Cerbung: Dia

Bls: Cerbung: Dia

16

Irani: "Gak mungkin.. yang punya tanda lahir di belakang telinga gak cuma Kelly seorang."
Irani kembali tidur.

Pagi hari, setelah beberapa bulan Damon dan Ara tinggal di Bandung..
Ara sedang menyiapkan sarapan untuk Damon?
Ara: "Sayang.. aku udah siapin sarapannya. Aku mau ke depan bentar, beli gula."
Damon menjawab dari dalam kamar.
Damon: "Iya, Sayang.."
Ternyata, Ara bukan mau beli gula. Ia pergi ke apotik beli alat test.

Setelah Damon selesai sarapan, Ara langsung duduk di pangkuan Damon.
Damon: "Sayang.. hari ini kamu kenapa? Seneng banget kayaknya.."
Ara memeluk Damon.
Ara: "Sebenernya tadi aku gak beli gula. Aku.. beli ini.."
Ara menunjukkan alat testnya. Lalu memeluk Damon lagi, dan berbisik.
Ara: "Aku hamil.."
Betapa bahagianya Damon? Ia menggendong Ara, dan membawanya ke kamar. Ia menciumi istrinya.

Damon menyampaikan kabar bahagia itu kepada keluarga di Jakarta.
Semuanya bahagia menerima kabar tersebut. Kecuali Ray.. Ia semakin sakit hatinya.
 
Bls: Cerbung: Dia

Detektif yang disewa Gunawan, namanya Umar. Ia datang untuk memberikan laporan.
Umar: "Saya sudah melacak gadis itu. Ini fotonya."
Ia menunjuk beberapa foto gadis, yang diyakini sebagai Kelly.
Umar: "Dan saya juga berhasil menyelidiki sebabnya menghilang."
Gunawan: "Bagus.. Teruskan pencarian Kelly."

Irani masih saja kepikiran.
Irani: "Aku tidak boleh langsung mengklaim bahwa Ara adalah Kelly. Aku tidak punya bukti apapun."
Tapi, ia cerita pada Ray. Reaksi Ray, ia amat terkejut.
Ray: "Jadi, Mama menduga, kalau Ara adalah Kelly? Tapi mana mungkin, Ma?"
Irani: "Itulah, Ray. Mama juga bingung. Tanda lahir Kelly, sama seperti punya Ara."
Ray: "Kalau Ara adalah Kelly.. berarti, Damon mencintai dan menikahi adik kandungnya sendiri. Ya Tuhan.."
Irani: "Itulah.. Makanya Mama gak mau gegabah. Kasihan mereka."
Keduanya terdiam sejenak. Lalu Irani bicara lagi.
Irani: "Yang paling menakutkan adalah.. sekarang Ara.. hamil.."
 
Bls: Cerbung: Dia

Gunawan kembali menerima laporan tentang pencarian Kelly dari Umar.
Umar: "Kelly menghilang karena penculikan oleh preman-preman yang memanfaatkan bayi, untuk mengemis. Kelly diasuh oleh preman bernama Kartolo. Tapi, Pak Kartolo sudah meninggal dunia. Istrinya yang lalu merawat. Tapi juga sudah meninggal dunia. Kelly hidup bersama seorang pemuda, yang dianggapnya kakak."
Gunawan: "Lalu, sekarang di mana Kelly?"
Umar: "Begini, Pak Gunawan.. saya juga menerima informasi yang kurang menyenangkan tentang Kelly."
Gunawan: "Informasi kurang menyenangkan bagaimana maksud kamu? Dia masih hidup, kan?"
Umar: "Hidupnya berantakan. Karena hidup di lingkungan yang kurang baik, dia menjadi anak jalanan yang.. sangat nakal. Pernah masuk penjara juga."
Memang busuk. Akan tetapi, anak tetap anak. Gunawan sangat menyayangi Kelly.
Gunawan: "Apapun keadaannya, dia tetap anakku. Cepat temukan dia."

Ara kembali kerja. Saat dia melayani seorang pelanggan, mendadak kepalanya sakit, dan ia pingsan. Ia pun dibawa ke klinik terdekat.
 
