan hanya boleh tinggal di wilayah-wilayah yang ditentukan. Pemerintah Bakufu bahkan mengambil tindakan yang lebih kejam dengan melarang ronin mencari tuan yang baru. Kelompok ronin yang terusir ke sana ke mari akhirnya bersatu di bawah pimpinan Yui Shōsetsu dan berkomplot untuk menggulingkan pemerintah Bakufu dalam Pemberontakan Keian.

Pemerintah Bakufu melarang pengangkatan anak sebagai putra pewaris darurat (matsugoyōshi), akibatnya garis keturunan daimyo banyak yang terputus karena daimyo keburu meninggal tanpa memiliki putra pewaris. Keluarga daimyo yang tidak mempunyai putra pewaris terpaksa bubar dan samurai yang kehilangan tuannya berakhir sebagai ronin. Setelah pecahnya Pemberontakan Keian, pemerintah Bakufu berusaha memperbaiki kebijakan terhadap ronin. Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan baru, seperti melonggarkan larangan mengangkat putra pewaris darurat, mengurangi jumlah daimyo yang dirampas wilayah kekuasaannya, dan meninjau kembali pembatasan wilayah permukiman ronin. Peluang ronin mencari majikan baru juga dibuka kembali. Walaupun sudah ada kebijakan baru, jumlah samurai yang menjadi ronin tidak juga bisa berkurang. Ronin-ronin baru terus bermunculan akibat perampasan wilayah kekuasaan para daimyo yang terus berlanjut.

Situasi kehidupan ronin

Di zaman Edo, ronin yang sudah kehilangan jati diri sebagai samurai masih diakui pemerintah sebagai "samurai" dan masih diizinkan memakai nama keluarga samurai dan membawa katana di pinggang. Sehari-harinya, ronin hidup berdampingan dengan rakyat banyak di bawah pengawasan pemerintah kota (machi bugyō). Sebagian besar ronin hidup miskin di rumah-rumah sewa, tapi ada juga ronin yang berhasil menjadi sastrawan ternama seperti Chikamatsu Monzaemon. Ronin ada yang membuka dojo, menjadi instruktur bela diri atau menyumbangkan jasa sebagai guru mengajar anak-anak orang biasa di terakoya (sekolah dasar swasta yang menempel di kuil agama Buddha). Miyamoto Musashi adalah seorang ronin yang terkenal sebagai jago pedang tanpa tanding.

Akhir zaman Edo

Di akhir zaman Edo, para ronin mulai berperan aktif di bidang politik. Samurai dari kelas yang disebut gōshi (samurai distrik) banyak yang atas permintaan sendiri meninggalkan domain (han) tempat tinggalnya supaya bisa terjun di bidang politik. Sakamoto Ryōma adalah salah seorang ronin yang berhasil sebagai politikus. Pada waktu itu, ronin palsu juga banyak bermunculan. Penduduk kota dan petani yang tidak dilahirkan dari kalangan samurai banyak yang mengaku sebagai ronin, memamerkan katana di pinggang, dan memakai nama keluarga samurai dengan semaunya. Shinsengumi dianggap sebagai kelompok ronin, tapi anggotanya banyak yang terdiri dari penduduk kota dan petani.

Setelah Restorasi Meiji, identitas ronin ikut dihapus sesuai dengan prinsip shiminbyōdō (penghapusan semua golongan dan kelas dalam masyarakat).



-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117






Reply With Quote     #35   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

47 Ronin



Makam 47 Ronin


Kisah Empat Puluh Tujuh Ronin adalah peristiwa pembalasan dendam 47 ronin dari Akō di bawah pimpinan Ōishi Kuranosuke Yoshitaka yang membalas dendam atas kematian majikan bernama Asano Takumi no Kami dengan cara melakukan penyerbuan ke rumah kediaman pejabat tinggi istana Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa dan membunuhnya.

Peristiwa pembunuhan Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa dikenal sebagai Genroku Akō jiken (Peristiwa Akō era Genroku) karena terjadi tanggal 14 bulan 12 tahun ke-15 era Genroku atau 30 Januari 1703.

Di kota Akō (Prefektur Hyogo) yang merupakan tempat asal 47 ronin, kisah ini dikenal sebagai Akōgishi (Perwira setia dari Akō).

Di Jepang sebelum Perang Dunia II, kisah ini umum dikenal sebagai Akōgishi dan dijadikan teladan kesetiaan samurai terhadap majikannya. Seusai Perang Dunia II, kisah ini lebih dikenal sebagai Akō rōshi (ronin dari Akō) atau Shijūshichishi (47 samurai) berkat kepopuleran novel karya Osaragi Jirō yang kemudian diangkat menjadi drama televisi.

Dalam budaya populer, dramatisasi dari kisah yang sama namun lebih menonjolkan kepahlawanan 47 ronin dari Akō sekaligus mencerca Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa dikenal sebagai Chūshingura . Kisah Chūshingura merupakan cerita fiksi yang tidak melihat peristiwa dari sudut pandang netral.

Dalam bahasa Inggris, kisah ini dikenal sebagai Forty-seven Ronin atau Forty-Seven Samurai.

