Kumpulan Artikel

Status
Not open for further replies.
Dari Taman Bunga Wiladatika Cibubur

Dari Taman Bunga Wiladatika Cibubur
Trubus Agro Expo 2006 dalam Foto
Oleh trubus



Tok?tok?tok?tok?tok. Suara kentongan yang dipukul Bambang Ismawan, pemimpin umum majalah Trubus, bertalu-talu. Bunyi itu menandai pembukaan pameran agribisnis Trubus Agro Expo 2006. Acara yang bertempat di Taman Bunga Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur, itu berlangsung pada 7-17 September 2006.

Sebanyak 118 stan pameran terisi oleh 96 perusahaan menampilkan beragam produk unggulan. Beraneka komoditas terbaik dari sektor pertanian berkumpul disatu tempat. Dirangkai aneka kursus agro, seperti perawatan anggrek, nepenthes, dan tabulampot buah, serta kesehatan dengan para praktisi pilihan, Trubus Agro Expo 2006 kian meriah.

Dora Venus, penyanyi cilik, turut meramaikan acara lomba menggambar dan mewarnai dengan menyanyikan 3 lagu. Aneka lomba lain pun digelar. Sebut saja aglaonema, anthurium, dan ayam hias serama.

Acara meriah itu diselenggarakan oleh Trubus dan menjadi agenda rutin. Pameran yang digelar selama 11 hari itu menjadi tempat bertemunya sekitar 12.000 pengunjung yang terdiri dari pelaku agribisnis dan konsumen. Berikut rangkaian peristiwa Trubus Agro Expo 2006 hasil jepretan redaksi Trubus.
 
Metamorfosis Seorang Penganggrek

Beny Ariawan Riangsa
Metamorfosis Seorang Penganggrek
Oleh trubus



Matahari di atas langit Denpasar, Bali, mulai condong ke barat. Beny Ariawan Riangsa datang ke sebuah tempat kursus bahasa Inggris 2 jam sebelum kelas dimulai. Belasan meter dari gedung kursus, ia memarkir mobil boks di ruas Jalan Hayam Wuruk. Seratus pot anggrek di dalam keranjang dikeluarkan lalu ditata di atas trotoar. Baru 5 menit kerabat vanili itu dipajang, sepasukan tibum (Polisi Pamong Praja, red) berwajah garang datang menyita. Linangan air mata di wajah Beny menjadi saksi pengambilan paksa atas dendrobium.

Lenyap sudah harapan Beny mendulang untung sebelum kursus dimulai. 'Saya ngga jadi kursus. Malu, sedih, dan kecewa bercampur jadi satu. Saya langsung pulang,' tutur kelahiran Karangasem 34 tahun silam itu. Dari pengalaman pada Maret 2000 itulah Beny kapok menjual anggrek ala kaki lima di sembarang tempat. Sebuah tekad terpatri di dada pria berkacamata itu. Suatu hari ia ingin memiliki nurseri sendiri.

Untuk mewujudkan impian itu Beny mulai dengan menjadi pemasok, bukan pengecer. Ia mengambil anggrek yang mengeluarkan kenop (muncul calon bunga, red) dari Jawa Timur dan Denpasar. Tanaman itu dirawat sebulan sampai bunga mekar. Kebun perawatan itu hanya memanfaatkan halaman rumah seluas 150 m2. Saat wartawan Trubus Syah Angkasa berkunjung ke sana 3 tahun silam, kebun itu sangat sederhana. Beny menjual tanaman anggreknya kepada para pedagang tanaman hias di Bedugul. Setiap bulan ia memasok 500 pot beragam jenis anggrek. Itu pada 2000-an.

Kini setiap bulan dari kebun di Karangasem itu dikirim 15.000 pot anggrek berbagai ukuran ke seluruh penjuru nusantara. Sebanyak 75% jenis dendrobium. Sisanya vanda dan phalaenopsis.
Tepi pantai

Metamorfosis Ketemu Lagi Orchid-begitu Beny menamakan nurserinya-dari kaki lima menjadi kebun besar membawa Trubus kembali ke sana. Kesempatan itu datang pada pertengahan Juni 2006. Trubus bersama Handy Halim dan Chawin Hongsunirundon, penyilang anggrek terkemuka di Thailand, meluncur mengendarai Honda CR-V dari Denpasar ke arah timur sejauh 75 km.

Di sebuah jalan aspal selebar 5 m, mobil berbelok ke kanan menuju sebuah gedung bercat putih dengan gundukan karung di depannya. Suara mesin penggilingan padi meraung-raung menyambut kedatangan. Tak ada yang menduga, di balik pabrik penggilingan padi, sebuah rumah bayang seluas ? ha berdiri kokoh.

Rumah bayang ialah bangunan seperti greenhouse, tapi dinding dan atap hanya ditutup shading net. Letaknya di tengah pesawahan dan hanya sepelemparan batu dari tepi pantai. Embusan angin pantai masih terasa hingga ke dalam rumah bayang.

Menurut Chawin, letak kebun di dataran rendah dekat pantai dan dikelilingi sawah itu optimal untuk anggrek. 'Buat pembesaran dendrobium, ini lokasi yang sangat cocok,' katanya. Maklum, dendrobium-kecuali jenis D. nobile dan D. cuthberstonii- menyukai daerah panas. Intensitas cahaya pun optimal. Apalagi di daerah pesawahan, ketersediaan air terjamin. Embusan angin juga turut berperan merangsang dendrobium berbunga.
Ganti strategi

Sejak 2 tahun terakhir pasar Ketemu Lagi Orchid terus berkembang. Itu tak lepas dari keberanian Beny untuk mengambil pangsa sebagai pemasok besar. 'Saya melihat belum ada kebun anggrek di Bali yang bisa memasok secara massal,' begitu Beny berhitung. Untuk memperluas pasar, alumnus Sekolah Tinggi Teknik, Surabaya, itu bergerilya dari satu pameran ke pameran lain untuk mempromosikan diri. Hampir setiap pulau besar di Indonesia telah dikunjungi sekadar untuk menjajaki pasar.

Di setiap ekshibisi itu, ia berjalan dari satu stan ke stan lain untuk menawarkan diri memasok anggrek. Ia pun aktif berpromosi di media massa tertentu. Dengan cara itu pelanggan berdatangan dari berbagai penjuru nusantara. Itu membuat bisnis Beny tak terpengaruh oleh ledakan bom yang merontokkan dunia pariwisata di Pulau Dewata. 'Beruntung pasar saya telah terbuka ke luar Bali. Bila tidak, mungkin seperti bisnis grosir barang kelontongan milik keluarga saya. Turun hingga 50%,' ujarnya. Pasar yang terus membentang membuat Beny kewalahan. Pucuk dicinta ulam tiba, I Wayan Gredeg, Bupati Karangasem dan I Nengah Rimpi, Kepala Dinas Pertanian Karangasem, menggandengnya untuk mengembangkan sentra dendrobium di Karangasem. Sejak 2005 telah terjalin 140 plasma memasok anggrek ke seantero Pulau Bali. 'Kini konsentrasi saya ke luar Bali. Biar mitra kerja saya yang memenuhi Pulau Dewata,' ujar Beny.

I Wayan Gredeg dan I Nengah Rimpi juga membantu Beny membangun laboratorium penaburan biji dan kultur jaringan anggrek. Di laboratorium di tengah persawahan itu Beny memproduksi anggrek spesies agar tidak punah. Ia pun memperbanyak anggrek silangan karya pemulia terkenal di Indonesia. Hasilnya lantas dipasarkan ke penjuru nusantara. Beberapa jenis terbaik dibawa ke Thailand untuk dikembangkan di sana.

Saat Trubus berkunjung ke sana, ayah 3 anak itu tengah memperluas nurseri karena populasi tanaman kian memadat. Sebuah metamorfosa yang mengagumkan. Beny boleh menangis di tangan polisi pamong praja. Namun, ia kokoh menghadapi ledakan bom bali
 
Sekali Runduk, Empat Anakan Didapat

Sekali Runduk, Empat Anakan Didapat
Oleh trubus


Bandingkan bila tanaman dibiarkan secara alami mengeluarkan anak. Induk dari biji berumur 2 tahun setinggi 50 cm butuh waktu 1 tahun untuk melahirkan 1 anak. Sementara dengan cara direbahkan, waktu perbanyakan lebih singkat. Dalam 3 bulan diperoleh lebih banyak anakan. Maklum sekali merebahkan muncul anakan dari pangkal batang, ketiak daun, dan tanaman baru hasil rundukan itu sendiri.

Kelebihan lain, dengan teknik merundukkan batang, dominasi apikal berkurang. Dominasi itu menghambat tunas di ketiak daun dan pangkal batang. Akibatnya tanaman hanya tumbuh satu ke atas. Bila ia berkurang, tunas-tunas lain yang dorman terpacu untuk tumbuh.

Selain itu, dengan merunduk risiko kematian nepenthes dapat diminimalisir. Ini karena tanaman baru dipisahkan ketika akar serabut di antara ruas daun telah terbentuk dengan baik. Perbanyakan dengan cara merunduk dapat dilakukan pada hampir semua jenis nepenthes berbatang panjang. Syaratnya, tinggi tanaman minimal 50 cm dan batang cukup lentur sehingga bisa dilengkungkan ke bawah.

Perbanyakan dengan teknik merunduk dapat digabung dengan setek batang. Setek batang dilakukan pada tunas yang tumbuh di ketiak daun setelah rundukan telah berakar dan dipisahkan dari tanaman induk.

Menurut M Apriza Suska, hobiis di Bogor, tunas di ketiak daun tumbuh bila batang yang dirundukkan dilukai. ?Sedangkan jika tidak dilukai, anakan hanya muncul di pangkal batang saja,? ujarnya. Itulah yang terjadi pada Wahyu Adi Hobiis di Malang, Jawa Timur. Penasaran? Berikut cara perbanyakan periuk kera dengan cara merundukkan batang.

