Cerita Pendek: Jadwal Akhir

spirit

Mod
w1200

Nyatanya, jadwal yang kubuat berhasil hingga akhir

Milli berulang kali berusaha mengalihkan pandangannya, tetapi selalu gagal dalam sedetik usai ia mencoba. Nyatanya, perlakuan kasar ayahnya, Yan, kepada adiknya tak bisa membuatnya berpaling. Perasaannya hancur, ketika Yan tak berhenti memukuli adiknya. Milli menggigit bibir bawahnya, sama sekali tak paham alasan mengapa ia berada di keluarga yang seperti ini.

"Kau melakukan terlalu banyak kekacauan. Gak sadar kau?!" bentak Yan, usai puas melancarkan aksi kejamnya. Lelaki itu mendengus, perhatiannya beralih pada Milli yang langsung memperlihatkan raut wajah datar. "Lalu, kau! Gak ada yang bisa kau lakukan selain memainkan ponsel sialanmu itu?! Kau sama gak bergunanya dengan adikmu. Mati sajalah kau."

Milli tak berkutik, memutuskan bungkam walau ingin mengumpat sebanyak yang ia bisa. Keributan ini terjadi hanya karena ia dan adiknya tak sengaja menjatuhkan ponsel sang ayah yang pemarah.

Milli tahu ia salah, dari segi manapun, ia tak membenarkan perlakuannya. Hanya saja, tindakan Yan terlampau keterlaluan walaupun telah biasa juga. Rumah rasanya bak neraka.

Semua berakhir usai perginya Yan. Keluar entah ke mana, Milli sama sekali tidak peduli. Sang adik di hadapannya sudah menangis, lantas terburu-buru memasuki kamarnya. Milli tak mencegat, ia pun menerima cukup banyak pukulan sebelum adiknya.

Tak sampai pada pukulan fisik, sang ibu juga terus saja mengumpat akan keributan yang terjadi dari dapur. Milli yang berada di ruang tamu berusaha menahan diri, pasrah menerima semua ungkapan kebencian itu. Pun, masa lalu yang diungkit sang ibu, seolah ia memang pelaku utama dari semua kekacauan yang terjadi selama ini.

Hari itu berakhir dengan bungkamnya Milli, memendam rasa sakit sendirian. Beban yang ditanggungnya dari sekolah pun bukan main menyiksa, tetapi tak ada cara lain selain menghadapinya.

Alih-alih terpuruk, Milli memutuskan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengikuti lomba. Ia menyalurkan semua idenya dalam bentuk tulisan begitu pulang sekolah.

"Ah, ini sulit," kata Milli seraya memerhatikan kertas kosong di mejanya. Sungguh, kertas itu masih benar-benar kosong. Ide Milli tak berjalan lancar seperti kemarin, membuat gadis itu terus mengernyit dan merasa gundah. Milli lebih banyak mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja ketimbang menggoreskannya pada kertas putih yang selalu disediakannya. "Harus bagaimana, ya?"

Jengah menunggu ide, Milli memilih melihat-lihat serangkaian jadwal yang telah disusunnya untuk setahun penuh. Milli memandanginya lama sekali, hingga akhirnya sebuah ide tak biasa terlintas di benaknya.

"Milli, sini bantu Ibu!" teriak sang Ibu dari luar kamar. "Banyak ayam yang perlu diurus, lho, ini! Bantuin, cepat!"

"Nggak bisa, Bu! Itu, kan, tugasnya Reza," kata Milli, berusaha tetap fokus merangkai kalimat di kertas. "Mending, Ibu suruh Reza tuh. Dia, toh, nggak kerja. Nganggur doang di sini."

Sang Ibu keras kepala, ia memaksakan kehendaknya sehingga Milli harus membantunya walaupun itu merupakan tugas Reza. Milli tertekan akan segalanya, namun menahan segala rasa menyesakkan yang kerap hadir menyiksanya.

Untung saja, jadwal Milli selama setahun penuh benar-benar rampung karena kerja keras si gadis cantik tersebut. Milli berhasil meraih jutaan uang dari memenangkan lomba. Namun, Milli menyadari sesuatu ketika memandangi rekeningnya dengan senyuman. Benar, masih ada satu jadwal yang perlu dilakukannya.

***

Yan mengetuk kamar Milli berulang kali, mengingatkan gadis itu untuk segera keluar dari kamarnya agar secepatnya bersiap-siap berangkat sekolah. Akan tetapi, tak ada sahutan. Tak seperti biasanya, di mana Milli akan selalu bangun paling awal.

"Milli! Dengar, gak?! Keluarlah kau," kata Yan, kali ini dengan suara yang lebih keras. Hasilnya tetap sama, Milli tak menyahut. "Tinggal tiga puluh menit, Milli!"

Merasa lelah terus menggedor pintu, Yan memutuskan membukanya. Kebetulan, pintunya tak dikunci sehingga mudah saja bagi Yan untuk masuk.

Tetapi, bukannya mendapati Milli tertidur nyenyak seperti yang terbayang di benaknya, Yan justru melotot melihat Milli berlumuran darah di lantai. Bau anyir mengganggu penciuman, membuat Yan tak bergerak menyaksikan pemandangan tak menyenangkan itu.

"Milli…." Yan menarik napas. Dadanya berdebar jauh lebih cepat dari biasanya. Tubuh Milli berlumuran darah, sedangkan di tangannya ada sebuah pisau yang masih digenggamnya erat. "Kau…."

Yan mengalihkan pandangannya ke berbagai sudut ruangan, tak sanggup menyaksikan anak gadisnya itu meninggal mengenaskan. Karena bunuh diri pula. Dalam sesaat, Yan berharap semuanya hanyalah mimpi.

Rasa sesal menguasai perasaannya, menimbulkan rasa sesak tak karuan memandangi Milli yang dipenuhi darah. Hingga, sebuah surat di meja belajar Milli menarik perhatiannya.

Yan mendekat, mengambil surat itu lantas membacanya. Dadanya sesak saat menemui kalimat demi kalimat menyakitkan tertera pada surat itu.

'Halo, Bapak. Saya tidak tahu apa Bapak akan sedih atau mengumpat karena saya mati begini, pasti akan merepotkan dan membuat tetangga bergosip. Saya tidak tahan lagi. Ini pilihan terbaik. Oh, ya, saya mengumpulkan banyak uang yang sekiranya bisa mengganti ponsel Bapak serta mengurus kematian saya ini. Informasi mengenai rekening ada di buku harianku, Pak. Ambil uangnya, ya. Oh, satu lagi. Mohon jangan perlakukan Ran dengan kasar, Pak. Dia itu perempuan. Bagaimana bisa Bapak bersikap begitu sedang pada Reza, Bapak bersikap baik? Hehe. Semoga Bapak sadar. Terima kasih atas semuanya, terlepas dari apapun. Selamat tinggal. --Millions, yang tak pernah mendapatkan sejuta kasih'

***



 
Back
Top