Garis besar peristiwa

Pada tanggal 14 Maret 1701, Asano Takumi no Kami bertengkar dengan pejabat tinggi (Kōke) bernama Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa dan melukainya dengan wakizashi di ruangan bernama Matsu no Ōrōka (tempat berkumpul daimyo) di dalam Istana Edo. Tokugawa Tsuneyoshi yang menjabat Seii Taishogun menjadi sangat marah atas peristiwa penyerangan dengan benda tajam yang terjadi di lingkungan istana dan memerintahkan Asano Takumi no Kami untuk melakukan seppuku pada hari yang sama. Hukuman juga dijatuhkan terhadap keluarga Asano Takumi no Kami (klan Akō Asano) dalam bentuk pencabutan semua wilayah kekuasaan klan Akō Asano di Akō, sehingga para pengikutnya harus menjadi ronin. Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa yang juga terlibat dalam peristiwa ini justru tidak mendapat hukuman apa-apa.

Sebagian besar bushi wilayah han Akō dan Ōishi Kuranosuke yang menjabat penasehat utama bagi Asano Takumi no Kami merasa sangat tidak puas dengan keputusan tidak adil yang dijatuhkan pemerintah Bakufu. Hukuman yang dijatuhkan pemerintah Bakufu dianggap melanggar prinsip "kedua belah pihak yang bertengkar harus dihukum" (kenka ryōseibai) yang merupakan hukum kelas samurai. Pertemuan yang dilakukan Istana Akō berakhir dengan kebingungan antara mematuhi Keshogunan Edo untuk menyerahkan istana atau melakukan perlawanan dengan bertahan di dalam istana sampai mati.

Setelah menerima surat sumpah dari para samurai yang berisi kebulatan tekad untuk melakukan bertahan dari dalam istana dan melakukan perlawanan sampai mati, Ōishi Kuranosuke berjanji untuk memohon kepada Keshogunan Edo agar memulihkan semua hak yang pernah dimiliki klan Akō Asano dan menghukum Kira Kōzuke no Suke. Istana Akō lalu diserahkan kepada pemerintah Bakufu untuk menghindari pertumpahan darah dan akibatnya semua samurai wilayah han menjadi ronin dan berpencar ke berbagai daerah seperti Edo dan Kamigata.

Ōishi Kuranosuke yang berusaha keras memulihkan kekuasaan klan Asano banyak didukung mantan samurai wilayah han Akō. Jumlah orang yang ikut serta dalam sumpah setia semakin hari semakin bertambah menjadi lebih dari 120 orang. Ōishi Kuranosuke berusaha memulihkan kejayaan klan seperti semula dan meminta adik almarhum Asano Takumi no Kami yang bernama Asano Daigaku untuk menjadi kepala klan.

Sementara itu, Horibe Taketsune dan para ronin membentuk kelompok radikal di Edo. Kelompok radikal merasa tidak sabar dengan usaha pemulihan yang dinilai lambat dan berkeras hati untuk membalas dendam dengan cara membunuh Kira Kōzuke no suke. Ōishi Kuranosuke yang mencoba segala macam cara untuk mengembalikan kejayaan klan Asano ternyata banyak mendapat hambatan dari sana-sini. Kehidupan sehari-hari para ronin juga menjadi semakin sulit, beberapa orang ronin bahkan mulai berubah pikiran dan tidak lagi mendukung surat sumpah yang pernah ditulis.

Pada bulan Juli 1702, usaha untuk memulihkan kejayaan klan Akō kandas di tengah jalan setelah Asano Daigaku menerima hukuman dari pemerintah Bakufu berupa kurungan seumur hidup di kediaman keluarga yang merupakan garis keturunan utama klan Asano di wilayah han Hiroshima. Ōishi Kuranosuke lalu mengumpulkan para ronin di Maruyama (Kyoto). Pertemuan ini nantinya dikenal sebagai Pertemuan Maruyama. Hasil pertemuan di Murayama memutuskan untuk melakukan pembunuhan balas dendam (adauchi) terhadap Kira Kōzuke no Suke.

Sebelum memutuskan hasil pertemuan, Ōishi Kuranosuke menguji kembali niat balas dendam para ronin. Ōishi Kuranosuke menawarkan untuk mengembalikan semua surat sumpah kepada masing-masing ronin dan menganggapnya sebagai tidak pernah ada. Hampir separuh dari para ronin yang ingin melakukan balas dendam kemudian berubah pikiran terutama para ronin yang yang berpenghasilan tinggi. Rencana pembunuhan balas dendam hanya dibicarakan dengan para ronin yang menolak pengembalian surat sumpah. Pada akhirnya, jumlah ronin yang berniat melakukan pembunuhan balas dendam menciut menjadi tinggal 47 orang.


Dini hari pada tanggal 15 Desember 1702, 47 ronin menyerbu masuk ke rumah kediaman Kira Kōzuke no Suke yang berada di Honjo Matsuzaka dan Kira Kōzuke no Suke berhasil dibunuh. Kawanan 47 ronin membawa pulang penggalan kepala Kira Kōzuke no Suke dan mempersembahkannya di atas makam Asano Takumi no Kami yang terletak di kuil Sengakuji. Kawanan 47 ronin lalu memberitahu sang majikan di alam sana bahwa pembalasan dendam telah berhasil.

