Apa Allah itu Ada?

kak aku baru di forum ini tolong ajarin aku cara main di forum ini....
terima kasih kk.

Oh ya salam kenal ya. Wah, saya juga baru daftar, tapi kalau masih kurang jelas juga, coba halaman ini mungkin bisa jadi informasi mendasar. Dan sekedar info, yang sudah daftar di forum ini, sepertinya juga sudah terdaftar di jejaringsosial, tapi gpp, yang penting infonya khan, :)

Saya juga akan jarang ke sini, sejauh ada hal lain :)
 
Dimanakah Allah?
A. Di setiap hati para manusia.
B. Di Arsy-Nya.
C. Dimana-mana.

Kebanyakan orang menjawab "Disetiap hati para manusia".. berarti kalo hati nya di belah keluar "Allah" kah?
Maaf sebesar-besarnya, saya ingin sedikit membenarkan jikalau memang benar, maka kebenaran datang dari Allah, dan jikalau saya salah, maka kesalahan datang dari saya.

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang menetap tinggi DI ATAS ‘ARSY .” (QS. Thaha: 5)

Makna kata Istiwa' (menetap) yang dimaksud adalah "bersemayam.." sedangkan Arsy adalah Tahta kerajaan Allah di Langit.

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah YANG (BERKUASA) DI (ATAS) LANGIT bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al Mulk : 16)

Secara hadits, yang menyatakan dimanakah Allah, Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang budak, “Di mana Allah?” Budak itu menjawab, “Di atas langit.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budak tersebut menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.”

Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki.

Jadi jawabannya "B"
Allah itu di langit (di Arsy -Nya).. Tapi lebih dekat dari urat leher kita pengetahuan-Nya, hingga bisikan hati pun tidak akan mampu kita sembunyikan..
Allah di hati kita hanyalah perumpamaan.. Karena ibarat seorang pacar yang selalu ada di hati kita, bukanlah berarti kalo hati kita kita belah akan keluar pacar kita, tapi hanya istilah..

Yang menyatakan "C" Allah ada dimana-mana, ingat, Ilmu-Nya yang dimana-mana, Bukan Allah-Nya,.. Karena Allah tidak ada di aspal yang kita Injak-injak, dan tidak ada di Toilet yang kotor. Allah Maha Suci.


Untuk menjawab pertanyaan inti anda.. "Buktikan bila Allah itu ada.."
Mungkin lebih enak dengan saya balik bertanya..

Saya memiliki miniatur kecil dari replika Alam semesta.. Terbentuk seperti sebuah kotak kaca, yang didalamnya terdapat replika bumi, merkurius, venus, matahari, bulan dan lain-lain.. Saya menyatakan, miniatur galaksi ini muncul dengan sendirinya dikamar saya, dan tidak ada satu tangan pun yang pernah membuatnya.. Ini muncul tiba-tiba..
Pertanyaannya : "Apakah anda percaya? bahwa miniatur galaksi yang saya miliki ini tidak ada yang membuatnya (alias muncul dengan sendirinya)?"

Jika anda tidak percaya, mungkin paling alasan yang paling tepat, anda akan berkata.. "Mana mungkin replika itu tidak ada yang membuatnya.."
Dan yang paling pantas saya jawab : "Bagaimana mungkin mainan kecil tata surya saja anda tidak percaya bahwa itu muncul dengan sendirinya, sedangkan anda berfikir bahwa tata surya sesungguhnya mampu muncul dengan sendirinya?"

Bilamana anda menjawab "ya saya percaya dengan cerita anda!"
Hanya ada 2 pilihan untuk itu..
1. Anda hanya membenarkan pendapat aneh ini dikarenakan tidak mengakui adanya Allah.
2. Anda memiliki sedikit gangguan kejiwa'an..

Maaf yang sebesar-besarnya bila saya memakai perumpamaan yang sedikit membuat anda tersinggung.. demi Allah saya tidak bermaksud.. hanya bermaksud menjawab dengan perumpamaan yang logis.. :)
Assalamu'alaikum..
 
Tolong buktikan kalau Allah itu Ada

pembuktian eksistensi Allah tak sama dengan pembuktian akan adanya benda2 lain semacam: angin, udara, dll.

