Keindahan dalam kasih

benharkirtan

New member
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat,
maka penderitaan akan mengikutinya,
bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.
Cerita terjadinya syair ini:...

2.
(2) Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,
maka kebahagiaan akan mengikutinya,
bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.
Cerita terjadinya syair ini:...

3.
(3) "Ia menghina saya,
ia memukul saya,
ia mengalahkan saya,
ia merampas milik saya."
Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu,
maka kebencian tak akan pernah berakhir.
Cerita terjadinya syair ini:...

4.
(4) "Ia menghina saya,
ia memukul saya,
ia mengalahkan saya,
ia merampas milik saya."
Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu,
maka kebencian akan berakhir.
Cerita terjadinya syair ini:...

5.
(5) Kebencian tak akan pernah berakhir,
apabila dibalas dengan kebencian.
Tetapi, kebencian akan berakhir,
Bila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah satu hukum abadi.
Cerita terjadinya syair ini:...

6.
(6) Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa,
dalam pertengkaran mereka akan binasa;
tetapi mereka,
yang dapat menyadari kebenaran ini;
akan segera mengakhiri semua pertengkaran.
Cerita terjadinya syair ini:...

7.
(7) Seseorang yang hidupnya hanya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan,
yang inderanya tidak terkendali,
yang makannya tidak mengenal batas,
malas serta tidak bersemangat,
maka Mara (Penggoda) akan menguasai dirinya.
bagaikan angin yang menumbangkan pohon yang lapuk.
Cerita terjadinya syair ini:...

8.
(8) Seseorang yang hidupnya tidak ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan,
yang inderanya terkendali,
sederhana dalam makanan,
penuh keyakinan serta bersemangat,
maka Mara (Penggoda) tidak dapat menguasai dirinya.
bagaikan angin yang tidak dapat menumbangkan gunung karang.
Cerita terjadinya syair ini:...

9.
(9) Barang siapa yang belum bebas,
dari kekotoran-kekotoran batin.
yang tidak memiliki pengendalian diri,
serta tidak mengerti kebenaran.
sesungguhnya tidak patut,
ia mengenakan jubah kuning.
Cerita terjadinya syair ini:...

10.
(10) Tetapi, ia yang telah dapat,
membuang kekotoran-kekotoran batin,
teguh dalam kesusilaan.
memiliki pengendalian diri.
serta mengerti kebenaran.
maka sesungguhnya ia patut,
mengenakan jubah kuning.
Cerita terjadinya syair ini:...

11.
(11) Mereka yang menganggap,
ketidak-benaran sebagai kebenaran.
dan kebenaran sebagai ketidak-benaran.
maka mereka yang mempunyai,
pikiran keliru seperti itu,
tak akan pernah dapat,
menyelami kebenaran.
Cerita terjadinya syair ini:...

12.
(12) Mereka yang mengetahui,
kebenaran sebagai kebenaran.
dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran,
maka mereka yang mempunyai,
pikiran benar seperti itu,
akan dapat menyelami kebenaran.
Cerita terjadinya syair ini:...

13.
(13) Bagaikan hujan,
yang dapat menembus rumah beratap tiris.
demikian pula nafsu,
akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik.
Cerita terjadinya syair ini:...

14.
(14) Bagaikan hujan,
yang tidak dapat menembus rumah beratap baik.
demikian pula nafsu,
tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik.
Cerita terjadinya syair ini:...

15.
(15) Di dunia ini ia bersedih hati.
di dunia sana ia bersedih hati.
pelaku kejahatan akan bersedih hati,
di kedua dunia itu.
ia bersedih hati dan meratap,
karena melihat perbuatannya sendiri,
yang tidak bersih.
Cerita terjadinya syair ini:...

16.
(16) Di dunia ini ia bergembira.
Di dunia sana ia bergembira.
Pelaku kebajikan,
bergembira di kedua dunia itu.
Ia bergembira dan bersuka cita karena,
melihat perbuatannya sendiri yang bersih.
Cerita terjadinya syair ini:...

17.
(17) Di dunia ini ia menderita.
Di dunia sana ia menderita.
Pelaku kejahatan menderita di kedua dunia itu.
Ia meratap ketika berpikir,
"Aku telah berbuat jahat,",
dan ia akan lebih menderita lagi,
ketika berada di alam sengsara.
Cerita terjadinya syair ini:...