Bls: Cerbung: Dia

Damon sendiri dengan sigap langsung meninggalkan pekerjaannya, dan segera ke tempat Ara dirawat.
Ia melihat Ara masih belum sadarkan diri di salah satu kamar pasien.
Dokter mengajaknya bicara.
Dokter: "Saya melihat ada gejala penyakit berat pada kesehatan istri anda."
Damon: "Istri saya kenapa, Dokter?"
Dokter: "Saya belum dapat memastikan. Saran saya, dia harus menjalani serangkaian test untuk mengetahui penyakitnya. Saya akan merujuk ke sebuah rumah sakit di Jakarta."
Jakarta..? Haruskah..? Tapi, Demi Ara.. Damon bersedia.

Ara tidak paham maksud Damon membawanya kembali ke Jakarta.
Damon: "Sayang.. dokter bilang, kamu mesti jalani test di rumah sakit di Jakarta."
Ara: "Emangnya.. aku kenapa, sih?"
Damon: "Aku juga belum tau."

Sampailah Damon dan Ara di Jakarta. Mereka pulang ke apartement milik Damon?
Damon: "Sekarang kamu istirahat, ya.."
Ara mengangguk.
 
Bls: Cerbung: Dia

Gunawan dan Novia makan malam bersama di rumah.
Gunawan: "Sejak aku pulang, aku gak lihat Damon? Ke mana dia?"
Novia: "Anak gak berguna gitu, gak usah kamu tanyakan.."
Gunawan: "Loh..? Ada apa sebenarnya?"
Novia: "Dia kabur sama ceweknya. Kawin lari, Mas. Dengan seorang gadis mantan narapidana. Keterlaluan, kan?"
Gunawan: "Mantan narapidana?"
Novia: "Iya. Aku udah ngancam ini itu. Damon tetep kabur."
Gunawan: "Seharusnya, kamu gak boleh begitu. Meski pun mantan narapidana, kalau baik, kenapa engga? Apalagi Damon mencintai gadis itu."
Novia: "Tapi, Mas.."
Gunawan: "Sudahlah.. tolong ambilkan handphone aku di ruang kerja."
Novia pun menuruti perintah Gunawan.

Novia mencari handphone Gunawan di meja kerja. Tapi tidak ada. Ia mencari di tas kerjanya juga tidak ada. Ke mana, ya?
Kemudian, perhatian Novia beralih pada sebuah map warna hijau, bertuliskan Dokumen Pencarian Kelly. Ia membuka dokumen tersebut dan membaca garis besarnya.
 
Bls: Cerbung: Dia

Di tengah tumpukan kertas di dalamnya, ia menemukan foto-foto gadis memakai topi, dan berpakaian sangat kucel dan dekil.
Novia: "Siapa ini?"
Di antara foto-foto itu, ada foto ukuran 10 r wajah seorang gadis, dan tampak sangat jelas.
Novia: "Ara? Kenapa foto Ara bisa di sini? Apa hubungannya sama Kelly?"
Gunawan memanggil dari ruang makan.
Gunawan: "Nov.. kok lama banget, sih?"
Novia: "Iya bentar, Mas.."
Akhirnya, Novia menemukan handphone GSM dan CDMA di laci meja kerja itu.
Novia kembali ke ruang makan, sekalian membawa map itu.
Novia: "Ini handphone-nya, Mas.."
Gunawan melihat yang dibawa Novia.
Gunawan: "Kamu ngapain bawa-bawa map itu?"
Novia membuka map, mengambil foto, dan menunjukkan pada suaminya.
Novia: "Siapa gadis ini?"
Gunawan: "Mungkin Kelly. Cantik, kan?"
Novia terkejut bukan main.
 
Bls: Cerbung: Dia

17

Tangan Novia gemetar.
Novia: "Ini.. Kelly, Mas?"
Gunawan: "Iya. Tapi masih dalam pencarian. Tenang aja, Nov. Kita pasti akan berkumpul lagi dengan Kelly."

Tidak mungkin! Ara tidak mungkin adalah Kelly. Novia jadi tidak tenang. Dan ingin segera tau kebenarannya.

