Bikin Cerpern Yuk?
 
Go Back   Home > Cerita Pendek Cerpen, atau Bersambung

Daftar
Lupa Password?


Upload Foto Video Umum Radio & TV Online


Bikin Cerpern Yuk?

Loading...



 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #11   Report Post  

Re: Bikin Cerpern Yuk?

karya anda bagus mas BC, maaf saya singkat aja ya namanya. nggak kalah bagusnya dengan yang punya mas imnanay
semoga ruangan ini menjadi kelahiran para sastrawan-sastrawati berbakat indonesia
Mawardian Mawardian is offline
City Level

Post: 114
 
Reputasi: 0

Loading...
       





Reply With Quote     #12   Report Post  

Re: Bikin Cerpern Yuk?

Kutip:
Oleh Mawardian View Post
karya anda bagus mas BC, maaf saya singkat aja ya namanya. nggak kalah bagusnya dengan yang punya mas imnanay
semoga ruangan ini menjadi kelahiran para sastrawan-sastrawati berbakat indonesia
makasih mbak dian btw saya tidak begitu pandai menulis cerpen tadi itu ngasal aja;) tapi kalo puisi yg melo-melo sedikit bisalah :)
tapi gimanapun terimakasih.....
BlackCloud
BlackCloud BlackCloud is offline
City Level

Post: 103
 
Reputasi: 0

__________________
Ada kala manusia mencipta duka
dlm catur dunia
kita hanyalah bidak diatas kotak putih hitam
dimeja Tuhan yg takkan pernah dpt kita tebak
kekotak mana qta akan dipindahkanNya





Reply With Quote     #13   Report Post  

Re: Bikin Cerpern Yuk?

Kutip:
Oleh BlackCloud View Post
makasih mbak dian btw saya tidak begitu pandai menulis cerpen tadi itu ngasal aja;) tapi kalo puisi yg melo-melo sedikit bisalah :)
tapi gimanapun terimakasih.....
Ah mas BC (maaf namanya saya singkat) bisa aja, ceritanya bagus kok. :mantapp:
saya harap sih tetep semangat buat mengasah Skill-nya mas, kayaknya bakat sastranya mas emang udah jadi bakat alam. Semangat terus mas, saya tunggu karya berikutnya :wink:=b=
D3mytrhee
D3mytrhee D3mytrhee is offline
City Level

Post: 435
 
Reputasi: 4






Reply With Quote     #14   Report Post     Original Poster (OP)

Re: Bikin Cerpern Yuk?

cerita mas BC cocok banget buat dijadiin naskah film ato sinetron. Ada bakat kenapa nggak dikembangin aja mas? (nggak pake bohong, beneran!)
Megha
Megha Megha is offline
World Level

Post: 16.425
 
Reputasi: 547






Reply With Quote     #15   Report Post  

Re: Bikin Cerpern Yuk?

kalo suka ama cerpek wak kasi bintang dong :D
BlackCloud
BlackCloud BlackCloud is offline
City Level

Post: 103
 
Reputasi: 0

__________________
Ada kala manusia mencipta duka
dlm catur dunia
kita hanyalah bidak diatas kotak putih hitam
dimeja Tuhan yg takkan pernah dpt kita tebak
kekotak mana qta akan dipindahkanNya


loading...



Reply With Quote     #16   Report Post     Original Poster (OP)

Re: Bikin Cerpern Yuk?

Pastinya...
Stars is sended guys!!
Megha
Megha Megha is offline
World Level

Post: 16.425
 
Reputasi: 547






Reply With Quote     #17   Report Post  

Sebuah Luka Bagi Sang Demonstran

Saya ikutan ya Mbak Megha :wink:


Sebuah Luka Bagi Sang Demonstran

Oleh : Peri Umar Farouk


Inilah representasi rakyat kecil yang aku bela, secuil kehidupan di sederet gerbong kereta api kelas ekonomi. Pertama kali kuinjakkan kaki di lantai kereta ini, aku telah mencium bau rakyat. Hawa yang panas dan suasana kumuh mempertegasnya. Aliran deras pedagang asongan dan teriakan teriakannya yang cerewet, lucu bahkan cabul, memberikan kepusingan tersendiri.

“Koran, koran, koran, koran… Koran Oom?”

