Bls: Lomba buat Cerpen
Aku menatap kosong ke arah langit kamar, pikiran ku tertuju pada perkataan dokter dahulu. Bisakah aku hidup untuk kedua kalinya?
“ hhh…”
aku menghela napas panjang, ini pertama kali dalam hidupku mendapatkan cobaan yang sangat berat.
Tuhan..
Kenapa kau memberikan ku cobaan yang sangat berat?
Apa salahku sehingga kau memberikanku penyakit yang tak bisa disembuhkan?
Kenapa Tuhan?
” lebih baik kau istirahat, dari pada pusing mu makin menjadi” ujar seorang wanita paruh baya mendekati diriku. Aku hanya menatap kosong padanya, kepalaku memang masih pusing, tapi insomnia menderaku.
” aku tak bisa tidur bunda” jawabku.
Wanita yang kusebut bunda, duduk disebelah ku dan mengelus rambutku. Wajahnya terlukis sangat sedih dan kelam.
” kalau begitu, bunda temani tidur ya?” pinta bunda. Aku hanya mengaggukkan kepala, lalu bunda membaringkan ku dikasur dan menyelimutiku dengan selimut tebal. Aku mencoba menutup mata dan mengistirahatkan pikiranku.
” tidurlah sayang... bunda selalu ada disampingmu” bunda mengecup keningku, dan akhirnya aku masuk kedalam tidur sementaraku.
Pagi harinya ku terbangun, kepalaku masih sedikit pusing, tapi lebih baikan daripada yang tadi malam. Kulihat bunda sudah tidak ada disebelahku.
” ternyata anak manja sudah bangun” ejek seorang wanita muda yang terlihat seperti remaja berumur 17 tahun berdiri menyandar di tembok kamarku. Ya... dia kakak ku, Reta.
” eh... Billa sudah bangun?” tanya bunda sembari masuk membawakan ku sarapan. Aku menjawabnya dengan senyuman pagi.
” sudah berumur 15 tahun masih dibawakan makanan... cih.. benar-benar anak manja” cibir Reta. aku tak habis pikir kenapa dengan ka Reta yang selalu mengejek diriku.
” sudahlah Reta.. pagi-pagi sudah mencari masalah” ujar bunda. Kini ka Reta terlihat semakin kesal dengan sikap bunda yang selalu membela diriku.
” terus bela tuh Billa! Aku tuh emang gak pernah ada benarnya ya di mata ibu!?” bentak ka Reta membanting pintu kamarku. Aku dan bunda terkejut mendengar bantingan pintu.
” seharusnya bunda jangan terlalu memanjakan diriku” kata ku.
” bunda tak pernah memanjakan dirimu, bunda memang seperti ini kok, kakakmu saja yang manja” jawabnya, entah bunda sadar akan perkataannya atau tidak.
Sekali lagi aku menghela napas panjang dan berpikir. Semenjak aku divonis terkena kanker paru-paru oleh dokter, sikap bunda menjadi berbeda. Sekarang bunda lebih sering memerhatikan diriku daripada ka Reta. Maka dari itu, aku tak pernah marah kalau ka Reta sering mengejekku, karena aku tahu perasaan ka Reta disaat bunda sedang memanjakan aku.
” cepatlah sarapan, lalu minum obat” ujar bunda menyodorkan semangkuk bubur ayam kesukaanku, lalu aku memakan bubur ayam itu dengan lahap sampai habis.
” ini obatnya, bunda tinggal dulu ya? Ada pekerjaan kantor yang masih belum bunda selesaikan”
”iya”
Bunda meninggalkanku dikamar, sarapanku sudah habis, kini obatku yang belum kumakan. Malas sekali aku memakan obat-obat ini, rasa pahit yang selalu menempel dilidahku membuat ku ingin muntah. Tapi hanya karena bunda, terpaksa aku meminum obat-obatan ini.
Seminggu sudah diriku terbaring di kamar, aku sama sekali tidak kemana-mana selain kekamar mandi untuk membersihkan diri. Otot-otot ku mulai pegal karena tak pernah kugerakan.
” bunda” sahutku. Bunda yang sedang bekerja diruang keluarga menoleh padaku dan mendekatiku.
” ada apa sayang?” tanyanya dengan lembut. Ini permohonanku yang pertama kepada bunda. Jantung ini berdegup kencang saat aku ingin mengutarakan permohonanku.