Damon menemui Dokter Iqbal yang menangani Ara.
Dokter Iqbal: "Nona Ara.. memiliki kelainan dalam otaknya. Dan.. ini sangat berbahaya."
Damon: "Kelainan apa yang Dokter maksud?"
Dokter Iqbal: "Dia menderita leukimia stadium tiga. Ini sangat berbahaya. Ditambah kondisi kandungannya yang sangat lemah. Harus menjalani pengobatan yang lebih intensif. Dan, dia harus melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang, dari anggota keluarganya yang cocok. Bila tidak, stadiumnya akan semakin meningkat, dan kematian bisa menjemputnya sewaktu-waktu."
Bagai tersambar petir. Seperti dihempas ombak yang menderu. Damon langsung shock mendengar hasil pemeriksaan itu. Ia melihat Ara di kamar pasien. Sedang tidur.
 
Bls: Cerbung: Dia

Tak sadar.. Damon menangisi nasib yang dialami oleh Ara.
Damon: "Kenapa harus kamu yang mengalami ini? Kenapa kita yang harus diuji begini berat?"

Ketika sadar..
Ara menanyakan hasil pemeriksaannya. Dan.. Damon tidak kuasa untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Ia berusaha tersenyum, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Damon: "Kamu baik-baik aja. Hanya.. rahim kamu lemah. Jadi, supaya anak kita ini baik-baik aja, kamu mau ya, dirawat inap di sini dulu?"
Ara: "Demi anak kita.. aku mau.."
Damon: "Ya udah.. aku mau pulang dulu, mandi. Trus beli makanan untuk kamu."
Ara mengangguk lemah.

Dari rumah sakit, Damon tidak langsung pulang. Ia mampir ke tempat Bimo, dan menceritakan yang dialami oleh Ara. Bimo pun tak kalah kagetnya.
Bimo: "Kok bisa, sih? Setau gue, dari kecil, Ara jarang sakit berat. Ya ampun.. Ara.."
 
Bls: Cerbung: Dia

Damon: "Gue mau, lo jalani test. Karena, cuma lo satu-satunya keluarga Ara. Dia butuh pendonor sumsum tulang belakang, dan yang cocok biasanya adalah keluarga kandung."
Bimo mulai tampak bingung.
Bimo: "Ke.. keluarga kandung, ya?"
Damon mengangguk.
Bimo: "Maaf, Mon.. kayaknya.. gue harus kasih tau lo sesuatu."
Damon: "Apa itu?"
Bimo: "Gue ini, bukan kakak kandung Ara.."
Damon: "Maksud lo?"
Bimo: "Gue sama Ara sebenernya beda ayah, beda ibu. Gue diasuh sama ibu dan ayah preman yang sama kayak Ara."
Damon: "Gue masih bingung."
Bimo: "Jadi gini, Mon.. Ara bukan adik kandung gue. Gue gak tau dia anak siapa. Yang pasti, gue sama Ara dari kecil diasuh oleh bapak dan ibu yang sama."
Damon putus asa. Ia harus cari ke mana keluarga Ara?

Malam hari, Ara bangun. Damon ada di sisinya.
Ara: "Sayang, aku gak suka bau rumah sakit. Kita pulang aja, yuk.."
Damon: "Kalau ada apa-apa sama anak kita gimana?"
Ara: "Iya, ya.."
Damon: "Kamu yang sabar, ya.. Kalau kamu nurut apa kata dokternya, pasti bisa cepet pulang.."
 
Bls: Cerbung: Dia

Suatu siang, Irani sedang belanja di mall. Ia mampir ke toko kue, dan memilih-milih kue yang ia inginkan.
Tiba-tiba seorang pria menghampirinya, dan menyentuh pundaknya.
Irani menoleh. Ada rasa terkejut, tapi akhirnya ia tersenyum.
Irani: "Mas Gunawan.."
Ya. Pria itu adalah Gunawan. Suami Novia, dan papanya Damon.

Beberapa menit kemudian, keduanya duduk berhadapan di sebuah kafe. Menikmati minuman segar, dan sepiring biskuit.
Irani: "Udah lama banget kita gak ketemu.."
Gunawan: "Iya, Ran. Gimana kabar kamu?"
Irani: "Aku.. baik-baik aja."
Gunawan: "Ray?"
Irani: "Dia juga baik-baik aja."
Gunawan menyentuh tangan Irani.
Gunawan: "Maaf, sampai sekarang aku gak bisa berterus terang, dan mengakui Ray sebagai anakku. Karena.. aku gak tega menyakiti Novia."
Irani: "Kamu gak perlu khawatir. Selagi kita gak buka mulut, gak akan ada yang terluka. Ray sendiri, taunya, dia yatim sejak kecil. Sampai sekarang, situasi masih terkendali."
Gunawan: "Aku masih mencintai kamu, Ran.."
Irani: "Aku juga masih mencintai kamu.."
 