1. Pilih tanaman induk dewasa, kira-kira umur minimal 6 bulan dengan panjang batang minimal 50 cm.

2. Siapkan satu pot berisi media campuran cocopeat dan arang sekam, perbandingan 1:1, atau sphagnum moss. Letakkan pot ini sejajar dengan pot berisi tanaman yang akan dirundukkan. Nepenthes yang akan dirundukkan ditaruh di tempat teduh.

3. Lukai batang nepenthes pada jarak 30 cm dari pangkal batang. Pelukaan batang merangsang pertumbuhan akar serabut lebih cepat. Luka berbentuk segitiga pada satu sisi itu ditempelkan ke media. Bagian luka dibuang sekitar 1 /4 dari diameter batang.

4. Lengkungkan batang kantong semar ke pot ke-2 dengan bagian luka berada di bawah. Lalu jepit batang yang direbahkan dengan kawat atau lidi agar tidak bergeser.

5. Tutupi bagian yang luka dengan media lalu siram sampai jenuh. Penyiraman seperti biasa, satu hari sekali, agar media tetap lembap. Nepenthes menyukai kelembapan udara antara 50 -80%. Semprotkan vitamin B1 dengan dosis 70 ppm setiap hari agar tanaman lebih segar.

6. Akar serabut di antara ruas daun yang dilukai tumbuh satu bulan kemudian. Kantong semar itu dapat dipisahkan dari tanaman induk 2-3 bulan kemudian.

7. Tunas di ketiak daun dan pangkal batang muncul 3 minggu kemudian. Potong batang di antara ruas daun setelah tunas di ketiak daun memproduksi daun pertama dengan panjang 2, 5 -4 cm atau 2 -3 bulan setelah tanaman rundukkan dipisahkan dari induk. Lalu tanam setek itu di pot berdiameter 8 cm berisi media. Perlakuan itu sama dengan perbanyakan dengan setek batang.

8. Kini kantong semar yang Anda koleksi telah beranak pinak.
 
Kurcaci-kurcaci Negeri Siam

Kurcaci-kurcaci Negeri Siam
Oleh trubus


Rupa-rupanya, keladi-keladi bersosok pendek dan kompak memang tengah marak di negeri Siam. Waktu Chandra berjalan-jalan ke Chatucak -pasar tanaman hias di Bangkok -pada pertengahan Maret silam, caladium pendek itu banyak ditemukan. Bentuk, corak, dan warna daun tak kalah elok ketimbang keladi-keladi generasi sebelumnya.

Lihat saja misalnya keladi dengan paduan warna hijau pekat, putih gading, dan merah berbintik-bintik. Warna-warna itu seperti tersaput di sana-sini di atas daun. Kesannya tak keruan, tapi tetap cantik. Ada pula si merah yang berdaun tebal dan mengkilap. Persis seperti terbuat dari bahan plastik. Yang tak kalah menarik keladi berdaun merah pekat dengan totol-totol merah muda.

Batu permata
Anggota famili Araceae pendek berpenampilan menarik juga Trubus lihat di nurseri milik Ulih Sunardi di Ciapus, Bogor. Di sana ada sesosok caladium merah tua dengan tulang merah muda terang. Yang istimewa, daunnya tebal dan seperti berbeludru. Permukaan atas daun licin, seperti dilapisi lilin. Bila tetes air hujan jatuh di atasnya, terlihat seperti batu permata nan berkilauan. Jenis lain, memiliki perpaduan warna merah bata dengan tulang daun hijau tua. Atau merah dengan gradasi makin gelap makin ke tepi.

Tak hanya warna menawan, caladium kurcaci pun kaya beragam bentuk. Misalnya keladi berbentuk daun memanjang dengan tepi berkelok-kelok seperti keris koleksi Gunawan Wijaya di Sentul, Bogor. Atau keladi berpangkal lebar dan ujung meruncing seperti gunungan pada pentas wayang. Yang paling lazim berbentuk seperti sayap kupu-kupu.

Meski warna merah mendominasi, keladi bernuansa hijau bukan berarti tak menarik. Kerabat aglaonema berwarna hijau pekat dengan semburat merah di bagian tengah di nurseri milik Ulih elok dipandang. Pun si hijau berbercak putih. Meski dibawa tanpa nama dari Th ailand akhir tahun silam, para kurcaci itu siap memikat hati pencinta keladi.
 
Agar sang Ratu Siap Naik Pentas

Agar sang Ratu Siap Naik Pentas
Oleh trubus


Indrijani Kusudiardjo mempersiapkan sri rejeki-sri rejeki untuk kontes minimal 3 bulan menjelang lomba. ?Ini sebetulnya sudah tahap akhir persiapan,? kata Indri -begitu ia kerap disapa. Saat itu yang dilakukan hanya memberi sentuhan akhir. Misal pemupukan rutin agar daun tumbuh subur, penyemprotan insektisida dan fungisida supaya daun mulus bebas serangan hama penyakit. Selain itu penggantian pot jika diperlukan.

?Persiapan yang lebih penting justru dilakukan sejak dini, ? tutur istri penyilang aglaonema Gregori Garnadi Hambali itu. Pertama pemilihan tanaman. Jika seorang hobiis memiliki satu jenis aglaonema dalam jumlah banyak, pilih yang berwarna paling cerah dan susunan daun paling proporsional. ?Susunan daun harus seimbang, jangan ada salah satu sisi yang kosong,? ujar Indri yang berkali-kali menyabet gelar juara di kontes aglaonema.

Agar tanaman terlihat kompak, pilih yang sudah memiliki 3 anakan. Posisi anakan sebaiknya mengelilingi induk. Kalaupun ada anakan yang tumbuh menyempal, posisi tumbuh bisa diarahkan. Iwan Hendrayanta, hobiis di Permatahijau, Jakarta Selatan, menempelkan ranting kering ke batang anakan agar posisi anakan mengitari induk. Perlakuan itu mesti sejak dini agar batang mudah diarahkan. Bagian ranting yang menyangga anakan dibungkus selotip supaya tidak melukai batang.

Naungan
Setelah calon andalan kontes dipilih, letakkan di tempat ternaungi. Hindari cipratan hujan untuk meminimalisir serangan cendawan. Indri meletakkannya dalam naungan rumah plastik. Rumah plastik diletakkan di atas dak rumah di bawah naungan shading net setinggi 3 m. Indri menggunakan jaring yang menyerap 30%cahaya. Tidak ada syarat khusus plastik yang digunakan. Indri sempat menggunakan plastik UV, tapi kini dengan plastik transparan pun cukup.

Rumah plastik berukuran 1 m x 6 m dengan tinggi puncak 1, 5 m bisa menampung 30 tanaman dalam pot berdiameter 15 -20 cm. Tanaman diletakkan di atas batu koral setebal 5 cm. ?Atap ? rumah plastik bisa dibuka-tutup untuk mengatur sirkulasi udara dan kelembapan di dalam. Biasanya atap plastik dibuka sepanjang siang dengan cara digulung. Kalaupun tidak disungkup, letakkan aglaonema terpilih di dalam bagian greenhouse paling terlindung.

Sembari disungkup, dilakukan perawatan rutin. Pupuk lambat urai diberikan setiap 2 bulan dengan dosis 1 sendok makan. Itu dibarengi pemberian pupuk daun seperti Gandasil dan Growmore per 2 minggu. Pupuk disemprotkan ke daun hingga basah. Untuk mencegah serangan hama dan penyakit, Indri menyemprot insektisida, fungisida, dan bakterisida 2 minggu sekali secara bergantian.

Penyiraman dengan air setiap 3 hari hingga media basah. Secara rutin, daun dilap dengan air bersih agar mengkilap. Iwan Hendrayanta memilih air kelapa tua untuk mengkilapkan daun.

Ganti pot
Jika media terlihat mengeras, segera ganti. Buang media yang terletak dekat dinding pot. Jumlah media yang diganti cukup 50% dari volume total. Indri menggunakan campuran pasir, sekam bakar, pakis hancur, dan humus andam dengan perbandingan 1:1:1:1:2. Iwan memanfaatkan campuran pasir dan sekam bakar. Berbarengan dengan penggantian media, akar-akar yang rusak dipotong. Sebelum ditanam kembali, olesi akar dengan fungisida. Tanam kembali aglaonema pada pot yang ukuran, bentuk, dan corak paling pas dengan sosok tanaman.

Tiga hari menjelang kontes, daun dilap setiap hari hingga saat terakhir menjelang keberangkatan ke lomba. Supaya tidak rusak selama pengangkutan, daun dan batang disangga dengan tiang plastik tipis. Begitu sang ratu telah naik ke pentas lomba, tiang penyangga itu diangkat. Aglaonema andalan pun siap bertarung memperebutkan gelar terbaik.
 
Raksasa dari Belantara Borneo

Rafflesiana
Raksasa dari Belantara Borneo
Oleh trubus


Di alam Nepenthes rafflesiana dewasa tumbuh menjalar atau merambat ke atas pohon setinggi 15 meter. Daun panjang, mencapai 28 cm, dan lebar 6 cm. Sedangkan panjang kantong mencapai 40 cm dan berdiameter 15 cm. Kantong raksasa itu mampu menampung seliter beras. Dengan ukuran jumbo itu rafflesiana adalah nepenthes berkantong terbesar di Pulau Kalimantan.

Di antara kantong semar, hanya rafflesiana dan Nepenthes macfarlanei yang dikaruniai gigi. Wajar jika di pedalaman Kalimantan Barat, kantong raksasa itu kerap digunakan sebagai perangkap tikus. Kantongnya memang amat kuat, tak mudah sobek. Begitu tikus masuk ke kantong, bagian mulut mengatup rapat.