” aku ingin keluar rumah.. aku bosan dikamar terus” jawabku dengan satu tarikan napas.
” tidak boleh! Kamu gak boleh keluar rumah!” bentaknya. Aku terkejut sekaligus bingung dengan bunda yang tak biasanya seperti ini.
” kenapa bun?” tanyaku dengan kecewa.
” kamu itu lagi sakit! Jadi kamu gak boleh kelelahan” jawabnya.
”Aku tahu bunda hanya ingin menjaga diriku.. tapi aku juga ingin menghirup udara segar... tolong bunda, ijinkan aku untuk bisa berjalan-jalan.. sekali ini saja” mohonku. Bunda diam sejenak, beliau tampak bingung dan berpikir.
” baiklah.. tapi, kamu harus bunda temani” ujarnya.
” tapi bunda.. aku bisa sendiri kok.. lagi pula aku hanya ingin ke taman bermain saja” tolakku dengan halus.
” nanti kamu disana-” belum selesai bunda berbicara, aku memotong ucapan bunda.
” aku bisa jaga diri sendiri, selama seminggu ini, penyakitku tak kambuh lagi kan bun? Disana aku hanya duduk sambil melihat pemandangan saja kok” aku berusaha menyakinkan bunda supaya diizinkan untuk keluar rumah.
” hhh... kalau bukan kamu yang minta, pasti bunda akan tolak” jawab bunda, akhirnya aku bisa keluar dari ruangan yang selama seminggu menjadi tempat satu-satunya didunia ini.
Aku pun bersiap dan berganti baju menggunakan baju hangat ku juga syal cream kesayanganku. Aku sangat senang bisa keluar dari kamar maupun rumah dan bisa menghirup udara segar diluar, walaupun angin diluar cukup kencang.
” jangan lama-lama ya.. pokoknya jam 3 sore kamu sudah pulang” ujar bunda membetulkan syal cream ku.
” iya bunda ku sayang” jawabku.
” terus, kalau kamu merasa pusing, cepat-cepatlah pulang”
” iya bunda”
” nanti juga-”
” tenang aja bunda.. taman kan jauhnya Cuma 400 meter dari rumah” kata ku yang mulai kesal dengan nasihatan bunda.
” dasar anak nakal” ejek bunda. Aku pun berpamitan dengan bunda dan pergi menuju taman kota yang tak jauh dari rumah.
Wajah ini tak bisa berhenti tersenyum saat aku menyusuri jalanan yang tak terlalu ramai menuju taman kota. Langkah ku mengiringi dentuman alunan nada yang kunyanyikan disepanjang perjalanan. Aku menoleh kearah segerombolan remaja putri yang memakai baju seragam sekolah dan sedang bercanda ria.
” senangnya punya teman” gumamku. Lalu aku melanjutkan perjalanan ku menuju taman kota, sesekali aku melihat orang-orang berlalu lalang berjalan, ada yang sendiri, ada yang bersama teman-temannya, ada yang bersama kekasihnya, dan ada juga yang bersama keluarganya.
” waaahhh!!!! Rasanya sudah beberapa tahun tak pernah kesini!” teriakku yang membuat orang-orang disekitarku menoleh diriku.
” hehehe.. ternyata aku terlalu keras berbicaranya” gumamku meninggalkan orang-orang disekitarku dan duduk disebelah pohon besar.
” rindangnya...” gumamku menikmati sejuknya angin.
” permisi, boleh aku duduk disebelah mu?” tanya seorang lelaki berkacamata membawa beberapa buku di pangkuannya.
” oh.. boleh kok.. silahkan” jawabku, lalu lelaki itu duduk di disebelahku dan mulai membaca buku yang setebal buku harry potter. Aku sama sekali tidak melihat buku apa yang ia baca dan juga tidak memikirkan dirinya, lalu aku menutup mata sambil menikmati udara sejuk disini.
10 menit berlalu dengan menikmati udara sejuk, aku membuka mataku karena mulai bosan dengan ini. Sering sekali aku bosan, pikirku. aku teringat dengan janjiku pada bunda kalau aku akan pulang jam 3 sore, dan bodohnya aku lupa membawa jam tangan.
” em... maaf” aku mulai memberanikan diri bertanya pada lelaki itu.
