ACY - Analisa Market

Pound Siap Reli, Berbekal Kuatnya PMI

Pound Inggris terus menerus naik pada hari Rabu dari level terendah tujuh bulan, mempertahankan momentum uptrend yang dimulai pada pekan lalu. Menurut MT4, mata uang ini naik sekitar 0.31 persen ke penutupan pada $1.32259 di hari Rabu dan sepertinya menghapus kemerosotan yang dialami pekan lalu.

Yield obligasi pemerintah Inggris mematahkan kenaikan selama dua hari beruntun, setelah data yang dirilis hari Rabu menunjukkan sektor jasa yang dominan di negeri itu mengalami pertumbuhan dengan laju tercepat dalam delapan bulan pada Juni. Purchasing Managers' Index yang dirilis IHS Markit untuk sektor jasa meningkat 55.1 pada bulan lalu, naik dari 54 pada bulan Mei dan mengungguli estimasi median yang mengekspektasikan tak akan ada perubahan. ACY mencatat, hal ini mendorong pemulihan ekonomi nasional dan menambah alasan bagi Bank of England untuk menaikkan suku bunga secepat-cepatnya bulan depan.

Namun demikian, meskipun ada momentum kenaikan dalam perekonomian Inggris, masih ada tanda-tanda bahwa ketidakpastian terkait Brexit menahan investasi, dan ini dapat menggagalkan reli Pound baru-baru ini. Ketidakpastian muncul setelah Kamar Dagang Inggris merilis peringatan bahwa perusahaan-perusahaan Inggris berada di titik kritis terkait Brexit, dan banyak diantaranya menunda belanja korporasi hingga mereka memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting.

Outlook Teknikal GBP/USD

Pada grafik Daily, pembalikan nampak terjadi dari level terendah tujuh bulan baru-baru ini dan kini GBP/USD berada tepat mendekati Moving Average 20-Day yang dapat menghalangi kenaikan lebih lanjut. Namun, apabila breakout terjadi, maka akan terungkap resisten berikutnya dekat 1.333 (Retracement 38.2%). Selain itu, ACY menilai divergen RSI dan MACD yang positif akan menambah sinyal bahwa GBP/USD siap reli lebih lanjut.

Grafik GBP/USD Daily

aee2e5bf4f568fedbd5cf93a6cb917c7.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Pasar Kurang Respon Ketegangan Dagang, Saham AS Naik

Pasar saham Amerika Serikat naik tiga hari beruntun, membentuk sesi perdagangan hari Jumat yang positif bagi ekuitas global. Sementara itu, para investor memantau perkembangan ketegangan perdagangan antara AS dan China yang telah dimulai dengan diterapkannya tarif atas barang-barang senilai USD34 Milyar dari kedua belah pihak.

Indeks US30 naik 0.53 persen dan ditutup pada 24447.2 di hari Jumat, menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir. ACY mencatat, salvo pertama dalam perang dagang AS-China berlangsung tanpa banyak reaksi dari investor, tetapi ketenangan ini bisa jadi hanya sementara saja.

Performa tangguh perekonomian AS telah dikonfirmasi oleh data ketenagakerjaan yang menunjukkan kenaikan Non-farm Payroll sebanyak 213,000 pada bulan Juni serta pertumbuhan gaji yang stabil dengan kenaikan 2.7 persen (year-on-year). Sementara itu, tingkat pengangguran naik ke 4.0 persen dari rekor terendah 3.8 persen pada bulan yang sama.

Outlook Teknikal Pasar Saham AS

Grafik US30 Daily

5954112e1d3589847fb938f616a231f9.png

Pada grafik Daily, Indeks US30 secara umum ditopang oleh Ascending Channel yang telah terbentuk sejak akhir Maret dan kemungkinan melanjutkan momentum tersebut. Pada titik ini, dalam jangka pendek, Indeks menghadapi dua resisten pada saat yang sama, yaitu Fibonacci Retracement 50.0% (24540) dan Moving Average 20-Day. Menurut ACY, breakout dari resisten ini dapat memicu kenaikan lebih lanjut setelahnya.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Pound Mundur Setelah Menteri Luar Negeri Mengundurkan Diri

Pound Inggris jatuh, membalik kenaikan yang dialami sejak akhir bulan lalu, karena Perdana Menteri Theresa May kemungkinan menghadapi tantangan kepemimpinan dalam proses Brexit. ACY mencatat, pada hari Senin, Pound mundur 20.49 basis poin, atau 0.19 persen, dari level tertinggi sejak pertengahan Juni.

Rencana Brexit PM May telah terhenti, dan ia berjuang mengatasi krisis setelah tiga menteri mengundurkan diri dalam tempo 24 jam untuk memprotes rencananya. Pengunduran diri Menteri Luar Negeri Boris Johnson, pemimpin kampanye kubu keluar dari Uni Eropa pada tahun 2016 lalu, meningkatkan chaos dalam pemerintahan, setelah keluarnya Menteri Urusan Brexit David Davis dan deputinya.

Pernyataan May pada Parlemen mengenai Brexit, yang semestinya menandai tercapainya kompromi langka dengan kabinetnya yang terpecah belah pada hari Jumat, berbalik menjadi upaya dua jam mempertahankan kebijakannya. Masalahnya, May ingin Inggris keluar dari Uni Eropa dengan cara yang lebih lunak.