Salah seorang ronin yang bernama Terasaka Nobuyuki memisahkan diri dari kelompok, sehingga kawanan ronin menjadi hanya berjumlah 46 orang.

Setelah itu, Ōishi Kuranosuke menyerahkan diri dan pasrah atas semua hukuman yang bakal dijatuhkan pemerintah Bakufu. Pemerintah Bakufu menitipkan para ronin di rumah 4 orang daimyo. Dalam sekejap, para ronin yang berhasil membunuh Kira Kōzuke no Suke menjadi terkenal di kota Edo. Penduduk Edo memuji-muji kelompok ronin sebagai samurai yang setia (gishi) karena berhasil menuntaskan kewajiban sebagai bentuk kesetiaan terhadap sang majikan. Walaupun demikian, perbuatan para ronin membentuk kelompok tanpa seizin pemerintah Bakufu dan melaksanakan pembunuhan balas dendam merupakan kejahatan yang hukumannya adalah hukuman mati.

Pemerintah shogun Tokugawa Tsuneyoshi selalu menekankan pentingnya arti kesetiaan di kalangan para perwira, sehingga nyawa para ronin perlu diampuni karena pembunuhan yang dilakukan adalah bentuk kesetiaan samurai terhadap majikan. Dari segi hukum, perbuatan para ronin tetap merupakan kejahatan yang pantas menerima hukuman mati. Mayoritas pendapat meminta pengampunan nyawa para ronin yang dianggap hanya menjalankan kewajiban sebagai pengikut setia sang majikan. Shogun Tsuneyoshi merasa kuatir akan pecahnya pemberontakan akibat pemberian perlakuan khusus terhadap para ronin dengan mengabaikan hukum yang ada. Para ronin akhirnya diperintahkan untuk mati secara terhormat dengan melakukan seppuku.

Pada tanggal 4 Februari 1703, 46 ronin dari Akō melakukan seppuku di halaman rumah kediaman para daimyo tempat mereka dititipkan.

Kekecewaan meluas di kalangan rakyat akibat cara pemerintah menyelesaikan kasus ini. Di kalangan rakyat lalu beredar cerita Kanadehon Chūshingura dalam bentuk kesenian Ningyō Jōruri (Bunraku). Cerita Kanadehon Chūshingura yang sekarang lebih dikenal sebagai Chūshingura (kumpulan cerita pengikut yang setia) sangat mengagungkan kesetiaan para ronin terhadap sang majikan. Penulis cerita menyamarkan nama-nama tokoh yang terlibat peristiwa Akō rōshi untuk menghindari sensor pemerintah Bakufu. Judul cerita Kanadehon Chūshingura juga mempunyai arti terselubung, kata "Kanadehon" sama artinya dengan angka 47. Kanadehon adalah buku berisi contoh untuk berlatih menulis aksara hiragana yang terdiri dari 47 aksara.

Kelompok ronin dari Akō dimakamkan di kuil Sengakuji. Sampai saat ini, setiap tahunnya di kuil Sengakuji dilangsungkan Gishisai (upacara kesetiaan) pada tanggal 14 Desember untuk memperingati malam penyerbuan para ronin.


