David Thomson Pewaris Kakek Thomson

aiku

New member
david-thomson.jpg


PADA awal bulan ini majalah Forbes kembali membeberkan daftar baru orang terkaya sejagat. Ada 946 orang menurut majalah ini yang patut digolongkan sebagai miliarder.

Di urutan pertama masih diduduki oleh si raja Microsoft, Bill Gates. Total kekayaan pria yang kini berumur 51 tahun itu mencapai 56 US$ miliar. Selama 13 tahun berturut-turut, menurut versi Forbes, Bill Gates pantas dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia.

Dan dari sekian banyak nama-nama orang terkaya lainnya, 178 di antaranya tergolong wajah-wajah baru. Kebanyakan dari mereka, yakni 19 orang berasal dari Rusia. Kemudian disusul India (14 orang), Cina (13 orang), dan Spanyol (10 orang). Selebihnya, berasal dari Cyprus, Oman, Romania, dan Serbia.

Nah, salah seorang yang ada dalam barisan newcomer itu adalah David Kenneth Roy Thomson, pemilik kelompok usaha Thomson Corporation. Dan, ya itu tadi, meski namanya baru muncul, hebatnya ia langsung menyodok di urutan ke-10 dalam daftar orang terkaya di dunia, dengan jumlah kekayaan pribadi yang dimilikinya mencapai US$ 22 miliar.

Jika mengenalnya lebih dekat, sebenarnya sosok pengusaha yang saat ini berusia 50 tahun itu tak terlalu mengejutkan. David adalah putra dari Kenneth Thomson, yakni konglomerat asal Kanada yang berhasil mengumpulkan kekayaan dari berbagai sektor bisnis yang dikelolanya.

Mulai dari kantor konsultan, bisnis informasi (termasuk di dalamnya media massa seperti koran, jaringan televisi, dan penerbitan buku), industri peranti lunak, hingga peralatan elektronik. Malah, dua tahun lalu, Kenneth Thomson pun sempat masuk ke dalam daftar orang terkaya di dunia (urutan ke-15) versi majalah Forbes, dengan total kekayaan pribadi yang dimilikinya sebesar US$ 17,9 miliar.

Pada Juni tahun lalu Kenneth meninggal dunia, sehingga otomatis tongkat kepemimpinan kerajaan bisnisnya jatuh ke tangan David. Tapi, jauh sebelum menerima tampuk pimpinan itu, sebenarnya pula kiprah David di kelompok usaha ini sudah tergolong penting. Maklum saja, sejak lima tahun lalu ia sudah dipercaya duduk sebagai Chairman Thomson Corporation.


Sejatinya, kerajaan bisnis itu didirikan pada 1931 oleh mendiang Roy Thomson, tak lain kakek David. Pada awalnya, usaha itu hanya sebuah stasiun radio di North Bay Ontario, Kanada. Untuk menjalankan bisnisnya itu, Roy hanya mengeluarkan modal tak lebih dari US$ 200. Tiga tahun setelah itu, kemudian Roy merintis bisnis koran. Langkah pertamanya adalah membeli penerbitan yang hampir bangkrut, yakni Timmins Press. Karena itu, modalnya pun terbilang murah, hanya US$ 200. Tapi, di tangan Roy bisa jadi lain. Seluruh usahanya itu terus berkembang hingga akhirnya menjelma menjadi kerajaan bisnis yang menggurita ke mana-mana, dan kemudian diwariskan kepada anak-cucunya.


Akan halnya David, memang sejak usia belia sudah dipersiapkan menjadi calon pewaris yang akan mengendalikan bisnis keluarga Thomson. Pada 1975, setahun sebelum Roy meninggal dunia, sang kakek pernah berujar bahwa suatu hari kelak David akan meneruskan bisnis yang telah dirintisnya. Pada saat itu, usia David baru menginjak 23 tahun. Dan hal itu, kini telah menjadi kenyataan.

Kalau saja selama ini nama David tidak mencuat ke permukaan, bisa dibilang, pengusaha yang satu ini tergolong alergi terhadap publikasi. Maklum saja, kendati tergolong sebagai pengusaha sukses, tapi tidak di sisi kehidupan pribadinya. Ia telah dua kali mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Tapi, sejak kematian ayahnya, ia terpaksa harus keluar dari persembunyian, hingga akhirnya dikenal publik.