Grafik GBP/USD Daily

10455484df1952c1de32cd964a334bfa.png

Dari perspektif teknikal, kita dapat melihat potensi pembalikan harga GBP/USD untuk outlook yang lebih luas dengan divergen positif terjadi pada indikator MACD dan RSI. Dalam hal ini, ACY memperkirakan pergerakan naik jangka panjang bisa terjadi bila GBP/USD menembus keluar (breakout) dari resisten dekat 1.333 (Retracement 38.2%).

Namun demikian, apabila nantinya pasangan mata uang ini terus merosot ke bawah dan keluar dari Retracement 50.0%, maka akan ada tekanan lebih besar yang mendorongnya menurun lebih jauh.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
S&P 500 Futures Berbalik Ketika AS Siapkan Bea Impor Tambahan

Kontrak futures pada ekuitas AS mengambil ancang-ancang untuk berbalik arah dan menghapus kenaikan yang diperoleh sebelumnya, setelah narasumber anonim mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump tengah mempersiapkan tarif untuk lebih banyak barang-barang yang didatangkan dari China. Daftar sasaran bea impor tambahan yang senilai USD200 Milyar tersebut bisa memperparah perang dagang yang dapat secara langsung merugikan konsumen Amerika dan mematahkan pemulihan ekonomi global.

Harga intraday S&P500 Futures turun ke 2773.4 per pukul 12:00 pm waktu Sydney pada hari Rabu, mengakhiri reli kenaikan terpanjang sejak Juni. Di sisi lain, yield obligasi 10-tahunan AS terus merosot hingga 2.84 persen pada awal sesi perdagangan.

Apabila rencana tarif tambahan yang disebutkan pada hari Selasa itu diterapkan, maka bea impor yang ditujukan pada China akan mencakup nyaris setengah dari seluruh impor AS dari Asia. Daftar yang diajukan mencakup barang-barang konsumsi seperti pakaian, komponen televisi dan kulkas, berikut produk-produk teknologi; meskipun tak memasukkan sejumlah barang yang banyak diperbincangkan seperti Mobile Phone.

Menurut ACY, yang perlu diperhatikan oleh investor adalah laporan inflasi AS bulan Juni yang akan dipublikasikan pada hari Kamis. Konsensus memperkirakan inflasi utama dan inflasi inti masing-masing naik ke 2.9 persen dan 2.3 persen; mengindikasikan kondisi ekonomi sehat.

Grafik SPX500 Daily

1760a9d0f2123837ce6fced147ada0b0.png

Pada grafik Daily, outlook yang lebih luas bagi S&P 500 tetap optimis karena masih bergerak dalam Ascending Channel yang telah dimulai pada akhir Maret. Namun, ACY menilai, pergerakan jangka pendek dihalangi oleh Resisten kunci dekat 2784.4, dan bila bergerak turun lagi, maka garis tengah Bollinger Bands (median) bisa menyediakan support bagi indeks ini.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Harga Minyak Anjlok Di Tengah Eskalasi Ketegangan Dagang

Pada hari Rabu, harga minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan harian paling parah dalam dua tahun terakhir. WTI turun 3.668 poin, atau 4.94 persen, ditutup serendah $70.609 per barel, karena eskalasi ketegangan dagang AS-China mengancam permintaan minyak. Di samping itu, kabar bahwa Libya bakal membuka kembali pangkalannya telah meningkatkan ekspektasi akan kenaikan suplai.

ACY mencatat, aksi jual dimulai pada awal sesi, menyusul kabar bahwa National Oil Company Libya menyatakan akan membuka kembali pangkalan yang ditutup sejak akhir Juni. Namun demikian, John Saucer, wakil presiden Mobius Risk Group, mengatakan bahwa berita dari Libya itu hanyalah pemicu.

Tekanan jual atas minyak mentah boleh jadi sebagian besar diakibatkan oleh meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China; hal mana bisa memperparah kekhawatiran mengenai permintaan (demand). Pasalnya, bayang-bayang tarif tambahan atas barang-barang China senilai $200 Milyar telah mengakibatkan kejatuhan harga-harga komoditas dan pasar saham.

Dari perspektif teknikal pada grafik Daily, penurunan luar biasa WTI kemarin mematahkan level support kunci yang bertepatan dengan level tinggi (high) 22 Mei. Namun, penurunan terhenti setelah menyentuh Moving Average 20-Day. ACY menilai, pergerakan harga intraday pada hari Kamis nampaknya mendapatkan dukungan dari MA20 ini.

Grafik WTICOUSD Daily

bd9a2497b32ecc1e45c3abed786f5b6e.png

Dengan mengacu pada indikator Williams' Percent Range yang cukup mirip dengan Stochastic Oscillator, nampak bahwa harga bergerak balik dari sesi overbought ke bawah -50 yang berperan sebagai garis tengah. Support yang disediakan oleh level tertinggi dan level terendah sebelumnya, bisa menyangga indikator ini.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Harga Minyak Terperosok Di Tengah Tingginya Pasokan Arabia

Kegelisahan mengenai perdagangan dunia dan tawaran Arab Saudi untuk menambah pasokan minyak bagi Asia, mendorong volatilitas pasar. Harga minyak mentah telah jatuh lebih dari 10 persen, setelah dua minggu lalu menyentuh level tertinggi 40 bulan. ACY mencatat, West Texas Intermediate untuk pengiriman bulan Agustus menurun $2.95 ke penutupan pada $68.109 per barel, level terendahnya dalam tiga pekan terakhir.

