Tentang Kanjeng Dimas

Ratusan Pengikut Dimas Kanjeng Akan Hadir Beri Dukungan di Pengadilan

e4dbfe72-be97-474c-9212-e7876e7025d8_43.jpg

Kasus pembunuhan Ismail Hidayah dan Abdul Ghani, oleh 7 tersangka yang diotaki Taat Pribadi, akan disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang dijadwalkan pekan depan. Para pengikut Taat Pribadi yang masih bertahan di tenda pedepokan akan datang bersama-sama untuk melihat proses persidangan di PN Kraksaan.

Hal ini diungkapkan oleh Ustadz Musleh, salah satu pengikut Taat Pribadi, yang dituakan di padepokan Dimas Kanjeng, Minggu (30/10/2016). Musleh mengaku, jika nanti yang mulia (Taat Pribadi) disidangkan di PN Kraksaan, maka seluruh pengikut yang berada di padepokan akan hadir untuk memberikan suport dukungan moral.

"Sebelumnya kami sudah berkomitmen, untuk hadir di persidangan nanti, kami akan datang bersama ratusan pengikut lainnya, namun kami akan tertib alias tidak akan melakukan tindakan anarkis. Kita saling menghormati penegak hukum dan yang lainnya,"ujar Musleh, saat ditemui ditenda padepokan.

Para pengikut kata Musleh, tetap koperatif, karena Undang-undang negara merupakan Undang-undang padepokan juga. Para pengikut akan datang secara ramai-rami ke Pengadilan, namun, ia menjamin tidak akan terjadi apa-apa. Meskipun Taat Pribadi jadi disidangkan di Kraksaan.

"Kami percaya kepolisian pengayom masyarakat, dan tidak akan mengada-ngada soal barang bukti, tidak membela siapa-siapa, kalau tidak bilang tidak, jadi jangan ditambah-tambah. Misalnya dari saksi jangan dinaikkan sebagai tersangka. Jika tidak terbukti ya jangan bilang terbukti. Kalau memihak lalu bagaimana keadaan hukum di negara ini,"tandas Musleh, pria asal Jember tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PN Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Suratno mengatakan, pekan depan persidangan tujuh tersangka tetap dilaksanakan di PN Kraksaan. Hanya saja untuk otak pembunuhan itu yakni Taat Pribadi, masih menunggu proses. Pihak pengadilan sudah koordinasi dengan Polres Probolinggo soal pengamanan.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Pemkab dan Polres Probolinggo. Kami yakin kepolisian akan menjamin keamanan saat persidangan tiba nanti. Bahkan, Polda Jatim akan turut serta mengamankan jalannya persidangan nanti,"jelas Suratno, saat ditemui di ruang kerjanya.t

Tujuh berkas perkara pembunuhan terhadap dua bekas pengikut Taat Pribadi, telah dilimpahkan ke PN Kraksaan oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo. Dan pekan depan pada November 2016, ketuju tersangkan akan segera disidangkan.

sumber
 
Ratusan Pengikut Dimas Kanjeng Akan Hadir Beri Dukungan di Pengadilan

e4dbfe72-be97-474c-9212-e7876e7025d8_43.jpg

Kasus pembunuhan Ismail Hidayah dan Abdul Ghani, oleh 7 tersangka yang diotaki Taat Pribadi, akan disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang dijadwalkan pekan depan. Para pengikut Taat Pribadi yang masih bertahan di tenda pedepokan akan datang bersama-sama untuk melihat proses persidangan di PN Kraksaan.

Hal ini diungkapkan oleh Ustadz Musleh, salah satu pengikut Taat Pribadi, yang dituakan di padepokan Dimas Kanjeng, Minggu (30/10/2016). Musleh mengaku, jika nanti yang mulia (Taat Pribadi) disidangkan di PN Kraksaan, maka seluruh pengikut yang berada di padepokan akan hadir untuk memberikan suport dukungan moral.

"Sebelumnya kami sudah berkomitmen, untuk hadir di persidangan nanti, kami akan datang bersama ratusan pengikut lainnya, namun kami akan tertib alias tidak akan melakukan tindakan anarkis. Kita saling menghormati penegak hukum dan yang lainnya,"ujar Musleh, saat ditemui ditenda padepokan.

