ada yg tau tidak MIMPI ITU BERWARNA ATAU TIDAK?

Status
Not open for further replies.
Sampai seberapa jauh sesuatu dianggap sebagai science atau bukan atau empiris. Permasalahannya bukan pada ukuran pengakuan, tetapi bagaimana jika dimulai dari diri sendiri untuk mempelajari hal tersebut lalu memutuskan dimana letak empirisnya.
Wah maaf sebelumnya, pernyataan seperti ini harus saya bantah dengan keras.
Sesuatu dapat dimasukkan ke dalam apa yang disebut sebagai science ketika sudah terbukti secara empiris dan dari pembuktian itulah bisa diakui kebenarannya atau tidak, melalui pandangan umum dan bukan pandangan pribadi...
Tetapi kalaupun anda tetap meminta kejelasan, maka saya juga perlu bertanya sampai seberapa jauh anda mengakui gejala mimpi sebagai sesuatu yang bersifat science, empiris dan sejenisnya ?
Yang kita bahas di sini itu soal warna dalam sebuah mimpi, bukan? Dan itu sedari awal sudah saya jelaskan dalam kerangka science...

Nah jika anda masih berkenan, saya harap masih bisa menjelaskan apa yang sudah anda sebutkan di awal postingan itu, karena bagi saya hal yang anda sebutkan itu adalah sesuatu hal yang baru di dalam dunia science... Saya merasa pengetahuan soal itu sangat terbatas, sehingga saya meminta anda untuk menjelaskannya, tentu dalam kerangka science... Sesuai dengan nama forum ini...

Jadi silahkan giliran anda menjelaskannya tanpa perlu menggunakan bahasan2 yang bersifat filosofis... :)(
Jawaban apapun tetap saja menegaskan bahwa meditasi, hipnotis, dan bermimpi sama memiliki kesamaran dipandang dari sisi science (atau kalau dianggap jelas maka demikian pula untuk meditasi dan hipnotis).

Permasalahannya adalah bahwa kesamaran kita memahami dunia mimpi bagi kebanyakan orang juga sama samarnya dengan memahami dunia meditasi dan hipnotis (demikina pula sebaliknya). Dan saya hanya sedang menjelaskan permasalahan mimpi dengan contoh yang juga mendekatinya.
Sekali lagi, kita sedang membahas warna dalam mimpi... Itu bisa dilihat tanpa perlu menjadi tersamar, kecuali kalo kita memakai bahasan2 filosofis seperti yang anda tulis....


Eniwei, jika pembuktian empiris terlihat terlalu berlebihan, penjelasan berupa positivisme logis pun nggak apa2 deh... :D


Sekedar mengingatkan, nama sub forum ini adalah Science & Penemuan ...




-dipi-
 
Gw pernah mimpi ngeliat 3 org cewek (1 pake baju merah, 1 pake baju hijau dan satunya lg pake baju putih) lwt d dekat ibu2 pake baju warna coklat yg sedang duduk d bawah pohon (yg pastinya warna hijau) bersama anjing hitam d dekat sungai yg airnya berwarna biru langit
Dr situ gw yakin mimpi itu berwarna
 
Colors in Dream

Dreaming in Black & White

Wah maaf sebelumnya, pernyataan seperti ini harus saya bantah dengan keras.
Sesuatu dapat dimasukkan ke dalam apa yang disebut sebagai science ketika sudah terbukti secara empiris dan dari pembuktian itulah bisa diakui kebenarannya atau tidak, melalui pandangan umum dan bukan pandangan pribadi...

Terkadang suatu pertanyaan tidak dapat dijawab oleh sejumlah ahli, lalu tidak berarti sesuatu terjawab / tidak terjawab (bukan tugas para ahli untuk meyakinkan kita), tetapi tugas kita sendiri untuk menganalisa data dari para ahli atau siapapun untuk ditarik kesimpulan.

Melalui pandangan umum yang mana sejauh pengetahuan anda yang menegaskan tentang ada atau tidaknya warna dalam mimpi ? Bahkan di antara para ahli pun (dan pandangan umum pun) dapat terjadi pertentangan.