” ya?”
” bo-boleh tahu sekarang jam berapa?” tanyaku gugup. Lalu ia menutup bukunya dan melihat jam tangannya.
” jam 14.40, ada apa? Punya janji ya sama teman?” jawab dan tanya lelaki itu.
” ah.. tidak kok.. hanya ingin tahu saja jam berapa” jawabku.
” oh”
Aku melirik sedikit kearah sampul buku yang tadi ia baca, sepertinya aku tahu buku apa itu.
” itu... buku klasikal romeo and juliet kan?” tanyaku sambil menunjuk kearah buku yang ia pegang. Dia melihat kearah sampul depan buku yang ia baca lalu tersenyum.
” iya.. kamu suka baca buku ini?” katanya.
” ah.. iya.. aku suka baca buku itu” jawabku.
” oh... kamu suka buku klasikal?” tanyanya lagi.
” iya.. apalagi buku shimpony for my heart karangan Emicha Stiilacth… sangat menarik walaupun sudah ku baca berulang kali” jawabku.
” wah.. kamu penggemar Emicha Stiilatch? Aku juga suka dengan buku-buku klasikalnya, dimana kau dapatkan buku itu? Buku itu susah loh didapatnya, karena bulu itu hanya di jual 100 buah” ujarnya.
” iya... setiap kalimat yang ia buat, pasti memiliki unsur tersendiri! Aku mendapatkan buku itu saat aku ulang tahun yang ke-13. ayahku yang memberikan buku itu” kata ku., dalam benakku, orang ini enak diajak ngobrol dan suka buku klasikal juga.
” betul! Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri karena terlalu asyik mengobrol tentang Emicha, aku Dion” kata nya sambil mengulurkan tangannya, aku pun membalas uluran tangannya.
” aku Billa” kata ku. Tak sengaja aku melihat jam tangan Dion, 15.05! gawat! Aku terlambat pulang kerumah! Bunda pasti marah padaku.
” kenapa?” tanya Dion.
” a-aku pulang dulu ya! Bundaku pasti marah karena aku telat pulang! dah” jawabku meninggalkan Dion.
” dah! Oh iya!!! Rumah mu dimana!?” teriaknya.
” blok D105!!! Sekitar 400 meter dari taman!!” balasku. Ia mencatat apa yang kuteriakan.
” besok aku akan main kerumah mu ya!” teriaknya lagi, aku tak membalas dia, aku terlalu senang mendapat teman baru.
” hosh.. hosh.. hosh... bunda.. maaf aku...” aku berhenti berbicara disaat aku masuk kedalam rumah, bunda tidak ada.
” bunda kemana?” tanyaku yang masih lelah karena habis berlari-lari. Kulihat sebuah note dipintu kamarku, note itu tertulis:
’ sayang, bunda harus pergi sekarang, ada meeting mendadak dikantor. Jadi nanti bunda gak bisa menemani kamu makan malam. oh iya, makan malam sudah bunda siapkan, nanti kalau kamu mau makan, minta saja kakakmu untuk memanasi makanannya, kamu harus banyak-banyak istirahat ya sayang? Maaf bunda gak bisa temani dirimu. Love you hunny, bunda’
Aku tersenyum, bukan karena bunda tidak akan pulang malam ini, tapi karena bunda masih saja memikirkan diriku.
” love you too mom..” gumamku sambil mengambil note itu dan menaruhnya di meja kamar ku.
” huh.... ka Reta pasti gak mau aku suruh-suruh.. lebih baik aku masak sendiri saja deh makanannya”
Malam hari pun tiba, dada ku terasa sakit dan kepala ku terasa pusing seperti biasanya. Kalau diriku sudah mengeluh seperti ini, bunda pasti panik dan menyuruhku untuk istirahat dikamarku. Tanpa disadariku, aku sudah kangen dengan bunda. Padahal baru ditinggal beberapa jam saja aku sudah kangen.
” haha... ternyata benar kata ka Reta, aku ini memang manja” gumamku sambil tersenyum sendiri.
Aku memotong-motong daun seledri, lalu memasukan daun seledri itu kedalam panci masakan. Aku memasak untuk diriku, ka Reta, dan bunda kalau mereka sudah pulang.
Ckrek..
