Vonis Mati Dokter

Vonis Mati Dokter Terhadap Epy Kusnandar

  • Percaya

    Votes: 4 28.6%
  • Tidak Percaya

    Votes: 10 71.4%

  • Total voters
    14
  • Poll closed .
Status
Not open for further replies.

spirit

Mod
epyb.jpg

Epy Kusnandar adalah salahsatu pendukung sinetron Suami-suami Takut Istri dgn nama Dadang [sebagai Satpam]

Kini hidupnya tinggal menghitung hari. Dokter telah menvonisnya mati setelah d ketahui jika dia mengidap kanker otak kecil. Tepatnya usia Epy Kusnandar berakhir tgl 1 Mei 2011

Silahkan berkomentar
 
atas dasar apa seorang dokter memvonis mati seseorang? jadi penasaran bagaimana sama cara kerja para dokter kok bisa sih menentukan umur orang?
gak percaya ah :D

buat kang Epy, sabar aja ya kang banyakin ibadah aja, semoga meleset tuh analisanya
 
atas dasar apa seorang dokter memvonis mati seseorang? jadi penasaran bagaimana sama cara kerja para dokter kok bisa sih menentukan umur orang?
gak percaya ah :D

buat kang Epy, sabar aja ya kang banyakin ibadah aja, semoga meleset tuh analisanya

sesuai pengalaman dokter jika penyakit tumor yang mendera kang Epy selalu membunuh pasien yg terkena penyakit tsb tak pernah lebih dari 4 bulan. Sehingga dokter menvonis jika kan Epy hanya dapat bertahan hidup hungga 1 mei 2011
 
Kebetulan gw dokter atau setidaknya gw lulusan dari sekolah kedokteran.

Tidak akan pernah ada ceritanya seorang dokter berkata kepada pasiennya "Saya menvonis umur anda tinggal X bulan lagi" atau "I sentence you that you'll live 4 months longer". Kata vonis dan sentence itu hanya dipersepsikan oleh orang luar dunia kedokteran. Yang ada hanyalah pengambilan kesimpulan berdasarkan analisa medis yang dilakukan untuk sebuah penyakit tertentu. Bicara soal kematian, di dunia kedokteran itu ada yang namanya vital signs, seperti denyut jantung, respiratory rate (apa nih bahasa indonya? laju pernapasan kali ya), temperatur tubuh dan tekanan darah. Dari keempatnya itu punya measure sendiri2 pada ukuran atau tingkatan tertentu sehingga seseorang bisa dikatakan tidak punya lagi vital signs alias mati.

Lalu darimana seorang dokter bisa menentukan masa "hidup" seseorang? Jelas bukan melalui analisa yang asal cuap, tapi melalui tahapan2 pemeriksaan medis. Secara gampangnya begini, jika misalnya seseorang terkena kanker, hal itu bisa dianalisa laju perkembangan sel kankernya, sehingga bisa dikira2 kapan laju tersebut bisa "mematikan" vital signs seseorang.

Umur manusia memang di tangan Tuhan, tapi vital signs manusia itu bisa dianalisa secara medis.

Analoginya begini, ada mobil melaju dengan kecepatan rata2 100 km/jam, melakukan perjalanan dari jakarta bandung, dengan mengetahui berapa jarak tempuh antara jakarta bandung, kita bisa menentukan waktu yang akan dicapai oleh mobil tadi untuk sampai pada tujuan. Itu yang di analisa oleh dunia medis. Lain urusannya jika mobil itu tadi pecah ban ditengah jalan, atau si sopir berhenti dulu di warung remang-remang untuk "ihik ihik" dengan PSK, tapi yang pasti secara ilmu pengetahuan bisa ditentukan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Jadi dokter itu nggak menentukan umur orang, tapi menganalisa hidup matinya berdasarkan perkiraan dan analisa kapan vital signs seseorang itu akan "mati".
 
Kebetulan gw dokter atau setidaknya gw lulusan dari sekolah kedokteran.

Tidak akan pernah ada ceritanya seorang dokter berkata kepada pasiennya "Saya menvonis umur anda tinggal X bulan lagi" atau "I sentence you that you'll live 4 months longer". Kata vonis dan sentence itu hanya dipersepsikan oleh orang luar dunia kedokteran. Yang ada hanyalah pengambilan kesimpulan berdasarkan analisa medis yang dilakukan untuk sebuah penyakit tertentu. Bicara soal kematian, di dunia kedokteran itu ada yang namanya vital signs, seperti denyut jantung, respiratory rate (apa nih bahasa indonya? laju pernapasan kali ya), temperatur tubuh dan tekanan darah. Dari keempatnya itu punya measure sendiri2 pada ukuran atau tingkatan tertentu sehingga seseorang bisa dikatakan tidak punya lagi vital signs alias mati.

