Kisah Babi Ngepet di Depok yang Bikin Heboh

spirit

Mod
adam-ibrahim-dalang-cerita-hoax-babi-ngepet-di-depok.jpg

Merdeka.com - Pada Selasa (27/4), isu babi ngepet di Kampung Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat menyita perhatian masyarakat luas. Muncul unggahan yang menunjukkan kalau seekor babi ngepet tertangkap warga.

Berawal dari pengakuan sejumlah warga Bedahan yang kehilangan uang, berkisar dari satu hingga dua juta rupiah di malam-malam tertentu. Hingga, muncul kabar adanya babi ngepet, yang sudah menjadi urban legend di masyarakat Indonesia.

Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata kasus babi ngepet yang sempat menghebohkan itu, hanya rekayasa. Terungkap seorang ustaz yang menjadi dalang di balik kejadian itu. Berikut selengkapnya:

Begitu membuat skenario dan penangkapan babi ngepet pada Selasa (27/4), ustaz berinisial AI ini berencana berlagak memberi solusi permasalahan babi ngepet. Pelaku memiliki motif untuk menaikkan popularitasnya sebagai pemuka agama.

AI juga yang mengarang cerita tentang cara menangkap babi ngepet harus telanjang.

“Pertama saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian pada hari Selasa, yang viral yaitu babi ngepet. Jadi itu adalah berita hoax, atau berita bohong atau berita yang kami rekayasa dengan sebab laporan-laporan (uang) yang hilang,” terang AI ilansir dari Youtube Smart Lapak.

Beli Bali dan Menangkapnya Sendiri
Lewat pernyataannya itu, AI mengaku babi yang dikorbankan dalam cerita rekayasanya itu, adalah babi hutan biasa. Ia membeli babi hutan itu secara online dari media sosial.

Babi yang dibeli dengan harga Rp900 ribu itu dikirim tengah malam untuk mengurangi kecurigaan warga sekitar. Begitu babi tiba di rumahnya pukul 22.55 WIB, AI bersama beberapa orang lainnya, menyusun strategi.

“Jadi babinya itu kita beli di toko online ya seharga Rp900 ribu, dan itu ada ongkos kirimnya. Kemudian dikirim melalui jasa pengiriman tepat pada jam 22:55 WIB (jam sebelas kurang lima menit) babi itu baru datang dan dilepas di depan rumah saya. Dari situ kita menunggu babi itu datang, karena dari lokasi yang kita lepas babi itu sangat mudah untuk berjalan,” aku AI.

Imannya Sedang Lemah

20210430102850-1-heboh-babi-ngepet-di-depok-warga-dipungut-rp2-ribu-jika-ingin-lihat-001-yan-muhardiansyah.jpeg

Di kesempatan itu, AI juga mengakui jika saat kejadian imannya sedang lemah, dan terhasyut untuk melakukan rekayasa. Diamankan beberapa hari setelah kejadian, AI secara sadar mengakui perbuatannya dan meminta maaf.

“Ya itulah, yang iman saya lemah, iman saya turun sebagai manusia, setan masuk ke dalam diri saya sehingga saya mempunyai satu fikiran yang sangat-sangat jahat dan sangat tidak masuk akal," ujarnya.

Tak Ambil Keuntungan Materi
Lewat video yang sama, AI mengaku semua perbuatannya murni dari dirinya sendiri. Ia juga mengakui tidak memiliki motif mengambil keuntungan secara materi.

Pernyataan tersebut dibenarkan Kapolres Metro Depok Imran Edwin Siregar. Menurutnya, kasus babi ngepet karangan AI merupakan kasus hoaks.

“Jadi tersangka ini bekerja sama kurang lebih delapan orang, dan mengarang cerita, seolah-olah babi ngepet itu benar. Ternyata itu adalah rekayasa dari tersangka dan teman-temannya, dengan tujuan agar si pelaku ini lebih terkenal di kampungnya. Karena ini merupakan seorang tokoh lah di kampungnya, tapi tokoh yang tidak terlalu terkenal supaya dia dianggap saja,” papar Imran.

Dijatuhi Hukuman 10 Tahun Penjara
Atas tuduhan tersebut, AI kini mendekam di sel dengan dijerat pasal 14 ayat 1 atau 2, UU Nomor 1 tahun 1946 dengan ancaman hingga sepuluh tahun penjara. Hingga kini, kasus ini terus didalami dan akan memasuki persidangan.

.
 
Last edited:
diduga-babi-ngepet-berkeliaran-terekam-cctv-di-depok-foto-radar-depok-17.jpg

Viral Babi Ngepet, Ini Penjelasan Sejarawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA— Babi ngepet kembali menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat.