Pintu luar terbuka, sepertinya ka Reta sudah pulang dari sekolahnya. Tapi, kenapa malam pulangnya?
Aku mengecilkan api kompor lalu menemui ka Reta yang sedang duduk, wajahnya terlihat lelah dan lesu.
” ka Reta kok malam sih pulangnya?” tanya ku penasaran. Ka Reta menatapku dingin, dan tidak menjawab pertanyaanku.
” kok gak dijawab sih pertanyaanku?”
” udah deh! Gak usah sok baik didepan aku! Kamu tuh udah sekarat masih saja bawel!” bentak ka Reta meninggalkan aku yang diam menundukan wajahku.
Hatiku terasa sakit mendengar ucapan ka Reta tadi, selama ini ka Reta tak pernah membentak ku seperti itu, apalagi mengucapkan kata ’sekarat’ didepanku. Tak terasa air mataku mengalir dipipiku, lalu aku mengusap air mata itu dan kembali kedapur untuk mematikan api di kompor.
’ aku sudah tak nafsu makan jadinya’ pikirku.
Aku pun meninggalkan sop ayam yang masih utuh didapur dan berjalan kearah kamar. Aku sama sekali tidak nafsu untuk makan setelah kejadian tadi yang membuatku sakit hati dan kecewa kepada ka Reta. Ku baringkan tubuh ini dan menutup mata supaya tertidur.
Pagi harinya aku terbangun dari tidurku, kulihat bunda sedang mondar-mandir diruang keluarga. Wajahnya menunjukan kecemasan yang hebat dan kesedihan. Ada apa dengan bunda? Pikirku.
” bunda?” sahutku. Bunda menoleh padaku lalu berlari kecil ke arahku.
” ada apa bunda? Kok wajah bunda kelihatan cemas?” tanya ku penasaran. Bunda menggelengkan kepalanya pertanda tidak ada apa-apa, tapi matanya masih terpancarkan rasa kecemasan.
” benarkah?” tanyaku sekali lagi.
” tidak ada apa-apa kok sayang, bunda hanya khawatir saja sama kamu” jawab bunda berusaha menyakinkan ku kalau tidak terjadi apa-apa.
” oh..”
” tadi malam kamu minum obat?” tanya bunda yang membuat ku tersedak.
” uhuk-uhuk!” bunda terlihat semakin cemas saat aku batuk.
” ka-kamu sakit sayang!? Kamu ke rumah sakit ya sayang!?” panik bunda.
” gak kok bunda.. aku hanya tersedak saja” jawabku. Bunda menghembuskan napasnya lega.
” kenapa kamu tersedak?” tanya bunda.
” a-aku gak apa-apa kok bunda..” jawabku gugup.
” ya sudah, bunda antarkan sarapan kekamar ya” ujar bunda meninggalkan diriku dikamar. Aku lupa minum obat tadi malam karena saking sedihnya. Bagaimana ini?
Tiba-tiba dadaku terasa sakit yang luar biasa. Tak seperti biasanya aku kesakitan seperti ini, apa mungkin karena tadi malam aku tidak minum obat?
” ugh.. uhuk!” aku berbatuk dan mengeluarkan cairan berwarna merah segar dari mulutku. Cairan ini sama sekali tidak mau berhenti dan membuatku terus berbatuk. Gawat! Kalau bunda lihat semua ini.. pasti bunda akan panik! Bagaimana ini? Tuhan.. jangan kau datangkan penyakit ini sekarang.. doaku.
Ternyata doa ku tak terdengar oleh Tuhan, penyakit ini sudah kambuh lagi. Aku tak bisa lagi menahan batuk yang berdarah. Sampai-sampai selimutku dan kasurku bersimbah darah sangat banyak. Bunda yang masuk kekamar membawa sarapan ku terkejut dan menumpahkan sarapanku.
Bunda sangat panik disaat aku terus batuk mengeluarkan darah sangat banyak. Ia berlari mengambil telepon dan menelepon rumah sakit untuk menjemput diriku yang sekarat ini.
Bunyi suara telpon, bunda mengangkat telpon itu, aku bisa mendengar walaupun samar-samar.
” halo?” bundaku berbicara dengan seseorang diseberang telepon itu. Tiba-tiba...
” ya Tuhan... Reta kecelakaan!?” teriak bunda, aku mendengar tangisan bunda kembali pecah. Aku semakin tak tahan.