Lalu darimana seorang dokter bisa menentukan masa "hidup" seseorang? Jelas bukan melalui analisa yang asal cuap, tapi melalui tahapan2 pemeriksaan medis. Secara gampangnya begini, jika misalnya seseorang terkena kanker, hal itu bisa dianalisa laju perkembangan sel kankernya, sehingga bisa dikira2 kapan laju tersebut bisa "mematikan" vital signs seseorang.

Umur manusia memang di tangan Tuhan, tapi vital signs manusia itu bisa dianalisa secara medis.

Analoginya begini, ada mobil melaju dengan kecepatan rata2 100 km/jam, melakukan perjalanan dari jakarta bandung, dengan mengetahui berapa jarak tempuh antara jakarta bandung, kita bisa menentukan waktu yang akan dicapai oleh mobil tadi untuk sampai pada tujuan. Itu yang di analisa oleh dunia medis. Lain urusannya jika mobil itu tadi pecah ban ditengah jalan, atau si sopir berhenti dulu di warung remang-remang untuk "ihik ihik" dengan PSK, tapi yang pasti secara ilmu pengetahuan bisa ditentukan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Jadi dokter itu nggak menentukan umur orang, tapi menganalisa hidup matinya berdasarkan perkiraan dan analisa kapan vital signs seseorang itu akan "mati".

wah,, salut deh buat ka depe
1_2good.gif


Jadi nambah pengetahuan nih :D

makasih ya ka depe, aku jadi tau deh.. hehe :D
 
Kebetulan gw dokter atau setidaknya gw lulusan dari sekolah kedokteran.

Tidak akan pernah ada ceritanya seorang dokter berkata kepada pasiennya "Saya menvonis umur anda tinggal X bulan lagi" atau "I sentence you that you'll live 4 months longer". Kata vonis dan sentence itu hanya dipersepsikan oleh orang luar dunia kedokteran. Yang ada hanyalah pengambilan kesimpulan berdasarkan analisa medis yang dilakukan untuk sebuah penyakit tertentu. Bicara soal kematian, di dunia kedokteran itu ada yang namanya vital signs, seperti denyut jantung, respiratory rate (apa nih bahasa indonya? laju pernapasan kali ya), temperatur tubuh dan tekanan darah. Dari keempatnya itu punya measure sendiri2 pada ukuran atau tingkatan tertentu sehingga seseorang bisa dikatakan tidak punya lagi vital signs alias mati.

Lalu darimana seorang dokter bisa menentukan masa "hidup" seseorang? Jelas bukan melalui analisa yang asal cuap, tapi melalui tahapan2 pemeriksaan medis. Secara gampangnya begini, jika misalnya seseorang terkena kanker, hal itu bisa dianalisa laju perkembangan sel kankernya, sehingga bisa dikira2 kapan laju tersebut bisa "mematikan" vital signs seseorang.

Umur manusia memang di tangan Tuhan, tapi vital signs manusia itu bisa dianalisa secara medis.

Analoginya begini, ada mobil melaju dengan kecepatan rata2 100 km/jam, melakukan perjalanan dari jakarta bandung, dengan mengetahui berapa jarak tempuh antara jakarta bandung, kita bisa menentukan waktu yang akan dicapai oleh mobil tadi untuk sampai pada tujuan. Itu yang di analisa oleh dunia medis. Lain urusannya jika mobil itu tadi pecah ban ditengah jalan, atau si sopir berhenti dulu di warung remang-remang untuk "ihik ihik" dengan PSK, tapi yang pasti secara ilmu pengetahuan bisa ditentukan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Jadi dokter itu nggak menentukan umur orang, tapi menganalisa hidup matinya berdasarkan perkiraan dan analisa kapan vital signs seseorang itu akan "mati".

setuju.
dan setahu saya ada kode etik dokter pasal 7 : Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya.

dan maaf ya, terkadang kita harus cari second opinion dari dokter lain. krn menurut pengalaman saya dan beberapa teman, terkadang analisa dokter tidak sepenuhnya benar, atau yah bisa di bilang dokter juga manusia, juga punya kesalahan dalam menganalisa penyakit.
 
saya ga percaya,,,

Tapi bener juga penjelasan kak depe...



Tetapi,, ajal itu hanya rahasia alloh swt.

Mudah2 an ada mukjizat,,, amin.
 
setuju.
dan setahu saya ada kode etik dokter pasal 7 : Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya.

dan maaf ya, terkadang kita harus cari second opinion dari dokter lain. krn menurut pengalaman saya dan beberapa teman, terkadang analisa dokter tidak sepenuhnya benar, atau yah bisa di bilang dokter juga manusia, juga punya kesalahan dalam menganalisa penyakit.

