Kalina
Moderator
LONDON - Obesitas kian jadi ancaman. Bahkan, penasihat pemerintah Inggris menyejajarkan bahayanya selevel dengan terorisme. ''Ancaman terhadap masa depan kesehatan kita sama bahayanya dengan ancaman keamanan saat ini,'' ujar Profesor Hunter, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Durham, seperti dilansir Dailymail.
Saat ini, sekitar 25 persen penduduk Inggris berbobot lebih. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan pada 1980 yang hanya 8 persen. Diprediksi, pada 2032, separo penduduk Negeri Ratu Elizabeth itu mengalami obesitas.
Sayang, kritik Hunter, meski menyadari krisis kesehatan itu sejak empat dekade lalu, yang dilakukan pemerintah Inggris belum cukup. Inisiatif penanggulangan terhadap bahaya obesitas tersebut justru lebih banyak yang bersifat sukarela.
Menurut Hunter yang juga penasihat pemerintah Inggris, jika kondisi seperti itu dibiarkan, upaya yang sudah dilakukan negara tidak akan menunjukkan hasil. Bukan tanpa alasan, obesitas dinilai menjadi ancaman besar. Selain berpotensi mengurangi 9 tahun jatah hidup kita, obesitas bisa memicu berbagai gangguan kesehatan. Di antaranya, kanker payudara, kanker usus besar, kanker di bagian perut, dan ginjal. Gara-gara kegemukan itu pula, jumlah penderita diabetes di Inggris diprediksi naik hingga 19 juta orang.
Untuk mengatasi masalah obesitas, Sistem Kesehatan Nasional (National Health System) Inggris menyediakan anggaran USD 1 miliar (Rp 9,1 triliun). Dana itu terus membubung jika kian banyak penduduk yang mengalami kegemukan berlebih. Tak heran, program antiobesitas tersebut dikritik sebagai pemborosan uang publik.
''Kami melawan obesitas lewat kampanye penyadaran dan aksi serupa di sekolah-sekolah,'' ujar juru bicara departemen kesehatan. Salah satu yang memelopori perang terhadap obesitas itu adalah pemerintah lokal Liverpool. Mereka menyediakan makan siang sehat untuk sekitar 26 ribu pelajar berusia 4-11 tahun. (poe/erm/ami)
Sumber: Jawa Pos