Divonis Kanker, Menulislah!

Kalina

Moderator
SELAMA ini, pengidap kanker hanya melakukan psikoterapi dan mengonsumsi obat-obatan antidepresan. Sebagian lainnya bergabung dengan kelompok-kelompok untuk mengatasi ketakutan serta rasa sakit yang mereka hadapi. Namun, Susan Bauer-Wu, melakukan hal lain. Peneliti dari Harvard tersebut memberikan terapi yang disebut dengan terapi jurnal atau menulis ekspresif.

Bauer mengatakan, meluangkan waktu selama 30 menit setiap hari untuk menulis membuat pengidap kanker merasa lebih baik, baik secara fisik maupun mental. "Banyak orang terkejut hasil terapi ini," ujar Bauer, direktur the Cantor Center for Nursing and Patient Care Research di the Dana Farber Cancer Institute, Boston. "Mereka yang enggan karena merasa tidak pandai menulis mulai mencoba dan merasakan manfaatnya," tambahnya.

Pada terapi tersebut, pasien diminta mencurahkan seluruh perasaan mereka. Baik tentang ketakutan yang dihadapi, hal-hal yang mengganggu pikiran, maupun harapan. Dengan begitu, pasien terhindar dari stres berkepanjangan.

Jurnal tak harus ditulis dalam media pena dan kertas. Tetapi, dapat juga menggunakan komputer atau apa pun. Yang penting, mereka dapat menulis dengan nyaman dan bebas. "Tak perlu khawatir tentang baik buruk tulisan. Tulis saja apa yang ada dalam pikiran," lanjut Bauer.

Terapi itu cukup berhasil. Banyak pasien dapat mengungkapkan kegelisahan yang ada di dalam diri mereka. "Terapi ini bukan sekadar tentang berpikir, menulis, dan menumpahkan emosi dalam tulisan, tetapi juga perenungan," ujar Dr Robin Fivush, profesor psikologi Emory University, Atlanta. "Hal ini terungkap dengan banyaknya di antara mereka yang menggunakan kata-kata "pengolahan kognitif". Seperti, saya sadar, saya mengerti, atau sekarang saya melihat," tambahnya.

Memang, terapi tersebut tak selalu berhasil pada setiap pasien. Terutama, pada pasien anak-anak dan remaja. Menurut Fivush, hal itu disebabkan mereka belum mempunyai keterampilan kognitif dan belum dapat mencurahkan emosi dengan baik. Terapi itu lebih sering berhasil pada penyendiri atau yang hidup berdekatan dengan alam. "Mereka bukan tipikal orang yang gemar berbicara. Karena itu, mereka cenderung tidak cocok bergabung dengan kelompok-kelompok diskusi," jelasnya.

Bagi mereka, terapi menulis merupakan salah satu alternatif yang menggembirakan. Menulis memberikan mereka jalan untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran yang ada dalam otak. Mereka juga tak harus membaca kembali apa saja yang telah mereka tuliskan dalam jurnal. Sebab, yang terpenting dalam terapi tersebut adalah kegiatan menulis itu sendiri.

Kelebihan lain, terapi itu nyaris tak mengeluarkan biaya sepeser pun. Bahkan, jurnal bisa ditulis dalam buku apa pun, tak harus baru dan bagus. "Ini adalah penyembuhan yang melibatkan diri sendiri. Untuk melakukan ini, tak perlu bantuan terapis," tandas Bauer.
 
bagus banget yak tulisanmu...ku butuh keterangan lebih lanjut tentang terapi yang kamu tulis ini...terapi jurnal atau terapi menulis interaktif...
 
Back
Top