Menurut narasumber, penurunan baru-baru ini disebabkan Arab Saudi menawarkan lebih banyak kargo minyak ke konsumen di Asia. Sementara itu di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump kabarnya tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk menggali persediaan minyak darurat negaranya untuk menghambat kenaikan harga minyak. Arab Saudi dan AS mencakup seperlima minyak mentah dunia.

Pada grafik Daily, pergerakan harga WTI menurun secara dramatis, menembus level Support penting yang disediakan oleh Fibonacci Retracement 38.2% (dekat 68.74). Pada titik ini, cloud Ichimoku dapat dianggap sebagai level penopang apabila harga tak bergerak lebih rendah lagi; tetapi ACY menilai rebound akan menghadapi halangan dekat 68.74.

Grafik WTICOUSD Daily

a47c1e16ffd8ee6b750c3cbb64c93e10.png

Selain itu, investor perlu mengamati indikator lain, William's Percent Range, yang bertempat pada area oversold, sehingga mengindikasikan kemungkinan reli nanti. Apabila %R reli ke atas -80, maka boleh jadi itu merupakan kesempatan bagus untuk membuka posisi long (buy) pada WTI.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Pound Tumbang Jelang Rilis Data CPI Inggris

Pound Inggris dihantam serentetan masalah dalam tiga bulan terakhir, hingga mencapai $1.3112 pada hari Selasa, dekat level terendah tiga pekan. Menjelang April, mata uang ini masih kuat berkat prospek kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) dalam jangka pendek sebagai respon atas penguatan inflasi selama setahun terakhir. Namun, tren bullish berakhir pada kuartal kedua tahun ini, dikarenakan kombinasi kekuatan Dollar dan kelemahan Pound Inggris.

Kelemahan terutama diakibatkan oleh rilis data inflasi Maret yang dirilis pada pertengahan April. ACY mencatat, angkanya yang mengecewakan dan dirilis sebelum keputusan bank sentral pada Super Thursday, memangkas kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Kini, perhatian berfokus pada data Consumer Price Index (CPI) bulan Juni yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu dan diestimasikan tumbuh 2.6 persen (year-on-year), lebih tinggi dari 2.4 persen pada periode sebelumnya. Poin yang akan disoroti adalah apakah data minggu ini meningkakan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of England pada rapat berikutnya di bulan Agustus. Namun, sementara itu, sinyal pertumbuhan gaji yang stagnan kemungkinan menyeret Pound Inggris, karena dapat menjadi alasan bagi BoE untuk menunda kenaikan suku bunga.

Grafik GBP/USD Daily

e173d604a0f321d9c2f76f8c6a9a9ad8.png

Secara teknikal, GBP/USD pada grafik Daily tengah bergumul pada kisaran antara 1.306 dan 1.331, dan penurunan signifikan sebelumnya menyebabkan harga turun dekat level Support (1.306). Apabila pergerakannya terus mundur dan tembus batas bawah serta Fibo Retracement 50.0%, maka penurunan lebih lanjut kemungkinan bakal terjadi. Namun demikian, menurut ACY, apabila pasangan mata uang ini hanya turun sedikit dan gagal tembus Retracement 50.0%, maka divergen RSI dan MACD yang positif akan memicu Pound untuk rebound besar.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Aussie Melesat Setelah Data Ketenagakerjaan Lampaui Ekspektasi

Dolar Australia menguat terhadap Dolar AS, menyusul update data ketenagakerjaan menunjukkan performa baik. Sebelumnya, mata uang ini mengalami penurunan sejak akhir Januari dan terpuruk di level rendah, setelah menguat tajam sebanyak lebih dari 8.4 persen.

Menurut data terbaru yang dirilis pada Kamis pagi, perekonomian Australia mencetak 50.9k pekerjaan baru. Ini peningkatan besar dibandingkan 12.0 pada bulan Mei, dan mengungguli ekspektasi ekonom yang memperkirakan pertambahan hanya sebanyak 16.5k. Sementara itu, tingkat pengangguran bulan Juni tetap rendah dan sejalan dengan data periode sebelumnya maupun estimasi pada 5.4 persen. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja naik tipis ke 65.7 persen, meskipun diestimasikan tetap sama dengan periode sebelumnya pada 65.5 persen.

Karena kenaikan data ketenagakerjaan biasa mendorong kenaikan inflasi, maka ACY menilai rilis data inflasi kuartal kedua pada pekan depan perlu diperhatikan. Data ekonomi yang positif dapat menyebabkan Reserve Bank of Australia melangkah ke jalur kenaikan suku bunga.

Berikutnya, sentimen yang berhubungan dengan Dolar Aussie boleh jadi akan rapuh menghadapi minat risiko dalam 48 jam ke depan, dikarenakan kekhawatiran baru mengenai perdagangan AS-China. Departemen Perdagangan AS akan mempertimbangkan kembali kemungkinan penerapan tarif atas produk otomotif dalam dua hari mendatang.