Yang kita bahas di sini itu soal warna dalam sebuah mimpi, bukan? Dan itu sedari awal sudah saya jelaskan dalam kerangka science...

Nah jika anda masih berkenan, saya harap masih bisa menjelaskan apa yang sudah anda sebutkan di awal postingan itu, karena bagi saya hal yang anda sebutkan itu adalah sesuatu hal yang baru di dalam dunia science... Saya merasa pengetahuan soal itu sangat terbatas, sehingga saya meminta anda untuk menjelaskannya, tentu dalam kerangka science... Sesuai dengan nama forum ini...

Jadi silahkan giliran anda menjelaskannya tanpa perlu menggunakan bahasan2 yang bersifat filosofis... :)(

Semangat dari science yang terutama adalah berlandaskan eksplorasi. Lalu bagaimana jika kita hanya membatasi eksplorasi ke luar yang dianggap empirik dan mengabaikan eksplorasi ke dalam menggunakan meditasi, dapat dianggap kita telah melakukan kegiatan science yang lengkap ?

Kalau anda menganggap science selalu mengarah ke luar, maka seharusnya pembahasan ini diletakkan di bagian spiritual, tetapi kalau anda setuju pemahaman saya tentang science yang seimbang, maka jawaban saya juga sudah merupakan eksplorasi science. Tidak selalu eksplorasi ke dalam diri selalu dianggap meninggalkan science.

Dulu hipnotis dianggap urusan dalam, klenik, spiritual. Dan sampai sekarangpun masih dapat dianggap spiritual dan di beberapa tempat bukan merupakan klenik, tetapi batasannya telah dapat diterima di dunia psikiatri (telah banyak untuk menolong pasien), dan dalam beberapa kasus melibatkan obat-obatan untuk membantu memperkuat peluang seseorang dapat terhipnotis (sodium penthatol).

Sekali lagi saya jelaskan, science yang mana ? Bahkan pendapat science pun juga banyak saling bertentangan. Lagipula bukan science yang mana, bahwa jawaban hipnotis atau meditasi sebagai titik pemerjelas akan adanya warna dalam mimpi bukan merupakan jawaban science.

Meditasipun juga merupakan jawaban kategori science, sejauh science telah dapat mengakui kenyataannya.

Sekali lagi, kita sedang membahas warna dalam mimpi... Itu bisa dilihat tanpa perlu menjadi tersamar, kecuali kalo kita memakai bahasan2 filosofis seperti yang anda tulis....

Nampaknya anda terjebak dengan tipikal jawaban "hipnotis & meditasi" serta "lucid dream" sebagai penegasan yang tidak ilmiah. Tetapi yang benar adalah bahwa science telah mengakui kenyataan meditasi & hipnotis serta "lucid dream" dan seiring dengan pengakuan tersebut telah banyak dilakukan riset dan menghasilkan banyak kemajuan pemahaman terhadapnya. Dan kalau anda bersedia mengeksplorasi lebih lanjut, anda akan menemukan fakta bahwa:

Melalui (kenyataan) meditasi, hipnotis dan lucid dream dan riset perbandingan, ternyata alam mimpi hanyalah salah satu bagian dari yang dapat dialami melalui meditasi, termasuk salah satunya keadaan lucid dream (mimpi jelas). Dan dari sini dapat diketahui bahwa pengalaman lucid dream melibatkan warna. Dan semakin anda mendalami (mempelajari) hasil penelitian terhadap meditasi & hipnotis, serta lucid dream, akan dipahami bahwa mimpi memiliki warna.

Eniwei, jika pembuktian empiris terlihat terlalu berlebihan, penjelasan berupa positivisme logis pun nggak apa2 deh... :D

Kalau anda meminta pembuktian empiris yang sejati, maka sudah seharusnya, bukan sekedar menulis jawaban di forum ini, tetapi diikutsertakan alatnya (REM - Rapid Eye Movement) detector, dan masing2 dari kita juga dapat melihatnya & dapat disentuh (sehingga terlihat sangat empiris :) ).