Para pengikut kata Musleh, tetap koperatif, karena Undang-undang negara merupakan Undang-undang padepokan juga. Para pengikut akan datang secara ramai-rami ke Pengadilan, namun, ia menjamin tidak akan terjadi apa-apa. Meskipun Taat Pribadi jadi disidangkan di Kraksaan.

"Kami percaya kepolisian pengayom masyarakat, dan tidak akan mengada-ngada soal barang bukti, tidak membela siapa-siapa, kalau tidak bilang tidak, jadi jangan ditambah-tambah. Misalnya dari saksi jangan dinaikkan sebagai tersangka. Jika tidak terbukti ya jangan bilang terbukti. Kalau memihak lalu bagaimana keadaan hukum di negara ini,"tandas Musleh, pria asal Jember tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PN Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Suratno mengatakan, pekan depan persidangan tujuh tersangka tetap dilaksanakan di PN Kraksaan. Hanya saja untuk otak pembunuhan itu yakni Taat Pribadi, masih menunggu proses. Pihak pengadilan sudah koordinasi dengan Polres Probolinggo soal pengamanan.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Pemkab dan Polres Probolinggo. Kami yakin kepolisian akan menjamin keamanan saat persidangan tiba nanti. Bahkan, Polda Jatim akan turut serta mengamankan jalannya persidangan nanti,"jelas Suratno, saat ditemui di ruang kerjanya.t

Tujuh berkas perkara pembunuhan terhadap dua bekas pengikut Taat Pribadi, telah dilimpahkan ke PN Kraksaan oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo. Dan pekan depan pada November 2016, ketuju tersangkan akan segera disidangkan.

sumber
yang terbunuh itu teman mereka sendiri juga ya, kok seperti tidak peduli & tetap ke taat pribadinya, yang merupakan tersangka utama pembunuhannya
 
yang terbunuh itu teman mereka sendiri juga ya, kok seperti tidak peduli & tetap ke taat pribadinya, yang merupakan tersangka utama pembunuhannya

banyak yang menduga jika kasus Taat pribadi ini udah ada muatan politiknya. Bs saja ada oknum yg terlibat didalamnya soal penggelapan uang dan penipuan diluar kasus pembunuhan
 
Last edited:
Kuasa Hukum Dimas Kanjeng Ditangkap Pesta Narkoba

xc1c71a3edf4e3d6fb096d4d5ea255cb4.jpg.pagespeed.ic.ursD_-AA0r.jpg

Metroterkini.com - Andi Faisal, salah satu kuasa hukum pengasuh Padepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi, ditangkap polisi. Dia diduga terkena masalah narkoba dan tengah diperiksa penyidik Satreskoba Polrestabes Surabaya.

Andi Faisal ditangkap pada Kamis (27/10) pagi di dalam kamar Hotel Santika, Surabaya. Diduga Andi Faisal pesta narkoba dengan seorang perempuan.

Saat penangkapan, polisi menemukan klip plastik diduga berisikan sabu dan alat isap.

Penangkapan tersebut dibenarkan Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya AKBP Donny Adityawarman. Sayangnya dia enggan menjelaskan secara rinci bagaimana penangkapan tersebut.

"Ini masih didalami, dilakukan penyidikan dan penyelidikan. Karena masih dikembangkan," tandas AKBP Donny Adityawarman, Sabtu (29/10).
 
Kuasa Hukum Dimas Kanjeng Ditangkap Pesta Narkoba

xc1c71a3edf4e3d6fb096d4d5ea255cb4.jpg.pagespeed.ic.ursD_-AA0r.jpg

Metroterkini.com - Andi Faisal, salah satu kuasa hukum pengasuh Padepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi, ditangkap polisi. Dia diduga terkena masalah narkoba dan tengah diperiksa penyidik Satreskoba Polrestabes Surabaya.

Andi Faisal ditangkap pada Kamis (27/10) pagi di dalam kamar Hotel Santika, Surabaya. Diduga Andi Faisal pesta narkoba dengan seorang perempuan.

Saat penangkapan, polisi menemukan klip plastik diduga berisikan sabu dan alat isap.

Penangkapan tersebut dibenarkan Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya AKBP Donny Adityawarman. Sayangnya dia enggan menjelaskan secara rinci bagaimana penangkapan tersebut.