Grafik AUD/USD Daily

2500fa10df423e4a8d25f0430e7ce495.png


Berdasarkan grafik Daily, outlook yang lebih luas untuk AUD/USD di kalangan investor masih pesimis, karena belum keluar dari tren menurun yang terbentuk sejak awal tahun ini. Namun demikian, dalam jangka pendek dan menengah, Dolar Aussie boleh jadi reli untuk menguji batas atas Descending Channel atau bahkan Retracement 61.8%. Dalam pandangan ACY, potensi reli nampaknya didukung oleh RSI dan MACD yang bergerak naik.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Last edited:
Yen Jatuh Menjelang Rapat BoJ

Pada hari Senin, Yen Jepang menghapus kenaikan yang diperoleh pada sesi perdagangan sebelumnya dan diperdagangkan pada 111.068 per Dolar pada pukul 12:14 pm waktu Sydney. Perdagangan cenderung flat dalam beberapa hari terakhir, meskipun sebelumnya Yen sempat mengalami kenaikan dramatis. Namun, Yen boleh jadi akan menguat setelah data menunjukkan bahwa penjualan ritel Jepang berbalik naik pada bulan Juni; pulih dari kemerosotan pada bulan Mei dan memberikan sinyal perbaikan konsumsi di kuartal kedua.

Bersama langkah-langkah BoJ untuk membeli lebih sedikit obligasi dan memangkas bertahap pembelian obligasi jangka panjang; para pengambil kebijakan melanjutkan perlambatan kebijakan moneter longgarnya dan mendorong naik yield obligasi jangka panjang yang bisa jadi atraktif bagi investor serta menarik lebh banyak dana masuk ke dalam negeri.

Diantara semua spekulasi tentang kemungkinan perubahan kebijakan Bank of Japan pekan ini, ACY mencatat, perubahan paling penting bagi pasar obligasi global boleh jadi telah berlangsung. Namun, para investor juga akan berfokus pada apakah Bank of Japan bakal memodifikasi kebijakannya, serta mencari indikasi kalau-kalau Federal Reserve akan menjaga jarak dari rencana dua kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini.

Outlook Teknikal USD/JPY

Pada grafik Daily, USD/JPY menjaga momentum flat dalam beberapa hari terakhir, tepat dekat 110.87 (Retracement 61.8%) yang dipandang sebagai garis Support. ACY memperkirakan, breakout dari garis ini bisa mengakibatkan kemerosotan lebih lanjut menuju level Support yang digambarkan dengan tinta biru.

Namun demikian, ada kemungkinan lebih besar untuk pembalikan (reversal) jangka menengah dalam beberapa hari ke depan, karena pasangan mata uang ini mungkin ditopang oleh Retracement 61.8% dan batas bawah Upward Channel.

Grafik USD/JPY Daily

93cc59ff6f7ea8eba2f3beb3c121e4a6.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Harga Minyak Di Tengah Meningkatnya Risiko Suplai Global

West Texas Intermediate (WTI) Futures melonjak 1.44 persen ke USD70.714 per barel, kenaikan terbesar dalam lebih dari sebulan terakhir, karena kekhawatiran kalau-kalau fasilitas produksi penting di Kanada tak bisa kembali beroperasi normal secepat yang diharapkan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai suplai minyak secara global.

Walaupun ketegangan perdagangan antara AS dan China dalam beberapa pekan terakhir telah menekan harga minyak menurun selama separuh bulan ini, tetapi Barclays Plc memperingatkan adanya risiko kenaikan harga yang cukup sigifikan dalam kuartal IV. Pasalnya, sanksi AS atas Iran bakal memangkas ekspor minyak Iran sebanyak sekitar 700,000 barel per hari (bph).

ACY mencatat, Dolar AS merosot lebih jauh menjelang keputusan suku bunga FOMC minggu ini. Bank sentral AS diperkirakan bakal tak merubah suku bunga, sehingga dapat mendongkrak daya tarik komoditas yang diperdagangkan dengan mata uang Dolar AS.

Grafik WTICOUSD Daily

de45fcd7ddd86a9c7775c91235b0961d.png

Melihat pergerakan harga harian pada WTI, akan nampak bahwa kenaikan harga baru-baru ini telah membuat harga menemui halangan berat. ACY menilai, garis tengah Bollinger Bands dan level dekat 71.25 (Retracement 23.6%) boleh jadi menghambat kenaikan harga lebih lanjut. Apabila terjadi pembalikan harga (reversal), maka level 68.75 (Retracement 38.2%) bisa dipandang sebagai resisten penting yang bisa menekan harga merosot lebih jauh.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Euro Jatuh Sedikit Karena GDP Lebih Rendah Dibanding Ekspektasi

Euro bergerak flat terhadap Dolar AS dalam sebulan terakhir, dan grafik menunjukkan penurunan tipis ke USD1.169 pada hari Selasa, karena terungkap bahwa perekonomian Zona Euro terus melambat pada kuartal kedua.

GDP Zona Euro yang memimpin kalender ekonomi pada jam perdagangan Eropa pada hari Selasa, menunjukkan bahwa perekonomiannya tumbuh 0.3 persen pada kuartal yang berakhir Juni 2018, setelah meningkat 0.4 persen pada kuartal sebelumnya. Angka tersebut meleset dari ekspektasi pasar yang mengharapkan kenaikan 0.4 persen, sekaligus merupakan pertumbuhan terlambat sejak kuartal II/2016, di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China.

Dari data GDP dalam satu dekade terakhir, perekonomian Zona Euro sempat mengalami pertumbuhan pesat pada 2017, tetapi mundur dengan cepat tahun ini; menggarisbawahi kesenjangan yang lebih besar dibandingkan Amerika Serikat. Menurut ACY, divergensi kebijakan moneter lebih lanjut antara bank sentral kedua negara, yang berdampak pada selisih suku bunga lebih tinggi, kemungkinan akan membebani Euro tahun ini.