“Cel, pecel. Pecelnya bu? Pak… Pecel, pecel…”

“Kacang ibu rambutan, kacang ibu rambutan, telor bapak rambutan…”

“Akua, akua… Teh kotak, kolonyet, pe pe o…”

Kuperhatikan, sepanjang aku berjalan mencari tempat duduk, kaca kaca yang menjadi dinding kereta ini tak satupun yang bersih. Semuanya kotor dan berdebu. Juga jok jok bangku dan meja kecil dengan warna karatnya. Cermin kesehatan rakyat.

“Bang, bang, korannya bang!” untuk tidak jatuh terbengong bengong saja aku mencoba membeli koran.

“Ini, Mas. Seratus rupiah saja!”

“Seratus rupiah?!” tanyaku.

“Ini koran lama, Mas. Buat tikar duduk.” jawab si tukang koran acuh tak acuh.

“Yang baru?”

“Wah, saya nggak jual.” sembari jawab si tukang koran ngeloyor pergi, seolah olah tahu betul bahwa aku tak lagi berminat pada koran korannya.

Kampung demi kampung berlari bagai gambar pemandangan yang panjang sedang digulungkan dari arah timur yang entah di mana persisnya. Sawah sawah yang kekeringan air, bukit bukit kecil yang tandus, genangan lumpur di lobang lobang tanah yang bergerenjul batu batu serta suara suara binatang di sepinya makam makam menawarkan selera abadi bagi perjalanan ini.

Di dalam kereta aku telah bermandi keringat. Orang orang lain juga. Ada percakapan dalam bahasa Jawa, Sunda dan lebih sedikit lagi dalam bahasa Indonesia. Dengan fokus yang bermacam macam pula, dari lingkup yang remeh sekali semacam pembicaraan kerumahtanggaan sampai ke hal hal yang menjurus politik(?).

“Toh rakyat tidak sebodoh yang diperkirakan banyak ‘orang pintar’,” benakku berkata. “Mereka punya bergudang gudang permasalahan yang mereka coba jawab sendiri. Apa itu bukan suatu kecerdasan?”

Dari pikiran itu berkembang nostalgia nostalgia petualanganku sebagai salah seorang yang sering disebut oleh banyak pihak sebagai demonstran. Berawal dari persiapan persiapan patriotik yang kulalui bersama kawan kawan sesama mahasiswa, mengetik naskah naskah yang kontroversial, mengecat spanduk serta mencorat coret kertas karton dengan kata kata advokatif bahkan terkadang radikal, sampai meneriakkan yel yel pembelaan dan gelar demonstrasinya itu sendiri.

Lalu kubandingkan jerih payah itu dengan keadaan rakyat yang sebenarnya, yang terpampang kini di depan mata kepalaku sendiri. Ada rasa tak percuma. “Ya, perjuangan perjuanganku mempunyai akar yang kuat, yakni kesengsaraan rakyat dan ketertindasannya dalam perikehidupan yang lebih besar. Lebih penting lagi, adalah ketulusan dan kejujurannya.” Lihatlah, mereka mempunyai wajah yang pasrah, penuh sabar dan jauh sekali dari bayangan bayangan pamrih. Tetapi struktur yang diciptakan bagi keseharian mereka, penuh lorong yang bengis dan jahat. “Apakah, bila Anda seorang manusia dengan hati yang orisinal manusia, melihat hal itu semua hati Anda tidak tergerak sedikitpun untuk membela? Atau tidakkah merasa bersyukur dan berbangga bahwa Anda, dalam satu ruang waktu tertentu pernah melakukan hal hal yang bisa membela keadaan mereka?” Berat juga ternyata mempunyai pikiran pikiran besar seperti itu. Karena beratnya untuk beberapa menit aku pun tertidur.

+++

Setelah mendengar derit kereta yang sepertinya berhenti secara tiba tiba, aku membuka mata. Menggeliat sebentar, lalu melihat ke luar jendela. Sebuah stasiun bangunan tua ramai dengan hilir mudik manusia. Bangku di depanku persis sudah kosong dari orang yang mendudukinya tadi. Disamping kiriku, nenek kurus yang mulutnya kembung oleh susur, sebentar menoleh kepadaku. Kemudian tanpa menawarkan kesan apa apa kembali melihat ke luar jendela, melihat hiruk pikuk yang mungkin pernah dilalui dalam bagian tertentu usianya.

