JINGGA

28 – Militancy

Hari ini adalah jadwal Langge ke kampus (lagi). Bukan untuk masuk kuliah,
tetapi untuk menemui pembimbing akademiknya, di mana Ia harus menentukan pelajaran
apa saja yang ingin dia ambil di semester berikutnya. Melihat kondisi Jingga, tiba-tiba
saja Langge agak (sedikit) bersemangat untuk menjadi dokter, karena sudah terlalu
banyak orang di Indonesia yang sakit tetapi tidak mendapatkan pertolongan yang
seharusnya.

Total kredit yang harus diambil kurang-lebih sebanyak 200 SKS untuk menjadi
dokter. Terdiri dari 160 SKS untuk memperoleh titel "“sarjana kedokteran"” di belakang
namanya, dan 40 SKS lainnya untuk mendapatkan gelar “"dokter"” di depan namanya.
Mata kuliah yang 160 SKS itu pun dibagi-bagi lagi menjadi mata kuliah umum, mata
kuliah dasar keahlian, mata kuliah keahlian dan mata kuliah profesi.

Setelah memperoleh gelar sarjana kedokteran, mahasiswa masih harus mengikuti
kepaniteraan umum (PANUM), meluluskan diri dalam beberapa ujian dan menjalani
pendidikan program profesi dokter (meliputi ujian-ujian lagi dan kepaniteraan klinik).

Mata kuliah di kedokteran ada bermacam-macam dan aneh-aneh pula. Di
semester awal, tentu saja Langge baru bisa mengambil Mata Kuliah Umum seperti Etika
Kedokteran, Biologi Kedokteran, Kimia Kedokteran dan Fisika Kedokteran. Mata Kuliah
Dasar Keahlian antara lain Anatomi dan Histologi, Ilmu Faal, Patologi Anatomi
Kedokteran dan beberapa mata kuliah lainnya yang bisa dipilih. Sedangkan Mata Kuliah
Keahlian sudah jauh lebih spesifik, seperti Ilmu Bedah, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu
Penyakit Mata...

Ketika memikirkan hal-hal tersebut, sejenak Langge merasa bahwa kuliahnya
akan memakan waktu yang sangat, sangat lama. Mungkin delapan tahun lagi Ia baru bisa
bersantai-santai di rumah, itupun jika Ia tidak menempuh pendidikan spesialis. Apakah
mungkin, Ia bisa pergi keliling dunia?

Langge bahkan tidak tahu, Ia ingin menjadi dokter apa, mengambil spesialisasi di
bidang apa, ingin menolong siapa. Ia benar-benar tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa Ia
ingin pergi keliling dunia, itu saja.

* * *​
 
Jingga masuk rumah sakit lagi. Padahal, baru saja Langge berniat untuk mengajak
Jingga ke rumahnya pada hari Sabtu besok. Ia mendapat kabar tersebut dalam perjalanan
pulang dari Salemba ke rumah. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Ia teringat
kembali dengan perkataan dokter paru yang merawat Jingga, kurang lebih 3 bulan yang
lalu. Pernyataan yang hampir saja Ia lupakan.

"“Pneumonia pada Jingga terlambat dideteksi, jadi kita harus bersiap
menghadapi kemungkinan terburuk.”"

“"Misalnya, Dok? Kemungkinan terburuk yang seperti apa?”"

“"Pneumonia yang diidap oleh Jingga adalah kasus yang paling sering muncul.
Pada beberapa kasus menimbulkan komplikasi, seperti pemenuhan selaput dada pada
rongga dada, timbulnya empiema, nanah pada paru-paru atau bisa saja terjadi sepsis,
meskipun itu relatif jarang terjadi.”"

“"Tapi bukannya pneumonia bisa disembuhkan, Dok?”"

"“Ya. Namun, jika kondisinya memburuk, cairan di paru-parunya harus disedot
lagi, bahkan bisa saja dibutuhkan pembedahan. Untuk kasus-kasus yang sudah parah,
bukannya tidak mungkin menyebabkan..."”


Kematian. Suara di dalam hatinya melengkapi kalimat yang tidak terselesaikan
oleh otaknya tersebut.

Langge begitu takut menghadapi kematian. Bukan kematiannya, tetapi kematian
orang-orang yang Ia sayangi. Termasuk Papa, Mama, Vane, Tare, Bu Minah, Jingga, ...
dan terutama sekali, Ebiet. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika harus
berpisah ruang dan waktu dengan orang-orang yang Ia sayangi tersebut.

Entah sejak kapan Jingga telah mengidap pneumonia. Bisa saja terjadi salah satu
komplikasi yang disebutkan oleh dokter tersebut beberapa bulan yang lalu, bisa saja
ternyata selama ini sebenarnya Jingga selalu sesak nafasnya, tetapi Ia berbohong supaya
tidak harus masuk rumah sakit lagi. Jingga adalah anak kecil yang misterius dan (tentu
saja) pandai menutup-nutupi sesuatu. Apalagi kalau sesuatu tersebut menyangkut dengan
dirinya.

Pikiran Langge mengambang, entah di mana. Ia berusaha tidak memikirkan apaapa
selain fokus pada jalanan, tetapi justru teringat segala hal yang menumpuk di
kepalanya. Kurang lebih satu-dua minggu lagi, Ia akan berangkat bersama Yudhi cs. ke
Singapura dan lalu ke Malaysia, untuk memotret Everybody Loves Irene selama tur di
dua negeri tetangga tersebut. Kalau sampai kondisi Jingga terus memburuk, bagaimana
mungkin dirinya bisa pergi meninggalkan Jingga? Ke luar negeri pula.

"“Bagaimana keadaannya, Bu?"” tanya Langge, sesampainya di rumah sakit. Entah
mengapa, tiba-tiba badannya rasanya mau remuk. Belum habis pusingnya memilah-milah
pelajaran yang mau Ia ambil di semester 2, Ia sudah harus dihadapkan dengan cobaan
mengenai Jingga lagi.

Tidak ada seulas pun senyum di wajah beliau. Hanya ada kekusutan, kesedihan
yang mendalam. Membuat Langge -– mau tidak mau -– ingin menangis juga. "“Buruk
sekali, Nak. Kata dokter, cairan di paru-parunya harus disedot lagi. Ibu tidak kuat melihat
Jingga menangis terus seperti itu, nafasnya semakin berat,”" tutur beliau.

Seperti biasanya, selasar koridor nampak sepi. Tadinya, Bu Minah membawa
Jingga ke dokter hanya untuk check-up biasa saja. Tanpa beliau sangka, dokter tidak
mengizinkan Jingga pulang. Kondisi Jingga diperburuk pula dengan asupan gizi yang
rendah. Bukannya tidak diberi makan di Rumah Talitemali, melainkan karena nafsu
makan pengidap pneumonia memang biasanya jauh lebih sedikit dibandingkan orang
normal. Bagaimana pula cara memaksa orang sekeras kepala Jingga untuk makan?

Langge percaya. Jingga ingin sekali menjadi seorang yang normal. Rasanya
Langge hanya mau teriak, mengapa begitu berat cobaan yang harus dihadapkan padanya,
dan pada adik sepupunya ini? Jingga sudah ditinggal oleh ibunya, kakak semata
wayangnya bahkan meninggal dunia, Ia baru saja "“tuntas"” menghabiskan jalanan sebagai
makanan sehari-harinya. Ketika Ia hendak hidup tenang, mengapa selalu saja ada hal
yang menghalangi kebahagiaannya?

Adzan Ashar berkumandang. Langge tidak lagi ingin berteriak. Ia bergegas
menuju mushalla. Bertanya. Meminta. Berdoa.

* * *​
 
Singapore Overseas School, 13:41

“"Biet, I really need to talk to you right now",” tukas Diaz, tatkala melihat pujaan
hatinya di kantin sekolah. Yang dipanggil hanya menengok sedikit, dan kemudian
menggigit sandwich tuna yang ada di genggamannya. Sekarang adalah waktu istirahat
dan Ebiet tidak rela jika lunch time-nya sampai diganggu-gugat.

"“Ada apa?"” tanyanya, acuh tak acuh. Sejujurnya, Ia sedang tidak ingin berbicara
dengan Diaz untuk saat ini. Apalagi setelah kejadian tempo hari di mana Diaz
mengatakan cinta padanya dalam Bahasa Jepang. Mau dalam bahasa apapun, tetap saja
itu namanya menyatakan cinta.

“"You have been running away from me, lately".”

Cowok itu menduduki kursi yang berada di sebelah kursi Ebiet. Ebiet menyeruput
jus jeruk yang ada di hadapannya melalui sedotan. Tidak memasang mimik was-was,
walau sebenarnya Ia ingin sekali menjauhkan posisi duduknya dari Diaz.