Setiap individu punya jawaban sendiri2 soal keberadaan Allah. Tergantung Iman masing2.
 
wah abis baca dari awal sampai akhir seru ini...

Apakah Allah itu ada? saja jawab ada.
Buktinya, karena saya percaya.
 
Si tukang : Saya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.

Konsumen : Kenapa kamu berkata begitu.....???

Si tukang : Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan...
untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika
Tuhan itu ada, Adakah yang sakit....??? Adakah anak terlantar... ..???
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak
dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan
ini semua terjadi.

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena
dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang
cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat
ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar ,
kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan
tidak terawat. Si konsumen balik ke tempat tukang cukur.

Konsumen : Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.

Si tukang : (Si tukang cukur tidak terima) Kamu kok bisa bilang
begitu...... ??? Saya di sini dan saya tukang cukur. Dan barusan
saya mencukurmu!

Konsumen : Tidak!! (elak si konsumen) Tukang cukur itu tidak ada,
sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang
kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana..

Si tukang cukur : Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri,
kenapa mereka tidak datang ke saya (jawab si tukang cukur membela
diri)

Konsumen : Cocok!! (kata si konsumen menyetujui) Itulah point
utama-nya! Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA! Tapi apa
yang terjadi... Orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan
TIDAK MAU MENCARI-NYA.Oleh karena itu banyak yang sakit dan
tertimpa kesusahan di dunia ini.
 
kalo boleh saya pengen tau logika temen temen untuk menjustifikasi keberadaan ALLAH
boleh ga ya ?

InsyaAllah penjelasan anda2 akan mendekatkan keimanan hamba2nya pada KHOLIQ nya

share dong..
 
Jawaban Den Zoeratmand di atas itu menurut daku adalah yang paling pas.
Sederhana, nggak berbelit dan memang seperti itu.

Dalam beragama itu landasan utama yang dipakai adalah percaya dan bukan logika. Boleh dan bagus-bagus saja menggunakan logika dalam beragama tapi itu tidak punya value yang sepenting percaya.

Orang boleh saja menggunakan pendekatan logika dalam menjawab apakah Allah itu ada, tapi kalau buat daku Allah itu ada because My Belief said so. Period.

Nggak perlu muter-muter dengan pendekatan ini itu, dengan harapan bahwa akan terlihat logis sehingga menimbulkan impresi orang lain. Kalau daku sih akan senang hati dikatakan bodoh dan tak rasional serta menelannya sebagai sebuah dogma cause I don't give a damn about that.

Dalam Islam ada yang disebut sebagai rukun iman yang wajib dipercaya oleh semua muslim. Dan apa yang membuat kita meyakini semua yang ada di rukun iman?? Because Allah said so. Enuff. Period. Screw all that logical things.
 
saya hanya ingin tau saja kok...
karena saya juga sering mencari kebenaran agama melalui pendekatan logika
mungkin karena basic saya orang sains

dulu waktu kuliah, dosen (profesor beliaunya)
pernah bertanya kpd saya.
"apakah kamu yakin jika kamu dilahirkan dr keluarga non muslim, maka kamu akan muslim sekarang ?"
wow mulai dr situ saya memulai mencari kebenaran tentang ISLAM.

mungkin ada diantara temen2 yg pernah mengalami kejadian yang sama dengan saya ???
 
saya hanya ingin tau saja kok...
Wah sepertinya ada salah mispersepsi nih, Den Lisa.
Potingan daku itu bukan untuk menanggapi postingan Den Lisa soal logika itu, lho.

Yang ingin daku sampaikan adalah tidak semua dalam agama itu bisa dicari lewat sebuah logika karena yang kita "hadapi" itu bukan hukum alam yang bisa dilogika dengan mudah, yang kita "hadapi" itu adalah Dzat yang serba maha, yang jangkauannya jauh dari logika manusia.
Dalam kasus ini, yang kita perlukan adalah keyakinan, dari situ awalnya. Kalaupun ada yang bisa dilogika, itu hanya sekedar hal sekunder. Makanya daku bilang Allah itu ada because my belief said so.

