Benarkah Agama yang kita anut?

Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

makin lucu aja tanggapan si depson.. kapan dia bisa berhenti mencela.. -_-'

bang devson hanya berusaha untuk bersikap kritis, kita harus "menghargai" pendapatnya juga, supaya forum ini lebih terasa hidup :finger:
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

yah, aku tahu semua pasti bermaksud baik tapi masing2 orang punya cara2 sendiri untuk menyampaikan maksud tersebut.... tinggal saling menghargai dan tidak berburuk sangka aja....
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

Kalian berdebat dengan sudut pandang dan paradigma/filosofi masing-masing yang berbeda, gimana bisa dapat titik temunya???? Yah terpaksa aku juga pake paradigma aku:

Sejujurnya aku belum baca sepenuhnya isi thread ini... terlalu banyak. Tetapi saya melihat poin intinya adalah (1) apakah agama yang kita anut adalah benar? (2) apakah tahlilan dan kawan-kawannya dalah bid'ah?

jawabannya:
1. Agama itu bukan sesuatu yang dapat dipertanyakan kebenaran atau ketidakbenarannya. Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan garansi atas hal tersebut. Bukan hanya itu, mempertanyakan apakah agama"ku" ini benar atau tidak, adalah suatu rumusan masalah yang saya pikir keliru, karena agama itu sendiri berbicara mengenai hukum-hukum yang di dalamnya terdapat yang benar dan yang salah. PErtanyaan yang seharusnya adalah apakah agama yang kita anut membuat kita menjadi lebih benar? lebih baik? tapi ternyata kan tidak! Agama tidak "mampu" berbuat apa-apa, karena kitalah yang melaksanakan "keagamaan". Agama seperti sepeda motor, apakah sepeda motor dapat membuat kita sampai di rumah pacar lebih cepat dari naik angkot? jawaban "default"nya adalah ya. tetapi jawaban kontekstualnya tidak-juga. Gimana kalo motornya kehabisan bensin? bannya pecah? atau kitanya yang gak bisa bawa sepeda motor? Nah semuanya tergantung kita. Intinya, bagaimana kita hidup beragama, bukannya mempertanyakan agama kita benar atau tidak. Seandainya isunya berhubungan dengan ajaran, maka saya pikir benar atau tidaknya bukan pada ajaran, tetapi pada interpretasi masing-masing.

2. Apakah tahlilan dan kawan-kawannya adalah bid'ah? Saya rasa terlalu sederhana cara berpikir orang-orang yang membid'ahkannya. Sebelumnya saya memohon maaf atas kata-kata saya jika tidak berkenan di hati anda. KEbanyakan praktik religius yang diklaim bid'ah seperti tahlilan, ziarah dan sebenarnya, adalah praktik-praktik yang telah ada di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Ada yang dilakukan secara langsung, ada yang dilakukan oleh sahabat dan disetujui oleh Rasul. Bukankah Tahlilan adalah Dzikir berjamaah? Bukankah mendoakan orang yang telah meninggal adalah sadakah bagi orang itu? Bukankah Ziarah itu dzikrul-maut? Mereka yang membid'ahkannya berdalil bahwa hal tersebut (cara-caranya) tidak diajarkan oleh Rasul. Lho, anda ini menyamakan hal-hal tersebut dengan Shalat, yang cara-caranya diajarin... kreatiflah..... dalil itu bukan cuma apa yang diajarkan oleh Rasul, karena Alam semesta, pergantian waktu, bahkan dirimu sendiri adalah dalil... yang saya maksudkan adalah "ENTE HARUS BANYAK-BANYAK TAFAKKUR!" Jika anda masih saja bersikeras dengan pemikiran tersebut, maka saya akan berkata bahwa anda-anda yang Islam yang membid'ahkan hal tersebut dengan dalil Rasul tidak mengajarkannya, adalah Musyrik semua. KEnapa tidak? Saya mau tanya, kenapa anda shalat menghadap Ka'bah, padahal anda mencela ummat lain menyembah patung dan sebagainya? MEngapa haji harus mencium Hajaral Aswad, yang notabenenya adalah "BATU DOANK?" MEngapa???? tentu saja anda hanya akan berkata itulah yang dilakukan oleh Rasul, artinya anda "TIDAK BERILMU!" dan hanya orang yang tidak berilmu saja yang mengatakan bahwa Tahlilan, Ratib, Ziarah, Mauludan, dan Bertasawuf adalah bid'ah.... Anda telah "membendamatikan ALLAH dan RasulNya, seolah-olah ATM (salah tekan pin kartu uang gak keluar) atau HP (salah tekan nomor, salah sambung!).