“"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"” Ebiet menanggapinya sekedar untuk berbasa-basi
saja. Ia menyukai Diaz sebagai teman, teman dekat, teman istimewa. Tetapi, tidak
untuk menggantikan Langge, walaupun mungkin hanya untuk sementara saja. Untuknya,
hanya ada Langge di dalam hatinya. L-A-N-G-G-E. Tidak yang lain.

"“Kamu tidak pernah mau mengobrol bareng aku lagi, nggak pernah mau pulang
sama aku, nggak mau duduk di dekatku kalau bertemu di MRT. Seolah-olah kita orang
yang tidak saling mengenal!”" protes Diaz.

Suasana semakin memanas, seiring dengan emosi Diaz yang merambat naik dan
naik menuju titik tertinggi sakit hatinya. Bukannya apa-apa, Ia membenci sikap Ebiet
yang plin-plan, tidak pernah mau memilih, dan menggantungkan hubungan mereka
begitu saja, menggantungkan statusnya. Ia bukan tipe cowok yang suka dengan hubungan
yang tidak jelas ke mana arahnya, HTS atau apalah.

We’re always friends, you know that,"” tutur Ebiet, yang akhirnya menatap Diaz,
tepat di kedua bagian bola matanya yang berwarna hitam.

“"We are special friends, best friends, close friends, we are more than friends!”"
kata Diaz. Ebiet merasa, Diaz menyimpulkan hal tersebut sepihak saja. Tentu saja Ia
tidak bisa menerima hal tersebut dengan lapang dada.
 
What makes you think you can judge our friendship like that? We ARE friends,
that’s it!
”"

Untuk sejenak, Ebiet menyesali nada bicaranya. Tetapi, memang itulah kenyataan
yang Ia dan Diaz miliki. Teman, tidak lebih. Paling tidak, menurutnya.

“"But I love you",” Diaz lagi-lagi memprotes pernyataan Ebiet sebelumnya.
Kadang-kadang, Diaz memang tidak mau tahu. Tidak pernah mau tahu apa yang orang
lain pikirkan, inginkan, rasakan. Ia hanya mau tahu bahwa Ia mencintai Ebiet dan Ia ingin
gadis itu mencintainya balik.

Apalagi setelah hal-hal yang kemarin mereka alami. Menonton Club 8 bersamasama
di Club 8, pulang bersama, naik MRT yang sama, Ebiet yang tertidur di bahunya, Ia
mengantarkan Ebiet sampai ke depan pintu kondonya ketika Ebiet sakit, Ia membantu
Ebiet mengerjakan PR-PR Matematikanya, senyum Ebiet yang -– rasanya -– hanya
untuknya. Apa itu namanya kalau bukan harapan? Dan tentu saja, Diaz menyambut
harapan itu. Ia benar-benar berharap saat ini. Berharap, semua hal berjalan sesuai dengan
yang Ia inginkan. Berharap bahwa Ebiet juga merasakan apa yang dia rasakan.

Ia ingin memiliki Ebiet.

It doesn’t mean that—”---"

“"You slept on my shoulder!”"

"“It doesn’t mean that I love you too!"” bentak Ebiet, marah. Ia tidak bisa menerima
kekesalan Diaz begitu saja. Mengapa orang lain selalu saja menghakiminya, untuk halhal
yang tidak Ia lakukan? Untuk “kesalahan” yang bahkan tidak bisa dibilang
merupakan suatu kesalahan?

Diaz berhenti tatkala mendengar kalimat Ebiet barusan. Dengan seketika.
“"So you don'’t?”" tanyanya, takut-takut. Kalau bisa, Diaz ingin menutup kedua
telinganya, agar IA tidak perlu mendengar jawaban yang akan Ebiet kemukakan
kepadanya. Meskipun barusan Ialah yang ingin memastikan hal tersebut dengan
mengetesnya melalui sebuah pertanyaan.

Ebiet diam. Tapi ternyata, kesunyian itu hanya berjalan selama beberapa detik
saja.

“"Sorry, Yaz, but I don’t. I love someone in Indonesia and he loves me too. He’s
not my boyfriend, but he will be as soon as I get back from Singapore. Sorry.
”"

Ebiet tidak tega, namun Ia harus mengatakannya pada Diaz. Diaz – yang terpukul
sekali ketika mengetahui kenyataan pahit tersebut.

Sebenarnya, alasan itu tidak sepenuhnya benar. Itu hanya alibinya saja. Ia
mungkin bisa saja belajar mencintai Diaz, as they grew fonder for one another. Tetapi, Ia
tidak mungkin melakukannya karena Diaz berbeda keimanan dengannya. Ia tidak mau
sakit hati di kemudian hari, apalagi jika harus memaksa Diaz untuk pindah agama. Ia
tidak setega itu, karena Ia pastinya tidak mau mengubah kepercayaannya demi cinta yang
tidak sejati. Menurutnya, cinta sejati hanyalah cinta sepasang kekasih yang telah
menikah. Yang harus bertahan untuk selamanya.

Lagipula, Ebiet sudah memutuskan. Ia akan menunggu sampai dirinya pulang ke
Jakarta, dan memastikan hubungannya dengan Langge. Kalau jodoh -– kata orang, tidak
ke mana-mana. Di situ-situ saja.
 
29 – Living​

“"Hai, Jingga,"” sapa Langge tatkala Jingga membuka matanya. Ia sedang
mengutak-atik kamera Holganya yang mengingatkannya pada banyak hal. Pada Ebiet
yang memberikan kamera tersebut, dan juga pada Yudhi dan bandnya yang seharusnya
akan “membawa” Langge ke Singapura pada tanggal 11 mendatang. Yang disapa hanya
dapat tersenyum tipis, kondisinya lemah sekali.

“"Gimana kamu?"” tanya Langge. Nafas Jingga masih putus-putus meskipun selang
oksigen sudah disediakan sebagai alat bantu pernafasannya.

"“Lemas...”" jawab Jingga, singkat.

"“Eh, Jingga, kamu cepat sembuh dong, biar bisa pulang ke rumahku. Aku baru aja
mau ajak kamu ke rumahku hari Sabtu besok, tahunya kamu sakit...”"

"“Aku sehat kok, aku nggak sakit,”" protes Jingga, tidak terima dibilang sakit.

“"Iya, iya. Jingga nggak sakit.”"

"“Kalang?”" panggil anak itu.

"“Iya?”"

“"Apapun yang terjadi, Kalang tetap harus jadi berangkat ke Singapura ya?”"
pintanya kemudian. Langge tersentak mendengar kata-kata Jingga barusan. Sejujurnya, Ia
masih bingung. Ia rindu sekali dengan Ebiet, dan ingin sekali menjadi fotografer –
meskipun untuk sementara saja, tetapi Ia tidak mungkin bisa meninggalkan Jingga dalam
kondisi seperti ini.

“"Tapi, kamu kan...”"

“"Jingga sehat, Kalang. Ah, seandainya ada Kakak Hatif, Kalang kan nggak perlu
khawatir seperti ini..."” tukasnya, menancapkan pisau ke dalam hati Langge, semakin
dalam lagi.

"“Jingga, jangan berkata seperti itu... Jangan berkata seperti itu lagi."” Langge
mengucapkannya dengan keinginan yang mendalam. Kalimat Jingga yang seperti itu
selalu saja membuat Ia sedih, sangat sedih.

"“But I want my Kakak back to me!”" Jingga hampir menjerit ketika
mengatakannya, dan membuahkan tatapan aneh dari orang-orang lain di dalam bangsal
tersebut.

"“Jingga!"” Langge pun hampir membentak. Ia kaget sekali, dari mana Jingga
memperoleh kosa kata tersebut. Ia bahkan tidak pernah tahu bahwa Jingga bisa berbahasa
Inggris! "“Dari mana kamu dengar kalimat itu?”"

"“Kakak Ebiet,"” jawabnya singkat. Dan baru kali ini pula, Jingga menyebut Ebiet
tanpa julukan ‘Putri Kalang’. Saya tidak pernah tahu bahwa Ebiet dan Jingga pernah
saling berbicara
... "“... sebelum Kakak Ebiet berangkat ke Singapur, Ia datang ke Rumah
Talitemali. Jingga menanyakan bagaimana cara berdoa supaya Kakak kembali dalam
Bahasa Inggris. Siapa tahu kalau Jingga berdoa dalam dua bahasa, Tuhan akan
mengabulkannya... Ternyata Kakak justru sudah pergi dan bersama Tuhan saat ini...”"
sambungnya, seolah-olah bisa membaca pikiran Langge.

“"Oh."” Langge semakin tidak mengerti harus berkata apa. Yang jelas, kalimat
Jingga sebelumnya benar-benar menghancurkan dirinya, seolah-olah Ia tidak ada artinya
di mata anak itu. “"Tolong, Jingga. Jangan bilang seperti itu lagi.”"
 