Bls: Cerbung: Dia

Bimo kedatangan dua pria di apartementnya.
Bimo: "Kalian siapa?"
Gunawan: "Perkenalkan, saya Gunawan. Dan dia Umar. Ingin bicara penting sama kamu."
Setelah mereka nyaman duduk di sofa, pembicaraan pun dimulai. Umar mengeluarkan foto-foto seorang gadis.
Umar: "Apa benar, gadis ini adik anda?"
Bimo: "Iya, bener. Ada apa sih ini?"
Umar: "Pak Gunawan ini adalah ayah kandung adik anda?"
Bimo memang kaget. Tapi.. ia berusaha santai.
Gunawan: "Saya mohon, katakan di mana Kelly?"
Bimo: "Kelly?"
Umar: "Nama asli Ara adalah Kellyara."
Bimo: "Kalian pasti salah orang. Sekarang, silahkan kalian pergi!"
Bimo membuka pintu untuk mereka.
Gunawan: "Tolong, Nak.. Saya sudah 20 tahun lebih kehilangan putri saya. Saya mohon.."
Bimo: "Kalian ini salah orang. Ara bukan Kelly."

Ketika di luar apartement..
Umar: "Kita harus langsung menemui Kelly, Pak."
Gunawan: "Ya.. kamu benar."
 
Bls: Cerbung: Dia

Bimo menemui Damon di rumah sakit.
Damon: "Apa? Ada yang nyari Ara, dan ngaku bokapnya?"
Bimo: "Tapi gue gak percaya. Gue sangsi aja. Gak mau kalo sampai Ara diapa-apain."
Damon terdiam. Lalu bicara lirih.
Damon: "Seharusnya.. lo jangan keburu bilang bukan, Bim. Siapa tau memang bokapnya, dan Ara punya kesempatan untuk sembuh."
Bimo jadi merasa bersalah. Harus gimana, nih?

Gunawan tidak mau menyerah. Selain mencari Kelly langsung, ia masih berharap Bimo mau membantu. Karena ia yakin, Ara adalah Kelly.

Bimo mendapat surat dari Gunawan.
"Saya yakin, Ara adalah Kelly. Kamu hanya tidak mau kehilangan adik kamu itu. Saya bisa mengerti. Namun, sebagai ayah, saya sangat merindukan Kelly. Kalau kamu berubah pikiran, hubungi saya, dan katakan di mana Kelly. Terimakasih."
Di dalam amplop ada kartu nama Gunawan.
Bimo: "Gue harus hubungi dia."
 
Bls: Cerbung: Dia

Sementara itu, di rumah sakit.. Ketika malam semakin larut.. Dan bulan mulai tertutup awan malam..
Ara terbangun dari tidurnya, dan berteriak. Membuat Damon terkejut.
Ara: "Engga..! Engga mungkin..!"
Damon: "Sayang, kamu kenapa?"
Ara: "Rambut aku.. rambut aku.."
Damon melihat tumpukan rambut rontok di bantal dan di tangan Ara.
Damon spontan memeluknya erat.
Damon: "Tenang, Sayang.. Tenang.."
 
Bls: Cerbung: Dia

18

Dokter memberikan suntikan pemenang pada Ara. Lalu memeriksanya lebih intensif. Setelah itu menjelaskan keadaan Ara.
Iqbal: "Sudah stadium empat.."
Damon: "Lalu harus bagaimana?"
Iqbal: "Kami tim dokter akan berusaha sebaik mungkin. Doakan saja."

Damon memandangi Ara yang terbaring lemah tak berdaya.
Damon: "Maafin aku, Sayang.. Aku terlalu bodoh. Aku gak bisa berbuat apa-apa untuk sembuhin kamu. Aku suami yang gagal, karena gak bisa jaga kamu."
Ia menangis di sisi istrinya.