Sementara itu, tingkat pengangguran di kawasan Euro tetap 8.3 persen pada bulan Juni, terendah sejak Desember 2008. Angkanya sama dengan hasil revisi bulan lalu dan sejalan dengan ekspektasi pasar.

Grafik EUR/USD Daily

49146a12f41109c7a962427b508cc45b.png

Outlook jangka menengah untuk EUR/USD dalam beberapa hari ke depan akan berjuang dalam celah sempit antara level tertinggi dan terendah sebelumnya. Breakout ke atas maupun ke bawah akan memicu pergerakan lebih lanjut ke satu arah tertentu. Lebih dari itu, nampak resisten pada 1.175 (Retracement 23.6%). Dalam hal ini, ACY menyarankan, investor lebih baik masuk pasar setelah EUR/USD breakout ke arah tertentu.


Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Sterling Jatuh Menjelang Keputusan Suku Bunga BoE

Sebelumnya, Pounds Inggris bergerak naik sedikit dan ditutup pada 1.31253 terhadap Dolar AS di hari Rabu, tetapi secara keseluruhan masih di level rendah. Namun demikian, di sesi trading siang ini, ACY mencatat, Pound tergelincir dan diperdagangkan pada $1.3101 per 3:45 waktu Sydney, menjelang pengumuman suku bunga Bank of England (BoE).

Para ekonom telah memprediksi kalau BoE kemungkinan menaikkan suku bunga acuan dari 0.50 persen ke 0.75 persen pada hari Kamis, melanjutkan pengetatan kebijakan moneternya. Dikarenakan sejumlah ketidakpastian mengenai masalah Brexit dan perlambatan ekonomi, yang dilaporkan hanya tumbuh 0.2 persen di kuartal I/2018; mata uang ini kemungkinan naik dalam jangka pendek, tetapi outlook lebih luas kurang optimis.

Sementara itu, Federal Reserve di Amerika Serikat menyampaikan pandangan bernada hawkish pada hari Rabu. Mereka tak merubah suku bunga, tetapi mengatakan pertumbuhan ekonomi "kuat".

Komite pengambilan kebijakan moneter AS tersebut mengulangi pernyataan bulan Juni bahwa mereka mengekspektasikan "kenaikan Federal Funds Rate bertahap lebih lanjut sesuai kisaran target akan konsisten dengan aktivitas ekonomi yang berekspansi secara berkelanjutan, kondisi pasar tenaga kerja yang kuat, dan inflasi yang mendekati target 2 persen yang diinginkan oleh komite". Pernyataan tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada bulan September kembali menjadi fokus pasar.

Grafik GBP/USD Daily

b3ec27de5b4074f09fd0fbf2c526d6a3.png

Outlook yang lebih luas untuk GBP/USD masih netral berlandaskan support beberapa level rendah sebelumnya dan Fibo Retracement 50.0% (1.3000). Namun demikian, ACY menilai, kejatuhan secara dramatis bisa terjadi bila nantinya pasangan mata uang ini tembus resisten kunci ini.

Menurut William's Percent Range (%R), divergen positif mensinyalkan pasangan mata uang ini bisa berbalik naik setelahnya, tetapi masih belum diketahui seberapa kuat pembalikan tersebut nantinya.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
USD/CNH Terus Merosot Di Tengah Konflik Perdagangan

Yuan offshore (CNH) terus merosot pada hari Kamis, meskipun People's Bank of China (PBoC) mematok nilai tukar acuan lebih kuat terhadap Dolar AS. Hal ini terjadi setelah serangkaian kejatuhan yang terjadi pada pertengahan Juni ketika konflik perdagangan antara AS dan China memanas.

Dolar melesat terhadap mata uang mayor dan mata uang negara-negara berkembang pada hari Kamis, sehari setelah pemerintahan Trump menyatakan tengah mempertimbangkan akan mengenakan bea impor sebesar 10-25 persen lagi atas barang impor China senilai USD200 Milyar.

ACY mencatat, Yuan telah terdepresiasi nyaris 5 persen terhadap Dolar dalam tahun ini. Selain mendominasi mata uang negara-negara berkembang yang rawan, Greenback juga unggul terhadap nyaris semua mata uang G10. Hanya Yen yang memiliki kekuatan safe haven saja yang masih bertahan menghadapi kekuatan Greenback.

Walaupun Federal Reserve tak merubah suku bunga acuan minggu ini, tetapi nada hawkish rapat FOMC telah mendorong ekspektasi pasar akan dilakukannya dua kali kenaikan suku bunga lagi dalam tahun ini, sehingga memperkuat outlook jangka panjang Dolar AS meski Presiden Trump menuduh kekuatan ini menggerogoti daya saing kompetitif Amerika dalam menghadapi masalah perdagangan.

Secara teknikal, price action harian yang nampak dari kenaikan USD/CNH kelihatannya tak terhentikan lagi pada titik ini, sementara isu-isu fundamental masih berperan penting. ACY melihat, USD/CNH mendekati resisten penting sekitar 6.9175 dan apabila nantinya terjadi breakout maka akan mengungkap resisten berikutnya pada level tinggi historis dekat 6.986.