IPK Langge cukup memuaskan, mengingat Ia kuliah kedokteran, bukan sastra.
Tadi, Ia sudah mengecek nilai-nilainya di internet. Ada beberapa A-, B+ dan banyak B.
IPK-nya 3,27. Seharusnya Ia bisa bergembira dengan nilai seperti itu. Apalagi ayahnya
juga menaruh respek padanya berkat nilai tersebut.

Tetapi, bagaimana mungkin Ia bisa bersenang-senang sementara kondisi Jingga
menurun? Nafsu makan anak itu turun semakin drastis dan Jingga lebih banyak tidur
dibandingkan terjaga. Langge tentu saja tidak mempersalahkannya, Ia hanya merindukan
Jingga yang seringkali bisa diandalkan sebagai tempat curahan hatinya. Walaupun,
tanggapan Jingga hampir tidak pernah seperti yang Ia harapkan.

Dan pagi ini, Jingga dipindah ke ruang ICU. Langge tahu pasti, itu artinya
kondisi Jingga semakin buruk dari hari ke hari. Sekarang, Langge malah tidak bisa
menemani Jingga sesering sebelum-sebelumnya, di sebelahnya.

"“Mas, Dokter Wahyu ingin bertemu. Mas keluarganya pasien Jingga, kan?"” tanya
seorang perawat yang sering bolak-balik memeriksa Jingga.

Sesaat setelah Langge mengiyakan, seorang dokter muncul dari dalam ruang ICU,
perawat tersebutpun memberitahu bahwa dokter itu adalah Dokter Wahyu. “"Siang, Dok,
saya kakaknya Jingga.”"

"“Oh, bisa saya bertemu dengan orangtuanya?"” tanya dokter. Pada detik itu,
Langge semakin merasa bahwa kondisi Jingga sangatlah buruk saat ini.

"“Orangtuanya sudah meninggal, Dok. Tinggal saya keluarganya,"” jawab Langge,
setengah menutup-nutupi asal-usulnya. Tentu saja sulit untuk menjelaskan satu silsilah
keluarga pada seorang dokter yang sibuk, bukan?

"“Hmmm, baik. Kondisi Jingga sudah sangat buruk, Nak. Ia mengalami septic
shock, atau yang sering disebut sepsis. Ini adalah komplikasi terparah dalam kasus
pneumonia. Jingga mungkin akan sering menerima cairan intravenous melalui infus
maupun suntikan, dan obat yang semakin bermacam-macam,” kata dokter tersebut.

"“Lakukan apa saja yang terbaik untuk Jingga, Dok,”" Langge memohon dengan
amat sangat, seolah-olah memang hanya Jinggalah yang Ia miliki.

"“Tentu saja kami akan berusaha semaksimal mungkin. Berdoalah untuk yang
terbaik, Nak.”" Beberapa detik kemudian, Dokter Wahyu meninggalkan Langge dalam
kehampaan.

Keesokan harinya, Mama datang mengunjungi Jingga di rumah sakit. Beliau dan
Langge hanya bisa masuk ke ruang ICU pada jam besuk, dan tidak bisa berlama-lama
pula. Langge sebenarnya tidak begitu kuat juga jika harus berada lama-lama di sebelah
Jingga. Hatinya teriris-iris melihat kondisi anak itu yang sangat memprihatinkan.

"“Kenalkan, Jingga, ini Mamaku,"” ujar Langge, sambil tersenyum dan berusaha
tegar.

"“Hallo, Jingga...”" sapa beliau. Yang disapa tersenyum. Kelihatan sekali bahwa
Jingga ingin terlihat menyenangkan di mata ibunya. Apalagi setelah Langge mengatakan
padanya bahwa Jingga kemungkinan besar boleh tinggal di rumahnya – meskipun
sebenarnya hal itu sedikit-banyak hanya untuk menghibur Jingga dan Ia belum tahu pasti.

"“Bagaimana kabarmu?”"

"“Ba...ik, Tan...te.”" Jingga menjawab dengan putus-putus, karena nafasnya juga
masih naik turun dan terengah-engah. Nafas Jingga pendek-pendek, padahal sudah ada
selang oksigen yang seharusnya membantu pernafasannya, tetapi ternyata tidak begitu
menolong.

"“Panggil Mama saja. Jingga kan adiknya Langge, berarti anak Mama juga,”"
tukasnya. Jingga ceria sekali kelihatannya, meskipun kondisinya masih sangat lemah.
Langge yang memperhatikan dari sudut ruangan angkat bicara,

"“Atau kamu boleh panggil Matan, karena Mama namanya Mama Tania. Ma,
Langge aja dipanggil Kalang sama Jingga, kependekan dari Kakak Langge...”" jelas
Langge.

"“Oh, begitu. Iya, berarti Jingga boleh panggil Mama, boleh juga Matan.”"

"“Teri...ma kas...sih, Ma...tan.”"

* * *​
 
“"Kok diam aja sih lo? Langggeeeeee?"” panggil Yudhi, yang dihubungi oleh
Langge lewat telepon. Walaupun rumah mereka berdua dekat, Langge memang sedang
tidak ingin keluar rumah.

Kalimat itu membuyarkan lamunan Langge, yang sejak tadi hanya menatap
langit-langit kamarnya dan memikirkan berbagai macam hal. Memikirkan tawaran Yudhi
untuk berangkat sebagai fotografer resmi Everybody Loves Irene selama tur di
Singapura, memikirkan hubungannya dengan Ebiet (serta hubungan Ebiet dengan cowok
lain yang bernama Diaz itu), serta memikirkan Jingga. Itu yang terutama.

"“Hah? Kenapa? Sorry, sorry,"” ujarnya. Ia jadi tidak enak pada Yudhi, yang jauh
lebih tua darinya dan telah membantunya dalam menjalankan banyak hal. Tetapi jujur
saja, hatinya masih gamang. Kosong. Kondisi Jingga sudah sangat, sangat
memprihatinkan. Ia tidak menyangka bahwa pneumonia bisa separah itu.

“"Lho? Kok elo yang nanya balik sih? Tadi kan elo yang nelepon gue, terus gue
tanya... Kenapa? Kok malah lo yang nanya? Lo kenapa telepon gue?"” tanya Yudhi kesal,
waktunya terbuang sia-sia karena Langge yang selalu penuh imajinasi. Melamun terus.

"“Hah? Oh, iya... Eh... Hmmm... Oh iya, ini nih... Gue jadi ikut ke Singapore...”"
jawabnya. Hatinya hampa sekali. Tadi, Ebiet bahkan sampai-sampai meneleponnya dan
menghiburnya.

Ketika itu, Langge memberitahu Ebiet bahwa Jingga terkena septic shock akibat
pneumonianya. Orang Indonesia menyebut fenomena itu dengan istilah “sepsis”.
Keduanya tidak ada yang Langge mengerti sama sekali. Terlalu rumit untuk Ia jelaskan.
Tapi yang jelas, septic shock tersebut bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian.

Langge tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi, dan harus bercerita apa lagi.
Hidupnya terasa sedang dihancurkan, pelan-pelan.

Ia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Langge memperbanyak tadarusnya,
memperbanyak frekuensi Shalat Dhuha dan Shalat Tahajud di samping shalat fardhu
yang sekarang jauh Ia lengkapi. Ia memperbanyak doa-doanya, terutama di sujud-sujud
terakhirnya, dan di antara adzan dan iqamah ketika Ia menunaikan shalat di masjid.
Langge hampir tidak pernah lagi bolos Shalat Jumat, atas alasan apapun. Ia hanya ingin
terus-terusan mendoakan Jingga. Karena rasanya, sekarang hanya Tuhan-lah yang bisa
menyelamatkan adik sepupunya tersebut.
 
30 – Big Day

JINGGA JUGA MERUPAKAN SIMBOL KEKUATAN DAN KETEGARAN. SAYA HARUS MEMBUKTIKAN
HAL ITU.


"“Mas...”" panggil Tare. Langge menengok, tanpa ada perubahan pada raut
wajahnya yang mengkerut sejak... entah sejak kapan.

"“Mas jangan nangis dong..."” pinta Tare, dengan nada polos sekaligus prihatin.
Anak itu menyodorkan sapu tangan handuknya yang bergambar tokoh kartun Minnie
Mouse dan berwarna merah jambu. Langge sebenarnya tidak ingin menerimanya. Tentu
saja Ia tidak mau! Mas nggak lagi nangis, Tare!

"“Nangis apaan sih? Enggak kok!”" protesnya, karena Ia memang hampir tidak
pernah menangis sepanjang hidupnya. Kalau Ia sedih, Ia melampiaskan kesedihan itu
dengan kemarahan, dengan bermain basket gila-gilaan, dengan kebut-kebutan
menggunakan motornya. Tidak pernah dengan menangis. Dia kan cowok!

Sedetik kemudian, Ia menyapukan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya di
pipinya yang... ternyata, basah. Basah sekali. Langge bahkan tidak sadar bahwa Ia sedang
menangis!

