Legit Harum Kue Kolmbeng, Kue Jadul yang Selalu Bikin Kangen

spirit

Mod
c6cf008d-1eef-45f6-82e4-3c9f89569e39.jpeg

Tampilannya sederhana, bewarna kecokelatan dan berbentuk kotak. Tapi rasanya manis, legit, dan empuk saat digigit. Kue kuno ini selalu bikin kangen.

Kue kolmbeng atau kolombeng merupakan kue adaptasi Belanda. Orang sering menyebitnya roti Jawa. Di Sumatra Utara dikenal sebagai kue Manado. Di Yogya kue ini sering dijajakan dalam tenongan keliling.

Namun, sejak tahun 2011 kue ini sudah jarang ditemui, terutama di Yogyakarta. Kue dengan warna cokelat polos dan menggembung di bagian tengah, mirip bantal kecil. Rasanya manis, legit, dan terasa empuk saat digigit. Sebaliknya, bagian pinggiran kue atau roti ini justru garing dan beremah. Jika tidak hati-hati menggigit, remahanny akan menempel di bibir.

Meskipun sudah mulai pudar kejayaannya, bagi Anda pecinta kue jadul seperti kue kolmbeng ini masih bisa menikmatinya. Hingga kini masih ada yang memproduksi kue ini, Giman Cipto Giyono.

Ia memproduksi kue ini di rumahnya sejak tahun 2000. Berlokasi di Dusun Diran Rt.67 Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo. Giman bersama 2 karyawannya masih setia memproduksi kue ini meski peminatnya menurun. Aroma wangi kue yang enak tercium saat memasuki rumah pak Giman.

"Meskipun sedikit yang pesan tetap saya buatkan. Karena saya ingin melestarikan kue kolmbeng ini," ungkapnya.

Di Kota Yogyakarta, kue kolmbeng dulu hanya dijual oleh pedagang tenongan dengan cap PA, atau Paku Alaman. Di luar Pasar Beringharjo. Kelurahan Paku Alaman memang sempat terkenal sebagai sentra penghasil kue kolmbeng mulai 1950-an sampai sekitar akhir era 1990-an.

Diusianya yang kini 73 tahun, Giman masih tetap aktif memproduksi kue kolmbeng hingga 3.000 buah per harinya. Yang dipasarkan di Bantul, Yogyakarta, dan Kulon Progo.

Menurutnya mulai tahun 2011 peminat kue kolmbeng mengalami penurunan karena banyaknya varian makanan modern. "Dulu saya bisa memproduksi seminggu 6 kali dengan 6 adonan perharinya. Sekarang cuma 2-3 kali dalam seminggu, dan maksimal 2 adonan per harinya. Satu adonan bisa jadi 550 biji," tambahnya.

Bahan kue kolmbeng ini sangat sederhana, hanya tepung tapioka, gula, telur, dan ragi . Semua bahan dicampur menjadi satu. Adonan tersebut kemudian dituang ke dalam sebuah loyang dengan 10 lubang dan dipanggang di atas tungku tanah liat selama sekitar lima menit.

Cara pemanggangannya cukup unik. Bukan oven yang digunakan, melainkan wadah gerabah yang disebut mandeng. Loyang dimasukkan ke mandeng tersebut dan ditutup dengan mandeng lain yang berisi bara api. Jadi kue dipanggang dengan api atas dan bawah.

Kue pun diangkat jika sudah matang dan berwarna kecokelatan lalu dikeluarkan dari cetakan saat masih panas. Kue kolmbeng terlihat mengembang saat baru saja matang. Namun, kue itu akan mengempis menjadi hanya sekitar setengahnya kalau sudah dingin. Untuk kue kolmbeng ini dapat bertahan hingga 7-10 hari saja karena tidak menggunakan bahan pengawet dan pemanis buatan.

Kue ini tidak menggunakan margarin, cokelat ataupun topping seperti meisjes. Kesederhanaan inilah yang menjadikan masyarakat khususnya di desa, tetap menggemari dan menjadikannya cemilan atau oleh-oleh. Terkadang kue ini digunakan untuk sesaji, acara pernikahan, dan acara ruwah dalam tanggalan Jawa, serta acara tradisi.

Nama kolmbeng berasal dari bahasa Belanda 'kolombijn' yang artinya kue tanpa lemak atau margarin atau mentega. Ada juga yang menyebut kolmbeng adalah singkatan kalimat bahasa Jawa, (kolo mbiyen) yang berarti masa lalu.

"Kalau singkatannya dalam bahasa Jawa Kolo Mbiyen, yang artinya masa lalu. Mungkin karena roti ini selalu mengingatkan kita akan kenangan masa lalu, ketika makanan enak masih jarang dijumpai," katanya.

Bagi Anda yang penasaran dengan rasanya, bisa datang ke pasar Beringharjo Yogyakarta, tepatnya di depan pintu masuk sebelah selatan, kiri jalan. Untuk harganya pun cukup murah yaitu Rp.900 per biji nya.

Dengan Anda membeli kue jadul ini, Anda membantu untuk melestarikannya. Empuk manis rasanya cocok dinikmati dengan kopi atau teh hangat.




sumber
 
Last edited:
Back
Top