Grafik USD/CNH Daily

f462ca3fae9ca63eace2656e8a86319e.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
S&P 500 Terus Meningkat Berkat Tumbuhnya Optimisme

Saham-saham Amerika Serikat terus meningkat, mendorong terjadinya kenaikan empat hari beruntun di tengah optimisme bahwa pertumbuhan AS akan berlanjut. Indeks S&P 500 ditutup pada 2858.5 poin pada hari Selasa, level tertinggi sejak 26 Januari. Kenaikan memudar pada setengah jam terakhir perdagangan, karena investor keluar dari saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, lantaran kenaikan yield obligasi Treasury.

Pada hari Selasa malam, Amerika Serikat mengatakan akan mulai menerapkan tarif 25 persen atas 279 produk yang didatangkan dari China dengan total $16 Miliar, sehingga memperburuk perang dagang yang berlangsung diantara kedua negara. Ini akan menjadi keduakalinya AS menerapkan bea impor atas produk-produk China dalam sebulan terakhir, walaupun perusahaan-perusahaan AS mengatakan bahwa langkah ini akan meningkatkan biaya bisnis dan harga-harga di tingkat konsumen.

Outlook yang lebih luas untuk Indeks S&P 500 nampaknya masih dalam momentum meningkat, dikarenakan adanya sejumlah ruang menjelang resisten penting di sekitar 2876. ACY mencatat, indeks bergerak menyusuri Ascending Price Channel yang dimulai sejak April, dan batas atas Channel boleh jadi menghalanginya untuk naik dengan cepat.

Grafik S&P500 Daily

08453f5e8450164f2dafa6e392b89167.png

Namun demikian, divergen RSI yang negatif mensinyalkan bahwa indeks bisa jadi mundur setelah menguji resisten tersebut. Oleh karenanya, ACY menyarankan agar investor mengamati apakah nantinya akan ada konfirmasi breakout atau kemunduran, guna membuat keputusan investasi yang tepat.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
S&P 500 Mulai Mundur Menjelang Rilis CPI

S&P 500 Futures menurun 3.2 poin ke 2847.1 per pukul 2:30 pm di Sydney pada hari Jumat, memangkas kenaikannya dalam tahun 2018 ke 7 persen. Sebelumnya, kenaikan beruntun indeks telah membawanya mendekati level tertinggi yang tercapai pada bulan Januari, meskipun ada eskalasi ketegangan dengan China.

Sedikit tanda bahwa tarif yang telah diterapkan atau ketakutan mengenai eskalasi konflik dagang berdampak substansial terhadap keuntungan perusahaan-perusahaan AS ataupun variabel ekonomi secara keseluruhan yang dapat berimbas pada pertumbuhan. Dengan melihat performa ekonomi secara umum, Amerika Serikat nampaknya jatuh dari dari ketegangan geopolitik.

Dalam mengejar keuntungan dari investasi di pasar forex, tanggal rilis CPI akan dianggap penting oleh investor. ACY mencatat, CPI bulan Juli diestimasikan 0.2 persen (MoM), lebih tinggi dari pertumbuhan 0.1 persen pada periode sebelumnya.

Pada grafik Daily, S&P 500 Index nampaknya cenderung mundur dari level tertinggi. Dengan menggambar sebuah Fibonacci Speed Resistance Fan, kita dapat melihat bahwa jika indeks terus meningkat, maka ia akan menghadapi halangan dari garis tengah perangkat ini; hal mana dapat mengurangi laju kenaikan indeks.

Grafik S&P 500 Daily

aaca5dd717cc44b8bd91cb4f3067085f.png

Di sisi lain, jika indeks mundur, sebuah garis support yang menghubungkan dua level tinggi sebelumnya, bisa jadi menyangganya. Breakout lebih lanjut akan mengungkap support lain disediakan oleh level Retracement 61.8%. Menurut ACY, titik dimana investor bisa masuk dapat dicari ketika Stochastic Oscillator mundur ke bawah 80.0 dan terkonfirmasi.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
EUR/GBP Bisa Jadi Rebound Menjelang Rilis CPI Inggris
Selang sehari setelah mencapai level tertinggi 10 bulan, EUR/GBP terus menurun. Pada hari Selasa, pasangan mata uang ini turun 0.23 persen ke penutupan pada 0.89144, meskipun perekonomian Zona Euro tumbuh 0.4 persen di kuartal II/2018, lebih cepat 0.1 persen dibanding ekspektasi maupun pencapaian sebelumnya.

Kelemahan Euro dalam beberapa hari terakhir boleh jadi dipengaruhi oleh perlambatan GDP kuartal kedua di Jerman. GDP Jerman awalnya diekspektasikan naik 2.1 persen oleh para ekonom, tetapi ternyata hanya 2.0 persen (w.d.a). Lebih dari itu, kejatuhan Lira Turki memunculkan ketidakpastian dan menyeret perekonomian di kawasan Euro secara keseluruhan.

Investor perlu mengamati data CPI Inggris bulan Juli yang akan diekspektasikan rilis dengan angka 2.5 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Apabila data CPI mencapai ekspektasi, maka ACY menilai, reli Pound dalam jangka pendek kemungkinan terjadi.

Grafik EUR/GBP Daily

0e3d19e5f3f61420f6e892f1c19c45ee.png

Secara teknikal, Andrew's Pitchfork menunjukkan bahwa pergerakan harga EUR/GBP masih dalam momentum kenaikan, tetapi saat ini sedang berbalik ke garis tengah yang bisa dianggap sebagai level support Daily. Potensi reli juga harus dikonfirmasi oleh rebound Relative Strength Index (RSI) yang saat ini menghadapi level support yang terbentuk dari low sebelumnya.