"Ini masih didalami, dilakukan penyidikan dan penyelidikan. Karena masih dikembangkan," tandas AKBP Donny Adityawarman, Sabtu (29/10).
tidak ada hub nya dengan taat pribadinya ya, bisa aja wartawan :D

kecuali kalau taat pribadinya juga pakai narkoba
 
penyidik ditreskrimsus polda jatim berhasil menemukan para pembuat jimat dimas kajeng taat tadi pribadi yang disebut sebut bisa mendatangkan uang berlipat ganda
 
penyidik ditreskrimsus polda jatim berhasil menemukan para pembuat jimat dimas kajeng taat tadi pribadi yang disebut sebut bisa mendatangkan uang berlipat ganda

wah harusnya pake sendiri ya jimatnya biar kaya, kl udah kaya bisa bagi2 uangnya sama yang membutuhkan ga usah pake mahar
 
Kuasa Hukum Dimas Kanjeng Ditangkap Pesta Narkoba

xc1c71a3edf4e3d6fb096d4d5ea255cb4.jpg.pagespeed.ic.ursD_-AA0r.jpg

Metroterkini.com - Andi Faisal, salah satu kuasa hukum pengasuh Padepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi, ditangkap polisi. Dia diduga terkena masalah narkoba dan tengah diperiksa penyidik Satreskoba Polrestabes Surabaya.

Andi Faisal ditangkap pada Kamis (27/10) pagi di dalam kamar Hotel Santika, Surabaya. Diduga Andi Faisal pesta narkoba dengan seorang perempuan.

Saat penangkapan, polisi menemukan klip plastik diduga berisikan sabu dan alat isap.

Penangkapan tersebut dibenarkan Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya AKBP Donny Adityawarman. Sayangnya dia enggan menjelaskan secara rinci bagaimana penangkapan tersebut.

"Ini masih didalami, dilakukan penyidikan dan penyelidikan. Karena masih dikembangkan," tandas AKBP Donny Adityawarman, Sabtu (29/10).

mampus ditangkap kasus narkoba . semoga dihukum seberat'' nya
 
Dimas Kanjeng dan Vijay Tak Kuat Menahan Tawa saat Tipu Marwah Daud

mahaguru-dimas-kanjeng_0911_20161109_174618.jpg

Mujan alias Abah Nogosostro (tengah), mahaguru abal-abal yang dibentuk Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat diperiksa di Mapolda Jatim, Senin (7/11/2016).

TRIBUNJOGJA.COM, SURABAYA - Marwah Daud Ibrahim emoh ditanya soal mahaguru bentukan tokoh idolanya, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, asal Probolinggo.
Beberapa kali wartawan yang melontarkan pertanyaan itu tak pernah dijawab.

"Soal itu (mahaguru) no comment," ujar Marwah Daud usai diperiksa di Ditreskimum Polda Jatim, Surabaya, Rabu (9/11/2016) sekitar pukul 18.40 WIB.

Tokoh yang pernah menjadi bakal calon Wakil Presiden mendampingi KH Abdurrahman Wahid itu diperiksa penyidik mulai pukul 12.00 WIB. Ia dicecar 15 pertanyaan.

Pihak Marwah menyebutkan, pertanyaan penyidik bukan soal laporan korban penipuan asal Jember, Suprayitno senilai Rp 830 juta.

"Nggak ditanya soal itu. Pemeriksaan untuk melengkapi pemeriksaan terdahulu terkait padepokan," ujar Herman Umar, kuasa hukum Marwah.

Menurut Herman, kliennya diperiksa terkait peran dan kegiatan Marwah Daud di padepokan. Karena sebelumnya, Marwah sebagai anggota pembina dan tidak aktif.

Begitu ada acara pengajian, Marwah yang saat itu masih sebagai santri disuruh mengisi acara sesuai apa yang Marwah kuasai.

"Bu Marwah memberikan wawasan kebangsaan, sumber daya manusia dan pendidikan. Waktunya berbicara di depan santri sekitar 7 menit," jelasnya.

Wawancara semula berlangsung gayeng, namun saat ditanya apakah Marwah pernah istighotsah bersama mahaguru, Marwah dan kuasa hukumnya langsung berjalan menuju mobil Toyota Innova silver L 1180 E yang menunggu di parkiran.

Sebelumnya, Marwah mencium tangan Marno Sumarno alias Abah Holil saat di Makam Syaichona Cholil, Bangkalan, Madura.

Hal itu dikisahkan oleh seorang penyidik saat menunjukkan tujuh mahaguru palsu, 7 November 2016 lalu.