-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117






Reply With Quote     #36   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

Daftar nama 47 ronin
  1. Ōishi Kuranosuke Yoshitaka atau Ōishi Kuranosuke Yoshio
    Pemimpin penyerbuan, penasehat senior (Karō) Asano Takumi no kami. Penghasilan 1.500 koku. Wafat di usia 45 tahun
  2. Ōishi Chikara Yoshikane
    Putra pertama Ōishi Kuranosuke Yoshitaka yang masih terlalu muda untuk dijadikan pewaris kepala keluarga (heyazumi). Pada saat penyerbuan rumah kediaman Kira Yoshihisa bertugas sebagai komandan penyerbuan di pintu belakang. Anggota kelompok yang paling muda. Wafat di usia 16 tahun
  3. Hara Sōemon Mototoki
    Pimpinan prajurit berjalan kaki (ashigaru), penghasilan 300 koku. Sejak awal sudah bersimpati dengan kelompok radikal. Wafat di usia 56 tahun.
  4. Kataoka Gengoemon Takafusa
    Jabatan: penasehat (sobayōnin) dan kepala pembantu pria (kogoshō gashira). Penghasilan 350 koku. Pada cerita Chūshingura merupakan pengikut yang bertemu terakhir kali sebelum Asano Takumi no Kami melakukan seppuku. Tokoh yang paling berkeras hati ingin melakukan pembunuhan balas dendam.
  5. Horibe Yahē Kanamaru atau Horibe Yahē Akizane
    Pensiunan samurai yang bertugas di Edo, pernah berpenghasilan 300 koku, menerima tunjangan pensiun 20 koku. Anggota kelompok yang paling tua. Wafat di usia 77 tahun.
  6. Horibe Yasubē Taketsune
    Pengawal berkuda (umamawari), penghasilan 200 koku. Kelahiran wilayah han Shibata provinsi Echigo. Pernah dikenal dengan nama Nakayama Yasubē, menjadi ronin setelah diusir dari wilayah han Shibata sebagai pengganti ayahnya. Pernah terlihat dalam Peristiwa duel Takada no baba di luar kota Edo, sehingga Horibe Yahē Kanamaru yang mendengar kehebatan Nakayama Yasubē menjadikannya sebagai menantu. Nakayama Yasubē yang mengganti nama sebagai Horibe Yasubē kemudian menjadi pengikut klan Akō Asano. Horibe Yasubē merupakan tokoh inti dalam kelompok radikal yang ingin melakukan pembunuhan balas dendam. Pada peristiwa penyerbuan kabarnya bertarung gagah berani menggunakan katana yang besar dan panjang (ōdachi). Wafat di usia 34 tahun.
  7. Yoshida Chūzaemon Kanesuke
    Kepala prajurit berjalan kaki (ashigaru) sekaligus pejabat magistrat daerah (kōri bugyō). Penghasilan 200 koku, tunjangan pejabat 50 koku. Anggota kelompok ronin yang paling dekat dengan pimpinan kelompok sekaligus sekaligus tangan kanan Ōishi Kuranosuke. Wafat di usia 64 tahun.
  8. Yoshida Sawaemon Kanesada
    Putra pertama Yoshida Chūzaemon Kanesuke yang belum dijadikan pewaris kepala keluarga (heyazumi). Wafat di usia 29 tahun.
  9. Chikamatsu Kanroku Yukishige
    Pengawal berkuda, penghasilan 250 koku, mengalami luka-luka pada saat penyerbuan. Wafat di usia 34 tahun.
  10. Mase Kyūdayū Masaaki
    Kepala inspektur (Ōmetsuke) yang mengawasi orang penting seperti daimyo, penghasilan 200 koku. Wafat di usia 63 tahun.
  11. Mase Magokurō Masatoki
    Putra pertama Mase Kyūdayū Masaaki, belum dijadikan pewaris kepala keluarga. Wafat di usia 23 tahun.
  12. Akabane Genzō Shigekata
    Pengawal berkuda, penghasilan 200 koku. Pada cerita Chūshingura terkenal sebagai tokoh bernama Tokuri no wakare. Wafat di usia 35 tahun.
  13. Ushioda Matanojō Takanori
    Pejabat magistrat daerah (kōri bugyō) dan penggambar peta (ezu bugyō), penghasilan 200 koku. Wafat di usia 35 tahun.
  14. Tominomori Sukeemon Masanori
    Pengawal berkuda dan kurir (tsukaiban), penghasilan 200 koku. Wafat di usia 34 tahun.
  15. Fuwa Kazuemon Masatane
    Mantan pengawal berkuda dan mantan pengawal pantai (hama bugyō), sewaktu aktif berpenghasilan 100 koku. Fuwa Kazuemon Masatane memohon diikutsertakan dalam sumpah setia walaupun dirinya adalah ronin yang tidak punya hubungan apa-apa dengan peristiwa yang menimpa klan Akō Asano. Pada saat penyerbuan ke rumah kediaman Kira merupakan tokoh yang paling diandalkan. Wafat di usia 34 tahun.
  16. Okano Kinemon Kanehide
    Anggota keluarga yang belum dijadikan putra pewaris. Tokoh paling tampan dalam cerita Chūshingura, mendapatkan denah rumah kediaman Kira dari putri seorang tukang kayu. Wafat di usia 24 tahun.
  17. Onodera Jūnai Hidekazu
    Penjaga rumah di Kyoto, berpenghasilan 150 koku ditambah tunjangan 70 koku. Wafat di usia 61 tahun.
  18. Onodera Sawaemon Hidetomi
    Anggota keluarga yang tinggal serumah dan belum dijadikan pewaris kepala keluarga, anak angkat dari Onodera Jūnai Hidekazu. Wafat di usia 28 tahun.
  19. Kimura Okaemon Sadayuki
    Pengawal berkuda, pejabat penggambar peta (ezu bugyō), penghasilan 150 koku. Wafat di usia 46 tahun.
  20. Okuda Magodayū Shigemori
    Petugas persenjataan (bugu bugyō), penghasilan 150 koku. Tokoh inti dalam kelompok radikal yang ingin melakukan pembunuhan balas dendam. Wafat di usia 57 tahun.
  21. Okuda Sadaemon Yukitaka