Untuk pertama kalinya dalam 12 tahun, Langge menangis. Ia terakhir kali
menangis ketika masih berusia 6 tahun. Dan sekarang Ia menangis lagi. Ia baru bisa
menangis lagi hari ini.

Ia menatap sekelilingnya dengan tatapan yang kosong. Hampa.

Kemarin
Langge bahagia bukan main hari ini. Pasca dirawat sekitar dua hari secara intensif
di ICU, kondisi Jingga membaik secara drastis, meskipun tubuhnya belum pulih-pulih
benar. Bicaranya sudah lancar, dan Ia sudah bisa bercanda seperti anak kecil yang
lainnya.

Dan dua hari yang lalu, Jingga dipindahkan lagi ke kamar perawatan biasa. Itu
berarti, jadwal jenguk Langge menjadi jauh lebih fleksibel. Ia pun bisa sering-sering
menonton televisi bersama Jingga, bercanda dan tertawa dengan Jingga, bercerita-cerita
dengan Jingga... Hal-hal yang tidak bisa Ia lakukan di ruang ICU.

Dokter Wahyu tadi pagi menyampaikan bahwa apabila kondisi Jingga terus stabil
-– atau bahkan membaik, besok Ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Bukan hanya itu,
atas persuasi Mama yang lambat laun semakin menyayangi Jingga, Papa bahkan sudah
memberi “lampu hijau” bagi Mama untuk mengadopsi Jingga. Dalam waktu dekat,
Jingga akan menjadi bagian resmi dari keluarga Langge. Dan menurut Langge, semua ini
merupakan suatu anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Terima kasih, Tuhan!

"“Hai, Jingga!”" sapanya dengan ceria. Jingga tersenyum lebar melihat kedatangan
Langge. "“Kita harus foto-foto nih hari ini, untuk merayakan kesembuhan kamu! Soalnya
aku bawa kamera digital, dan bawa donat juga. Kamu makan yang banyak ya, biar makin
cepat sembuh,”" sambung Langge, sambil meletakkan seplastik besar donat dengan
berbagai macam rasa.

“"Iya, Kak. Tenang aja, Jingga juga udah bosan sama makanan rumah sakit. Tapi
harusnya Kalang aja yang makan, Kakak kurusan banget tuh... Dagingnya di tangan udah
nggak ada!”" ledek Jingga. Berat Langge memang turun drastis, mungkin karena stres
sekaligus kecapekan belakangan ini. Beberapa bulan silam, beratnya masih 70 kilogram,
cukup pas untuk membalut tubuhnya yang setinggi 177 cm meskipun agak berlebih –
sedikit. Sekarang beratnya menjadi 66 kilogram. Turun 4 kilo.
 
"“Eh, enak aja. Biarpun aku gak makan, gak ada dagingnya, tapi ini isinya otot
semua nih... Coba aja pegang."” Langge pun menyodorkan lengannya ke arah Jingga,
yang malah dicubit oleh anak itu. "“AAW! Aduuuuuh! Kamu nih!"” Jingga tertawa
terbahak-bahak melihatnya. Sebuah ekspresi yang sangat jarang Langge lihat.

Mereka pun hari itu berfoto-foto dengan semangat, meskipun diperhatikan dengan
tatapan aneh oleh keluarga pasien yang lainnya. Namun, Langge dan Jingga sama-sama
tidak peduli. Mereka bahagia sekali hari ini. Sangat bahagia.

Langge tidak percaya dengan ungkapan “"Nothing gold can stay”," yang berarti,
semua hal yang membahagiakan tidak dapat bertahan lama. Buktinya, baru beberapa
detik saja, Langge sudah tahu bahwa kebahagiaannya yang ini akan berlangsung lama.
Tentu saja. Ini adalah suatu pencapaian jangka panjang baginya.

"“Kamu mau sekolah di mana, Jingga? Tau nggak, Papa benar-benar mau
mengadopsi kamu lho! Jadi nanti kamu tinggal serumah sama Kakak! Saking senangnya,
aku sampai langsung makan donat empat biji lho tadi. Tinggal delapan deh donatnya,
maaf ya,”" tukas Langge.

Jingga tersenyum lebar mendengarnya, meskipun pandangannya tetap tertuju
pada layar LCD kamera digital Langge, untuk melihat hasil foto-foto mereka berdua tadi.

"“Di mana aja deh, Kalang. Samaan sama adiknya Kalang juga gak apa-apa. Biar
Jingga gak ngerepotin siapa-siapa lagi...”" jawabnya, singkat.

"“Wah, baguslah, lumayan dekat rumah. Aku antar kamu ke sekolah setiap hari
deh...”" janji Langge.

"“Kalang?”" panggil Jingga, setelah mengembalikan kamera Langge.
“
"Ya?”"

“Jingga janji, Jingga gak akan bilang kalo Jingga kangen Kakak lagi... Janji! Kan
Jingga udah mau pulang!”" kata Jingga. Tidak tersirat sedikitpun rasa sedih pada nada
suaranya, hanya keceriaan anak kecil yang biasa. Langge tersenyum puas mendengarnya.

"“Tapi, kamu gak boleh lupain Hatif. Hatif harus selalu hidup di hatimu,”"
nasehatnya. Jingga mengangguk, tetapi tidak menanggapi lebih lanjut.

"“Kalang, Jingga mau difoto sendirian dong. Jingga gak punya foto sendiri
soalnya, kali-kali aja perlu, gitu.”"

"“Buat apa?”"

"“Ehm... Buat... Kenang-kenangan! Dulu Jingga pernah sakit pneumonia, sekarang
udah sembuh. Iya kan?”"

"“Oh iya, ya... Oke deh... Jingga sayang nggak sama Kalang?"” tanya Langge ingin
tahu. Karena, Ia begitu sayang pada Jingga. Sayaaaaang sekali.

“"Iya. Jingga sayang sama Kalang. Jingga sayang Kakak Langge... Selalu!”"

Hari ini, 40 menit yang lalu.
“"Langge kenapa nangis?”" tanya Ebiet yang Langge hubungi via telepon. Ia
bingung sekali mengapa Langge bisa-bisanya menangis. Setahunya, hari ini Jingga
diperbolehkan pulang oleh dokter.

"“Biet... Langge merasa semua ini gak pas. Aneh. Gak seharusnya... Ada yang
salah dari semua ini. Langge merasa kosong...”"

"“Bukannya hari ini Jingga pulang ke rumahmu? Kenapa harus bingung? Dia kan
adik kamu, akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan kamu untuk tinggal bersama adik
kamu. Ebiet tahu, Langge sayang banget kan sama Jingga? Kelihatan dari raut wajahmu
setiap kali bertemu dengannya...”"

"“Tapi..."”
 
Kemarin
“"Kalang udah mau pulang ya?"” tanya Jingga. Tersirat nada kecewa pada suaranya
barusan.

"“Iya, soalnya Mama nyuruh Kakak pulang. Lagian kan ada Ibu Minah... Kakak
udah dimaki-maki nih, disuruh pulang".” Langge tersenyum sambil memasukkan
kameranya ke dalam tas ranselnya yang berwarna Jingga tersebut. Tas ranselnya yang
biasa.

"“Kalang nginep aja di sini..."” pinta Jingga, memohon. “"Pleeeeaaaseee...”"

"“Besok pagi aku ke sini lagi deh! Janji...”"

"“Kan besok aku pulang!”" protes Jingga, tidak mau menerima keputusan Langge
meskipun cowok itu telah berjanji kepadanya.

“"Nah! Justru itu! Kakak kan di rumah harus beres-beres, untuk sementara Jingga
nanti tidurnya sama Kakak. Boleh juga sih kalau mau sama Tare nantinya, soalnya belum
ada kamarnya nih... Maaf ya..."” kata Langge. “"Bye", De,” tambahnya.

Jingga menarik tangan Langge yang barusan membelai rambutnya, bangkit dan
lalu mencium pipi Langge.

Sleep tight, okay?”"

"“Oke... Akan sleep dengan sangat tight, Kalang,”" Akhirnya, Jingga menurut juga.

"“Dah, Kakak Langgeku...”" ujarnya.

Langge berani bersumpah, itu adalah nada bicara termanis yang pernah terlontar
dari mulut Jingga, yang pernah Ia dengar selama Ia mengenal anak itu.

"“Dah, Jingga... Sampai jumpa besok sayang..."” ujar Langge, menatap adiknya
yang kemudian memejamkan matanya, supaya tertidur pulas dan mempersiapkan diri
untuk esok hari. Untuk hari yang mereka berdua tunggu-tunggu selama ini.

Hari ini, 35 menit yang lalu.
“"This is the day. The big day, Langge. Kenapa kamu harus menangis?"” tanya
Ebiet lagi, yang masih bingung. Kenapa Langge selalu memiliki keanehan dalam
mengekspresikan segala hal?