Rafflesiana juga mudah dikenali. Sepasang sayap berduri kecil tumbuh di sepanjang kantong. Kelebihan lain nepenthes itu adalah leher penghubung mulut dan tutup dapat diputar ke seluruh arah. Tutupnya berukuran lebar dan berbentuk kubah. Warna kantong bawah biasanya cokelat atau hijau secara keseluruhan, ada pula kantong putih dengan bintik-bintik merah dan cokelat. Sedangkan kantong bagian atas umumnya putih. Ia lebih elastis dan berbentuk mirip corong panjang.

Raksasa ungu
Kantong rafflesiana ditemukan pertama kali oleh Dr William Jack pada 1819. Saat itu Jack tengah bertugas sebagai dokter bedah di Singapura. Enam belas tahun kemudian barulah nama Nepenthes rafflesiana disematkan untuk menghormati Sir Stamford Raffles, pendiri Tumasik alias Singapura. Rafflesiana terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan, Singapura, dan Semenanjung Malaysia. Tumbuh bergerombol, di tepi pantai hingga ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut. Meski demikian ia lebih banyak dijumpai di rawa gambut dan tebing-tebing. Di daerah-daerah itu ia hidup bersama dengan N. ampullaria , N. gracilis, dan N. reinwardtiana.

Nepenthes rafflesiana terdiri atas beberapa varietas. Yang terkenal antara lain varietas squat red. Secara harfiah squat berarti gemuk pendek. Red menunjukan warna merah gelap hingga merah darah. Varietas lain, N. elongata berwarna putih berbintik merah. Bentuk kantong lonjong. Sekujur batangnya ditumbuhi rambut putih halus mengesankan perempuan tua beruban.

Sekelompok raksasa ini: singapore giant, bau giant, sarawak giant, dan brunei giant tergolong varietas N. rafflesiana yang menarik. Tinggi kantong mencapai 30 cm membuatnya dikatakan raksasa. Penopang kantong berupa batang juga amat panjang, mencapai 50 cm. Kesamaan lainnya adalah kantong mereka berwarna ungu.

Jangkrik
Nepenthes rafflesiana tumbuh cepat. Pada umur 3 tahun, memasuki masa dewasa. Pada saat itu tajuk tanaman mencapai 1,5 m. Oleh karena itu ia tidak cocok sebagai tanaman terrarium. Rafflesiana sangat cocok untuk hobiis pemula lantaran perawatannya mudah. Ia hanya membutuhkan siang yang panas, malam yang hangat dengan suhu 25 - 40o C, dan kelembapan sekitar 70%. Tempat yang terbaik baginya adalah ruang terbuka dengan naungan 50%.

Kendi kera - nama lain nepenthes - menghendaki media lembap yang porous, antara lain pasir, cocopeat, humus, rockwoll, cacahan batang pakis, dan spaghnum moss. Hindari pemupukan berlebihan karena menyebabkan daun dan kantong terbakar.

Nepenthes mendapatkan hara melalui kantong penangkap mangsa. Jika tidak ada serangga terperangkap di kantong, berikan serangga makanan burung atau ikan seperti kroto, semut, atau jangkrik. Pakan berlebihan menyebabkan kantong membusuk.

Hindari penggunaan air keran secara langsung karena berkadar kimia tinggi. Endapkan air siraman beberapa hari. Yang terbaik adalah air hujan, air destilata, air tampungan, maupun air mineral. Beberapa minggu setelah pemangkasan, tanaman mulai membentuk pucuk baru yang kemudian memproduksi kantong bawah. Pemangkasan diabaikan jika hobiis menginginkan pembentukan kantong atas. Rafflesiana dilindungi karena langka. Pastikan Anda mendapatkannya dari hasil budidaya
 
Si Kauskaki Merah pun Berjaya

Poles Kawista Muda agar Terlihat Tua
Oleh trubus
Jumat, 07 April 2006 13:22:59 Klik: 791 Kirim-kirim Print version
Prestasi Kelik dan Raharjo memang luar biasa. Pasalnya, selama ini kawista bonsai lambat tumbuh. ?Itu revolusi besar-besaran. Kawista di alam berumur 12 tahun paling batangnya baru seukuran jempol kaki. Jumlahnya pun terbatas karena langka, ? kata Drs Dwi Hartono, ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Surakarta. Itulah sebabnya, kawista bersosok prima tergolong langka ditemukan di arena kontes.

Kawista hasil buruan di alam pun kerap menemui kendala ketika dipotkan. ?Sulit beradaptasi sehingga gampang mati, ? kata Kelik, pemilik SGPC Bonsai, di Yogyakarta. Musababnya, ukuran akar sangat panjang sehingga ujung akar yang berperan menyerap makanan jauh dari batang. Begitu dipotong untuk dipotkan, akar yang tersisa tak mampu menyerap makanan. Trubus pernah mendapat laporan, 1 truk berisi kawista alam gagal dipotkan oleh pemburu di Surakarta.

Masalah lain yang kerap ditemukan pebonsai ialah bentuk kaki ? batang bagian bawah - kawista buruan alam kurang bagus. ?Bentuk tak beraturan. Sulit untuk mentrainingnya,? ujar Raharjo, pebonsai di Surakarta yang menangani bagian penelitian dan pengembangan bonsai di PPBI Cabang Surakarta. Banyaknya persoalan yang ditemui pebonsai kala memprogramkan mengambil bakalan dari alam.

Kawista ideal
Mimpi para pebonsai ialah membentuk kawista berukuran besar, berkaki istimewa, dan mudah beradaptasi di pot. Pun penampilannya, mesti berkesan tua. ?Syarat terakhir itu mutlak. Bonsai kan miniatur tanaman raksasa alam yang dipotkan, ? tutur Kelik. Bila 3 bentuk ideal itu terpenuhi, kawista bakal terlihat cantik dan berwibawa karena secara alami kulit batang kawista bersisik.

Berawal dari impian mempunyai bonsai kawista ideal itulah, Kelik dan Raharjo - yang tak pernah bertemu muka - bersinggungan ide. Di 2 tempat berbeda keduanya membudidayakan kawista sekaligus mentrainingnya sejak 3 tahun silam. Kini perjuangan mereka mulai membuahkan hasil. Beberapa kawista muda bersosok tua tumbuh di kebun keduanya. Beberapa di antaranya bahkan telah dipesan hobiis dengan harga luar biasa mahal, di atas Rp20-juta per pohon.

Menurut Kelik, kunci utama membongsorkan pertumbuhan kawista ialah budidaya intensif. Misal, media tanam 100%pupuk kandang. Itu harus didukung pemupukan daun dan penyemprotan pestisida - insektisida dan fungisida ? secara rutin. ?Selang-seling seminggu sekali. Dosis rata-rata 2 g/l, ? kata Kelik. Agar respon tanaman bagus terhadap pupuk daun dan insektisida, Kelik menyarankan penggunaan beragam merek. Satu merek pupuk dan fungisida hanya dibolehkan dipakai 5 ? 6 kali berturut-turut.

Air cukup
Pun ketersediaan air harus cukup. Kondisi itu turut berperan membongsorkan kawista. Karena itu Kelik menyiram kawista sehari sekali. Sementara Raharjo menggunakan sistem parit. Kebetulan kebun miliknya dilalui aliran air yang mengalir terus-menerus. Walau tak beraturan, setiap bonsai yang dibudidayakan dilalui parit yang berjarak sekitar 1,5 - 2 m dari batang. Budidaya intensif itu mampu memacu pertumbuhan vegetatif.

Begitulah cara membongsorkan kawista. Langkah kedua ialah membuat bonsai berkesan tua. Cirinya berkaki bagus:batang bawah besar dan simetris, lalu mengecil sedikit demi sedikit ke bagian atas. Kelik dan Raharjo mempunyai teknik yang sama.

Pelukaan akar dan batang sehingga keduanya membesar akibat pemulihan kulit. Pelukaan dilakukan dengan membelah akar dan batang mengikuti alur akar paling ujung. ?Hormon tumbuh terangsang berproduksi untuk pemulihan. Akibatnya akar dan batang membesar,? kata Wahyu Wibowo, pebonsai di Klaten. Akar dan batang yang terbelah lalu di arahkan agar tumbuh simetris. Berikut tahapan yang dilakukan Kelik dan Raharjo membentuk bonsai kawista.

1. Semaikan biji kawista dalam media pasir setebal 8 cm. Siram dengan butiran halus sehari sekali pada sore hari. Biasanya pada umur 3 - 4 minggu telah berkecambah.

2. Pada umur 2 bulan taburkan pupuk kandang tipis di atas persemaian, tebalnya sekitar 0,5 cm. Pemupukan daun dan pemberian pestisida secara selang-seling mulai dilakukan seminggu sekali. Penyiraman tetap dilakukan sehari sekali. Pada umur 3 - 4 bulan tinggi kawista telah mencapai 20 cm. Ia siap dipindahkan ke polibag kecil.

3. Bibit kawista dipindah ke polibag berdiameter 15 cm dengan media 100%pupuk kandang. Penyiraman, pemupukan daun, dan penyemprotan pestisida tetap dilakukan. Tahapan ini memakan waktu 6 - 12 bulan. Pada tahap ini terjadi seleksi alam:ada bibit yang tumbuh bongsor dan kerdil. Pelukaan dengan membelah akar dilakukan pada tanaman terpilih. Caranya, tanaman yang hanya mempunyai 3 akar utama dibelah mengikuti alur paling ujung sehingga terbentuk 6 akar. Pada belahan diselipkan batu atau kayu kecil. Diharapkan lambat laun akar kecil yang dibelah bermetamorfosis menjadi batang. Biasanya pada umur 6 bulan, 80%kawista siap dipindahkan ke polibag berukuran sedang, diameter 24 cm.