    Anggota keluarga yang belum dijadikan pewaris. Anak angkat Okuda Magodayū Shigemori. Wafat di usia 26 tahun.
  22. Hayami Tōzaemon Mitsutaka
    Pengawal berkuda, penghasilan 150 koku. Tokoh yang pertama kali kembali ke Akō melaporkan peristiwa sang majikan. Wafat di usia 42 tahun.
  23. Yada Gorōemon Suketake
    Pengawal berkuda, penghasilan 150 koku. Wafat di usia 29 tahun.
  24. Oishi Sezaemon Nobukiyo
    Pengawal berkuda, penghasilan 150 koku. Wafat di usia 27 tahun.
  25. Isogai Jūrōzaemon Masahisa
    Penasehat (sobayōnin) dan komandan peleton (monogashira), berpenghasilan 150 koku. Wafat di usia 25 tahun.
  26. Hazama Kihei Mitsunobu
    Pegawai pembukuan (auditor), penghasilan 100 koku. Wafat di usia 69 tahun.
  27. Hazama Jūjirō Mitsuoki
    Putra pertama Hazama Kihei Mitsunobu yang belum dijadikan putra pewaris. Tokoh yang berada paling depan sewaktu berhadapan dengan Kira Yoshihisa dan pemenggal kepala Kira Yoshihisa. Wafat di usia 26 tahun.
  28. Hazama Shinrokurō Mitsukaze
    Putra kedua Hazama Kihei Mitsunobu. Pernah dijadikan anak angkat oleh keluarga lain, tapi tidak bisa rukun dengan ayah angkatnya. Pergi ke Edo dan menjadi ronin. Tokoh yang memohon agar dimasukkan ke dalam sumpah setia. Wafat di usia 24 tahun.
  29. Nakamura Kansuke Masatoki
    Juru tulis, penghasilan 100 koku. Wafat di usia 46 tahun.
  30. Senba Saburobē Mitsutada
    Pengawal berkuda, 100 koku. Wafat di usia 51 tahun.
  31. Sugaya Hannojō Masatoki
    Pengawal berkuda, kepala distrik (gundai), penghasilan 100 koku. Wafat di usia 44 tahun.
  32. Muramatsu Kihē Hidenao
    Petugas logistik (fuchi bugyō), penghasilan 20 koku 5 ninbuchi. Wafat di usia 62 tahun.
  33. Muramatsu Sandayū Takanao
    [Putra pertama Muramatsu Kihē Hidenao yang belum dijadikan putra pewaris. Wafat di usia 27 tahun.
  34. Kurahashi Densuke Takeyuki
    Petugas logistik, berpenghasilan 20 koku 5 ninbuchi. Wafat di usia 34 tahun.
  35. Okajima Yasoemon Tsuneshige
    Petugas lembaga keuangan (fudaza kantei bugyō), berpenghasilan 20 koku 5 ninbuchi. Wafat di usia 38 tahun.
  36. Ōtaka Gengo Tadao
    Pegawai urusan uang di kantor keuangan, urusan dapur dan urusan perlengkapan. Penghasilan 20 koku 5 ninbuchi. Mendekati ahli upacara minum teh yang sering keluar masuk rumah keluarga Kira, sehingga tahu di rumah kediaman Akira pada tanggal 14 Desember diselenggarakan upacara minum teh. Terkenal pandai menulis haikai, dekat dengan penyair haikai Takarai Kikaku. Wafat di usia 38 tahun.
  37. Yatō Emoshichi Norikane
    Belum dijadikan putra pewaris. Bersama-sama ayahnya ikut dalam sumpah setia, tapi sang ayah lebih dulu meninggal karena sakit. Wafat di usia 17 tahun.
  38. Katsuta Shinzaemon Taketaka
    Pengawas lembaga keuangan (fudaza yokome), berpenghasilan 15 koku 3 ninbuchi, wafat di usia 24 tahun.
  39. Takebayashi Tadashichi Takashige
    Pengawal berkuda, penghasilan 15 ryō 3 ninfuchi, berduel dengan Kira Sabee Yoshichika (anak angkat Kira Yoshihisa) dan berhasil melukainya. Tokoh yang berhasil menghabisi Kira Yoshihisa yang tadinya bersembunyi di gubuk penyimpanan arang. Wafat di usia 32 tahun.
  40. Maebara Isuke Munefusa
    Pegawai keuangan (kane bugyō), berpenghasilan 10 koku 3 ninbuchi. Membuka toko kimono di Edo untuk mencari tahu rumah kediaman Kira Yoshihisa. Wafat di usia 40 tahun.
  41. Kaiga Yazaemon Tomonobu
    Pegawai gudang, samurai tingkatan paling bawah (chūgoshō) tapi di atas ashigaru, penghasilan 10 ryō 3 ninbuchi. Wafat di usia 54 tahun.
  42. Sugino Jūheiji Tsugifusa
    Pengawas lembaga keuangan (fudaza yokome), berpenghasilan 8 ryō 3 ninbuchi, wafat di usia 28 tahun.
  43. Kanzaki Yogorō Noriyasu
    Petugas penyelidik (kachimetsuke) yang berada dibawah Ōmetsuke, penghasilan 5 ryō 3 ninbuchi. Wafat di usia 38 tahun.
  44. Mimura Jirōzaemon Kanetsune
    Petugas dapur dan urusan sake (sake bugyō), penghasilan 7 koku 2 ninbuchi. Wafat di usia 37 tahun.
  45. Yokogawa Kanpei Munetoshi
    Petugas penyelidik (kachimetsuke), penghasilan 5 ryō 3 ninbuchi, mencari tahu di rumah kediaman Kira pada tanggal 14 Desember diadakan upacara minum teh. Wafat di usia 37 tahun.
  46. Kayano Wasuke Tsunenari
    Pengawas para bushi (yokometsuke), penghasilan 5 ryō 3 ninbuchi. Wafat di usia 37 tahun.
  47. Terasaka Kichiemon Nobuyuki
    Prajurit berjalan kaki (ashigaru) bawahan Yoshida Chūzaemon Kanesuke, penghasilan sekitar 3 ryō dan 2 ninbuchi. Satu-satunya prajurit berjalan kaki bukan samurai (ashigaru) yang ikut dalam penyerangan ke rumah kediaman Kira, tapi kabarnya menghilang setelah penyerbuan. Pendapat lain mengatakan peran Terasaka Nobuyuki tidak diakui terlibat oleh rekan-rekannya dalam kelompok ronin agar bisa menyebarluaskan berita kematian Kira Yoshihisa. Pada saat penyerbuan ke rumah kediaman Kira, Terasaka Nobuyuki berusia 39 tahun. Setelah peristiwa penyerbuan, Terasaka Nobuyuki mengabdi untuk beberapa keluarga dan meninggal di Edo pada usia 83 tahun.