Tiba tiba bahu kananku ada yang menepuk. Halus tetapi memberat pada akhirnya. Aku menoleh. Seorang lelaki kurus dengan muka senyumnya, nyengir. Di bahu kirinya tergantung tas kumal yang berbau anyir.

“Depan kosong ya, Mas ya?” mukanya masih nyengir.

“Kayaknya kosong,” jawabku.

“Jo, sini kosong, Jo!” ia menarik lengan lelaki yang berada di belakangnya. Lelaki yang dipanggil “Jo” itu menoleh, berusaha menyegarkan tampangnya yang agak kaget.

Dua orang lelaki kini duduk di depanku.

+++

Kini kereta berjalan dengan agak lambat, sengaja mungkin untuk menepatkan waktu tiba di stasiun yang bakal dilalui di depan. Kereta api kelas ekonomi memang harus selalu mengalah terhadap aturan cepat lambatnya kereta api kelas kelas lain. Tidak ada aturan yang pasti dan tersendiri bagi kelas ekonomi.

Bosan dengan segala pikiran yang muncul di otakku, kucoba mengobrol dengan lelaki kurus bermuka senyum itu. Dia menempati bangku persis berhadapan denganku. Pas di lutut celananya terdapat robek yang dengan jelas memperlihatkan luka yang masih baru. Ada darah segar di luka itu, sedangkan di sisi sisi robekan celananya bercak bercak darah mengental hitam.

“Kena apa itu Pak, lututnya?” tanyaku membuka percakapan.

“Wah, ketabrak nih,” jawabnya sambil dengan cepat melihat ke arah lukanya. “Tadi pas saya berangkat ke stasiun.”

“Ooo…” sahutku.

“Saya, dari rumah jalan kaki. Lumayan jauh, Mas. Ada mungkin lima kiloan dari rumah saya ke stasiun,” ia melanjutkan bercerita. Dalam hatiku muncul rasa simpati yang makin besar terhadap nasib rakyat kecil seperti bapak ini. Coba bayangkan, untuk bepergian mereka masih harus berjalan kaki sekian jauhnya, padahal banyak kendaraan yang berlalu lalang hanya berpenumpang satu dua orang. Kemubadziran yang sungguh sungguh.

“Ee, di perempatan jalan, kira kira setengah kiloan lagi sampai di stasiun, tiba tiba ada sedan be em we menyerempet dari belakang. Saya terjatuh. Lutut saya agak terseret di aspal butut. Masih untung tidak banyak yang kena.”

“Terus be em we nya lari?” tanyaku.

“Untungnya nggak.” lelaki itu tersenyum.

“Sekarang ini sudah terlalu biasa, orang nabrak terus lari. Jaman sudah biadab!” umpatku.

“Terus sopirnya bagaimana?” tanyaku lagi.

“Sopirnya keluar dari mobil. Yang menumpang mobil itu sebetulnya dua orang. Sepertinya suami istri. Tapi yang keluar hanya yang laki laki. Wuih, pakaiannya bagus. Pakai jam tangan emas, ada cincin batu yang… wah, gagah pokoknya. Saya yang masih terduduk di aspal jalan, sambil mengaduh aduh diangkatnya. Saya terus saja mengaduh,” dia menceritakan itu dengan gerak tangan dan mimik yang lucu. Sepertinya tidak ada beban dengan kejadian sial yang menimpanya. Ya, begitulah rakyat kecil adanya, tidak pernah menuntut macam macam dan bertele tele. Segala sesuatunya bisa menjadi gampang bila berhubungan dengan rakyat kecil, seperti lelaki kurus ini.

Kemudian dia menoleh kepada kawannya yang dari tadi diam saja. Di mataku tampak kawannya itu adalah orang yang baru kali ini naik kereta, naik ke keramaian yang tak teratur. Dari wajah dan gaya duduknya tidak salah lagi, ia adalah orang yang mudah sekali menjadi bingung.

“Jo! Kamu mau makan ya, Jo. Sudah lapar kan?” tanya dia kepada kawannya.

Jauh dari dugaanku, ternyata kawannya itu bisu. Ia hanya membalas pertanyaan lelaki itu dengan aa uu dan gerak tangan yang tidak jelas.