Marwah juga diberi tasbih oleh Marno. Puluhan pengikut Taat yang ada dalam satu rombongan termasuk tersangka Taat juga diberi tasbih.

Setelah satu bulan kemudian, Marwah bertemu SP Ramanathan alias Vijay di Padepokan Dimas Kanjeng.

Marwah cerita bahwa diberi tasbih oleh Abah Holil. Mendengar cerita itu, Vijay sampai tak kuat menahan tawa.

Cerita itu berawal saat Taat bersama Marwah dan rombongan lain ziarah ke makam Syaichona Cholil, Bangkalan beberapa waktu lalu.

Vijay yang dihubungi Taat untuk mengatur acara agar Marno alias Abah Holil tiba-tiba datang di tengah acara ziarah.

Marno mengenakan jubah hitam plus surban hitam ditutupkan pada kepala sambil membawa ratusan tasbih di punggungnya.

Sontak, acara yang berlangsung khidmat itu kian bertambah hening karena tiba-tiba muncul Marno dengan jenggot putih sembari mengucapkan salam.

Lantas Marno berjalan ke peserta rombongan yang mengambil duduk bersila sambil membagi-bagi tasbih. Katanya tasbih itu dari Makkah dan mereka percaya saja. (*)
 
Dimas Kanjeng dan Vijay Tak Kuat Menahan Tawa saat Tipu Marwah Daud

mahaguru-dimas-kanjeng_0911_20161109_174618.jpg

Mujan alias Abah Nogosostro (tengah), mahaguru abal-abal yang dibentuk Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat diperiksa di Mapolda Jatim, Senin (7/11/2016).

TRIBUNJOGJA.COM, SURABAYA - Marwah Daud Ibrahim emoh ditanya soal mahaguru bentukan tokoh idolanya, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, asal Probolinggo.

Beberapa kali wartawan yang melontarkan pertanyaan itu tak pernah dijawab.

"Soal itu (mahaguru) no comment," ujar Marwah Daud usai diperiksa di Ditreskimum Polda Jatim, Surabaya, Rabu (9/11/2016) sekitar pukul 18.40 WIB.

Tokoh yang pernah menjadi bakal calon Wakil Presiden mendampingi KH Abdurrahman Wahid itu diperiksa penyidik mulai pukul 12.00 WIB. Ia dicecar 15 pertanyaan.

Pihak Marwah menyebutkan, pertanyaan penyidik bukan soal laporan korban penipuan asal Jember, Suprayitno senilai Rp 830 juta.

"Nggak ditanya soal itu. Pemeriksaan untuk melengkapi pemeriksaan terdahulu terkait padepokan," ujar Herman Umar, kuasa hukum Marwah.

Menurut Herman, kliennya diperiksa terkait peran dan kegiatan Marwah Daud di padepokan. Karena sebelumnya, Marwah sebagai anggota pembina dan tidak aktif.

Begitu ada acara pengajian, Marwah yang saat itu masih sebagai santri disuruh mengisi acara sesuai apa yang Marwah kuasai.

"Bu Marwah memberikan wawasan kebangsaan, sumber daya manusia dan pendidikan. Waktunya berbicara di depan santri sekitar 7 menit," jelasnya.

Wawancara semula berlangsung gayeng, namun saat ditanya apakah Marwah pernah istighotsah bersama mahaguru, Marwah dan kuasa hukumnya langsung berjalan menuju mobil Toyota Innova silver L 1180 E yang menunggu di parkiran.

Sebelumnya, Marwah mencium tangan Marno Sumarno alias Abah Holil saat di Makam Syaichona Cholil, Bangkalan, Madura.

Hal itu dikisahkan oleh seorang penyidik saat menunjukkan tujuh mahaguru palsu, 7 November 2016 lalu.

Marwah juga diberi tasbih oleh Marno. Puluhan pengikut Taat yang ada dalam satu rombongan termasuk tersangka Taat juga diberi tasbih.

Setelah satu bulan kemudian, Marwah bertemu SP Ramanathan alias Vijay di Padepokan Dimas Kanjeng.

Marwah cerita bahwa diberi tasbih oleh Abah Holil. Mendengar cerita itu, Vijay sampai tak kuat menahan tawa.

Cerita itu berawal saat Taat bersama Marwah dan rombongan lain ziarah ke makam Syaichona Cholil, Bangkalan beberapa waktu lalu.