Daftar ronin yang berubah pikiran
  1. Takata Gunbē atau dikenal sebagai Takata Sukemasa
    Pengikut yang bertempat tinggal di Edo, penghasilan 200 koku 15 ninbuchi. Ikut serta dalam sumpah setia, merupakan tokoh garis keras dalam kelompok radikal tapi pada akhirnya berubah pikiran dan mundur dari sumpah setia.
  2. Kayano Sanpei Shigezane
    Penghasilan sedikit di atas 12 ryō dan 3 ninbuchi, merupakan pengikut yang paling pertama sampai di Akō mengabarkan berita yang menimpa sang majikan di Edo. Kayano Shigezane sudah ikut serta dalam sumpah setia, tapi dimohon keluarganya agar mencari majikan yang lain. Shigezane akhirnya bunuh diri setelah berada dalam dilema. Dalam cerita Chūshingura disamarkan dengan nama Hayano Kanpei.
  3. Hashimoto Heizaemon
    Pengawal berkuda, penghasilan 100 koku, ikut serta dalam sumpah setia, tapi nantinya tewas bunuh diri bersama seorang wanita penghibur di Osaka.
  4. Okuno Shōgen Sadayoshi
    Kepala kantor (Kumigashira), penghasilan 1.000 koku, ikut serta dalam sumpah setia mendukung Ōishi Kuranosuke Yoshitaka. Okuno Sadayoshi berubah pikiran dan mundur dari sumpah setia setelah hasil Pertemuan Maruyama memutuskan untuk melakukan pembunuhan balas dendam.
  5. Shindō Genshirō Toshimoto
    Kepala prajurit berjalan kaki, penghasilan 400 koku, ikut serta dalam sumpah setia karena masih kerabat dengan Ōishi Kuranosuke Yoshitaka, tapi berubah pikiran setelah Pertemuan Maruyama dan mundur dari sumpah setia.
  6. Koyama Gengozaemon Yoshimoro
    Kepala prajurit berjalan kaki, penghasilan 300 koku, ikut serta dalam sumpah setia karena masih kerabat dengan Ōishi Kuranosuke Yoshitaka, tapi berubah pikiran setelah Pertemuan Maruyama dan mundur dari sumpah setia.
  7. Tanaka Sadashirō
    Penghasilan 150 koku, mengambil jenazah Asano Naganori untuk dimakamkan. Tanaka Sadashirō merupakan anggota kelompok radikal bersama-sama dengan Kataoka Gengoemon Takafusa, tapi kabur melarikan diri sebelum penyerangan terhadap Kira Yoshihisa dimulai dan menghabiskan seluruh sisa hidupnya sebagai pemabuk.
  8. Oyamada Shōzaemon
    Pengikut yang bertempat tinggal di Edo, penghasilan 100 koku. Ikut serta dalam sumpah setia tapi kabur setelah mencuri uang dan barang berharga lainnya. Setelah peristiwa penyerbuan ke rumah kediaman Kira Yoshihisa, ayah Oyamada Shōzaemon sangat malu hingga bunuh diri akibat perbuatan anaknya.
  9. Seo Magozaemon
    Pesuruh Ōishi Kuranosuke Yoshitaka yang selalu mendampingi majikannya, tapi kabur melarikan diri.
  10. Mōri Koheita
    Urusan perlengkapan dan rumah tangga (ōnandoyaku), penghasilan 20 koku 5 ninbuchi. Ikut serta dalam sumpah setia dan berperan dalam mencari tahu rumah kediaman Kira Yoshihisa, tapi berubah pikiran sebelum penyerbuan dilakukan. Mōri Koheita merupakan ronin yang paling akhir berubah pikiran dan mundur dari sumpah setia.