18.
(18) Di dunia ini ia bahagia.
Di dunia sana ia berbahagia.
Pelaku kebajikan,
berbahagia di kedua dunia itu.
Ia akan berbahagia ketika berpikir,
"Aku telah berbuat bajik",
dan ia akan lebih berbahagia lagi,
ketika berada di alam bahagia.
Cerita terjadinya syair ini:...

19.
(19) Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci,
tetapi tidak berbuat sesuai ajaran,
maka orang lengah itu,
sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain.
Ia tak akan memperoleh,
manfaat kehidupan suci.
Cerita terjadinya syair ini:...

20.
(20) Biarpun seseorang sedikit membaca kitab suci,
tetapi berbuat sesuai dengan ajaran,
menyingkirkan nafsu indria,
kebencian dan ketidaktahuan,
memiliki pengetahuan benar,
dan batin yang bebas dari nafsu,
tidak melekat pada apapun,
baik di sini maupun di sana;
maka ia akan memperoleh,
manfaat kehidupan suci.
Cerita terjadinya syair ini:...

Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,
satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah;
sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh yang tidak mengenal Ajaran Benar.
Cerita terjadinya syair ini:...

2.
(61) Apabila dalam pengembaraan seseorang tak menemukan sahabat yang lebih baik atau sebanding dengan dirinya,
maka hendaklah ia tetap melanjutkan pengembaraannya seorang diri.
Janganlah bergaul dengan orang bodoh.
Cerita terjadinya syair ini:...

3.
(62) "Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku,"
demikianlah pikiran orang bodoh.
Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya,
bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?
Cerita terjadinya syair ini:...

4.
(63) Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya,
maka ia dapat dikatakan bijaksana;
tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana,
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.
Cerita terjadinya syair ini:...

5.
(64) Orang bodoh, walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana,
tetap tidak akan mengerti Dhamma,
bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.
Cerita terjadinya syair ini:...

6.
(65) Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana,
namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma,
bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur.
Cerita terjadinya syair ini:...

7.
(66) Orang bodoh yang dangkal pengetahuannya,
memperlakukan diri sendiri seperti musuh;
ia melakukan perbuatan jahat yang akan menghasilkan buah yang pahit.
Cerita terjadinya syair ini:...

8.
(67) Bilamana suatu perbuatan setelah selesai dilakukan membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu tidak baik.
Orang itu akan menerima akibat perbuatannya dengan ratap tangis dan wajah yang berlinang air mata.
Cerita terjadinya syair ini:...

9.
(68) Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan tidak membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu adalah baik.
Orang itu akan menerima buah perbuatannya dengan hati gembira dan puas.
Cerita terjadinya syair ini:...

10.
(69) Selama buah dari suatu perbuatan jahat belum masak,
maka orang bodoh akan menganggapnya manis seperti madu;
tetapi apabila buah perbuatan itu telah masak,
maka ia akan merasakan pahitnya penderitaan.
Cerita terjadinya syair ini:...

11.
(70) Biarpun bulan demi bulan orang bodoh memakan makanannya dengan ujung rumput kusa,
namun demikian ia tidak berharga seperenambelas bagian dari mereka yang telah mengerti Dhamma dengan baik.
Cerita terjadinya syair ini:...

12.
(71) Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan,
tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
demikianlah perbuatan jahat itu membara mengikuti orang bodoh,
seperti api yang ditutupi abu.
Cerita terjadinya syair ini:...

13.
(72) Orang bodoh mendapat pengetahuan dan kemashuran yang menuju kepada kehancuran,
Pengetahuan dan kemashurannya itu akan menghancurkan semua perbuatan baiknya,
dan akan membelah kepalanya sendiri.
Cerita terjadinya syair ini:...

14.
(73) Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin menonjol di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan ingin dihormati oleh semua keluarga.
Cerita terjadinya syair ini:...

15.
(74) "Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini hanya dilakukan olehku,
dalam semua pekerjaan besar atau kecil mereka menunjuk diriku,
"demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
dan keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.
Cerita terjadinya syair ini:...

16.
(75) Ada jalan lain menuju pada keuntungan duniawi,
dan ada jalan lain yang menuju ke Nibbana. Setelah menyadari hal ini dengan jelas,
hendaklah seseorang bhikkhu siswa Sang Buddha tidak bergembira dalam hal-hal duniawi,
tetapi mengembangkan pembebasan diri.
Cerita terjadinya syair ini:...
 