4. Pada saat pemindahan ke polibag, perakaran harus diarahkan melebar secara simetris. Agar mudah, media digundukkan terlebih dahulu sehingga perakaran yang telah dilebarkan mendapat dudukan. Tutup dengan media hingga perakaran tertimbun. Selama itu pula pengamatan terhadap perakaran terus dilakukan. Tahapan ini memakan waktu 1 - 2 tahun, tergantung kondisi perakaran. Polibag di letakkan di atas galengan selebar 70 cm dengan tinggi 50 cm yang tertutup mulsa. Mulsa dipasang untuk menekan gulma dan menjaga galengan tahan lama. Galengan terlebih dulu dilubangi sesuai ukuran dasar polibag. Tujuannya agar perakaran dapat menembus galengan, sehingga pertumbuhan bongsor. Perawatan lain tetap seperti tahap sebelumnya. Bila perakaran telah melebar dan kokoh, maka kawista siap dipindahkan ke polibag besar berdiameter 40 cm.

5. Pemindahan ke polibag besar sama seperti pada tahapan ke-4. Pada tahapan ini percabangan mulai dibentuk sesuai keinginan. Perawatan lain tetap seperti tahap sebelumnya. Lama tahapan ini sekitar 1 - 3 tahun tergantung kondisi perakaran. Tanaman yang telah siap dipindahkan ke lahan. Cirinya, akar telah berubah menjadi batang bawah yang kokoh.

6. Biasanya hanya 20 - 25% kawista yang dapat dipindahkan ke lahan. Kelik menggunakan susunan batu-bata sebagai pot buatan agar saat pembentukan akar dan pengangkatan tanaman lebih mudah tanpa merusak. Maksudnya, pot dari susunan batu bata dapat dibongkar pasang. Tahapan ini memakan waktu 1 - 3 tahun.

7. Rata-rata kawista berumur 4 tahun berkaki bagus dan besar sehingga siap dipotkan. Kesan tua pun telah muncul. Pada beberapa kasus - sekitar 5% - kawista berumur 2, 5 - 3 tahun siap dipotkan.
 
Murah dan Cepat dengan Back Bulb

Murah dan Cepat dengan Back Bulb
Oleh trubus


Tidak semua bulb tua dapat dirangsang memunculkan keiki. Herman, penganggrek kawakan di Cipayung, Jakarta Timur itu, memilih back bulb yang masih segar dan sehat. Itu ditandai dengan belum banyak kerutan, masih punya mata tunas aktif, dan tidak terserang hama dan penyakit. Calon tunas terbentuk di pangkal, ujung, dan ruas bulb. Bila mata tunas menghitam, berarti tanaman tak akan menghasilkan tunas baru.

Ada 2 cara untuk merangsang bulb tua menghasilkan keiki. Yaitu dengan melukai umbi semu utama dan memotong langsung bulb tua. Yang disebutkan terakhir itu dapat dilakukan dengan syarat tanaman memiliki minimal 4 bulb. Maksudnya, agar setelah dipisahkan pertumbuhan tanaman tidak terganggu karena masih ada 3 bulb yang tersisa.

Pisahkan bulb tua dari tanaman induk menggunakan pisau, lalu dikeringanginkan di atas kawat kasa. Bulb tetap hidup selama masih berwarna hijau. Selanjutnya back bulb disiram larutan vitamin B1 dengan cara pengkabutan atau fogging . Dosis pemakaian 1 cc per 5 l air, diberikan 2 kali sehari, pagi dan sore. Jika cuaca mendung cukup sehari satu kali.

Selang 2 - 3 minggu tunas baru muncul. Ketika tunas muncul segera tegakkan bulb agar keiki tumbuh lurus. Setelah keiki berumur 2 bulan, setinggi 1 cm dan terdapat 1 - 3 akar, pindahkan ke media sabut kelapa. Keiki dipindahkan ke pot individu 4 - 6 bulan kemudian. Dengan perlakuan seperti itu, tingkat keberhasilan mencapai 90%
 
Katakan Cinta dengan Euphorbia

Katakan Cinta dengan Euphorbia
Oleh trubus

Euphorbia-euphorbia cantik itu datang dari kebun Boen Soediono di Gunung Bunder, Bogor. Lokasi kebun di ketinggian 1.100 m dpl, ditambah sengatan sinar matahari penuh, membuat warna bunga delapan dewa kian tajam. Sebut saja cherry pie. Sesuai namanya, warna euphorbia itu persis seperti cherry segar, yakni merah terang. Diameter bunga cukup besar sekitar 5 cm, kompak dan bergerombol.

Lain lagi dengan dong isare. Warna bunga merah pekat dengan tepi dihiasi semburat hijau. Kombinasi merah-hijau juga ditemukan pada thep phathaphon. Namun, hijaunya tak secerah dong isare. Selain itu masih ada euphorbia bernuansa merah: sonya yang tampak anggun dengan warna merah dan semburat putih. Warna merah lainnya terdapat pada star pink. Dasar bunga berwarna merah muda dan bertotol-totol merah.

Tahan lama
Meski merah mendominasi, bukan berarti warna-warna lain tak menarik. Sebut saja fuji apple. Euphorbia itu bagaikan buah apel fuji yang sedang merekah. Warna merah muda dengan semburat merah tua mengitari bunga berdiameter 5 cm. Si merah muda lain yang tidak kalah memikat adalah siam diamond. Permata thailand itu tampak cantik dengan kombinasi merah muda dan putih. Itu secantik penampilan cat eyes yang juga bernuansa merah muda dan putih. Kombinasi lain, merah muda kejingga-jinggaan dengan bercak putih yang jadi ciri khas phonchita.

Sementara phia chow tampil dengan warna hijau-merah muda yang muncul selang-seling. Kalau diperhatikan euphorbia-euphorbia anyar itu berwarna lebih terang ketimbang para pendahulunya. Bunga pun lebih kompak dan terlihat bergerombol.

Menurut Boen, tak melulu cantik, euphorbia anyar asal Thailand itu tahan lama. Biasanya bunga muncul hanya selama 2 minggu. Jenis baru itu bisa bertahan sampai 1 bulan.

Tak hanya itu, Fredy pemilik nurseri euphorbia memiliki jenis terbaru dari biji. Itu sudah diperoleh sejak 2004 silam. Ada 3 jenis yang semuanya berwarna sama yakni jingga. Sayangnya ketiga jenis itu masih belum diberi nama. Hadirnya euphorbia anyar baik asal impor maupun lokal siap meramaikan kisah-kasih Anda.
 
Diperbanyak Jadi Mutasi

Diperbanyak Jadi Mutasi
Oleh trubus


?Tipe mutasi ada 3 bentuk,? ungkap Gregori Hambali, pakar aglaonema di Bogor. Perubahan bentuk yang dihasilkan ada yang bersifat stabil sehingga penampilan yang abnormal tidak berubah meski diperbanyak terus-menerus. Tipe mutasi lainnya: tidak stabil. Setelah mengalami penyimpangan, tanaman masih berubah ke bentuk lain. Mutasi terakhir bersifat reversible, yaitu mudah balik ke bentuk asli.

Penyebab mutasi bermula dari munculnya kelainan di jaringan sel tanaman. Jika bagian yang mengalami kelainan hanya sebagian (sektoral) maka dihasilkan tanaman berdaun merah dan hijau yang terpisah. Bila terjadi persis di titik tumbuh, menjadikan tanaman berubah total. Misal, bila sebelumnya hijau, maka tanaman baru itu jadi merah, kuning, atau paduan kedua warna.

Perubahan bentuk sering dialami aglaonema lantaran kerabat Araceae itu kerap diperbanyak secara vegetatif, yakni setek batang. Sel-sel mutasi yang sebelumnya dorman, terpicu bangun dan membentuk tunas yang mengalami penyimpangan. Perubahan sosok berupa warna, guratan daun, dan bentuk daun yang berlainan.

Saat ini donna carmen dan pride of sumatera kerap dijumpai bermutasi. Itu lantaran keduanya paling sering diperbanyak masyarakat. Toh tak semua donna carmen berpeluang mengalaminya. Hanya yang mewarisi ?darah? mutasi saja yang menjelma menjadi si cantik atau si buruk rupa.
 
Cantik Setelah Beralih Rupa

Cantik Setelah Beralih Rupa
Oleh trubus


Perubahan rupa aglaonema seperti pride of sumatera milik Supeno Rahman itu terjadi lantaran ia kerap diperbanyak secara vegetatif, yakni setek batang. Sel-sel mutasi yang sebelumnya dorman, terpicu bangun dan membentuk tunas yang mengalami penyimpangan. Perubahan berupa warna, gurat daun, dan bentuk daun yang berlainan. Namun, aglaonema mutasi jarang diperoleh. ?Dari 5.000 pot hanya 2 pot yang seperti itu (mutasi, red),? ujar Supeno.

Nun di Bogor, Dr Purbo Djojokusumo juga memiliki aglaonema berpenampilan nyeleneh . Di antara 1. 000 pot pride of sumatera terdapat 30 pot yang beralih rupa. Daun berwarna merah muda, kuning, dan hijau bergaris merah. Bak mendapat harta karun, aglaonema-aglaonema itu dikumpulkan di tempat khusus. Di Bogor yang berhawa dingin, dengan pemberian naungan lebih tebal, kontrol kelembapan, pupuk, dan hama, Purbo berharap mutasi itu langgeng.