“Oh, sudah lapar juga toh kamu,” kesimpulan lelaki itu dari aa uu kawannya. Dari tas kumalnya ia keluarkan sebungkus nasi. Lalu diserahkannya pada si bisu.

Ia memandangku lagi sambil menepukkan kedua tangan ke pahanya. “Hheah…” hembus nafasnya.

“Terus yang punya be em we itu ngasih apa apa sama Bapak?” tanyaku mencegat lirikan kanan kiri matanya.

“Sebetulnya sopir itu mau memberi saya…” ia berhenti sejenak, lalu menggelengkan kepala sedikit dan mulutnya berbunyi ‘ck’.

“Tapi saya dengan cepat menolaknya. Kebetulan si Sarjo ini menarik saya untuk dipapahnya berjalan.” matanya melihat ke si bisu, yang ternyata bernama Sarjo itu. Sarjo sedang lahap menyuapkan nasi bungkus yang berwarna kuning oleh zat pewarna dengan lauk ikan asin ke mulutnya.

“Jadi Bapak tidak menerima apa apa dari be em, eh… dari yang punya be em we itu?” selidikku.

“Yaah…” jawabnya sambil tersenyum dan membuka tangannya. Bisa dipastikan, bagaimana makin meningkatnya rasa simpatiku padanya, pada seluruh rakyat kecil yang dalam niat, pikiran pikiran, ucap, teriakan, yel yel dan demo demo yang kulakukan aku bela. Kata yaah nya, senyum kecil dan gerak membuka tangannya hanya bermakna satu dalam otakku, ia tak menerima sesuatu. Tepatnya ia tidak berpamrih pada hal hal yang dirasa bukan haknya. Sebegitu besar ia menghargai kenyataan kenyataan, sehingga kecelakaan, ya hanya sebuah kecelakaan, tidak berusaha diruwet dan dilebih lebihkan. Sungguh jarang aku mendengar kenyataan seperti yang kudengar barusan, dimana orang orang lain selalu memanfaatkan peluang sekecil apapun demi mendapatkan uang, ini malah samasekali menolak apa yang sesungguhnya bisa menjadi selayaknya diterima.

Kulihat lagi ia, rakyat kecilku. Tersenyum dengan sinar matanya yang polos. Kubalas ia dengan senyumku yang paling tulus.

“Yaah…,” ia mengulang keikhlasannya. Lalu berkata melanjutkan, “Saya, mm saya harus cepat cepat meninggalkan yang punya mobil itu. Untung si Sarjo ini tindakannya tepat. Coba bayangkan kalau tidak! Wah, pasti ketahuan saya…”

“Ketahuan apa? Seharusnya Bapak mendapatkan sejumlah uang untuk mengobati luka lutut Bapak,” potongku, tidak sabar untuk membuatnya mengerti sedikit tentang hak hak yang seharusnya diperolehnya.

“Soalnya, ketika ia berusaha mengangkat saya, tanpa diketahuinya saya curi dompet di saku belakang celananya. Dan waaah sukses sekali saya hari ini,” kembali ia menggeleng gelengkan kepalanya sambil tangan kanannya menepuk nepuk saku depan celananya. “Bayangkan kalau ketahuan…”

Dan kemudian, terdengar di telingaku suara setengah empuk dari saku celana lelaki itu. Terlihat di mataku senyuman yang amat licik dan kurang ajar. Terasa di bawah tulang paruku sebelah kiri sakit yang mendadak.

Aku tak punya hasrat lagi berbicara…

+++
Miyuki
Miyuki Miyuki is offline
City Level

Post: 427
 
Reputasi: 1






Reply With Quote     #18   Report Post  

Re: Bikin Cerpern Yuk?

Kutip:
Oleh BlackCloud View Post
kalo suka ama cerpek wak kasi bintang dong :D

makasih ya megha :mantapp:
BlackCloud
BlackCloud BlackCloud is offline
City Level

Post: 103
 
Reputasi: 0

__________________
Ada kala manusia mencipta duka
dlm catur dunia
kita hanyalah bidak diatas kotak putih hitam
dimeja Tuhan yg takkan pernah dpt kita tebak
kekotak mana qta akan dipindahkanNya





Reply With Quote     #19   Report Post  

Re: Bikin Cerpern Yuk?