Warga Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat dihebohkan dengan temuan babi hutan yang diklaim sebagai "babi ngepet", Selasa (27/4/2021).

Laporan temuan babi ngepet pun membuat geger media sosial.

Sejatinya, viral babi ngepet bukan hal yang baru di telinga masyarakat Indonesia.

Lantas, bagaimana mitos "babi ngepet" bermula serta selalu berkaitan dengan pesugihan dan soal-soal uang?

Sejarawan muda alumnus Universiteit Leiden Ody Dwicahyo menjelaskan babi atau babi hutan yang dalam bahasa Jawa disebut celeng, bukan sesuatu yang jauh dengan masyarakat agraris seperti di Indonesia.

Bagi masyarakat agraris, kata dia, babi menjadi hama atau musuh bagi para petani.

xxx

Karena itu babi menjadi diburu baik langsung oleh petani atau menggunakan hewan peliharaan lain seperti anjing.

“Saya ingin mengingatkan di dalam masyarakat yang agraris, babi itu kan hama.

Jadi dia itu sebelum berurusan dengan agama Islam saja, babi itu sudah sesuatu yang kalau datang itu langsung diusir terutama babi hutan atau celeng,” ujar Ody dalam Dialog Sejarah Historia.id: Riwayat Babi Ngepet, di Channel YouTube Historia, Jumat (30/4/2021).

“Kalau mau melihat fenomena babi ngepet dalam beberapa tahun terakhir, ngak semua yang ditangkap itu babi juga, ada anjing.

Jadi mungkin bukan konsep-konsep zoologi, tetapi lebih ke konsep kultural, bahwa babi itu adalah sesuatu yang kalau datang perlu diusir.

Jadi diangap musuh, terutama di masyarakat agraris,” jelasnya.

Lebih lanjut terkait fenomena babi ngepet, dia menjelaskan, catatan sejarah dan tulisan para sejarawan tidak lepas dari latar belakang krisis ekonomi yang bisa mendorong orang untuk menciptakan sejumlah hal.

Pertama, sesuatu dijadikan pegangan, seperti jimat, batu akik, dan di masa modern ada ikan louhan, tanaman gelombang cinta dan lainnya.

“Ketika ada ketidakpastian, orang butuh pegangan dengan sesuatu yang dipuja,” ucapnya.

Kedua, ada yang disalahkan atau dikambing-hitamkan akibat adanya ketimpangan sosial ekonomi, seperti babi ngepet atau pesugian.

Di sinilah, mitos-mitos itu diciptakan.

Dia juga melihat ada ambisi-ambisi ingin naik kelas ekonomi di balik pesugihan dan babi ngepet, misalnya.

“Pesugihan, babi ngepet itu jalan alternatif agar bisa naik kelas oleh sistem kolonial itu hanya dua, kalau lahir sebagai pangeran atau sebagai bangsawan,” jelasnya.

“Tetapi itu kan tidak semua orang bisa karena itu ada cara naik kelas alternatif melalui cara-cara pesugian cara memperkaya diri sendiri. Banyak harta yang bisa membuat naik kelas,” ucapnya.

Babi ngepet ini, kata dia, adalah salah satu cara ilmu hitam untuk menggapai kekayaan.

“Catatan yang penting, apapun itu hantu, siluman, ilmu hitam itu adalah sesuatu yang tidak pernah terlepas dari konteks masyarakat sekitarnya, seperti hewannya,” jelasnya.

Fenomena babi ngepet juga dia melihat hanya berkembang di sejumlah wilayah di Jawa.

.
 
w1200

Kenapa Masyarakat Kita Percaya Babi Ngepet?

Beberapa waktu lalu, kita digemparkan pemberitaan media tentang ditangkapnya babi ngepet di Depok, Jawa Barat. Pemberitaan media terlihat banyak meliput bagaimana warga berkumpul dan ingin menyaksikan babi yang telah ditangkap. Cerita mistis semakin membumbui keadaan lantaran viralnya seorang Ibu yang mengaku tahu dan mencurigai tetangga.

"Saya tahu ada yang nganggur tapi selalu punya uang," kurang lebih ungkapan ibu tersebut dalam video yang tersebar di dunia maya.

Mulanya banyak narasi yang mengatakan babi tersebut benar-benar babi jadi-jadian, lantaran tubuhnya kian makin mengecil. Meski kian mengecil toh babi tersebut tidak berubah jadi manusia. Bisa ditebak mengecilnya ukuran babi lantaran ketakutan dan mungkin saja lantaran tidak diberi makan dan minum ketika ditangkap. Apalagi dikerumuni oleh banyak masa pada masa tersebut.

