Epos Ramayana
 
Go Back   Home > Sejarah & Budaya

Daftar
Lupa Password?


Upload Foto Video Umum Radio & TV Online


Epos Ramayana

Loading...



 
Reply
 
Thread Tools Search this Thread
Reply With Quote     #31   Report Post     Original Poster (OP)

Bls: Epos Ramayana

Indrajit

Indrajit (Sanskerta: Indrajīt) atau Megananda (Sanskerta: Méghanāda) adalah nama seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Ramayana yang dikenal sebagai putra sulung Rahwana sekaligus putra mahkota Kerajaan Alengka. Indrajit merupakan ksatria yang sakti mandraguna. Dalam perang melawan pasukan Wanara, ia pernah melepaskan senjata Nagapasa yang keampuhannya mampu melumpuhkan Sri Rama. Setelah melalui pertempuran seru, ia akhirnya tewas di tangan Laksmana adik Rama.

Asal-usul

Indrajit adalah putra Rahwana, raja bangsa Rakshasa dari Kerajaan Alengka. Ibunya bernama Mandodari putri Asura Maya. Sewaktu lahir, Indrajit diberi nama Megananda karena tangisan pertamanya diiringi suara petir menggelegar, pertanda kelak ia akan tumbuh menjadi seorang kesatria besar.

Ketika dewasa, Megananda pernah membantu ayahnya bertempur melawan para dewa kahyangan. Dalam pertempuran itu, Megananda berhasil menangkap dan menawan Indra, raja para dewa. Dewa Brahma muncul melerai. Indra pun dibebaskan oleh Megananda. Sebagai gantinya ia mendapatkan pusaka ampuh dari Brahma bernama Brahmasta. Brahma juga memberikan julukan Indrajit kepada Megananda yang bermakna "Penakluk Indra".

Pertempuran di Alengka

Perang besar di Alengka meletus karena ulah Rahwana menculik Sita istri Sri Rama. Rama bekerja sama dengan bangsa Wanara yang dipimpin Sugriwa menyerbu istana Alengka.

Satu per satu panglima Alengka terbunuh. Indrajit tampil sebagai andalan ayahnya. Ia bertarung melawan seorang Wanara muda bernama Anggada putra Subali. Anggada berhasil menghancurkan kereta Indrajit sehingga pasukannya pun bersorak "Jaya Anggada! Jaya anggada".

Indrajit yang sangat malu mengerahkan pusaka Nagapasa yang mampu mengeluarkan ribuan ular berbisa. Rama dan Laksmana roboh tak berdaya dililit ular-ular tersebut. Sewaktu para Wanara berduka karena kehilangan pemimpin mereka, tiba-tiba muncul Garuda mengusir ular-ular yang melilit kakak-beradik tersebut.

Kebangkitan Rama dan Laksmana membuat pertempuran berlanjut. panglima-panglima Alengka semakin banyak yang tewas. Akhirnya hanya tinggal Indrajit yang menjadi andalan Rahwana. Ia melepaskan pusaka Brahmasta mengenai Laksmana sehingga roboh sekarat.

Kematian

Laksmana bangkit kembali setelah diobati Rama menggunakan tanaman yang dibawa Hanoman. Pasukan Wanara kembali bergerak menyerbu istana Alengka. Indrajit menciptakan Sita palsu untuk dibunuhnya di hadapan para Wanara. Melihat istri Rama tewas, para Wanara kehilangan semangat bertempur. Mereka menganggap tujuan peperangan sudah tidak ada lagi.

Wibisana (adik Rahwana yang memihak Rama) menyadari kalau Inrajit sedang menyelenggarakan ritual untuk mendapatkan kekuatan. Ia meminta Laksmana untuk menggagalkan ritual Indrajit sebelum mencapai kesempurnaan. Laksmana disertai para prajurit Wanara mendatangi tempat ritual Indrajit. Konsentrasi Indrajit terganggu dan ritualnya pun dihentikan. Ia kemudian bertarung menghadapi Laksmana. Laksmana pun melepaskan panah Indrastra dengan mengucapkan doa atas nama Rama. Panah tersebut melesat memenggal kepala Indrajit.

Versi pewayangan Jawa

Menurut versi pewayangan Jawa, Indrajit bukan putra kandung Rahwana, melainkan hasil ciptaan Wibisana. Saat itu istri Rahwana yang bernama Dewi Kanung sedang mengandung bayi perempuan reinkarnasi seorang pertapa wanita bernama Widawati. Rahwana bersumpah akan menikahi putrinya itu jika kelak lahir, karena Widawati merupakan cinta pertamanya.