Bener non sebaiknya ada referensi juga dari dokter lain sebagai pembanding. Yg terpenting adalah menghindari perdukunan atau hal2 klenik yg justru malah menggiring keadaan tambah buruk
 
setuju.
dan setahu saya ada kode etik dokter pasal 7 : Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya.
Agree.
Itu mungkin untuk kode etik di sini kali ya. Karena kebetulan gw nggak atau belum mendapatkan ijin praktek di sini gara2 background pendidikan gw yang bukan berasal dari fakultas kedokteran lokal (Indonesia), jadi gw belum seberapa paham soal kode etik untuk kedokteran di Indonesia (duh jadi curhat niii :D). Tapi di dunia medis ada juga kode etik internasionalnya, yang biasa disebut "THE INTERNATIONAL CODE OF MEDICAL ETHICS", dan dalam kasus ini bisa dipakai pada hal yang menyatakan: a doctor shall, in all types of medical practice, be dedicated to providing competent medical service in full technical and moral independence, with compassion and respect for human dignity.
dan maaf ya, terkadang kita harus cari second opinion dari dokter lain. krn menurut pengalaman saya dan beberapa teman, terkadang analisa dokter tidak sepenuhnya benar, atau yah bisa di bilang dokter juga manusia, juga punya kesalahan dalam menganalisa penyakit.
Dari sisi seorang dokter, second opinion itu nggak wajib, tapi sangat-sangat dianjurkan. Dokter dalam menganalisa sebuah penyakit dari seorang pasien itu terikat kode etik internasional dalam hal: Doctor shall owe his patients complete loyalty and all the resources of his science. Whenever an examination or treatment is beyond the doctor's capacity he should summon another doctor who has the necessary ability.

Jadi tanpa diketahui oleh sang pasienpun, seorang dokter biasanya sudah meminta hasil analisa dokter lainnya yang dirasakan cukup kompeten. Itu yang seharusnya dilakukan oleh seorang dokter, tapi nggak tau bagaimana hal ini dipraktekkan atau enggak.
Mina said:
Tetapi,, ajal itu hanya rahasia alloh swt.
Betul banget Non.
Dan seorang dokter itu nggak pernah memvonis hidup matinya seseorang, dalam arti mati yang punya definisi tercabutnya nyawa dari seseorang. Tapi dokter atau dunia medis bisa memperkirakan kapan vital signs seorang pasien bisa "meredup" berdasarkan analisa tertentu. Dan yang perlu diingat, selain pemeriksaan fisik, ada juga pengambilan kesimpulan berdasarkan gejala. Karena pada umumnya dokter menganalisa itu berdasarkan gejala-gejala tertentu. :)
 
Betul banget Non.
Dan seorang dokter itu nggak pernah memvonis hidup matinya seseorang, dalam arti mati yang punya definisi tercabutnya nyawa dari seseorang. Tapi dokter atau dunia medis bisa memperkirakan kapan vital signs seorang pasien bisa "meredup" berdasarkan analisa tertentu. Dan yang perlu diingat, selain pemeriksaan fisik, ada juga pengambilan kesimpulan berdasarkan gejala. Karena pada umumnya dokter menganalisa itu berdasarkan gejala-gejala tertentu. :)

tapi memberikan tanggal kapan meninggalnya seorang pasien itu dirasa sangat keterlaluan dan berlebihan,right?

mereka mungkin memiliki pengetahuan yg memadai masalah seperti yg anda sebutkan, tapi disini yg jadi masalah kehebatan apa yg membuat mereka bisa membulatkan tanggal bulan dan tahun sedemikian pastinya seperti itu?>%|
 
tapi memberikan tanggal kapan meninggalnya seorang pasien itu dirasa sangat keterlaluan dan berlebihan,right?

mereka mungkin memiliki pengetahuan yg memadai masalah seperti yg anda sebutkan, tapi disini yg jadi masalah kehebatan apa yg membuat mereka bisa membulatkan tanggal bulan dan tahun sedemikian pastinya seperti itu?>%|
Sangat berlebihan, dan gw pikir nggak akan ada dokter yang berani menentukan tanggal kematian untuk seorang pasien. Atau ada yang pernah tahu atau melihat dokter yang melakukan hal macam ini??

Dokter gila itu namanya
 
Sangat berlebihan, dan gw pikir nggak akan ada dokter yang berani menentukan tanggal kematian untuk seorang pasien. Atau ada yang pernah tahu atau melihat dokter yang melakukan hal macam ini??