Semoga hal ini berkontribusi bagi kita sekalian. Amin.....
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

yah orang berpendapat lain boleh aja bang red....:D (walaupun jawaban pertama aku kurang setuju :D)

baca dulu artikel baru aku
menguasai bahasa al-quran penangkal gombalisasi umat islam

setelah menyamakan filosofi/persepsi sesuai artikel diatas baru kita kaji al-qur'an dan hadits tentang hukum2 islam, adakah semua hal tsb dianjurkan nabi ataukah dilarang....?

tambahan lagi .....ada yang mengganjal pikiran saya...:D
Mereka yang membid'ahkannya berdalil bahwa hal tersebut (cara-caranya) tidak diajarkan oleh Rasul. Lho, anda ini menyamakan hal-hal tersebut dengan Shalat, yang cara-caranya diajarin... kreatiflah..... dalil itu bukan cuma apa yang diajarkan oleh Rasul, karena Alam semesta, pergantian waktu, bahkan dirimu sendiri adalah dalil... yang saya maksudkan adalah "ENTE HARUS BANYAK-BANYAK TAFAKKUR!"
tahukah ummat yang "kreatif" terhadap agamanya? yaitu umat nasrani dan yahudi, dengan kreatifitas luar biasa mereka bisa melakukan "Update" ajaran kitab suci "sesuai" perkembangan zaman (hingga tidak tersisa kecuali sedikit saja dari alkitab itu)
padahal ada hadits yang berbunyi :
Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”.
(Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”) [Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718]
 
Last edited:
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

yah orang berpendapat lain boleh aja bang red....:D (walaupun jawaban pertama aku kurang setuju :D)

Gw enggak bilang kalo orang g boleh berpendapat lain dengan pemikiran gw.. bukankah gw cuma bilang "makin rame aja nih.." |:mad:

dan sedikit ngasih saran ma mod setempat.. apa kalo thread ini terus dilanjut.. lebih banyak manfaatnya apa mudharat nya..

selanjutnya ya tergantung kebijakan dari mod yang memegang forum agama.
 
Last edited:
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

gak pa apa kok red..
minimal.. kalo kita baca tanpa pake pretensi.. apalagi emosi..
ada juga yang bisa di petik dari sini..
Insya Allah begitu..
kita monitor aja terus..
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

hmmm . . .

tentang tahlilan yang poin 40 hari wafatnya dan tentang arwahnya masih ada disekitar tubuhnya, masih melekat dibenak orang-orang kenapa harus tahlilan. Jarang sekali ada orang yang mengatakan harus berdzikir berjamaah buat si-yang-sudah-ke-alam-kubur (kalau ustadnya sih ngutipnya berdzikir, tapi dari keluarganya lebih cenderung mengatakan 40 hari roh itu).

Ada lagi tradisi dari luar yang masuk islam dan diterima. TAPI, diajarkan oleh Rasullullah
contohnya: Akikah~

Akikah sendiri dulu adalah tradisi dari negri mana gitu, yang ketika bayi lahir akan dipersembahkan sebuah kambing dan bayi tersebut akan dimandikan dengan darah kambing. Tapi, beliau SAW membuatnya berbeda. Bayi tersebut tidak dimandikan darah dan daging kambingnya di bagikan kepada tetangga.
Dan, akikah ini dalam pikiran orang yang melakukannya lebih cenderung ke berbuat baik (membagikan kambing) dan jarang juga yang memandikan bayinya dengan darah atau sempat memikirkan "untuk mengusir roh jahat" atau semacamnya.
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