” bu.. bunda.... uhuk!” panggilku dengan nada lemah.
” iya sayang.. bunda ada disini.. kamu sabar ya sayang.. tahan.. sebentar lagi ambulance akan datang” jawab bunda dengan sangat panik. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dalam kondisi ini.
Tuhan...
Berikanlah aku kekuatan agar bisa bertahan..
Aku tak mau bundaku menangis karena khawatir dengan keadaan ku..
Aku tak tahan melihat bunda menangis...
Tuhan...
Aku mohon...
Jangan kau buat aku menderita seperti ini..
Aku ingin tenang...
Suara ambulance mulai terdengar ditelinga ku, beberapa orang petugas itu mengangkat tubuhku untuk berbaring di ranjang yang sudah disediakan lalu memakaikan ku oksigen agar aku bisa bernapas. Dan selama diperjalanan... aku tak ingat... aku pingsan saat melihat bunda menangis.. didepanku.
” sayang... kamu harus bertahan Billa... kamu jangan tinggalkan bunda” suara bunda terdengar samar-samar olehku, aku membuka mataku sedikit dan melihat bunda menghilang di pintu yang tertutup oleh perawat berbaju hijau.
Selama operasi, aku sama sekali tidak sadar, bahkan aku sedang bermimpi. Aneh kan? Tapi bagi ku semua ini seperti bisikan Tuhan yang mengharuskan aku meminta satu permohonan terakhir. Aku berpikir dalam mimpi, apa yang akan ku minta? Aku teringatkan sesuatu.
Jiwa ku sepertinya sudah lepas dari ragaku. Tidak, aku hanya diberi kesempatan oleh Tuhan agar bisa melihat keadaan selama aku dioperasi. bunda menangis dalam kesendirian, tak ada yang menemaninya kini. Aku sangat sedih melihat bundaku larut dalam kesedihan yang mendalam. Tiba-tiba seorang lelaki yang tak asing bagi bunda datang menghampiri bunda, dan memeluk bunda. Ayah? Apakah itu ayah? Bunda menoleh kearah lelaki itu dan tersenyum.
” anak kita pasti bisa..” ujar lelaki itu, lalu mengeratkan pelukan bunda. Ternyata itu ayah, ayah yang selama ini aku rindukan karena sudah lama aku tak pernah bertemu dengan ayah. Fuh... aku bisa bernapas lega karena bunda sudah tak menangis sendiri lagi, kini sudah ada ayah yang datang menenangkan bunda.
Kini waktunya aku meminta satu permohonan terakhir. Operasi sudah selesai, hanya saja aku masih tertidur karena pengaruh obat bius. Tapi itu semua tak berlangsung lama. Aku membuka mata dan melihat perawat sedang memeriksaku.
” suster?” sahutku dengan lemah. Perawat itu menoleh padaku dan tersenyum padaku. Biasanya yang aku sahut adalah bunda, dan biasanya yang menoleh padaku dan tersenyum padaku adalah bunda. Tapi sepertinya semua itu akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku.
” ya?” tanya perawat itu.
” aku punya permohonan terakhir... bisakah kau menolong ku?” pinta ku. Perawat itu menganggukan kepalanya dan menolongku.
Tak lama kemudian, dokter itu menuntunku menuju ruang operasi lagi. Ternyata perawat itu benar-benar mematuhi apa yang ku mohonkan.
” dokter... terima kasih..” ucapku di kalimat terakhir.
” sama-sama” jawab dokter itu dengan senyuman. Aku menoleh ke arah sebelah ku, ka Reta sedang terbaring lemah sama seperti diriku. Dan aku pun mulai menutup mata setelah dibius lagi untuk yang kedua kalinya. operasi berlanjut sampai selesai.
Tuhan mengijinkan ku untuk melihat keadaan bunda dan ayah walaupun hanya sebentar. Aku melihat bunda dan ayah yang terlihat sangat bingung, pastinya mereka bingung. Aku kan sudah dioperasi, lalu kenapa aku dioperasi lagi? Benarkan?
Perawat tadi yang menolongku berusaha menenangkan orang tuaku yang tak sabar ingin melihat kedua anaknya. Bundaku tetap keras kepala bertanya kenapa aku dioperasi lagi. Tapi perawat itu tetap berusaha menjaga rahasiaku dengannya sampai nanti operasi selesai.