Asa itu bak terempas ke batu karang saat pucuk baru yang muncul sebagian hijau. Dua-tiga bulan kemudian malah warnanya hijau total. Untung dewi fortuna masih berbaik hati pada pencinta tanaman berprofesi dokter itu. Sebanyak 6 pot bertahan dengan penampilan barunya: daun berwarna merah muda, krem, dan bertotol hijau. Mereka tak kalah indah daripada sri rejeki mutakhir asal Thailand yang didominasi warna cerah. Pantas banyak hobiis yang berani membeli pride of sumatera itu Rp1-juta - Rp1,5 juta per pot tanaman berdaun 10 ?15 lembar. Padahal, mereka lazimnya dihargai Rp200.000.

Kasus mutasi juga Purbo temukan pada donna carmen. Lazimnya, daun sri rejeki itu berwarna hijau bintik kuning dengan tulang daun merah. Ketika mengalami mutasi ia berubah jadi warna kuning dan merah muda.

12 daun
Aglaonema mutasi juga dikoleksi Soeroso Soemapawiro di Pondokindah, Jakarta Selatan. Lipstik miliknya sempat membingungkan juri pada lomba tanaman hias yang diselenggarakan di Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP), Jakarta Timur, pada Februari 2006. Juri menyangka dalam satu pot ada 2 jenis aglonema berbeda. Wajar bila juri beranggapan demikian, karena anakan yang muncul memiliki motif yang 180? beda dengan induk. Lazimnya, daun lipstik berwarna hijau polos dengan pinggir merah. Namun, chinese evergreen milik Soeroso berbercak merah.

Menurut Benny Tjia di Bogor, mutasi yang terjadi pada lipstik itu termasuk dalam kategori periclinal chimera . Diawali dari satu sel yang mengalami penyimpangan. Kemudian sel itu membelah dan lama-kelamaan membentuk jaringan. Jika tunas tumbuh dari jaringan itu, akan dihasilkan bentuk yang beda dari induknya. Bentuk yang beda dari induk itulah yang disebut periclinal chimera . Mutasi yang terbentuk biasanya relatif stabil sehingga dapat diperbanyak secara vegetatif.

Berdasarkan pengalaman Purbo, mutasi bersifat permanen saat tanaman berdaun 12 lembar. Terbukti pride of sumatera mutasi berdaun 22 lembar milik Suhandono, di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan, tetap cemerlang kuning, hijau bergaris merah. Sebaliknya donna carmen berdaun 2 helai berwarna merah cemerlang koleksi pemilik Kusuma Flora itu mengeluarkan pucuk kuning kehijauan.

Kasus mutasi memang kerap ditemukan pada donna carmen dan pride of sumatera yang lawas dan asli Indonesia. Namun, si cantik yang beralih rupa juga Trubus temukan pada siamese rainbow ? sebutan untuk aglaonema asal Thailand - jenis-jenis dari Taiwan, dan Amerika. Perubahan itu tak melulu menjadi merah, tetapi juga putih atau cokelat yang langka. Contohnya snow white koleksi Harry Setiwan di Durensawit, Jakarta Timur. Kerabat alokasia itu beralih rupa jadi putih atau kuning polos. Ah, para mutan terus menebar pesona. (
 
Kembang Jepun Anyar Tampil Menawan

Kembang Jepun Anyar Tampil Menawan
Oleh wibowo


Klik untuk melihat foto lainnya...
Sosok bunga lilawadee - sebutan kamboja di Thailand - itu sungguh unik. Lazimnya bentuk bunga kamboja seperti bintang dengan daun mahkota - petal - tidak menggulung. HW 1 justru laksana kincir angin dengan daun kelopak menggulung. Tepi kanannya bergelombang dan selalu berada di bagian atas. Bunga berukuran sedang, diameter 6—7 cm. Penampilan plumeria itu kian mempesona dengan perpaduan warna kuning di bagian tengah dan merah muda nan lembut di bagian pinggir.
Jenis baru lainnya, hybrid wijaya 2 (HW 2). Bunga terdiri dari 5 daun mahkota yang berbentuk bulat. Susunan daun mahkota bunga jepun—sebutan lain bunga kamboja—itu menyirap, tepi saling menutupi seperti susunan genting, dan terpuntir ke kiri. Sehingga tepi daun mahkota yang sebelah kiri selalu berada di bagian atas menutupi tepi kanan sesamanya. Ukuran bunga sedang, 7 - 8 cm. Ketahanan bunga sama dengan lokal. Satu kuntum mekar 2 - 3 hari. Bunga HW 2 sangat menarik, karena terdapat 3 warna yang berbeda: jingga, kuning, dan merah jambu.

Mahkota 10
Plumeria baru tak hanya monopoli Gunawan. Nun di Kaliurang, Yogyakarta, juga ada Aris Budiman, pemilik nurseri Watu Putih, yang mengoleksi pink pansy. Sosok kamboja kuburan itu mirip HW 2, terdiri dari 5 daun mahkota yang berbentuk bulat dan diameter bunga sekitar 8 cm. Bedanya, pink pansy berkatup, tepi daun-daun mahkota saling bersentuhan tetapi tidak berlekatan. Bunga terdiri dari 2 warna. Kuning mencolok di bagian tengah dan merah muda di bagian pinggir.
Lilawadee baru lain dikoleksi Ubaydillah di Rawabelong, Jakarta Barat. Salah satunya bermahkota 10. Sosok bunga seperti mawar yang sedang mekar, bertumpuk. Ukuran daun mahkota bervariasi, bagian luar besar dan semakin ke dalam semakin kecil. Bunga jepun itu berukuran sedang, diameter hanya 6—8 cm. Kombinasi warna putih dan kuning membuat bunga mahkota 10 lebih memikat. Ubay memperoleh kamboja kuburan itu dari salah seorang teman asal Bali. Plumeria itu pantas menyemat nama mahkota 10 lantaran dalam satu bunga terdapat 10 daun mahkota. Berikut kamboja-kamboja baru lain yang tak kalah cantik.
 
Lilawadee Muncul di Musim Hujan

Lilawadee Muncul di Musim Hujan
Oleh wibowo


Klik untuk melihat foto lainnya...
Kejadian seperti itu bisa dihindari bila pekebun dan hobiis punya cara efektif merawat kemboja di musim hujan. Kuncinya terletak pada media, pemangkasan, dan pemupukan. Layaknya tanaman sukulen lain, lilawadee menyukai cahaya penuh. Sinar matahari dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman dan pembungaan. Untuk itu, jangan meletakkan kemboja di tempat ternaungi, seperti di bawah tajuk pohon lain. Sebaiknya tanam di tempat terbuka. Agar pertumbuhan optimal, plumeria harus terkena sinar matahari selama 8 jam sehari.
Lilawadee senang hidup di lingkungan kering. Makanya, gunakan media tanam yang berdrainase baik atau porous. Ubaydillah di Rawabelong, Jakarta Barat, menggunakan campuran sekam bakar dan serbuk kayu sebagai media dengan perbandingan 2:1. Sedangkan Aris Budiman di Kaliurang, Yogyakarta, menggunakan pasir kasar dan sekam bakar; 1:3. Meski kemboja suka lingkungan kering, tapi untuk pembungaan dibutuhkan cukup air. Lakukan penyiraman sekali sehari. Penyiraman tidak dilakukan bila hujan.

Pangkas
Pada musim hujan pertumbuhan vegetatif kemboja kuburan sangat baik. Bila daunnya lebat, maka kembang malas keluar. Karena itu untuk merangsang pembungaan, Ubay membuang daun kemboja yang melekat secara manual dan hanya menyisakan 2 daun di batang paling ujung.
Sesudah daun dipangkas, tanaman diberi pupuk bunga seperti Alaska, Growmore, atau Gandasil. Dosisnya 1 tutup untuk 1 ember air atau setara 10 liter. Setelah dipupuk, langsung disiram. Untuk mendapatkan hasil optimal, pemupukan dilakukan sore sekitar pukul 17.00. Pupuk daun diberikan rutin ke media tanam setiap 15 hari sampai berbunga. Saat bunga muncul, hentikan pemupukan. “Kalau tetap diberikan, biasanya bunga rontok,” ujar kelahiran Jakarta 44 tahun silam itu.
Menurut Aris untuk merangsang bunga dapat juga menggunakan pupuk NPK dengan komposisi K lebih tinggi. Berikan pupuk dalam bentuk larutan dengan konsentrasi 30 ppm—setara 1 sendok makan/4 liter air—seminggu sekali.
Pemberian pupuk dalam bentuk larutan lebih menguntungkan dibandingkan yang langsung ditabur ke media. “Bila kebanyakan mengakibatkan media asam sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman,” kata pemilik nurseri Watu Putih itu. Bila langkah di atas diterapkan, kejadian yang menimpa Gunawan dan Heru dapat dihindari. Lilawadee pun tumbuh dan berbunga di musim hujan.
 
Tampil Cantik Setelah Dipingit

Kastuba
Tampil Cantik Setelah Dipingit
Oleh admin



Poinsettia perlu dikurung karena membutuhkan hari gelap lebih panjang agar warna-warni di pucuk daun keluar. Bila hari terang panjang, warna merah, putih, kuning, ungu, atau merah muda, di bagian pucuk memudar menjadi hijau. Menurut Lanny Lingga, pekebun di Cisarua, Bogor, di daerah tropis kastuba butuh hari gelap selama 13 jam. Sementara di daerah subtropis cukup 11 jam 12 menit.

Di daerah tropis, lama hari gelap sekitar 10—12 jam. Artinya butuh tambahan 1—2 jam perlakuan agar kebutuhan hari gelap kastuba terpenuhi. Untuk memperpanjang hari gelap, kastuba disungkup di dalam ruang gelap dan tertutup. Selain cahaya, temperatur juga berpengaruh. Cuetlaxochitle—sebutan kastuba oleh Suku Aztec di Meksiko—menyukai suhu rendah.