Demikian pula seperti sudah saya jelaskan

3. Entah pemimpi mengenal warna atau tidak, tetapi ia mengalami mimpi yang sangat kuat bahkan sampai taraf "lucid dream", maka boleh jadi ia juga dapat melihat objek yang dikenali atau tidak dan boleh jadi juga dapat melihat warna

Anda masih tidak melihat pembuktian empirisnya ? Atau mungkin maksud anda , bahwa empiris itu tidak hanya sekedar dapat dilihat, tetapi dapat juga dipegang, disentuh ? Anda terlalu membatasi suatu kebenaran sebatas empiris (dapat dipegang, dilihat, disentuh dll). Bagi saya sesuatu adalah empiris dikarenakan adanya konsistensi. Bukankah science bertujuan menemukan konsistensi untuk dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.

Lalu pertanyaan saya: menurut anda, empiris yang seperti apa (menurut anda) yang menegaskan tentang ada/tidaknya warna di dalam mimpi (menurut anda) ? Atau lagi lagi ini disebut (mengarah kepada) filosofis ?

Sekedar mengingatkan, nama sub forum ini adalah Science & Penemuan ...

Apakah kalau kita bertanya dan meminta jawaban science, lalu science harus menjawab atau memberikan pengumuman terbuka bahwa ada suatu jawaban bagi suatu pertanyaan ? Tidak selalu setiap pertanyaan dijawab secara langsung oleh suatu bidang science, tetapi boleh jadi melalui beberapa pengalaman science dapat disimpulkan jawaban bagi suatu pertanyaan. Dan tidak menjawab secara langsung berdasarkan science, tidak juga berarti tidak science.

Kalau anda pahami inti dari filsafat dan menerapkan yang benar, maka sebenarnya tidak ada ilmuwan yang tidak sedang memanfaatkan proses berfilsafat.

Terlalu menuntut science untuk menjawab setiap pertanyaan dengan tegas, hanya membuat kita tumpul di dalam menganalisa dan mendayagunakan data-data science untuk dapat dikembangkan lebih lanjut (atau untuk dapat menjawab pertanyaan lain lebih lanjut).
 
Last edited:
He he he.... berputar2 dan melebar ya?...
Dan masih berfilosofi dan mengambang...

Baiklah, anggap saja saya memang nggak cukup paham dan masih harus belajar banyak untuk memahami dan berdiskusi pada hal2 yang berbau filosofis seperti ini, sehingga saya bisa juga nanti setelah belajar banyak, suatu saat bisa memposting hal yang berbelit2 untuk hal yang seharusnya bisa dibahas lebih sederhana....

Dan karena sepertinya pembahasan kita ini tidak akan menemui titik temu karena tidak berangkat dari satu bidang yang sama (walaupun sebenarnya apa yang sudah saya posting pertama kali itu nggak ada bedanya dengan yang anda utarakan secara garis besarnya), saya sepertinya harus belajar banyak dari den Seremoni .... :)(

Terlalu sering kening saya berkerut dalam diskusi kali ini... Saya duga itu terjadi karena saya bodoh dan nggak paham.... :))




-dipi-
 
He he he.... berputar2 dan melebar ya?...
Dan masih berfilosofi dan mengambang...

Baiklah, anggap saja saya memang nggak cukup paham dan masih harus belajar banyak untuk memahami dan berdiskusi pada hal2 yang berbau filosofis seperti ini, sehingga saya bisa juga nanti setelah belajar banyak, suatu saat bisa memposting hal yang berbelit2 untuk hal yang seharusnya bisa dibahas lebih sederhana....