"“Langge Cuma gak siap, Ebiet... Langge... Langge gak siap!”"

Ia sudah kehabisan kata-kata, tidak tahu harus menjelaskan kegalauannya dari
mana. Padahal, hari masih pagi, dan mentari belum menjadi merah.

"“Langge gak siap... Langge gak siap Jingga meninggal! Jingga gak seharusnya
meninggal seperti ini!"” jeritnya. Ketika mengatakannya, suara Langge hampir habis.
Mungkin karena emosinya meluap-luap tanpa arah yang jelas.

"“Hah?” Ya. Jingga meninggal. Jingga sudah pergi. “Astaghfirullah alazim. Inna
lillaahi wa inna ilaihi rajiiun...
Langge serius? Ya ampun, Ebiet... Ebiet speechless...
Langge, yang sabar... Ngge...”" Ebiet memanggil-manggil Langge.

Sekarang Ia tahu, mengapa jiwa Langge sepertinya begitu goyah. Tapi... Jingga
meninggal? Bukankah kemarin kondisinya telah jauh, jauh membaik?

"“Jingga gak seharusnya meninggal seperti ini! Seharusnya dia sekarang ada di
kamar ini, seharusnya dia sedang tidur di sebelahku! Seharusnya Jingga lagi kenalan
sama Tare dan Vane. Seharusnya dia siap-siap daftar ke sekolah barunya... Jingga sehat,
Jingga gak sakit, dia bilang sendiri sama aku... DIA BILANG DIA SEHAT!!! DIA GAK
SEHARUSNYA PERGI!!! Dia mau pulang, pulang ke sini, bukan ke Hatif... Jingga gak
boleh pergi! Jingga gak seharusnya pergi, Biet!”" Langge ingin sekali menjerit, seiring
airmata terus-terusan mengaliri pipinya, tanpa Ia sadari sama sekali.
 
Ebiet memilih diam, dan hanya mendengarkan Langge mengamuk di seberang
sana, mencurahkan isi hatinya yang sedang retak dan akan hancur berkeping-keping jika
terus-terusan seperti ini. Untuk sejenak, Ebiet sangat, sangat ingin ada di sana, di sebelah
Langge.

"“Jingga gak boleh meninggal! Adikku gak boleh pergi! Adikku harusnya ada di
sini... Jingga... Dek, kamu gak boleh meninggal, Dek... Tadi malam dia bilang, dia mau
tidur... Tidur dengan nyenyak... Aku gak ngira, kalau maksudnya Jingga adalah bahwa Ia
mau tidur, untuk selamanya...”"

Langge menyesali semuanya. Ia menyesal mengapa hidup seorang anak
seluarbiasa Jingga harus berjalan sesingkat ini, menyesal mengapa Ia tidak mengiyakan
permintaan Jingga yang terakhir... Menyesal tidak berada di sebelah Jingga sebelum anak
itu pergi meninggalkannya.

Jingga meninggal semalam, setelah Ia memejamkan matanya. Yang ternyata,
tidak untuk tidur, tetapi untuk pergi. Pergi ke alam yang belum Langge jamah. Pergi
menemui kakaknya.

"“Jingga juga udah bosan sama makanan rumah sakit,"” dan Ia benar-benar tidak
akan pernah memakan makanan rumah sakit lagi.

"“Jingga janji, Jingga gak akan bilang kalo Jingga kangen Kakak lagi...”" karena
Ia telah pergi dan menemui Kakak yang selama ini Ia cari.

“"Kalang, Jingga mau difoto sendirian dong. Jingga gak punya foto sendiri
soalnya, kali-kali aja perlu, gitu,
"” karena dia sudah tahu bahwa Ia akan meninggalkan
Langge bersama kenangan. Ia sudah tahu hal itu.

"“Jingga sayang sama Kalang. Jingga sayang Kakak Langge...”"
"“Kalang nginep aja di sini...”" supaya aku bisa berpisah dengan Kakak, dengan
satu kata “"selamat tinggal"” yang indah.


“"Kan besok aku pulang..." yang kemudian Jingga benar-benar berpulang.
Bertemu kakaknya, di pangkuan Tuhan.

* * *​
 
Hari ini, saat ini.
Langge menatap tubuh yang terbujur kaku di depannya dengan hati yang terperasperas.
Ia sedih bukan main, sangat sedih. Sampai tidak bisa mengatakan sepatah kata
sedikitpun selain "“Maaf, Jingga. Maaf, maaf, maaf...”"

Meskipun tidak banyak orang yang mengenalnya, tetapi banyak yang
mengantarkan Jingga ke peristirahatan terakhirnya. Hampir seluruh staf dan penghuni
Rumah Talitemali datang ke rumah Langge untuk menshalatkan Jingga. Sebelum Jingga
dishalatkan, Bu Minah berbesar hati memandikannya, dibantu oleh Lita dan perawatperawat
lainnya. Menurut sumber, Bubungnya Jingga berada di Saudi Arabia. Ayahnya
datang untuk melihat Jingga, untuk yang terakhir kalinya.

Langge bahkan membilas tubuh Jingga yang sudah kelar dimandikan. Ketika itu
Ia melihat Jingga yang sudah kaku, pucat, dan tidak bernyawa, dari dekat. Tak ayal,
Langge menangis. Ia memeluk Mama sekencang-kencangnya, dan masih tidak terima
dengan segala hal yang terjadi. Seperti Jingga direbut oleh orang lain dengan semenamena,
dibawa berpisah darinya untuk pergi ke tempat yang sangat, sangat jauh. Yang
belum dapat Ia capai.

Hampir semua performers pada acara Malam Jingga hadir, walau mereka sama
sekali tidak mengenal Jingga. Ditsa, Sherina, Yudish, personil Ballads of The Cliché dan
Everybody Loves Irene, Tiko, semuanya mendoakan Jingga untuk yang terakhir kalinya.
Mereka muncul untuk memberi semangat pada Langge, dan bahkan turut hadir untuk
mengantar Jingga sampai ke pemakaman.

Di pemakaman, Langge berusaha keras menahan tangisnya tatkala Ia ikut
meletakkan jenazah Jingga di dalam liang lahat. 6 feet under. Saat itu Ia sadar, bahwa
ketika tanah merah itu menimbun tubuh Jingga, Ia tidak akan pernah melihat Jingga lagi,
selamanya. Tidak akan lagi ada gadis kecil yang bermain kartu di pojok ruangan. Tidak
akan lagi ada anak kecil yang selalu menyita perhatiannya. Entah karena namanya Jingga,
atau mungkin karena tingkahnya. Tidak ada lagi anak kecil yang membuatnya
bersemangat untuk menjadi dokter, dan mengobati penyakit Jingga...

Hari itu, Langge begitu betah berada di pemakaman. Meskipun yang terlihat dari
Jingga hanyalah nama pada nisan kayu temporer, Ia tetap kukuh bercerita mengenai
banyak hal.

"“Jingga... Kenapa sih kamu pergi sekarang? Padahal aku pengen banget ajak
kamu ke Vegas. Biar kamu bisa lihat orang main Poker, Blackjack, dengan cara mereka
sendiri, dengan cara yang sebenarnya. Kenapa kamu harus pergi saat ini? Seandainya
kamu hidup, Kakak janji, Kakak akan antar kamu ke sekolah setiap hari... Jingga boleh
tidur di kamar Kakak untuk sementara, karena kamar Jingga belum jadi... Kalau Jingga
takut gelap, Kakak rela tidur dengan lampu menyala demi kamu."

"“Kalau kamu sehat, mungkin aja Kakak bawa kamu ke Singapura. Kamu tau
nggak, aku ke Singapura mau mengejar putriku, Ebiet... Seharusnya kamu gak usah tidur
nyenyak malam itu. Seharusnya Kakak nginep di rumah sakit, Jingga! Biar kamu gak
pergi, biar kamu tetap di sini, tangan Kakak bisa nahan kamu... SUPAYA KAMU GAK
PERGI! Harusnya sekarang kita lagi beres-beres barang-barang kamu di rumah. Mungkin
aja Mama ajak kamu ke mal untuk beli baju... Mungkin aja kamu ngedaftar ke sekolah
baru kamu pagi ini. Kakak percaya, kamu pasti jadi anak yang pintar, hebat, jenius,
karena kamu memang luar biasa Jingga....."

“"Jingga, seharusnya kamu gak meninggal! Kamu gak boleh meninggal!”" Tangis
Langge pecah, dan saat itulah Ia merasa ada tangan yang menyentuh pundaknya
brotherly.

Fari.

“"Sorry, Langge. Gue gak sempat berkenalan dengan Jingga. Gue tahu, dia pasti
seorang anak yang luar biasa, meskipun masih kecil, tapi dia punya tempat yang spesial
di hati lo...”" tuturnya, pelan-pelan, kata demi kata.