Suatu hari, Bimo nekat menelpon Gunawan, dan meminta bertemu.
Bimo: "Maafkan saya, Pak. Kemarin, saya berbohong. Karena.. saya takut kalian berbuat jahat sama Ara. Meski bukan adik kandung, tapi saya sangat sayang sama dia."
Gunawan: "Saya dapat mengerti, Nak Bimo. Saya berterimakasih sekali, karena putri saya dijaga dengan baik. Sekarang.. boleh kan.. saya bertemu dengan putri saya?"
Bimo: "Iya, Pak.. Tentu. Tapi sebelumnya, ada yang harus anda ketahui..
Bimo pun mulai menceritakan kondisi Ara.
 
Bls: Cerbung: Dia

Sementara itu..
Mumpung Ara tidur, Damon berniat pulang untuk mencuci pakaian, dan membawa yang bersih.
Saat akan kembali ke rumah sakit, Damon mampir ke toko bunga.
Damon: "Mawarnya.. 300 kuntum. Dirangkai yang bagus, ya.."
Kemudian..
"Damon?!"
Damon menoleh.. terkejut. Tapi tak bisa lari.
Damon: "Sofi..?"
Sofi memeluk Damon erat.
Sofi: "Damon, aku kangen banget sama kamu.."
Damon: "Sofi, lepasin.."
Sofi pun menurut.
Lalu Damon mengambil pesanan bunganya. Buru-buru membayar dan pergi. Sofi mengejarnya.
Sofi: "Damon, tunggu dulu!"
Damon: "Maaf ya, aku gak ada waktu.."
Lalu ia masuk ke mobil, dan pergi. Sofi belum puas. Ia mengikuti Damon.

Gunawan merasa terpukul saat mendengar yang Bimo ceritakan.
Gunawan: "Sekarang, kita temui Kelly. Saya tidak mau terlambat menemui dia.."
Bimo: "Baik, Pak.."
Mereka pun ke rumah sakit, tempat Ara dirawat.

Sofi heran. Kenapa Damon pergi ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Ia pun diam-diam mengikuti.
 
Bls: Cerbung: Dia

Damon melihat Ara sudah bangun.
Damon: "Ini bunga untuk kamu.."
Ara: "Banyak banget.. Indah lagi.. Makasih ya.."
Damon: "Aku juga bawain makanan kesukaan kamu. Aku suapin, ya..?"
Ara mengangguk.

Sofi melihat itu semua dan merasa heran.
Sofi: "Emangnya Ara sakit apa, sih? Manja banget!"
Lalu, ia tanya pada perawat yang lewat.
Sofi: "Suster, pasien itu sakit apa, ya?"
Perawat: "Leukimia, Mbak.."
Deggg!!! Leukimia? Pantas saja, wajah Ara sangat pucat, dan tampak sangat lemah.
Sofi: "Yang lain harus tau!"

Sesaat setelah Sofi pergi, datanglah Gunawan dan Bimo.
Gunawan: "Sebentar, Nak Bimo.. Itukah putri saya?"
Ia melihat seorang gadis tertidur di ranjang pasien. Ditemani seorang pria.
Bimo: "Iya, Pak."
Gunawan: "Yang.. bersama dia.. siapa?"
Bimo: "Suaminya. Namanya Damon."
Gunawan agak terkejut.
Gunawan: "Nama panjangnya?"
Bimo: "Kalo gak salah.. Damon Syahreza."
Gunawan: "Kamu yakin, itu namanya?"
Bimo: "Yakin, Pak. Saya pernah kerja jadi asistennya.."
 
Bls: Cerbung: Dia

Apakah.. Damon ini.. Damon anaknya? Ah.. di Jakarta ini, ada banyak nama Damon? Ia pun menyuruh Bimo masuk duluan, dan ia mengikuti di belakangnya.
Bimo: "Mon!"
Damon menoleh, dan tersenyum pada Bimo.
Damon: "Udah stadium empat, Bim.."
Bimo tampak sedih. Tapi, ia harus menyelesaikan satu urusan.
Bimo: "Mon, gue.. bawa seseorang yang mungkin bisa menolong Ara.."
Bimo menunjuk Gunawan yang berdiri agak jauh di belakangnya. Ia perlahan menghampiri Damon.
Keduanya saling terkejut.
Damon: "Papa..?"
Gunawan: "Damon.."
Damon: "Apa yang papa lakuin di sini?"
Dia tidak menjawab, melainkan balik bertanya.
Gunawan: "Kamu.. apanya gadis itu, Damon?"
Damon: "Dia istri aku, Pa.."
Gunawan: "Istri?"
Bimo pun ikut terkejut mendengar Damon memanggil Gunawan dengan sebutan.. papa.
Bimo: "Mon, Pak Gunawan ini.. papanya Ara.."
Damon: "Gak mungkin!"
Gunawan mengajak Damon bicara lebih serius di lobi rumah sakit.
 
