Iseng-iseng dengan Eceng Gondok

nurcahyo

New member
Iseng-iseng dengan Eceng Gondok

Pengangguran sudah menjadi kenyataan di negeri ini. Terdorong oleh obsesinya memberikan peluang kerja bagi penganggur di lingkungan rumahnya, Titik (59) mengajak satu per satu kaum muda untuk menganyam eceng gondok menjadi aneka kerajinan tangan berkualitas ekspor. Semuanya berawal dari sekadar iseng-iseng.

Siang itu, di halaman rumah Th Maria Titik Switiandari, terlihat enam perempuan belia. Ada yang mengepres eceng gondok kering, menganyam, memotong serat-serat kecil yang tidak terpakai, dan melapisi hasil anyaman dengan cat kayu atau cairan antijamur.

Ibu tiga anak itu sama sekali tidak menyangka bahwa upayanya menekuni pelatihan kerajinan tangan eceng gondok pada tahun 1989 itu kini mulai membuahkan hasil.

?Ah, saya tadinya cuma iseng kok. Ikut pelatihan menganyam eceng gondok di dekat rumah. Terus, saya pikir-pikir, kayaknya bisa deh membuka lapangan pekerjaan kecil-kecilan dengan eceng gondok,? ujar istri Agus Sutarmadji itu, yang ditemui di rumahnya di Suryowijayan, Mantri Jeron, Yogyakarta, Kamis (9/3).

Selama ini tanaman eceng gondok hanya dipandang sebagai tanaman bermasalah bagi lingkungan. Tanaman liar berwarna hijau dengan batang mengembung itu hidup di permukaan air. Akarnya yang kuat bisa saling mengikat di dalam air.

Pesatnya pertumbuhan tanaman ini kerap menyebabkan pendangkalan sungai ataupun waduk. Masalah lingkungan pun bermunculan. Lihat saja, kebijakan kali bersih di berbagai daerah akhirnya malah membabat habis eceng gondok yang dipandang sebagai tanaman merugikan.

Ternyata, tanaman merugikan itu bisa mendatangkan uang. Memang prosesnya membutuhkan ketelatenan. Juga dibutuhkan tangan-tangan terampil yang siap menganyam menjadi aneka bentuk kerajinan tangan, seperti tas, bantal ruang tamu, boks, tikar, hingga alas tempat duduk.

Titik menceritakan, sewaktu pelatihan 17 tahun lalu, pesertanya mencapai 24 orang. Karena terdorong oleh niat dalam diri sendiri, ia pun mengembangkan aneka bentuk kerajinan tangan.

?Dari satu kelompok peserta ini ternyata cuma saya yang bisa bertahan menekuni kerajinan ini,? ujar Titik.

Staf pengolah data pada sebuah lembaga psikotes ini pun meluangkan sebagian waktunya untuk menekuni usaha kecil-kecilan ini. Empat perempuan yang tidak lain adalah tetangganya sendiri diajak bergabung. Dengan modal seadanya, mereka berlatih bersama hingga menghasilkan beberapa produk dan laku di pasaran.

Mustahil tanpa modal

Titik menyebutkan, penciptaan lapangan pekerjaan tanpa sejumlah modal jelas sekali sangat mustahil. Dari modal sedikit, beberapa produk itu ternyata laku di pasaran.

Permintaan pasar yang makin besar membuatnya kedodoran. Titik terpaksa meminjam sana- sini sebagai modal kerja. Besarnya bunga pinjaman tidak dapat dihindari.

?Ya, semua itu terpaksa saya jalani. Istilahnya, saya ini cuma perajin kecil yang bisa hidup dengan menggali lubang dan tutup lubang saja. Artinya, pinjam uang di bank, setelah itu hasil penjualan dipakai untuk membayar utang,? ujar ibu rumah tangga kelahiran Yogyakarta, 12 Oktober 1946 itu.

Kondisi itu kerap terjadi setelah Titik mengikuti pameran- pameran. Bahkan, uang muka pembelian barang sebesar 30-40 persen yang diterima dari pembeli biasanya belum dapat menolong.

Namun, Titik tidak ingin terus mengeluh. Pesanan produk yang banyak pun diperkuat dengan menambah tenaga kerja baru. Alhasil, sebanyak 15 orang kini telah membantu memproduksi aneka kerajinan eceng gondok itu.

Bahan baku eceng gondok yang tadinya mudah diperoleh di sekitar Kulonprogo, terpaksa harus diperluas lagi ekspansinya. Kini, eceng gondok kering justru diperolehnya dari Rawapening dan Cilacap. Harganya sekitar Rp 2.000 per kilogram.

Tak heran, stok bahan baku itu pun kini terlihat menumpuk di salah satu sudut rumahnya. Secara kasat mata, siapa pun yang melihatnya bisa saja menyebut stoknya itu sebagai sampah. Padahal, dari eceng gondok kering itu bisa menghasilkan aneka kerajinan tangan yang dijual mulai dari Rp 15.000 hingga jutaan rupiah.

?Penghasilannya lumayan kok. Apalagi kalau ada pesanan dari luar negeri, seperti dari Belanda, Spanyol, Italia, dan Perancis. Tetapi, penjualan ke luar negeri tetap melalui perantara di dalam negeri lho. Saya takut risikonya kalau melayani langsung pembeli dari luar negeri,? ujar Titik, yang kini kerap diundang memberikan pelatihan-pelatihan di berbagai daerah.

Hasil pelatihan itu pun dimanfaatkannya untuk menjalin dan memperluas mitra kerja. Untuk menjawab tantangan memenuhi pasar yang semakin kompetitif, penguatan permodalan memang menjadi harapan besar.

Ketika dikunjungi Menneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali beberapa hari lalu, Titik ingat betul perkataan Menteri tersebut bahwa kerajinan eceng gondok memiliki prospek pasar yang besar. Apalagi bahan bakunya berlimpah. Dicontohkan, bagaimana bahan baku eceng gondok tersebar di Danau Tondano, Sulawesi Utara.

Jika pasar digarap serius, kerajinan eceng gondok itu bisa diperdagangkan di restoran-restoran sekitar danau tersebut. Bahkan, perangkat mebelnya bisa dikombinasikan dengan eceng gondok.

?Saya juga ingat banget, bagaimana Kementerian Koperasi dan UKM juga menjanjikan solusi untuk memberikan perkuatan modal kerja. Semua niat terpuji itu betul-betul sangat ditunggu-tunggu lho,? ujar Titik.

Kini semakin jelas, perajin punya keterampilan dan ide-ide cemerlang untuk bertahan. Namun, perkuatan modal kerja tetap memegang kunci penting!
 
kebetulan saat ini saya sedang mencari data informasi lengkap untuk pengrajin eceng gondok serta abaca.
Mohon sekiranya dapat memberikan info akurat kepada saya.
Terimakasih.
 
Back
Top