Ada hal-hal tertentu dalam agama yang bisa menggunakan logika dan akal kita karena memang kita mampu untuk menjangkaunya. Itulah kenapa Allah pun memerintahkan kita untuk selalu belajar dan mencari tahu, seperti yang telah Allah sampaikan melalui QS Shaad ayat 29 “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”
karena saya juga sering mencari kebenaran agama melalui pendekatan logika
mungkin karena basic saya orang sains
Seperti yang sudah daku sampaikan, kita bisa dan sah saja mencari kebenaran agama melalui pendekatan logika, tapi itu hanyalah hal sekunder karena yang paling penting itu adalah keyakinan.
Bicara basic, dakupun bisa dikategorikan orang sains, bahkan daku akan mengklaim bahwa diriku adalah orang yang sangat rasional. Karena kerasionalanku itu jugalah yang membuatku memilah mana yang bisa dilogika atau mana yang akan sekedar daku jadikan dogma karena daku merasa akan sangat takabur kalau sampai melogikanya.

Banyak ilmu pengetahuan yang ada di Quran, maka dari situ kita bisa menggunakan logika dan akal kita untuk menggalinya. Tapi di sisi lain ada juga yang harus kita telan bulat-bulat tanpa perlu malu untuk tidak memilih menggunakan logika kita.
dulu waktu kuliah, dosen (profesor beliaunya)
pernah bertanya kpd saya.
"apakah kamu yakin jika kamu dilahirkan dr keluarga non muslim, maka kamu akan muslim sekarang ?"
wow mulai dr situ saya memulai mencari kebenaran tentang ISLAM.

mungkin ada diantara temen2 yg pernah mengalami kejadian yang sama dengan saya ???
Pertanyaan sang profesor itu pembahasannya bisa daku jawab sampai berbusa-busa. ~LoL~

Dan perlu diketahui hari ini adalah tepat 2 tahun 4 bulan 3 hari 3,5 jam daku mengucapkan syahadat.
Lalu kalau ditanya bagaimana daku menemukan kebenaran Islam, daku nggak akan menjawab dengan panjang lebar, walaupun itu bisa daku lakukan, tapi daku punya jawaban singkat saja bahwa itu adalah kuasa Allah. Enuff.

Daku berasal dari keluarga non muslim, lingkunganku tumbuh dewasa dari kecil adalah lingkungan yang punya statistik dari 100 orang hanya 2-3 orang saja yang beragama, daku lahir dan besar di suatu negara komunis yang 90 persennya atheis, sisanya percaya Tuhan tapi nggak beragama. Islamnya? Mencari muslim di negara itu ibarat mencari jarum ditumpukan jerami. Jadi akan sangat sombong kalau sampai daku nggak menjawab bahwa daku bisa menerima kebenaran Islam karena kekuasaan Allah. :d
 
dulu waktu kuliah, dosen (profesor beliaunya)
pernah bertanya kpd saya.
"apakah kamu yakin jika kamu dilahirkan dr keluarga non muslim, maka kamu akan muslim sekarang ?"
wow mulai dr situ saya memulai mencari kebenaran tentang ISLAM.

ini rasa²nya deja vu ama pernyataan kaum seberang jalan, islib (islam liberal), bahwa seorang muslim (yang dilahirkan dalam keluarga muslim tentunya) sebaiknya 'murtad' dulu untuk menemukan kebenaran Islam,,, :mad:) :mad:) :mad:)
 
Wah sepertinya ada salah mispersepsi nih, Den Lisa.
Potingan daku itu bukan untuk menanggapi postingan Den Lisa soal logika itu, lho.

Yang ingin daku sampaikan adalah tidak semua dalam agama itu bisa dicari lewat sebuah logika karena yang kita "hadapi" itu bukan hukum alam yang bisa dilogika dengan mudah, yang kita "hadapi" itu adalah Dzat yang serba maha, yang jangkauannya jauh dari logika manusia.
Dalam kasus ini, yang kita perlukan adalah keyakinan, dari situ awalnya. Kalaupun ada yang bisa dilogika, itu hanya sekedar hal sekunder. Makanya daku bilang Allah itu ada because my belief said so.