SUKSES MENDONGKRAK ASET MENJADI US$ 29,3 MILIAR

Sebagai pewaris kerajaan bisnis keluarga, bukan berarti kedudukan yang tengah dinikmatinya sekarang ini diperoleh David dengan ongkang-ongkang kaki. Malah sebaliknya, semua itu harus ia lewati dengan perjuangan. Nyatanya, setelah lulus dari Universitas Cambridge pada 1978, ia tak langsung menjadi bos. Malah, sang ayah menyuruhnya ”magang” bekerja di sebuah instansi pemerintah di Kanada. Tujuannya, agar David bisa memperdalam masalah investasi.

Setahun setelah itu (1980), ia baru dipercaya menangani Hudson Bay Company. Kedudukannya di perusahaan ritel ini pun hanya sebagai seorang manajer. Baru setelah kemampuannya dinilai memadai, David dipromosikan menjadi Presiden Direktur Zellers, yakni mal terbesar kedua di Kanada.

Kemudian pada 1988, ia dipercaya menjadi salah seorang petinggi di Thomson Corp. Menangani bisnis media adalah debut awalnya di sana. Lalu pada 1990 ia dimutasikan ke Woodbridge Company Limited. Selepas dari sana, tepatnya sejak 2002, ia dipercaya menjadi Chairman Thomson Corp.

Melihat perjalanan karirnya yang berliku-liku seperti itu, tak salah, jika banyak kalangan menilainya sebagai seseorang yang memiliki kontribusi tak kecil dalam membesarkan kerajaan bisnis keluarga Thomson hingga seperti sekarang ini. Pada saat kakeknya meninggal, total kekayaan perusahaan baru mencapai US$ 500 juta. Kini, setelah David ikut berperan di sana, kekayaan Thomson Corporation membengkak menjadi US$ 29,3 miliar.

Terutama sejak setelah David duduk menjadi chairman, kinerja keuangan perusahaan menunjukkan tren yang terus membaik. Setahun setelah dipercaya menjabat kursi itu (2003), keuntungan bersih yang dipetik perusahaan baru mencapai US$ 846 juta. Dua tahun kemudian, keuntungannya meningkat menjadi US$ 943 juta. Tahun lalu, keuntungan ini diperkirakan tumbuh minimal sebesar 17%.

Banyak hal yang telah dilakukan David untuk itu. Bahkan, bisa dibilang, ia tergolong pemimpin yang berhasil menanamkan semangat revolusioner di Thomson Corporation. Yang tadinya berorientasi pada bisnis media cetak, belakangan berubah haluan ke bisnis konsultan. Pertimbangannya cukup sederhana, karena iklim kompetisi di media massa sudah semakin tajam. Kendati begitu, bukan berarti ia melepas secara total bisnis medianya, melainkan hanya mengurangi kepemilikan sahamnya di sana.

Gebrakan ke arah sana dimulainya ketika ia menjual sekitar 20% saham Thomson Corp. di Bell Globemedia (senilai US$ 279 miliar). Bell Globemedia adalah perusahaan yang mengelola koran The Globe and Mail di Toronto, Kanada. Perusahaan ini juga tercatat sebagai pemilik CTV (Canadian TV), yakni jaringan TV kabel terbesar di negeri itu.

Buntut dari langkah bisnis tersebut menyisakan saham Thomson Corp. di Bell Globemedia tinggal 40%. Strategi yang hampir serupa juga dilakukan David di aset-aset usaha lainnya, terutama yang berkaitan dengan bisnis media massa. Kini David mengandalkan bidang jasa konsultasi sebagai pilar utama bisnisnya. Mulai dari konsultasi di bidang keuangan, perpajakan, akunting, dan hukum. Selain itu, David juga mengarahkan Thomson Corporation agar lebih fokus menangani bisnis kesehatan dan jasa riset teknologi.

Ada yang menilai, dampak dari perubahan yang tengah terjadi di Thomson Corp. itu, ke depannya berpotensi mengurangi omzet perusahaan yang selama ini diraihnya. Pendapatan yang menipis, berarti pula nilai setoran yang dinikmati keluarga Thomson akan ikut berkurang. Benarkah akan seperti itu? Kita lihat saja nanti.


Sumber : http://www.majalahtrust.com/
 
Bls: David Thomson Pewaris Kakek Thomson

Ah soal warisan,.... kalo engga bisa mengelolanya juga percuma. Tapi salut juga buat David Thomson yang dapat mengembangkan usaha ortunya.

Jangan kayak tradisi bangsa kita ya, gara2 warisan malah saling membunuh.
 
Back
Top