-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117






Reply With Quote     #37   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

Tokoh-Tokoh Ninja Yang Terkenal
  • Fuma Kotaro

    Fuma Kotaro (1550–1610) juga dipanggil kazama. Kotaro lahir di propinsi Sagami, banyak kejadian sejarah yang tidak mencatat tentang ninja ini. bagaimana aktifitasnya dan apa saja yang telah dilakukan bagai menghilang. Dia adalah keturunan kelima dari pemimpin klan Fuma yang bekerja untuk klan Hojo. di tahun 1570an Kotaro dikirim untuk membunuh Takeda Shingen, tetapi banyak cara yang telah dilakukan oleh kotaro dan ternyata gagal. Tapi ada satu kejadian di tahun 1573 dia hampir membunuh Takeda ketika Takeda melakukan penyerangan ke markas musuh.

    Pada bulan maret 1581, benteng Hojo diserang oleh pasukan Takeda Katsuyori, dia membangun benteng / markas di gunung yang berlawanan arah dengan benteng Hojo. Kotaro dan beberapa ninjanya melakukan taktik berupa serangan malam dengan beberapa orang dan berusaha memancing agar lawan menyerang. tapi taktik ini akhirnya memberikan kemenangan pada kubu klan Hojo karena Kotaro dan ninjanya melakukan serangan malam yang merusak dan menghancurkan mental pasukan lawan. Mereka membunuh banyak paasukan lawan dan membunuh secara brutal sehingga menyebabkan pasukan lawan harus berjaga tiap malam dan siang. Hal ini menyebabkan kekuatan pasukan lawan menurun dan menyebabkan ketakutan berlebihan di kalangan pasukan Takeda Katsuyori. Setelah beberapa dekade klan ninja fuma hanya menjadi sekelompok bajak laut / sekelompok bandit yang meresahkan masyarakat. Di tahun 1596 Ieyashu Tokugawa memerintahkan Hattori Hanzo untuk membekuk kelompok ninja tersebut. Hattori membangun kapal yang besar dengan perlengkapan dan meriam besar. Dia tahu kalau klan Fuma berlayar dengan menggunakan beberapa kapal2 kecil dan sebuah kapal selam kecil bernama Funakainin. Ketika kapal telah selesai dibuat Hattori dan krunya berlayar ke Selat Sou untuk mencari klan Fuma. Disana mereka menemukan markas lawan dengan beberapa kapal kecil berderet tanpa pasukan. Hattori akhirnya menembakan meriam dan menghancurkan beberapa kapal lawan. Melihat kapal lawan yang mengalami kerusakan dan berusaha melarikan diri Hattori memerintahkan kru kapal untuk mengejarnya, mereka akhirnya mengejar sampai ke sungai kecil. Ternyata ini adalah sebuah jebakan dari klan fuma untuk memancing kapal lawan ke sungai kecil dan menyerang mereka. Kotaro memerintahkan pasukannya untuk menembakkan panah api ke kapal Hattori. Karena kapal yang mulai terbakar Hattori memerintahkan krunya untuk melompat ke sungai, tetapi mereka menolak. Akhirnya Hattori memerintahkan krunya untuk melemparkan mesiu ke sungai. Hal ini sia2 karena Kotaro telah memerintahkan pasukannnya untuk melemparkan minyak ke sungai dan mulai membakarnya. Hatori dan krunya akhirnya mati di kapalnya karena terbakar. Rahasia keberhasilan ini karena adanya kapal selam kecil yang dapat menyusup ke kapal lawan dan menyulut api dari dalam

    Fuma Kotaro kemudian menghilang dalam kabut sejarah tanpa ada penulisan sejarah mengenai keberadaan dan kematiannya.


-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117

Larc: thread ninjany keren





Reply With Quote     #38   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

  • Hattori Hanzō

    Hattori Hanzō (1542 – 23 Desember 1596), juga dikenal sebagai Hattori Masanari, adalah putra dari Hattori Yasunaga, samurai dan terkadang dimasukkan dalam golongan Ninja yang terkenal.

    Hanzō bekerja sebagai pengawal Tokugawa Ieyasu, kesetiaannya dan keahliannya tidak diragukan lagi, bahkan dia mengaku bahwa hidup dan matinya ada di tangan tuannya. Hanzō lahir sebagai pengikut klan Matsudaira (lalu menjadi Tokugawa); dia mendapat gelar Oni-Hanzō (Iblis Hanzō) karena taktiknya yg tak mempunyai rasa takut di medan perang. Gelarnya membedakan dia dari pengawal Tokugawa lain bernama Watanabe Hanzō, yang dipanggil Yari-Hanzō (Tombak Hanzō).

    Walau lahir di Mikawa, Hanzō sering pulang ke Iga, tempat tinggal keluarga Hattori. Dia adalah samurai yang ahli dengan segala macam senjata dan penyusun taktik yang hebat. Hanzō melakukan pertempuran pertamanya di Anegawa dan Mikatagahara pada umur 16, tapi dia baru mulai dikenal sejak Nobunaga Oda tewas pada tahun 1582.

    Hattori Hanzō wafat pada tanggal 1596 di umur 55 tahun karena gejala alami. Tetapi, ada cerita yg mengatakan bahwa ninja saingannya, Kotarō Fūma, membunuhnya dalam sebuah pertempuran.

    Sampai hari ini, peninggalan Hanzō yang masih ada adalah Gerbang Hanzō, yang terdapat di Istana Kōkyo dan jalan Hanzo-mon. Makam Hanzō terdapat di kuil pemakaman Sainen-ji di Shinjuku, Tokyo. Di kuil itu juga terdapat tombak kesukaan Hanzō dan helm seremoninya.