Dengan sifat seperti itu, pantas bila di daerah tropis kastuba lebih sulit dibuat warna-warni ketimbang di daerah subtropis. Toh, banyak jalan menuju Roma agar sang bunga natal berona merah, kuning, merah muda, putih, dan ungu.
Masa muda

Agar mengeluarkan pucuk beragam warna, kastuba mesti cukup umur. Artinya sudah penuh melewati masa vegetatif. Menurut Benny Tjia di Bogor, masa vegetatif tanaman asal Meksiko itu berlangsung selama 6—8 minggu. Diawali dengan bibit hasil setek atau tanaman dewasa sampai tanaman rimbun. Untuk bibit setek, masa vegetatif dimulai dari bibit. Sedang tanaman dewasa, daun pelindung lama (tempat warna-warni kastuba berada, red) dipotong hingga tinggi mencapai atau 10—15 cm. Itu dilakukan Februari—awal Maret.

Setelah itu repotting tanaman ke pot berdiameter 5—7,5 cm. Pastikan media lembap. Lalu letakkan pot di ruang terbuka dekat cahaya. Setiap minggu ganti posisi agar cahaya yang didapatkan merata. Namun, saat malam pindahkan ke ruangan yang ada sinar. Pemindahan itu guna menjaga akar tidak mencapai dasar pot dan membuat tumbuh kompak. Bila menginginkan tanaman pendek dengan banyak daun pelindung, rompes setiap tunas baru. Lakukan selama 3—4 minggu, tergantung kecepatan tumbuh tanaman.

Tak hanya itu, pengairan rutin pun dibutuhkan. Pupuk dengan pupuk larut seperti NPK 20:20:20 setiap 2 minggu. Selain itu semprotkan Retardan, hormon untuk mengkerdilkan tanaman, sebanyak 1 ml per minggu. Perlakuan itu niscaya membuat tanaman cepat tumbuh dan kompak.

Kondisi iklim pun harus diperhatikan. Sebaiknya siang hari berada pada kisaran 22—24oC dan malam 15oC. Namun, itu tidak mutlak. Saat suhu siang mencapai 26oC kastuba masih bertahan. Suhu malam harus lebih dingin, sebaiknya di bawah 22oC. Pada masa vegetatif kastuba membutuhkan terang lebih panjang, yakni 14 jam. Biasanya di daerah tropis sinar matahari hanya 10 jam. Sisa 4 jam yang dibutuhkan diperoleh dari pemberian lampu di dekat tanaman. Bila tidak dilakukan penambahan sinar, tanaman tumbuh lamban. Dengan perlakukan tepat saat masa vegetatif usai, kastuba tumbuh optimal. Biasanya cabang berjumlah 3—12 buah.
Siap dipingit

Bila anggota famili Euphorbiaceae itu sudah dalam keadaan berdaun kompak dan ketinggian cukup, tanaman siap memasuki fase generatif. Kondisi itu dicirikan antara lain tanaman bercabang 3 dan tinggi 8 cm. Perlakuan untuk menampilkan warna-warni kastuba sebaiknya pada akhir September hingga pertengahan Desember. Karena masa itu suasana lebih lembap dan panjang gelap lebih lama. Di daerah tropis kastuba siap dipingit di ruang gelap supaya pucuknya berwarna-warni.

Lanny menaruh tanaman di ruang gelap berbentuk kotak seluas 4 m2. Ruang itu berangka bambu dengan tutup plastik hitam tak tembus cahaya. Di dalam ruang gelap itu berjejer rak setinggi 2 m dari tanah. Jarak antara rak dengan atap plastik cukup jauh, misalnya 1 m, agar kondisi ”ruang” tetap lembap. Di Amerika Serikat, Ecke, produsen kastuba terbesar di sana mengurung kastuba dalam greenhouse. Tanaman disusun di rak-rak panjang, lantas dikerudungi kain hitam tiap jarak 1 m. Penggunaan kain itu membuat sirkulasi udara berjalan baik.

Di tanahair, cara itu sulit dilakukan. ”Saya susah mencari kain hitam panjang. Ya, yang paling mudah didapat plastik hitam. Jadi itu yang dipakai,” ujar Lanny, pemilik nurseri Seederama itu. Selama dalam ruang gelap Retardan tetap diberikan. Namun, dosisnya dikurangi jadi 0,5 ml. Pada fase ini tidak dilakukan pemangkasan karena mengganggu kecepatan pewarnaan.

Selama berada di ruang gelap hindari kontak dengan cahaya. Itu menghambat keluarnya warna. Panjang waktu gelap usahakan selama 14 jam per hari. Namun, pada siang hari sungkup plastik hitam tetap dibuka agar tanaman terkena cahaya. Misalnya, bila penggelapan dimulai pukul 17.00, maka pada pukul 09.00. Keesokkan harinya biarkan tanaman terkena cahaya matahari. Lalukan berulang hingga 60—85 hari.

Pengisolasian itu sebaiknya dilakukan di dataran tinggi karena membutuhkan suhu rendah agar mengeluarkan pucuk warna-warni. Di daerah subtropis, suhu yang diinginkan 60—70oF setara 15—21oC pada siang hari dan 12oC di malam hari. Sementara di daerah topis, di bawah 26oC siang hari dan optimum 22 oC malam hari. Usai ”pingitan” bunga lobster bakal berwarna-warni pada Natal dan Imlek
 
Pencinta yang Tak Pernah Bosan

Kolektor Anggrek Spesies
Pencinta yang Tak Pernah Bosan
Oleh admin

version
Perjalanan pulang dari Bali ke Jakarta mengendarai mobil VW Combi pada 2002 menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Rudhy T Mintarto. Pasalnya ia sempat tertahan selama 2—3 jam di pos polisi pelabuhan Gilimanuk. Itu lantaran di dalam mobil menumpang lebih dari 25 pot anggrek spesies pesanan istri, Latifah E Kusrini, yang tak dilengkapi surat-surat.

Peristiwa itu sempat terulang di Makassar pada 2004. Hanya saja saat itu Rudhy tak sendiri, sang istri ikut serta. Maklum Latifahlah yang penggemar berat anggrek. Belakangan Rudhy tertular. Anggota Orchidaceae yang mereka bawa tertahan di perusahaan pengiriman selama 2 hari. Penyebabnya pun sama, kerabat vanili itu tak memiliki keterangan lengkap.

“Sebenarnya tak jadi masalah bila dikemas dalam dus kecil, ukuran indomie, tapi waktu itu kita mengemas dalam paket besar ukuran kulkas 2 pintu, sehingga butuh surat,” ujar pria berambut panjang itu. Dua kali mengalami masalah karena anggrek, tak menghentikan langkah Latifah tetap berburu anggrek spesies.

Wanita berusia 44 tahun itu tergila-gila anggrek spesies sejak 3 tahun terakhir. Itu berawal dari penolakan salah satu kebun raya saat Latifah meminta izin untuk melihat koleksi anggrek alam di sana. Penasaran dengan anggrek spesies, akhirnya wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu pun mulai mencari dan mengoleksi.

Mulailah Latifah menyambangi nurseri-nurseri di Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Ia pun rela melakukan perburuan ke hutan Kalimantan dan Sulawesi. Beberapa teman yang tahu Latifah mengoleksi anggrek spesies, kerap mengoleh-olehinya. Bulbophyllum lobii, Phalaenopsis gigantea, dan Paraphalaenopsis labukensis, sedikit dari koleksinya yang berjumlah lebih dari 50 jenis.

Semula Latifah sekadar ingin memuaskan rasa ingin tahunya akan rupa anggrek spesies. Namun, sekarang ia malah benar-benar jatuh cinta. Buktinya hampir setiap minggu ia mengunjungi berbagai nurseri untuk menambah koleksi. “Berapa pun uang yang saya bawa pasti habis,” ujarnya. Bahkan ia rela tidak beli baju baru asalkan mendapat anggrek yang diinginkan.

Kini selain mengurus pekerjaan rumah tangga, aktivitas Latifah pun bertambah. Setiap pukul 5 pagi dan 3 sore ia berkeliling halaman rumah untuk menyiram anggrek. Bila hari terik frekuensi penyiraman pun ditambah menjadi 3 kali. Sebelum beranjak ke peraduan di malam hari, istri Rudhy itu sekali lagi menikmati keindahan anggota famili Orchidaceae itu. “Hati yang gundah pun menjadi tenang,” tutur wanita berambut pendek itu.

Edi dan Ina
Hobiis lain yang juga kepincut anggrek spesies ialah Edi Triono dan Oktarina KA. Kecintaan Edi—begitu ia disapa—berawal dari pendekatannya kepada calon mertua. Ia sering mengajak ayah Ina—sapaan Oktarina—yang sangat menyukai anggrek ke Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan, untuk membeli kerabat vanili itu. Tak dinyana, Edi yang kelahiran Jakarta itu ikut tersihir oleh pesona anggrek.

Pria kelahiran 35 tahun silam itu pun akhirnya getol mengoleksi. Yang jadi pilihannya anggrek-anggrek unik dan langka, baik spesies maupun mutasi. “Pokoknya miliki yang antik, pasti jarang orang punya,” ujarnya. Oktarina yang pada awalnya tak suka anggrek pun akhirnya terbawa hobi sang suami. Karena memiliki hobi yang sama, waktu luang pasangan suami istri itu pun dihabiskan bersama-sama untuk mencari anggrek.