Ada lagi tradisi dari luar yang masuk islam dan diterima. TAPI, diajarkan oleh Rasullullah
contohnya: Akikah~

Akikah sendiri dulu adalah tradisi dari negri mana gitu, yang ketika bayi lahir akan dipersembahkan sebuah kambing dan bayi tersebut akan dimandikan dengan darah kambing. Tapi, beliau SAW membuatnya berbeda.

menurut madzhab hanafiyah memang demikian, hukum aqiqah adalah makruh.
Dalam kitab Badai’ as-Shanai’, kitab mazhab Hanafiyah, disebutkan sbb:

“Aqiqah disyari’atkan sebelum datangnya syari’at kurban, setelah turun syari’at kurban maka syari’at aqiqah digantikan oleh syari’at kurban. Sebelum turunnya syariat kurban, hukum aqiqah tidaklah wajib, tapi hanya merupakan keutamaan saja. Suatu keutamaan jika telah diganti oleh syariat lainnya maka hukumnya menjadi makruh”.

namun, pendapat sebagian besar ulama (jumhur ulama), misalnya mazhab Syafi’iyyah, mazhab Malikiyah, dan sebagian besar Mazhab Hanabilah. mengatakan hukum aqiqah adalah sunnah, berikut dalil disyariatkan aqiqah :
“Dari Ibnu Abbas r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. mengaqiqahkan (cucunya) Hasan dan Husein dengan masing-masing satu kambing” HR. Abu Dawud

“Dari Aisyah r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing yang besar dan anak perempuan satu kambing” HR. al-Tirmidzi, dan menurutnya hadis ini shahih.

“Dari Samurah r.a., nabi s.a.w. bersabda: setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke 7 kelahirannya, dan dicukur rambutnya dan diberi nama” HR. Ahmad, dan dianggap shahih oleh at-Tirmidzi.

sumber: http://www.mui.or.id/mui_in/konsultasi.php?id=13
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

menurut madzhab hanafiyah memang demikian, hukum aqiqah adalah makruh.
Dalam kitab Badai’ as-Shanai’, kitab mazhab Hanafiyah, disebutkan sbb:

“Aqiqah disyari’atkan sebelum datangnya syari’at kurban, setelah turun syari’at kurban maka syari’at aqiqah digantikan oleh syari’at kurban. Sebelum turunnya syariat kurban, hukum aqiqah tidaklah wajib, tapi hanya merupakan keutamaan saja. Suatu keutamaan jika telah diganti oleh syariat lainnya maka hukumnya menjadi makruh”.

namun, pendapat sebagian besar ulama (jumhur ulama), misalnya mazhab Syafi’iyyah, mazhab Malikiyah, dan sebagian besar Mazhab Hanabilah. mengatakan hukum aqiqah adalah sunnah, berikut dalil disyariatkan aqiqah :
“Dari Ibnu Abbas r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. mengaqiqahkan (cucunya) Hasan dan Husein dengan masing-masing satu kambing” HR. Abu Dawud

“Dari Aisyah r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing yang besar dan anak perempuan satu kambing” HR. al-Tirmidzi, dan menurutnya hadis ini shahih.

“Dari Samurah r.a., nabi s.a.w. bersabda: setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke 7 kelahirannya, dan dicukur rambutnya dan diberi nama” HR. Ahmad, dan dianggap shahih oleh at-Tirmidzi.

sumber: http://www.mui.or.id/mui_in/konsultasi.php?id=13

hoooo . . . gw sih cuma menyampaikan cerita yang pernah gw denger :D ternyata gitu ya kalo dalilnya . . . =b=
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

tahukah ummat yang "kreatif" terhadap agamanya? yaitu umat nasrani dan yahudi, dengan kreatifitas luar biasa mereka bisa melakukan "Update" ajaran kitab suci "sesuai" perkembangan zaman (hingga tidak tersisa kecuali sedikit saja dari alkitab itu)

Ente membuat penekanan tersendiri ya? Padahal ente juga tidak boleh menafsirkan kata "kreatif" dengan rangkaian kata yang lain di atas:
yang cara-caranya diajarin... kreatiflah..... dalil itu bukan cuma apa yang diajarkan oleh Rasul, karena Alam semesta, pergantian waktu, bahkan dirimu sendiri adalah dalil... yang saya maksudkan adalah "ENTE HARUS BANYAK-BANYAK TAFAKKUR!"