Apabila EUR/GBP gagal breakout ke bawah dari garis tengah, maka resisten akan nampak dari trendline kedua. Menurut ACY, Investor bisa mendapatkan peluang untuk masuk ke posisi long apabila pergerakan harga menunjukkan reli.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Aussie Terus Menguat Setelah Laporan Ketenagakerjaan

Dolar Australia melanjutkan rebound hari kedua dari level terendah dalam tahun ini. ACY mencatat, AUD/USD meningkat 0.72 persen ke penutupan pada US$0.73116 di hari Jumat, setelah pengangguran di pasar tenaga kerja Australia bulan Juli dilaporkan menurun 0.1 persen.

Perubahan ketenagakerjaan di bulan Juli hanya -3,900, dikarenakan banyak pekerja paruh waktu yang kehilangan mata pencahariannya. Namun demikian, tingkat pengangguran menurun lantaran Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurun 0.2% dari 65.5%. Dalam hal ini, tingkat pengangguran yang lebih rendah tidak dapat diartikan sebagai indikasi kondisi ekonomi yang bagus.

Apabila kita melihat pasar Amerika Serikat, indeks Dolar AS melemah seiring dengan persiapan negosiasi perdagangan baru antara China dan AS. Pasar mengharapkan gejolak baru-baru ini tak mengganggu rencana pengetatan moneter Federal Reserve. Fed diekspektasikan menaikkan suku bunga pada rapat berikutnya, dan akan memantau simposium Jackson Hole untuk menemukan petunjuk mengenai apakah keyakinan tersebut beralasan kuat atau tidak; karena pada hari Jumat, selisih yield obligasi 2-tahunan dan 10-tahunan telah menyempit ke terendah sejak 2007.

Grafik AUD/USD Daily

be852fac3aadef44f625997f36cc20b7.png

Pada grafik Daily, ACY menilai outlook AUD/USD yang lebih luas nampaknya mengalami pembalikan (reversal), tetapi perlu dikonfirmasi hingga benar-benar tidak breakout ke bawah. Jika pasangan mata uang ini terus menghimpun momentum, maka resisten yang menghubungkan beberapa level tinggi sebelumnya bisa menjadi halangan pertama. Apabila breakout ini sukses, maka akan mengantarkan pada halangan berikutnya yang bertempat pada Retracement 23.6% berdasarkan Fibonacci Arcs.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Rebound Harga Emas Berkat Simposium Jackson Hole

Pada grafik Daily, setelah terus menerus menurun hingga bergerak terhuyung-huyung dekat level terendah tahunan, harga emas akhirnya bangkit, menembus level resisten dan ditutup pada harga 1205.91 Dolar per ons. ACY mencatat, harga emas pada tanggal 27 Agustus masih berfluktuasi pada kisaran level harga yang sama dan indikator RSI masih konstan.

Grafik Gold Daily

7398252412d53602333431aea2fa2243.png

Perubahan dalam jangka pendek bisa jadi tak signifikan. Namun, penembusan level resisten dan garis tren Moving Average 20-Days mengindikasikan kenaikan dalam jangka menengah. Sementara itu, pidato dari pimpinan Federal Reserve, Jerome Powell, pada simposium tahunan di Jackson Hole menggugah minat penghindaran risiko di kalangan pelaku pasar. Dengan demikian, kenaikan harga emas bisa diprediksikan.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Euro Di Jalur Depresiasi Dalam Jangka Menengah

Tren EUR/USD pada pekan pertama bulan September nampak kurang jelas. Harga telah mengalami deviasi yang relatif rendah dari level 1.16 dalam tiga hari yang bermula pada pekan lalu.

Ditemukannya kompromi diantara kedua pihak pada sejumlah poin penting dalam negosiasi Brexit bisa menjadi penggerak positif. Sebaliknya, kokohnya data ketenagakerjaan AS mendongkrak USD dan menutup perdagangan pekan pertama pada level terendah jangka pendek baru di 1.155. Refleksi kenaikan suku bunga Federal Reserve AS akan diilustrasikan pada penurunan 1 bulanan, sementara pergerakan jangka pendek akan tetap konstan.

Dari perspektif fundamental, indikator penentu pekan lalu adalah data terkait ketenagakerjaan untuk bulan Agustus. Secara khusus, indeks Nonfarm Payroll dan pendapatan rata-rata per-jam yang berhubungan dengannya. Meskipun tingkat pengangguran menunjukkan angka 3.9 persen; lebih buruk 0.1 persen dari estimasi pada 3.8 persen. NFP dilaporkan +201k, atau lebih tinggi 10k dibanding estimasi awal; sementara gaji meningkat 0.4 persen dalam bulan Agustus dan 2.9 persen dalam setahun, lebih menggembirakan ketimbang indeks NFP. Pembayaran gaji yang lebih tinggi merupakan kunci penguatan USD, sehingga mata uang-mata uang lainnya menderita penurunan dalam besaran bervariasi. Kemungkinan kenaikan suku bunga bulan Desember juga diekspektasikan meninggi sehubungan dengan potensi overheating dalam perekonomian.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, Trump terus menerus menghimbau para taipan Amerika untuk meningkatkan nilai bagi Amerika Serikat dengan memproduksi barang di dalam negeri. Praktek outsourcing yang dilakukan Ford dan Apple telah menghemat biaya produksi kedua raksasa tersebut, tetapi perang dagang bisa menghanguskan semuanya. Keduanya memiliki posisi tawar besar, tetapi perusahaan-perusahaan lebih kecil tak memilikinya. Perang dagang diekspektasikan akan mengakibatkan repatriasi pada USD, apabila bea impor senilai 27 Miliar diberlakukan.