Vijay yang dihubungi Taat untuk mengatur acara agar Marno alias Abah Holil tiba-tiba datang di tengah acara ziarah.

Marno mengenakan jubah hitam plus surban hitam ditutupkan pada kepala sambil membawa ratusan tasbih di punggungnya.

Sontak, acara yang berlangsung khidmat itu kian bertambah hening karena tiba-tiba muncul Marno dengan jenggot putih sembari mengucapkan salam.

Lantas Marno berjalan ke peserta rombongan yang mengambil duduk bersila sambil membagi-bagi tasbih. Katanya tasbih itu dari Makkah dan mereka percaya saja. (*)
 
Dimas Kanjeng dan Vijay Tak Kuat Menahan Tawa saat Tipu Marwah Daud

mahaguru-dimas-kanjeng_0911_20161109_174618.jpg

Mujan alias Abah Nogosostro (tengah), mahaguru abal-abal yang dibentuk Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat diperiksa di Mapolda Jatim, Senin (7/11/2016).

TRIBUNJOGJA.COM, SURABAYA - Marwah Daud Ibrahim emoh ditanya soal mahaguru bentukan tokoh idolanya, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, asal Probolinggo.
Beberapa kali wartawan yang melontarkan pertanyaan itu tak pernah dijawab.

"Soal itu (mahaguru) no comment," ujar Marwah Daud usai diperiksa di Ditreskimum Polda Jatim, Surabaya, Rabu (9/11/2016) sekitar pukul 18.40 WIB.

Tokoh yang pernah menjadi bakal calon Wakil Presiden mendampingi KH Abdurrahman Wahid itu diperiksa penyidik mulai pukul 12.00 WIB. Ia dicecar 15 pertanyaan.

Pihak Marwah menyebutkan, pertanyaan penyidik bukan soal laporan korban penipuan asal Jember, Suprayitno senilai Rp 830 juta.

"Nggak ditanya soal itu. Pemeriksaan untuk melengkapi pemeriksaan terdahulu terkait padepokan," ujar Herman Umar, kuasa hukum Marwah.

Menurut Herman, kliennya diperiksa terkait peran dan kegiatan Marwah Daud di padepokan. Karena sebelumnya, Marwah sebagai anggota pembina dan tidak aktif.

Begitu ada acara pengajian, Marwah yang saat itu masih sebagai santri disuruh mengisi acara sesuai apa yang Marwah kuasai.

"Bu Marwah memberikan wawasan kebangsaan, sumber daya manusia dan pendidikan. Waktunya berbicara di depan santri sekitar 7 menit," jelasnya.

Wawancara semula berlangsung gayeng, namun saat ditanya apakah Marwah pernah istighotsah bersama mahaguru, Marwah dan kuasa hukumnya langsung berjalan menuju mobil Toyota Innova silver L 1180 E yang menunggu di parkiran.

Sebelumnya, Marwah mencium tangan Marno Sumarno alias Abah Holil saat di Makam Syaichona Cholil, Bangkalan, Madura.

Hal itu dikisahkan oleh seorang penyidik saat menunjukkan tujuh mahaguru palsu, 7 November 2016 lalu.

Marwah juga diberi tasbih oleh Marno. Puluhan pengikut Taat yang ada dalam satu rombongan termasuk tersangka Taat juga diberi tasbih.

Setelah satu bulan kemudian, Marwah bertemu SP Ramanathan alias Vijay di Padepokan Dimas Kanjeng.

Marwah cerita bahwa diberi tasbih oleh Abah Holil. Mendengar cerita itu, Vijay sampai tak kuat menahan tawa.

Cerita itu berawal saat Taat bersama Marwah dan rombongan lain ziarah ke makam Syaichona Cholil, Bangkalan beberapa waktu lalu.

Vijay yang dihubungi Taat untuk mengatur acara agar Marno alias Abah Holil tiba-tiba datang di tengah acara ziarah.

Marno mengenakan jubah hitam plus surban hitam ditutupkan pada kepala sambil membawa ratusan tasbih di punggungnya.

Sontak, acara yang berlangsung khidmat itu kian bertambah hening karena tiba-tiba muncul Marno dengan jenggot putih sembari mengucapkan salam.

Lantas Marno berjalan ke peserta rombongan yang mengambil duduk bersila sambil membagi-bagi tasbih. Katanya tasbih itu dari Makkah dan mereka percaya saja. (*)
.... (speechless tidak bisa ngomong)
 
Back
Top