Dokter gila itu namanya

Sesuai pengakuan kang Epy sendiri d Trans TV jika dokter yg menanganinya memberi tahu jika dia paling lama bertahan hidup hingga Mei 2011
Dan dokter menganjurkan sama kang Epy agar nego dengan Tuhannya soal usianya itu. Dokter mengacu pd kasus Gugun Gondrong yg mengidap penyakit yg sama dgn kang Epy
 
Kalau penetapan bulan masih bisa dimaklumi, mengingat satu bulan punya rentang waktu yang panjang, tapi kalau sudah ditetapkan hari dan tanggalnya, dokter itu bisa-bisa dituntut. Dan gw yakin nggak bakalan ada dokter yang melakukan tindakan demikian.

terkadang juga, sang pasien sendirilah yang mengambil kesimpulan, misalnya pada hari ini sang dokter bilang bahwa penyakitnya akan berada pada tahap yang paling buruk kira-kira selama 6 bulan, lalu sang pasien mengambil kesimpulan sendiri bahwa 6 bulan dihitung per tanggal si dokter memberikan hasil analisanya.
 
Kalau penetapan bulan masih bisa dimaklumi, mengingat satu bulan punya rentang waktu yang panjang, tapi kalau sudah ditetapkan hari dan tanggalnya, dokter itu bisa-bisa dituntut. Dan gw yakin nggak bakalan ada dokter yang melakukan tindakan demikian.

terkadang juga, sang pasien sendirilah yang mengambil kesimpulan, misalnya pada hari ini sang dokter bilang bahwa penyakitnya akan berada pada tahap yang paling buruk kira-kira selama 6 bulan, lalu sang pasien mengambil kesimpulan sendiri bahwa 6 bulan dihitung per tanggal si dokter memberikan hasil analisanya.

Pemberitaan Trans Tv memang d sebutkan tanggalnya kok yaitu tgl 1 mei 2011, kebetulan jg ak nonton. Saat itu pembawa acaranya Lenna Tan
 
jangan percaya kpd dokter.. musyrik
kadang kita butuh analisa dokter utk suatu penyakit, tapi tidak harus percaya apa keputusan dokter. Maaf yah yg berprofesi dokter, kebanyakan dokter cuma cari untung doang.. ga peduli pasiennya kalangan orang miskin atau kaya tetep harus keluarin biaya yg muahaaaaal bgt. Udah banyak kasus tuh.. bahkan Pasien mati pun dokter ga mau dituntut. Jarang banget dokter yg miskin.. kaya semuanya.

Nah buat kasus epy.. coba dibuat perjanjian atara pasien dgn dokter, kalo 1 mei pasien msh hidup.. dokter masuk penjara.. berani gak tuh dokter? :))
 
jangan percaya kpd dokter.. musyrik
kadang kita butuh analisa dokter utk suatu penyakit, tapi tidak harus percaya apa keputusan dokter. Maaf yah yg berprofesi dokter, kebanyakan dokter cuma cari untung doang.. ga peduli pasiennya kalangan orang miskin atau kaya tetep harus keluarin biaya yg muahaaaaal bgt. Udah banyak kasus tuh.. bahkan Pasien mati pun dokter ga mau dituntut. Jarang banget dokter yg miskin.. kaya semuanya.

Nah buat kasus epy.. coba dibuat perjanjian atara pasien dgn dokter, kalo 1 mei pasien msh hidup.. dokter masuk penjara.. berani gak tuh dokter? :))

nggak semuanya kaya loh. :D
gw dokter tapi gw miskin >:'(
 
jangan percaya kpd dokter.. musyrik
kadang kita butuh analisa dokter utk suatu penyakit, tapi tidak harus percaya apa keputusan dokter. Maaf yah yg berprofesi dokter, kebanyakan dokter cuma cari untung doang.. ga peduli pasiennya kalangan orang miskin atau kaya tetep harus keluarin biaya yg muahaaaaal bgt. Udah banyak kasus tuh.. bahkan Pasien mati pun dokter ga mau dituntut. Jarang banget dokter yg miskin.. kaya semuanya.

Nah buat kasus epy.. coba dibuat perjanjian atara pasien dgn dokter, kalo 1 mei pasien msh hidup.. dokter masuk penjara.. berani gak tuh dokter? :))

Itu tak dapat d pungkiri. Dan terjadi d indonesia tp kl d negara maju malah membantu pasien miskin secara gratis. Contohnya non depe tuh yg sering k africa membantu pengobatan anak2 miskin tp tentu bukan atas biaya pemerintah kita loh
 
Status
Not open for further replies.
Back
Top