"“Dia adik gue, Far. Dia adik sepupu gue!”"

"“Iya, Ngge, gue tahu, Ebiet cerita...”"

"“Dia luar biasa, Far. Dia hebat banget. Kenapa dari 3 miliar penduduk dunia,
harus Jingga yang meninggal? Kenapa harus dia yang diambil dari gue? Selama ini, gue
susah banget mau bahagia sebentaaaar aja. Ebiet pergi ke Singapura, dan lo ntar lagi
cabut ke Jerman. Jingga, yang selama ini selalu dengerin gue, harus meninggal muda
kayak gini. Kenapa, Far?!”" Sulit sekali bagi Langge untuk mengontrol emosinya, barang
sejenak saja.

Fari memeluk Langge seeratnya. “"Gue tahu, Ngge. Pasti ini berat buat lo, dan gue
gak bakal bilang ‘sabar aja’, ‘ini yang terbaik’, atau apalah yang semua orang bilang ke
elo. Karena gue tahu elo kuat, lo pasti bisa ngadepin ini dan Jingga gak bakalan mau
ngelihat elo stuck sama satu hal. Dia mau elo maju. Tapi pasti lo masih mau ngenang dia.
Jadi, gue bakal nemenin lo sampai kapanpun elo mau. Seharian di sini, atau bahkan
sampai besok, gue akan selalu ada di belakang lo, Langge. Walaupun mungkin dalam hal
ini, gue telat berada di samping lo... Maaf,"” tukas Fari kemudian.

Langge berusaha tersenyum mendengarnya, walau sulit. “"Thanks, man."”

"“Dah, Kakak Langgeku...”"
 
31 – Marina Bay

11-02-07. Angka-angka tersebutlah yang tercantum di LCD ponselnya. Langge
dan rombongan Everybody Loves Irene baru saja tiba di hotel. Ada Erin sang biduanita,
Yudhi, Dimas sebagai bassist, Adi yang pegang analog drum dan drum machine, Aulia
dan Langge. Selain itu, masih ada beberapa stage crews Everybody Loves Irene.
Sebenarnya, tentu saja Langge masih dilanda kesedihan yang mendalam akan kepergian
Jingga. Tetapi, Ia memutuskan untuk menuruti permintaan terakhir Jingga, bahwa apapun
yang terjadi, Langge harus tetap pergi ke Singapura.

Ia baru saja membeli kartu prabayar keluaran SingTel, meskipun agak mahal,
yaitu 9.5 dollar Singapura (hampir 60 ribu rupiah!). Ia pun menekan nomor telepon
kondo Ebiet...

Hello?"” sapa seseorang di sana.

Hello? Bisa... Eh, err, may I speak to Ebiet?”"

Who’s this?"” tanya yang di seberang sana, agak ketus.

It’s Langge, from Indonesia,"” jawab Langge singkat.

“"Oh, oke. Bentar ya,” katanya." Oh, ternyata orang Indonesia juga. “"Ebiet, some
boy
. Teman Indonesia-mu."” Hati Langge mencelos mendengarnya, itu cewek cuek banget
sih!

Setelah menunggu beberapa detik (dalam deg-degan yang teramat sangat),
akhirnya Ebiet mengangkat teleponnya. "“Ada apa, Yaz?"” Ebiet bersuara dengan sangat
datar dan pelan. Why him? I’m not him, hon.

"“Ehm, Biet? Langge nih. Lagi tunggu telepon dari yang lain ya?”" Langge
sebenarnya sakit hati, dalam sekali, mendengar suku-kata yang tadi diucapkan oleh gadis
yang paling Ia rindukan. Apalagi di saat-saat seperti ini, ketika Ia baru saja kehilangan
Jingga, masa'’ Ia harus kehilangan Ebiet juga?

"“HAH? LANGGE? Ya ampun! Maaf! Maaf! Maaf! Ebiet pikir... Soalnya, cowok
Indonesia yang telepon Ebiet ke rumah cuma Diaz... Langge, maaf!"” Ia malah tertawa
lepas mendengar Ebiet panik begitu. Tawa yang belakangan ini tidak pernah terdengar
dari mulutnya. “"Kok ketawa sih?"” protes Ebiet, beberapa detik kemudian.

“"Are you busy tonight?"” ujar Langge kemudian. Sebenarnya, Ebiet tidak perlu
menanyakan alasan mengapa Langge tertawa. Ia memang selalu suka mendengar
kepanikan dan kehebohan Ebiet sejak dulu.

“"Mau minta tolong apa, hayo? Aku gak ngapa-ngapain kok ntar malam, mau nitip
apa sih? Atau mau curhat? Ebiet siap dengerin."” kata Ebiet. Kalaupun Ia sibuk, sudah
pasti Ia menyempatkan diri untuk mendengarkan cerita-cerita Langge, mengingat Langge
sedang tenggelam dalam kegalauan yang teramat sangat.

“"Aku lagi di Hyatt...”"

"“Ngapain? Mau menghibur diri ya? Kenapa mesti Hyatt? Kan mahal, mendingan
Novotel Bogor aja, my favourite hotel around Jakarta,"” protes Ebiet.

"“Astaga, Ebiet! Langge lagi di Singapore. Hyatt Singapore. I think I want to go
out tonight, I want to spend it with you. Do you want to go out with me tonight?”
"
Akhirnya Langge bicara langsung pada intinya.
 
Setelah itu, ada jeda sesaat, di mana Ebiet tidak berkata apa-apa, begitu juga
dengan Langge. “"HAAAAAH? YANG BENER, KAMU?! Ya udah, aku ke sana, aku ke
sana, pokoknya aku ke sana... Aku ke sana sekarang!"” Ebiet jauh lebih histeris dan –
boleh dibilang – “panik” daripada sebelumnya.

“"Sssh, santai aja kali, Biet. Langge gak tau tempat yang enak di sini, ini kan
pertama kalinya Langge ke Singapore... Ebiet jadi guide deh. Kita mau ke mana nanti
sore, Langge harus naik apa untuk sampai ke East Coast, dan segala hal. Langge gak
ngerti. Langge mau mandi dulu, nanti kamu hubungin aku ke... Hmmm, 9611 5007.
OK?”"

“"OK!"” Ebiet menjawab dengan begitu bersemangat. “"Ya sudah, mandi gih.
Baunya kecium sampai sini lho.”"

"“Iya, iya... Eh, Biet!”"

"“Ya?”"

"“Ngge sayang Ebiet, banget.”"

Dan sore itu, Langge menatap keluar jendela kamar hotelnya, melihat berbagai
macam orang dengan berbagai macam aktivitas, tanpa sedikitpun memikirkan tentang hal
itu. Tentang siapa mereka, dari mana mereka, apa saja yang mereka lakukan. Langge
hanya memikirkan tentang Ebiet. Dan semoga saja, Ia bisa lupa dengan Jingganya, untuk
sejenak.

Tujuannya ke Singapura adalah untuk menemui Ebiet, spend some quality time
with her
, dan kalau bisa, mencuri hatinya lagi. Selain itu, Ia juga ingin meng-grant last
wish-nya Jingga. Namun, apakah Ia sudah terlambat? Karena satu pria lain yang bernama
Diaz itu?

Di dalam kamar itu, terdengar denting gitar Yudhi, dan suara Erin, menyanyikan
berbagai macam lagu yang ingin Ia nyanyikan saat itu untuk melatih vokalnya lagi.
Sementara Langge sedang berusaha melatih kemampuan verbalnya lagi untuk
menyatakan cinta.

“"Not great, but nice"...” seloroh Langge tatkala dirinya dan Ebiet sampai di Marina
Bay. "“We can stargaze here",” tambahnya. Di hadapannya ada laut, ada Merlion,
mencerminkan negeri Singapura sebagian.

“"Just like when we went to Monas, huh? Langge mestinya ke sini Bulan Agustus.
Setiap tanggal 9, ada National Day Parade dan di sini ada hanabi,"” ujar Ebiet.

"“Hanabi?”" tanya Langge bingung.

Fireworks, I mean. Soalnya kalo ngomong fireworks kan susah, dan yang pergi
ke sana itu Hi-Chan and Yurika. They love to talk about it. Diaz asked me to go there,
aku baru balik dari Indonesia,”"

“"Eh, talking about some other guy. Diaz itu siapamu, Biet? Are you taken now?”"

Langge bertanya dengan artikulasi kacau balau. Saat itu, hatinya gamang, hampa, takuttakut
Ia sudah terlambat untuk memiliki Ebiet (lagi).

"“Hah? Of course not! Gila aja sama Diaz,"” protes Ebiet, simpel. Tidak
menjelaskan maupun membicarakannya lebih lanjut.

"“Put it on,"” pinta Langge ketika memberikan jaket biru dongkernya kepada Ebiet.
“"Kamu gak kedinginan apa?"” tanyanya, sedikit khawatir.
 
