Takdir yang menyatukan
 
Go Back   Home > Cerita Pendek Cerpen, atau Bersambung

Daftar
Lupa Password?


Upload Foto Video Umum Radio & TV Online


Takdir yang menyatukan

Loading...



 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #1   Report Post  

Takdir yang menyatukan

namaku adalah Daniel, umurku 27 tahun, aku bekerja di sebuah perusahaan sebagai kepala...... perjalanan karirku bisa dibilang sangatlah baik, karena dalam usia yang cukup muda akus udah menjabat sebagai kepala....

dengan karirku yang bagus seperti ini, tidak jarang wanita yang mendekatiku, mereka juga cantik-cantik ku akui itu tapi entah kenapa aku tidak menaruh hati pada mereka, apakah aku bodoh? atau memang ada kelainan? hahaha... aku rasa aku masih normal, karena aku masih suka membaca majalah dewasa.

hari ini ada meeting disebuah Restoran di hotel berbintang yang terletak di jakarta pusat, selesainya acara saat aku hendak bangun untuk meninggalkan restoran tidak sengaja aku menyenggol seorang wanita yang sedang membawa segelas Tea sehingga membuat bajunya kotor terkena tea itu.

"ah, maafkan saya.. saya tidak sengaja" kataku panik sambil berusaha membersihkan bajunya menggunakan sarung tangan yang kubawa

"tidak apa-apa pak... terima kasih..." kata wanita itu lembut sambil memegang tanganku

saat ku melihat wajahnya aku rasa aku langsung jatuh cinta, wajahnya yang manis, bibirnya yang tipis.. matanya yang sedikit sipit... rambutnya terurai bergelombang membuatku terpana

"maaf, bapak tidak apa-apa?" tanyanya menatap wajahku yangs edang melamun

"ah, i-iya tidak apa-apa... sekali lagi maafkan saya"

wanita itu tersenyum, senyumnya sangat manis sekali, sepertinya ini kesempatanku untuk kenal lebih dekat dengannya, tanpa ragu ku ajak dia makan untuk membayar kesalahanku tadi

"tidak usah pak.. tadi juga salah saya tidak lihat kedepan.." wanita itu menolak

"tidak apa-apa.. jika anda menolak saya makin merasa tidak enak... mari silahkan duduk" aku mengajaknya duduk di depanku dan memberikan menu padanya

akhirnya dia menerima tawaranku dan mau memesan salah satu makanan yang ada di menu, aku membuka topik untuk lebih akrab dengannya, dan akhirnya ku ketahui, dia sedang menginap di hotel ini untuk beberapa hari dan sekarang sedang makan siang seorang diri.

"tidak dengan teman-temanmu?" tanyaku padanya

"hmm? tidak, aku lebih suka sendirian.. lebih tenang" katanya sambil tersenyum

"wah.. jarang sekali wanita sepertimu ya, biasanya wanita itu lebih suka menghabiskan waktu bersama teman sesama wanita dan bergosip sepanjang hari" kataku tertawa kecil

"hahaha tidak semuanya kok...tapi menyenangkan juga mengobrol seperti ini dengan seseorang" katanya sambil tersenyum penuh arti padaku

sepertinya wanita ini kesepian, terlihat jelas dari wajahnya yang terlihat murung sejak tadi

"ini.." ku serahkan kartu namaku padanya "jika kau butuh teman mengobrol,kau bisa hubungi aku, aku bisa menemuimu kapan saja untuk mengobrol.."

dengan wajah senang dia menerimanya "terimakasih.." katanya sambil memegang erat kartu namaku "baiklah... kalau begitu siapa namamu nona yang manis?" kataku gombal

"hahaha bisa saja... namaku Nabila" katanya malu-malu "baiklah Nabila, aku harus kembali ke kantor sekarang... jika butuh teman ngobrol hubungi saja aku" ku beranjak dari kursi dan melangkah pergi sambil melambaikan tangan padanya

entah kenapa selama di kantor wajah wanita itupun tidak dapat hilang dari pikiranku, aku seperti terhipnotis oleh wajah manisnya, ya tuhan... apa aku sedang jatuh cinta? tidak mungkin kan? ini baru pertama kali aku melihatnya, mana mungkin aku menyukainya! rambitku sudah berantakan tidak karuan karena sejak tadi tidak henti-henti ku acak-acak karena pikiranku yang tidak menentu.

