“Belajar Islam hingga ke Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)”. Ungkapan ini bukan sekedar main-main. Walaupun berat, UMJ serius mewujudkan komitmennya sebagai kampus Islami. ‘Saya ingin ungkapan ini tidak sekedar cita-cita. Suatu saat, saya ingin ungkapan ini menjadi kebenaran yang diterima masyarakat umum,” ujar Rekton Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof Dr Hj Masyitoh M Ag
Menurut salah satu ketua Aisyiyah ini, sampai sekarang UMJ masih istiqomah untuk terus membawa prinsip keislaman dalam tiap langkahnya. Masyitoh mengganggap hal ini merupakan amanah sekaligus tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Islam menurutnya adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lii alamin).
Dengan demikian semua makhluk berhak merasakan keindahan Islam. Pergaulan global merupakan keniscayaan dalam interaksi antarmanusia Sehingga prinsip keterbukaan harus menaungi setiap kegiatan yang dilakukan UMJ. Menjadikan kampus Islami bukan berarti tertutup atau eksklusif,” tegas Masyitoh. Berbagai macam’ kegiatan keislaman coba dipadukan dengan pembelajaran sehari-hari. Hal ini dilakukan supaya Islam benar-benar menjadi bagian dan kehidupan dari mewarnai aktivitas civitas akademika UMJ. Kegiatan-kegiatan pembinaan keagamaan mahasiswa meliputi pembelajaran Alquran, pesantren Ràmadhan, pembentukan karakter keislaman. Selain itu UMJ menekankan mahasiswinya untuk bembusana muslimah.
Sedangkan untuk tingkat dosen dan karyawan UMJ mengadakan pembinaan secara berkala. Pembinaan tersebut meliputi pengajian Damul Arqam, pendalaman Islam dan Kemuhammadiyahan. Universitas ini juga membiasakan menghentikan semua kegiatan begitu terdengar adzan. Begitu adzan selesai, mereka berbondong bondong mengerjakan shalat berjamaah.
Berbagai kegiatan tersebut merupakan usaha untuk mewujudkan cita-cita sebagai kampus Islami. Sekaligus wujud dan penanaman nilai nilai dan semangat keislaman. Penanaman nilai nilai dari semangat itu terus dilakukan bagi segenap pimpinan, karyawan, dosen dan mahasiswa di lingkungan UMJ. “Penanaman nilai itu tidak cukup hanya dengan pengajian tapi juga dengan memberikan contoh (uswah) perilaku yang terus menerus”, katanya lagi.
Sumber : republika
Menurut salah satu ketua Aisyiyah ini, sampai sekarang UMJ masih istiqomah untuk terus membawa prinsip keislaman dalam tiap langkahnya. Masyitoh mengganggap hal ini merupakan amanah sekaligus tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Islam menurutnya adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lii alamin).
Dengan demikian semua makhluk berhak merasakan keindahan Islam. Pergaulan global merupakan keniscayaan dalam interaksi antarmanusia Sehingga prinsip keterbukaan harus menaungi setiap kegiatan yang dilakukan UMJ. Menjadikan kampus Islami bukan berarti tertutup atau eksklusif,” tegas Masyitoh. Berbagai macam’ kegiatan keislaman coba dipadukan dengan pembelajaran sehari-hari. Hal ini dilakukan supaya Islam benar-benar menjadi bagian dan kehidupan dari mewarnai aktivitas civitas akademika UMJ. Kegiatan-kegiatan pembinaan keagamaan mahasiswa meliputi pembelajaran Alquran, pesantren Ràmadhan, pembentukan karakter keislaman. Selain itu UMJ menekankan mahasiswinya untuk bembusana muslimah.
Sedangkan untuk tingkat dosen dan karyawan UMJ mengadakan pembinaan secara berkala. Pembinaan tersebut meliputi pengajian Damul Arqam, pendalaman Islam dan Kemuhammadiyahan. Universitas ini juga membiasakan menghentikan semua kegiatan begitu terdengar adzan. Begitu adzan selesai, mereka berbondong bondong mengerjakan shalat berjamaah.
Berbagai kegiatan tersebut merupakan usaha untuk mewujudkan cita-cita sebagai kampus Islami. Sekaligus wujud dan penanaman nilai nilai dan semangat keislaman. Penanaman nilai nilai dari semangat itu terus dilakukan bagi segenap pimpinan, karyawan, dosen dan mahasiswa di lingkungan UMJ. “Penanaman nilai itu tidak cukup hanya dengan pengajian tapi juga dengan memberikan contoh (uswah) perilaku yang terus menerus”, katanya lagi.
Sumber : republika