Ketika Kanung melahirkan, Rahwana sedang berada di luar istana. Wibisana segera mengambil bayi perempuan tersebut dan dihanyutkan ke sungai dalam sebuah peti. Bayi itu terbawa arus sampai ke Kerajaan Mantili dan ditemukan oleh raja negeri tersebut yang bernama Janaka. Janaka memungut bayi putri Rahwana tersebut sebagai anak angkat dengan diberi nama Sinta.

Sementara itu, Wibisana menciptakan bayi laki-laki dari segumpal awan yang diberi nama Indrajit. Bayi Indrajit diserahkan kepada Rahwana. Rahwana kecewa dan berniat membunuh Indrajit. Ternyata semakin dihajar Indrajit justru semakin tumbuh dewasa. Rahwana berubah pikiran dan mengakuinya sebagai anak.

Indrajit kemudian bertempat tinggal di Kasatrian Bikukungpura. Istrinya seorang bidadari bernama Dewi Indrarum.

Dalam perang besar melawan bala tentara Sri Rama, Indrajit mengerahkan pusaka Nagapasa. Muncul ribuan ular menyerang pasukan Wanara. Namun semua itu dapat ditaklukkan oleh burung Garuda ciptaan Laksmana. Indrajit kemudian mengerahkan ilmu Sirep Begananda, membuat Rama, Laksmana, dan seluruh pengikut mereka roboh tak berdaya. Mereka tertidur bagaikan orang mati.

Hanya Wibisana dan Hanoman yang tetap terjaga. Hanoman berangkat ke Gunung Maliyawan untuk mengambil tanaman Sandilata, sedangkan Wibisana menghadapi Indrajit. Wibisana menceritakan asal-usul Indrajit yang sebenarnya. Indrajit akhirnya sadar bahwa selama ini ia bersalah telah membela angkara murka Rahwana. Ia pun meminta agar Wibisana mengembalikan dirinya ke asal-muasalnya.

Indrajit kemudian mengheningkan cipta, sedangkan Wibisana melepaskan pusaka Dipasanjata ke arahnya. Tubuh Indrajit pun musnah seketika, dan kembali menjadi awan putih di angkasa.


-dipi-
Dipi76
Dipi76 Dipi76 is offline
Continent Level

Post: 9.575
 
Reputasi: 1122

Loading...
       





Reply With Quote     #32   Report Post     Original Poster (OP)

Bls: Epos Ramayana

Prahasta

Prahasta (Sansekerta: Prahastha) adalah nama seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana yang dikenal sebagai paman Rahwana sekaligus pembesar Kerajaan Alengka. Ia merupakan tokoh bijaksana yang sering memberikan nasihat-nasihat berharga kepada Rahwana. Prahasta akhirnya gugur membela negerinya ketika berperang melawan Anila dari bangsa Wanara.

Versi Ramayana

Versi Ramayana menyebut Prahasta sebagai putra tertua Sumali, raja bangsa Rakshasa dari Kerajaan Alengka. Ia memiliki saudara perempuan bernama Kaikesi yang melahirkan Rahwana. Di bawah pemerintahan Rahwana, Prahasta bertindak sebagai pejabat senior yang sering memberikan nasihat-nasihat kepada keponakannya itu dalam menjalankan roda pemerintahan.

Ketika Kerajaan Alengka diserang oleh bangsa Wanara yang dipimpin oleh Sri Rama, Prahasta maju sebagai panglima menghadapi mereka. Perang tersebut meletus karena istri Rama yang bernama Sita diculik oleh Rahwana. Nasihat-nasihat Prahasta agar Sita dikembalikan sama sekali tidak dituruti oleh Rahwana. Prahasta pun terpaksa maju perang demi membela tanah airnya yang diserang musuh, bukan untuk membela Rahwana.

Prahasta akhirnya gugur di tangan seorang perwira Wanara bernama Nila. Melalui pertarungan sengit Nila berhasil menghancurkan tubuh Prahasta menggunakan sebongkah batu karang yang sangat besar.

Versi pewayangan

Dalam versi pewayangan, khususnya di Jawa, Prahasta menjabat sebagai patih dalam pemerintahan Rahwana. Ia dikenal bijaksana namun kurang didengarkan nasihat-nasihatnya oleh keponakannya itu.

Nama asli Prahasta adalah Sukesa. Ia memiliki kakak perempuan bernama Sukesi. Keduanya lahir dari rahim putri Kerajaan Mantili bernama Danuwati yang dinikahi oleh Sumali raja Kerajaan Alengka. Meskipun Sumali berwujud raksasa, namun Sukesi dan Sukesa terlahir berwujud manusia seperti ibu mereka.