Ada hal-hal tertentu dalam agama yang bisa menggunakan logika dan akal kita karena memang kita mampu untuk menjangkaunya. Itulah kenapa Allah pun memerintahkan kita untuk selalu belajar dan mencari tahu, seperti yang telah Allah sampaikan melalui QS Shaad ayat 29 “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”

Seperti yang sudah daku sampaikan, kita bisa dan sah saja mencari kebenaran agama melalui pendekatan logika, tapi itu hanyalah hal sekunder karena yang paling penting itu adalah keyakinan.
Bicara basic, dakupun bisa dikategorikan orang sains, bahkan daku akan mengklaim bahwa diriku adalah orang yang sangat rasional. Karena kerasionalanku itu jugalah yang membuatku memilah mana yang bisa dilogika atau mana yang akan sekedar daku jadikan dogma karena daku merasa akan sangat takabur kalau sampai melogikanya.

Banyak ilmu pengetahuan yang ada di Quran, maka dari situ kita bisa menggunakan logika dan akal kita untuk menggalinya. Tapi di sisi lain ada juga yang harus kita telan bulat-bulat tanpa perlu malu untuk tidak memilih menggunakan logika kita.

Pertanyaan sang profesor itu pembahasannya bisa daku jawab sampai berbusa-busa. ~LoL~

Dan perlu diketahui hari ini adalah tepat 2 tahun 4 bulan 3 hari 3,5 jam daku mengucapkan syahadat.
Lalu kalau ditanya bagaimana daku menemukan kebenaran Islam, daku nggak akan menjawab dengan panjang lebar, walaupun itu bisa daku lakukan, tapi daku punya jawaban singkat saja bahwa itu adalah kuasa Allah. Enuff.

Daku berasal dari keluarga non muslim, lingkunganku tumbuh dewasa dari kecil adalah lingkungan yang punya statistik dari 100 orang hanya 2-3 orang saja yang beragama, daku lahir dan besar di suatu negara komunis yang 90 persennya atheis, sisanya percaya Tuhan tapi nggak beragama. Islamnya? Mencari muslim di negara itu ibarat mencari jarum ditumpukan jerami. Jadi akan sangat sombong kalau sampai daku nggak menjawab bahwa daku bisa menerima kebenaran Islam karena kekuasaan Allah. :d

awesome,...
setuju dengan mba dipe, dan penjelasan itu sepemikiran dengan saya tapi karena keterbatasan pemikiran saya, jadi saya tidak bisa mengungkapkannya...thanks mba... [<:)

karena memang ada beberapa hal yang memang tidak bisa di logika...
 
Seperti yang sudah daku sampaikan, kita bisa dan sah saja mencari kebenaran agama melalui pendekatan logika, tapi itu hanyalah hal sekunder karena yang paling penting itu adalah keyakinan.
Bicara basic, dakupun bisa dikategorikan orang sains, bahkan daku akan mengklaim bahwa diriku adalah orang yang sangat rasional. Karena kerasionalanku itu jugalah yang membuatku memilah mana yang bisa dilogika atau mana yang akan sekedar daku jadikan dogma karena daku merasa akan sangat takabur kalau sampai melogikanya.

wow..
great women =b==b==b=
saya sampek baca tulisan ini berkali kali


ini rasa²nya deja vu ama pernyataan kaum seberang jalan, islib (islam liberal), bahwa seorang muslim (yang dilahirkan dalam keluarga muslim tentunya) sebaiknya 'murtad' dulu untuk menemukan kebenaran Islam,,, :mad:) :mad:) :mad:)

yup betul cak..
mungkin sampai saat ini beliau masih jadi penyokong dana si ulil abshar abdalla dan konco konconya.
dan pertanyaan inilah yang membuat saya ke berbagai pesantren selama 1 tahun selepas kuliah dulu :)):))
 
Persepsi dan Prediksi.
Allah; Tuhan; Thian; Dewa; God; etc ada karena bahasa! kata adalah gambaran /persepsi manusia tentang sesuatu agar orang lain bisa menjabarkan maksud si pembuat. Karena keterbatasan akal pikir manusia.. manusia ber prediksi tentang sesuatu yg super, serba, maha.. terbentuk kata2 Allah, Tuhan Dewa dls dsb.
Kata. Benda dlm bahasa ada abstrak dan real. bisa dan tidak di terima 5 indra. Allah termasuk yg abstrak. kalo cuma pake 5 indra ga bakalan bs dibuktikan keberada-anNYA. hrs pake 6 (lebih dr 5 indra yg ada) 7,8 dst. Adakah indra ke 6/7/8 dst itu? .. ADA! karena bisa dipelajari. Pengen belajar/mau tau? PM ja aq..@--> (Jabaran trlalu luas!!!) @-->
 
So pasti,,, Tuhan itu ada, dan bisa tidak bisa membantahnya.. sudah banyak buktu bahwa tuhan itu ada.
 