Bls: Keindahan dalam kasih

1.
(21) Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan;
kelengahan adalah jalan menuju kematian.
Orang yang waspada tidak akan mati,
Tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati.
Cerita terjadinya syair ini:...

2.
(22) Setelah mengerti hal ini dengan jelas,
orang bijaksana akan bergembira dalam kewaspadaan
dan bergembira dalam praktek para ariya.
Cerita terjadinya syair ini:...

3.
(23) Orang bijaksana yang tekun bersamadhi,
hidup bersemangat dan selalu bersungguh-sungguh,
pada akhirnya mencapai nibbana (kebebasan mutlak),

Cerita terjadinya syair ini:...

4.
(24) Orang yang penuh semangat,
selalu sadar, murni dalam perbuatan,
Memiliki pengendalian diri,
hidup sesuai dengan Dhamma,dan selalu waspada,
maka kebahagiaannya akan bertambah.
Cerita terjadinya syair ini:...

5.
(25) Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri,
hendaklah orang bijaksana,
membuat pulau bagi dirinya sendiri,
yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.
Cerita terjadinya syair ini:...

6.
(26) Orang dungu yang berpengertian dangkal,
terlena dalam kelengahan,
sebaliknya,orang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan.
seperti menjaga harta yang paling berharga.
Cerita terjadinya syair ini:...

7.
(27) Jangan terlena dalam kelengahan,
Jangan terikat pada kesenangan-kesenangan indria.
Orang yang waspada dan rajin bersamadhi,
akan memperoleh kebahagiaan sejati.
Cerita terjadinya syair ini:...

8.
(28) Bilamana orang bijaksana,
telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan,
maka ia akan bebas dari kesedihan,
seakan memanjat menara kebijaksanaan,
dan memandang orang-orang yang menderita di sekelilingnya,
seperti seseorang yang berdiri diatas gunung memandang mereka yang berada di bawah.
Cerita terjadinya syair ini:...

9.
(29) Waspada di antara yang lengah,
berjaga di antara yang tertidur,
orang bijaksana akan maju terus,
bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.
Cerita terjadinya syair ini:...

10.
(30) Dengan menyempurnakan kewaspadaan,
Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa.
Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji, dan kelengahan akan selalu dicela.
Cerita terjadinya syair ini:...

11.
(31) Seorang bhikkhu, yang bergembira dalam kewaspadaan,
dan melihat bahaya dalam kelengahan,
akan maju terus membakar semua rintangan batin,
bagaikan api membakar kayu,
baik yang besar maupun yang kecil.
Cerita terjadinya syair ini:...

12.
(32) Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan,
dan melihat bahaya dalam kelengahan,
tak akan terperosok lagi,
Ia sudah berada di ambang pintu nibbana.
Cerita terjadinya syair ini:...
 
Bls: Keindahan dalam kasih

1.
(33) Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap;
pikiran susah dikendalikan dan dikuasai.
Orang bijaksana meluruskannya bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.
Cerita terjadinya syair ini:...

2.
(34) Bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air dan dilemparkan ke atas tanah,
pikiran itu selalu menggelepar.
Karena itu cengkeraman dari Mara harus ditaklukkan.
Cerita terjadinya syair ini:...

3.
(35) Sukar mengendalikan pikiran yang binal dan senang mengembara sesuka hatinya.
Adalah baik untuk mengendalikan pikiran,
suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan.
Cerita terjadinya syair ini:...

4.
(36) Pikiran sangat sulit untuk dilihat, amat lembut dan halus,
pikiran bergerak sesuka hatinya.
Orang bijaksana selalu menjaga pikirannya,
seseorang yang menjaga pikirannya akan berbahagia.
Cerita terjadinya syair ini:...

5.
(37) Pikiran itu selalu mengembara jauh,
tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati.
Mereka yang dapat mengendalikannya,
akan bebas dari jeratan Mara.
Cerita terjadinya syair ini:...

6.
(38) Orang yang pikirannya tidak teguh,
yang tidak mengenal ajaran yang benar,
yang keyakinannya selalu goyah,
orang seperti itu tidak akan sempurna kebijaksanaannya.
Cerita terjadinya syair ini:...

7.
(39) Orang yang pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian,
yang telah mengatasi keadaan baik dan buruk,
di dalam diri orang yang selalu sadar seperti itu tidak ada lagi ketakutan.
Cerita terjadinya syair ini:...