Ujung Penantian

Hari itu... tanggal 12 januari 2003, aku bertemu dengan seorang cowok yang keren banget.... dan aku mulai merasakan desiran2 hangat yang menjalari hatiku... telah lama tak kurasakan getar2 cinta yang menyelusup direlung jiwa... tapi ini lain... kekaguman yang berujung cinta mungkin masih seperti obsesi.. tapi bagiku... ini love at the first sight!
Namanya mas Rian, kakak kelas kakakku... sejak saat itu aku memproklamirkan diriku sebagai secreet admirernya... kuakui, hubunganku dengan dia semakin dekat begitu dia sering main kerumahku... aku masih ragu dengan statusnya, dia jomblo g sih? kalau tanya sama kakakku, duch! mau ditaruh mana mukaku... akukan pemalu abis...
Tapi, jika aku pendam terus perasaan ini malah jadi penasaran melulu... duch jadi bingung sendiri, melihatmu begini... kau buat aku jadi pucing... (kok malah T2 ikutan nyanyi...?) pokoknya harus ngomong jujur... aku mulai nulis surat malem tadi, soalnya... pulsanya abis... jadi aq jadi juga ngirim tu surat kerumah dia.. intinya cuma mau ngobrol... duch, klo dia ternyata udah g jmblo gmn? sorenya... mas Rian sms aq, ktanya mau ajk orang... yach, gmn bisa bls, pulsanya kan abis... ya udah, pasti dia kira boleh kali..
Sore itu, sore penentuan, apakah aku bisa berhasil masuk keruang hatinya ato g? yang pasti aku udah berusaha dan hasil akhir itu hanya tuhan yg tahu... tapi, aku sempat shock begitu tahu klo mas Rian bawa cewek. itu adiknya? sodaranya? ato temennya? paling parah klo itu adl cweknya.. bisa berabe...
"mmm..." sebenarnya aq ingin mulai pembicaraan ini, tapi bingung mau mulai darimana?
"Ra, ada apa sih?"
"mmm..." masih bingung nich mas... batinku kacau
"eh iya, aku juga mau ngenalin seseorang kekamu... tau g? klo kakakmu ini lagi bahagia..?" tanyanya sambil mengedipkan matanya.... dan cewek manis disampingnya juga tersenyum tipis...
"kenapa?"
"kakak sudah menemukan tambatan hati..."
ini sudah siaga satu, aku sudah goyah dalam berdiri... dan sebentar lagi bakal ambruk....
"siapa?"
"ni cewek kakak, kenalin, namanya Dian..."
STOP! hancur sudah hatiku, segala penantian yang sia-sia ini, sudah menjadi sebuah cerita menyakitkan....
"Ira" ucapku bergetar, bergetar seperti tanganku yang berjabat dengan tangannya....
"Dian" balasnya sambil tersenyum tulus...
" mau bicara apa sih Ra?"
"g jadi... lain kali aja..." kataku sambil berlalu pergi membawa linangan airmata dan sisa puing cinta yang remuk... hancur berkeping2... tak ada lagi yang harus kita bicarakan, biarlah waktu yang menghapus lukaku..

ni cerpen pendek banget dan kubuat waktu masih SMP kelas 1...
nadhesiko
nadhesiko nadhesiko is offline
Village Level

Post: 38
 
Reputasi: 0

__________________
desiyappi@yahoo.com:rose:





Reply With Quote     #20   Report Post     Original Poster (OP)

Re: Bikin Cerpern Yuk?

@ Miyuki
@ BC
@ nadhesiko <-- penulis kecil pemalu yang paling pemberani. berani menantang dan berontak pada bakat minder, itu hebat. saya aja nggak pernah berani buat at the least "niat menyolek" keberanian saya untuk bicara sama orang yang saya suka (saat masih smp). berani hancur untuk kepuasan batin, NEKAT!! ditunggu karya berikutnya =b=

Makaci banget ya, Kalian itu sastrator yang baik. Nggak hanya mengedepankan semilir kata-kata indah pada sebuah mahakarya tulisan tapi juga kejujuran. Saya merasakan apa yang kalian tuturkan, untuk kalian.. @-->

Stars is sended
Megha
Megha Megha is offline
World Level

Post: 16.425
 
Reputasi: 547

Reply
 


Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search





Pengumuman Penting

- Pengumuman selengkapnya di Forum Pengumuman & Saran


Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2020, Jelsoft Enterprises Ltd.