Dan karena sepertinya pembahasan kita ini tidak akan menemui titik temu karena tidak berangkat dari satu bidang yang sama (walaupun sebenarnya apa yang sudah saya posting pertama kali itu nggak ada bedanya dengan yang anda utarakan secara garis besarnya), saya sepertinya harus belajar banyak dari den Seremoni .... :)(

Terlalu sering kening saya berkerut dalam diskusi kali ini... Saya duga itu terjadi karena saya bodoh dan nggak paham.... :))




-dipi-

Ha ha ha bukan begitu sebenarnya. Kesederhanaannya sebenarnya sudah saya jelaskan. Bahwa pengalaman lucid dream adalah diakui, dan melaluinya terjelaskan adanya level mimpi (derajat kejelasan mimpi). Dan melaluinya pula dapat disimpulkan bahwa ada warna dalam mimpi.

Dan bahwa anda merasa sudah menjelaskan sebelumnya, menurut saya pernyataan tentang "lucid dream" pada topik ini belum disertakan sebelumnya.

Dan bahwa anda membawa-bawa science dan empiris, itu yang menyebabkan jadi melebarnya pembahasan (yang kalau demikian memang harus dijelaskan agar batasannya jelas). Namun sebenarnya secara praktis dalam hal ini sejauh kebenaran lain diakui kenyataannya (lucid dream) dan darinya dapat memperjelas permasalahan, maka ini sudah merupakan langkah awal yang cukup untuk memperjelas pertanyaan ini. Ini adalah kesederhanaan yang juga sudah saya jelaskan dari awal.

Tapi ok, bagaimanapun saya menghargai diskusi ini. Tidak ada seseorangpun yang lebih dan paling lengkap di dalam pengetahuan apapun. Mari saling memperkaya peace :)
 
Last edited:
wah saya juga baru tahu istilah "den", kalau di kaskus "gan" disini kesepakatannya pakai "den" ya :) thanks den Dipi
 
Last edited:
Sedikit penjelasan dari saya soal ini...
Kesederhanaannya sebenarnya sudah saya jelaskan. Bahwa pengalaman lucid dream adalah diakui, dan melaluinya terjelaskan adanya level mimpi (derajat kejelasan mimpi). Dan melaluinya pula dapat disimpulkan bahwa ada warna dalam mimpi.
Sedari awal saya nggak pernah menafikan adanya warna dalam mimpi, saya hanya membedakan warna yang dilihat oleh mata dan warna yang dihasilkan dari perasaan.... :)(


Oh iya... den itu di forum ini untuk panggilan buat user cowok, sedangkan user cewek biasa disebut dengan Non...

Dan panggil saya Non... jangan den... karena sampai saat ini, saya masih seorang perempuan tulen... :D



-dipi-
 
Sedikit penjelasan dari saya soal ini...

Sedari awal saya nggak pernah menafikan adanya warna dalam mimpi, saya hanya membedakan warna yang dilihat oleh mata dan warna yang dihasilkan dari perasaan.... :)(


Oh iya... den itu di forum ini untuk panggilan buat user cowok, sedangkan user cewek biasa disebut dengan Non...

Dan panggil saya Non... jangan den... karena sampai saat ini, saya masih seorang perempuan tulen... :D



-dipi-

oopps, he he he, kalau begitu dipersori ya non Dipi. Terima kasih juga mengingatkan saya, kalau saya juga masih seorang pria tulen, hehehe :)
 
kalau pengalamanku, dalam kondisi lucid dream aku pernah melakukan percobaan yaitu melihat warna, aku melihat mimpi itu memang benar benar berwarna, merah terlihat jelas merahnya, biru benar-benar terlihat biru. semua "terlihat" jelas dan nyata (kebetulan ada fasilitas zoom :) ).

namun warna yang terlihat bukanlah warna yang "nyata", maksudnya dalam arti melalui proses indera pengelihatan.
 
tia pernah mimpi ketemu orang berambut hitam panjang dan mengenakan jubah berwarna merah sedang meliha tia dari sudut bangunan yang jaraknya beberapa meter dari tia, itu berarti mimpi tia berwarna, karena tia bisa lihat dengan jelas warna rambut dan pakaian yang dikenakan sama orang itu
 
Status
Not open for further replies.
Back
Top