Banjir akibat Banyak Mal

gupy15

Mod
Sabtu, 03 Februari 2007 NASIONAL

Banjir akibat Banyak Mal

JAKARTA - Menteri Negara Lingkungan Hidup (Men-LH) Rachmat Witoelar mengatakan penyebab utama banjir di Jakarta adalah berkurangnya lahan resapan air akibat pendirian bangunan secara besar-besaran.

"Terlalu banyak mal," katanya setelah menghadiri pameran "Clean Energy (R)evolution" yang digelar Greenpeace di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, banyak pengembang yang tidak secara serius memperhatikan dampak ekologis akibat pendirian bangunan secara sembarangan.

Lebih lanjut Rachmat menegaskan, pembangunan itu sebagian besar dilakukan di daerah-daerah resapan air, sehingga menambah volume air yang tidak terserap. Hal itu, katanya, sangat memungkinkan untuk menjadi banjir.

Selain kekurangan daerah resapan air, Rachmat juga menuding budaya hidup masyarakat yang belum manyadari arti penting hutan.

Penggundulan hutan, katanya, sudah selayaknya dihentikan untuk mengurangi bencana yang hampir setiap tahun menimpa warga Ibu Kota itu.

Selain itu, kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya harus ditingkatkan untuk memperkuat usaha pengendalian banjir.

Dataran Rendah

Banjir terjadi karena daerah-daerah dataran rendah telah berubah menjadi daerah perkotaan, permukiman dan industri. Akibatnya, begitu hujan turun, air akan langsung mengalir ke hilir tanpa masuk ke daerah tangkapan air. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Departemen PU, Siswoko.

''Kepada masyarakat diminta untuk waspada terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan bantaran sungai. Dengan demikian dapat mengurangi kerugian baik harta benda maupun korban jiwa,''imbaunya.

Untuk mengantisipasi banjir, lanjut dia, Departemen PU dari tahun ke tahun telah melakukan piket banjir dan walk through.

Tinjauannya melihat secara langsung sarana dan prasarana pengairan baik saluran air maupun bangunan-bangunan fisik pengairan menjelang musim penghujan.

Selain itu, pembangunan banjir kanal, tanggul, pompa, polder, dan rencana melakukan sodetan juga telah dilakukan. Namun demikian tetap tidak ada bangunan yang mutlak mencegah banjir.

Siswoko juga mengajak masyarakat untuk melaksanakan gerakan pembersihan selokan di lingkungan dan menjaga lingkungan untuk mengurangi bencana banjir yang tiap tahun terjadi.

Upaya penanggulangan banjir di Jakarta antara lain konservasi lahan dengan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA).

Langkah ini dilakukan agar pada musim penghujan, tidak terjadi banjir terlalu besar dan pada musim kering diharapkan tidak terjadi kekeringan yang berkepanjangan.(bn,ant-64,41)


===================================
kemana ya yg namanya "sustainable development" ?????
 
Back
Top