Persepsi dan Prediksi.
Allah; Tuhan; Thian; Dewa; God; etc ada karena bahasa! kata adalah gambaran /persepsi manusia tentang sesuatu agar orang lain bisa menjabarkan maksud si pembuat. Karena keterbatasan akal pikir manusia.. manusia ber prediksi tentang sesuatu yg super, serba, maha.. terbentuk kata2 Allah, Tuhan Dewa dls dsb.
Kata. Benda dlm bahasa ada abstrak dan real. bisa dan tidak di terima 5 indra. Allah termasuk yg abstrak. kalo cuma pake 5 indra ga bakalan bs dibuktikan keberada-anNYA. hrs pake 6 (lebih dr 5 indra yg ada) 7,8 dst. Adakah indra ke 6/7/8 dst itu? .. ADA! karena bisa dipelajari. Pengen belajar/mau tau? PM ja aq..@--> (Jabaran trlalu luas!!!) @-->

bisa disebutkan non, nama indra ke 6/7/8 dst itu? kali aja saya sudah menguasainya tapi ndak tahu namanya,,,, >:l
 
SEBUAH 'CATATAN KECIL' TENTANG KETUHANAN

~ KETIKA 'ORANG TAK BERTUHAN' MASIH BERTANYA TENTANG TUHAN ~

Banyak orang berbicara tentang eksistensi Tuhan dengan menggunakan sudut pandang makhluk. Sehingga hasilnya bukan Tuhan, melainkan tetap makhluk. Pemikiran filsafat tidak pernah menemukan Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, karena ia hanya berputar-putar dalam sudut pandang kemanusiaan atau makhluk belaka.

Islam berbicara tentang Tuhan dalam sudut pandang yang lebih holistik, keluar dari kemakhlukan. Bahwa Tuhan adalah ‘Sesuatu’ yang tidak serupa dengan makhluk apa pun (laisa kamitslihi syai-un). Sehingga setiap apa pun yang bisa kita persepsi, bukanlah Tuhan. DIA berada dalam wilayah ‘ketidaktahuan’ kita sebagai makhluk. Selama kita masih tahu tentang ‘dia’, maka itu bukanlah DIA.

Yang kedua, Islam mengajarkan bahwa Tuhan adalah Maha Besar (Allahu Akbar) mewadahi seluruh makhluk. Maka, selama masih ada sesuatu yang mewadahi ‘tuhan’, dia itu bukanlah Tuhan. Karena itu, Islam menolak tuhan-tuhan yang masih berada di dalam alam semesta. Tuhan tidak terwadahi oleh apa pun termasuk alam semesta – ruang, waktu, materi & energi. Justru alam semesta itulah yang berada di dalam Tuhan. Bahkan juga, Tuhan tidak terwadahi oleh pikiran manusia ataupun pancaindera. Karena kalau masih terwadahi, berarti ‘tuhan’ itu masih kalah besar dengan pikiran dan kemampuan indera kita. Ini menyalahi kaidah Allahu Akbar. Itu pasti bukan Tuhan.

Yang ketiga, Tuhan sangat dekat dengan makhluk-Nya (aqrabu ilaihi min hablil warid). Diistilahkan lebih dekat daripada urat nadi yang ada di leher kita sendiri. Tentu, antara kita dengan urat leher tidak berjarak, karena urat leher itu sudah di dalam tubuh kita. Tetapi Allah menggambarkan Dirinya sebagai lebih dekat daripada yang tidak ada jaraknya itu. Ini sekaligus membantah orang-orang yang mempersepsi Tuhan sebagai sosok.