"ya tuhan, kenapa tadi aku tidak meminta nomor nya? bodohnya aku... percuma aku memberikannya kartu nama, karena belum tentu dia mau menghubungiku, orang yang baru dikenalnya beberapa jam lalu" aku memukul kepalaku sendiri karena kesal

waktu sudah menunjukan pukul 5 sore saatnya untuk aku kembali ke rumah pribadiku, rumah yang ku beli dengan bekerja keras selama satu tahun ini dan lumayan besar untuk ku isi bersama keluarga baruku kelak

setelah ku selesai mandi, terengar handphoneku berbunyi, nomor yang muncul tidak ku kenal dan tidak ada dalam kontak "siapa ya?" tanyaku dalam hati, tanpa banyak berpikir langsung ku angkat panggilan tersebut "halo?"

terdengar suara wanita yang menjawabku suaranya sedikit lirih seperti habis menangis "iya halo ini siapa ya?"

"maaf pak bila mengganggu... saya Nabila, tadi siang tidak sengaja kita bertemu pak"

mendengar nama Nabila rasanya jantungku mau melompat dari dada, sangat gembira sekali aku. "ooh Nabila... aku kira siapa yang telp... ada apa? suaramu kenapa lemas sekali?"

di saat itu mulailah Nabila bercerita banyak tentang masalah hidupnya, ia ternyata adalah istri dari seorang direktur sebuah perusahaan yang cukup besar, namun ia sangat kesepian karena suaminya sangat jarang pulang kerumah karena itu ia sangat sedih.

"kamu harus sabar ya, suamimu kan bekerja untuk kamu juga"

"iya tapi aku tidak menginginkan semua uang itu bila malah aku yang jadi kesepian seperti ini, aku juga butuh kehadirannya bukan hanya uangnya"

setelah beberapa lama aku mendengarkan keluh kesahnya akhirnya kami putuskan untuk bertemu kembali agar bisa bercerita lebih nyaman daripada melalui handphone seperti ini

hari berikutnya kami bertemu di restoran hotel yang sama saat pertama kali kami bertemu, disana kami saling tukar pikiran, bercanda, memikirkan banyak hal dimasa depan, tanpa disangka-sangka kami banyak sekali kecocokan

mulai dari hari itulah kami sering bertemu dan entah sejak kapan ada rasa cinta yang tumbuh di antara kami

bagiku ini adalah cinta, cinta yang benar-benar tulus untuknya tapi aku hanya bisa memilikinya sesaat, aku sadar ia sudah menjadi milik orang lain, namun hal itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk menjalin hubungan ini, kami tau hal ini salah, namun aku tidak bisa melepaskan dia, aku terlanjur sayang padanya

sudah sekitar 5 bulan kami menjalin hubungan terlarang kami tanpa ada seorangpun yang tau. suatu hari Nabila datang dengan terburu-buru "mas, coba tebak aku punya kabar baik apa untukmu?" katanya seperti bermain tebak-tebakan denganku "apa sih...? sepertinya kamu senang sekali"

"tentu saja aku senang mas... kita akan punya anak"

"anak!?"

entah aku harus senang atau takut, karena ini adalah hasil hubungan gelap kami, bagaimana kalau sampai suaminya curiga dan mengetahui kalau akulah bapak dari si anak tersebut?

"kamu yakin itu anakku?"

"tentu mas... sudah beberapa lama ini aku hanya tidur denganmu, suamiku belum pernah kembali dari luar negri, aku yakin 100% kalau ini anak kita"

mendengar hal itu membuatku senang juga takut "apakah setelah anak itu lahir dia akan mengenalku? apakah ia akan tau kalau aku adalah ayahnya?

"suatu saat... suatu saat nanti pasti anak ini akan tau mas..."

9 bulan telah berlalu, dan anakku pun lahir. walau aku juga sangat sedih karena aku tidak bisa menemaninya saat melahirkan karena suami sahnya selalu ada di sampingnya dan menemaninya

setelah anak kami lahir, suaminya sangat sayang padanya, kehangatan dalam rumah tangga kini Nabila rasakan, kini suaminya sudah mengurangi kegiatan diluar negri karena tidak ingin melewatkan pertumbuhan anaknya, bukan tapi anakku

waktu untukku bertemu Nabila kini sulit dilakukan, bahkan aku hanya bisa melihat dari jauh anak kandungku bermain di rumahnya bersama orang tuanya

inilah yang sejak dulu ku takutkan, kesedihan tidak dapar hidup bersama orang-orang yang ku sayangi dan ku kasihi

setelah 4 tahun berlalu, dan aku sudah memutuskan menyerah untuk menghubungi Nabila dan juga anakku, tiba-tiba saja Handphoneku berbunyi dan Nabila lah yang menelponku

ia memintaku untuk menunggunya di restoran tempat pertama kali kita bertemu, jam pulang kerja aku langsung menuju kesana dengan suasana hati yang tidak menentu "apa yang ingin Nabila katakan padaku?"

setelah 10 menit menunggu datanglah Nabila bersama seorang anak laki-laki yang berjalan di sampingnya sambil menggenggam tangan Nabila

"selamat sore mas..."