8.
(40) Dengan mengetahui bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan,
hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota,
dan melenyapkan Mara dengan senjata kebijaksanaan.
Ia harus menjaga apa yang telah dicapainya,
dan hidup tanpa ikatan lagi.
Cerita terjadinya syair ini:...

9.
(41) Aduh, tak lama lagi tubuh ini akan terbujur di atas tanah,dibiarkan saja, tanpa kesadaran,
bagaikan sebatang kayu yang tidak berguna.
Cerita terjadinya syair ini:...

10.
(42) Luka dan kesakitan macam apa pun,
dapat dibuat oleh orang yang saling bermusuhan atau saling membenci.
Namun pikiran yang diarahkan secara salah,
akan melukai seseorang jauh lebih berat.
Cerita terjadinya syair ini:...

11.
(43) Bukan dengan pertolongan ibu, ayah, ataupun sanak keluarga;
namun pikiran yang diarahkan dengan baik,
yang akan membantu dan mengangkat derajat seseorang.
Cerita terjadinya syair ini:...
 
Bls: Keindahan dalam kasih

1.
(44) Siapakah yang akan menaklukkan dunia ini beserta alam Yama dan alam Dewa?
Siapakah yang akan menyelidiki Jalan Kebajikan yang telah diterangkan dengan jelas,
seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga?
Cerita terjadinya syair ini:...

2.
(45) Seorang Sekha (siswa yang masih berlatih) akan menaklukkan dunia ini beserta alam Yama dan alam Dewa.
Seorang siswa yang masih berlatih ini akan menyelidiki jalan kebajikan yang telah diajarkan dengan jelas,
seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga.
Cerita terjadinya syair ini:...

3.
(46) Setelah mengetahui bahwa tubuh ini bagaikan busa,
dan setelah menyadari sifat mayanya,
maka hendaknya seseorang mematahkan bunga nafsu keinginan,
dan menghilang dari pandangan raja kematian.
Cerita terjadinya syair ini:...

4.
(47) Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
yang pikirannya kacau,
akan diseret oleh kematian.
Bagaikan banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.
Cerita terjadinya syair ini:...

5.
(48) Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
yang pikirannya kacau dan tak pernah puas,
akan berada di bawah kekuasaan Sang Penghancur (kematian).
Cerita terjadinya syair ini:...

6.
(49) Bagaikan seorang kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga tanpa merusak warna dan baunya;
demikian pula hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa.
Cerita terjadinya syair ini:...

7.
(50) Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh orang lain.
Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.
Cerita terjadinya syair ini:...

8.
(51) Bagaikan sekuntum bunga yang indah tetapi tidak berbau harum;
demikian pula akan tidak bermanfaat kata-kata mutiara yang diucapkan oleh orang yang tidak melaksanakannya.
Cerita terjadinya syair ini:...

9.
(52) Bagaikan sekuntum bunga yang indah serta berbau harum;
demikian pula sungguh bermanfaat kata-kata mutiara yang diucapkan oleh orang yang melaksanakannya.
Cerita terjadinya syair ini:...

10.
(53) Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga;
demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.
Cerita terjadinya syair ini:...

11.
(54) Harumnya bunga,
tidak dapat melawan arah angin.
Begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati.
Tetapi harumnya kebajikan,
dapat melawan arah angin;
harumnya nama orang bajik dapat menyebar ke segenap penjuru.
Cerita terjadinya syair ini:...

12.
(55) Harumnya kebajikan,
adalah jauh melebihi harumnya kayu cendana, bunga tagara, teratai maupun melati.
Cerita terjadinya syair ini:...

13.
(56) Tidaklah seberapa,
harumnya bunga tagara dan kayu cendana;
tetapi harumnya mereka,
yang memiliki sila (kebajikan),
menyebar sampai ke surga.
Cerita terjadinya syair ini:...

14.
(57) Mara tak dapat menemukan jejak mereka yang memiliki sila,
yang hidup tanpa kelengahan,
dan yang telah terbebas melalui Pengetahuan Sempurna.
Cerita terjadinya syair ini:...

15.
(58) Seperti dari tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan,
tumbuh bunga teratai yang berbau harum dan menyenangkan hati.
Cerita terjadinya syair ini:...

16.
(59) Begitu juga di antara orang duniawi,
siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna,
bersinar menerangi dunia yang gelap ini dengan kebijaksanaannya.
Cerita terjadinya syair ini:...
 
Back
Top