Cerita Seratus Kata

59. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi
 
59. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali
 
60. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku
 
61. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat
 
62. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok
 
63. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin,
 
64. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang
 
65. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas
 
66. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada
 
67. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga



OOT dikit :
Buseet ini makin lama ceritanya makin parah aja, mules ketawa baca lanjutan ceritanya..
btw kak dipi, kalo udah jadi 100 kata di review dihalaman pertama ya pengen tau hasil akhir ceritanya
 
68. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam
 
69. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga
 
70. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga lunglai.
 
71. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga lunglai. lalu
 
72. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga lunglai. lalu dia
 
Last edited:
73. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga lunglai. lalu dia terlihat
 
74. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga lunglai. lalu dia terlihat menantang
 
75. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga lunglai. lalu dia terlihat menantang lagi
 
75. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga lunglai. lalu dia terlihat menantang lagi lawan
 
77. Kami masih ingin kembali ke saat terindah dulu. Tapi sepertinya musibah itu datang menjemputnya, kemudian terdengar suara kentut... bau! Memuakkan! Namun ketika mencium aroma bunga bangkai, aku menjadi merasa bergairah untuk menamparnya. Malam ini ingin aku tidur, melupakan wajah mandra yang seperti traktor. Sesaat sementara aku terangsang oleh film kartun ketika adegan terjatuh, paha sang nenek terluka, berdarah.

Pagi-pagi sekali aku melihat kodok kawin, yang lemas tiada tenaga dalam raga lunglai. lalu dia terlihat menantang lagi lawan kawinnya
 
Back
Top