-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117

mojave:





Reply With Quote     #39   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

  • Cho Gyokko (885–945)

    Nama lainnya adalah Yo Gyokko, Yao Yu Hu dan Koto Oh. Hidup Cho Gyokko hampir hilang dari sejarah, dia merupakan kunoichi pertama dan juga seorang putri dari china. Yao Yu Hu adalah seorang yang berhubungan langsung dengan kekaisaran China masa dinasti Tang. Dia sangat mahir menari dan melakukan seni beladiri. Menurut legenda kemampuan seni beladirinya memang hebat dan pernah ada cerita bahwa dia bisa membunuh macan dengan sekali pukul, dan ini yg menyebabkan dia menerima gelar Koto Oh. Ketika dinasti Tang hancur pada tahun 907 dia melarikan diri ke jepang bersama keluarga kerajaan lainnya.

    Di jepang, Cho menemukan ciri beladiri dan mengembangkan gaya dan kemampuan nya. Dia juga menemukan inti atau awal dari ilmu Ninjutsu aliran Gyokku-ryu. Dia tidak mendapatkan kehormatan karena telah mengembangkan aliran Ninjutsu ini, tetapi dia dianggap sebagai pemrakarsa awal digunakannya Kenpo china dan memodifikasinya untuk digunakan dalam Ilmu Ninjutsu tersebut. Inti dari aliran ini adalah menyerang titik vital dari lawan agar lawan dengan mudah dilumpuhkan hal ini karena ukuran tubuh Gyokku sendiri yang relatif kecil. Cho Gyokko mengajarkan ilmu ini kepada Cho Buren, yang juga mengajarkan ilmu ini kepada Jendral Ikai (dipanggil juga sebagai Ibou atau Chan Busho). Jendral Ikai adalah jendral china yang sangat jenius dalam strategi perang maupun kemampuan untuk mengobservasi keadaan perang. Pada tahun 986 dia dipermalukan karena kalah dalam perang dan memilih untuk mengasingkan diri ke jepang dan menetap di provinsi Iga dan belajar Ilmu Ninjutsu. Jenderal Ikai dilatih oleh Gamon Doshi, yang juga melatih Garyu Doshi. Garyu Doshi nantinya juga melatih Hachiryu Nyudo yang kemudian melatih Hakuunsai yang menciptakan Dojo Soke pada tahun 1156.


-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117






Reply With Quote     #40   Report Post     Original Poster (OP)

re: Sejarah Samurai & Ninja

  • Ishikawa Goemon (1558-23 Agustus 1594)

    Seorang Ninja yang menggunakan kemampuan ninjanya untuk melakukan pencurian. Walaupun dia mengaku bila hasil jarahannya sebagian dibagikan kepada yang miskin, tetapi banyak keluarga ninja yg tidak mengakui pernah melatih Ichikawa Goemon. Dia diketahui berasal dari daerah Iga karena sebelumnya dia merupakan seorang Genin dalam aliran ninja Iga-ryu, tetapi nama Ishikawa Goemin tidak tercatat dalam catatan sejarah Ninja Iga.

    Dalam berbagai cerita, Goemon dilahirkan dengan nama Sanada Kuranoshin. Di saat muda dan pada waktu melakukan pencurian untuk pertama kali dia membunuh seseorang, hal ini meyebabkan dia menjadi buronan. Untuk menghilangkan jejak dia mengganti namanya menjadi Ishikawa Goemon. Ada sebuah cerita ttg Goemon, awalnya dia berlatih sebagai seorang ninja. Setelah berlatih beberapa lama di menemukan buku ttg seni ninjutsu, karena tidak bisa menahan nafsu dan keinginan pribadinya. Dia mencuri buku tersebut dan kabur dari desa ninja tersebut dan menjadi pencuri.

    Salah satu cerita legendaris adalah saat Ishikawa Goemon berniat membunuh Toyotomi Hideyoshi, ceritanya setelah dia bersembunyi selama satu jam di gerbang utama kuil Nanzen-ji di Kyoto. Goemon berhasil menyerang masuk dengan sembunyi-sembunyi dan sampai ke kamar tidur raja. Sayangnya sebelum sempat membunuh Toyotomi dia ketahuan karena tidak sengaja menyentuh bel di meja. Ketika dia tertangkap Goemon sempat mengatakan “Kamu (Toyotomi) yang telah mencuri seluruh isi negara ini, kamu yang melakukannya!”. Dia dieksekusi dengan cara dimasak dalam minyak yang panas di sungai kering bernama Sanjogawara. Sebelum dieksekusi Goemon sempat membuat puisi yang berisi “Ishikawa akan hilang bersamaan dengan pasir dalam aliran sungai ini, tetapi benih-benih pencurian di dunia ini tidak bakal hilang sampai akhirnya!”. Salah satu cerita mengatakan ketika Goemon dilemparkan bersama dengan anaknya, dia memegang anaknya dengan kedua tangannya sedangkan badan dan kakinya telah masuk ke dalam minyak panas, sampai pada akhirnya Goemon meninggal dan dia berhasil menyelamatkan anaknya karena masih dipegang dengan kedua tangannya.


-dipi-
Dipi76
Continent Level

Post: 9.576
 
Reputasi: 1117

mojave:
Reply
 


Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search




Similar Threads
Thread Original Poster Forum Replies
Jual Samurai Rakhmat Alat Sports 1
Koga Ninja Samurai Ninja detecthief Anime, Manga & Komik 1
cari SAMURAI kolektor666 Alat Sports 4


Pengumuman Penting

Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.