Hampir setiap minggu mereka mengunjungi nurseri di Jakarta. Tak semua anggrek yang mereka inginkan langsung didapat. Bahkan pasangan yang telah menikah 3 tahun itu harus sabar menunggu satu setengah tahun untuk mendapatkan Dendrobium spesiosum. Kini penantian itu berakhir, 4 pot Dendrobium spesiosum telah jadi koleksi mereka. Saat ini, Edi dan Ina memiliki lebih dari 50 jenis anggrek spesies. Di antaranya, Dendrobium alexandrae, Dendrobium bellatulum, Phalaenopsis javanica, Phalaenopsis gigantean, Vanda coerulea ‘alba’, dan Vanda javieri.

Setiap malam, sepulang dari kantor, pasangan suami-istri itu langsung menyambangi anggrek. Rasa lelah dan penat sehabis bekerja pun sirna. “Apalagi ketika melihat anggrek spesies berbunga,” kata Ina.

Gara-gara Trubus
Kolektor lain, Ramadani Yudha Prasetya. Mahasiswa tingkat satu Institut Pertanian Bogor itu sudah hobi mengumpulkan anggrek spesies sejak kelas 5 SD. Ketertarikannya muncul sejak melihat artikel Trubus yang memuat bulbophyllum. “Bentuk bunganya unik, beda dengan yang lain,” ujar alumnus SMU 8 Jakarta itu. Ia pun meminta orang tuanya untuk mengantar ke Taman Anggrek Indonesia Permai, Jakarta Timur, untuk membeli anggrek itu. Tahu-tahu dalam sekejap, koleksinya sudah berlipat.

Kesedihan mendalam dialami Rama—begitu ia disapa—3 tahun silam. Lebih dari 100 anggrek spesies hilang akibat banjir besar yang melanda rumahnya di Jakarta awal 2002. Namun, kecintaannya pada anggrek tak membuat jera. “Bahkan sejak kejadian itu saya jadi lebih gila,” kata pria kelahiran 18 tahun silam itu. Hampir setiap minggu ia habiskan waktu luang untuk berburu anggrek.

Saat ini Rama memiliki 112 jenis anggrek spesies. Di antaranya, Ascosentrum minitum, Brassavola nodosa, Coelogyne asperta, Dendrobium bellatulum, Paphiopedilum boxaltii, dan Phalaenopsis celebensis. Jauh dari rumah—Rama mesti tinggal di asrama mahasiswa IPB di Bogor—tidak membuat Rama lupa pada koleksi-koleksinya. Setiap 2 hari pria yang punya hobi menari jawa itu menelpon ke rumah untuk mengecek kondisi anggrek-anggreknya. Di akhir pekan saat boleh meninggalkan asrama, Rama langsung menyambangi anggrek-anggreknya tanpa menanggalkan sepatu dan tas begitu tiba di rumah.

Anggrek hutan
Nun di Krayan, Kalimantan Timur, juga ada pencinta anggrek. Hendri Simson memiliki sekitar 100 jenis anggrek spesies hutan. Gara-gara hobinya itu, ia sering mendapat ejekan. “Itu kan tanaman hutan, untuk apa dipelihara,” ujar Hendri menirukan perkataan tetangganya. Toh, ejekan itu tak mengurungkan langkah pria kelahiran 34 tahun silam itu untuk tetap mengumpulkan anggrek.

Kecintaan pada anggota famili Orchidaceae itu bermula 2 tahun silam. Kala itu ada sekelompok pecinta anggrek dari Jakarta dan Nunukan datang ke Krayan. Sepulang dari sana mereka membawa beraneka ragam anggrek hutan. Kebetulan, Hendri sebagai kepala Perwakilan PT Dirgantara Air Service, Bandara Yuvi Semaring, mengetahui dan mencegatnya. “Saya langsung larang mereka. Kalau tetap ngotot tak bisa naik pesawat,” kenangnya. Dari situ ia tahu anggrek hutan banyak dicari hobiis. Tak diduga, mereka yang sempat bersitegang dengan Hendri adalah anggota organisasi Pencinta Anggrek Indonesia (PAI). Mereka mengajak Hendri untuk bergabung. Sejak itulah ia menjadi pencinta anggrek.

Hanya dalam hitungan hari sejak peristiwa itu Hendri langsung berburu ke hutan di 4 bukit di sekitar Krayan. Ketua PAI unit Krayan sejak setahun silam itu pun membangun nurseri ukuran 16 m x 16 m. “Awalnya istri saya protes, tapi saya tetap jalan. Sekarang malah istri saya yang suka anggrek,” katanya. Frekuensi perburuan anggrek hutan hampir setiap minggu Hendri lakukan. Ia pun sering melewati perbatasan Indonesia—Malaysia untuk mencari kerabat vanili itu.

Bila ada waktu ia pun sering mengunjungi kontes anggrek di Nunukan dan Jakarta. “Walau tinggal di pedalaman, perkembangan anggrek tetap harus dipantau. Uang Rp5-juta buat ongkos nggak ada artinya,” kata alumnus Universitas Janabadra di Yogyakarta itu. Kini saban hari sepulang bertugas di bandara, ia habiskan waktu untuk menikmati keindahan anggrek di nurserinya.
 
Membuat Biji Enchepalartos Cepat Bertunas

Membuat Biji Enchepalartos Cepat Bertunas
Oleh admin



Enchepalartos juga masih satu rumpun dengan Cycads dan Zamia dengan bentuk yang juga hampir mirip. Ciri khas tanaman gurun ini hampir mirip dengan Cycads yaitu berkembang biak dengan biji dikotil.
Klik untuk melihat foto lainnya...
Sayangnya tidak semua biji bisa ditunaskan begitu saja dengan mudah. Bahkan biji Enchepalardos yang hanya ditanam di dalam tanah, dijamin tidak akan pecah meski selama bertahun-tahun.

Yunaim salah satu hobis Jogja memiliki kiat khusus agar biji Enchepalardos bisa cepat pecahdan bertunas. Hal ini terlihat dari biji Enchepalartos yang ia pajang masih terlihat biji dan batang baru di dalam pot kecil. Biji Enchepalartos ternyata memiliki sistem pertumbuhan unik. Tanaman gurun tidak seperti tanaman yang lain dimana bila masuk tanah dan terkena air bisa langsung tumbuh tunas. Tanaman ini harus mengalami pemanasan yang sangat tinggi setelah jatuh dari pohonnya. Di gurun suhu tinggi memang tidak menjadi masalah. Setelah itu turun musim hujan, baru ia pecah dan bertunas. jelas Yunaim.

Untuk mengakalinya, kita bisa mengkondisikan biji tersebut dengan suhu serupa. Caranya? Biji pertama kali direbus di dalam air sampai suhu 100 derajat Celsius selama setengah jam. Baru kemudian diambil dan direndam di dalam zat perangsang pertumbuhan selama 15 menit. Lalu dikeringkan. Kemudian letakkan di dalam pot berisi tanah. Dalam waktu beberapa hari, tunas baru dari biji ini akan tumbuh. Di pasaran, satu pot Enchepalartos yang baru bertunas ini dihargai Rp 600 ribu.
 
Langsung dari Bangkok: Chatucak, Pasar Bunga Terbesar

Langsung dari Bangkok: Chatucak, Pasar Bunga Terbesar
Oleh admin


Orang sana biasa menyebutnya dengan Chatuchak Weekend Market (pasar akhir pekan), yang berlokasi di Van Paholyothin Road yang paralel dengan Klong Bang Su, Bangkok. Secara resmi pasar ini hanya buka pada Sabtu dan Minggu.
Klik untuk melihat foto lainnya...
Namun meski nggak semua buka, pada hari-hari di luar hah itu, di pasar Chatuchak yang menjual aneka ragam tanaman hias dan dikenal sebagai salah satu pasar tana?man terbesar di dunia itu tetap saja ada beberapa stan nurseri yang buka.

Panjang pasar ini mencapai hampir 1 kilometer, yang membentang di kiri dan kanan jalan dengan frekuensi lalu lintas yang cukup padat dengan bagian depan (pinggir jalan besarnya) berderet aneka stan penjual bunga pot dan asesorisnya, demikian pula di belakang stan-stan itu juga berjubal para penjual bunga. Lokasinya pun hanya sekitar 3 kilometer dari jalan Pradipat di mana Agrobis menginap di salah satu hotelnya.

Kalau anda punya kesempatan berkunjung ke kawasan yang masih masuk dalam area kota Bangkok itu, di mana hampir semua sopir taxi pun akan selalu menunjukkan (baca: tahu) tempat itu kalau anda bertanya soal bunga, anda tak perlu kaget karena meski masing-masing stan bunga mereka tidaklah terlalu besar, namun tingkat perekonomian (penghasilan) petani yang juga pemilik stan-stan tersebut amatlah lumayan besar.

Salah satunya, jangan heran kalau parapetani di sana dalam kegiatannya sehari-hari menggunakan kendaraan-kendaraan pick-up berharga di atas Rp 150 jutaan (580 ribu bath Thailand) sebagai kendaraan operasional pengangkut barang yang juga kadang jadi pengangkut orang, itupun kadang, mereka nggak cuma punya satu biji.

Bicara koleksi jualan bunganya, tentulah amat komplit, dan dibanding dengan harga negeri kita bisa berkisar 50 persen lebih murah. Rasanya, tak ada satupun jenis bunga yang tidak dijual di Chatuchak. Mulai adenium, euphorbia, aglaonema, anthurium, anggrek, bunga potong sampai bunga impor seperti palm jenggot, encephalartos sampai black boy yang menurut penjualnya didatangkan dari Australia.

Menurut Candra Roniwidjaya pengusaha nursery yang datang ke Thailand bareng Agrobis, harga-harga bunga di sini lumayan murah ketimbang di Indonesia. Jadi saya nggak heran juga kalau akhirnya banyak pengusaha bunga yang datang kesini untuk kulakan, kata Candra.