Bls: Cerbung: Dia

Damon: "Jadi, Ara.. adalah Kelly? Adik aku yang hilang itu?"
Gunawan: "Iya, Mon.. Dia adalah Kelly. Belasan tahun, Papa menyuruh Umar untuk mencari keberadaan Kelly."
Damon terdiam. Ia merasakan pukulan hebat di ulu hatinya. Jarum tajam menusuk sanubarinya. Sakit..
Damon: "Pa.. aku gak peduli.. mau Ara itu Kelly, atau siapa pun.. Aku mencintainya, Pa.. Sekarang, dia hamil anak kami."
Semakin rumit saja masalah ini.
Damon: "Pa, apapun yang terjadi, Papa jangan beritau Ara, ya.. Dia aja gak tau penyakitnya. Aku gak ingin terjadi hal yang buruk sama dia."
Gunawan: "Tapi, Damon.. Papa rindu sekali sama dia."
Damon: "Kalo Papa memang rindu dan sayang sama dia.. Aku berharap, Papa mau melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang untuk Ara."
Gunawan: "Papa mau. Sangat mau. Semoga cocok, ya.."
Damon: "Untuk sementara, jangan sampai ada yang tau soal ini. Terutama Ara.."

Sofi sampai di rumah Ray. Ia melihat sebuah mobil lain di depan pagar. Itu mobil Anton. Pasti ada Nindy juga.
Sofi: "Kebetulan.."
 
Bls: Cerbung: Dia

Ya. Nindy dan Anton ada di rumah Ray. Sedang mampir aja.
Anton: "Barusan jemput Nindy dari lokasi syuting. Trus mampir ke sini."
Ray: "Emangnya, sekarang syuting apa, Nin?"
Nindy: "Iklan, Ray.."
Ray: "Berarti gak terlalu berat, ya?"
Nindy tersenyum.
Kemudian..
"Selamat sore semuanya.."
Mereka semua melihat Sofi datang.
Ray: "Hai, Sof.."
Sofi tidak membalas sapaan itu. Ia langsung menuju pokok permasalahan.
Sofi: "Kebetulan kalian semua ada di sini.."
Nindy: "Kenapa emangnya?"
Sofi tersenyum, lalu cerita.
Sofi: "Akhirnya, jalan untuk mendapatkan Damon semakin mudah."
Anton: "Maksud lo?"
Mendadak, perasaan Ray jadi tidak enak. Apa terjadi sesuatu pada Ara?
Sofi: "Gue ketemu Damon, dan.. ternyata, Ara mau mati.."
Mereka bertiga masih bingung dengan maksud Sofi.
Ray: "Maksud lo apa, sih? Ngomong yang jelas, dong!"
Sofi: "Iya.. Ara sekarang lagi sakit parah. Leukimia stadium empat. Gak ada keluarganya, jadi gak bisa melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang. Jadi, semakin mudah kan, gue dapetin Damon.."
 
Bls: Cerbung: Dia

misa kasih koment gak papakan kal?
ini cerita bikinan kamu sendiri yak? dah baca separuhnya, lumayan hehe
tapi ini kayak skenario ya, JLeeEBB cepat ceritanya, gitu..
misa baca sampe hal 4, tapi pas hal 9 Aranya udah nikah, mana ama Damon, kirain ama ntu polisi si Anton pas pertama muncul. oiya, pas kal nyebut pemudi misa kira dia cowok, wakwka taunya cewek.
kalo baca dihalaman sebelumnya dia malah kena penyakit, weeeww, sepertinya misa bisa menebak hal itu, jangan bilang si Ara bakal mati yak, hehe.

okeh, saia suka ngasih komentar, fufufu, itu membangun pengarang buat semangat bikin cerita kan? fufufu
semangat kal!!
 
Back
Top