Yang keempat, Tuhan mewadahi segala yang kontradiktif (huwal awwalu wal akhiru, wazhahiru wal bathinu). Dulu dan nanti, ada di dalam Dirinya. Kelihatan dan gaib berada di dalam Dirinya. Disana-disini-disitu juga berada di dalam Dirinya.

Ringkas kata, kalau kita berbicara tentang eksistensi ketuhanan di dalam islam, ibarat sedang membicarakan ‘Semesta Pembicaraan’ dalam suatu himpunan angka. Bahwa seluruh angka yang ada di dalam himpunan itu adalah bagian atau anggota dari semesta pembicaraan. Berbicara apa pun tentang makhluk, adalah berbicara tentang eksistensi ketuhanan itu sendiri. Karena sekecil apa pun eksistensi makhluk, ia adalah bagian dari semesta pembicaraan yang ‘tak berhingga’. Namun, tentu saja, semesta pembicaraan tidaklah sama dengan apa pun yang ada di dalam himpunan angka.

Jadi, Tuhan bukanlah sekedar pengisi kekosongan saat ‘tidak tahu’ terhadap sesuatu, karena kita sedang berbicara totalitas eksistensi. Bahwa ‘kekosongan’ adalah bagian dari eksistensi ketuhanan, itu adalah iya, sebagaimana ‘keberadaan’ juga adalah bagian dari eksistensi ketuhanan. Bahwa ‘ketidaktahuan’ adalah berbicara tentang eksistensi ketuhanan juga iya, sebagaimana ‘ketahuan’ juga berbicara tentang eksistensi ketuhanan.

Karena itu, untuk menjadi ‘tahu’ bahwa diri kita ‘tidak tahu’, kita harus berproses menjadi tahu dulu. Disinilah terjadi proses saintifik dari: tidak tahu, belum tahu, lebih tahu, semakin tahu, tapi tidak akan pernah ‘benar-benar tahu’. Karena ternyata di balik ‘ketahuan’ selalu muncul ‘ketidak tahuan’ yang baru. Disanalah Tuhan sedang ‘memberi tahu’ tentang kesombongan manusia yang ‘sok tahu’. Sains tidak pernah bisa menjawab segalanya, karena ia hanya membuka tirai-tirai 'ketidak tahuan' manusia terhadap realitas yang selalu memunculkan misteri baru di baliknya.

Lebih dari itu semua, karena Tuhan adalah semesta pembicaraan, dan bukan anggota himpunan, maka segala operasi bilangan tidak berlaku bagi-Nya. Pertanyaan ‘dimana Tuhan’, ‘bagaimana Tuhan’, ‘sebelum & sesudahnya ada Tuhan apa nggak’, dan seterusnya tidak akan pernah bisa menggambarkan Tuhan dalam arti sebenarnya.

Untuk apa kita bertanya ‘Tuhan Ada Dimana’ misalnya. Lha wong, ruang alam semesta ini berada di dalam-Nya. Pertanyaan ‘dimana’ itu hanya berlaku untuk makhluk, yang sekali waktu ada disini, disitu, atau disana. Karena Tuhan sudah meliputi seluruh ruang alam semesta, maka dalam waktu yang bersamaan DIA sudah berada disini, disitu, dan disana. Jadi buat apa kita bertanya ‘DIA berada dimana?’ Pertanyaan semacam itu hanya berlaku untuk makhluk yang terikat oleh dimensi ruang.

Sama juga ketika kita bertanya tentang eksistensi Tuhan dengan pertanyaan ‘Apa, Bagaimana, dan Kapan’. Tidak bermakna apa-apa, karena seluruh waktu, materi, dan energi sudah berada di dalam eksistensi-Nya. DIA adalah DIA, yang tidak pernah bisa kita persepsi, karena eksistensi-Nya berada di luar jangkauan persepsi manusia. Tetapi, kehadiran-Nya bisa dirasakan dengan hati yang jernih. Kecuali bagi orang-orang yang tidak punya hati… :)

Hmm, bagaimana mungkin kita bisa menceritakan bentuk sebuah gedung yang megah, kalau kita berada di dalamnya dan tak ada peluang untuk keluar darinya? Paling-paling kita hanya akan berputar-putar menceritakan interiornya belaka. Itu pun hanya sejauh kemampuan mata kita memandang.. :)
 
Back
Top