Aksi Perampokan Rugikan Perum Pegadaian Rp 9 M

andree_erlangga

New member
Kantor-kantor cabang Perum Pegadaian di Jakarta dan berbagai daerah kini menjadi salah satu target aksi perampokan. Selama tahun 2006, setidaknya ada tujuh kantor cabang Pegadaian dirampok, dengan kerugian mencapai Rp 9 miliar.

Untuk mengatasi aksi perampokan itu, kantor cabang Pegadaian yang jumlahnya lebih dari 850 unit di seluruh Indonesia kini mendapat pengamanan dari anggota kepolisian bersenjata api selama 24 jam.

"Pengamanan kami tingkatkan. Pegadaian di setiap daerah melakukan kerja sama dengan pihak Polda setempat untuk mengamankan kantor cabang Pegadaian," kata Direktur Utama Perum Pegadaian, Deddy Kusdedi, kepada wartawan di sela-sela acara menyambut Tahun Baru 2007 di kantor pusat Perum Pegadaian, Jakarta, Rabu (03/01).

Dalam sambutan resminya di depan jajaran Perum Pegadaian, Deddy Kusdedi tidak memungkiri terjadinya aksi perampokan itu tak lepas dari kelalaian aparatnya.

"Terjadinya berbagai kasus perampokan di kantor cabang selama ini, hampir 80 persen penyebabnya adalah kelalaian internal. Jajaran Pegadaian di sana kurang pandai membaca situasi lingkungan, kurang peduli atau lalai melaksanakan instruksi kantor pusat Perum Pegadaian soal pengamanan gedung. Bahkan menyepelekan risiko-risiko yang mungkin terjadi. Sangatlah tidak adil kalau kesalahan selama ini ditujukan sepenuhnya kepada penjaga," katanya.

Peristiwa perampokan tersebut antara lain terjadi di Cabang Perum Pegadaian (CPP) Kota Pinang (Kanwil Medan), CPP Bidara Cina, CPP Pondok Kelapa (Kanwil Utama Jakarta), CPP Solo Baru (Kanwil Surakarta), CPP Karanglewas, ACP Timoho (Kanwil Yogyakarta), dan CPP Prajekan (Kanwil Malang).

Deddy Kusdedi mengingatakan jajaran Pegadaian agar serius memperhatikan soal keamanan itu karena menyangkut masalah citra perusahaan. "Aksi perampokan itu bukan saja menimbulkan kerugian bagi perusahaan hingga miliaran rupiah, namun juga sangat mencoreng citra perusahaan yang selama ini dinilai sebagai tempat aman untuk menitipkan barang milik masyarakat," katanya.

Ia mengingatkan, bila hal ini tidak segera diatasi, akan berdampak menurunnya kredibilitas dan kepercayaan nasabah atau masyarakat kepada perusahaan. Bukan tidak mungkin suatu saat nasabah akan mengalihkan agunannya ke perusahaan pesaing.

"Citra perusahaan adalah kekayaan tiada ternilai harganya karena saat membangunnya kita menghabiskan biaya yang sangat besar. Menurunnya citra dan kredibilitas perusahaan lambat-laun akan menjadi lonceng kematian bagi Perum Pegadaian," katanya.

suarakarya-online.com
 
Back
Top