Ebiet meraihnya tanpa berbicara apa-apa. Ketika itulah Langge sadar, bahwa
Ebietnya belum berubah. Masih saja sama seperti ketika mereka berduaan di Monas
beberapa tahun yang lalu. Menikmati view gratisan seperti ini, di malam hari pula,
dengan angin yang cukup kuat untuk membuat seorang dara seperti Ebiet kedinginan.
Dan Langge adalah tipe orang yang bisa belajar dari kesalahan. Kali ini, Ia membawakan
jaket untuk Ebiet. Bukan untuk menjadi romantis, tetapi simply supaya Ebiet tidak jatuh
sakit karena Ia ajak keluar malam-malam.

"“Nanti kita mau ke mana?”"

Ebiet menggeleng. “"Belum tahu. Siapa tahu anak-anak Asia ada yang bikin
barbecue party. Lumayan, kamu gak bawa banyak duit kan?"” Gadis di sebelahnya
tersenyum, manis sekali.

Langge membalas senyumannya dan meraih tangannya untuk Ia genggam.
Genggaman yang biasa -– yang dulu –- di mana Ia akan menyelipkan jari-jarinya di antara
jari-jari Ebiet. Di mana Ia dapat meresapi kehalusan kulit yang begitu Ia sukai, karena Ia
hanya pernah menggenggam tangan Ebiet. Ia tidak pernah mau menggenggam yang lain
dengan perasaan dan hasrat yang sama.

Kontan, tengokan Ebiet adalah bentuk reaksi dari gadis itu. Reaksi. Refleks.
Sentuhan yang kecil dari Langge memang selalu membuahkan getaran dan desir tertentu
di dalam tubuhnya. Di dalam darahnya, dan lalu dibawa langsung ke otak. Membuatnya
menginginkan yang lebih, tetapi selalu Ia tahan untuk melindungi egonya, gengsinya,
tubuhnya...

Meski Ia percaya dengan Langge.

Itu jugalah yang menjadi alasan, mengapa Ia tidak bisa menerima Langge di
dalam hidupnya sebagai pacar. Karena Ia ingin melindungi dirinya, melindungi matanya
dari air, melindungi tubuhnya dari peluh dan keringat, melindungi hatinya dari sayatansayatan,
seperti pisau yang membelah apel di dalam “"Anklevippes"”.

Kesalahan tidak pernah ada pada Langge, tetapi pada dirinya. Tetapi, seperti
biasa, Ebiet selalu tidak sanggup mengatakannya, dengan dalih adanya semua hal tentang
dirinya yang harus Ia lindungi.

“"Apakah semua ini masih kurang?" Kalimat Langge barusan memecah
keheningan di antara mereka berdua yang telah mengisi waktu selama beberapa menit.

“"Apa?”"

“"Semua ini. Aku, kamu. Sekarang ada di tempat yang sama, bahkan hanya
terpisah 10 sentimeter. Aku menyusul kamu ke sini. Aku memandangi gambarmu di
langit-langit kamarku setiap malam. Aku tidak pernah membagi hatiku dengan gadis
yang lain. Aku menggenggam tanganmu seperti aku tidak mau untuk melepasnya sampai
kapanpun."

“"Apakah semua ini belum cukup, Tatiana?"” tanya Langge, dengan kalimat-kalimat
baku, ejaan yang disempurnakan. Begitu puitis, tidak untuk menjadi romantis,
tetapi Ia hanya mau Ebiet mengerti dengan seluruh perasaannya. Yang selama ini selalu
salah jika harus Ia ungkapkan dengan kata-kata.

"“Kamu gak pernah panggil aku Tatiana,"” ujar Ebiet, tidak ada sangkut-pautnya
dengan kalimat-kalimat Langge. Namun, Langge meneruskan.

"“Kenapa kamu sanggup, kita seperti ini, dan aku tidak?”"

"“Kenapa kamu panggil aku Tatiana?”"

"“Apakah itu penting?"” Langge membalas pertanyaan itu. Dan tentu saja, Ebiet
tidak menjawabnya. Gadis itu malah membuang pandangannya ke arah Merlion. Demi
melindungi jiwanya, dari cinta yang mendalam. “Kalau semua itu belum cukup...”

“"Aku cinta kamu."” Mereka mengatakan tiga kata itu bersamaan, dengan saling
bertatap muka, bertemu mata.

"“Apakah itu belum cukup, Erlangga?"” Ebiet balas bertanya.

Mendengarnya, Langge segera meraih tubuh itu ke dalam dekapannya.

“"Bukankah manusia tidak pernah puas?”"

"“Iya. Aku juga begitu.”"

“"Jadi... Jadi pacar Langge lagi ya, Biet?"” pinta Langge dengan nada begitu
memohon, begitu mengemis. Ia sudah tidak sanggup menghadapi kegalauan dan
kebimbangan hatinya, sendirian.

Ebiet membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Langge. Menyenderkan pipinya
di dada Langge yang sebenarnya begitu Ia sukai, dan begitu ingin Ia dekap sejak lama. Ia
tidak menjawabnya. Namun, Ia tahu bahwa Langge mengerti akan maksud dekapannya
itu.

Mereka tidak pernah butuh suara untuk bicara.
 
32 – Clown Fishes​

Beberapa tahun kemudian​

Well I’ll wait until you’ll listen every words I have to say
Noticing how bad I’ve been this week
Now you’re lying on the table with everything I’ve said to you
Oh, let’s start over
Now you and I both know
Stay with me please ‘til at least forever
You’re my current obsession, my favourite position
You’re inner light do something bright
A glory without its victory
Every words I’ve said to you were the words that I mean the most
I’ll never let you go, now you and I both know


Banyak orang yang bilang bahwa Manado merupakan sebuah tempat yang indah.
Tetapi Langge tidak pernah menyangka, bahwa kota tersebut – dan sekelilingnya – akan
semempesona ini.

Imagine Newport Beach-nya The OC. Manado benar-benar merupakan sebuah
kota yang berorientasi “laut” dan penduduknya senang menghabiskan waktu di pinggir
laut. Kemarin, sesampainya di Manado, Ia langsung sightseeing di Boulevard, area
pesisir pantai yang dijadikan sebagai pusat kota Manado. Di sana terdapat banyak gerai
makanan, anak-anak muda yang sedang bercengkerama di mobil mereka masing-masing,
belum lagi ada jejeran Manado Townsquare, Mega Mall, Hypermart, yang menambah
image “'pusat kota'” di daerah ini.

Dan saat ini, Ia sedang berada di sebuah kapal feri yang membawanya dari
Dermaga 45, Manado, menuju snorkeling spot di antara Pulau Sulawesi dan Pulau
Bunaken. Siang tadi, ketika pergi membeli beberapa items di mall (well, Ebiet butuh
beberapa pak pembalut wanita katanya), Langge mampir ke Matahari Department Store
untuk membeli peralatan snorkeling. Menurut informasi yang Ia dapat dari salah seorang
temannya yang merupakan seorang diver, lebih baik membeli peralatan snorkeling
daripada menyewa. Dengan membeli seharga 140 ribu rupiah, kita tentunya dapat
menggunakan peralatan yang higienis dan masih baru, serta bisa memakainya berulang-ulang
(kali-kali saja suatu hari nanti Langge berniat snorkeling di Gili Trawangan,
Lombok, misalnya?). Jika menyewa, harganya 50 ribu rupiah dan bekas dipakai ratusan
mulut yang pernah ke Bunaken. Jadilah Ia dan Ebiet patungan membeli peralatan
snorkeling.

Perjalanan katanya akan ditempuh dalam 40 menit untuk sampai ke snorkeling
spot
tersebut. Langge, Ebiet dan beberapa turis lainnya (ada beberapa bule di antara turisturis
tersebut) sudah menempuh 30 menit di antaranya.

"“Airnya bagus banget ya, Ngge,"” komentar Ebiet ketika Ia melihat air laut yang
sedang mereka arungi tersebut. Sebenarnya airnya bening, tetapi considering kedalaman
air di tengah-tengah laut ini, tidak heran warnanya menjadi agak kebiruan, memantulkan
birunya langit. Mereka berdua dapat melihat ikan-ikan kecil berenang di dekat
permukaan, memakani plankton yang melimpah jumlahnya di sana.
 
Last edited:
"“Kamu nggak takut?"” tukas Langge, mengingat Ebiet sepertinya takut dengan
segala hal. Dari ketinggian, kemiringan, dan entah apa lagi.

"“Ah, kamu nih. Ebiet udah nggak setakut itu kok! Eh, Ngge, nanti mau mampir ke
Pulau Bunakennya?"” tanya Ebiet kemudian, sembari mengalihkan pembicaraan. Daerah
itu dinamakan Taman Laut Bunaken dari nama pulau didekatnya, yakni Pulau Bunaken.
Do not compare that island with Bali, tentu saja jauh berbeda. Resort yang ada di sana
jauh dari mewah, hanya berupa rumah-rumah panggung sederhana dan sangat alami,
meskipun pulau tersebut sudah terjangkau aliran listrik.