Diakui pula oleh penjualnya, bahwa memang cukup banyak pedagang bunga Indonesia yang datang ke sini untuk berbelanja untuk dijual kembali di tanah air, terutama para pengusaha bunga dari Jakarta. * nja
 
Aku gak punya Chihuahua

Aku gak punya Chihuahua...aku adanya ayam bangkok...
Eh picnya lucu..adek or anaknya...lucu deh mana pake blangkon lg...
 
Efek Aw, pH dan Nisin

Efek Aw, pH dan Nisin

Metode Doehlert digunakan untuk mempelajari pengaruh pH dan Water activity (Aw) dalam penghambatan E. coli oleh Nisin. Kombinasi factor tekanan pada level tertentu dapat menurunkan dosis penggunaan Nisin. Nisin sejumlah 1.000 hingga 1.400 IU per ml pada pH 5.5 hingga 6.5 dan Aw 0.97 hingga 0.98 dapat mengurangi jumlah sel hidup sebanyak 4 hingga 5 log cycles. Pengaruh Aw dalam penggunaan Nisin untuk menghambat E. coli tidaklah spesifik terhadap larutan pengendali Aw tertentu (larutan ion atau non ion). Percobaan Doehlert cukup efektif untuk menentukan kombinasi yang optimal dari factor tekanan dan menunjukkan variable terpenting yang berpengaruh dalam penghambatan E. coli.

Bahan Kimia digunakan sebagai barrier tambahan untuk membatasi kemampuan tumbuh mikroorganisme dalam makanan. Tetapi, tuntutan konsumen telah mendorong para peneliti untuk mengembangkan penggunaan penghambat alami yang bersumber dari tanaman, hewan dan mikroba.

Nisin pertama kali diisolasi dari kultur Lactococcus lactis. Bakteriosin ini merupakan peptida antimikrobial yang tahan panas dan termasuk ke dalam kelas pertama bakteriosin (kelompok yang terdiri dari lantibiotik). Nisin diterapkan secara komersial sebagai bahan tambahan makanan dalam industri makanan. Terkait dengan membran terluar yang dapat memberi perlindungan terhadap bakteriosin, bakteri gram negatif lebih tahan terhadap nisin dibanding bakteri gram positif. Walaupun demikian, beberapa peneliti melaporkan bahwa nisin dapat digunakan untuk menghambat bakteri gram negatif jika dikombinasikan dengan senyawa pengkelat (EDTA, citrat monohidrat dan trisodium orthophosphat) atau perlakuan lain yang dapat mengubah sensitivitas organisme terhadap nisin.

Bakteriosin ini sebaiknya tidak digunakan sebagai barrier utama untuk mengendalikan sejumlah besar mikroorganisme yang tidak dikehendaki, melainkan hanya digunakan untuk mengendalikan sejumlah kecil mikroorganisme yang masih dapat hidup pada tahap pengolahan.

Nisin biasa ditambahkan pada pembuatan keju, pasteurisasi produk-produk dairy dan makanan kaleng untuk mencegah pertumbuhan spora Clostridium. Pada formula keju, kadar air, NaCl, phosphat dan pH bergabung untuk mengendalikan laju pertumbuhan patogen disamping nisin.

Sebagai kecenderungan baru dalam teknologi pangan, ini menjadi sesuatu yang menarik untuk memperluas penggunaan antimikrobial alami sebagai bakteriosin terhadap mikroorganisme resisten. Bagaimanapun juga, dari sudut pandang keamanan, tidaklah mungkin untuk semata-mata mempercayai efek antimikrobial dari nisin. Jadi, pendekatan gabungan dari beberapa factor tekanan bacterial (dalam rangka memperbaiki kemampuan nisin dalam system makanan) harus diteliti.


Desain Dohlert diterapkan untuk menentukan level optimal dari Aw dan pH untuk memperbaiki penghambatan E. coli oleh nisin. Tabel 1. menunjukkan kondisi perlakuan yang berbeda dari nisin, pH dan Aw menghasilkan penurunan yang signifikan pada E. coli. Tanpa penggunaan nisin, Aw tidak berpengaruh signifikan terhadap kelangsungan hidup E. coli. Hasil ini (run 7 & 8) diharapkan, sebagaimana level Aw pada percobaan ini ( >/= 0.96) lebih tinggi dari nilai penghambatan minimal yang dilaporkan untuk pertumbuhan E. coli (Aw = 0.95).

Koefisien regresi menunjukkan bahwa nisin, Aw dan pH memiliki pengaruh yang langsung dan signifikan. Nilai koefisien regresi terbesar untuk konsentrasi nisin mengindikasikan variable terpenting yang berpengaruh, dan nilai negatif berarti bahwa E. coli menurun seiring penurunan konsentrasi bakteriosin. Nilai koefisien yang kecil dari Aw dan pH mengindikasikan bahwa pengaruh variabel ini kurang signifikan dalam penghambatan E. coli. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa tingkat pH pada percobaan ini lebih tinggi daripada nilai hambat minimal untuk pertumbuhan E. coli (pH = 4.0 sampai 4.5). Tingkat Aw juga lebih tinggi daripada nilai hambat minimal. Walaupun demikian, kedua variable berkontribusi terhadap inaktifasi bakteri pada perlakuan kombinasi. Nilai positif dari koefisien Aw mengindikasikan bahwa fraksi tahan dari mikroba menurun ketika Aw dari perlakuan kombinasi diturunkan. Nilai negatif dari pH mengindikasikan bahwa fraksi tahan dari mikroba akan menurun ketika variable ini dinaikkan.

Koefisien kuadrat untuk nisin dan Aw menunjukkan nilai yang signifikan dan nilai positif keduanya menunjukkan penghambatan maksimum untuk sel E. coli. Nilai dari koefisien interaksi antara nisin ? pH dan nisin ? Aw mengindikasikan bahwa pengaruh kombinasi ini berpengaruh signifikan terhadap aktivitas antimikrobial dari nisin. R2 (0.947) mengindikasikan model ini dapat dijelaskan bahwa lebih dari 94% dari respon yang diamati.

sumber : Panganplus: Situs Teknologi Pangan Indonesia
 
LIPI Produksi Prototipe Sepeda Motor Hidrogen

LIPI Produksi Prototipe Sepeda Motor Hidrogen

Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kamis (3/3), memamerkan prototipe produk sepeda motor berbahan bakar hidrogen. Inilah alat transportasi pertama berbasis fuel cell yang diciptakan peneliti-peneliti LIPI.
'Versa' -- demikian merek sepeda motor tadi -- sedikit banyak menegaskan keseriusan Indonesia dalam memasuki 'era hidrogen'. 'Versa' dipamerkan di lantai tiga gedung dua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kemarin. Kehadirannya, tak pelak, menarik perhatian para peserta "Seminar dan Kongres Nasional Konsorsium Fuel Cell Indonesia" di gedung tersebut. Mereka segera mengerumuninya.
Sepeda motor itu sendiri masih dalam bentuk prototipe alias belum menjadi produk on road yang siap dipakai secara massal. Namun, kemunculan 'Versa' tetaplah menarik -- sekaligus memberi harapan bagi negeri ini -- di tengah isu kesiapan negara-negara maju meluncurkan kendaraan berbahan bakar hidrogen. "Kita masih perlu waktu dan dana besar untuk pengembangan lebih lanjut," kata Ahmad Subhan, peneliti Puslit Fisika LIPI yang turut membidani kelahiran 'Versa'.
Subhan mengakui 'Versa' masih jauh dari sempurna. 'Versa' belum dapat ngebut di jalanan seperti halnya sepeda motor konvensional berbahan bakar bensin. Persoalannya, terang Subhan, terletak pada minimnya kekuatan sel tunam (fuel cell) yang menjadi pembangkit energi sang sepeda motor.
"Fuel cell-nya sering nge-drop. Perlu dibuat sirkuit yang lebih konsisten. Kita sedang temukan itu," terang dia. Kotak sel tunam (fuel cell stack) sendiri, kata Subhan, adalah jantung energi 'Versa'. Ia berperan dalam mengubah hidrogen menjadi energi listrik yang memicu gerakan motor. Ada tiga perangkat utama yang menjadi komponen vital 'Versa'. Selain fuel stack (kotak sel tunam) tadi, juga ada instrumen tangki hidrogen mini (hydrogen storage) bertekanan 30-50 bar, serta motor listrik berkekuatan 400 watt.
Hydrogen storage berfungsi menampung bahan bakar hidrogen, sama halnya tangki bensin di motor konvensional. Hingga saat ini, kapasitas tangki hidrogen 'Versa', cuma cukup selama dua jam saja. Dengan segenap kekurangan ini, 'Versa' punya kelebihan penting. Ia tak mengeluarkan suara bergemuruh -- seperti sepeda kendaraan motor biasa -- ketika gas dipacu. Yang keluar justru suara angin, halus, dan lembut. Hebatnya lagi, tidak ada asap berwarna hitam yang menyembur dari knalpotnya. Malahan, 'Versa' tak memiliki knalpot sama sekali, tapi cuma selang kecil yang memancarkan uap air. "Konversi hidrogen menjadi listrik cuma menghasilkan uap air, sehingga akan ramah lingkungan," kata Subhan.
Negara-negara maju, telah bersiap-siap meluncurkan kendaraan berbasis fuel cell. Pada 2010, General Motor dan DaimlerChrysler akan mulai memasarkan mobil mewah berbahan bakar hidrogen. Fuel cell merupakan perangkat elektrokimia yang mampu mengkonversi perubahan energi bebas suatu reaksi elektrokimia menjadi energi listrik. Hidrogen merupakan bahan bakar paling ideal buat fuel cell karena memiliki energi per satuan berat tertinggi. Ketersedian hidrogen di alam juga sangat berlimpah.
Sumber : Republika

 
Status
Not open for further replies.
Back
Top