Pada suatu hari datang seorang resi sahabat Sumali bernama Wisrawa yang hendak melamar Sukesi sebagai menantunya. Wisrawa memiliki seorang putra bernama Danapati yang mendambakan Sukesi sebagai istrinya. Namun Sukesi hanya mau menikah dengan orang yang bisa mengajarkan ilmu pencerahan bernama Sastrajendra Hayuningrat.

Wisrawa mengaku menguasai ilmu tersebut namun tidak bisa sembarangan mengajarkannya. Sumali yang tertarik setelah mengetahui khasiat ilmu tersebut memohon agar dirinya diajari ilmu tersebut. Dalam sebuah sanggar tertutup Wisrawa mengajarkan ilmu Sastrajendra Hayuningrat kepada Sumali. Sumali pun memperoleh pencerahan dan berubah wujud manjadi manusia.

Sementara itu Sukesa yang penasaran mengintai dari luar. Karena mencuri dengar tanpa izin, tubuhnya pun berubah wujud menjadi raksasa. Sejak saat itu ia memakai nama Prahasta.

Singkat cerita, karena suatu kesalahan, Sukesi justru menikah dengan Wisrawa, bukan dengan Danapati. Dari perkawinan itu lahir Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Wibisana.

Dalam pemerintahan Rahwana yang naik takhta menggantikan Sumali, Prahasta diangkat sebagai patih. Prahasta seringkali memberikan nasihat-nasihat bijaksana namun tidak pernah diperhatikan oleh keponakannya yang bersifat angkara murka tersebut.

Dalam perang besar melawan Sri Rama, Rahwana naik ke kahyangan menemui kakak tirinya, yaitu Danapati yang telah menjadi dewa bergelar Batara Kuwera. Kuwera ditugasi Batara Guru untuk menjaga bunga pusaka bernama Kembang Dewaretna yang konon menjadi kunci kekalahan bangsa Wanara yang mendukung Sri Rama.

Setelah melalui pertarungan seru akhirnya Rahwana berhasil merebut Kembang Dewaretna. Kuwera hanya bisa mengambil seekor kumbang yang menghuni jambangan bunga pusaka tersebut. Ia mencipta kumbang itu menjadi seekor Wanara bernama Kapi Pramuja.

Pramuja kemudian turun ke dunia untuk meminta restu Sri Rama agar berhasil merebut kembali Kembang Dewaretna. Setelah itu ia pun menyusup ke dalam gedung pusaka di dalam istana Alengka tempat Rahwana menyimpan bunga tersebut.

Prahasta yang ditugasi Rahwana menjaga Kembang Dewaretna berhasil diperdaya oleh ilmu sirep Pramuja sehingga sempat tertidur sejenak. Ketika ia bangun Kembang Dewaretna telah hilang dicuri Pramuja.

Rahwana marah besar atas kelalaian Prahasta. Prahasta pun berangkat mengejar Pramuja. Di tengah jalan ia harus bertempur menghadapi barisan prajurit Wanara yang dipimpin oleh Anila. Anila juga berpangkat patih dalam pemerintahan Sugriwa, raja kaum Wanara.

Dalam pertempuran itu, Anila terdesak oleh Prahasta. Banyak prajuritnya yang tewas di tangan raksasa tua tersebut. Ia sendiri sudah kehabisan tenaga dan memilih melarikan diri menghindari amukan Prahasta. Di perbatasan kota Alengka Anila menjumpai tugu besar dan menggunakannya untuk memukul kepala Prahasta. Prahasta pun tewas dengan tubuh hancur lumat.

Tugu yang dijebol Anila dan digunakannya untuk membunuh Prahasta tersebut berubah menjadi seorang bidadari bernama Indradi, yang tidak lain adalah ibu kandung Sugriwa. Ia merupakan istri seorang resi bernama Gotama yang telah mengutuknya menjadi tugu karena berselingkuh dengan Batara Surya. Kematian Prahasta oleh pukulan Anila telah membuat Indradi terbebas dari kutukan suaminya.


-dipi-
Dipi76
Dipi76 Dipi76 is offline
Continent Level

Post: 9.575
 
Reputasi: 1122

Reply
 


(View-All Members who have read this thread : 1
Tonisanjaya
Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search




Similar Threads
Thread Original Poster Forum Replies
Epos Mahabharata Dipi76 Sejarah & Budaya 113


Pengumuman Penting

- Pengumuman selengkapnya di Forum Pengumuman & Saran


Cari indonesiaindonesia.com
Cari Forum | Post Terbaru | Thread Terbaru | Belum Terjawab


Powered by vBulletin Copyright ©2000 - 2022, Jelsoft Enterprises Ltd.