"“Boleh. Limabelas ribu kan masuknya? Gampang deh, sekalian beli suvenir apa
gitu. Tapi langsung balik ya, kata temanku, di Pulau Bunaken susah dapat air tawar,
adanya air laut semua. Gimana mau shalat coba ntar?"” tukas Langge.

Kemudian, Ia memperhatikan hamparan laut. Dulu, sempat Ia bermimpi untuk
berbulan madu bersama Ebiet di Hvar – yang katanya lambang cinta sejati, atau di
Barcelona – yang juga romantis, belum lagi Paris… Tetapi, setelah Ia pikir-pikir lagi,
mungkin sebaiknya Ia justru mengelilingi Indonesia lebih dulu untuk sekarang ini, sambil
mengamalkan ilmu yang Ia dapat dari fakultas kedokteran, dengan memberi pengobatan
murah-meriah (atau bahkan gratis!) untuk fakir miskin dan masyarakat yang
peradabannya terbelakang, yang Ia temui di pedalaman Indonesia. Kalau Butet Manurung
bisa mengajar Suku Anak Dalam untuk membaca, mengapa Ia tidak bisa menolong
masyarakat semampunya?

Dari usahanya yang bisa dikategorikan dalam philanthropy itu, ada saja rejeki
yang Ia dapat, belum lagi pengalaman yang tidak ternilai banyaknya. Orang lain selalu
membantunya ketika Ia berwisata ke segala tempat. Penduduk setempat juga selalu
bersikap welcome terhadapnya, membuatnya bisa mengirit-ngirit uangnya sedikit. Entah
menekan biaya penginapan, biaya makan, maupun biaya belanja suvenir (kadang-kadang
Ia bisa memperoleh kerajinan tangan khas daerah yang Ia kunjungi tanpa harus bayar
sepeserpun!).

Ebiet juga menikmati semua itu dengan menekuni hobinya, melukis. Kini, Ia bisa
melukis bermacam-macam pemandangan di Indonesia, meskipun ilmu yang Ia tempa di
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Hubungan Internasional-nya belum dapat
diaplikasikan secara menyeluruh.

Sesampainya di tempat yang dituju, lovers’ quarrel lagi-lagi terjadi, seperti
biasanya.

"“Langge, kamu ikut aku turun dong… Temenin aku snorkeling!”" pinta Ebiet,
manja. Padahal, tidak biasa-biasanya gadis itu semanja ini.

“"Ya ampun, Biet. Tadi siang kan aku udah bilang, nanti snorkeling-nya sendiri-sendiri.
Buat apa coba kita beli alat semahal ini? Tau gitu tadi nyewa aja kan biar bisa
barengan. Udah deh...… Budget-ku mepet tau! Katanya last destination-nya mau Bali?!”"
protes Langge, menanggapi kemanjaan Ebiet yang kadang-kadang kelewatan
menurutnya.

Maka, sore itu, diwarnai dengan debat yang menyebalkan (tapi indah untuk
dikenang), mereka berdua menikmati keindahan taman bawah laut di dekat Pulau
Bunaken tersebut. Tentu saja Langge tidak rela jika tidak mengabadikan momen-momen
tersebut dengan kamera digital barunya, yang bisa digunakan untuk memotret di dalam
lautan.
 
Kelar snorkeling, Langge dan Ebiet mengunjungi Kampung Bunaken untuk
melihat-lihat kehidupan penduduk setempat dan mencari suvenir menarik. Lalu, mereka
“pulang” ke Manado menggunakan kapal feri lagi dan sampai di sana sekitar 1 jam
kemudian.

Ketika senja mulai hadir, Langge tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Ia mengajak
Ebietnya (yang sekarang officially his!) berjalan-jalan di Boulevard. Untuk melihat anakanak
muda “nongkrong”, sekaligus cari makan malam di angkringan. But for the opening,
Langge memilih berjalan-jalan di pinggir laut, agar kaki mereka terkena air laut yang
sedang sedikit pasang.

Benar saja, seperti kata semua fotografer – atau tepatnya semua orang, tidak ada
sunset yang lebih indah dibandingkan sunset di Manado. Langge menyaksikan itu dengan
mata kepalanya sendiri saat ini. Ia kerap kali melihat foto sunset yang bagus dengan
caption “Boulevard Manado” hasil jepretan fotografer-fotografer wisata Indonesia
maupun yang berasal dari luar negeri. Kini, Ia berkesempatan untuk menjepret momen
indah itu dengan tangan dan kameranya sendiri.

“"Would you get closer to the ocean?”" pinta Ebiet, dengan nada yang manis sekali.
"“I love oceans… It’s blue, it’s mysterious, but it’s calming, just like you.”"

Langge tidak menjawab, hanya menggenggam tangan Ebiet dengan lebih erat dan
membawa gadis itu mendekat ke arah laut. Ada beberapa ikan kecil berwarna cerah,
termasuk ikan badut yang berwarna jingga. Mendadak, Langge teringat akan seorang
anak kecil yang istimewa, yang namanya sama dengan warna kesukaannya tersebut.
Jingga. Sudah bertahun-tahun yang lalu Jingga meninggal, tetapi kenangannya terus
mengisi kepala Langge, mungkin sampai kapanpun. Jika Jingga masih hidup, mungkin
sekarang Ia sudah duduk di bangku kuliah, bahkan mungkin saja Ia mendapat beasiswa
ke Jepang, atau ke Amerika Serikat.

Sementara Langge teringat akan Jingga, Ebiet justru teringat akan…...

"“Wow! Look! Nemo!"” pekiknya ceria. Langge gondok setengah mati
mendengarnya.

"“Aduh...… You'’re always, always childish and mature at the same time. I don’t
understand
",” Langge berkata dengan nada yang teramat sangat datar.

“"Bawa pulang yuk!"” usul Ebiet, seperti anak kecil yang menemukan mainan
tergeletak di jalanan. Mimik wajahnya menunjukkan bahwa Ia sedang memohon dengan
teramat sangat.

"“Oh, God. Meliharanya gimana coba? Emangnya kita tinggal di sini? Besok kita
tuh udah pelesir lagi, gak stay di sini berbulan-bulan, tahu! Mau bawa pulang pakai apa?
Kantong kresek? Please deh, Biet."” Entah kenapa, Langge merasa bahwa Ebiet
belakangan ini menjadi jauh lebih manja dan jauh lebih aneh.

"“Aaaaaah… I want to have a clown fish, this one is so cute, and tiny. Let’s name it
Nemo! Come on, honey...… Please...
…” Ebiet merengek lagi, sambil menarik-narik lengan
Langge yang sedang Ia gamit.

"“Biiiiieeeet, kamu kan tahu, aku gak suka binatang peliharaan!"” protes Langge,
sekali lagi. Sejak dulu, Ia memang tidak pernah suka memelihara binatang. Sekali-sekalinya
memelihara kelinci, kelincinya meninggal dengan naas dan menyedihkan
karena bergulat dengan tikus di kandangnya. Sebab itu, Ia semakin tidak suka
memelihara binatang.
 
“"Okay, okay, I know that. I love you so much, my doctor Langge… I’m really
grateful that I have you,
"” kata Ebiet, berusaha memperbaiki suasana dengan mengalah.

"“Love you too, princess,"” jawab Langge, singkat. Ternyata, Ebiet nggak se-
”aneh” itu kok.

Akhirnya, Ia memiliki Ebiet dalam hidupnya. Tidak pernah sebagai pacarnya
yang official, tetapi langsung menjadi tunangannya, dan lalu istrinya. Betapa indah hidup
Langge rasanya. Sayang, Jingga tidak ada di dimensi yang sama dengannya untuk
menyaksikan itu semua dan berbagi kebahagiaan dengan Langge.

Apalagi karena keinginan Langge untuk berjalan-jalan keliling Indonesia – dan
lalu dunia, Ebiet setuju untuk berpacaran dengan extended. Which means, mereka belum
berencana menimang momongan dalam waktu dekat.

"Anyway, Langge, I think Jojo is in my..… - what? Stomach? Womb? -– already...…
Aku belum datang bulan nih, udah telat dua minggu malah,"” kata Ebiet, sedikit merusak
suasana. Lagi.

"“HAH?! You told me that you wanted to buy…”...."

"“Iya, emang kubilang mau beli pembalut. Yah, itu kan biar kamu gak khawatir,
soalnya aku udah telat dapet sekitar dua minggu nih. I bought a test-pack instead. Well,
just in case…”
...."

Alanda Kariza
11/02/2007 13:29 - 14/09/2007 20:43



THE END
 
Back
Top