Rangkaian peristiwa di pasar Euro memainkan peran kurang penting, meskipun tetap diperhatikan oleh investor. GDP Zona Euro (QoQ) tetap 0.4 persen sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya; demikian pula dalam basis year-on-year dirilis 2.1 persen, lebih rendah dari estimasi yang dipatok pada 2.2 persen. Rendahnya kinerja Zona Euro boleh jadi disebabkan oleh perlambatan di Jerman. Akselerasi pertumbuhan impor (2.8 persen versus estimasi 0.2 persen) berhubungan dengan depresasi impor (-0.9 persen versus estimasi 0.2 persen) menghasilkan neraca perdagangan 15.8 Miliar Euro; jauh dari 19 Miliar Euro yang ditargetkan. Produksi industri jatuh ke 1.1 persen pada periode yang sama.

Pelemahan Euro bisa mendorong pembalikan Greenback dalam jangka pendek, dikarenakan rapat Dewan Gubernur ECB. Namun demikian, rapat tersebut takkan menghasilkan tambahan selain informasi lebih lanjut mengenai program pembelian aset. Satu-satunya berita baik boleh jadi negosiasi Brexit. Dalam pandangan ACY, outlook jangka menengah tak optimistis bagi Euro.

Grafik EUR/USD

96123ce15bc53dc268f24d81f7b5f8a6.png

Dari grafik 4-Jam, garis tren cenderung stabil di kisaran level harga 1.155. RSI goyah di sekitar 40 dalam basis 14, dan CCI terus menurun di bawah -100. Tren penurunan boleh jadi diperpanjang, tetapi kerugiannya boleh jadi tak ekstensif dalam jangka pendek. ACY menilai, investor bisa mulai membuka posisi short pada Euro mulai dari titik ini.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Penurunan AUD/USD Boleh Jadi Belum Berakhir

Koreksi bullish pada AUD/USD gagal bertahan karena harga berbalik kembali ke titik median pada 0.71463 (GMT+3). Koreksi empat hari terbukti rapuh sejak eskalasi pola resesif terjaga sejak pembukaan hari Senin. Beberapa faktor berpadu untuk membangun review dan forecast pekan ini.

Kelegaan tercipta dari perekonomian Aussie, karena data yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan 44,000 pekerjaan baru ditambahkan ke pasar tenaga kerja pada bulan Agustus, melampaui ekspektasi yang dipatok pada 15,000. Angka indeks pada periode yang sama tahun lalu adalah -3,900.

Walaupun pengangguran tetap 5.3 persen, sesuai dengan estimasi; tetapi tingkat partisipasi angkatan kerja melampaui ekspektasi pada 65.7 persen. Mayoritas pekerjaan baru yang berjumlah 33,700 merupakan posisi full-time. Semua berita ini melegakan tren penurunan dan mayoritas analisa mengantisipasi breakout pada AUD.

Akan tetapi, ACY menilai, ketegangan perang dagang mengimbangi keyakinan yang terbangun pada perekonomian Australia. Ini karena korelasi antara Australia dan pasar negara berkembang, khususnya di kawasan Pacific Rim, meningkat ke level tertinggi secara historis. Gedung Putih tak memberikan sinyal positif, karena Trump mengirim tweet yang mengatakan tak ada tekanan untuk melonggarkan ketegangan perdagangan. Beijing juga mempertimbangkan akan menolak tawaran negosiasi yang diajukan oleh Menteri Keuangan AS.

Eskalasi ini melibatkan Australia yang merupakan partner dagang utama China. Penurunan tingkat investasi aset tetap menggerogoti imbal hasil yang diperoleh dari Australia hingga jangka tertentu. Faktor-faktor-fundamental yang mempengaruhi pasangan mata uang ini sekarang kurang ditentukan oleh Aussie itu sendiri, dan lebih digerakkan oleh risiko global.

Pekan ini, investor perlu memperhatikan notulen rapat RBA yang kemungkinan menginformasikan kapan kenaikan suku bunga bisa dilakukan. Indeks harga perumahan juga bisa jadi referensi yang berhaga. Awal tahun ini, RBA membiarkan suku bunga tetap pada 1.5 persen, tetapi performa pasar tenaga kerja dan pelemahan kurs bisa menjadi keprihatinan tersendiri. Di sisi lain, sedikit event yang perlu diamati dari Amerika Serikat, kecuali informasi baru dari perang dagang Gedung Putih dan Beijing.

Secara teknikal, pasangan mata uang ini mengalami varian besar pada grafik H4 dalam sepekan terakhir. SMA-20 dan SMA-60 terpenetrasi dalam dua hari. SMA-20 mulai menembus SMA-60, mengindikasikan pemulihan pada pasangan mata uang ini. Namun, pembacaan RSI menandakan kurangnya momentum. Peluang entry pada titik ini kurang jelas. ACY menyarankan agar investor berhati-hati.

Dua level support terletak pada 0.71306 and 0.70940. Sedangkan resisten baru berada pada 0.72213.

Grafik AUD/USD

3d5d8d580da53c98ad4f9836ec3e457e.png

Sumber : https://www.acy.com/category/market-analysis?affiliate=12229
 
Back
Top