Yang macam begini nih yang suka mempertajam perbedaan, menafsirkan 1 dan membuang yang lain... cari-cari kesalahan orang aja....
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

maaf, kutipan tersebut ada di halaman berapa ya??
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

Ente membuat penekanan tersendiri ya? Padahal ente juga tidak boleh menafsirkan kata "kreatif" dengan rangkaian kata yang lain di atas:


Yang macam begini nih yang suka mempertajam perbedaan, menafsirkan 1 dan membuang yang lain... cari-cari kesalahan orang aja....

Jadi? Sebenarnya apa yang ingin disampaikan????

kalo gw yah, sebagai hal yang menjalankan agama islam ini. Kreatifitas hanya membuatmu ke jalan yang tidak ada menjadi di ada-adakan. Mengapa? karena kreatifitas itu adalah "salah satu" cara untuk memahami sesuatu dari pandangan lain. Padahal agama sendiri tercipta, mengimaninya. Kalau gw sih, soalnya rata2 orang yang kreatif dengan sebuah agama hanya menimbulkan cara pikir baru yang akhirnya menjauh kepaada inti kepercayaan itu.

kunci memiliki agama bagi gw: tau dan percaya.

karena kalau ditambahkan dengan kreatifitas, bukannya hal positif aja yang semakin besar, Negatifnya jugaaa melebar. . .kalau menurut saia. Semakin di perluas semakin lebar, kayak adonan martabak gitu. Dan lama-lama manusia malah jadi bingung dan rapuh seperti adonan martabak itu tadi kalau semakin lebar. Malah jadi menambah-nambahkan yang tidak perlu :D


@bang banyu biru
itu loh yang dihalaman yang sebelumnya . . .
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

Yang macam begini nih yang suka mempertajam perbedaan, menafsirkan 1 dan membuang yang lain... cari-cari kesalahan orang aja....

:D saya gak suka mencari2 kesalahan orang lain, mungkin karena keterbatasan ilmu saya yang sedikit ini membuat tulisan2 saya menyinggung perasaan orang lain, atau bahkan pendapat saya bisa keliru............dan saya juga masih belajar dari sampeyan2 yang lebih pintar dari saya disini....:)

Mereka yang membid'ahkannya berdalil bahwa hal tersebut (cara-caranya) tidak diajarkan oleh Rasul. Lho, anda ini menyamakan hal-hal tersebut dengan Shalat, yang cara-caranya diajarin... kreatiflah..... dalil itu bukan cuma apa yang diajarkan oleh Rasul, karena Alam semesta, pergantian waktu, bahkan dirimu sendiri adalah dalil... yang saya maksudkan adalah "ENTE HARUS BANYAK-BANYAK TAFAKKUR!"

mungkin yang dimaksud bang umangvirmaker adalah ayat ini :
QS. Adz Dzariyat (51): 20-21
  • Dan di bumi ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.(20)
  • Dan (juga) pada diri kamu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?(21)

menurut pemahaman saya, ayat diatas adalah bukti dari keberadaan Allah dengan membuat tanda tanda penciptaan di langit dan dibumi bahkan didiri manusia.
saya tidak mendapati bahwa ayat diatas menerangkan bahwa kita memakai tanda tanda kekuasaan Allah sebagai landasan hukum syariat....pembahasannya sudah beda