Apes nasib babi, belakangan diketahui babi tak berdosa itu mati. Babi yang tidak ada urusannya menjadi kambing hitam dari keegoisan manusia. Belakangan juga diketahui aparat kepolisian mengamankan seorang tokoh agama yang ternyata mengaku merekayasa peristiwa tersebut. Babi tersebut ternyata dibeli secara online oleh pelaku.

Menarik apabila kita mengkaitkan bagaimana era media digital ternyata menjadi media persebaran berita semacam ini. Perkembangan teknologi komunikasi massa yang berkembang di abad ini, nyatanya juga tidak membuat sebagian orang bersikap rasional. Lalu apa yang membuat masyarakat kita menyukai hal mistis semacam ini?

Berbicara mengenai hal mistis, ada antropolog terkenal yang meneliti masyarakat Jawa kala itu. Menariknya dia membahas macam-macam makhluk supranatural di bukunya tersebut dengan pendekatan budaya yang lebih masuk akal dalam ranah akademis.

Tokoh tersebut adalah Clifford Geertz. Menurut Geertz (1985:9-29) ada beberapa macam klasifikasi hantu yang dipercayai di Jawa yakni Memedi,Lelembut,Tuyul,Demit, Danyang. Namun makhluk halus yang mencuri harta lebih diposisikan Geertz dengan Tuyul. Jika Geertz mengupdate buku tersebut mungkin babi ngepet akan diklasifikasikan dengan kategori yang baru lantaran sama-sama dianggap mencuri uang. Meskipun secara rasional masih belum terjawab, kenapa uang di bank atau di atm tidak pernah dilaporkan hilang lantaran makhluk halus ini.

Terlepas dari itu, ada poin menarik Geertz saat membahas Tuyul, yakni bagaimana orang-orang yang dituduh bekerja sama dengan Tuyul memiliki ciri status tipe sosial yang dianggap kurang lebih sama.

"Mereka selalu kaya, sering kali secara mendadak," (Geertz:18)

Namun apabila kita mau melihat lebih kritis keadaan tersebut menampilkan bagaimana ada kesenjangan pada masa tersebut. Jika boleh berasumsi apakah desas-desus dan rumor kita pakai untuk menjatuhkan citra seseorang yang berbeda kelas. Atau secara mudahnya orang-orang gunakan sebagai senjata untuk melawan adanya lapisan ekonomi. Berbeda dengan masa lalu, tapi sangat masuk akal pada zaman yang telah berkembang ini untuk menghasilkan uang dari mana saja termasuk rumah, karena fasilitas yang disediakan oleh teknologi.

Anggapan bahwa desas desus, fitnah, rumor, dan hujatan menjadi senjata yang digunakan alat untuk menyerang ketimpangan sosial juga terbukti dari tulisan James Scott (2000) pada bukunya "Senjata orang-orang Kalah".

Meskipun pada masa tersebut Scott tidak membahas hantu, melainkan lebih membahas bagaimana relasi tuan pemilik tanah yang kaya dan petani miskin yang menjadi bawahan tuan tanah tersebut. Namun, kacamata pemikirannya bisa digunakan untuk menjelaskan kasus babi ngepet di Depok tersebut.

Terlepas dari yang telah dibahas, ada poin penting yang perlu kita maknai kembali. Bahwa apa yang membuat kita percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal adalah jangan-jangan adalah mekanisme diri untuk berusaha "membenarkan" apa yang ingin dan mau kita percayai. Meskipun ilmu pengetahuan berkembang toh masih banyak masyarakat kita yang mempercayai hal-hal yang tidak bisa dibuktikan begitu saja dengan ilmu pengetahuan. Hal tersebut sah-sah saja, dan hak seseorang untuk mempercayai sesuatu yang ingin dipercaya. Tapi sejauh mana kita bisa menahan diri untuk tidak mengkambinghitamkan atau dalam hal ini kita sebut saja "membabi hitamkan" seseorang demi hal yang ingin kita percayai. (*)

Referensi

Geertz, C., Mahasin, A., Rasuanto, B., Suparlan, P., Bachtiar, H. W., & Geertz, C. (1983). Abangan, santri, priyayi: Dalam masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Scott, James C.; Sayogyo; Mien Joebhaar; Rahman Zainuddin, A.. (2000). Senjatanya orang-orang yang kalah : bentuk-bentuk perlawanan sehari-hari kaum tani / James C. Scott ; penerjemah , A. Rahman Zainuddin , Sayogyo, Mien Joebhaar. Jakarta :: Yayasan Obor Indonesia

 
Back
Top