"sore Nabila... kenapa jadi formal begitu..." aku tidak bisa melepaskn pandangan mataku dari anak yang bersamanya "nabila... anak itu..." Nabila tersenyum dan memperkenalkan sang anak

"ini anak kita mas... namanya Bayu" mendengar kalau dia adalah anakku betapa bahagianya aku, kini anakku sudah besar... sudah 5 tahun aku tidak melihatnya... kini ia jadi anak yang tampan

"anakku... bayu..." ku berjongkok mendekati Bayu kemudian ku peluk dia dengan penuh sayang

tanpa berlama-lama ku tawarkan mereka duduk dan memesan apapun yang mereka suka terutama Bayu, ia terlihat senang sekali mendapat makanan yang ia suka tanpa dilarang oleh ibunya

"suamimu pergi lagi Nabila? karena jarang sekali kau bisa keluar mengajak Bayu apalagi sampai bertemu denganku..."

"itu... aku kesini memang ada kaitannya dengan hal itu mas"

aku sedikit terkejut dan bingung atas perkataan Nabila "maksudmu?" kini wajah Nabila terlihat sangat sedih dan ia memeluk Bayu sangat erat

"5 bulan lalu suamiku meninggal dunia karena serangan jantung"

mendengar kabar tersebut membuatku sedikit bersedih, karena aku tau Nabila sayang pada suaminya walau ia mencintaiku, namun di bagian hatinya yang lain suaminya masih mendapat posisi yang dalam

"aku turut berduka atas kepergian suamimu"

"terima kasih mas... karena itu aku kesini... Bayu membutuhkan sosok seorang ayah... tidak ada lagi pria lain yang pantas menjadi ayahnya selain Mas... dan lagi kebenarannya adalah Mas itu ayah kandung dari Bayu"

mendengar hal itu aku sangat bahagia, ku tatap lekat-lekat anakku yang tampan, tidak dapat ku tahan senyum lebarku karena rasa bahagia yang teramat besar

"aku akan benar-benar jadi ayahnya? tanpa harus memandangnya dari jauh lagi?" tanyaku tak percaya

"tentu saja mas... dan kita akan hidup bersama selamanya"

2 bulan setelah hari itu, kami memutuskan meresmikan hubungan kami. sebelum kami menikah, kami mendatangi makam suami Nabila sebelumnya dan aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh atas kebenaran yang sebenarnya terjadi, aku meminta maaf karena telah memiliki hubungan dengan istrinya secara diam-diam

aku berjanji demi suaminya dan juga diriku sendiri akan menjaga Nabila dan Bayu san akan menyayangi mereka menggantikan suaminya yang telah tiada...




Tamat
tiaseptiani
tiaseptiani tiaseptiani is offline
World Level

Post: 27.602
 
Reputasi: 304

akbar54:
__________________
Naikkan reputasi orang lain yang membantu, atau anda sukai!

Loading...
       





Reply With Quote     #2   Report Post  

Re: Takdir yang menyatukan

mantap ceritanya
Tonisanjaya Tonisanjaya is offline
Continent Level

Post: 4.042
 
Reputasi: 20






Reply With Quote     #3   Report Post  

Re: Takdir yang menyatukan

wew....ngenes di pertengahan cerita,klo dia punya suami wkkwk...
Tsanie Tsanie is offline
National Level

Post: 978
 
Reputasi: 20






Reply With Quote     #4   Report Post  

Re: Takdir yang menyatukan

bagus nih ceritannya ,,,repu buat anda
akbar54 akbar54 is offline
National Level

Post: 1.654
 
Reputasi: 7






Reply With Quote     #5   Report Post  

Re: Takdir yang menyatukan

kasian da eh ter nyata dia udah punya suami
hasanacong hasanacong is offline
City Level

Post: 124
 
Reputasi: 4



loading...



Reply With Quote     #6   Report Post  

Re: Takdir yang menyatukan

, cerita ini pernah kejadian waktu tahun lalu, yg dialami teman saya yg sudah lama menjomblo lalu jatuh cinta kepada perempuan yg sudah bersuami :D
, sekalinya jatuh cinta sama cewe yg sudah menikah , hadeeuuuhhh :(
adienoviyani
adienoviyani adienoviyani is offline
National Level

Post: 1.928
 
Reputasi: 7

Reply
 

Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search





Pengumuman Penting

- Pengumuman selengkapnya di Forum Pengumuman & Saran


Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.