3 jam berlalu, ka Reta sudah dipindahkan ke ruangan intensif. Dan kini orang tuaku boleh melihat keadaan ka Reta yang masih tertidur karena pengaruh obat bius.
” dokter.. kenapa Cuma Reta yang kami lihat? Billa mana?” tanya bunda menggebu-gebu. Ayah mencoba menenangkan bunda.
” sabar bu.. mungkin saja sedang di pindahkan ke kamar” ujar ayah.
” begini ibu dan bapak yang terhormat. Pasien kami yang bernama Billa memohon kepada kami untuk melakukan sesuatu” jawab dokter sambil menyodorkan sebuah amplop putih kepada bunda dan ayah.
” ini apa dok?” tanya ayah sambil mengambil amplop itu.
” silahkan anda baca sendiri, nanti saya akan jelaskan apabila anda tidak mengerti” tegas dokter.
Ayah membuka amplop itu dan mengeluarkan sepucuk surat putih. Didalam surat itu tertuliskan tulisan Billa yang berbunyi:
Surat ini aku buat untuk ayah dan bunda. Bunda, maafkan Billa ya? Karena Billa selalu membuat bunda menangis dan khawatir. Bukan maksud Billa untuk membuat bunda sedih, tapi keadaan yang mengharuskan Billa membuat bunda sedih. Bunda masih ingat kecelakaan ka Reta? Billa mendengar bunda menangis karena ka Reta kecelakaan. Pasti parah ya? Dokter bercerita padaku, kalau ka Reta bisa buta karena matanya mengalami rusak parah. Dan Billa gak tega kalau ka Reta buta, bisa-bisa dia dijauhin sama teman-temannya. Makanya, aku mendonorkan mataku untuk ka Reta. semoga bermanfaat ya bunda? Supaya mata ku tidak sia-sia. Dan ayah, ayah kemana saja? aku kangen sama ayah. Tahu tidak yah? Temanku yang bernama Dion memiliki kesukaan yang sama dengan ku. Yaitu suka membaca buku klasikal. Dan dia juga penggemar Emicha, itu loh.. buku yang pernah ayah kasih untuk hadiah saat aku ulang tahun. Senang rasanya mendapatkan teman seperti Dion. Ayah.. aku ingin Dion memiliki buku yang ayah kasih waktu dulu. Jadi, kasih ke Dion ya nanti sore? Soalnya Dion ingin main kerumah. Oh iya, surat Billa segini saja. pokoknya Billa bakalan nunggu ayah, bunda, dan ka Reta disurga. Selamat tinggal ayah, bunda, dan ka Reta. aku cinta kalian semua.
Billa Sulistiawati.
Bunda tak bisa menahan tangisannya saat membaca surat dariku, begitu pun dengan ayah. Kini mereka berdua menangis, bukan karena sedih, tapi karena bahagia kalau anaknya sudah tenang disurga.
” ya Billa, pasti mata kamu berguna untuk ka Reta.. dan ayah janji.. pasti buku itu akan ayah kasih untuk teman kamu yang bernama Dion.. pasti... ayah janji...” ujar ayah.
Hari pemakaman ku datang, semua orang berdatangan dengan wajah yang sedih, aku pun sedih harus meninggalkan mereka semua. Hei.. sepertinya aku mengenal dia, dia yang sedang duduk termenung sambil memangku buku klasikal shimpony for my heart. Dion datang.. dia menepati janjinya akan datang main kerumahku. Aku senang...
Terima kasih ayah...
Terima kasih bunda...
Karena kalian aku bisa tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik...
Dan terima kasih juga ka Reta..
Karena kakak sudah menyadariku kalau aku memang anak yang manja..
Dan Dion untuk teman baruku..
Walaupun kita baru kenal kemarin..
Tapi rasanya kita sudah berteman sangat lama...
Obrolan kita tentang Emicha memang tak ada habisnya ya?
Dan..
Terima kasih Tuhan..
Engkau telah mengizinkan aku untuk melihat dan berkorban untuk keluarga ku...
Keluarga yang sangat aku sayangi...
Kini aku bisa pergi dengan tenang, dan bisa membahagiakan keluargaku selama ini. I love you... mom... dad... ka Reta... miss you... so much...
Created by: neeta