menentukan dalil dalam ibadah tidak boleh berdasarkan kreatifitas manusia, semuanya harus berlandaskan dalil syar'i yaitu alquran dan sunnah, sesuai hadits rasulullah dalam shahih bukhari :
تركت فيكم امر ين ما ان تمسكتم بهما لن تضلوا ابدا كتاب الله وسنتي
"Kutinggalkan kepadamu (umat Islam) dua pusaka abadi apabila kamu berpegang kepadanya, niscaya tidaklah kamu tersesat, yaitu : Al-Qur’an dan sunnahku"

tetapi di dalam fiqh islam juga dikenal dengan ijtihad, istihsan, qiyas, maslahat mursalah dan sadduz zari'ah, namun semuanya itu membutuhkan kajian fiqh yang dalam, sesuai dengan permasalahan khusus yang ditemukan.

Saya mau tanya, kenapa anda shalat menghadap Ka'bah, padahal anda mencela ummat lain menyembah patung dan sebagainya? MEngapa haji harus mencium Hajaral Aswad, yang notabenenya adalah "BATU DOANK?" MEngapa???? tentu saja anda hanya akan berkata itulah yang dilakukan oleh Rasul, artinya anda "TIDAK BERILMU!"

dalam agama, orang dikatakan berilmu jika dia mengetahui sumber dalil dari suatu syariat, berdasarkan ayat apa, hadits apa.......juga mengetahui sebab dari terjadinya ayat/hadits yang menetapkan syariat tersebut....mengerti tafsir ayat juga syarah dari hadits tersebut.
sedangkan orang yang tidak berilmu dalam agama adalah orang yang melakukan suatu ibadah/syariat hanya mengikuti orang saja, tanpa tahu dalilnya, tanpa tahu apa yang dilakukannya benar atau dilarang (istilahnya taqlid buta)

jika kita ditanya mengapa shalat menghadap kiblat....karena alqur'an dan hadits dengan jelas mengatakan demikian.....itu memang betul....itulah agama

jadi jawabannya bukan: misalnya....karena kakbah merupakan poros bumi yang terletak di lintang sekian bujur sekian bedasarkan perhitungan rumus ini dan rumus itu, maka kita menyimpulkan....

agama islam adalah agama yang rasional, tetapi bukan berarti kita bisa merasionalkan syariatnya....

walahu a'lam bishowab
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

Setahu gwe orang awam, agama di Indonesia 99% menjalankan tradisi ajaran Van der Plas, Kiayi utusan Belanda untuk meninabobokan bangsa Indonesia agar tidak sadar bahwa negerinya sedang dijajah.

Setelah sukses dengan kitab kuningnya yang tidak dimengerti oleh rakyat jelata dan intelektual, bangsa Indonesia diadudomba dalam kebimbangan atas keyakinannya yang samar. Akhirnya 3 abad berlalu, hasil bumi Indonesia dikeruk ke Hindia. Ajarannya masih membudaya sebagai bid'ah dalam Islam yang murni.

Nah, siapa yang masih bercokol dengan lagu-laguan (solawatan malah pake speaker) ajaran Van der Plas, cepetan bangkit, deh. Jangan jadikan agama sebagai budaya atau main-main. Kalau marah, berarti masih sisa terjajah melekat pada diri Anda.

Bagaimana mengetahui Keasliannya ???
 
Bls: Benarkah Agama yang kita anut?

Agama islam itu bukan paling benar. Tapi benar.

Kawan tidak semua hal dalam agama bisa kita fahami dengan otak kita yang bodoh tanpa cahaya dari Sang Maha Pemilik Ilmu.
Contohnya, semua dokter percaya adanya ruh. Dan jika seseorang mati atau hidup maka itu berhubungan langsung dengan ruh.
Lantas sampai detik ini, ada yang tahu ruh seperti apa? tidak kawan.
Hal hal seperti itu cukup kita Yakini sebagai Kuasa illahi..

Begitupun dengan Perintah2 Allah yang belum kita fahami,cukup kita yakini.
Karna kita sebagai mahluk yang diciptakan nya, harus Nurut trhadap perintah2 Allah yang membuat nyaman tubuh dan jiwa ini.
^^d.
 
Back
Top